Monthly Archives: September 2010

Kalah Perang Di Afganisthan Kini Para Teroris Al Qaeda Berpindah Ke Pakistan

Wilayah-wilayah yang dikuasai para tetua suku-suku di Pakistan disebut sebagai sarang aman para militan. Di sana Al Qaeda diberitakan pula merencanakan serangkaian serangan di Inggris, Perancis, dan Jerman. Wilayah itu dijuluki pula sebagai markas global teroris.

Amerika Serikat menilai wilayah pegunungan terpencil, lembah-lembah dalam, dan hutan- hutan lebat di perbatasan Pakistan-Afganistan sebagai kemungkinan lokasi persembunyian Osama bin Laden.

Wilayah itu juga disebut sebagai daerah paling berbahaya di dunia serta disebut sebagai markasnya Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), yang dipimpin Hakimullah Mehsud.

Perencanaan serangan sudah tergolong matang. BBC menyebutkan rencana serangan itu mirip aksi yang dilakukan di Mumbai, India, beberapa waktu lalu. Rencana serangan di tiga negara Eropa itu dinilai sebagai rencana besar Al Qaeda paling akhir.

”Namun, sejumlah serangan dengan pesawat siluman ke wilayah itu telah menewaskan beberapa pemimpin militan, serta mengganggu eksekusi rencana,” demikian diberitakan televisi Inggris, Sky News.

Serangan pesawat tempur siluman AS telah dilakukan di wilayah kekuasaan para tetua suku itu, yang terletak di barat laut Pakistan (Federally Administered Tribal Areas/FATA).

Sebanyak 21 kali serangan diarahkan ke jaringan Al Qaeda dan afiliasinya di dalam jaringan Haqqani, salah satu kelompok yang paling keras menentang kehadiran AS di Afganistan.

Dalam serangan terbaru September ini, Sheikh Fateh, yang menangani bagian operasi Al Qaeda di Pakistan dan Afganistan, tewas.

AS juga menargetkan serangan ke markas TTP. Para penyelidik AS juga menyebutkan TTP terlibat perekrutan dan pelatihan Faisal Shahzad, warga AS kelahiran Pakistan. TTP dianggap bertanggung jawab atas serangan yang telah menewaskan lebih dari 3.700 orang di Pakistan dalam tiga tahun terakhir.

Namun, 140 kali serangan AS juga telah menewaskan 1.140 orang di Pakistan, termasuk sasaran sipil. Di antara yang tewas itu termasuk Baitullah Mehsud, salah satu pendiri TTP.

Pejabat intelijen Pakistan mengatakan, Ayman al-Zawahiri, tangan kanan Bin Laden, lolos dari serangan AS di Bajaur pada 2006.

Teroris Al Qaeda Berencana Untuk Serang Eropa dan Membunuh Warga Sipil Wanita dan Anak Seperti Di Mumbai

Kelompok garis keras Pakistan yang terkait Al Qaeda diketahui hendak melakukan serangan serempak di London, Inggris, dan kota- kota utama di Perancis dan Jerman. Serangan direncanakan sehebat di Mumbai pada 2008, tetapi dapat digagalkan oleh badan-badan intelijen Eropa.

Masalah itu diungkap jaringan televisi Sky News di London mengutip pejabat intelijen pada hari Selasa (28/9). Disebutkan, jika rencana tersebut tidak terungkap atau berhasil dilaksanakan, serangan itu akan lebih parah dibandingkan serangan serupa dalam beberapa tahun terakhir ini.

Rencana serangan kelompok Pakistan itu mirip serangan Al Qaeda di Mumbai, India, tahun 2008. Saat itu, sekitar 10 anggota garis keras Pakistan terkait dengan Al Qaeda melakukan serangan di Mumbai selama tiga hari yang menyebabkan 166 orang tewas dan lebih dari 300 orang luka parah.

Redaktur Luar Negeri Sky News Tim Marshall mengutip aparat intelijen mengatakan, kelompok garis keras Pakistan yang berniat menyerang itu terkait erat dengan Al Qaeda. Jika beberapa pekan ini Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) meningkatkan serangan udara di Pakistan, itu merupakan bagian dari upaya Barat menggagalkan rencana tersebut.

Tak ada laporan rinci tentang skenario atau detail rencana aksi teror dari militan Pakistan itu terhadap London dan sejumlah kota besar di Jerman dan Perancis. Petugas intelijen juga tak mengungkap mengapa tiga negara tersebut menjadi sasaran serangan teroris internasional itu.

Menurut catatan Kompas, Inggris termasuk salah satu sekutu Amerika Serikat yang berperang melawan kelompok pemberontak Iran, Irak, Pakistan, dan Afganistan. Perancis termasuk salah satu negara di Eropa yang melarang pemakaian simbol-simbol agama di depan umum, termasuk burqa dengan cadar yang biasa dikenakan wanita Muslim.

Waspada tinggi

Negara paling nyata diancam serangan teroris di Eropa saat ini adalah Perancis. Untuk kedua kali dalam dua pekan ini, Menara Eiffel, Taman Champ de Mars, dan sekitarnya di Paris, ibu kota Perancis, dikosongkan setelah petugas menerima ancaman bom, Selasa. Tak kurang dari 2.000 orang terpaksa diungsikan dari kawasan itu.

Dua pekan lalu, ancaman serupa juga diterima petugas di Menara Eiffel, bangunan yang menjadi simbol Kota Paris. Menurut seorang pejabat, ancaman bom di Menara Eiffel tidak terkait rencana Al Qaeda yang diungkap badan intelijen Eropa.

Menurut Sky Net, rencana serangan terbaru ke Eropa terungkap dan digagalkan atas kerja sama intelijen Inggris, Jerman, Perancis, dan AS.

Jurnal Wall Street, Selasa, juga melaporkan, CIA sudah meningkatkan serangan udara di Pakistan sebagai bagian upaya menggagalkan serangan massal teroris ke beberapa negara di Eropa. Pejabat keamanan Pakistan mengatakan, dalam bulan ini sudah ada 20 serangan udara di perbatasan dengan Afganistan.

Serangan NATO terbaru di daerah kesukuan Pakistan itu menyebabkan Kepala Operasional Al Qaeda untuk wilayah Pakistan dan Afganistan, Abdallah Umar al- Qurayshi, tewas seketika. Mengutip keterangan dari pejabat intelijen AS dan Eropa, ABC melaporkan, seorang tersangka teroris Jerman ditangkap saat ia sedang dalam perjalanan ke Eropa dan saat ini ditahan di Afganistan.

Laporan tentang adanya rencana serangan itu muncul setelah Sekretaris Keamanan Dalam Negeri AS Janet Napolitano mengatakannya di depan sidang Senat AS

Calon Pemimpin Korean Utara Kim Jong Un Suka Main Playstation Berjam Jam

Akhir-akhir ini, dunia dibuat penasaran oleh sosok Kim Jong Un. Anak laki-laki ketiga pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il, ini sudah dipastikan menjadi putra mahkota. Tak lama lagi, ia akan menggantikan ayahnya sebagai pemimpin negara komunis tertutup yang, meski miskin, memiliki arsenal senjata nuklir itu.

Namun, meski namanya menghiasi berita utama hampir seluruh media di dunia, hanya sedikit informasi tentang sosok Kim Jong Un. Usia persisnya pun tak ada yang tahu pasti.

Terakhir, kantor berita CNN dari Amerika Serikat mewawancara seorang bernama Joao Micaelo, yang merasa pernah menjadi teman sekelas dan sahabat Kim Jong-Un semasa sekolah di Swiss.

Dalam artikel yang ditulis wartawati CNN, Atika Shubert, itu, Micaelo mengaku pernah satu kelas dengan seorang pemuda Asia bernama Pak Un, saat ia belajar di sekolah Liebefeld-Steinhoelzi di dekat ibu kota Swiss, Bern, 1998-2001. Micaelo dan Pak Un duduk berdampingan di satu meja.

Suatu hari, Pak Un bercerita kepada Micaelo bahwa ia adalah anak pemimpin Korut. Micaelo tak percaya pada omongan Pak Un karena mereka berada di sekolah biasa. ”Biasanya, anak orang-orang (penting) seperti ini tidak bersekolah di sekolah biasa,” tutur Micaelo kepada CNN, Selasa (28/9).

Suka basket

Namun, saat melihat foto-foto Jong-Un yang dimuat di media akhir-akhir ini, Micaelo teringat teman SMA-nya tersebut dan mulai berpikir jangan-jangan apa yang dia katakan itu benar.

Pejabat pemerintah lokal tempat sekolah tersebut berada telah mengakui bahwa seorang bernama Pak Un memang tercatat sebagai salah satu siswa pada periode sama dengan Micaelo. Namun, pihak sekolah menolak diwawancara CNN.

Menurut Micaelo, Pak Un dikenalkan di kelas sebagai anak Duta Besar Korut untuk Swiss. Ia mengenang Pak Un sebagai anak muda normal seperti lazimnya anak SMA lain, yang suka olahraga, nonton film, komputer, dan, tentu saja, cewek.

”Dia suka main bola basket. Di Playstation-nya ada game basket. Dunia saat itu isinya hanya basket buat dia,” ujar Micaelo, yang mengenang Pak Un sebagai anak pendiam yang tidak terlalu gaul.

Micaelo mengaku sering diajak bermain ke rumah Pak Un dan berjumpa dengan orang- orang yang ia kira adalah orang tua Pak Un. Namun, Micaelo tak pernah tahu isi pembicaraan keluarga Pak Un karena mereka menggunakan bahasa Inggris, yang belum dikuasai Micaelo saat itu.

Pak Un pun tak pernah bercerita banyak tentang Korut, sampai akhirnya mereka berdua berpisah setelah Pak Un pulang ke negaranya.

Jika benar Pak Un adalah Kim Jong Un, Micaelo mengaku tak tahu bakal seperti apa sahabatnya itu saat nantinya memimpin negara komunis itu.

”Yang saya tahu: Un, waktu dia berumur 16 tahun, adalah orang baik. Jadi, menurut saya dia tidak akan melakukan hal-hal buruk. Tetapi, saya tidak tahu jadi seperti apa dia dalam sembilan tahun terakhir ini. Mungkin saja dia sudah berubah,” tutur Micaelo, yang mengaku akan berpikir dua kali andai Jong Un mengundang dia datang ke Korut.

Angkatan Bersenjata Myanmar Terlibat Bisnis Narkotika

Angkatan Bersenjata Myanmar melibatkan diri dalam bisnis ilegal perdagangan narkoba. Hal itu dilakukan dengan menggandeng milisi kelompok minoritas untuk menanam opium di perbatasan. Kelompok milisi yang mendominasi wilayah perbatasan Thailand dirangkul untuk mengembangkan bisnis narkoba.

Laporan dari lembaga swadaya masyarakat Shan Drugs Watch yang disusun Khuensai Jaiyen, Rabu (29/9), Bangkok, mengungkapkan hasil riset Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Riset itu menemukan peningkatan produksi opium di sebelah utara Negara Bagian Shan, salah satu wilayah yang dikuasai kelompok minoritas di Myanmar.

Wilayah Shan merupakan penghasil 95 persen opium di Myanmar. Produksi opium Myanmar kini merupakan yang kedua terbesar di dunia setelah Afganistan.

Pemerintah junta militer Myanmar menggunakan dalih pemberantasan perdagangan narkoba untuk menyerang wilayah kelompok minoritas. Wilayah suku-suku minoritas selama ini memiliki pemerintahan sendiri dan tak mau mematuhi perintah perlucutan senjata serta tak mau mengikuti pemilu Myanmar pada November.

Para pengamat menilai, peningkatan penanaman dan industri opium terutama digeluti oleh kelompok militan China seperti yang ada dalam Tentara Negara Wa Bersatu. Hasil bisnis itu digunakan untuk membeli persenjataan untuk menghadapi kemungkinan serangan pemerintah. Tentara Negara Wa Bersatu menolak berpartisipasi dalam pemilu.

Junta mengaku bertekad memberantas perdagangan opium. Namun, laporan PBB meragukan komitmen itu. Junta sebelumnya mengaku akan memberantas tuntas perdagangan opium pada 2004, tetapi bisnis narkoba malah meningkat pesat.

Bangun pabrik

Kelompok milisi dari suku minoritas telah membangun pabrik-pabrik pengolahan narkoba di sepanjang perbatasan Myanmar-Thailand. ”Para milisi yang terlibat bisnis narkoba diberi konsesi. Ini adalah imbalan atas kepatuhan mereka kepada junta,” ujar Khuensai.

Shan Drugs Watch mengungkapkan, opium dibuat dari bunga poppy dan kemudian diolah menjadi heroin, yang dikembangkan bebas di Negara Bagian Shan. Sebanyak 46 dari 55 kota setingkat kecamatan di Negara Bagian Shan menjadi sentra industri opium yang diolah dengan sepengetahuan militer.

Kantor Urusan Narkoba dan Kejahatan PBB (UNODC) mengungkapkan, jumlah lahan opium tahun lalu 31.700 hektar, meningkat 50 persen sejak 2006.

Myanmar berbatasan dengan China, Thailand, dan Laos. Wilayah perbatasan itu disebut Segitiga Emas sebagai sentra produksi narkoba Asia Tenggara.

Shan adalah wilayah terbesar Myanmar yang dihuni suku-suku minoritas. Sebagian besar warga minoritas tidak memercayai junta. Selama ini mereka ditindas oleh junta.

Hanya sebagian kecil kelompok minoritas yang menganggap Myanmar adalah negaranya. Meski junta mulai mengakui partai politik berbasis kelompok suku, kebijakan itu tidak mendapat sambutan. Junta pada awal September ini menyatakan, pemilu di 300 desa di Negara Bagian Shan akan dibatalkan karena situasi yang tidak kondusif.

Jepang Kirim Utusan Ke China Untuk Menghindari Konflik Militer Terbuka

Beredar kabar bahwa Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengirim utusan khusus ke China, yakni mantan petinggi partai politik berkuasa di Jepang, Goshi Hosono. Hal itu disertai dengan surat pribadi PM Kan untuk PM China Wen Jiabao.

Isi surat adalah permintaan agar kedua negara bisa segera menuntaskan konflik yang terjadi selama ini.

Hosono selama ini memang dikenal sebagai orang kepercayaan Menteri Luar Negeri Jepang yang baru, Seiji Maehara.

Dalam surat itu juga diyakini ada permintaan Jepang agar kedua negara sepakat mengagendakan pertemuan di antara perdana menteri demi menuntaskan sengketa.

Namun, hal itu kemudian dibantah sendiri oleh PM Kan, yang mengatakan sama sekali tidak punya pengetahuan soal isu tersebut.

Sebelumnya sempat pula santer dikabarkan soal adanya kemungkinan kedua pemimpin memanfaatkan momen Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Europe Meeting (ASEM) di Brussels, Belgia, untuk mengadakan pertemuan informal.

Walau dibantah, di lapangan terlihat perkembangan positif soal hubungan kedua negara. Ini antara lain ditandai dengan telah dicabutnya larangan ekspor mineral langka oleh Pemerintah China. Pelarangan tersebut sempat membuat pemerintah dan kalangan industri berteknologi tinggi Jepang ”ketar ketir”.

Katsuyuki Matsuo, salah seorang pedagang Jepang yang juga importir khusus material langka dari China, mengatakan, pihak Bea dan Cukai China juga telah membuka kembali prosedur ekspor mineral langka itu dari negaranya sejak Selasa (28/9).

Namun, sejumlah persoalan yang masih menghambat proses ekspor mineral langka itu dilaporkan masih terjadi. ”Walau sudah dibuka, proses birokrasi dan prosedur inspeksi untuk seluruh pengiriman kargo ke Jepang oleh otoritas China masih dilakukan dengan ekstra ketat dari biasanya,” ujar Matsuo.

Bisa memanas

Pemerintah Jepang disebut- sebut tengah mempertimbangkan pengiriman sejumlah pasukan bela diri untuk ditempatkan di sebuah pulau, dekat dengan kawasan kepulauan yang selama ini menjadi sumber ketegangan dengan China, Kepulauan Senkoku (Jepang) atau Kepulauan Daiyou (China).

Rencana penempatan pasukan militer Jepang itu terlihat dari permohonan Kementerian Pertahanan Jepang yang meminta alokasi dana untuk mempelajari rencana penempatan pasukan di Kepulauan Yonaguni yang terpencil. Lokasi kepulauan ini tidak terlalu jauh dari kepulauan yang dipersengketakan dan juga dekat ke Taiwan.

Sampai sekarang, satu-satunya penempatan pasukan Jepang secara permanen berada jauh di selatan, yakni di dekat kawasan pulau utama, Okinawa, yang juga menjadi pangkalan militer AS.

Langkah itu dikhawatirkan akan semakin memperpanas ketegangan diplomatik yang belum tuntas.

Ketegangan di antara kedua negara memuncak dengan penangkapan nakhoda dan 14 nelayan China oleh otoritas Jepang, walau belakangan dilepaskan. China kemudian meminta Jepang meminta maaf atas aksi yang dikategorikan China sebagai penangkapan ilegal.

Jepang kemudian bereaksi balik meminta China membayar ganti kerugian rusaknya dua kapal patroli Jepang yang dikabarkan ditabrak oleh kapal nelayan China itu. Keduanya sama-sama keras dan belakangan China mengeluarkan kartu truf dengan menghentikan ekspor mineral langka logam tanah jarang (LTJ) ke Jepang.

Ketegangan sejak awal September ini juga membuat maskapai Japan Airlines (JAL) sempat menghentikan beberapa penerbangan. Menurut JAL, hal ini adalah akibat penundaan yang dilakukan 1.000 penumpang Jepang yang sebelumnya sudah memesan tiket penerbangan ke China.

”Jika penundaan terus terjadi, kami akan mengurangi penerbangan ke China,” kata Presiden JAL Masaru Onishi.

Negara Amerika Latin Mulai Kewalahan Menghadapi Kartel Narkotika

Para kepala negara di Amerika Latin kini mulai kewalahan menghadapi jaringan kartel narkoba yang semakin kuat. Perdagangan narkoba telah merasuk dan merusak hingga ke tatanan sosial, politik, budaya, dan ekonomi.

Aktivitas ilegal ini juga selalu diwarnai tindak kriminal yang melampaui rasa kemanusiaan dan, bahkan, amat mematikan.

Tindak kriminal seperti pembunuhan atau pembantaian massal, pemerkosaan, penculikan, dan perampokan menjadi persoalan keseharian. Di Meksiko, misalnya, kejadian terbaru dan paling heboh adalah pembantaian 72 imigran gelap oleh kartel Los Zetas di Tamaulipas, Meksiko, medio September.

Begitu ganasnya, sehingga pada sebuah pertemuan di kantor PBB di New York pada pekan ketiga September ini para kepala negara dari Amerika Latin mengungkapkan kegelisahan mereka.

Di depan sidang Majelis Umum mereka mendesak agar PBB mengeluarkan kebijakan global yang lebih koheren untuk memerangi narkoba.

Presiden Panama Ricardo Martinelli menyebut obat bius atau narkoba sebagai ”senjata pemusnah massal”.

Presiden Meksiko Filipe Calderon menyatakan terus memerangi kartel karena narkoba merusak masa depan bangsa.

Presiden El Salvador Mauricio Funes mengatakan, perdagangan narkoba mengancam keamanan global.

”Dewasa ini, fokus kekerasan masih terletak di perbatasan AS dan teritorial kecil kami. Besok boleh jadi kekerasan akan melebar lagi ke kota-kota besar di banyak negara lain seperti di AS, Eropa, Afrika, dan Asia,” kata Presiden Funes di depan Majelis Umum PBB.

Pendorong

Omzet miliaran dollar AS tampak menjadi pendorong utama di balik semua itu. Penyelundupan obat bius dari Amerika Selatan ke AS saja diperkirakan bernilai 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp 117 triliun (dengan kurs Rp 9.000) per tahun.

Jika pada tahun 2006 para anggota mafia narkoba baru ”bergerilya” di 50 kota di AS, saat ini setidaknya mereka sudah bergerilya di lebih dari 200 kota di AS yang terjangkit narkoba.

Selama ini Meksiko, Kolombia, dan negara lain di Amerika Tengah menjadi surga kartel obat bius. ”Namun, satu kesalahan besar kalau kita hanya berpikir bahwa hanya Meksiko dan kawasan Amerika Tengah saja yang harus mengatasi kejahatan narkoba,” kata Funes sambil mengajak dunia internasional membantu memerangi kartel.

Langkah kontradiktif

AS memang telah berjanji mengalokasikan dana 1,4 miliar dollar AS selama tiga tahun untuk memerangi perdagangan narkoba untuk Amerika Selatan.

Sebagian besar dana itu dialokasikan untuk Meksiko, negara paling rawan dalam hal kekerasan akibat perang antarkartel dalam perebutan jalur perdagangan narkoba.

Sejak Calderon menjadi Presiden Meksiko pada tahun 2006, sudah 28.000 orang yang tewas akibat kekerasan dalam perdagangan narkoba.

Kolombia, produsen kokain terbesar di dunia, telah menerima miliaran dollar AS bantuan militer AS.

Presiden Kolombia Juan Manuel Santos, menggembar-gemborkan pengalaman negaranya soal memerangi kartel obat bius. Ia juga mengecam negara-negara yang tidak tegas dalam perang melawan perdagangan narkoba.

Presiden Kolombia menyerukan peningkatan strategi internasional untuk melawan kartel. Namun, Santos juga menawarkan untuk berbagi pengalaman negaranya dalam memerangi kartel obat dengan negara lain.

”Sangat penting untuk kita bersatu menghadapi masalah ini. Kami mencatat ada beberapa negara yang melakukan langkah-langkah kontradiktif. Di satu sisi mereka berperang melawan perdagangan obat-obat terlarang, tetapi di satu sisi lain mereka juga mengesahkan penggunaannya,” kata Santos tanpa merinci siapa yang menjadi tertuduhnya.

Terus menjalar

Negara-negara di Amerika Tengah sedang berjuang keras untuk menekan berbagai aksi kekerasan akibat menguatnya pamor sejumlah kartel narkoba di Meksiko.

Mereka terus meningkatkan perang melawan kartel di dalam negeri, sekaligus memperluas jaringan kerja sama di selatan dan mengintensifkan operasi di negara-negara tetangga.

Peru, produsen kokain terbesar kedua di dunia, juga membutuhkan bantuan lebih untuk memerangi perdagangan narkoba. ”Saya pikir kita perlu lagi melihat kerja sama internasional karena Peru menerima bantuan yang begitu kecil,” kata Menteri Luar Negeri Jose Garcia Belaunde.

AS adalah negara dengan konsumen kokain terbesar di dunia, kata Devida, kantor pengendali narkoba nasional Peru. Maraknya kejahatan di AS sering erat kaitannya dengan perdagangan narkoba.

AS mengucurkan dana sekitar 120 juta dollar AS untuk menekan perdagangan narkoba di wilayah Andean. Akan tetapi, aliran bantuan dari AS berkurang setelah Washington memprioritaskan Kolombia.

Para pemimpin di Amerika Latin pantas gelisah karena masalah sosial yang ditimbulkan perang antarkartel, yang berpotensi mengancam stabilitas negara. Terbunuhnya pemimpin kartel Meksiko, seperti El Grande, La Barbie, Nacho Coronel, dan Arturo Beltran Leyva, tidak berarti kartel melemah.

Masih ada gangster besar yang belum ditangkap. Salah satunya adalah bos kartel Sinaloa, Joaquin Guzman alias El Chapo.

Pasaran narkoba asal Amerika Selatan tidak saja di AS, tetapi juga Eropa dan Asia setelah melewati sejumlah negara di Afrika Barat. Kartel Los Zetas bahkan telah pula berkolaborasi dengan mafia Ndrangheta di Calabria, Italia. Jaringan perdagangan narkoba sudah mengepung kita.

Garda Revolusi Iran Berhasil Membunuh 30 Pejuang Pemberontak Iran

Garda Revolusi Iran hari Minggu (26/9) mengumumkan telah membunuh 30 aktivis pejuang pembebasan Iran bersenjata pelaku utama serangan bom terhadap parade militer di kota Mahabad hari Rabu pekan lalu.

Serangan atas parade militer yang digelar untuk memperingati 30 tahun meletusnya perang Irak-Iran (1980-1988) tersebut telah membawa 12 korban tewas dan 81 lainnya luka-luka. Kota Mahabad yang berpenduduk 190.000 jiwa dikenal berpenduduk mayoritas etnis minoritas Kurdi yang bermazhab Sunni.

Televisi Iran, mengutip seorang perwira tinggi Garda Revolusi Abdel Rosul Mahmoud Ebadi, mengungkapkan kelompok aktivis pejuang pembebasan Iran bersenjata itu telah terjerat dalam perangkap pengawal revolusi di suatu tempat (diduga di dalam wilayah Irak). Aksi jebakan itu menyebabkan terjadi baku tembak sengit hari Sabtu lalu. Menurut Ebadi, seorang atau dua orang dari anggota kelompok bersenjata berhasil lari dari perangkap tersebut dan sekarang jadi buron.

Komandan Angkatan Darat Garda Revolusi Iran Mohammad Pakpour, seperti dikutip kantor berita Iran ILNA, menjelaskan, instruksi serangan langsung dikeluarkan begitu sekelompok bersenjata itu tiba di suatu tempat untuk bertemu dengan elemen lain dari kelompok antirevolusi.

”Oknum bayaran dan agen kekuatan global yang berada di balik serangan Mahabad telah tewas,” ungkap Pakpour tanpa menyebut secara persis tempat bentrok senjata itu dan jumlah korban yang jatuh.

Menuduh AS dan Israel Sebagai Jalan Pintas

Pakpour menuduh Israel dan AS berada di balik serangan di Mahabad yang terletak di Provinsi Ajarbaijan Barat, Iran barat. ”Hasil investigasi mengindikasikan bahwa pihak yang berada di balik serangan Mahabad adalah Mossad (Dinas Intelijen Luar Negeri Israel) bekerja sama dengan AS dan elemen dari Partai Baath di Irak,” kata Pakpour.

Media massa Iran menyebut telah terjadi bentrok senjata sengit antara Garda Revolusi dan aktivis muslim Kurdi yang berafiliasi pada Partai Kebebasan Hidup. Partai tersebut selama ini mengangkat senjata untuk memperjuangkan hak-hak etnis minoritas muslim Kurdi di Iran.

Wilayah Iran barat dikenal berpenduduk etnis minoritas muslim Kurdi dalam jumlah besar dan beberapa tahun terakhir ini sering terjadi bentrok senjata antara aparat keamanan Iran dan kelompok pemberontak Kurdi, khususnya Partai Kebebasan Hidup.

Menurut data statistik tahun 2007, sekitar 7 persen atau 4.620.000 jiwa dari 70 juta penduduk Iran adalah kaum muslim Kurdi. Sebagian besar kaum Kurdi berdomisili di Provinsi Ajarbaijan Barat, Kermanshah, dan Ilam yang dekat dengan perbatasan Turki dan Irak. Wilayah tersebut juga dikenal dengan sebutan segi tiga maut karena setiap kelompok pemberontak muslim Kurdi dari Irak, Turki, dan Iran selalu beroperasi di wilayah perbatasan tiga negara tersebut.

Kaum Kurdi pernah mendeklarasikan Republik Rakyat Demokrasi Mahabad dengan ibu kota Mahabad pada 22 Januari 1946. Namun, republik tersebut hanya bertahan 10 bulan karena tidak mampu menaham serangan besar-besaran pasukan Iran.