Monthly Archives: May 2015

Model Cantik Asal Hongkong Lakukan Bungee Jumping Sambil Telanjang Di Thailand

Seorang wanita turis Hong Kong melakukan aksi bungee Jumping menghebohkan Thailand, terlebih Turis tersebut melompat sembari telanjang. Awal kisah, turis Hong Kong berlibur di Chang Mai dan mengunjungi X-Centre di Mae Rim. Turis yang dikabarkan model tersebut mengatakan akan melompat di wahana permainan Bungee Jump dengan balutan bikni two piece hitam.

Tetapi, dilaporkan wanita turis asal Hong Kong tersebut melepaskan bikininya dan melompat, sehingga tidak bisa dicegah staff X-Centre. Alhasil, foto dan video aksinya tersebut menyebar dan beredar ke media sosial Thailand. “Saya tidak berpikir video dan foto di-posting serta dikritik di media sosial,” kata manajer X-Centre, Bancha Chulakul kepada polisi yang dikutip Dailymail, Rabu (20/5/2015).

Akibatnya, Pemerintah Thailand menjatuhkan denda 1.000 baht atau Rp300 ribu kepada X-Centre karena dinilai membiarkan seorang turis melompat bungee jumping dengan telanjang. Turis wanita tersebut pun didenda dengan nominal yang sama dan dikabarkan telah meninggalkan Thailand.

Tingkah nyeleneh lagi-lagi dilakukan oleh turis Hongkong. Ia bungee jumping sambil telanjang di Chiang Mai, Thailand. Warga setempat pun protes karena hal tidak senonoh ini dianggap bisa merusak reputasi Chiang Mai. Natalie, seorang gadis Hongkong berusia 17 tahun belum lama ini menjajal bungee jumping di X-Centre, Distrik Mae Rim, Chiang Mai, Thailand. Bukannya mengenakan pakaian yang nyaman untuk bungee jumping, ia malah melepas semua busananya.

Rekaman saat ia melompat pun telah beredar di media sosial Thailand. Berbagai media Thailand dan Hongkong pun memberitakan kejadian ini. Shanghaiist misalnya seperti dilihat, memberitakan bahwa gadis cantik itu bekerja sebagai model di Hong Kong. Pekerjaan ini mengharuskannya merekam video ketika ia bungee jumping sambil telanjang.

Ketika bersiap melompat, traveler wanita ini masih menggunakan kimono mandi dan bikini berwarna hitam. Namun tepat sebelum lompat, ia tiba-tiba melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya. Teman-temannya yang tidak melompat kemudian merekam saat-saat sang wanita itu berayun di ketinggian dalam keadaan telanjang. Rekaman ini pun dengan cepat tersebar di dunia maya.

Daily News Thailand melaporkan bahwa tersebarnya rekaman ini membuat warga tercangang. Perbuatan bugil di tempat umum tidaklah terpuji tapi banyak juga warga yang mendukung tanpa merasa perlu berlaku munafik, apalagi Chiang Mai dikenal punya warisan budaya yang luar biasa. Perbuatan tak senonoh yang terjadi di wilayah ini bisa menambah citra Thailand sebagai tempat wisata seks.

Sementara itu, Bangkok Post menuliskan bahwa setelah rekaman itu tersebar, pihak kepolisian setempat juga segera mendatangi lokasi bungee jumping di X-Center. Operator bungee jumping pun kemudian didenda 1.000 Baht (Rp 349 ribu) karena membiarkan pengunjung melompat tanpa busana. Sedangkan turis wanita itu sampai saat ini terbebas dari denda, karena diduga telah pergi dari Thailand untuk kembali ke Hong Kong. Pihak kepolisian pun tetap akan melaporkan hal ini kepada kedutaan Hongkong atas peristiwa yang melibatkan turis dari Hong Kong ini.

Advertisements

Militan ISIS Ternyata Gemar Menelanjangi ABG ABG Cantik Untuk Melampiaskan Nafsu Syahwat Mereka

KELOMPOK separatis ISIS kembali memperlihatkan kekejamannya. Kabar terbaru menyebutkan bahwa pemberontak yang sudah menguasai lebih dari setelah wilayah Syria itu tega menculik para wanita cantik yang berasal dari desa-desa yang diserang. Perempuan muda yang dianggap paling cantik lantas ditelanjangi, dipamerkan kepada kelompok mereka dan dijual dalam keadaan telanjang bulat dengan cara dilelang.

Praktik keji ISIS itu diungkap oleh Perwakilan PBB tentang Kekerasan Seksual Zainab Bangura. Bangura mengaku mendapatkan informasi tentang kebiadaban ISIS setelah mengunjungi beberapa negara, seperti Suriah, Irak, Turki, Lebanon dan Yordania. Menurut informasi yang dikumpul Bangura, biasanya yang menjadi korban adalah perempuan muda dari etnis minoritas Yazidi dan rata-rata masih berusia 15 tahun. “Teror itu biasanya dilakukan ISIS setelah menyerang sebuah desa.

Lalu memilih perempuan-perempuan yang paling cantik dan menelanjangi mereka. Para pasukan lantas mengetes keperawanan lalu melelang gadis-gadis itu kepada para pemimpin ISIS sedangkan yang kurang laku dilelang kepada prajurit mereka. Ayah, suami dan saudara mereka dibunuh terlebih dulu,” kata Bangura. Tak hanya itu, kata Bangura, tak jarang di tempat lelang terjadi tawar-menawar yang sengit. Nah, saat terjadi lelang para gadis itu dibiarkan telanjang bulat sehingga para penawar bisa melihat langsung tubuh perempuan mana yang paling diinginkan untuk menjadi pelampiasan nafsu syahwat yang diinginkan tanpa sehelai kain.

“Yang punya kesempatan pertama memilih perempuan itu adalah pemimpin tertinggi ISIS, kemudian diikuti para tentara,” ujarnya. Bangura juga pernah mendengar ada satu perempuan yang sudah 22 kali diperjual belikan. Biasanya, para pemimipin ISIS menuliskan namanya di tangan gadis itu sebagai penanda bahwa sang perempuan merupakan “properti” miliknya.

Di antara perempuan-perempuan yang dijadikan budak seks itu ternyata banyak yang melawan. Tapi, resikonya adalah dibakar hidup-hidup. Bagi yang tak berani melawan, mereka akan memilih untuk menurut atau mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

ISIS Lakukan Operasi Keperawanan Pada Budak Seks Agar Selalu Perawan

Seorang perempuan dipaksa jadi budak nafsu kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Keperawanannya “dipulihkan” setiap kali dia menikahi 20 tentara ISIS.

Hal ini dilaporkan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Sabtu, 9 Mei 2015. Zainab Hawa Bangura, Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kekerasan Seksual di Daerah Konflik, telah mewawancarai lusinan korban kekerasan seksual di daerah Irak dan Suriah.

Dia mengatakan kekerasan itu dilakukan secara strategis, menyebar, dan sistematis dengan kecanggihan yang tinggi. Tentara ISIS akan menelanjangi korbannya, mengelompokkan mereka, dan memperdagangkan mereka dalam “pasar budak” serta mengirim mereka ke provinsi-provinsi lain.

“ISIS telah melembagakan kekerasan seksual dan kebrutalan atas perempuan menjadi aspek utama ideologi dan operasi mereka, menggunakannya sebagai taktik teorisme untuk memperluas sasaran strategis utama mereka,” katanya.

Laporan PBB juga menyatakan bahwa pada Februari lalu para militan yang berperang di Suriah mencari dokter untuk meningkatkan kegagahan seksual mereka. Dokter-dokter setempat mengatakan, para militan memaksa para istri untuk bersetubuh “secara brutal dan abnormal”.

Menurut para penyintas, para gadis, yang bahkan baru berusia 5 tahun, diculik dari rumah dan diperkosa. Sebagian pulang ke rumah kalau hamil dan pasti akan dikucilkan oleh masyarakat.

Perempuan juga dipaksa untuk memulihkan keperawanannya setelah diperkosa melalui prosedur anastesi lokal untuk “memperbaiki” himen menggunakan jahitan yang dapat larut. Tujuannya untuk merekonstruksi membran, sehingga dia dapat robek lagi pada malam pertama pernikahannya, yang dalam budaya mereka mensyaratkan adanya darah sebagai bukti keperawanan.

Human Rights Watch meminta pemerintah Kurdi dan Irak untuk menyediakan perawatan psikososial jangka panjang untuk para korban dan menyadari bahwa meskipun diminta, operasi plastik keperawanan hanya pemulihan sementara untuk trauma mereka.

Rusia dan China Buat Pakta Pertahanan Perang Cyber

Rusia dan Tiongkok menjalin sebuah perjanjian damai dalam hal cyber security. Kedua negara tersebut berjanji untuk tidak saling menyerang di dunia cyber, seperti dilaporkan oleh Wall Street Journal, Minggu (10/5/2015). Selain itu, mereka juga menyatakan akan saling berbagi informasi dan teknologi — salah satunya mengenai data ancaman cyber — antara agensi penegak hukumnya. Keduanya pun akan saling menjaga keamanan dari serangan-serangan yang dapat mengancam kondisi polik dan sosial ekonomi di kedua negara tersebut.

‘Kemesraan’ Rusia dan Tiongkok ini sebenarnya sudah terjalin sejak masa perang dingin. Namun belakangan ini, Rusia lebih sering berpihak ke Timur, terutama sejak aksi militer Rusia ke Ukraina yang punya efek buruk ke hubungannya ke Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Perjanjian ini disebut sebagai Wall Street Journal sebagai usaha Beijing dan Moscow untuk mengubah kebijakan internet secara global, yang akan mengurangi peran Amerika Serikat. Keduanya percaya bahwa pemerintah seharusnya mempunyai kontrol yang lebih ketat terhadap internet, juga informasi digital milik warga negaranya.

Ini juga sejalan dengan pernyataan menteri komunikasi Rusia Nikolai Nikiforov, yang membayangkan sebuah aksi mengisolasi jejaring internet di Rusia, seandainya Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa ‘mematikan’ mereka dari internet. Taiwan ingin bergabung dalam pelatihan anti serangan cyber yang dilakukan Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutunya. Ini mereka lakukan untuk melindungi negaranya dari serangan hacker Tiongkok.

Demikian dikatakan oleh Simon Chang, Wakil Perdana Menteri Taiwan. Menurutnya, banyak kasus peretasan di Taiwan yang terlacak berasal dari People Liberation Army milik Tiongkok. Tuduhan ini tentu dibantah keras oleh pihak Tiongkok. “Taiwan sebenarnya tak mempunyai musuh di komunitas internasional kecuali kamu tahu siapa. Siapa negara di dunia ini yang mau mencoba meretas Taiwan?” keluh Chang, yang mantan direktur operasi hardware Google Asia.

Agar AS bersedia menyertakan Taiwan dalam pelatihan bernama ‘Cyber Storm’ tersebut, Chang kembali menegaskan bahwa Taiwan seringkali dijadikan ‘tempat latihan’ bagi peretas Tiongkok. Di mana mereka menguji serangan-serangan cyber tercanggihnya. “Amerika Serikat punya pelatihan ‘Cyber Storm’ – kami tak diundang. Kami ingin sekali diundang,” ujar Chang. seperti dikutip dari Reuters, Rabu (1/4/2015).

Pelatihan yang dimaksud oleh Chang itu dilakukan setiap dua tahun sekali, seperti yang tercantum dalam situs milik US Departement of Homeland Security, yang sayangnya tak mencantumkan waktu pelaksanaan latihan tersebut. Taiwan sudah pernah mengundang pihak AS untuk mengamati latihan sejenis yang mereka adakan sendiri di negaranya, tepatnya pada tahun 2013.

Ketakutan Taiwan ini tentu punya dasar. Menurut penelitian FireEye –biro peneliti keamanan data — Taiwan adalah negara di Asia Pasifik yang paling banyak menerima serangan cyber selama enam bulan pertama di tahun 2014. Serangan cyber itu paling banyak dilakukan untuk mencuri data.