Monthly Archives: April 2012

Amerika Serikat Akan Transfer Teknologi Pembuatan Pesawat Tempur F/A-18 Super Hornet Pada Brazil Agar Brazil Dapat Jadi Eksportir Pesawat Tempur

Menteri Pertahanan AS Leon Panetta menggunakan perjalanannya ke Brazil untuk menghapus keraguan soal janji Washington mengenai transfer teknologi jika Brasilia membeli jet tempur Boeing F/A-18 Super Hornet.

Panetta, yang mengakhiri kunjungan dua hari Kamis, berupaya meredakan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat menggunakan transfer teknologi — faktor kunci dalam pilihan yang akan segera diumumkan Brazil tentang jet mana yang akan dibeli — sebagai alat politis, lapor AFP.

F/A-18 bersaing dengan jet tempur Rafale produksi Prancis dan Gripen buatan pabrik Saab Swedia memperebutkan kontrak 36 jet tempur generasi mendatang senilai antara 4-7 miliar dolar.

Brazil, kekuatan dominan Amerika Latin dan ekonomi terbesar keenam dunia, kini menekankan pada transfer teknologi dalam semua perjanjian pertahanannya.

Panetta Rabu menawari Brazil “sharing teknologi canggih yang belum pernah ada sebelumnya yang disediakan hanya untuk sekutu dan mitra terdekat kami.”

“Kami sepenuhnya memahami bahwa Brazil tidak memandang hanya sebagai pembeli pesawat jet tempur, namun lebih sebagai mitra penuh dalam pengembangan teknologi penerbangan mutakhir,” katanya dalam pidato di sebuah akademi militer.

“Dengan Super Hornet tersebut, industri pertahanan dan penerbangan Brazil akan mampu mentransformasi kemitraan mereka dengan perusahaan-perusahaan AS, dan mereka akan memiliki kesempatan terbaik untuk berkoneksi ke pasar di seluruh dunia,” tambahnya.

Namun para pejabat Brazil waspada terhadap kemungkinan penggunaan larangan teknologi Washington.

Pada 2006, Amerika Serikat memblokir penjualan 24 pesawat serang ringan Super Tucano yang dibuat oleh perusahaan penerbangan top Brazil Embraer kepada Venezuela karena mengandung komponen buatan AS.

Super Tucano adalah pesawat turboprop yang digunakan dalam kontra pemberontakan, dukungan udara dari dekat, misi pengintaian dan pelatihan pilot.

Dalam konferensi pers bersama dengan Panetta di Brasilia Selasa, Menteri Pertahanan Brazil Celso Amorim menjelaskan pemerintahnya menginginkan jet tempur yang akan dibelinya supaya diproduksi secara lokal.

Brazil ingin sekali mengembangkan industri pertahanannya sendiri dan ingin merangkai pesawat dengan teknologi asing untuk ekspor, sebuah rencana yang Panetta nampak ingin dukung dengan syarat, mengingat bahwa pendirian semacam itu merupakan sebuah pencapaian pergeseran kebijakan.

“Ada masa ketika Amerika Serikat mencegah pengembangan kemampuan militer di negara-negara di Amerika Latin dan Tengah,” kata menteri pertahanan AS itu Rabu.

“Sekarang ini, kami rasa pengembangan kemampuan seperti itu penting jika kita dapat menggunakan kemampuan semacam itu untuk mengembangkan semacam kemitraan inovatif yang saya ceritakan, guna memajukan keamanan di kawasan ini,” tambahnya.

Panetta menunjukkan bahwa Washington kini jarang menolak lisensi ekspor teknologi Brazil dan pada kenyataannya telah memberikan 4.000 lisensi dalam dua tahun belakangan.

Para pejabat AS mengatakan pesanan teknologinya di Brazil melonjak 139 persen sejak 2007.

Suatu hal yang menjengkelkan Brazil, namun, adalah pembatalan kontrak 380 juta dolar dengan Embraer bagi pembelian 20 pesawat AT-29 Super Tucano untuk angkatan darat Afghanistan.

Embraer dan mitra AS-nya Sierra Nevada diberi kontrak pada Desember namun Angkatan Udara AS membatalkan kesepakatan pada Februari setelah tentangan legal dari rival Hawker Beechcraft Corp.

Pentagon sudah meminta putaran penawaran baru untuk kontrak tersebut, namun dalam kasus manapun peralatan tersebut tidak dapat dikirimkan sebelum 2014.

Pada Rabu, Panetta juga memuji kebangkitan Brazil di pentas global.

“Ini adalah hubungan antara dua kekuatan global, dan kami menyambut kekuatan Brazil yang berkembang. Kami mendukung Brazil sebagai pemimpin global dan mengupayakan kerja sama pertahanan lebih erat,” katanya.

“Kami tidak akan sepakat dalam setiap masalah — tidak ada dua negara, bahkan juga tidak sekutu terdekat, pernah demikian. Namun saya yakin bahwa kepentingan bersama kita begitu besar, dan kemungkinan-kemungkinan yang datang dari kerja sama kita begitu nyata, sehingga kita harus menangkap kesempatan ini untuk membangun kemitraan pertahanan yang lebih kuat,” katanya.

Menteri pertahanan AS memulai kunjungan pertamanya ke Amerika Latin di Kolombia Senin dan dia juga mengunjungi Chile setelah meninggalkan Brazil.

Advertisements

Tantowi Yahya dan Vena Melinda Ditolak Saat Berkunjung Ke Jerman Sebagai Anggota DPR

Setidaknya ada 10 anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Komisi Pertahanan DPR yang tiba di Berlin, Jerman, untuk melakukan kunjungan kerja. Mereka menyempatkan diri bertemu dengan para pelajar, mahasiswa-mahasiswi, organisasi, serta elemen masyarakat Indonesia yang tinggal di sana. Rombongan itu ternyata tidak mendapatkan sambutan meriah dalam malam pertemuan yang berlangsung di KBRI Berlin, Selasa, 24 April 2012. Rombongan anggota DPR yang datang ke Jerman beserta anggota keluarganya itu malah diprotes para mahasiswa perwakilan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman, PPI Berlin, dan Nahdlatul Ulama cabang istimewa Jerman.

Para mahasiswa mengkritisi sikap anggota DPR yang melakukan kunjungan kerja dengan membawa serta keluarga mereka. Tak hanya memprotes dan membacakan pernyataan sikap menolak kehadiran anggota DPR, mereka juga berbondong-bondong keluar ruangan.

Siapa saja 10 anggota DPR dari Komisi Pertahanan yang pelesir ke Jerman itu?

1. TRI TAMTOMO, SH dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

2. NURHAYATI ALI ASSEGAF dari Fraksi Partai Demokrat

3. HAYONO ISMAN dari Fraksi Partai Demokrat

4. VENA MELINDA dari Fraksi Partai Demokrat

5. AHMED ZAKI ISKANDAR ZULKARNAIN dari Fraksi Partai Golongan Karya

6. H.A. MUCHAMAD RUSLAN dari Fraksi Partai Golongan Karya

7. NEIL ISKANDAR DAULAY dari Fraksi Partai Golongan Karya

8. TANTOWI YAHYA dari Fraksi Partai Golongan Karya

9. YORRYS RAWEYAI dari Fraksi Partai Golongan Karya

10. LUTHFI HASAN ISHAAQ, MA dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Kunjungan kerja anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat ke Jerman ditolak Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman dan Nahdlatul Ulama (NU) cabang istimewa Jerman. Aksi penolakan tersebut disampaikan dalam pertemuan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin.

Penolakan pelajar Indonesia terhadap kunjungan DPR itu diunggah ke YouTube. Awalnya, Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat yang memimpin rombongan, Hayono Isman, memperkenalkan satu per satu anggota Dewan, seperti Tantowi Yahya, Yorris Raweyai dari Fraksi Partai Golkar, dan Vena Melinda Fraksi Demokrat.

Giliran sesi pertanyaan, pelajar justru membuat pernyataan sikap menolak kedatangan DPR. “Saya melihat anggota Dewan selalu merepotkan KBRI yang kerjanya bukan hanya melayani anggota Dewan dan keluarga,” kata pelajar yang mewakili PPI. “Kami juga melihat kedatangan anggota Dewan selalu berjemaah dan berbondong-bondong bersama istrinya.”

“Kami melihat kunjungan Bapak-Ibu yang berbondong-bondong ke luar negeri ini seperti orang kampung. Sangat energik dan bersemangat. Apalagi kalau ada produk baru di sini. Kayak anak kecil yang memamerkan di Indonesia punya mainan baru. Bangga sekali,” katanya.

PPI juga mempertanyakan urgensi studi banding ke Jerman. “Buat apa datang jauh-jauh bawa istri pula, capek-capek, apalagi dengan buang uang rakyat,” katanya. “Melihat rendahnya urgensi kedatangan kali ini yang telah menghabiskan dana Rp 3,1 miliar, kami PPI di Jerman bersama dengan PPI Berlin dan Nahdlatul Ulama cabang istimewa Jerman menolak kedatangan Bapak-Ibu bersama keluarga.”

Badan Kehormatan DPR Prakoso mengatakan baru mengetahui penolakan PPI waktu ditanyai. Alasannya DPR, termasuk dirinya, tengah reses. Prakoso pun sedang berada di daerah pemilihan. “Saya belum mendengar kabar ini, jadi sulit menanggapinya,” ujarnya.

Skandal Seks Secret Service Di Brazil Lebih Kejam Dengan Melempar Keluar Mobil Para Pelacur Habis Pakai

Hobi “jajan” oknum personel Secret Service saat bertugas di luar negeri sudah bukan rahasia lagi. Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, menegaskan skandal seks mereka di Kartagena, Kolombia, bukan hal pertama yang juga melibatkan personel militer. Bahkan, apa yang mereka lakukan di Brazil lebih sadis lagi.

Panetta mengatakan kepada wartawan, tiga Marinir di tim keamanan Kedubes AS dan satu anggota staf Kedubes AS didemosi usai bersama-sama melakukan perjalanan ke Brazil. Mereka diduga mendorong pelacur keluar dari mobil di Brasilia akhir tahun lalu setelah terjadi perselisihan pembayaran.

“Dimana pun kejadiannya, Anda harus yakin bahwa kita akan bertindak untuk memastikan bahwa mereka dihukum dan bahwa perilaku seperti itu tidak dapat diterima,” kata Panetta.

Kemarin, tiga lagi agen Secret Service mengundurkan diri. Dengan demikian, jumlah personel yang mundur terkait skandal seks di Kartagena berjumlah sembilan orang. Mereka terkait dugaan menyewa pelacur selama perjalanan terakhir Presiden Obama ke Kartagena, Kolombia. Sebanyak 12 agen diinvestigasi terkait skandal yang “menampar” Obama menjelang pencalonan kedua kalinya itu.

“Secara keseluruhan, sembilan agen diharapkan untuk meninggalkan badan ini dan tiga orang telah dibersihkan dari kesalahan serius,” kata Asisten Direktur Secret Service, Paul Morrissey.

Dalam sebuah wawancara, Obama mengatakan skandal itu seharusnya tidak mendiskreditkan lembaga secara keseluruhan. “Secret Service adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka melindungi saya. Mereka melindungi anak perempuan kami. Ulah oknum semestinya tak seharusnya mengurangi apa yang mereka lakukan,” katanya.

Skandal prostitusi yang melibatkan agen Secret Service AS tak hanya terjadi di satu hotel. Hotel lain yang menjadi tempat beberapa personel menginap juga “disusupi” PSK, CBS News melaporkan.

Seorang pejabat penegak hukum menyatakan kepada CBS News bahwa agen lain juga dalam penyelidikan karena membawa wanita kembali ke Hotel Hilton di Kartagena, Kolombia, beberapa hari sebelum Presiden Obama tiba di sana.

Sebelumnya diberitakan kasus skandal seks agen Secret Service terbongkar ketika salah seorang PSK ribut dengan seorang agen di lobi Hotel Caribe. Hal ini menarik perhatian manajer hotel yang berujung pada terungkapnya skandal itu.

Senator Joe Lieberman, pimpinan Komite Senat urusan Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan, menyatakan kasus skandal seks yang melibatkan agen Secret Service juga terjadi di Hotel Hilton. Di hotel ini, Presiden Barack Obama menginap selama berada di Kolombia untuk mengikuti KTT Amerika.

“Sekarang, selidiki apa yang terjadi di hotel tempat Presiden menginap,” katanya. “Ini hanya akan menambah masalah menjadi makin runyam.”

Sebanyak 23 personel Secret Service dan militer yang menginap di Hotel Caribe kini tengah diinvestigasi. Namun, tak pernah disebut-sebut tentang keterlibatan agen Secret Service yang menginap di Hotel Hilton.

Hamas Akan Wajibkan Anak Anak Palestina Belajar Bahasa Ibrani Agar Mudah Mendapatkan Pekerjaan Di Israel

Seorang pejabat senior Hamas di Gaza mengatakan pada hari Senin bahwa penguasa militan di wilayah itu berniat mulai mengajarkan bahasa Ibrani untuk siswa SMA mulai tahun depan. Ziad Thabet, Wakil Menteri Pendidikan Hamas, mengatakan pemerintah mulai melatih para guru.

“Siswa harus diperkenalkan dengan sebanyak mungkin bahasa,” katanya. Selama ini, bahasa Ibrani, bahasa utama yang digunakan oleh Israel, hanya ditawarkan sebagai kursus tambahan di universitas.

Thabet mengatakan pemerintah Gaza masih perlu menimbang keputusan tersebut, tapi kemungkinan besar disetujui.

Banyak warga Palestina melihat bahasa Ibrani sebagai bahasa musuh. Namun ditengah keterpurukan ekonomi Palestina maka bahasa Ibrani mulai digunakan secara luas di Gaza, terutama oleh mereka yang bekerja di Israel sampai satu dekade lalu ketika Israel mulai melarang buruh memasuki negara itu di tengah meningkatnya kekerasan di wilayah yang kini diblokade itu.

Diplomat Iran Tertangkap Basah Mencabuli 4 Siswi ABG Di Kolam Renang Brazil

Seorang diplomat Iran dituduh meraba-raba beberapa anak perempuan saat berada di sebuah kolam renang di Brasil. Pemerintah Iran tengah menyelidiki dugaan yang menimbulkan kemarahan publik Brasil tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (24/4/2012), diplomat bersangkutan telah ditarik pulang ke Iran dan akan ditangani sesuai aturan disipliner kementerian.

Menurut media Brasil, diplomat Iran itu dituduh meraba-raba kemaluan empat anak perempuan Brasil berumur antara 9 tahun dan 15 tahun. Kejadian itu terjadi saat anak-anak Brasil tersebut berenang di kolam renang milik klub olahraga Brasilia. Akibat dijahili, anak-anak tersebut menangis dan menimbulkan kemarahan orangtua mereka.

“Orang-orang ingin membunuh dia. Jika pihak klub tidak mengerahkan personel keamanan, saat ini mereka pasti akan mencari saya karena pembunuhan,” cetus ayah salah seorang anak perempuan tersebut seperti dikutip situs berita Brasil, G1.

Usai insiden tersebut, kepolisian Brasil dengan cepat menangkap diplomat Iran tersebut. Namun dia kemudian dibebaskan karena kekebalan diplomatik yang dimilikinya.

Media Brasil mengidentifikasi diplomat tersebut sebagai Hekmatollah Ghorbani, seorang pria berumur 51 tahun. Dia merupakan pejabat tingkat tiga di kedutaan Iran di Brasilia. Dia telah menikah dan memiliki anak-anak. Diplomat tersebut telah memegang jabatannya selama dua tahun.

Kedutaan Iran di Brasil kemudian mengeluarkan statemen yang membela diplomat tersebut. Disebutkan bahwa tuduhan meraba-raba kemaluan tersebut diakibatkan oleh “kesalahpahaman kultur”. Kedutaan Iran bahkan menuding media Brasil bias.

Namun Kementerian Luar Negeri Brasil menegaskan akan menyelidiki insiden ini hingga tuntas. Kementerian Brasil pun telah mengambil langkah-langkah formal dengan memberitahukan kedutaan Iran soal insiden ini.

Dua Mahasiswa Pakistan Dijatuhi Hukuman Karena Memperkosa Gadis Di Bus Kota

Dua mahasiswa asal Pakistan dijatuhi hukuman penjara masing-masing 10 tahun dan 8,5 tahun oleh pengadilan Inggris. Kedua pemuda itu dinyatakan bersalah telah memperkosa seorang gadis secara bergiliran.

Rizwan Ahmad (24) dan Hassan Siddique (19) diadili di Pengadilan Snaresbrook. Terungkap bahwa saat kejadian pada 4 Juni 2011 lalu, seorang gadis sedang dalam perjalanan pulang dengan bus dari kelab malam di pusat kota London. Ahmad yang berada dalam bus yang sama, ternyata sudah mengincar gadis berumur 20 tahun tersebut.

Ketika sang gadis jatuh tertidur dan tempat pemberhentiannya telah terlewat, Ahmad pun berusaha mendekati gadis tersebut dengan mengajaknya ngobrol. Ahmad bahkan membujuk gadis tersebut untuk turun di pemberhentian selanjutnya dan menjanjikan akan mencarikan taksi untuk gadis tersebut.

Tapi ternyata, Ahmad malah menelepon Siddique dan memintanya untuk datang ke lokasi. Kedua pemuda tersebut lantas mengajak gadis tersebut ke sebuah gang kecil di Leabridge Road, Leyton, London sebelah timur. Di sanalah pemerkosaan itu terjadi. Keduanya memperkosa gadis muda tersebut secara bergantian. Demikian seperti dilansir oleh Daily Mail, Selasa (24/4/2012).

Dalam persidangan, Ahmad dan Siddique membantah semua dakwaan dan menyatakan bahwa korbanlah yang merayu mereka. Namun pengadilan tetap menyatakan dua pemuda tersebut bersalah atas tindak pidana pemerkosaan.

“Apa yang kalian lakukan sangat tercela. Pembelaan kalian benar-benar menggelikan. Kalian menyatakan bahwa gadis itu yang memulai semuanya, bahwa dia yang ingin melakukan hubungan intim dengan kalian,” ujar Hakim Tudor Owen dalam persidangan.

“Banyak wanita yang bepergian seorang diri saat malam hari, berhak untuk tidak ditegur seperti yang kalian lakukan. Dia memang banyak minum, tapi bukan berarti dia harus diperlakukan seperti yang kalian telah lakukan. Dia menjadi sasaran empuk karena dia dalam keadaan mabuk. Kini dia takut bepergian sendirian saat malam hari, hal ini telah merusak hidupnya,” imbuhnya.

Hakim Owen menjatuhkan vonis 10 tahun penjara bagi Ahmad dan vonis 8,5 tahun penjara bagi Siddique. Dia juga memerintahkan keduanya untuk dideportasi ke Pakistan begitu mereka selesai menjalani masa hukumannya di Inggris.

“Lebih cepat kalian dideportasi dari negara ini, lebih baik,” tandas Hakim Owen.

Palestina Hukum Mati Warganya Karena Berjualan Dengan Orang Israel

Seorang mantan agen intelijen Palestina dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Palestina. Vonis mati itu dijatuhkan hanya karena pria ini menjual rumahnya kepada seorang pria Israel.

Muhammad Abu Shahala yang bekerja untuk otoritas Palestina tersebut, akhirnya memberikan pengakuan bahwa dia menjual rumahnya di kawasan Hebron, Tepi Barat, kepada seorang pria Israel. Vonis mati pun dijatuhkan kepadanya. Demikian seperti dilansir Daily Mail, Selasa (24/4/2012).

Para pejabat Yahudi kini menyerukan komunitas internasional untuk terlibat guna menyelamatkan nyawa Abu Shahala. Sesuai hukum Palestina, vonis mati baru bisa dieksekusi jika telah mendapatkan persetujuan dari Presiden Palestina, dalam hal ini Mahmoud Abbas.

Untuk menyelamatkan Abu Shahala dari hukuman mati, Komunitas Israel di Hebron mengirimkan surat terbuka kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton, Perdana Menteri Israel Benjamin Netenyahu dan sejumlah pejabat tinggi lainnya.

Surat tersebut dimaksudkan sebagai pernyataan protes terhadap putusan pengadilan Palestina tersebut. Juga sebagai seruan bagi dunia internasional untuk membantu upaya penyelamatan Shahala.

“Menurut informasi dari berbagai kantor berita, Muhammad Abu Shahala, seorang mantan agen intelijen yang bekerja pada otoritas Palestina, telah dijatuhi hukuman mati, dalam persidangan yang singkat. Kejahatannya adalah: menjual properti kepada pria Israel di Hebron. Nampaknya sangat mengerikan jika penjualan properti dikategorikan sebagai ‘kejahatan’ yang bisa dihukum dengan hukuman mati,” demikian seperti tertulis dalam surat terbuka tersebut.

“Fakta bahwa hukum seperti itu benar-benar ada dan menjadi sistem hukum yang diterapkan oleh otoritas Palestina, merupakan bentuk keadilan yang menyesatkan dan biadab. Praktek hukum seperti ini hanya berlaku saat zaman jahiliah,” imbuh mereka.

“Ini menjadi kewajiban seluruh masyarakat internasional, untuk menolak bersama-sama aksi pembunuhan dengan hukum seperti itu, saat kejahatan tidak lebih dari penjualan properti. Bagaimana reaksi Anda jika hukum seperti itu diterapkan di AS, Inggris, Prancis, atau Swiss, melarang penjualan properti kepada orang Israel?” demikian disampaikan dalam surat terbuka itu.