Monthly Archives: August 2008

Rusia Mengadakan Uji Coba Rudal Balistik ICBM Yang Tidak Bisa Dideteksi Oleh Radar Dalam Menghadapi Pengaruh Barat Di Eropa Timur

Rusia, Kamis (28/8), melakukan uji coba penembakan sebuah peluru kendali balistik antarbenua atau ICBM yang dikembangkan khusus untuk tidak terdeteksi sistem pertahanan rudal. Uji coba itu semakin meningkatkan ketegangan Barat dengan Rusia menyusul kemelut di Georgia.

Juru bicara Satuan Nuklir Strategis Rusia, Alexander Vovk, Jumat, menjelaskan, ICBM Topol RS-12M diluncurkan dari Kosmodrom Plesetsk di utara Rusia. Peluru kendali (rudal) itu terbang sejauh 6.000 kilometer sebelum menghancurkan sebuah target di Semenanjung Kamchatka, ujung timur Rusia.

”Uji coba itu dimaksudkan untuk mengembangkan perlengkapan potensial bagi tujuan tempur, menghadapi rudal balistik berbasis di daratan,” kata Vovk di televisi.

Uji coba rudal itu berlangsung hanya sepekan setelah Amerika Serikat mencapai kesepakatan dengan Polandia mengenai penempatan sistem pertahanan rudal di negara Eropa Timur itu.

Meski demikian, sejumlah analis mengatakan, peluncuran ICBM itu sudah direncanakan lebih awal. Tidak secara langsung terkait dengan semakin meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Barat berkenaan dengan aksi militer Rusia di Georgia.

Sementara itu, dalam wawancara dengan CNN, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengungkapkan, AS memprovokasi pertempuran di Georgia untuk mengangkat dukungan terhadap salah satu kandidat presiden AS.

Putin menjelaskan, AS telah mendorong tindakan ofensif Georgia. Diduga kuat personel AS juga terlibat langsung dalam pertempuran di Georgia.

Dalam sebuah jumpa pers, Wakil Kepala Staf Umum Militer Rusia Jenderal Anatoly Nogovitsyn menunjukkan sebuah perbesaran fotokopi berwarna dari yang disebutnya sebagai sebuah paspor warga AS, Michael Lee White, lahir tahun 1967. Paspor itu ditemukan di sebuah desa di Ossetia Selatan.

Paspor warga AS itu ditemukan di antara barang-barang yang ditinggalkan pasukan Georgia setelah Rusia turun tangan membela Ossetia Selatan.

Putin juga menegaskan, Rusia melakukan intervensi setelah tentara Georgia membunuh beberapa warga sipil Ossetia dan penjaga perdamaian Rusia yang ditempatkan di Ossetia Selatan.

Tingkatkan Topol

Analis mengungkapkan, Rusia terus melakukan peningkatan kemampuan rudal-rudal Topol untuk merespons rencana AS mengembangkan perisai pertahanan rudal, dengan memasang rudal penghadang berbasis di daratan.

”Rusia sekali lagi mengatakan bahwa mereka punya kemampuan mengatasi pertahanan rudal AS,” kata Anatoly Tsyganok, veteran yang kini mengepalai Pusat Strategi Militer.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Selasa, menjanjikan ”respons militer” atas perjanjian AS dan Polandia. ”Rudal-rudal itu akan ditempatkan di sepanjang perbatasan yang menjadi ancaman bagi kita,” ujarnya.

Kapal Induk Amerika Berlabuh Di Pelabuhan Georgia Dan Menantang Militer Rusia

Kapal perang AS, USS McFaul, tiba di Batumi, pelabuhan utama Georgia di Laut Hitam, Minggu (24/8). USS McFaul mengangkut bantuan kemanusiaan bagi ribuan orang yang terpaksa mengungsi akibat konflik bersenjata antara Rusia dan Georgia.

Kehadiran USS McFaul menegaskan dukungan AS bagi Georgia. Sebelumnya AS telah menyalurkan bantuan yang dibawa pesawat angkut militer setiap hari selama krisis berlangsung.

Menyusul USS McFaul, dua kapal perang AS lainnya, USS Mount Whitney dan USS Dallas, juga akan tiba di Georgia dalam waktu dekat. AS berencana mengirimkan lima kapal perang ke Georgia untuk menyalurkan bantuan.

Komandan Militer Senior Rusia Jenderal Anatoly Nogovitsyn mengatakan, kedatangan USS McFaul dan kapal perang anggota NATO lainnya akan meningkatkan ketegangan di Laut Hitam. Sementara itu, sejumlah tentara Rusia masih terlihat di pelabuhan Georgia lainnya, Poti.

”Saya kira pengerahan kekuatan semacam itu tidak akan mendukung stabilitas situasi di kawasan,” katanya, seperti dikutip ITAR-Tass.

Sejumlah tentara Rusia pun masih ada yang tinggal di Georgia. Alasannya untuk mencegah terjadinya kembali pertumpahan darah dan melindungi warga di Ossetia Selatan dan Abkhazia, dua provinsi separatis Georgia yang didukung Rusia.

AS dan Eropa mengkhawatirkan, masih adanya pasukan Rusia di Georgia akan menegaskan perpecahan etnis di Georgia, melemahkan pemerintahan Presiden Georgia Mikhail Saakashvili yang pro-Barat, dan mengancam jaringan penyaluran energi vital yang melintas negara itu.

Meledak

Melengkapi kekhawatiran persoalan energi, rangkaian kereta api pengangkut bahan bakar milik Georgia meledak dan terbakar di jalur utama timur-barat di dekat kota Gori, Minggu, setelah menerjang ranjau. Kementerian Dalam Negeri Georgia menyatakan, jalur lintasan kereta api dipasang ranjau. Asap hitam tebal terlihat membumbung dari lokasi ledakan.

Perdana Menteri Georgia Lado Gurgenidze mengatakan, jalur kereta api itu tidak hanya vital bagi perekonomian Georgia, tetapi juga bagi negara-negara tetangganya.

Otoritas tengah menaksir kerugian akibat ledakan kereta api tersebut. Dikhawatirkan ledakan itu akan mengganggu rute kunci ekspor minyak dari Azerbaijan ke pasar Eropa

Para Aktivis Free Gaza Berhasil Menembus Blokade Laut Israel dan Mendarat Di Jalur Gaza

Dua perahu dengan logo ”Free Gaza” dan ”Liberty” berbendera Yunani, Sabtu (23/8), akhirnya berhasil menembus blokade Israel dengan merapat di Pelabuhan Gaza City. Dua perahu yang bertolak dari Larnaka, Siprus, dua hari lalu, membawa 44 aktivis perdamaian internasional pro-Palestina yang berasal dari 14 negara dan beragam pemeluk agama.

Di antara aktivis perdamaian yang berada di salah satu perahu itu adalah Lauren Booth (saudara dari istri mantan PM Inggris yang kini menjabat utusan khusus kuartet perdamaian Tony Blair), seorang pastor Katolik asal AS berusia 81 tahun, wartawan televisi Aljazeera Ayyash Daraji, dan aktivis Yahudi Geev Halbeer (62).

Pimpinan Hamas dan ribuan warga Palestina menyambut hangat dua perahu tersebut. Bahkan, puluhan perahu kecil milik warga Palestina menyambut dua perahu aktivis perdamaian itu sebelum merapat di Pelabuhan Gaza City. Sejumlah pemuda Palestina ada yang berenang menyambut dua perahu itu.

Tindakan nekat dua perahu aktivis perdamaian internasional menembus blokade Israel atas Jalur Gaza itu merupakan yang pertama kali terjadi sejak Hamas menguasai penuh Jalur Gaza pada bulan Juni tahun lalu.

Dua perahu aktivis perdamaian itu menghadapi banyak hambatan untuk mencapai Jalur Gaza. Mereka terpaksa berkali-kali mengubah jalur pelayarannya. Israel juga dilaporkan mengganggu alat komunikasi dan jaringan internet kedua perahu itu. Gelombang Laut Mediterania yang besar pada bulan Agustus ini membuat sejumlah aktivis mabuk.

Ketua Komite Rakyat Palestina untuk Melawan Blokade Jamal Khadri mengungkapkan, dua perahu aktivis perdamaian itu sempat kehilangan kontak dengan dunia luar selama beberapa jam akibat aksi sabotase Israel.

Izinkan

Sumber resmi Israel, seperti dikutip harian Haaretz, mengungkapkan, Pemerintah Israel terpaksa mengizinkan dua perahu itu mencapai Jalur Gaza untuk mencegah para penumpang kedua perahu tersebut melancarkan aksi provokasi terhadap Israel. PM Israel Ehud Olmert setelah melakukan konsultasi dengan Menlu Tzipi Livni dan Menhan Ehud Barak, Jumat malam, memutuskan mengizinkan kedua perahu itu mencapai Jalur Gaza.

Namun, ujarnya, aparat keamanan Israel akan memeriksa kedua kapal itu ketika meninggalkan Jalur Gaza nanti. Khawatir mereka membawa aktivis Palestina yang diburu Israel dan bahan peledak. Sebelumnya, para aktivis perdamaian sebelum meninggalkan Siprus mengancam akan menuntut secara hukum jika Pemerintah Israel mencegah mereka menuju Jalur Gaza atau menangkap mereka.

”Jika Israel mencegah kami atau memeriksa secara paksa, kami tidak akan melawan. Bila Israel menangkap dan membawa kami ke Israel, kami akan mengajukan tuntutan hukum terhadap para penyandera,” tutur salah seorang aktivis perdamaian, seperti dikutip harian Asharq Al Awsat

Morales Menang Mudah Dalam Referendum Untuk Mengembalikan Sosialisme

Presiden Bolivia Evo Morales dengan mudah memenangi referendum hari Minggu (10/8). Morales bertekad melanjutkan langkah pembaruan sosialis, yang coba dihalangi oleh para lawan politiknya dari kaum kanan.

Referendum itu membentur Morales dengan para gubernur dari sejumlah wilayah, yang menginginkan otonomi bagi provinsi mereka yang kaya minyak. Para gubernur itu menuduh Morales memotong bagian pendapatan dari gas alam mereka.

Morales, yang juga seorang mantan petani daun koka, adalah Presiden Bolivia pertama dari etnis Indian. Morales berharap kemenangannya itu memungkinkan dia melanjutkan perubahan, seperti nasionalisasi, redistribusi tanah, dan adanya konstitusi yang lebih banyak membela kaum miskin.

Namun, saingan-saingan utama Morales juga menang dalam plebisit itu. Ini pertanda bahwa konflik akan berlanjut dan bisa kian memburuk karena kedua pihak merasa memenangi mandat baru untuk mempertahankan posisi mereka.

Hasil tidak resmi menunjukkan, lebih dari 63 persen pemilih meratifikasi mandat bagi Morales dan Wakil Presiden Alvaro Garcia.

Morales menghendaki referendum untuk menghadapi para gubernur yang beranggapan bahwa Morales hanya memperjuangkan etnisnya, warga Indian, yang menempati dataran tinggi sebelah barat yang gersang.

Empat gubernur dari kawasan timur yang kaya sumber alam dan kapitalistis juga lolos dari plebisit yang berlangsung hari Minggu. Di luar dugaan, Morales juga mendapatkan cukup banyak suara di negara-negara bagian itu.

Gubernur negara-negara bagian itu, Santa Cruz, Tarija, Pando, dan Beni, hari Minggu malam merayakan kemenangan mereka.

Dari empat gubernur lainnya yang juga diadu dengan Morales, tiga kalah dalam referendum itu. Dua di antaranya dikenal sebagai pengkritik Morales. Seorang lainnya adalah sekutu Morales, sementara seorang sekutu Morales lainnya dipastikan kembali berkuasa.

Para analis mengatakan, hasil referendum itu tidak mengubah posisi Morales melawan para penentangnya. Morales kemungkinan melakukan referendum lain untuk menyetujui konstitusi baru.

Joseph Biden Tokoh Yang Hebat Tetapi Cerewet Setengah Mati

Joseph Biden adalah tokoh politik Demokrat yang andal, khususnya soal kebijakan luar negeri. Tak ada yang meragukan itu. Dia menyetujui invasi Irak. Namun, dia kemudian mengecam Presiden Amerika Serikat George W Bush yang dinilai tak becus menerapkan strategi invasi.

Biden mengatakan, AS di bawah Bush justru membuat AS jadi tidak lebih aman. Karena warisan Bush, kata Biden, siapa pun presiden AS berikutnya menghadapi tantangan berat.

Biden adalah juga bakal calon presiden Demokrat, tetapi mundur setelah hanya mendapatkan suara 1 persen di kaukus Iowa pada 3 Januari 2008. Setelah itu dia ditanyai apakah mau menjadi wakil presiden (wapres). ”Tidak, saya tak akan menerima tawaran itu,” kata Biden seraya menambahkan, sudah mantap pada posisi sebagai Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Senat AS.

Namun, Obama mengatakan, orang yang langsung muncul di benaknya soal wapres adalah Biden. Padahal, Biden, sebagaimana diulas di banyak media AS, adalah orang yang cerewet dan sering keseleo lidah. ”Dia adalah tokoh dari arus utama Amerika Afrika, yang artikulatif, cerdas, bersih, dan ganteng,” kata Biden soal Obama pada pertengahan 2006.

Ucapan rasis

Di AS, sebuah ucapan yang menekankan ”arus utama, artikulatif, cerdas, bersih, dan ganteng” dikenal sebagai kalimat rasis, apalagi jika ditujukan kepada tokoh kulit hitam. Pesan ucapan itu, Obama orang yang berbahaya.

Biden lalu minta maaf. Obama mengatakan, dia tidak memikirkan hal itu, tetapi ucapan itu secara historis salah. Biden dicerca para tokoh kulit hitam.

Namun, Obama sudah menunjuknya. Obama mengatakan, ”Kami membutuhkan Anda semua, karena kami berdua saja tidak mampu mengemban tugas ini,” demikian pesan Obama kepada pendukungnya

Seorang Pria Nigerai Yang Beristri 86 Diminta Menceraikan 82 Istri Yang Lain Oleh Otoritas Islam Atau Akan Dihukum Mati

Otoritas Islam Nigeria telah meminta seorang pria berusia 84 tahun dengan 86 istri dan 170 anak agar mengurangi jumlah istrinya menjadi empat saja atau menghadapi hukuman mati, berbagai laporan menyatakan Kamis.

BBC melaporkan Mohammed Bello Abubakar, seorang mantan guru dan pendakwah, akan menghadapi hukuman mati berdasarkan syariah Islam, yang diberlakukan di Negara Bagian Niger, Nigeria baratlaut, yang mayoritas penduduknya Muslim, pada 2000.

Media Nigeria dan BBC mewawancarai Abubakar dua pekan lalu, ketika dia menyatakan tak ada ketentuan dalam Al-Qur`an yang berisi larangan beristri lebih dari empat.

Namun demikian, Dewan Agung Nigeria Urusan Islam (NSCIA) pekan lalu mengecam Abubakar, yang dianggap telah mempraktekkan klenik karena menyatakan dapat berbicara langsung dengan Allah.

Sekjen NSCIA, Dr. Abdul Lateef Adegbite mengemukakan kepada koran Punch bahwa Ketua NSCIA dan Sultan Sokoto, Alhaji Sa`ad Abubakar, merasa malu dengan kelakukan Abubakar.

“Sultan mendesak kaum Muslimin agar jangan menghiraukan kelakuan Bello Abubakar yang melanggar syariah Islam, yang hanya memperbolehkan seorang pria beristri empat saja,” katanya, seperti dikutip DPA.

Abubakar juga mengemukakan kepada BBC bahwa Allah telah memberikan kepadanya kekuasaan untuk mengontrol 86 istrinya.

Memetakan Kembali Perang Dingi Yang Belum Benar Benar Selesai

Banyak pihak menilai perang di Kaukasus adalah ”kemenangan” bagi Rusia. Barat tampaknya tidak berkutik menghadapi tindakan keras Rusia saat mengerahkan pasukan ke tetangganya, Georgia, setelah Georgia menyerbu Ossetia Selatan. Benarkah genderang ”Perang Dingin baru” telah ditabuh?

Media-media Eropa menyebutkan bahwa garis Perang Dingin antara Rusia dan Barat tengah digambar ulang. Para analis menilai pecahnya konflik antara Rusia dan Georgia adalah titik balik geopolitik terbesar sejak bubarnya Uni Soviet tahun 1991. Konflik Rusia-Georgia dipastikan mengubah tatanan internasional di masa-masa mendatang.

Bermula dari serbuan pasukan Georgia ke Ossetia Selatan pada 7 Agustus lalu, beberapa jam setelah Presiden Georgia Mikhail Saakashvili menyatakan gencatan senjata sepihak. Ossetia Selatan, yang tidak pernah merasa menjadi bagian dari Georgia dalam banyak hal, memerdekakan diri melalui perang tahun 1991-1992, tetapi tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Dua hari setelah Georgia membombardir Ossetia Selatan, Rusia mengerahkan pasukan ke provinsi tersebut. Alasannya, melindungi warga negara Rusia. Lebih dari 70 persen penduduk Ossetia Selatan memegang paspor Rusia. Rusia juga menempatkan pasukan penjaga perdamaian di Ossetia Selatan.

Isu Ossetia Selatan telah membuat hubungan Rusia-Georgia tegang sejak Georgia memerdekakan diri tahun 1991 menyusul bubarnya Uni Soviet. Georgia langsung berafiliasi ke Barat, sesuatu yang tidak disukai Rusia, terlebih saat Georgia berkeinginan untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Profesor Stefan Wolff dari University of Nottingham dalam artikel di Atlantic Review menyebutkan, sejak Ossetia Selatan memerdekakan diri, situasi di pegunungan Kaukasus itu terbilang ”tidur”. Sesekali pecah bentrokan antara tentara Georgia dan gerilyawan Ossetia Selatan, tetapi selebihnya tenang. Itulah sebabnya banyak pihak heran mengapa begitu cepat konflik di Georgia berubah menjadi konflik antara Rusia dan Barat.

Setelah merasa ”cukup”, Rusia menarik pasukannya dari kota Gori, yang diduduki Rusia setelah berhasil mengusir Georgia dari Ossetia Selatan, 22 Agustus. Rusia telah memenuhi misinya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa untuk tidak macam- macam dengan negara yang tengah bangkit ini.

Melunasi utang

Gleb Pavlosky, penasihat mantan Presiden Rusia Vladimir Putin, kepada BBC, mengatakan, kepemimpinan di Rusia telah menyimpulkan bahwa setelah Revolusi Oranye di Ukraina, Moskwa ingin mencegah hal serupa terjadi lagi. Rusia menganggap Ukraina dan Georgia, yang juga mengalami Revolusi Mawar yang memenangkan Saakashvili, sebagai pengaruh buruk di kawasan.

Fakta bahwa Georgia didukung Barat membuatnya menjadi sasaran empuk. Kesalahan Saakashvili adalah terlalu percaya diri bahwa Barat akan berada di belakangnya. Rupanya, dia salah perhitungan karena Barat hanya bisa bersuara keras tanpa bisa bertindak lebih jauh.

Rusia memanfaatkan retorika Barat yang disebut intervensi kemanusiaan dan Barat termakan ucapannya sendiri. Dengan alasan serupa, Barat mendukung kemerdekaan Kosovo dari Serbia.

Majalah The Economist edisi 16 Agustus menyebutkan bahwa Rusia kini telah menggambar garis merah tebal di atas peta Eropa di mana Barat dan NATO tidak bisa menyeberang. Rusia mencoba ”melunasi” utang kekalahan saat berakhirnya Perang Dingin tahun 1990, menjawab pengeboman NATO di Belgrade tahun 1999 dan invasi AS ke Irak tahun 2003. ”Jika kalian bisa, kami juga bisa” menjadi logis.

Namun, Barat bukannya tidak bisa berbuat apa-apa. Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband menyatakan hubungan dengan Rusia harus dipikir ulang. NATO telah memutuskan, ini adalah akhir dari ”bisnis seperti biasanya”. Ambisi Rusia untuk bergabung dengan badan- badan dunia berpengaruh, seperti WTO dan OECD, menjadi taruhan. Bahkan, G-8 telah rela mendepak Rusia.

Gencatan senjata kini telah berlaku kendati masih rentan dan bisa pecah sewaktu-waktu. Kini, apa yang bisa diperbuat saat dunia memasuki fase baru?

Faktanya adalah Barat memerlukan Rusia dan Rusia memerlukan Barat. Rusia ingin terintegrasi dalam sistem ekonomi dunia dan dianggap sebagai mitra diplomatik yang serius. Sementara itu, Barat memerlukan Rusia dalam konfrontasi dengan Iran atau Sudan.

Mantan Menlu Inggris Lord Owen mengatakan sangat absurd untuk memperlakukan Rusia seperti Uni Soviet. Rusia lebih siap, tidak hanya secara militer, tetapi juga secara ideologis. Dukungan Rusia terhadap separatis di Ossetia Selatan dalam menghadapi dukungan Barat terhadap Georgia kian menegaskan permainan perang proxy di era Perang Dingin mulai dimainkan. Seluruh dunia kini harus mulai bersiap.