Category Archives: Tsunami

Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Terbesar Jepang Dalam 100 Tahun

Bahkan, di Jepang, negara yang terbiasa dengan gempa, guncangan besar hari Jumat (11/3) dan tsunami yang ditimbulkannya menakutkan. Jutaan orang tak bisa pulang di Tokyo dan jalan di kota-kota pelabuhan berubah menjadi sungai hitam.

Gempa bumi adalah hal biasa di Jepang, salah satu daerah yang paling sering dilanda gempa di dunia. Negara itu mengalami sekitar 20 persen dari total gempa bumi dunia berkekuatan 6 skala Richter atau lebih besar. Ironisnya lagi, rata-rata sebuah gempa bumi terjadi setiap lima menit di dunia.

Namun, gempa hari Jumat, terjadi beberapa pekan setelah gempa di kota Christchurch, Selandia Baru, menakutkan. ”Saya tadi ketakutan dan masih ketakutan,” kata Hidekatsu Hata (36), manajer sebuah restoran mi ala China di daerah Akasaka, Tokyo. ”Saya tidak pernah mengalami gempa sebesar itu sebelumnya.”

”Orang-orang sangat ketakutan. Sangat jarang demikian karena orang di Jepang terbiasa dengan gempa bumi. Hari ini berbeda,” kata wartawan Reuters Insider, Kei Okamura, di Twitter.

Asagi Machida, perancang situs berusia 27 tahun di Tokyo, sedang berjalan di dekat sebuah warung kopi ketika gempa terjadi. ”Gambar-gambar akibat gempa dari Selandia Baru masih segar dalam ingatan saya sehingga saya sangat takut. Saya tidak bisa percaya gempa sebesar itu terjadi di Tokyo,” ujarnya.

Ratusan orang keluar ke jalan-jalan di Tokyo setelah gempa. Orang-orang berkumpul di depan televisi yang terletak di jendela-jendela toko untuk mengetahui rincian gempa.

Jutaan orang di metropolitan Tokyo terdampar tak bisa pulang ke rumah hari Jumat malam. Gempa tersebut telah menyebabkan jaringan kereta bawah tanah di ibu kota Jepang itu dihentikan.

Sirene berbunyi, helikopter-helikopter televisi melayang-layang, dan orang-orang bergegas ke toko yang buka 24 jam. Warga menyerbu nasi kotak, roti, dan mi instan.

Para karyawan, yang sebelumnya melarikan diri dari gedung-gedung perkantoran yang bergoyang, tak bisa pulang. Mereka juga tak bisa menghubungi keluarga mereka karena sistem telepon seluler kewalahan.

”Saya tidak tahu bagaimana saya bisa pulang ke rumah,” kata seorang perempuan berusia 18 tahun yang menunggu di luar stasiun kereta bawah tanah Ginza, Tokyo. Perempuan itu melukiskan, keramik-keramik berceceran di sekitarnya saat dia berada di dalam sebuah pasar swalayan saat gempa terjadi.

”Jaringan telepon tidak berfungsi dan jaringan kereta bawah tanah total dihentikan. Saya kini berpikir bahwa Tokyo rapuh,” kata Shintoku Arita (35).

Pemerintah menggunakan pengeras suara dan siaran televisi untuk mendesak orang agar tetap tinggal di dekat kantor mereka dan tidak berjalan pulang ke rumah dengan jarak yang cukup jauh.

”Tolong jangan memaksakan diri pulang ke rumah jika tidak menggunakan kendaraan. Bertahan saja di kantor dan di tempat aman,” demikian peringatan yang ditampilkan di NHK.

Saat senja mulai datang, pembaca berita NHK semakin mengingatkan warga agar tidak mencoba berjalan pulang ke rumah. ”Jika warga mencoba berjalan dan menempuh jarak yang jauh, kecelakaan jenis kedua kemungkinan besar akan terjadi,” kata pembaca berita itu.

Metropolitan Tokyo, terentang dari Yokohama hingga permukiman di pinggiran di sekitar Kanto, adalah wilayah perkotaan terbesar di dunia dengan 30 juta penduduk. Sebagian besar penduduk itu memiliki mobilitas tinggi setiap hari.

Akibat larangan itu, jalan-jalan raya keluar dari pusat kota pun macet total. Kamar-kamar hotel di Tokyo terisi penuh.

Menjadi kota hantu

Pelabuhan perikanan historis Jepang, Hakodate, menjadi kota hantu pada hari Jumat setelah tsunami setinggi 2 meter menghantam pusat kota. Pihak berwenang memerintahkan evakuasi terhadap 30.000 warga kota.

Peti kemas berserakan di seluruh kota. Ribuan warga yang ketakutan melarikan diri dari kawasan pesisir karena khawatir tsunami lain akan menghantam pelabuhan di sebelah selatan Pulau Hokkaido itu.

”Ini gempa terbesar yang pernah saya rasakan. Saya kira saya akan menghadapi maut,” kata Sayaka Umezawa (22), seorang mahasiswa yang sedang mengunjungi Hakodate.

Gempa itu tidak saja merepotkan warga Jepang. Pihak Palang Merah Internasional mengatakan, sejumlah negara yang terancam tsunami tak memiliki perlengkapan untuk menghadapi bencana itu. Warga di beberapa negara non-Jepang harus dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi agar tidak tersapu.

”Tsunami yang mencapai ketinggian 4-10 meter berarti lebih tinggi dari sebagian wilayah Pulau Hokkaido,” kata Paul Conneally, juru bicara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. ”Kami amat khawatir mengenai negara-negara berkembang di pesisir yang rentan terhadap ancaman tsunami dan yang mungkin tidak punya mekanisme nasional untuk merespons bencana,” katanya.

Filipina, Papua Niugini, dan pulau-pulau lain di Pasifik termasuk yang paling rentan. Negara-negara di pesisir Pasifik Benua Amerika menghadapi ancaman tsunami. Di Kolombia dan Peru, pihak berwenang juga membuat rencana evakuasi sebagai tindakan berjaga-jaga. Tsunami menghantam sekitar 20 negara Lingkar Pasifik.

Advertisements

Skala Gempa dan Tsunami Diluar Perkiraan Namun Jepang Sangat Siap Mengantisipasi

Gempa besar yang melanda Jepang dan memicu tsunami, Jumat (11/3), di luar perkiraan Japan Meteorological Agency. Namun, mereka sangat siap mengantisipasi hal ini.

”Besarnya gempa 8,9 skala Richter di luar dugaan JMA (Japan Meteorological Agency). Ada beberapa lempeng yang bergerak di dekat daerah Miyagi,” kata Bambang Rudyanto, penasihat senior Asian Disaster Reduction Center, yang dihubungi dari Jakarta melalui surat elektronik, Jumat. ”Gempa susulan masih terus terjadi. Kereta dan pesawat, termasuk operasional Bandara Narita, sempat dihentikan,” katanya.

Walaupun skala bencana di luar dugaan, menurut Rudyanto, Pemerintah Jepang dan masyarakatnya terlihat telah mempersiapkan diri dengan baik. Hal ini terlihat dari sedikitnya korban jika dibandingkan dengan gempa dan tsunami yang nyaris setara yang pernah melanda Aceh tahun 2004.

”Dua jam setelah gempa melanda, PM Naoto Kan menggelar jumpa pers dan mengumumkan task force khusus dengan dia sebagai ketuanya,” kata Rudyanto.

Kesigapan pemerintah dan masyarakat sipil Jepang dalam menghadapi bencana juga disampaikan warga negara Indonesia di Jepang. Junanto Herdiawan, warga Indonesia yang tinggal di Tokyo, mengatakan, ”Luar biasa kesigapan Pemerintah Jepang, mereka langsung menetapkan kondisi darurat. Dan betapa masyarakat percaya kepada pemerintahnya. Tidak terjadi kekacauan.”

Menurut Junanto, sebulan dua kali pihak kelurahan di tempat dia tinggal memperingatkan bahwa gempa besar menanti Jepang. ”Anak saya sudah diberi tahu guru bahwa akan datang gempa besar 100 tahun sekali. Secara rutin mereka latihan di sekolah,” katanya.

Saat gempa terjadi, anaknya yang masih berusia delapan tahun masih berada di sekolah. Namun, Junanto mengaku tidak khawatir dengan keselamatan anaknya. ”Gurunya sudah menjamin anak-anak aman di sekolah. Mereka juga sudah dilatih untuk itu,” ujarnya.

Dina Faoziah, mahasiswi program doktor di Tokyo University of Agriculture and Technology, asal Semarang, juga menuturkan, Pemerintah Jepang sangat siap menghadapi bencana ini. ”Mereka menyiapkan sistem dan warga dengan baik. Simulasi gempa dan tsunami di daerah pesisir dilakukan di sekolah-sekolah. Bahkan, bayi pun dibiasakan menjalani simulasi,” katanya. Karena itu, walaupun gempa sangat besar, Dina tetap tenang.

Tehnik Menghadapi Bencana Tsunami dan Gempa Bumi

Menyusul gempa dahsyat, Jumat pukul 14.46, jutaan warga Tokyo, ibu kota Jepang, tumpah ke jalan dan tanah lapang menjauhi gedung tinggi dan rumah. Meski sudah terbiasa dengan gempa, rasa takut itu menyergap juga, tetapi hebatnya tidak terdengar ada korban jiwa di kota ini.

Hingga Jumat malam, jutaan orang masih berkeliaran di jalan atau bergerombol di tanah lapang. Sebab, setelah terjadi guncangan hebat 8,9 skala Richter, masih terjadi gempa susulan. Bahkan, dilaporkan ada sekitar 50 kali gempa susulan berkekuatan paling rendah 6,0 skala Richter.

Merujuk laporan dari sejumlah media asing, korban jiwa justru paling banyak disebabkan oleh sapuan gelombang tsunami di Jepang utara. Bangunan, baik rumah, gedung tinggi, maupun jembatan, juga roboh atau rusak akibat terjangan tsunami hebat itu.

Abaikan dahulu kejadian ”langka” tsunami itu dan sebaiknya fokus pada gempa, sebuah fenomena alam yang nyaris terjadi setiap hari di Jepang. Negara ini paling aktif dilanda gempa di dunia. Sekitar 20 persen gempa bumi di dunia terjadi di sini dan kekuatan guncangannya umumnya lebih dari 6,0 skala Richter.

Hebatnya, belum ada laporan tentang bangunan yang roboh akibat guncangan gempa hari Jumat, gempa paling dahsyat dalam kurun waktu 140 tahun terakhir itu. Gedung- gedung pencakar langit di Tokyo dan kota-kota di Jepang lainnya tak ada yang roboh secara signifikan.

Bandingkan dengan gempa 6,3 skala Richter di Selandia Baru, tiga pekan lalu, yang menghancurkan ratusan rumah dan gedung. Bayangkan juga dengan gempa dahsyat dengan kekuatan 7,0 skala Richter yang memorakporandakan Haiti, Januari 2010, serta membuat ratusan ribu warga hingga kini masih ”mendekam” di tenda-tenda pengungsian.

Pada Rabu pagi, 9 Maret 2011, Jepang juga dilanda gempa bumi berkekuatan 7,2 skala Richter. Gempa yang juga terjadi di Prefektur Miyagi, Jepang utara, itu berada pada peringkat kelima dari tujuh skala intensitas seismik di Jepang. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu dan tidak ada bangunan yang roboh. Kali ini pun hanya tsunami yang menghancurkan kehidupan kota, bukan akibat guncangan gempa langsung.

Selama ini Jepang memang selalu berusaha meminimalisasi jatuhnya korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat gempa. Secuil kisah tentang ini diungkapkan Duta Besar RI untuk Jepang di Tokyo M Luthfi yang dihubungi Kompas per telepon dari Jakarta, Jumat petang.

”Meski guncangan gempa begitu hebat, warganya sambil memakai helm berbaris rapi dan tertib, tidak panik, tidak berdesak-desakan keluar dari gedung. Mereka telah terlatih untuk menghadapi bencana gempa,” kata Luthfi sambil membandingkan bagaimana ia dan rekan-rekan dari Indonesia yang panik dan lari terburu-buru kala gempa terjadi.

Luthfi mengatakan, sadar bahwa negaranya selalu diguncang gempa, Pemerintah Jepang selalu memberikan pelatihan rutin bagi warga dalam menghadapi bencana itu. ”Itu hebatnya Jepang,” katanya memuji kesiapan pemerintah dan warga untuk mencegah kerusakan dan jatuhnya korban jiwa.

Jepang memang hebat dan kita tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika gempa 8,9 skala Richter itu mengguncang negara lain. Negara lain mungkin akan hancur seperti Haiti dengan gempa sedahsyat itu.

Masyarakat Jepang, dari berbagai lapisan, memang rajin melakukan pelatihan menghadapi bencana (gempa). Di dekat pintu, mereka mempersiapkan ransel yang berisi botol berisi air, makanan kering atau makanan kaleng, obat-obatan untuk pertolongan pertama pada kecelakaan, uang tunai, pakaian kering, radio, senter, dan beberapa baterai pengganti.

Warga juga bisa menambahkan suplemen, obat-obatan khusus, atau makanan bayi dalam tas khusus mereka. Alat-alat penyelamatan gempa banyak dijual di toko swalayan.

PM pun ikut simulasi

Pada setiap 1 September, misalnya, sekitar 795.000 orang, termasuk perdana menteri, ikut simulasi bencana. Pelatihan menghadapi bencana dilakukan secara rutin, bahkan dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah-sekolah dasar.

Ketika terjadi gempa bumi berkekuatan 7,2 skala Richter pada Rabu pagi, 9 Maret 2011, sekitar 120 warga kota Rikuzen-Takata di Prefektur Iwate memimpin evakuasi penyelamatan diri dan orang lain.

Jepang memastikan pusat energi nuklir dan kereta listrik akan mati secara otomatis ketika bumi bergetar dalam batas tertentu. Keselamatan juga berkat beberapa kereta peluru supercepat, Shinkansen. Kereta peluru tersebut secara otomatis berhenti jika terjadi gempa melanda, tetapi kemudian akan kembali beroperasi.

Kali ini pun tidak ada yang tewas akibat guncangan gempa, kecuali oleh tsunami. Jepang punya sistem peringatan dini paling baik di dunia. Diduga kuat, kematian oleh tsunami akibat warga mengabaikan peringatan deteksi dini atas bahaya tsunami. Mungkin mereka becermin pada gempa 9 Maret lalu, tak ada korban dan tidak ada tsunami.

Tindakan yang paling dikenal dan populer adalah Jepang membangun gedung, rumah, dan jembatan tahan gempa. Rumah dan bangunan bertingkat di Jepang dibangun dengan material kayu, papan, aluminium, besi, dan perabot lain yang memiliki suspensi tiang bangunan yang bisa bergerak menyesuaikan dengan guncangan gempa.

Kekayaan Jepang sebagian diinvestsasikan untuk membangun gedung dan infrastruktur tahan gempa. Pejabatnya menghindari praktik korupsi dan jika ketahuan korupsi dengan cepat rasa malunya muncul, lalu menarik diri dari jabatannya.

Pemerintah Jepang menerapkan sistem antisipasi terhadap bencana gempa dengan sangat baik. Mereka mengaktifkan peringatan gempa di telepon genggam para warga. Begitu pula anak sekolah punya helm tahan api di meja masing-masing.

Simulator gempa canggih juga digunakan untuk membiasakan anak-anak mengetahui dan mendeteksi getaran gempa.

Jepang Lumpuh Total Karena Tsunami dan 50 Kali Gempa 8.9 Ritcher

Gempa berkekuatan 8,9 skala Richter membuat Jepang lumpuh total, Jumat (11/3). Selain memicu tsunami setinggi 10 meter yang menyapu bersih sebagian Jepang utara, jaringan listrik, telepon, dan transportasi di Tokyo, ibu kota negara, pun putus total. Jumlah korban tewas sementara 337 orang dan 56 orang hilang.

Survei Geologi AS melaporkan, gempa terjadi pukul 14.46 waktu setempat. Gempa berpusat di kedalaman 15,1 kilometer (km), 130 km di timur Sendai, ibu kota Prefektur Miyagi, Jepang utara, di Pulau Honshu. Kota ini terletak sekitar 380 km di utara Tokyo.

Badan Meteorologi Jepang mengatakan, gempa ini paling dahsyat di ”Negeri Sakura” dalam 140 tahun terakhir. Kekuatannya melampaui gempa Great Kanto, 1 September 1923, yakni 7,9 skala Richter, yang menewaskan 140.000 warga Tokyo.

Gempa utama diikuti 50 gempa susulan, umumnya lebih dari 6,0 skala Richter. Puluhan kota dan desa di sepanjang 2.100 km garis pantai dari utara hingga selatan Honshu, termasuk Tokyo, yang berjarak ratusan km dari pusat gempa, terguncang gempa.

Tak lama berselang, kebakaran terjadi di 11 tempat di Tokyo. Depot dan kilang minyak serta pabrik di sekitar ibu kota negara ini terbakar hebat. Asap hitam pekat membubung di kawasan industri Isogo, Yokohama.

Pada saat bersamaan, gelombang tsunami setinggi 6 meter hingga 10 meter terjadi di beberapa wilayah di Jepang utara, terutama di Sendai, kota terbesar di wilayah Tohoku, dan kota Kamaichi, juga di Jepang utara. Sebuah jembatan di sebuah daerah yang tidak disebutkan namanya di Jepang utara roboh.

Berdasarkan gambar dari udara yang dirilis televisi CNN, BBC, dan Al-Jazeera, tsunami memorakporandakan semua bangunan, mobil, perahu, dan benda apa saja yang ada di depannya. Hanya ada satu atau dua bangunan tinggi yang luput dari terjangan air bah tersebut. Sebuah kompleks pabrik berskala besar dan bandar udara utama di Miyagi hancur.

Puluhan orang yang berdiri di atap bangunan bandara tampak diliputi rasa takut yang luar biasa. Mereka menjerit dan berangkulan. Puluhan pengendara yang berusaha mencari jalan keluar dari kepungan air bah akhirnya terjebak dan hilang ditelan sapuan air. Seorang warga, yang terjebak di lantai atas rumahnya, melambaikan bendera warna putih berusaha mencari pertolongan. Bangunan di sekitarnya hilang tersapu gelombang tsunami.

Radio NHK Jepang melaporkan, jumlah korban tewas di sepanjang pantai Samudra Pasifik sementara lebih dari 337 orang. Kantor Polisi Nasional menyebutkan, korban tewas sementara 60 orang, sementara 56 orang hilang serta 241 orang lagi terluka. Korban diperkirakan akan terus bertambah. Sekitar lima korban tewas di antaranya ditemukan di Prefektur Fukushima di utara Tokyo. Puluhan keluarga melaporkan kehilangan salah seorang anggota keluarga mereka, baik anak, istri, suami, ayah, ibu maupun sepupu mereka.

Akibat guncangan gempa dan tsunami, seluruh infrastruktur vital di Jepang utara hancur. Tidak hanya membuat jalan-jalan terbelah, retak panjang di banyak tempat dan memutuskan transportasi, tetapi gempa dan tsunami juga membuat jaringan listrik dan telepon putus total. Areal pertanian dan tambak di Miyagi dan Prefektur Iwate hancur.

Warga Indonesia

Duta Besar RI untuk Jepang di Tokyo M Luthfi yang dihubungi Kompas per telepon dari Jakarta mengatakan, guncangan gempa terasa kuat di Tokyo. Gedung-gedung terguncang dan benda-benda berjatuhan. Ia baru saja selesai makan siang dengan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. ”Kami sempat berlarian karena panik,” katanya.

Menurut Luthfi, ia belum bisa bercerita banyak tentang kondisi 25.000 warga negara Indonesia (WNI) di Jepang akibat putusnya jaringan telepon. Sebanyak 247 orang di antaranya berada di Prefektur Miyagi dan 140 orang di Prefektur Iwate. Dua daerah ini paling parah dilanda tsunami setinggi 10 meter itu.

Luthfi hanya bisa dihubungi per telepon seluler Indonesia miliknya. Ia sulit berkomunikasi dengan staf kedutaan. Menurut dia, listrik yang melayani 4 juta warga Tokyo mati total. Begitu juga jaringan telekomunikasi ke seluruh Jepang. Lalu lintas kota lumpuh akibat tidak berfungsinya lampu rambu lalu lintas, termasuk kereta bawah tanah.

Media asing melaporkan, penumpang di jalur kereta bawah tanah Tokyo menjerit sambil meraih tangan penumpang lain. ”Guncangan sangat buruk, sulit untuk berdiri,” kata reporter Reuters, Mariko Katsumura. Jutaan pegawai kantor dan pengunjung pusat perbelanjaan tumpah ruah ke jalan-jalan, termasuk di Hitotsugi, pusat kota Tokyo.

Ribuan warga Tokyo meninggalkan gedung dan rumah mereka. Warga berkumpul di tanah lapang, atau tempat terbuka lain, yang jauh dari bangunan bertingkat. Luthfi menjelaskan, ketika gempa, ribuan warga Jepang menghindari bangunan bertingkat. Meski demikian, mereka tidak terlihat panik.

”Mereka keluar dari bangunan secara teratur, tidak berdesak-desakan, tak panik, sambil mengenakan helm,” katanya. Ia memuji Jepang yang sistem deteksi dininya berjalan baik. Pemerintah Jepang telah melatih warganya untuk sadar akan bencana gempa dan tahu cara-cara menyelamatkan diri jika terjadi gempa.

Sekalipun gempa tidak sampai merusak pabrik nuklir di Fukushima, lebih dari 2.000 warga di sekitar lokasi pabrik minta untuk dievakuasi segera. Padahal, mereka sudah berada di radius aman, seperti saran pemerintah, yakni 2 km dari lokasi pabrik.

Bandara Internasional Narita, Tokyo, sempat tutup total tak lama setelah terjadi gempa. Menjelang sore, sebagian penerbangan mulai aktif. Meski demikian, suasana di bandara relatif sepi.

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik di Hawaii, AS, mengatakan, peringatan tsunami berlaku untuk Jepang, Rusia, Marcus Island, dan Marianas Utara. Peringatan agar perlu dilakukan antisipasi tsunami juga berlaku untuk Guam, Taiwan, Filipina, Indonesia, Hawaii, Kepulauan Marshall, Papua Niugini, Nauru, Mikronesia, Kanada, dan Alaska.

Menjelang sore, gelombang tsunami dalam skala kecil dilaporkan terjadi di Filipina dan Guam. Gelombang tsunami lebih tinggi dilaporkan terjadi di Hawaii.

Setelah Yahoo Merugi Kini Renault Tutup Pabrik Sebagai Awal Gelombang Tsunami Runtuhnya Industri Otomotif Dunia

Raksasa otomotif Perancis, Renault, bakal menutup hampir semua pabriknya di seluruh Perancis. Kalangan serikat buruh pekerja Renault, Jumat (24/10), menuturkan, penutupan selama satu hingga dua pekan tersebut akan dimulai pekan depan. Diduga penutupan ini berkaitan dengan krisis ekonomi.

”Hampir semua pabrik akan ditutup untuk satu atau dua minggu atau mungkin lebih. Aksi ini akan dimulai pekan depan pada pabrik di Le Mans yang akan ditutup selama 15 hari dan di Flins akan ditutup juga selama 15 hari,” ujar Fabien Gache dari serikat buruh CGT Renault. Sejauh ini, belum ada reaksi dari pemimpin Renault.

Le Mans yang terletak di Perancis utara dan Flins yang terletak sedikit di luar Paris merupakan lokasi dua pabrik terbesar Renault di Perancis.

Menurut Gache, pabrik ketiga akan ditutup selama sepekan dan pabrik keempat sudah beroperasi dengan setengah kapasitas.

Renault sebelumnya menegaskan, nilai penjualan pada kuartal ketiga 2008 turun 2,2 persen menjadi 9,15 miliar euro. Penurunan penjualan yang tajam terjadi di Eropa pada semester kedua 2008. Total penjualan mobil dan truk ringan Renault tahun ini akan turun dibandingkan penjualan tahun lalu 2,49 juta unit.

Perekonomian dunia, terutama di AS dan Eropa, yang melemah karena krisis keuangan membuat Renault perlu mempertimbangkan penjualannya. Pada Februari, Renault yang merupakan raksasa otomotif nomor empat dunia setelah General Motors, Toyota Motor, dan Ford masih memperkirakan pertumbuhan penjualan dengan 10 persen.

”Jelas krisis muncul. Seluruh ekonomi riil terpukul dan industri otomotif, termasuk Renault, juga ikut terpukul,” ujar Patrick Pelata, kepala bagian operasi, dalam jumpa pers. Renault kini terus memantau kondisi Rusia, Brasil, dan Argentina yang menjadi pasar potensial Renault.

Bulan lalu Renault mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) 6.000 pekerja di seluruh Eropa. Total ada 130.000 pekerja di Renault.

Sekitar 6.100 pekerja pabrik Nissan di Barcelona, Spanyol, juga harus terkena PHK. Nissan merupakan salah satu afiliasi Renault. Ini karena penjualan Pathfinder, Navara 4 x 4s, dan Primastar Van di AS merosot 34 persen pada September lalu dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 59.565 unit. Tiga jenis mobil Nissan ini dibuat di Barcelona.

Kondisi otomotif dunia

Kondisi Renault merupakan gambaran dari seluruh industri otomotif dunia yang terpukul sejak krisis keuangan melanda AS dan Eropa. Industri otomotif Italia, Fiat; Volvo dari Swedia; dan Chrysler sudah mengumumkan langkah penghematan karena penjualan yang merosot tajam

Industri otomotif Perancis, PSA Peugeot-Citroen, Jumat, juga memerintahkan pengurangan produksi besar-besaran karena penjualan menurun. Perkiraan penjualan Peugeot di Eropa Barat pada kuartal keempat 2008 akan turun 17 persen.

Raksasa otomotif nomor tiga AS, Chrysler, Jumat, juga mengurangi 5.000 pekerja administrasi dan magang hingga akhir tahun ini. ”Langkah ini untuk membantu perusahaan menghadapi krisis keuangan yang memperlemah pasar global,” ujar David Elshoff, juru bicara Chrysler.

Riset di AS menunjukkan, seperempat dari pekerja perusahaan di AS akan terkena PHK dalam 12 bulan mendatang guna mengurangi biaya.

Survei Watson Wyatt, perusahaan konsultasi dunia, menunjukkan betapa kondisi ekonomi terus memburuk akibat krisis terutama di AS.