Category Archives: Rusia

5 Pasukan Khusus Paling Digdaya Di Dunia

Masing-masing negara, membentuk pasukan khusus untuk melakukan tugas yang berbeda-beda, termasuk sebagai kontra-terorisme dan penyelamatan sandera untuk mengintai dan melakukan penyerangan. Lalu, siapa yang menjadi pasukan khusus paling berbahaya di dunia? Untuk menilainya, hal ini bisa dilihat dari persyaratan untuk masuk ke dalam angkatan yang bersangkutan, operasi yang telah mereka lakukan serta reputasi mereka, dan hal tersebut akan dibahas berikut ini. Nama-nama yang ada di dalam daftar ini mungkin akan membuat Anda terkejut. Beberapa nama-nama berikut ini, mungkin belum pernah Anda dengar atau Anda kenali sebelumnya. Tetapi, bukan berarti pasukan yang tercantum di bawah ini tidak layak untuk masuk dalam daftar.

5. JTF2 – Kanada.
Pasukan ini didirikan pada tahun 1993 dan mulai memperluas anggotanya pada 11 September 2001. Terdiri dari personel militer dari Angkatan Bersenjata Kanada, Joint Task Force2 ditugaskan untuk melakukan berbagai operasi. Mereka bertugas untuk mengawal orang-orang penting dan menjaga keamanan untuk acara-acara seperti Olimpiade Musim Dingin. Secara terselubung, mereka banyak beroperasi di banyak tempat di seluruh dunia, termasuk menyelamatkan sandera di Irak dan memburu penembak jitu Serbia di Bosnia.

4. Alpha Group – Rusia.
Bagaimana dengan Spetsnaz? Spetsnaz merupakan nama umum yang diberikan untuk semua pasukan khusus Uni Soviet atau Rusia. Sedangkan pasukan khusus Rusia adalah Alpha Group. Alpha Group muncul di tahun 1970-an dan mulai dikenal saat invasi Afghanistan, di mana anggota Alpha menyerbu Istana Presiden di Kabul dan menewaskan semua orang di dalam gedung. Di dalam negeri, Alpha juga terlibat dalam sebagian besar operasi anti teroris dan menyelamatkan sandera utama di Rusia, seperti pengepungan teater Moskow di tahun 2002 dan pengepungan sekolah Beslan di tahun 2004. Salah satu ciri dari Alpha Group ini adalah selalu menewaskan semua musuhnya saat melakukan operasi meskipun sumber dari Alpha Group menyebutkan, selalu ada beberapa yang ditangkap hidup-hidup namun diumumkan tewas agar dapat dengan mudah diinterogasi tanpa batas waktu dan hukum. Alpha Group ini juga tidak pernah mengumumkan keberhasilan operasi anti terorismenya ataupun jumlah teroris yang tewas karena semuanya dikubur diam-diam hingga sel sel teroris tidak pernah tahu secara pasti apabila teman mereka sudah tewas atau sedang sembunyi.

3. Shayetet 13 – Israel.
Shayetet 13 sering dikait-kaitkan dengan angkatan laut Israel. Didirikan pada tahun 1948, pasukan ini ikut ambil bagian dalam setiap operasi utama Israel, berperang, penyelamatan sandera dan kontra-terorisme untuk badan pertemuan intelijen. Para calon pasukan akan menjalani pelatihan panjang selama 20 bulan dengan pengujian fisik dan psikologis yang akan membuat mereka stres, bahkan sebelum pelatihan khusus dimulai. Secara operasional, anggota Shayetet 13 terlibat dalam sejumlah operasi yang melibatkan penyitaan kapal dan senjata menuju Gaza. Operasi yang paling menonjol yang mereka lakukan adalah Olimpiade Munich di tahun 1972 saat mereka harus bertanggung jawab atas serangan terhadap para atlet Israel.

2. Navy SEAL – Amerika Serikat.
SEAL adalah pasukan khusus Amerika yang dibentuk pada tahun 1962. Salah satu misi mereka yang paling dikenal adalah membunuh Osama Bin Laden, pemimpin Al Qaeda di tahun 2011. Untuk menjadi anggota pasukan ini, mereka harus menjalani pelatihan lebih dari satu tahun, dan kebanyakan dari calonnya gagal pada saat tes kualifikasi fisik yang melibatkan banyak pelatihan, seperti renang, push-up, sit-up dan berjalan, semua itu dilakukan dalam batas waktu yang sangat ketat. Setelah pelatihan fisik, akan dilanjutkan dengan pelatihan umum. Setelah lulus, para calon akan dipindahkan ke SEAL untuk kembali menjalani pelatihan kualifikasi yang akan membuka pintu menuju pelatihan khusus. Semua ini dilakukan untuk memastikan semua anggota SEAL mempunyai fisik dan mental baja dan mampu menjalankan operasi yang paling sulit di dunia.

1. SAS – Inggris.
Apakah benar, pasukan ini lebih berbahaya dibanding SEAL? Ya, Special Air Service, Inggris dibentuk pada tahun 1941 sebagai kekuatan yang bisa beroperasi di belakang garis Jerman dan Italia. Pasukan ini terdiri dari personel militer Inggris yang berasal dari pasukan udara. Untuk bisa menjadi anggota SAS, para calon diharuskan menjalani latihan fisik yang keras. Termasuk berjalan di jalanan menanjak sejauh 40 mil dan harus selesai dalam waktu 20 jam. Calon juga harus mampu berenang sejauh 2 mil dalam waktu 1,5 jam dan berjalan 4 mil dalam 30 menit. Setelah itu, mereka akan ditempatkan di hutan untuk belajar bertahan hidup. Tes terakhir adalah menjalani sesi interogasi selama 36 jam dengan tujuan menentukan kehendak kandidat. Beberapa calon yang bisa melalui ini, akan ditugaskan dalam sebuah operasi untuk melakukan pelatihan lebih lanjut. Masih belum yakin SAS ‘lebih baik’ dibanding SEAL? Sekadar Anda tahu, SAS juga dilatih oleh badan keamanan dan intelijen MI5 dan MI6 untuk melakukan operasi kontra-spionase.

Amerika Serikat Mobilisasi F-22 Raptor Untuk Hadapi Agresi Militer Rusia Di Eropa Timur

Angkatan Udara Amerika Serikat akan menurunkan F-22 Raptor, salah satu jet tempur tercanggih mereka, ke Eropa untuk unjuk kekuatan dan menghadapi ancaman Rusia. Pemerintahan Kremlin menjadi ancaman bagi negara-negara Eropa, terutama setelah Rusia mencaplok Crimea di Ukraina. Menurut hal ini disampaikan oleh juru bicara AU AS, Deborah James, dalam Paris Air Show awal pekan ini dan dilaporkan oleh situs-situs pertahanan seperti Military.com dan Breaking Defense.

“Ancaman terbesar menurut saya adalah Rusia dan aktivitas di dalamnya. Situasi di Ukraina sangat mengkhawatirkan,” kata James. F-22 akan masuk dalam daftar perangkat tempur udara yang rutin dikirimkan Pentagon untuk latihan di Eropa berdasarkan Resolusi Operasi Atlantik, sebuah perjanjian yang memuat komitmen AS terhadap pertahanan Benua Biru tersebut. Sejauh ini AS telah menggilir jet tempur F-15C dan A-10 serta pesawat pengebom B-2 dan B-52 untuk latihan dan beroperasi di Eropa.

“Saya bisa melihat suatu hari nanti–walau saya tidak bisa mengatakan kapan tepatnya–F-22, kemungkinan akan dapat giliran. Saya tidak melihat alasan mengapa hal itu tidak bisa terjadi,” kata James. F-22 adalah jet tempur paling canggih yang dimiliki AS saat ini. Pesawat siluman yang diproduksi tahun 2005 ini baru pertama kali diturunkan untuk operasi penyerangan tahun lalu di Suriah, mengebom markas ISIS.

Pesawat ini memiliki kemampuan menembak target di udara atau mengebom sasaran di darat. “F-22 bukan tandingan pesawat tempur yang ada saat ini,” tulis pernyataan AU AS soal Raptor. Pesawat ini dibanderol US$143 juta atau lebih dari Rp1,9 triliun per unitnya. Kremlin menanggapi komentar James melalui situs berita pemerintah, Sputnik International, yang mengatakan bahwa isu ancaman keamanan Rusia adalah “fiksi”. Pengamat di Moskow mengatakan bahwa Rusia tidak akan tinggal diam jika AS menurunkan F-22.

“Penurunan (F-22) akan menjadi pendorong bagi Moskow untuk mempercepat proses pengembangan dan penempatan generasi kelima jet tempur T-50,” ujar Vladimir Batyuk, pengamat dari Institut Studi AS dan Kanada di Russian Academy of Sciences. Armada udara AS dan Rusia belakangan kerap bertemu muka di Eropa sejak pemerintahan Vladimir Putin merebut Crimea dari Ukraina pada 2014 dan mendukung pemberontakan di negara bekas Soviet tersebut.

Akhir bulan lalu, jet tempur Rusia yang terbang dengan kecepatan tinggi berada hanya berjarak 10 kaki dari pesawat siluman AS di wilayah udara internasional di atas Laut Hitam. Sebuah jet tempur Rusia, dengan kecepatan tinggi, terbang berdekatan dengan pesawat pengintai Amerika Serikat di atas Laut Hitam pada akhir bulan lalu, menurut pejabat keamanan AS pada Kamis (11/6). Kedua pesawat itu hanya berjarak 10 kaki atau sekitar tiga meter.

CNN melansir pada 30 Mei, jet Rusia terbang dalam ketinggian yang sama dengan pesawat AS, berhenti lalu membayangi pesawat AS, lalu kemudian terbang menjauh. Pesawat AS tidak menjauh atau mengelak, namun tidak ada rincian lain yang diberikan. Pejabat militer juga tidak mengatakan apakah proses diplomatik dilakukan seusai insiden itu.

Peristiwa ini terjadi seminggu setelah insiden lain antara AS dan Rusia di langit Eropa, ketika pesawat RC-135U milik AS yang terbang di wilayah udara internasional diintersepsi oleh SU-27 Flanker milik Rusia. Dan awal bulan ini, Angkatan Laut AS mengambil langkah yang tidak biasa dengan merilis video Su-24 milik Rusia terbang melewati sisi kanan USS Ross di Laut Hitam.

Video ini didistribusikan untuk menjelaskan bahwa pesawat dan kapal itu sering bertemu secara rutin, bertentangan dengan laporan Rusia. Video memperlihatkan pesawat tempur Rusia mendekat dari kejauhan dan kemudian dengan cepat meluncur melewati USS Ross. Pesawat Rusia itu tidak bersenjata, menurut seorang pejabat pertahanan AS. Para pejabat AS mengatakan karena banyak miluter NATO dan Rusia terbang di atas Laut Hitam dan Baltik, maka ada lebih banyak interaksi antara mereka. Namun, dua insiden terakhir mendapat perhatian khusus karena dianggap berpotensi membahayakan personel dan pesawat AS.

Rusia dan China Buat Pakta Pertahanan Perang Cyber

Rusia dan Tiongkok menjalin sebuah perjanjian damai dalam hal cyber security. Kedua negara tersebut berjanji untuk tidak saling menyerang di dunia cyber, seperti dilaporkan oleh Wall Street Journal, Minggu (10/5/2015). Selain itu, mereka juga menyatakan akan saling berbagi informasi dan teknologi — salah satunya mengenai data ancaman cyber — antara agensi penegak hukumnya. Keduanya pun akan saling menjaga keamanan dari serangan-serangan yang dapat mengancam kondisi polik dan sosial ekonomi di kedua negara tersebut.

‘Kemesraan’ Rusia dan Tiongkok ini sebenarnya sudah terjalin sejak masa perang dingin. Namun belakangan ini, Rusia lebih sering berpihak ke Timur, terutama sejak aksi militer Rusia ke Ukraina yang punya efek buruk ke hubungannya ke Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Perjanjian ini disebut sebagai Wall Street Journal sebagai usaha Beijing dan Moscow untuk mengubah kebijakan internet secara global, yang akan mengurangi peran Amerika Serikat. Keduanya percaya bahwa pemerintah seharusnya mempunyai kontrol yang lebih ketat terhadap internet, juga informasi digital milik warga negaranya.

Ini juga sejalan dengan pernyataan menteri komunikasi Rusia Nikolai Nikiforov, yang membayangkan sebuah aksi mengisolasi jejaring internet di Rusia, seandainya Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa ‘mematikan’ mereka dari internet. Taiwan ingin bergabung dalam pelatihan anti serangan cyber yang dilakukan Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutunya. Ini mereka lakukan untuk melindungi negaranya dari serangan hacker Tiongkok.

Demikian dikatakan oleh Simon Chang, Wakil Perdana Menteri Taiwan. Menurutnya, banyak kasus peretasan di Taiwan yang terlacak berasal dari People Liberation Army milik Tiongkok. Tuduhan ini tentu dibantah keras oleh pihak Tiongkok. “Taiwan sebenarnya tak mempunyai musuh di komunitas internasional kecuali kamu tahu siapa. Siapa negara di dunia ini yang mau mencoba meretas Taiwan?” keluh Chang, yang mantan direktur operasi hardware Google Asia.

Agar AS bersedia menyertakan Taiwan dalam pelatihan bernama ‘Cyber Storm’ tersebut, Chang kembali menegaskan bahwa Taiwan seringkali dijadikan ‘tempat latihan’ bagi peretas Tiongkok. Di mana mereka menguji serangan-serangan cyber tercanggihnya. “Amerika Serikat punya pelatihan ‘Cyber Storm’ – kami tak diundang. Kami ingin sekali diundang,” ujar Chang. seperti dikutip dari Reuters, Rabu (1/4/2015).

Pelatihan yang dimaksud oleh Chang itu dilakukan setiap dua tahun sekali, seperti yang tercantum dalam situs milik US Departement of Homeland Security, yang sayangnya tak mencantumkan waktu pelaksanaan latihan tersebut. Taiwan sudah pernah mengundang pihak AS untuk mengamati latihan sejenis yang mereka adakan sendiri di negaranya, tepatnya pada tahun 2013.

Ketakutan Taiwan ini tentu punya dasar. Menurut penelitian FireEye –biro peneliti keamanan data — Taiwan adalah negara di Asia Pasifik yang paling banyak menerima serangan cyber selama enam bulan pertama di tahun 2014. Serangan cyber itu paling banyak dilakukan untuk mencuri data.

9.000 Pasukan Rusia Masih Ada Di Ukraina Untuk Bantu Pemberontak

Presiden Ukraina Petro Poroshenko menyebut lebih dari 9 ribu tentara Rusia ada di wilayahnya. Tentara-tentara tersebut membantu separatis pro-Rusia yang terus bertempur melawan tentara Ukraina di wilayah timur negara tersebut. “Terdapat lebih dari 9 ribu tentara Federasi Rusia di wilayah saya, termasuk lebih dari 500 tank dan artileri berat dan kendaraan pembawa tentara bersenjata,” ujar Presiden Poroshenko saat berbicara dalam World Economic Forum di Davos, Swiss, seperti dilansir AFP, Kamis (22/1/2015).

Poroshenko menekankan, tidak ada solusi militer bagi konflik antara Rusia dan Ukraina yang sudah berjalan 9 bulan terakhir. Lebih dari 4.800 orang tewas dalam konflik tersebut. Poroshenko bersikeras bahwa kunci untuk perdamaian antara kedua negara dipegang oleh Rusia, yang selama ini membantah mendukung separatis pro-Rusia di Ukraina. Padahal citra satelit NATO menunjukkan keberadaan tentara Rusia di wilayah Ukraina.

“Solusinya sangat sederhana. Hentikan suplai senjata. Hentikan suplai amunisi. Tarik tentara dan tutup perbatasan. Rencana perdamaian yang sangat sederhana,” sebut Poroshenko yang disambut tepuk tangan. Presiden yang terpilih pada Mei 2014 lalu ini, kembali menyerukan negara-negara Barat untuk memberikan suplai senjata modern bagi Ukraina agar bisa memukul mundur Rusia.

“Kami memiliki tentara yang sangat kuat untuk mempertahankan wilayah kami. Tapi teknologi pertahanan juga hal yang kami perlukan, karena hanya tentara yang kuat yang bisa membantu kami mempertahankan wilayah,” ucapnya dalam bahasa Inggris. “Dukungan politik, ekonomi, pertahanan dan moral — inilah empat kunci penting untuk mendukung Ukraina,” tandas presiden berusia 49 tahun ini.

Konflik Ukraina timur kembali menelan korban jiwa. Setidaknya 11 orang tewas dalam pertempuran ganas antara militer Ukraina dan para pemberontak pro-Rusia dalam 24 jam terakhir. Enam tentara Ukraina termasuk di antara korban tewas. Juru bicara militer Ukraina, Andriy Lysenko mengatakan, selain menewaskan enam orang, 18 tentara lainnya terluka dalam baku tembak sengit tersebut. Seorang warga sipil juga tewas dalam serangan pemberontak di pos pemeriksaan keamanan di dekat Fashchivka, wilayah Lugansk.

“Dalam satu hari ini, enam tentara Ukraina tewas. Delapan belas lainnya luka-luka,” tutur Lysenko seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (16/1/2015). Pertempuran sengit ini terjadi di sekitar bandara Donetsk sejak Kamis, 15 Januari dan sempat berhenti pada malam hari. Namun kemudian kontak senjata kembali berlanjut pada Jumat ini. Sebelumnya, pejabat-pejabat kota di Donetsk menyatakan, empat warga sipil tewas setelah serangan mortir ke sebuah gudang di kota tersebut.

Chechnya Bergolak Kembali Setelah Serangan Teroris

Sedikitnya tiga perwira polisi tewas setelah terlibat bentrok senjata dengan sejumlah pejuang yang menyerang pos jaga lalu lintas di ibu kota Chechnya, Grozny. “Setelah melakukan penyerangan, mereka menyerbu sebuah gedung media lokal,” kata pejabat Rusia. Kantor berita Rusia, Novosti, mengutip keterangan sumber keamanan, melaporkan bahwa beberapa petugas kepolisian juga mengalami cedera akibat serangan pada Kamis, 4 Desember 2014, itu.

“Belum ada konfirmasi dari pemerintah atas serangan yang dilakukan oleh para pejuang Islam itu,” Peter Sharp melaporkan untuk Al Jazeera dari Moskow. Komite Anti-teroris Nasional menyatakan sekelompok orang menyerang pos jaga lalu lintas di Grozny, Kamis dinihari waktu setempat, 4 Desember 2014. Selanjutnya, mereka menggeruduk gedung media lokal yang dikenal dengan sebutan Gedung Pers.

“Para pejuang kini memblokade bagian dalam gedung dari serangan balik polisi dan petugas keamanan,” demikian pernyataan Komite. Sebelumnya, Oktober 2014, lima polisi dilaporkan tewas dan puluhan lainnya cedera akibat serangan bersenjata di Grozny. Kejadian itu bermula ketika mereka menghentikan seorang pemuda yang akan melakukan bom bunuh diri saat konser di sebuah balai pertemuan yang dihadiri ratusan pengunjung.

Rusia Setuju Dengan Ide Poros Maritim Bentukan Jokowi

Pemerintah Rusia menyatakan dukungannya terhadap ide poros maritim yang digagas Presiden Joko Widodo. Dukungan ini disampaikan Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Federasi Rusia Valentina Ivanovna Matviyenko saat bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Rabu, 12 November 2014.

“Kami sangat tertarik dengan prakarsa Presiden Joko Widodo untuk membangun Indonesia sebagai poros maritim di kawasan Asia-Pasifik,” kata Matviyenko setelah bertemu dengan JK di Kantor Wakil Presiden. (

Menurut Matviyenko, ide poros maritim pasti akan mendorong perluasan kerja sama Rusia-Indonesia di kawasan Asia-Pasifik. Dia mengatakan, untuk mewujudkan ide poros maritim, Indonesia perlu melakukan sejumlah pembangunan di bidang infrastruktur. Salah satunya adalah membangun pelabuhan. Dia memastikan Rusia siap membantu mewujudkan ide poros maritim itu.

Selain membahas ide poros maritim, pertemuan Matviyenko dengan JK juga membahas peluang peningkatan kerja sama di bidang ekonomi. “Khususnya merencanakan peningkatan perdagangan Rusia dengan Indonesia hingga US$ 5 miliar,” ujar Matviyenko.

Rencana pelaksanaan proyek besar di bidang investasi pun menjadi pokok bahasan Matviyenko dengan JK. Salah satunya, rencana pembangunan jalur kereta di Kalimantan dan pabrik aluminium di Indonesia. “Kami juga membahas kesempatan untuk meletakkan sistem teknologi satelit Rusia di Indonesia dan keikutsertaan Rusia dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.”

Bahasan lainnya adalah peningkatan kerja sama kedua negara di bidang militer dan penanggulangan terorisme internasional. “Indonesia adalah mitra kunci bagi Rusia di kawasan Asia-Pasifik,” tutur Matviyenko. Adapun JK menyatakan kedatangan Matviyenko bertujuan mempererat hubungan kedua negara. “Tentu ini sangat penting karena sejak dulu kita memiliki hubungan yang baik dengan Rusia, baik secara politik, perdagangan, maupun investasi,” kata JK.

Video Saat Presiden Putin Pakaikan Mantel Ke Tubuh Istri Presiden Cina Peng Liyuan Di Blokir

Potongan video saat Presiden Rusia Vladimir Putin memakaikan mantel kepada Peng Liyuan, istri Presiden Cina Xi Jinping, sempat ramai dibicarakan oleh netizen di Weibo (Twitter versi Cina) dan aplikasi chatting WeChat. Namun, kini tautan video dengan judul “Putin Gives Peng Liyuan His Coat” dikabarkan sudah diblokir oleh pemerintah Cina.

“Weibo tentang video itu menyebar dengan sangat cepat. Hingga tadi pagi, masih ada sejumlah pengguna media sosial yang membahasnya,” kata seorang pejabat, seperti dilaporkan CNN, Selasa, 11 November 2014. Menurut laporan, pencarian link video, dan komentar terkait dengan adegan itu sudah rusak alias tidak bisa dibuka lewat Internet. Namun, masih terdapat tautan foto tentang keakraban Putin dan Peng di acara APEC di Beijing, Cina, kemarin.

Belum ada komentar resmi dari Presiden Xi ataupun para pejabatnya. Media pemerintah Xinhua dan saluran CCTV yang pertama kali menyiarkan adegan itu juga tidak memberikan komentar. Cina memang berusaha mati-matian agar APEC yang digelar di negaraya dapat memproyeksikan citra yang bersih. Adegan Putin kepada Peng juga bukan satu-satunya yang disensor oleh pemerintah.

Sejak persiapan APEC pekan lalu, pemerintah mengontrol dengan sangat hati-hati nama-nama pejabat Cina di media sosial, khawatir akan ada kritik yang dilayangkan pengguna kepada mereka terkait dengan isu korupsi dan terbaca oleh media asing. Istri Presiden Cina Xi Jinping, Peng Liyuan, mendadak ramai dibicarakan oleh media internasional. Ini dipicu ulah Presiden Rusia Vladimir Putin memakaikan mantel untuk Peng saat acara penutupan APEC di Beijing, Cina, Selasa, 11 November 2014.

Dikutip dari Time, Selasa, 11 November 2014, Peng dulunya adalah seorang penyanyi sopran dan artis panggung yang sangat populer, bahkan lebih terkenal daripada Jinping sebelum menjabat sebagai presiden. Saat itu, wanita 51 tahun ini juga rutin tampil di stasiun televisi CCTV dalam acara perayaan Tahun Baru Cina.

Peng sering mendapatkan penghargaan di berbagai kompetisi menyanyi tingkat nasional. Lagu People from Our Village, Zhumulangma, dan In The Field of Hope membuat Peng semakin dikenal publik. Dia adalah orang Cina pertama yang mendapatkan gelar master dalam bidang musik etnik tradisional pada 1980-an. Peng juga masuk sebagai 57 wanita paling perpengaruh di dunia versi Forbes. Di balik wajah cantiknya, Peng pernah bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat pada 1980 saat usianya baru 18 tahun. Berawal menjabat sebagai prajurit biasa, kini wanita asal Yuncheng itu memegang peringkat setara sipil mayor jenderal.

Peng menikahi Jinping pada 1987 dan dikaruniai seorang putra bernama Xi Mingze. Para pejabat propaganda tengah berupaya membangun citra Xi dan Peng sebagai pasangan yang romantis dan penuh kasih yang dicintai oleh warga Cina.