Category Archives: Timur Tengah

WNI Anggota ISIS Dipancung Oleh ISIS Karena Tularkan AIDS Pada Budak Seks Yazidi

Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) pengikut ISIS dipenggal oleh kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Pemenggalan dilakukan karena WNI tersebut terbukti secara sah menularkan virus HIV di kalangan pengikut ISIS dengan melakukan transfusi darah, menularkannya pada dua budak seks kulit putih Yazidi sehingga seorang Emir ISIS yang tengah melampiaskan nafsu syahwatnya pada budak seks tersebut juga tertular AIDS seperti yang dikutip dari Daily Mail.

Terkait hal tersebut Staf Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Purwanto mengatakan kejadian tersebut merupakan risiko pribadi WNI. “Kalau sudah di medan perang menjadi tanggung jawab pribadi. Kenapa mereka mau masuk medan pertempuran, apalagi bukan perang di negara kita. Dalam Undang-Undang (UU) Kewarganegaraan, disebutkan ada kewajiban WNI yang harus dijunjung tinggi, terutama larangan bergabung dengan milisi negara luar,” ujar Wawan dalam pernyataannya, Kamis(25/6/2015).

Wawan pun menyarankan agar para WNI yang tergiur bujuk rayu ISIS untuk pergi ke Suriah agar menimbang kembali langkah tersebut. Mereka harus benar-benar menggunakan akal sehat dan menilai dirinya apakah sudah selayaknya berada di tempat antah berantah tersebut. “Buat apa kita mencari masalah. Di sana kondisinya sangat berbeda dengan Indonesia dan medan serta cuacanya sangat berat. Kita harus punya ilmu mumpuni bila nekat bergabung dengan ISIS. Kalau tidak, saya yakin kita (WNI) hanya akan jadi korban saja,” ujarnya.

Persoalan yang terjadi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sebenarnya bukan konflik agama, tapi ada campur aduk politik. Persoalan ini yang membuat adanya pemahaman berbeda antara perang yang dilakukan ISIS dengan perang di bulan Ramadan. Pengamat intelijen sekaligus Staf Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan H Purwanto menyarankan para Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergiur bujuk rayu ISIS untuk pergi ke Suriah agar menimbang kembali langkah tersebut.

Menurutnya, mereka harus menggunakan akal sehat dan melakukan koreksi diri apakah layak berada di medan perang tersebut. “Di sana kondisinya sangat berbeda dengan Indonesia dan medan serta cuacanya sangat berat. Kita harus punya ilmu mumpuni bila nekat bergabung dengan ISIS. Kalau tidak, saya yakin kita (WNI) hanya akan jadi korban saja,” ujar Wawan, Jakarta, Kamis (25/6/2015).

Maka itu dia berpendapat, adanya seorang WNI yang identitasnya tidak jelas dipenggal kelompok militan ISIS akibat menularkan virus HIV di kalangan pengikut ISIS merupakan risiko pribadi. Alasannya, korban berada di medan perang di negara lain dan korban telah menjadi pengikut ISIS. “Kenapa mereka mau masuk medan pertempuran, apalagi bukan perang di negara kita. Dalam Undang-Undang (UU) Kewarganegaraan, disebutkan ada kewajiban WNI yang harus dijunjung tinggi, terutama larangan bergabung dengan milisi negara luar,” ucapnya.

Kelompok militan ISIS terus melakukan penculikan wanita di Irak karena kekurangan pasokan wanita kulit putih untuk dijadikan pelampiasan nafsu syahwat anggotanya yang dijanjikan akan didapat bila bergabung dengan ISIS. Bahkan 43 wanita Irak yang diculik dari minoritas kulit putih Yazidi telah dijual kepada para militan ISIS di Suriah karena gagalnya kampanye disosial media untuk mengajak wanita wanita muda kulit putih di Eropa dan Amerika untuk bergabung bersama mereka. Sebagian dari wanita-wanita itu telah diculik ISIS bersama anak-anak mereka! Menurut kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, wanita-wanita Irak itu diperlakukan seperti budak oleh para militan ISIS dan dijual antara US$ 500 dan US$ 2.000.

Menurut Observatory seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (26/6/2015), wanita-wanita itu telah diculik sejak tahun di wilayah Sinjar, Irak utara ketika kelompok ISIS melancarkan serangan besar-besaran. Awal bulan ini, wanita-wanita itu dibawa ke kota yang dikuasai ISIS, Mayadeen di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur. “Sebagian diculik bersama anak-anak mereka namun kami tidak tahu nasib mereka,” ujar direktur Observatory, Rami Abdel Rahman.

Warga minoritas Yazidi umumnya tinggal di wilayah Sinjar, Irak. Oleh kelompok ISIS, kaum Yazidi dianggap sebagai kafir sehingga sah untuk dijadikan tempat pelampiasan nafsu syahwat. Pada tahun 2014 lalu, para militan ISIS membantai kaum Yazidi dan memaksa ratusan ribu orang Yazidi melarikan diri. ISIS juga menangkap ribuan wanita dan anak-anak perempuan yang kemudian dijadikan budak seks. Badan PBB telah menyatakan bahwa kekejaman yang dilakukan ISIS terhadap Yazidi sama dengan genosida.

Lagi … TKW Karni Dihukum Mati Oleh Arab Saudi

Pemerintah Arab Saudi ternyata hanya memberitahukan rencana pelaksanaan eksekusi mati Karni binti Medi Karsim kepada keluarga majikannya yang tinggal di Kota Yanbu, Madinah, Arab Saudi. Karni, 37 tahun, divonis pidana mati karena didakwa membunuh anak perempuan majikannya yang baru berumur empat tahun pada Oktober 2012.

“Karni semula ditahan di Madinah. Kamis pagi, 16 April 2015, dia dipindahkan ke Penjara Kota Yanbu,” kata Kepala Seksi Repratriasi Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Muhammad Sadri, di kediaman Karni di Karangjunti, Losari, Brebes, Jawa Tengah, Kamis malam, 16 April 2015. Selain peristiwa pembunuhan terjadi di Yanbu, eksekusi mati Karni dilaksanakan di Penjara Kota Yanbu agar ahli waris atau keluarga korban bisa dihadirkan untuk menyaksikan prosesnya. Tujuan menghadirkan ahli waris itu untuk mengetuk hati mereka di menit-menit terakhir sebelum algojo meletuskan senjata apinya.

“Sebelum algojo mengeksekusi, ahli waris akan ditanya apakah bersedia memberi maaf. Pertanyaan itu biasanya diulang tiga kali,” ujar Sadri. Karena ahli waris tetap tidak mau memaafkan Karni, algojo pun menembak mati Karni pada Kamis sekitar pukul 10.00 waktu setempat atau sekitar pukul 14.00 waktu Indonesia Barat.

Karni, tenaga kerja Indonesia asal Desa Karangjunti, Losari, Brebes, dieksekusi mati di penjara Yanbu, Kamis, 16 April 2015. Eksekusi dilaksanakan pukul 10.00 waktu setempat atau pukul 14.00 di Indonesia. Kepala Seksi Repratriasi Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Muhammad Sadri, mengatakan Karni dieksekusi dengan ditembak. Sadri mengatakan, Kementerian Luar Negeri menerima informasi eksekusi mati Karni dari Konsulat Jenderal RI di Jeddah, Kamis siang. Informasi awal diperoleh KJRI dari media Arab Saudi yang mengabarkan adanya kerumunan orang yang menyaksikan eksekusi mati di Penjara Kota Yanbu.

“Staf KJRI langsung mengecek ke sana (Yanbu). Ternyata benar, yang dieksekusi mati adalah Karni,” ucap Sadri di kediaman Karni. Eksekusi mati itu terkesan mendadak. Sebab, kata Sadri, pemerintah Arab Saudi tidak memberitahu ihwal kapan akan melaksanakan eksekusi terhadap warga asing yang divonis hukum mati. Setelah menerima kabar eksekusi mati Karni, Sadri yang sedang bertugas di Cirebon, Jawa Barat, langsung memutuskan ke rumah Karni. Kebetulan rumah Karni berada di wilayah perbatasan Brebes-Cirebon. “Kami segera sampaikan kabar duka ini ke keluarganya,” kata Sadri yang didampingi salah satu stafnya.

Karni, 37 tahun, bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Kota Yanbu, Arab Saudi. Pada 2013, Karni divonis mati karena dakwaan membunuh anak perempuan majikannya berumur empat tahun pada Oktober 2012. “Kami sekeluarga hanya bisa pasrah menerima cobaan berat ini,” kata suami Karni, Darpin Sarji, 40 tahun

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri, Lalu Mohammad Iqbal, mengatakan eksekusi terhadap warga negara Indonesia Karni bin Medi Karsim berlokasi di Kota Yanbu, kota pelabuhan di Madinah, Arab Saudi. Lokasi itu disesuaikan dengan tempat kejadian perkara saat Karni melakukan aksi pembunuhan.

“Jarak dari Jeddah ke Yanbu sekitar satu setengah jam perjalanan dengan mobil,” kata Iqbal di kantornya, Kamis, 16 April 2014. Sebelumnya Karni ditahan di lembaga pemasyarakatan di Kota Jeddah. Menurut Iqbal, eksekusi mati di Yanbu tersebut atas permintaan pihak keluarga korban. Iqbal mengatakan prosesi eksekusi yang dilakukan pemerintah Arab Saudi di kota pelabuhan itu juga bukan dengan cara dipancung. “Melainkan ditembak,” ujar Iqbal. “Karena memang kalau khusus di kota itu, prosesi eksekusinya, ya, dengan cara membidikkan senapan ke arah terdakwa.”

Karni didakwa membunuh anak berusia 4 tahun pada 2012. Dia divonis mati setelah keluarga korban enggan berkomunikasi membahas kemungkinan pemberian pengampunan. Karni membunuh anak majikannya itu saat sedang tidur. Perbuatan Karni juga menyebabkan ayah sang anak terbunuh karena kecelakaan di jalanan.

Karni, tenaga kerja Indonesia asal Desa Karangjunti, Losari, Brebes, dieksekusi mati di penjara Yanbu, Kamis, 16 April 2015. Eksekusi dilaksanakan pukul 10.00 waktu setempat atau pukul 14.00 di Indonesia. Kepala Seksi Repratriasi Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Muhammad Sadri, mengatakan Karni dieksekusi dengan ditembak. Sadri mengatakan, Kementerian Luar Negeri menerima informasi eksekusi mati Karni dari Konsulat Jenderal RI di Jeddah, Kamis siang. Informasi awal diperoleh KJRI dari media Arab Saudi yang mengabarkan adanya kerumunan orang yang menyaksikan eksekusi mati di Penjara Kota Yanbu.

“Staf KJRI langsung mengecek ke sana (Yanbu). Ternyata benar, yang dieksekusi mati adalah Karni,” ucap Sadri di kediaman Karni. Eksekusi mati itu terkesan mendadak. Sebab, kata Sadri, pemerintah Arab Saudi tidak memberitahu ihwal kapan akan melaksanakan eksekusi terhadap warga asing yang divonis hukum mati. Setelah menerima kabar eksekusi mati Karni, Sadri yang sedang bertugas di Cirebon, Jawa Barat, langsung memutuskan ke rumah Karni. Kebetulan rumah Karni berada di wilayah perbatasan Brebes-Cirebon. “Kami segera sampaikan kabar duka ini ke keluarganya,” kata Sadri yang didampingi salah satu stafnya.

Karni binti Medi Tarsim, tenaga kerja Indonesia asal Desa Karangjunti, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, dieksekusi mati di Penjara Kota Yanbu, Arab Saudi pada Kamis, 16 April 2015. “Eksekusinya pada pukul 10.00 waktu setempat atau pukul 14.00 di Indonesia,” kata Kepala Seksi Repratriasi Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Muhammad Sadri, di rumah Karni pada Kamis malam, 16 April 2015. Karni dieksekusi dengan cara ditembak. “Ditembak, bukan dipancung,” kata Sadri.

Sadri mengatakan, Kementerian Luar Negeri menerima informasi eksekusi mati Karni dari Konsulat Jenderal RI di Jeddah pada Kamis siang. Informasi awal diperoleh KJRI dari media Arab Saudi yang mengabarkan adanya kerumunan orang menyaksikan eksekusi mati di Penjara Kota Yanbu. “Staf KJRI langsung mengecek ke sana (Yanbu). Ternyata benar, yang dieksekusi mati adalah Karni,” kata Sadri. Eksekusi mati itu terkesan mendadak. Sebab, kata Sadri, pemerintah Arab Saudi tidak memberitahu ihwal kapan akan melaksanakan eksekusi terhadap warga asing yang divonis hukum mati.

Setelah menerima kabar eksekusi mati Karni, Sadri yang sedang bertugas di Cirebon, Jawa Barat, langsung memutuskan ke rumah Karni. Kebetulan rumah Karni berada di wilayah perbatasan Brebes-Cirebon. “Kami segera sampaikan kabar duka ini ke keluarganya,” kata Sadri yang didampingi salah satu stafnya.

Karni, 37 tahun, bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Kota Yanbu, Arab Saudi. Pada 2013, Karni divonis hukuman mati karena dakwaan membunuh anak perempuan majikannya yang baru berumur empat tahun pada Oktober 2012. “Kami sekeluarga hanya bisa pasrah menerima cobaan berat ini,” kata suami Karni, Darpin Sarji, 40 tahun.

Misteri Kekuatan Di Balik Kedigdayaan Militan ISIS

Saat Abu Hamza, mantan pemberontak Suriah, setuju bergabung dengan Negara Islam atau ISIS, ia berasumsi dirinya bakal menjadi bagian dari utopia Islam yang dijanjikan kelompok itu. Utopia tersebut telah memikat para petempur asing dari seluruh dunia untuk bergabung dengan ISIS.

Namun, apa yang terjadi, ia justru menemukan dirinya diawasi seorang amir Irak dan menerima sejumlah perintah dari beberapa orang Irak yang tidak jelas identitasnya. Orang-orang itu masuk dan keluar dari medan perang di Suriah. Ketika tidak sepakat dengan sesama para komandan dalam sebuah pertemuan ISIS tahun lalu, dia langsung ditahan atas perintah seorang pria Irak bertopeng yang hanya duduk diam selama pertemuan itu. Pria bertopeng tersebut hanya mendengar dan membuat catatan.

Abu Hamza, yang saat itu menjadi penguasa ISIS di sebuah komunitas kecil di Suriah, tidak pernah mengetahui identitas sesungguhnya dari orang-orang Irak itu, yang terselubung dengan nama sandi atau karena memang namanya tidak diungkapkan. Namun, semua laki-laki itu merupakan mantan perwira Irak yang pernah bertugas di masa Saddam Hussein, termasuk pria bertopeng itu. Ia pernah bekerja untuk agen intelijen Irak dan kini bekerja untuk badan keamanan bayangan ISIS, kata Hamza, seperti dilaporkan Washington Post, Sabtu (4/4/2015) lalu.

Laporan Hamza, dan orang-orang lain yang tinggal bersama atau berperang melawan ISIS selama dua tahun terakhir, menegaskan peran luas yang dimainkan para mantan anggota tentara Baath Irak dalam sebuah organisasi yang secara tipikal lebih dikaitkan dengan para militan asing flamboyan dan berbagai video mengerikan yang mereka bintangi.

Menurut sejumlah warga Irak, Suriah, dan para analis yang mempelajari ISIS, walau ada ribuan petempur asing yang bergabung, tetap saja hampir semua pemimpin ISIS merupakan mantan perwira Irak, termasuk para anggota komite militer dan keamanannya yang identitasnya tidak jelas tadi, serta sebagian besar para amir dan pangeran.

Washington Post melaporkan, para mantan perwira itu membawa keahlian militer dan sejumlah agenda dari mantan orang-orang Partai Baath ke ISIS. Mereka juga membawa jaringan penyelundupan yang dulu dikembangkan untuk menghindari sanksi pada tahun 1990-an dan yang kini memfasilitasi perdagangan minyak ilegal ISIS.

Di Suriah, para “amir” lokal biasanya dibayangi seorang wakil yang merupakan orang Irak dan membuat keputusan, kata Abu Hamza, yang telah melarikan diri ke Turki pada musim panas lalu setelah kecewa dengan ISIS. Dia menggunakan nama samaran demi keselamatannya.

“Semua pembuat keputusan orang Irak dan sebagian besar dari mereka merupakan mantan perwira Irak. Para perwira Irak menjadi pemimpin dan mereka yang membuat taktik dan rencana pertempuran,” katanya seperti dikutip Post. “Namun, orang-orang Irak sendiri tidak bertempur. Mereka menempatkan para petempur asing di garis depan.”

Profil umum para jihadis asing sering kali kurang paham dengan akar ISIS dalam sejarah berdarah Irak saat ini.

Hassan Hassan, seorang analis yang berbasis di Dubai dan salah seorang penulis buku berjudul ISIS: Inside the Army of Terror, mengatakan, kekejaman keji rezim Baath Saddam Hussein, pembubaran tentara Irak setelah invasi pimpinan AS tahun 2003, pemberontakan yang terjadi setelah itu, dan marginalisasi kaum Sunni Irak oleh pemerintah yang didominasi Syiah, semuanya saling terkait dengan munculnya ISIS.

“Banyak orang berpikir Negara Islam itu sebagai kelompok teroris dan itu tidak efektif,” kata Hassan. “(ISIS) itu memang sebuah kelompok teroris, tetapi kelompok itu lebih dari itu. Kelompok (itu) merupakan pemberontakan yang tumbuh di Irak dan kelompok itu terkait dengan Irak.”

Undang-undang penyingkiran orang-orang Baath (de-Baathification) yang diumumkan L Paul Bremer, penguasa Amerika di Irak tahun 2003, sudah lama diidentifikasi sebagai salah satu pemicu munculnya pemberontakan. Dalam sebuah keputusan, sebanyak 400.000 anggota tentara Irak yang telah dikalahkan kemudian dipecat. Tunjangan pensiunnya tidak dibayarkan. Namun, mereka tetap diizinkan untuk memiliki senjata.

Militer AS pada tahun-tahun awal gagal untuk menyadari para perwira Baath yang dibubarkan akhirnya berperan di sejumlah kelompok ekstremis, melebihi para petempur asing yang sering disalahkan sejumlah pejabat Amerika, kata Kolonel Joel Rayburn, dosen senior di National Defense University, yang menjabat sebagai penasihat sejumlah jenderal penting AS di Irak. Rayburn menggambarkan hubungan antara Baath dan ISIS dalam bukunya yang berjudul Iraq After America.

Menurut Rayburn, militer AS selalu tahu bahwa para mantan perwira Baath bergabung dengan kelompok-kelompok pemberontak dan memberikan dukungan taktis bagi cabang Al Qaeda di di Irak, yang menjadi cikal bakal ISIS. Namun, para pejabat Amerika itu tidak mengantisipasi bahwa para mantan perwira tersebut tidak hanya akan menjadi pembantu Al Qaeda. Mereka justru menjadi bagian inti dari kelompok jihad itu.

“Kami mungkin telah mampu menemukan cara-cara untuk mencegah fusi, penyelesaian proses Irakisasi (Iraqization),” kata Rayburn kepada Washington Post. Para mantan perwira itu mungkin tidak dapat dipersatukan lagi, “tetapi pelabelan mereka sebagai tidak relevan merupakan kesalahan.”

Di bawah kepemimpinan Abu Bakr al-Baghdadi, yang menyatakan diri sebagai khalifah ISIS, para mantan perwira itu menjadi lebih dari sekadar relevan. Mereka berperan dalam kelahiran kembali kelompok itu dari kekalahan yang dialami para pemberontak dari militer AS.

Berciri sama

Sekilas, dogma sekuler Partai Baath Saddam Hussein yang bersifat tirani tampaknya bertentangan dengan interpretasi keras ISIS terhadap hukum Islam yang hendak ditegakkan kelompok itu.

Namun, dua kredo tersebut telah tumpang tindih secara luas dalam beberapa hal, terutama keyakinan mereka pada ketakutan demi mengamankan kepatuhan rakyat yang berada di bawah kekuasaan kelompok itu. Dua dekade lalu, rincian dan bentuk kekejaman dari penyiksaan yang dilakukan Saddam Hussein mendominasi wacana tentang Irak.

Washington Post melaporkan, seperti ISIS, Partai Baath Saddam Hussein juga menganggap dirinya sebagai gerakan transnasional, membentuk cabang-cabang di sejumlah negara di Timur Tengah, dan menjalankan kamp pelatihan bagi relawan asing dari seluruh dunia Arab.

Pada saat pasukan AS menginvansi Irak tahun 2003, Saddam sudah mulai condong ke pendekatan yang lebih religius dalam pemerintahannya. Ia membuat transisi dari ideologi Baath ke ideologi Islam yang agak mustahil bagi beberapa perwira Irak yang kehilangan haknya, kata Ahmed S Hashim, profesor yang sedang meneliti hubungan-hubungan itu di Nanyang Technological University di Singapura.

Dengan peluncuran Kampanye Iman sang diktator itu tahun 1994, ajaran Islam yang keras telah diperkenalkan. Kata-kata “Allahu Akbar” tertulis di bendera Irak. Hukuman amputasi ditetapkan dalam kasus pencurian. Sejumlah mantan perwira Baath mengingat teman-teman yang tiba-tiba berhenti minum, mulai berdoa dan menganut bentuk yang sangat konservatif dari ajaran Islam yang dikenal sebagai Salafisme pada tahun-tahun sebelum invasi AS.

Dalam dua tahun terakhir pemerintahan Saddam Hussein, aksi pemenggalan, terutama menyasar para perempuan terduga pekerja seks komersial dan dilaksanakan oleh satuan elite Fedayeen, menewaskan lebih dari 200 orang, lapor kelompok-kelompok hak asasi manusia ketika itu.

Kebrutalan yang dilakukan ISIS sekarang mengingatkan orang pada pertumpahan darah yang dulu dilakukan Fedayeen, kata Hassan. Sejumlah video propaganda dari era Saddam mencakup sejumlah adegan yang menyerupai yang sekarang disiarkan ISIS, memperlihatkan pelatihan ala Fedayeen, berbaris dalam topeng hitam, berlatih seni pemenggalan dan dalam satu contoh memakan anjing yang masih hidup.

Beberapa orang Baath menjadi rekrutan awal kelompok afiliasi Al Qaeda yang didirikan Abu Musab al-Zarqawi, pejuang Palestina-Jordania, yang dianggap sebagai perintis dari ISIS saat ini, kata Hisham al Hashemi, analis tentang Irak yang memberikan nasihat bagi Pemerintah Irak dan punya kerabat yang bertugas di militer Irak pada masa Saddam. Sejumlah orang Irak lainnya menjadi radikal di Camp Bucca, penjara Amerika di Irak selatan dengan ribuan warga biasa ditahan dan bercampur baur dengan para militan.

Zarqawi menjaga jarak dengan para mantan anggota Baath karena ia tidak memercayai pandangan sekuler mereka. Demikian kata Hasyim.

Menurut sejumlah analis dan mantan perwira, baru di bawah pengawasan pemimpin ISIS saat ini, yaitu Abu Bakr al-Baghdadi, perekrutan para mantan perwira Baath menjadi strategi yang disengaja. Baghdadi awalnya ditugaskan untuk membangun kembali organisasi pemberontak yang sangat lemah itu setelah 2010. Ia lalu memulai kampanye agresif untuk merayu para mantan perwira, menarik para laki-laki yang masih menganggur, atau telah bergabung dengan kelompok-kelompok ekstremis lainnya.

Beberapa dari orang-orang itu telah berperang melawan Al Qaeda setelah berubah haluan dan menyesuaikan diri dengan gerakan Kebangkitan yang didukung Amerika tahun 2007. Ketika tentara AS menarik diri dan Pemerintah Irak meninggalkan para pejuang Kebangkitan, ISIS merupakan satu-satunya pilihan yang masih ada bagi mereka yang merasa dikhianati dan ingin mengubah haluan lagi, kata Brian Fishman, yang meneliti kelompok di Irak untuk West Point’s Combating Terrorism Center dan kini bekerja untuk New America Foundation.

Washinton Post melaporkan, upaya Baghdadi itu tidak terlepas dari babak baru penyingkiran orang-orang Baath (de-Baathification) oleh Perdana Menteri Nouri al-Maliki yang diluncurkan setelah pasukan AS hengkang tahun 2011. Maliki memecat para perwira, bahkan yang telah direhabilitasi oleh militer AS.

Di antara mereka adalah Brigjen Hassan Dulaimi, mantan perwira intelijen di militer lama Irak yang direkrut kembali ke dalam tugas oleh tentara AS tahun 2006, sebagai komandan polisi di Ramadi, ibu kota Provinsi Anbar yang sudah lama bergolak. Beberapa bulan setelah kepergian tentara Amerika, dia diberhentikan. Dulaimi kehilangan gaji dan pensiunnya. Bersama dia ada 124 perwira lain yang telah bertugas bersama Amerika.

“Krisis ISIS tidak terjadi secara kebetulan,” kata Dulaimi dalam sebuah wawancara dengan Washington Post di Baghdad. “Itu merupakan hasil dari akumulasi masalah yang diciptakan Amerika dan Pemerintah (Irak).”

Ia mencontohkan kasus seorang teman dekat, seorang mantan perwira intelijen di Baghdad yang dipecat tahun 2003 dan berjuang selama bertahun-tahun untuk mencari nafkah. Si teman kini menjabat sebagai wali atau pemimpin ISIS di kota Hit di Anbar, kata Dulaimi. “Terakhir kali saya melihatnya tahun 2009. Dia mengeluh bahwa dirinya sangat miskin. Dia teman lama, jadi saya memberinya uang,” kenangnya. “Dia bisa berubah. Jika seseorang memberinya pekerjaan dan gaji, ia tidak akan bergabung dengan ISIS. Ada ratusan, ribuan orang seperti dia,” tambahnya. “Orang-orang yang menjadi pemimpin dalam operasi militer ISIS merupakan para perwira terbaik dari bekas tentara Irak, dan itulah sebabnya ISIS mengalahkan kami dalam hal intelijen dan di medan perang.”

Pencaplokan wilayah oleh ISIS juga jadi mulus akibat penganiayaan luas pemerintahan Maliki terhadap kaum minoritas Sunni, yang meningkat setelah pasukan AS menarik diri dan membuat banyak warga sunni biasa bersedia untuk menyambut para ekstremis sebagai alternatif bagi pasukan keamanan Irak yang sering kali brutal.

Namun, masuknya para perwira Baath ke dalam jajaran ISIS-lah yang mendorong kemenangan militer, kata Hashem. Tahun 2013, Baghdadi telah dikelilingi para mantan perwira, yang mengawasi ekspansi ISIS di Suriah dan mendorong serangan di Irak.

Beberapa pembantu terdekat Baghdadi, termasuk Abu Muslim al-Turkmani, wakilnya di Irak, dan Abu Ayman al-Irak, salah satu komandan militer pentingnya di Suriah, keduanya mantan perwira Irak, telah dilaporkan tewas. Namun, Dulaimi menduga bahwa banyak orang memalsukan kematian mereka dalam rangka menghindari pendeteksian. Hal itu membuat kepemimpinan ISIS saat ini sulit untuk diamati.

Namun, setiap kekosongan kepemimpinan akan diisi oleh para mantan perwira sehingga akan mempertahankan pengaruh Irak di jantung kelompok itu, bahkan saat jajarannya membengkak dengan datangnya orang-orang asing, kata Hassan.

Khawatir akan diinfiltrasi dan dimata-matai, kepemimpinan ISIS menyekat dirinya dari para pejuang asing dan para pejuang biasa Suriah dan Irak melalui jaringan rumit para perantara yang sering diambil dari badan-badan intelijen Irak yang lama, kata Hassan. “Mereka memperkenalkan mind-set kerahasiaan serta keterampilan Baath,” kata dia.

Pria bertopeng yang memerintahkan penahanan Abu Hamza merupakan salah satu anggota kelompok petugas keamanan yang beredar dalam wilayah ISIS. Tugas aggota kelompok itu adalah memantau para anggota lain terkait adanya tanda-tanda perbedaan pendapat, kata orang Suriah itu. “Mereka merupakan mata dan telinga keamanan Daesh, dan mereka sangat berkuasa,” katanya, dengan menggunakan singkatan bahasa Arab dari ISIS.

Abu Hamza dibebaskan dari penjara setelah setuju untuk sependapat dengan para komandan lain, katanya. Namun, pengalaman tersebut berkontribusi terhadap kekecewaannya pada kelompok itu. Dia mengatakan, para petempur asing yang bertugas bersamanya merupakan “orang-orang Muslim yang baik”. Namun, dia kurang yakin dengan para pemimpin Irak itu. “Mereka berdoa dan mereka berpuasa dan Anda tidak bisa menjadi amir tanpa berdoa, tetapi di dalam saya tidak berpikir mereka begitu percaya hal itu,” katanya. “Orang-orang Baath sedang menggunakan Daesh. Mereka tidak peduli dengan Baathisme atau bahkan Saddam. Mereka hanya ingin kekuasaan. Mereka dulu berkuasa dan mereka ingin berkuasa kembali.”

Apakah para mantan anggota Baath mematuhi ideologi ISIS? Hal itu merupakan perdebatan. Hashim mencurigai banyak dari mereka tidak mematuhi ideologi itu.

“Orang masih bisa berpendapat bahwa itu adalah aliansi taktis,” katanya. “Banyak anggota Baath tidak suka ISIS menguasai Irak. Mereka yang ingin menguasai Irak. Banyak dari mereka melihat kaum jihad dengan pola pikir Leninis bahwa orang-orang ISIS merupakan orang-orang idiot yang berguna yang dapat kita gunakan untuk meraih kekuasaan.”

Rayburn bertanya apakah sejumlah relawan asing menyadari sejauh mana mereka sedang ditarik ke rawa-rawa Irak. Sejumlah pertempuran sengit yang dikobarkan saat ini di Irak adalah untuk mengendalikan masyarakat dan kawasan yang telah diperebutkan di antara orang-orang Irak selama bertahun-tahun, sebelum kaum ekstremis itu muncul.

“Anda punya para petempur yang berasal dari seluruh dunia untuk berperang dalam pertarungan politik lokal yang jihad global tidak mungkin punya kepentingan.”

Para mantan perwira Baath yang bertugas bersama sejumlah orang yang saat ini berjuang dengan ISIS justru yakin yang terjadi adalah sebaliknya. Bukan para anggota Baath yang sedang menggunakan para jihadis agar bisa kembali berkuasa. Para jihadis itulah yang telah mengeksploitasi keputusasaan para perwira yang dibubarkan itu. Demikian menurut mantan seorang jenderal yang dulu memimpin pasukan Irak dalam invasi Irak ke Kuwait tahun 1990 dan saat melawan invasi AS ke Irak tahun 2003. Dia berbicara tanpa mau diungkap jati dirinya karena ia takut untuk keselamatannya. Ia sekarang tinggal di Irbil, ibu kota wilayah Kurdistan di Irak utara.

Mantan jenderal itu mengatakan, para mantan perwira Baath itu bisa dibuat untuk menjauh dari ISIS jika mereka ditawari alternatif dan harapan akan masa depan. “Orang Amerika memikul tanggung jawab terbesar. Ketika mereka membubarkan tentara, apa yang mereka harapkan orang-orang itu bisa lakukan?” tanyanya. “Mereka diabaikan tanpa sesuatu yang harus dilakukan dan hanya ada satu jalan keluar bagi mereka agar meja makannya tetap ada isinya.”

Ketika para perwira AS membubarkan para tentara Baath, “mereka tidak men-de-Baathify pikiran orang, mereka hanya menghilangkan pekerjaan mereka,” katanya.

Menurut Hassan, ada mantan anggota Partai Baath yang telah bergabung kelompok-kelompok pemberontak lain yang mungkin dapat dibujuk untuk beralih haluan. Ia memberikan contoh tentang Army of the Men of the Naqshbandi Order, yang biasanya disebut dengan singkatannya dalam bahasa Arab, yaitu JRTN. Mereka menyambut ISIS dalam serbuan ke Irak utara pada musim panas lalu, tetapi kelompok tersebut sejak itu telah bubar.

Namun, sebagian besar anggota Partai Baath yang benar-benar bergabung dengan ISIS kini cenderung menjadi radikal, baik di penjara maupun di medan perang, kata Hassan.

ISIS Telah Kehilangan Seperempat Wilayahnya Akibat Kalah Perang Terus Menurus

Pejabat militer AS mengatakan, militan ISIS telah kehilangan lebih dari seperempat wilayah yang mereka rebut dalam kampanye pembentukan kekalifahan Islam. Seorang pejabat pertahanan Amerika, Senin (13/4/2015) waktu setempat, mengatakan, ini merupakan hasil usaha gabungan serangan udara koalisi serta operasi darat pasukan Irak.

Peta baru yang dirilis Pentagon menunjukkan pasukan Irak merebut kembali wilayah di utara, dekat Tikrit, Gunung Sinjar dan Bendungan Mosul. Juru bicara Pentagon Steve Warren mengatakan, ISIS sudah kehilangan kendali atas wilayah seluas hampir 15 ribu kilometer persegi yang direbutnya Agustus lalu.

“Di Tikrit kami mengakhiri operasi yang sangat sukses untuk membebaskan kota itu dari cengkeraman ISIS dan operasi ini sebagian besar sukses. Masih ada sebagian kecil dari Tikrit yang diperebutkan, karena ISIS meninggalkan begitu banyak ranjau, bom rakitan, dan beberapa anggota, penembak jitu, di bagian utara Tikrit,” papar Warren.

Namun, usaha mengusir ISIS di Suriah kurang berhasil, kata Warren. “Di Suriah, ISIS merebut daerah kecil di Damaskus dan sedikit di selatan, juga sedikit di Alepo, tetapi ISIS juga kehilangan wilayah di Suriah, khususnya seputar Kobani. Perbedaannya, di Irak, kekuatan udara koalisi didukung tentara dari pasukan keamanan Irak,” tambahnya.

Pejabat Pentagon itu mengatakan, strategi koalisi adalah mencegah militan menciptakan daerah perlindungan di Suriah, sementara mengusir mereka keluar dari Irak. Beberapa analis mengatakan uji sebenarnya dari perang terhadap ISIS ini akan terjadi di daerah yang mayoritas Suni, seperti Mosul dan Anbar.

Brian Katulis dari Center for American Progress mengatakan, “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi karena kalau Irak melakukannya secara benar, Irak tidak bisa bergantung hanya pada milisi Syiah. Irak tidak bisa pergi ke daerah yang mayoritas penduduknya Suni, dan memperlakukan masyarakat itu secara kejam.” Sekjen PBB Ban Ki-moon menyambut gembira pembebasan Tikrit, tetapi mengungkap kecemasan sehubungan laporan pelanggaran HAM dan penghancuran properti yang dilakukan milisi yang bertempur bersama pasukan Irak.

Satu cara mencegah kekerasan etnis di daerah yang sudah dibebaskan dari pendudukan ISIS adalah membentuk unit lokal yang dipersenjatai guna mempertahankan masyarakat etnis mereka. Militan masih menguasi wilayah luas di Irak utara, termasuk banyak penyulingan minyak yang membantu pendanaan mereka.

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS telah kehilangan lebih dari seperempat wilayah yang mereka kuasai sejak serbuan udara bulan Agustus lalu. Demikian kata juru bicara Pentagon.

Menurut Kolonel Steve Warren, terlalu cepat menyatakan arus telah berbalik, tetapi serangan udara dan serangan darat Irak “tak diragukan telah menimbulkan kerugian besar (pada posisi ISIS)”.ISIS merebut sebagian besar daerah Irak utara dan barat bulan Juni tahun lalu.Pernyataan ini dibuat menjelang pertemuan antara Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi, dan Presiden Barack Obama di Washington.Sebelum berangkat, Al-Abadi menegaskan, ia ingin pasukan koalisi meningkatkan serangan terhadap ISIS.

Kolonel Warren menyatakan dalam sebuah konferensi pers di Washington bahwa ISIS telah kehilangan kekuasaan atas 25-30 persen dari wilayahnya dalam delapan bulan terakhir atau sekitar 12.950 hingga 15.540 kilometer persegi.Kekuatan koalisi dan Pemerintah Irak tak diragukan memukul mundur ISIS dengan amat berarti. Tak berubah banyak di Suriah

Peta dari Pentagon memperlihatkan kelompok ISIS telah “kehilangan wilayah di mana mereka pernah dominan” dan garis pertempuran terdorong ke barat dan selatan, di Provinsi Irbil, Babil, Baghdad, dan Kirkuk. Demikian kata Kolonel Warren.

“Di antara infrastuktur yang strategis dan kota menengah yang telah direbut adalah Mosul Dam, Zummar, dan daerah sekitar Gunung Sinjar.” Koridor utara Tikrit telah “direbut secara substansial” dan diharapkan kota itu “segera” dibersihkan dari milisi, kata Warren lagi. Kota Baiji dan pusat penyulingan minyak yang berada di dekatnya masih diperebutkan dan akan terus menjadi sasaran serangan udara. Pentagon menyatakan wilayah yang dikuasai ISIS di Suriah, serangan udara koalisi dimulai bulan September, masih belum ada perubahan. Mereka berhasil merebut daerah Suweida, pedesaan sekitar Damaskus dan Provinsi Homs, tetapi kehilangan Provinsi Aleppo dan Hassakeh.

Kamp Pengungsi Palestina Di Yarmuk Diserbu ISIS … Dua Pasukan Hamas Tewas Di Penggal

Warga Palestina yang menghuni kamp pengungsi di Yarmuk sudah tidak bisa lagi membendung serangan-serangan yang dilancarkan ISIS. Kelompok radikal itu kembali menguasai kamp tersebut, setelah sebelumnya berhasil dipukul mundur oleh warga Palestina hanya dengan lemparan batu.

Observatorum Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan ISIS berhasil merebut 90 persen wilayah kamp Yarmuk, setelah melalui pertempuran sengit selama empat hari. Menurut Observatorium banyak warga sipil yang terjebak dan dibantai dalam pertempuran tersebut, dan tidak sedikit juga yang menjadi korban.

Melansir Reuters pada Sabtu (4/4/2015) sedikitnya terdapat 180 ribu warga Palestina yang berada di wilayah tersebut. Mereka rata-rata adalah warga Palestina yang mengungsi sejak tahun 1950-an, atau ketika Israel mulai melancarkan agresi ke wilayah Palestina.

Dua orang anggota pasukan Hamas yang mencoba melindungi wanita dan anak-anak pengungsi Palestina, menurut Observatorium dieksekusi dengan cara dipenggal oleh ISIS ketika kelompok itu kembali menguasai Yarmuk. Sementara itu, ribuan orang kelaparan akibat pertempuran tersebut. Laporan-laporan ini mendapat kecaman keras dari Dewan HAM PBB.

“Situasi di Yarmouk adalah sebuah penghinaan terhadap kemanusiaan, terhadap kita semua, ini adalah sumber rasa malu universal. Yarmouk adalah tes, tantangan bagi komunitas internasional. Kita tidak boleh gagal. Kredibilitas sistem internasional itu sendiri yang dipertaruhkan,” kata juru bicara UNRWA Chris Gunness.

Dengan dikuasai Yarmouk, berarti posisi ISIS terus mendekat ke ibukota Suriah, Damaskus. Pasalnya, wilayah tersebut berjarak hanya beberapa puluh kilometer dari pusat pemerintahan Suriah itu. Sementara sebuah video yang beredar di internet pada Minggu 5 April 2015, menunjukan para militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), mulai menyerbu kamp pengungsi Palestina di Yarmouk di pinggiran Kota Damaskus.

Warga Palestina di Yarmouk melarikan diri di tengah dentuman roket yang ditembakan oleh militan ISIS dalam serbuannya yang berusaha dihalangi oleh militan Hamas. Sekitar 2.000 orang mengungsi dari Yarmouk, namun 180 ribu warga sipil termasuk sejumlah besar anak-anak masih terjebak di Yarmouk. Kamp pengungsi ini sudah 2 tahun didera kelaparan dan penyakit karena langkanya bantuan medis

Islam Jadi Agama Terbesar Di Dunia Tahun 2070

Hasil penelitian dari Pew Research Center, Amerika Serikat, menunjukkan pertumbuhan umat muslim akan lebih banyak dibandingkan dengan jemaat Kristen di dunia dalam kurung kurang dari 60 tahun ke depan. Umat muslim pun diprediksi menjadi pemeluk agama paling besar di dunia. Dikutip dari Dailymail, jumlah seluruh pemeluk di agama di dunia akan setara dengan jumlah jemaat Kristen atau sekitar 32,3 persen pada 2070. Sedangkan, jumlah umat muslim akan terus bertambah dan diprediksi akan meningkat menjadi 35 persen dari populasi manusia pada 2100.

Pada 2100, umat muslim akan lebih banyak daripada jemaat Kristen. Yaitu, dari seluruh populasi di dunia, 35 persen akan menjadi umat muslim, sedangkan 34 persen menjadi jemaat Kristen. Sisanya, Hindu, Buddha, agama lokal, Yahudi, dan tidak beragama. Data yang dikumpulkan Pew menunjukkan pertumbuhan jumlah umat Islam terbesar datang dari India dan Benua Afrika. Negara-negara sub-Sahara juga akan menyumbangkan populasi muslim baru terbesar selama tiga dekade mendatang. “Jumlah negara dengan mayoritas Kristen pun akan turun, dari 159 menjadi 151,” kata laporan Pew Research Center yang dikutip Dailymail, Ahad, 5 April 2015.

Di beberapa negara, seperti Inggris, Australia, Benin, Bosnia-Herzegovina, Prancis, Belanda, Selandia Baru, dan Republik Makedonia, tingkat populasi jemaat Kristen akan kurang dari 50 persen. Tetapi, pertumbuhan umat Islam di Eropa akan berkembang. “Di Eropa muslim akan mencapai 10 persen dari total populasi pada 2050,” tulis laporan Pew. Sebagai gantinya, Islam akan menjadi agama mayoritas di 51 negara.

Selain itu, data ini dipengaruhi situasi Cina sebagai negara dengan penduduk terbesar sejagat. Saat ini, mayoritas warga Negeri Tirai Bambu tidak memeluk agama apa pun. Pew meramalkan akan ada peningkatan 5 persen untuk pemeluk Kristen di Cina, tapi itu tidak mengubah prediksi awal soal pertumbuhan umat muslim yang pesat lima dekade lagi.

Penelitian Pew ini berdasarkan data yang dimiliki oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan jumlah penduduk pada 2010 dengan total 6,9 miliar jiwa. Pada tahun itu, agama Kristen menjadi mayoritas dengan total 31,4 persen atau sekitar 2,2 miliar jiwa. Sedangkan, agama Islam, sekitar 23,2 persen atau sekitar 1,6 miliar jiwa. Tidak beragama 16,4 persen atau sekitar 1,1 miliar orang. Agama Hindu di angka 15 persen atau sekitar 1 miliar jiwa.

Sedangkan agama Buddha mencapai 7,1 persen atau sekitar 487,8 juta jiwa. Agama lokal di angka 5,9 persen atau sekitar 404,6 juta jiwa. Yahudi 0,2 persen atau sekitar 13,8 juta jiwa. Dan agama lainnya mencapai 0,8 persen atau sekitar 58,1 juta jiwa.

Pada 2050 dengan total populasi manusia yang diprediksi mencapai 9,3 miliar. Populasi jemaat Kristen pun nyaris diimbangi umat Islam. Yaitu, agama Kristen di angka 31,4 persen dengan total 2,9 miliar jiwa. Agama Islam dengan angka 29,7 persen atau sekitar 2,8 miliar jiwa. Tidak beragama 13,2 persen atau sekitar 1,2 miliar jiwa. Agama Hindu 14,9 persen atau sekitar 1,4 miliar jiwa.

Pertumbuhan umat muslim di dunia diprediksi lebih banyak dibandingkan dengan jemaat Kristen. Pernyataan itu hasil penelitian Pew Research Center, Amerika Serikat. Bahkan, Pew menyebutkan jumlah umat muslim diprediksi menjadi pemeluk agama paling besar di dunia pada 2070. Hasil riset Pew menjelaskan, pertumbuhan umat muslim di dunia terjadi karena beberapa hal. Pertama, perkembangan umat Islam terbesar datang dari India dan Benua Afrika. Seperti di India, walau mayoritas penduduknya beragama Hindu, jumlah pemeluk Islam pada 2050 atau 2070 akan menjadi paling besar di dunia.

“Jumlah penganut Islam di India melebihi umat muslim di Indonesia,” kata laporan Pew Research Center, seperti yang dikutip dari laman resmi lembaga riset itu, awal April 2015. Negara-negara sub-Sahara juga akan menyumbangkan populasi muslim baru terbesar selama tiga dekade mendatang. Kedua, beberapa negara seperti Inggris, Australia, Benin, Bosnia-Herzegovina, Prancis, Belanda, Selandia Baru, dan Republik Makedonia, tingkat populasi umat Kristen berkurang dari 50 persen. Namun, pertumbuhan umat Islam di Eropa akan berkembang. Di Eropa, jumlah muslim mencapai 10 persen dari total populasi pada 2050. Islam pun menjadi agama mayoritas di 51 negara.

Ketiga, pertumbuhan agama Kristen di Amerika Serikat turun lebih dari tiga perempat dari populasi pada 2010 dan menjadi dua pertiga pada 2050. Agama Yahudi pun tidak akan menjadi terbesar setelah Kristen. “Umat muslim lebih banyak di Amerika dibandingkan orang yang mengaku Yahudi sebagai dasar agama,” ujar laporan Pew.

Keempat, secara global, umat Islam di dunia memiliki tingkat kesuburan tinggi. Rata-rata, 3,1 anak per perempuan. Sedangkan, jemaat Kristen memiliki rata-rata 2,7 anak per perempuan dan Yahudi rata-rata 2,3 anak per perempuan. Jika hal tersebut tidak banyak berubah, jumlah seluruh pemeluk di agama di dunia akan setara dengan jumlah jemaat Kristen atau sekitar 32,3 persen pada 2070. Sedangkan, jumlah umat muslim akan terus bertambah dan diprediksi meningkat menjadi 35 persen dari populasi manusia pada 2100.

Pada 2100, umat muslim akan lebih banyak daripada jemaat Kristen. Yaitu, dari seluruh populasi di dunia, 35 persen akan memeluk agama Islam, sedangkan 34 persen menjadi jemaat Kristen. Sisanya, adalah pemeluk Hindu, Buddha, agama kepercayaan, Yahudi, dan warga tidak beragama.

Penelitian Pew ini berdasarkan data yang dimiliki oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan jumlah penduduk pada 2010 dengan total 6,9 miliar jiwa. Pada tahun itu, agama Kristen menjadi mayoritas dengan total 31,4 persen atau sekitar 2,2 miliar jiwa. Sedangkan, agama Islam, sekitar 23,2 persen atau sekitar 1,6 miliar jiwa. Tidak beragama 16,4 persen atau sekitar 1,1 miliar orang. Agama Hindu di angka 15 persen atau sekitar 1 miliar jiwa.

Sedangkan agama Buddha mencapai 7,1 persen atau sekitar 487,8 juta jiwa. Agama lokal di angka 5,9 persen atau sekitar 404,6 juta jiwa. Yahudi 0,2 persen atau sekitar 13,8 juta jiwa. Dan agama lainnya mencapai 0,8 persen atau sekitar 58,1 juta jiwa. Agama Buddha 5,2 persen atau sekitar 487 juta jiwa. Agama lokal sekitar 4,8 persen atau 450 juta jiwa. Yahudi 0,2 persen atau sekitar 16 juta jiwa. Dan agama lainnya 0,8 persen atau sekitar 61,4 juta jiwa.

Pada 2050 dengan total populasi manusia yang diprediksi mencapai 9,3 miliar. Populasi jemaat Kristen pun nyaris diimbangi umat Islam. Yaitu, agama Kristen di angka 31,4 persen dengan total 2,9 miliar jiwa. Agama Islam dengan angka 29,7 persen atau sekitar 2,8 miliar jiwa. Tidak beragama 13,2 persen atau sekitar 1,2 miliar jiwa. Agama Hindu 14,9 persen atau sekitar 1,4 miliar jiwa.

Profile Abu Azrael Dari Brigade Imam Ali Yang Mampu Buat Anggota ISIS Ketakutan Bagai Anak Kecil

Dengan janggut lebat dan memegang kampak, Abu Azrael adalah salah satu pejuang yang paling mudah dikenal di pasukan Irak yang berperang melawan kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Azrael telah dijadikan simbol dari brigade Imam Ali, kelompok militant Syiah di Irak yang disponsori oleh Iran. Azrael juga mendapat julukan ‘Malaikat Pencabut Nyawa.’

Sosok Azrael yang sangar sudah cukup untuk membuat anggota ISIS lari ketakutan. Sebelum bergabung dengan brigade Imam Ali, Azrael yang diyakini berusia 40-an tahun pernah menjadi dosen di salah satu Universitas di Irak. Dia meninggalkan pekerjaan itu dan bergabung dengan brigade Imam Ali untuk melawan ISIS pada Juni 2014.

Azrael bukan hanya terkenal di dunia nyata tetapi juga di dunia maya. Fan page nya di media sosial mempunyai pengikut 250 ribu orang. Dalam salah satu foto yang diunggah ke dunia maya, Azrael terlihat memegang kampak dan senjata mesin serta menggunakan seragam militer.

Selain kerap memajang fotonya dengan senjata, Azreal juga kerap melakukan selfie bersama teman-temannya. Dia dikenal sebagai sosok yang humoris. Azrael diduga pernah menjadi atlet Taekwondo dan menjadi juara nasional di Irak.

Salah satu motivasi Azrael untuk bergabung dengan pasukan yang melawan ISIS adalah pidato Ayatollah Ali al-Sistani saat salat Jumat pertengahan Juni 2014 yang mengajak perang melawan ISIS.

Brigade Imam Ali ikut bergabung dengan pasukan Irak lainnya dalam merebut kembali kota Tikrit. Dengan kehadiran Azrael yang juga dipanggil Rambo dari Irak memberikan kepercayaan diri yang lebih terhadap anggota brigade Imam Ali untuk memenangkan pertarungan melawan ISIS.