Category Archives: Timur Tengah

Foto Bugil Aktris Iran Golshifteh Farahani di Majalah Perancis Egoiste

Seorang aktris Iran, yang telah dikucilkan dari negara itu karena memperlihatkan payudaranya dalam sebuah pengambilan foto tahun 2012, telah menyebabkan kehebohan baru setelah berpose telanjang di majalah Perancis, Egoiste.

Sebuah foto hitam putih aktris Golshifteh Farahani yang diambil fotografer terkenal dunia, Paolo Roversi, tampil di sampul depan majalah itu. Foto tersebut memperlihatkan perempuan 31 tahun itu menatap penuh gairah ke arah kamera dengan tubuh sedikit meliuk demi menampilkan sosoknya yang telanjang.

Farahani dikucilkan dari Iran pada 2012 karena memperlihatkan payudara kanannya dalam sebuah video promosi bersama sejumlah aktor lain untuk mempromosikan Cesars, program setara Academy Awards-nya Perancis.

Pihak berwenang telah menelepon keluarganya di Teheran untuk memberi tahu bahwa dia akan dihukum, payudaranya akan dipotong dan disajikan di sebuah piring (untuk ayahnya),” lapor situs berita Al-Arabiya pada saat itu.

Kini, perempuan itu tinggal di Paris bersama suaminya, tetapi aksi pemberontakan terbaru itu terhadap negara asalnya yang suka menindas hak berekspresi telah menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan dirinya.

Fox News mengklaim bahwa Farahani mengatakan, “Perancis telah membebaskan saya. (Paris) merupakan satu-satunya tempat di dunia di mana perempuan tidak (perlu) merasa bersalah. Di Timur, Anda (bersalah) sepanjang waktu segera setelah Anda merasakan dorongan seksual pertama Anda.”

Farahani dikenal dunia saat menjadi lawan main aktor Hollywood Leonardo DiCaprio dan Russel Crowe dalam film Body of Lies, sekaligus menjadi aktris Iran pertama yang tampil dalam film besar Hollywood sejak Revolusi Iran 1979.

Namun, sejumlah pihak berpendapat bahwa pose telanjang Farahani bukan cara terbaik untuk mendukung hak-hak perempuan Iran.

Kamal Nawash dari Free Muslim Coalition misalnya mengatakan, “Selain merendahkan dan menjadikan perempuan sebagai obyek, berpose telanjang sebenarnya kontraproduktif dalam mendukung hak-hak perempuan. Mereka yang menentang kesetaraan perempuan akan menunjuk ke perempuan telanjang dan menyatakan kepada para orangtua bangsa itu bahwa nilai-nilai tradisional mereka yang mencegah anak-anak perempuannya terdegradasi.”

Pemberontak Syiah Rebut Kendaraan Kedutaan AS di Yaman

Pemberontak Houthi di ibukota Yaman telah merebut kendaraan kedutaan Amerika setelah para diplomat meninggalkan negara itu menyusul penutupan kedutaan itu. CNN melaporkan kendaraan-kendaraan itu direbut dari bandara Sanaa.Amerika, Inggris dan Perancis mengumumkan penutupan kedutaan mereka di Yaman karena semakin memburuknya situasi keamanan di negara itu.

Departemen Luar negeri Amerika, Selasa (11/2/2015) malam, mengatakan staf kedutaannya telah meninggalkan ibukota Yaman, Sanaa, sementara Inggris Rabu pagi mengumumkan penarikan staffnya. Perancis akan menutup kedutaannya hari Jumat.Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jen Psaki, mengatakan dalam sebuah pernyataan “tindakan unilateral baru-baru ini mengganggu proses transisi di Yaman, menciptakan resiko kekerasan baru yang mengancam warga Yaman dan komunitas diplomatik di Sanaa”.

Pemberontak Syiah, Selasa (20/1/2015), dikabarkan telah menguasai istana kepresidenan Yaman dan menyerang kediaman resmi Presiden Abdurabuh Mansur Hadi. Menteri Informasi Yaman, Nadia Sakkaf mengatakan pemberontak menyerang kediaman resmi Mansur Hadi di wilayah barat Sanaa, setelah sejumlah saksi mata melaporkan terjadinya baku tembak di kawasan itu.

Sebelumnya, Presiden Mansur Hadi dikabarkan berada di dalam kediamannya dan tengah menggelar pertemuan dengan para penasihat dan pejabat keamanan negeri itu. “Presiden Yaman sedang diserang milisi Syiah yang ingin menggulingkan pemerintah,” kata Sakkaf lewat akun Twitter-nya. Seorang sumber militer mengatakan anggota milisi Syiah sudah menduduki istana presiden di wilayah selatan Sanaa dan mulai menjarah gudang-gudang senjata.

Pemimpin pemberontak Abdul Malik al-Huthi memperingatkan bahwa pihaknya memiliki banyak pilihan untuk melawan Presiden Mansur Hadi yang dianggap sebagai pendukung pemecahbelahan negeri itu.

Al-Huthi menambahkan, pasukannya siap untuk menghadapi langkah apapun yang akan diambil Dewan Keamanan PBB. Di New York, Dewan Keamanan sudah menggelar rapat darurat untuk memutuskan langkah terbaik dalam menyikapi perkembangan di Yaman.

Dalam beberapa waktu belakangan, kekerasan terus meningkat di ibu kota Sanaa, sehingga menambah kekhawatiran Mansur Hari, salah seorang sekutu utama AS dalam memerangi Al-Qaeda, akan jatuh dan menyeret negeri itu ke dalam kekacauan yang lebih parah.

Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz Wafat

Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz wafat pada Jumat, 23 Januari 2015, pada pukul 01.00 waktu setempat. Abdullah yang diyakini berusia 90 tahun itu menderita pneumonia. Dia sudah menjalani perawatan di rumah sakit sejak Desember 2014. Bahkan, untuk bernapas, dia menggunakan alat bantu. Putra Mahkota Pangeran Salman, 79 tahun, yang tak lain adalah adik kandung Abdullah, menggantikan posisi sebagai raja.

Saat kematiannya diumumkan, semua stasiun TV di Arab Saudi menayangkan pembacaan ayat-ayat Al-Quran. Tayangan ini dimaksudkan untuk mengumumkan kematian anggota keluarga kerajaan. Rencananya, Abdullah akan dimakamkan hari ini setelah magrib.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama turut menyatakan dukacitanya. “Sebagai seorang pemimpin, ia selalu jujur dan berpendirian kuat. Salah satu pendiriannya adalah keyakinan teguh dalam pentingnya hubungan AS-Saudi sebagai kekuatan untuk stabilitas serta keamanan di Timur Tengah dan sekitarnya,” katanya.

ISIS Kembali Eksekusi 13 Remaja Muslim Irak

Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dikabarkan mengeksekusi 13 orang remaja laki-laki yang kedapatan tengah menonton laga Piala Asia 2015 antara Irak melawan Jordania, Senin (19/1/2015).Para remaja ini ditangkap ISIS di distrik Al-Yarmouk, Mosul, kota terbesar kedua Irak, yang kini berada di bawah kendali kelompok militan itu.

Laporan kelompok anti-ISIS “Raqqa Sedang Dibantai Diam-diam” itu menyebut ke-13 remaja itu ditangkap dan kemudian dieksekusi di hadapan publik dengan menggunakan senjata mesin.”Jasad mereka bergelilmpangan begitu saja di jalanan dan orangtua mereka tak bisa mengambil jenazah anak-anak mereka karena khawatir akan dibunuh ISIS,” ujar kelompok itu lewat situs resminya.

Kelompok ini menambahkan, sebelum proses eksekusi, seorang anggota ISIS menyebutkan kejahatan mereka dengan menggunakan pengeras suara. Menurut ISIS, kejahatan para remaja itu adalah melanggar hukum agama dengan menonton sepak bola. Kelompok “Raqqa Sedang Dibantai Diam-diam” adalah sebuah kelompok aktivis kecil yang secara rahasia mengumpulkan berbagai dokumen dan bukti kekejian ISIS yang berlangsung di kota asal mereka.

Kabar kekejian ISIS ini muncul dua hari setelah kelompok itu merilis video saat mereka melemparkan dua orang yang dituduh sebagai gay dari puncak sebuah bangunan bertingkat di kota Mosul.

Korea Utara Ekspor Tank dan Rudal Buat ISIS

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dilaporkan memiliki tank dan rudal buatan Korea Utara. Mengutip informasi sumber intelijen, NK News melaporkan, tank dan rudal itu digunakan ISIS menyerang Kurdi, Irak utara, pada September lalu. Tank tipe T-55 itu diyakini buatan Uni Soviet yang kemudian diperbarui di Korea Utara. Sedangkan rudal yang dipakai milisi ISIS memang buatan Korea Utara.

Hari ini, 5 Desember 2014, Chosun Ilbo memberitakan, sebelumnya, intelijen Jerman menjelaskan ke parlemen bahwa ISIS memiliki rudal yang mampu menembak jatuh pesawat sipil. Foto milisi ISIS menggunakan rudal itu diunggah di Twitter baru-baru ini. Intelijen Jerman yakin senjata-senjata yang dimiliki ISIS berasal dari Rusia, Bulgaria, atau Cina.

Senjata itu juga diduga hasil rampasan saat mereka berperang dengan pasukan pemerintah Suriah di Kota Raqqa pada Agustus lalu. Suriah dan Korea Utara berteman dekat sejak 1970-an. Korea Utara menjual berbagai jenis senjata ke Suriah, termasuk tank dan rudal itu. Dengan temuan senjata buatan Korea Utara di tangan ISIS, keterlibatan Suriah tidak boleh diremehkan dalam konflik di Timur Tengah.

Forbes: Raja Abdullah Paling Berkuasa di Timur Tengah

Majalah Forbes menabalkan Pelayan Dua Masjid Suci Arab Saudi, Raja Abdullah, sebagai manusia paling berkuasa di kawasan Timur Tengah. Dia pun masuk daftar sebelas orang paling berpengaruh di dunia.

Dalam siaran pers, Forbes menyatakan Raja Abdullah dipilih beberapa kali selama bertahun-tahun sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia lantaran keputusan dan kontribusinya terhadap perdamaian serta keamanan global.

Forbes menempatkan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai orang yang paling kuat di dunia, diikuti Presiden Amerika Serikat Barack Obama di urutan kedua. Sedangkan urutan ketiga diduduki Presiden Cina Xi Jinping.

Raja Abdullah naik takhta pada 1 Agustus 2005 setelah kematian Raja Fahd. Selama memerintah, Raja Abdullah telah menunjukkan tanggung jawabnya terhadap masalah sosial, ekonomi, budaya, dan melakukan reformasi politik. Termasuk pemberdayaan perempuan di bidang politik, memberi jaminan beasiswa bagi mahasiswa asing, serta membangun kota-kota ekonomi serta rumah sakit khusus.

Menurut daftar majalah Forbes, Paus Fransiskus berada di urutan keempat, Kanselir Jerman Angela Merkel kelima, miliuner Bill Gates keenam, dan Presiden Bank Central Eropa Mario Draghi ketujuh. Dua pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page, berturut-turut menduduki peringkat kedelapan dan kesembilan. Posisi kesepuluh ditempati Perdana Menteri Inggris David Cameron.

Adapun Perdana Menteri India yang baru terpilih, Marendra Modi, berada di urutan ke-15. Pengusaha India, Mukesh Ambani, ada di posisi ke-36. Presiden Uni Emirat Arab serta penguasa Abu Dhabi, Khalifa bin Zayed Al-Nahyan, sama-sama menempati posisi ke-37.

ISIS Pancung Warga Muslim Amerika Abdul-Rahman Kassig Sebagai Hadiah Buat Obama

Sebuah rekaman video yang muncul di internet mengklaim bahwa kelompok milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah membunuh seorang pekerja kemanusiaan muslim asal Amerika Serikat bernama Abdul-Rahman Kassig. Tayangan video tersebut menunjukkan seseorang berdiri di dekat sebuah kepala yang diklaim sebagai Kassig. Keaslian video, yang juga menayangkan pembunuhan sekelompok serdadu Suriah tersebut, belum diketahui secara pasti.

Abdul Rahman-Kassig (26) dulu dikenal dengan nama Peter sebelum dia menjadi seorang mualaf karena kepeduliannya terhadap sesama muslim yang menderita di Suriah. Kassig berasal dari negara bagian Indiana, AS. Orangtua Kassig mengatakan, putranya sedang bekerja untuk organisasi bantuan kemanusiaan yang didirikannya, Tanggap Darurat dan Bantuan Khusus (SERA), ketika ia disergap ISIS dalam perjalanan ke Deir Ezzor di Suriah timur tahun lalu.

Dalam sebuah wawancara sebelum penculikannya, Peter Kassig menggambarkan dirinya sebagai seorang idealis yang menemukan makna dan tujuan dalam Islam dan kemudian bekerja sebagai pekerja kemanusiaan di tengah-tengah kompleksitas konflik Timur Tengah. Peter Kassig ditampilkan pada akhir video yang menunjukkan kematian sandera asal Inggris, Alan Henning. Orangtua Kassig bulan lalu merilis surat yang ditulis putra mereka yang ditawan.

“Ini adalah hal tersulit yang dilalui seorang pria. Stres dan ketakutan luar biasa. Mereka memberi tahu kami bahwa ayah dan ibu telah menelantarkan kami dan tidak peduli. Namun, tentu kami tahu ayah dan ibu melakukan semua yang bisa dilakukan,” ujar Kassig saat itu. “Jangan khawatir, ayah. Jika saya tiada, saya tidak akan berpikir apa pun, kecuali yang saya tahu itu benar bahwa ayah dan ibu mencintai saya lebih dari bulan dan bintang-bintang,” tambah pemuda itu.

Di tengah gencarnya serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan koalisi internasionalnya terhadap basis ISIS, baik di Suriah maupun Irak, kelompok radikal itu kembali membuat sebuah kejutan pahit untuk AS.
Melansir Reuters, Minggu (16/11/2014), ISIS kembali mengeluarkan sebuah klaim yang menyebutkan bahwa mereka telah mengeksekusi mati salah seorang pekerja sosial asal AS, Petter Kassig. Pemuda 26 tahun itu diekeskusi dengan cara dipenggal oleh ISIS.

Berbeda dengan klaim sebelumnya, dimana ISIS mengeluarkan sebuah video yang menunjukan pemenggalan korban, kali ini eksekusi tak diperlihatkan. Dalam video terbaru yang dirilis ISIS, nampak seorang anggoa ISIS yang menggunakan tutup kepala, menginjak sebuah kepala yang berlumuran darah. “Ini adalah Peter Edward Kassig, seorang warga AS,” ucap pria tersebut dengan menggunakan aksen Inggris. Belum diketahui kapan dan dimana pemenggalan itu terjadi. Keaslian video itu pun masih diragukan karena belum mendapat verifikasi oleh pihak AS.

Selian Kassig, dalam video itu juga terlihat beberapa kepala berlumuran darah lainnya tergeletak di tanah. Jika benar, maka ini adalah kali ketiga AS harus melihat warga mereka dieksekusi oleh ISIS. Sebelumnya dua orang jurnalis AS diesekusi mati oleh ISIS dengan cara yang sama. Peter Kassig adalah warga Barat kelima yang dieksekusi oleh kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dalam sebuah video yang dirilis Ahad kemarin, terlihat seorang milisi menginjak sebuah benda yang diyakini merupakan kepala Kassig yang sudah terpenggal.

Banyak pihak yang menyayangkan kepergian Kassig. Bahkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengaku bahwa Kassig adalah aktivis kemanusiaan yang amat berjasa dan peduli dengan nasib warga muslim Suriah. Dikutip dari NBC News, Senin, 17 November 2014, sebelum menjadi relawan, Kassig adalah seorang tentara AS. Dia dikirim ke Irak pada Maret 2012. Saat bertugas di Irak, Beirut, dan Lebanon, ia melihat banyak sekali masalah yang dialami penduduk di sana. Semuanya serba-kekurangan dan terlalu banyak penderitaan.

“Saya menjalani hidup dengan apa yang saya percayai. Namun saya belum merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu. Di sini, di negeri ini, saya menemukan panggilan hidup. Saya memiliki kesempatan untuk membuat perubahan dan membantu orang-orang di sini,” tulis Kassig dalam pesan yang ditulisnya pada 18 Maret 2012 lalu. Setelah 18 bulan membantu warga, ia memutuskan untuk mendirikan organisasi non-pemerintah bernama Special Emergency Response and Assitance (SERA). Lalu ia pindah ke Turki dan membuat SERA jauh lebih besar untuk membantu warga Suriah yang kabur dari konflik negaranya.

Oktober 2013, Kassig ditangkap oleh ISIS saat sedang mengantarkan peralatan medis dengan ambulans. Pada waktu yang sama pula, Kassig dilaporkan telah masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul-Rahman Kassig. Awal bulan lalu, ISIS merilis video penyekapan Kassig. Pria 26 tahun itu muncul dalam video pemenggalan Allan Henning, relawan asal Inggris. Kala itu, ISIS mengancam akan membunuh Kassig jika Amerika Serikat tidak menghentikan serangan ke Suriah untuk menghancurkan ISIS.

Berkaitan dengan eksekusi terhadap Kassig, akun Twitter khusus untuk keluarga Kassig saat ini memiliki 1.779 pengikut. Setelah video kematian Kassig beredar, akun bernama Kassigfamily itu berkicau, “Kami sangat hancur ketika menyadari bawa anak kami telah kehilangan nyawanya karena menunjukkan cintanya kepada warga Suriah.”

Video yang dirilis oleh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sebagai klaim kematian relawan Amerika Serikat, Peter Kassig, ternyata menyimpan sejumlah kejanggalan. Untuk pertama kalinya, setelah eksekusi empat sandera sebelumnya, video Kassig tidak menampilkan adegan pemenggalan, tidak menyampaikan ancaman, dan tidak pula menyebut target selanjutnya. Dalam video itu, tahu-tahu seorang anggota ISIS sudah menginjak kepala yang diduga adalah kepala Kassig yang sudah terpenggal.

ISIS justru berfokus pada pemenggalan terhadap lebih dari 20 tentara Suriah oleh sejumlah anggotanya. Salah satu algojo lalu mengecam Presiden Barack Obama lantaran menyisakan tentara AS di Irak sejak penarikan pasukan pada 2004. Seorang pengamat anti-ekstremis Irak dari Qulliam Foundation, Haris Rafiq, menelaah arti kejanggalan video itu. Rafiq memprediksi keanehan itu mengindikasikan keadaan ISIS kini sedang tertekan.

“Seperti seekor binatang yang terluka, mereka akan semakin ganas dan brutal untuk melindungi diri dan mengancam musuh. ISIS ingin menunjukkan bahwa mereka masih kuat meski dihujani serangan dari aliansi Amerika,” kata Rafiq, seperti dilaporkan CNN, Senin, 17 November 2013. Rafiq menjelaskan, sisi brutal yang ingin ditunjukkan ISIS menandakan bahwa mereka sedang terpojok. “Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka bisa lebih keji dalam keadaan putus asa,” kata Rafiq.

Sementara itu, pensiunan Angkatan Darat AS sekaligus ahli kontraterorisme, Letnan Kolonel Joe Ruffini, berpendapat, video itu dirilis untuk menakut-nakuti warga Suriah dan Irak. Ruffini mengatakan ISIS ingin kemauannya dituruti oleh negara yang telah mereka kuasai. “ISIS seperti ingin berkata, ‘Saat kami meminta Anda melakukan sesuatu, Anda akan tahu apa konsekuensinya jika menolak’,” kata Ruffini.

Daveed Gartenstein-Ross, petinggi Yayasan Pertahanan Demokrasi, mengatakan mungkin terjadi masalah serius sebelum Kassig dieksekusi. “Kemungkinan yang paling besar adalah terjadi hal yang tidak beres, di luar dugaan ISIS, ketika mereka memenggal Kassig,” kata Ross.