Monthly Archives: December 2012

Resep Pernikahan Langgeng Pada Abad Pertengahan

“Membahagiakan suami itu mudah, Bu. Hanya: jangan cerewet, mengusiknya hanya karena uang, dan jangan bosan menunggu ketika dia berada di luar rumah.”

Begitulah petikan kata-kata bijak tentang kebahagiaan perkawinan yang muncul dalam surat kabar tahun 1800-an dan awal 1900-an. Ditemukan oleh arsip koran Inggris, tips ini ditanggapi serius oleh banyak ibu rumah tangga pada era Victoria.

Tips itu juga mengatakan perempuan untuk tak membiarkan suami mengeriting rambutnya dan jangan membuatnya bosan dengan bercerita tentang ibu mertuanya.

Tulisan yang dimuat di kolom di The Isle Of Man Times, tanggal 12 Oktober 1895, ini juga menyarankan: “Jangan berdebat dengan suami Anda, melakukan apapun yang ia sarankan, dan patuhi semua perintahnya. Selain itu, “Jangan tidur sampai dia pulang dari klub, baik di tempat tidur atau di sofa.”

Sedang artikel di Koran Sunderland Daily Echo tanggal 19 Oktober 1893, menuliskan saran lain. Mereka memperingatkan perempuan untuk tak bosan “menjerat” suami. “Adalah tugas positif untuk membuat diri Anda menarik di matanya semaksimal mungkin yang Anda bisa.”

Sepotong naskah di Derby Evening Telegraph tanggal 19 Januari 1834, mengatakan: “Jika suami Anda tengah sakit kepala jangan memberitahunya bahwa harga batubara naik 10 shilling.”

Menanggapi artikel lawas ini, kolumnis wanita Inggris Sam Wostear meyatakan bahwa waktu telah berubah. “Jika benar yang disarankan adalah satu-satunya cara untuk membuat pernikahan bahagia, tak ada wanita waras saat ini yang tergoda untuk menikah,” katanya. Sam Wostear yang terlahir berambut pirang ini juga pernah langsung mengecat rambutnya menjadi coklat ketika sebuah penelitian ilmiah membuktikan bahwa wanita berambut pirang pada umumnya lebih bodoh, suka berganti-ganti pasangan dan paling banyak bercerai sedangkan wanita berambut coklat rata-rata lebih pintar, setia dan pandai menjaga hubungan rumah tangga.

Meski Ada Fatwa Haram MUI, Ternyata Presiden Negara Palestina Mahmoud Abbas Ikuti Misa Natal Di Betlehem Tiap Tahun

Di tengah ramainya perdebatan di Tanah Air soal boleh-tidaknya umat muslim mengucapkan Selamat Natal terhadap kaum Nasrani, Presiden Palestina Mahmoud Abbas ternyata ikut serta dalam misa Natal di Bethlehem setiap tahunnya.
Mahmoud Abbas selalu ambil bagian dalam misa yang dirayakan di tempat yang banyak orang meyakini sebagai tempat lahirnya Yesus Kristus, bersama seluruh peziarah yang datang dari berbagai negara.

Pada misa Natal tahun lalu misalnya, ia sempat menyampaikan harapannya pada makan malam sebelum misa. Mahmoud Abbas berharap dapat mengimplementasikan perdamaian di seluruh wilayah Palestina.

»Kita ini saudara yang percaya akan kedamaian dan bekerja sama untuk menerapkan kedamaian itu,” ujarnya seperti ditayangkan situs YouTube. Mahmoud hadir di Bethlehem hanya beberapa hari setelah Palestina mengambil langkah signifikan untuk mengikutsertakan Kelompok Hammas dan Jihad Islam dalam organisasi liberal Palestina.

Sementara itu, baru-baru ini Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa yang mengharamkan mengucapkan selamat Natal bagi umat Nasrani. Fatwa itu memang muncul saat MUI diketuai oleh Prof. Buya Hamka pada 1981.

Bagi beberapa tokoh, fatwa itu masih memungkinkan untuk didiskusikan lebih lanjut dan diubah. Seperti Gus Sholah dan mantan presiden Jusuf Kalla yang tetap mengucapkan selamat Natal.

Majelis Ulama Indonesia menyarankan umat Islam tidak mengucapkan selamat Natal kepada pemeluk agama Nasrani. “Itu jadi perdebatan, sebaiknya enggak usah sajalah,” kata Ketua MUI Bidang Fatwa Maruf Amin di Jakarta, Rabu, 19 Desember 2012.

Majelis Ulama Indonesia menyarankan umat Islam tidak mengucapkan selamat Natal kepada pemeluk agama Nasrani. “Itu jadi perdebatan, sebaiknya enggak usah sajalah,” kata Ketua MUI Bidang Fatwa Maruf Amin di Jakarta, Rabu, 19 Desember 2012.

Meskipun melarang, Maruf meminta umat Islam menjaga kerukunan dan toleransi. Dia menyatakan ada fatwa MUI yang melarang untuk mengikuti ritual Natal.

Dia menegaskan, mengikuti ritual Natal adalah haram. “Karena itu ibadah (umat lain),” kata dia. Banyak tokoh nasional minta fatwa ini diabaikan saja.Ketika dimintai tanggapan, Gubernur Jakarta memilih diam.

MUI telah mengeluarkan fatwa pada 1981 di masa Ketua Umum MUI Prof. Dr. Buya Hamka. Fatwa MUI yang ditandatangani Ketua Komisi Fatwa KH. Syukri Ghazali dan Sekretaris H. Masudi. Isi fatwa ini menyatakan haram mengikuti perayaan dan kegiatan Natal. Kidung Natal berbahasa Arab juga dipersoalkan. Meskipun dinegara negara yang berbahasa Arab, semua misa Natal dilakukan dalam bahasa Arab.

India Diguncang Demo Besar Besar Menuntut Hukuman Mati Untuk Pemerkosaan

Kasus pemerkosaan beramai-ramai seorang mahasiswi 23 tahun dalam bus kota di New Delhi, menggegerkan seantero India. Melecut polemik panas isu keamanan bagi perempuan. Masyarakat, politisi, aktivis ramai-ramai turun ke jalan, mengutuk para pemerkosa biadab yang merendahkan harkat perempuan.

Hukuman seberat-beratnya harus diberikan pada para pelaku. “Hukuman mati sangat penting. Saya sarankan para pelaku dibuat impoten, agar mereka tobat setiap hari di sepanjang sisa hidup mereka,” kata pemimpin Komnas Perempuan India (NCW), Mamta Sharma seperti dimuat Press Trust India, Kamis (20/12/2012).

Sharma menegaskan, pemerkosaan di bus kota yang merupakan fasilitas publik, adalah kasus yang memalukan, tak hanya bagi ibukota New Delhi, tapi mencoreng muka India sebagai sebuah negara beradab. Bagi para aktivis, tak cukup sekedar aturan memasang kaca bening pada kendaraan umum, atau meningkatkan patroli polisi. Hukuman tegas dan berat mutlak harus ditegakkan.

Di India tragedi itu menjadi perhatian luas publik juga para pejabatnya. Mendominasi headline media massa, kabarnya muncul di jam tayang utama televisi, menjadi perdebatan di parlemen.

Shah Rukh Khan Angkat Bicara
Para selebritis Bollywood juga angkat bicara. Ikut merasa terhina. “Jika kita tidak tak menghukum pemerkosa, kita yang akan dihukum — segera. Ketika kejahatan yang tidak manusiawi terjadi di rumah dan keluarga kita sendiri,” kata aktor Shah Rukh Khan di akun Twitter-nya.

“Menurutku semua pemerkosa harus dihukum mati. Tak boleh ada hal semacam dalam hidup kita. Aku merasa jijik, marah, mendengar tragedi itu,” kata Salman Khan, seperti dimuat Hollywood Reporter (20/12/2012). Artis Kareena Kapoor berpendapat, adalah memalukan hal seperti itu terjadi di sebuah kota metropolitan. “Melarang perempuan untuk tidak keluar malam bukan solusi dalam masalah ini. Sebagai perempuan modern yang hidup di zaman yang maju, aku menolak dengan tegas kalimat seperti itu.”

Hal senada dikatakan artis Priyanka Chopra. “Seorang perempuan diperkosa bukan karena dia keluar malam, memakai rok mini, atau minum. Tapi karena PELAKU BIADAB MEMPERKOSANYA!,” tulis dia.

Korban: “Gadis Tangguh”
Pemerkosaan tragis terjadi Minggu malam waktu setempat. Korban yang baru nonton bioskop dengan teman prianya dipukuli, disiksa, diperkosa oleh setidaknya enam pria biadab. Lalu, tubuhnya yang kepayahan dilempar begitu saja dari bus yang melaju.

Korban harus menjalani lima operasi, salah satunya pengangkatan bagian usus. Perempuan malang itu harus dirawat secara intensif di ICU. Namun, Tim dokter RS Safdarjung yang merawatnya menyebutnya sebagai “gadis tangguh”. Ia kini masih berusaha keras untuk mengatasi trauma beratnya. “Ia gadis yang tangguh. Kami berharap korban bisa mengatasinya,” kata Dr Mishra, yang mendampingi korban di rumah sakit.

Sampai hari ini korban belum bisa berbicara atau bergerak. Dia memberikan pernyataan secara tertulis kepada polisi Selasa lalu, mengungkapkan apa yang terjadi di Minggu malam nahas itu. Orang-orang di seluruh Delhi bersatu membela korban, seluruh negeri berdoa untuknya. Sikap kebersamaan yang membuat kita, warga Indonesia patut iri.

Pemerkosaan di angkutan umum bukan sekali dua kali terjadi di nusantara, terutama di ibukota Jakarta. Bahkan ada korban yang tewas. Namun realitas tragis itu tak sampai membuat membuat perubahan besar yang menjamin keamanan kaum hawa. Karena di nusantara setiap kali ada pemerkosaan yang terjadi malah muncul demo and komentar yang menyalahkan moralitas perempuan sebagai korban dan membela mati-matian sang pemerkosa dengan berbagai alasan.

Kisah Nyata Tentang Pelacur Nenek Kembar Diangkat Dalam Film Ouwehoeren atau Meet the Fokkens

Di sebuah gang yang sibuk di distrik red light di Amsterdam, terlihat kerumunan orang yang saling sikut-sikutan untuk bisa berfoto bersama dua nenek paling terkenal di Amsterdam: nenek kembar Louise dan Martine Fokkens, dua pekerja seks komersial tertua di ibu kota Belanda tersebut. Sama-sama mengenakan jaket kulit merah dan boot merah, jins merah, serta topi rajut merah, dan syal Stars and Stripes di sekitar leher mereka, dua nenek Fokken ini terlihat mencolok saat berjalan di sepanjang gang yang penuh dengan jendela bingkai merah, tempat perempuan-perempuan setengah telanjang memamerkan tubuh mereka untuk memikat pelanggan.

Penduduk lokal, tua dan muda, antri untuk sekadar mengobrol, sementara para turis yang lalu-lalang hanya melihat kebingungan. “Lihat, itu ada ‘ouwe hoeren’ (bahasa Belanda untuk pelacur tua),” Koen Booij, 19, berseru sebelum mendekati Martine dan memberikan kartu pos bertandatangan yang mengiklankan buku terbaru kedua saudari kembar tersebut tentang sisi kotor Amsterdam, tempat Fokkens bersaudara bekerja sebagai PSDK selama setengah abad terakhir.

Sejak awal 1960an, Louise, lalu Martine, sudah bekerja di kawasan “Wallen”, salah satu area lampu merah paling terkenal di dunia. Kini diperkirakan ada 5000-8000 pekerja seks aktif di Amsterdam — tapi hanya sebagian yang melakukan bisnis mereka dari balik 370 jendela bingkai merah di kawasan tersebut, menurut catatan resmi balai kota.

Saudari kembar berusia 70 tahun tersebut mulai terkenal tahun lalu, ketika sebuah film dokumenter berjudul “Ouwehoeren” dan kemudian diterjemahkan menjadi “Meet the Fokkens” yang menceritakan kehidupan mereka diputar di International Documentary Film Festival di Amsterdam.

Saking suksesnya, tahun ini pun festival kembali memutar dokumenter tersebut. Dua buku — satu sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Prancis, dan bahasa lain — tentang kehidupan dua saudara ini di balik tirai merah pun terbit.

Sepatu boot yang dipakai Martine Fokkens saat bekerja. Mereka kini menjadi selebritas setelah mendapat slot reguler di acara bincang-bincang tengah malam tentang seks dan obat-obatan di televisi Belanda, Oktober lalu.

Buku kedua mereka, “Ouwehoeren op reis” (Pelacur Tua Berperjalanan) baru saja diluncurkan. Penerbit Bertram en De Leeuw mengatakan pada AFP bahwa buku tersebut sudah terjual 70 ribu kopi di Belanda, membuatnya masuk ke daftar buku laku.

Saudari Fokkens — keduanya sudah beberapa kali menjadi buyut — mengaku sudah melihat semuanya: di kota di mana PSK sudah menjajakan tubuh mereka bagi pelaut yang bertandang dan pencari kesenangan sejak abad ke-15, tak ada yang mengejutkan buat mereka.

“Dari ayah-ayah yang membawa anak laki-laki mereka untuk mendapat ‘pengalaman pertama’ sampai mereka yang mencari aktivitas kinky, ada banyak macamnya,” kata Martine pada AFP, duduk di tempat tidur di balik jendelanya di Oude Nieuwstraat, gang kecil yang penuh dengan lampu neon merah begitu matahari terbenam.

“Kami sudah tidur dengan sangat banyak pria, sampai kamu tak akan bisa menghitungnya,” kata Louise, sambil melihat ke arah saudarinya dan tertawa: “Kami bersenang-senang dengan mereka.”

Dua tahun lalu, Louise akhirnya gantung sepatu boot stillettonya karena arthritis — “Saya tak bisa lagi melakukan posisi-posisi seks itu,” kata dia, sementara Martine masih bekerja sekali atau dua kali seminggu, termasuk Minggu, spesialisasinya adalah soft-core bondage untuk pria-pria tua.

Pada Oktober awal, kedua saudari kembar ini menjadi fitur reguler di acara bincang-bincang berjudul “Spuiten en Slikken” (Keluarkan dan Telan) sebagai sepasang pemberi nasihat untuk pertanyaan-pertanyaan seputar seks.

“Saya menonton mereka di TV. Menurut saya mereka hebat,” kata Booij pada AFP saat menunggu berfoto. “Mereka bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh orangtua kita.”

“Mereka adalah ahlinya,” kata Jeanine, 20, pelajar di University of Amsterdam yang menolak memberi nama belakangnya, sambil meminta reporter AFP untuk mengambil fotonya bersama kedua saudari ini menggunakan ponsel.

“Mereka bilang ke para pria untuk memperlakukan perempuan dengan baik,” ujar dia.

Fokkens bersaudara tampak terkejut mereka punya banyak penggemar, tapi kata-kata mereka akan cinta dan hubungan terdengar jujur — berasal dari pengalaman bertahun-tahun.

Meski terlihat riang dan digambarkan di media seperti sepasang bibi eksentrik yang bekerja di industri seks, ada kisah mereka akan penyiksaan dan kekerasan.

“Kami tak punya uang. Suami saya minta saya bekerja ‘hanya untuk dua tahun’,” kata Louise, mukanya tampak keras saat mengingat kejadian itu. “Saya tak tahu pekerjaan apa yang ia maksudkan. Sekarang sudah 50 tahun kemudian.”

“Awalnya sangat sulit. Saya harus ‘mematikan’ pikiran saya. Lama-lama, kondisinya membaik,” ujar dia.

Kekerasan dan eksploitasi mendorong saudari kembar ini untuk mendirikan serikat kerja pekerja seks pertama di kawasan tersebut.

Ketika ditanya apakah mereka menyesali hidup mereka, kedua saudari tersebut menggelengkan kepala, “Kami tak menyesali apapun, kecuali bahwa distrik red light kini berubah.”

“Saat ini tak ada lagi kode kehormatan, yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Louise dengan wajah jijik.

“Sekarang perempuan-perempuan itu tak pakai baju. Mereka menjual dan memakai narkoba. Semuanya tentang kriminalitas dan uang. PSK yang baik tak akan memakai obat-obatan,” ujar dia.

“Dulu, sesama pekerja saling merawat satu sama lain. Kini tak ada lagi. Tak ada lagi kemanusiaan di distrik red light,” ujar dia.

FASOTEC Perusahaan Jepang Yang Menjual Janin Manusia Sebagai Souvenir Gantungan Kunci

Calon ayah ibu yang sedang menanti kelahiran bayinya kini dapat membeli model tiga dimensi dari fetus dalam rahim untuk dipamerkan pada keluarga dan teman-teman.

Investor Jepang telah menemukan cara untuk mengubah gambar pindaian ultrasound menjadi replika resin yang dapat menjadi kenang-kenangan bagi para orang tua.

Model resin fetus berwarna putih sebesar 9 cm terbungkus dalam blok transparan yang berbentuk seperti tubuh ibu itu dibuat dari scan MRI yang dicetak di printer 3D.

FASOTEC, perusahaan yang menawarkan model “Shape of an Angel” bahkan menyediakin versi mini dari model janin yang bisa dibuat menjadi gantungan handphone atau gantungan kunci.

Tomohiro Kinoshita dari FASOTEC, mengatakan, “Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup saat Anda mengandung, kami menerima permintaan model untuk perempuan hamil yang tidak ingin melupakan perasaan dan pengalaman saat mengandung.”

“Shape of an Angel” dipatok seharga 100.000 yen dan perusahaan tersebut mengatakan waktu ideal untuk memindai kandungan adalah sekitar bulan delapan atau sembilan kehamilan.

Untuk mereka yang ingin versi model janin yang lebih murah, perusahaan juga menawarkan model 3D fetus seharga 50.000 yen pada Desember.

Model tersebut akan dibuat dari gambar ultrasound yang diambil di klinik kesehatan Tokyo yang sudah bekerjasama dengan perusahaan tersebut.

FASOTEC awalnya merupakan pemasok berbagai perangkat termasuk printer 3D yang menggunakan teknik layer untuk membuat struktur tiga dimensi.

Perusahaan itu juga membuat model 3D dari organ dalam tubuh yang dapat digunakan dokter untuk mempersiapkan operasi atau untuk mahasiswa kedokteran yang sedang belajar, kata juru bicara.

Model tersebut juga dapat dibuat dengan tekstur keras maupun lembut.

“Dengan membuat model yang mirip seperti organ asli atau tulang, orang dapat membuat simulasi operasi dan berlatih dengan teknik operasi yang sulit.”

Kinoshita mengatakan bahwa perusahaan tersebut berharap agar model 3D bayi yang belum lahir itu dapat membuat orang lebih sadar terhadap teknologi yang berkembang.

Namun, ada juga keuntungan di bidang medis.

Sebagian dokter dapat memprediksi apabila ada kemungkinan kendala persalinan dengan melihat dari model tersebut.

Printer tiga dimensi telah hadir di dunia sejak beberapa dekade lalu, namun keunggulan teknologi membuatnya dapat dimanfaatkan di beberapa sektor kehidupan saat ini.

Penulis ”Three Cups of Tea” Bunuh Diri Setelah Ketahuan Kisah Nyatanya Ternyata Hanya Fiksi

David Oliver Relin, salah satu penulis buku terlaris Three Cups of Tea, mengakhiri hidupnya secara tragis. Menurut pihak berwenang, pria 49 tahun ini melakukan bunuh diri di Portland, pada 14 November 2012.

Dia mengatakan Relin meninggal karena cedera kepala benda tumpul, namun menolak untuk memberikan rincian lainnya.

Relin bersama dengan Greg Mortenson menulis Three Cups of Tea, yang menceritakan bagaimana Mortenson mulai membangun sekolah di Pakistan dan Afghanistan. Belakangan diketahui, buku yang semula dibanderol sebagai kisah nyata ini berisi banyak rekayasa.

Pada bulan April, pengadilan di AS menolak gugatan oleh empat orang yang membeli buku itu. Kedua penulis, penerbit, dan lembaga amal tempat keduanya bernaung dituding bersekongkol untuk membuat Mortenson menjadi pahlawan palsu demi mengumpulkan uang.

Mortenson telah membantah melakukan kesalahan, meskipun ia mengakui beberapa peristiwa di Three Cups of Tea dikompresi selama periode waktu yang berbeda. The New York Times melaporkan bahwa Relin tidak berbicara secara terbuka tentang pengubahan yang dilakukannya.

Buku ini menggambarkan bagaimana Mortenson tersesat setelah ekspedisi yang gagal di sebuah gunung dan dirawat di sebuah desa di Pakistan. Berdasarkan kebaikan penduduk desa dan kemiskinan yang disaksikannya, ia memutuskan untuk membangun sebuah sekolah untuk mereka.

Buku ini terjual sekitar 4 juta kopi sejak diterbitkan pada tahun 2006.

John McAfee Pendiri Perusahaan Antivirus McAfee Menjadi Buronan Setelah Membunuh Tetangganya

Perintis peranti lunak antivirus, John McAfee, tertangkap di perbatasan antara Belize dan Meksiko. “Kami telah menerima laporan tidak resmi bahwa John McAfee telah ditangkap di perbatasan Belize-Meksiko,” demikian tertulis dalam situs resmi milik McAfee, thewhoismcafee.com.

Situs thewhoismcafee adalah laman yang dibuat McAfee untuk menyerang balik laporan yang dibuat media tentang dirinya. Situs ini diklaim menyediakan informasi tentang segala tuduhan yang dialamatkan terhadap pria berusia 67 tahun itu.

Otoritas Belize mengatakan bahwa McAfee ditangkap sejak Sabtu, 3 Desember 2012. Mereka akan menginvestigasi kasus pembunuhan yang diduga melibatkan multijutawan ini. McAfee dituduh terlibat dalam pembunuhan tetangganya di Kota Ambergris Caye, bulan lalu. Seorang pria bernama Gregory Faul, yang berusia 52 tahun, ditemukan meninggal dengan luka tembak di bagian kepala.

McAfee berkukuh bahwa ia tidak bersalah. Dalam blognya, McAfee menyatakan tak ada hubungan dengan kematian Faul. Menurut McAfee, ia jarang berbicara dengan Faul semenjak tinggal di Belize pada 2008.

Belize merupakan negara kecil di kawasan Amerika Tengah, berpenduduk sekitar 350 ribu orang, dan berbahasa Inggris. McAfee diduga terlibat cekcok dengan Faul terkait empat ekor anjingnya. McAfee, pendiri perusahaan antivirus McAfee, meradang setelah anjingnya mati dengan dugaan diracun. Pendiri perusahaan antivirus McAfee, John McAfee, mengaku tidak bersalah atas tuduhan pembunuhan yang disangkakan kepadanya. Kepada media digital Wired, McAfee, 67 tahun, mengaku sengaja bersembunyi saat polisi menggerebek rumahnya di negara yang terletak di kawasan Amerika Tengah itu.

McAfee mengaku bersembunyi dengan membenamkan tubuhnya ke pasir dan menaruh kotak boks untuk menutupi kepalanya. “Jika mereka menemukan saya, mereka akan membunuh saya,” kata dia dari tempat persembunyiannya di Pulau Ambergris Caye, Belize.

McAfee menjadi tersangka utama pada pembunuhan yang terjadi Ahad pekan lalu di pulau itu. Dia tinggal di rumahnya itu sejak pensiun empat tahun lalu. Korban pembunuhan adalah tetanggal McAfee, Gregory Faull, 52 tahun, seorang ekspatriat yang juga berasal dari Amerika Serikat.

Saat polisi tiba, mayat Faull ditemukan dalam kondisi telentang di atas genangan darah dengan luka tembak di bagian belakang kepala. Polisi menemukan sebuah selongsong peluru bermerek Luger berukuran 9 milimeter di lokasi kejadian.

Saat wartawan Wired menanyakan apa yang diketahui McAfee terkait pembunuhan itu, dia mengaku tidak tahu sama sekali. “Saya hanya mendengar bunyi tembakan,” kata dia. Dia mengaku merasa khawatir jika orang yang menembak Faull juga berencana membunuhnya. “Mungkin saja sebenarnya pelaku mengincar saya,” kata dia. “Saya takut sekali.”

Jika McAfee terlibat, pembunuhan ini mungkin terkait dengan matinya anjing-anjing miliknya pada Jumat pekan lalu. Sejumlah tetangga McAfee, termasuk Faull, telah mengajukan komplain resmi kepada wali kota setempat karena keributan yang disebabkan anjing piaraan McAfee.

Menurut petinggi perusahaan antivirus itu, ada orang yang sengaja meracun anjing-anjing piaraannya hingga mati. Hubungan McAfee dengan otoritas setempat memburuk beberapa bulan terakhir. Pada April lalu, Unit Penangkapan Gang dari kepolisian setempat menggerebek rumahnya.

Polisi menuduhnya membuat obat terlarang methamphetamine dan memiliki senjata. Tudingan ini belakangan dicabut. Namun, McAfee merasa pemerintah Belize menyimpan dendam padanya.

“Pada Jumat malam lalu, petugas penjaga pantai mengirimkan serombongan orang berseragam gelap,” kata dia lewat e-mail. “Mereka menyebar di pantai. Dan pagi harinya, empat anjing saya mati keracunan.”

Saat ditanya apakah dia menduga Faull sebagai orang yang diduga meracun anjingnya, McAfee menampik. “Dia itu pemarah, tapi tidak akan melukai anjing saya.” Perdana Menteri Belize, Dean Darrow, menyerukan kepada John McAfee untuk segera muncul dan membantu polisi dalam kasus pembunuhan yang dituduhkan padanya.

Darrow juga mengkritik beberapa pernyataan McAfee, 67, yang mengatakan polisi bakal membunuhnya jika sampai tertangkap. “Saya bukannya ingin berkata kurang baik, tapi dia sepertinya sangat paranoid,” kata Darrow. “Mungkin sudah mulai kurang waras.”

Kepolisian Belize mencari McAfee dengan tuduhan menembak mati tetangganya yang bernama Gregory Viant Faull, 52, sesama warga Amerika Serikat yang bermukim di Belize. Belize merupakan negara kecil di kawasan Amerika Tengah, berpenduduk sekitar 350 ribu orang dan berbahasa Inggris. McAfee diduga terlibat cekcok dengan Faull terkait empat ekor anjingnya. McAfee, pendiri perusahaan antivirus McAfee, meradang setelah anjingnya mati dengan dugaan diracun.

Uniknya kepada Wired, McAfee mengaku justru menuding kepolisian Belize sebagai pembantai anjing-anjingnya, yang kerap menggonggong menakuti tetangga sekitar. Hingga hari ketiga ini, McAfee belum juga tertangkap. Kepada Wired lewat sambungan telepon, dia mengaku bersembunyi di hutan dan menyamar saat kabur menggunakan taksi.

Dia juga mengecat rambut dan kumisnya. “Saya sekarang malah jadi terlihat seperti seorang pembunuh,” kata dia