Monthly Archives: October 2010

80 Gerilyawan Tewas Dalam Serangan Mendadak Dari Segala Arah Taliban Terhadap Markas NATO Yang Gagal Total

Seorang pejabat Afghanistan mengatakan, 80 gerilyawan Taliban tewas dalam serangan yang gagal terhadap pos terluar Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dekat perbatasan dengan Pakistan.

“Informasi terkini adalah kami menerima dari sumber-sumber intelijen yang menunjukkan bahwa 80 gerilyawan Taliban tewas. Jenazah-jenazah pejuang itu berada di medan pertempuran,” kata Mukhlis Afghan, juru bicara gubernur Provinsi Timur Paktika, Sabtu (30/10/2010).

NATO mengatakan sebelumnya, 30 gerilyawan Taliban tewas pada saat tentara internasional membalas serangan mereka di pos terluar di distrik Barmal, yang terletak di perbatasan Pakistan, wilayah suku Waziristan Utara.

Pernyataan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) NATO, gerilyawan melancarkan serangan pada pukul 01:30 waktu setempat, Sabtu, “dari semua arah” menggunakan granat yang ditembakkan dengan roket, mortir dan senjata-senjata api. Lima tentara ISAF cedera, menurut mereka.

Ditambahkan bahwa mereka hingga kini sedang bertempur. “Pasukan koalisi minta bantuan tim senjata udara dan dukungan udara terdekat dalam pertempuran itu. Sebuah pesawat tempur koalisi kemudian menyerbu posisi gerilyawan dengan tiga senjata dipandu alat presisi,” katanya.

“Tim senjata udara juga menyergap sejumlah besar gerilyawan di dekat pos terluar,” katanya. “Operasi awal melaporkan lebih dari 30 gerilyawan tewas dalam serangan mereka yang gagal terhadap pos terluar.”

Kedekatan pos tempur ke perbatasan menunjukkan kemungkinan gerilyawan telah menyeberang dari Pakistan, tempat dewan kepemimpinan Taliban diyakini berpangkalan di sana.

Pemberontakan di Afghanistan kini memasuki tahun ke-10 sejak rezim Taliban ditumbangkan dalam serangan dipimpin Amerika Serikat (AS) pada akhir 2001. Pada Oktober tahun lalu, delapan tentara AS tewas dan 22 cedera setelah pos terluar kecil mereka di Provinsi Nuristan —juga berbatasan dengan Pakistan— diserang oleh sekitar 300 pejuang.

Advertisements

Sekeluarga Terdiri Dari 13 Orang Tewas Setelah Melihat Penampakan Setan

Ini tragedi memilukan di negeri rasional. Sebuah keluarga terdiri dari 13 orang, termasuk bayi, dicekam ketakutan karena penampakan setan di sebuah apartemen di Versailles, Perancis. Dari 13 orang itu, 11 di antaranya langsung terjun dari lantai dua. Seorang bayi tewas seketika.

Bagaimana itu bisa terjadi?

Odile Faivre, deputi jaksa Versailles kepada Sky News, mengatakan, 13 orang itu sedang menonton televisi di lantai dua apartemen. Sekitar pukul 03.00 dini hari, seorang pria dari mereka mendengar bayinya menangis.

Pria keturunan Afrika itu lantas bangkit dan membuatkan susu untuk si bayi. Dia melakukan itu sambil tetap bertelanjang bulat. Nah, saat itulah, beberapa orang di situ melihat si pria dan langsung terkejut. Ada yang berteriak, “Ada setan… ada setan..!”

“Pria itu mengalami luka serius di tangannya karena tertusuk pisau sebelum dia terjun dari apartemen itu melalui pintu,” katanya. Sesaat kemudian, 10 orang lainnya terjun karena ketakutan. Tidak jelas siapa penusuk si pria tadi, namun seorang bayi di antara mereka tewas.

Truk Logistik NATO Di Pakistan Kembali Diserang Taliban

Sekelompok orang bersenjata di Pakistan barat daya membakar dua truk pengangkut logistik untuk pasukan NATO yang sedang memerangi Taliban di Afganistan, kata polisi, Minggu (24/10). ”Dua orang mengendarai sepeda motor melepaskan tembakan, melukai sopir truk di kota Baghbana, Distrik Khusdar, Provinsi Baluchistan,” kata pejabat polisi setempat, Mohammad Azam. Ketika sopir turun, mereka menyiramkan bensin dan membakar truk itu.

Setelah itu, para penyerang melarikan diri. Dalam insiden lain, sehari sebelumnya, sekelompok orang bersenjata membakar sebuah truk bahan kebutuhan pokok di dekat kota Wadh di Khuzdar, 360 kilometer selatan ibu kota Provinsi Quetta, kata Azam. Provinsi Baluchistan, yang berbatasan dengan Iran dan Afganistan, dilanda kekerasan akibat pemberontakan regional dan kekerasan oleh Taliban.

Megi Mengamuk dan Menewaskan 59 Orang

Taifun Megi, yang sempat mengamuk sebagai angin topan kategori 5, diturunkan statusnya menjadi badai tropis biasa saat masuk semakin jauh ke daratan China, Minggu (24/10). Megi telah menewaskan 59 orang sepanjang pekan lalu, yakni 28 orang di Filipina dan 31 orang di Taiwan.

Peringatan bahaya taifun telah dicabut oleh Pemerintah China, Minggu pagi, setelah sehari sebelumnya kecepatan angin Megi telah turun menjadi 108 kilometer (km) per jam. Saat pertama menerjang Filipina, Senin pekan lalu, kecepatan angin taifun tersebut mencapai 260 km per jam.

Meski demikian, curah hujan masih sangat tinggi, mencapai 33 sentimeter (cm) pada Sabtu dan memaksa 313.700 warga desa- desa pesisir selatan China mengungsi. Kerugian di kota Zhangzhou, Provinsi Fujian, mencapai 1,5 miliar yuan (Rp 2 triliun).

Tim pencari di Taiwan pada hari yang sama juga menemukan reruntuhan kendaraan yang diduga adalah bus wisata yang mengangkut 19 turis asal China. Bus tersebut adalah satu dari beberapa bus wisata yang sedang berada di jalan bebas hambatan Ilan, Taiwan timur laut, saat tanah longsor terjadi, Kamis malam. Semua penumpang diduga tewas.

Sembilan orang ditemukan tewas di sebuah biara Buddha yang terkubur tanah longsor dan tiga lainnya tewas karena tenggelam setelah rumah mereka di Provinsi Ilan kebanjiran.

Seiring dengan semakin melemahnya Megi, jalur feri yang menghubungkan Xiamen, kota pelabuhan di Fujian, dengan Jinmen di Taiwan kembali dibuka, Minggu, setelah ditutup selama dua hari. Sedikitnya 80 penerbangan di Bandara Xiamen juga sempat dibatalkan karena amukan Megi.

Di Vietnam, jumlah korban tewas akibat banjir yang melanda bagian tengah negara itu menjadi 75 orang. Hujan sangat deras terjadi di Vietnam saat ekor taifun Megi melintas, menyebabkan banjir yang menenggelamkan 280.000 rumah dan memaksa 170.000 orang mengungsi.

Di Thailand, korban tewas akibat banjir sudah mencapai 23 orang dan sekitar 1,3 juta warga terkena dampak bencana yang melanda 30 provinsi di bagian utara, timur, dan tengah

Popularitas Sarkozy Terus Menurun Karena Menaikan Usia Pensiun

Protes-protes terhadap rencana Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menaikkan usia pensiun mencapai titik balik hari Minggu (24/10) setelah sepekan pemogokan, demonstrasi, dan blokade bahan bakar minyak. Dengan ribuan keluarga membawa anak- anak mereka berlibur dan parlemen siap memberi RUU pensiun itu pengesahan resmi terakhir, Sarkozy berharap gerakan protes massal tersebut mulai mereda.

Namun, dengan jajak-jajak pendapat memperlihatkan semakin tidak populernya presiden itu, serikat-serikat pekerja dan badan-badan mahasiswa telah menyatakan sedikitnya dua hari lagi aksi dan pemogokan tetap dilakukan di sektor bahan bakar.

Sebuah jajak pendapat oleh lembaga IFOP untuk surat kabar mingguan JDD memperlihatkan rating Sarkozy anjlok menjadi di bawah 30 persen untuk pertama kalinya, membendung harapannya bahwa pengesahan RUU itu bisa mendorong kembali pamor politiknya.

Mahasiswa Perancis merencanakan berunjuk rasa hari Selasa untuk membela hak pensiun pada usia 60 tahun. Serikat-serikat pekerja juga telah mengimbau dilakukannya mogok dan unjuk rasa yang ketujuh hari Kamis.

Sementara itu, keluarga-keluarga yang berharap bisa menikmati libur sekolah menghadapi terlambatnya kereta api dan kurangnya BBM saat pemogokan memasuki hari ke-12.

Menteri Lingkungan Jean-Louis Borloo mengatakan, kekurangan BBM telah mereda, tetapi mengakui diperlukan waktu agar keadaan kembali ke normal. Sepertiga dari SPBU di Perancis sempat tutup karena kekurangan BBM.

RUU pensiun disetujui oleh Senat hari Jumat. Hari Senin ini teks akan digabungkan dengan draf yang telah disetujui sebelumnya oleh majelis yang lebih rendah.

Pemerintah mengharapkan teks gabungan itu kemudian akan menerima persetujuan akhir oleh Majelis Nasional hari Rabu, meningkatkan usia pensiun minimal dari 60 tahun menjadi 62 tahun sebelum 2018 dan meningkatkan masa kontribusi gaji menjadi 41 tahun.

Sarkozy membela langkah itu sebagai ”tak terhindarkan” menghadapi semakin meningkatnya jumlah penduduk Perancis dan bertambahnya defisit anggaran. Namun, mereka yang menentang menuduhnya mengorbankan pekerja dan melindungi kaum kaya dan dunia keuangan.

Presiden Sarkozy akan menghadapi pemilihan kembali tahun 2012 dan Partai Sosialis telah mengatakan bahwa apabila nanti kandidatnya menang dan terpilih sebagai presiden, dia akan mengembalikan usia pensiun menjadi 60 tahun

Ternyata Al Qaeda Juga Suka Memakai Paspor Palsu Dalam Aksi Pembunuhan

Dokumen rahasia yang dirilis situs WikiLeaks, seperti dikutip jaringan televisi Al Jazeera, mengungkap operasi Tanzim Al Qaeda di Irak yang mendapat dukungan dana dan sumber daya manusia dari luar serta keterlibatannya dalam aksi-aksi ledakan di negara itu.

Dokumen rahasia itu mengutip ribuan laporan lapangan menyinggung keberhasilan pasukan AS menangkap ribuan gerilyawan asing meskipun kemudian sulit menentukan kewarganegaraan mereka. Hal itu karena sebagian besar gerilyawan asing tersebut membawa paspor palsu dan bahkan ada yang sama sekali tidak membawa surat identitas.

Akan tetapi, dari sebagian gerilyawan asing yang membawa dokumen sah menunjukkan bahwa Arab Saudi dan Suriah adalah sumber utama asal gerilyawan asing yang datang ke Irak untuk membantu perlawanan kaum Sunni terhadap pendudukan AS.

Pada tahun 2004 pasukan AS menangkap sekitar 20 gerilyawan asing asal Suriah. Dan berturut-turut ditangkap, 55 gerilyawan asing (2005), 43 gerilyawan asing (2006), 34 gerilyawan asing (2007), dan 12 gerilyawan asing (2008).

Gerilyawan asing asal Arab Saudi yang telah ditangkap sebanyak 58 orang sejak tahun 2004 hingga 2009. Sebanyak tujuh pengusaha Arab Saudi juga ditangkap karena dituduh mendanai operasi Tanzim Al Qaeda di Irak.

Menurut dokumen rahasia itu, Tanzim Al Qaeda berhasil merekrut anggota wanita dengan tujuan untuk memudahkan lolos melewati pos-pos pemeriksaan militer AS ataupun aparat keamanan Irak.

Anggota Tanzim Al Qaeda dari kaum wanita tercatat melakukan 8 serangan bunuh diri di Irak tahun 2007 dan 15 serangan bunuh diri tahun 2008. Serangan itu di antaranya serangan bunuh diri di lapangan sepak bola kota Diyali yang membawa korban 29 orang tewas.

Tanzim Al Qaeda juga merekrut pemuda-pemudi berusia 11 tahun hingga 15 tahun pada periode 2008-2009. Seorang di antaranya adalah pemuda loyalis Tanzim Al Qaeda berusia 14 tahun yang melakukan serangan bunuh diri di kota Kirkuk pada Mei 2009.

Adapun sumber pendanaan Tanzim Al Qaeda di Irak disebutkan berasal dari sumber-sumber dana di luar negeri, seperti Suriah, Arab Saudi, Qatar, dan negara Arab kaya lain di Teluk, serta sebagian juga dari dalam negeri Irak sendiri.

Sebagian dana Al Qaeda didapat pula dari uang tebusan, dari pembebasan sandera yang mereka sekap dengan imbalan uang tebusan itu. Tanzim Al Qaeda juga mendapatkan dana dari perampokan atau pencurian, seperti perampokan uang lebih dari satu juta dollar AS di kantor Kementerian Perminyakan di kota Mosul pada Desember 2008.

Menurut dokumen rahasia tersebut, Tanzim Al Qaeda lahir di Irak akibat invasi AS ke negara itu tahun 2003.

Dikatakan, hingga tahun 2004 belum ada kehadiran Tanzim Al Qaeda di Irak secara signifikan, kecuali hanya segelintir individu loyalis Tanzim Al Qaeda yang dapat ditangkap saat itu dan informasi intelijen tentang aktivitas Ansar al-Islam loyalis Al Qaeda di wilayah Kurdistan.

Nama Tanzim Al Qaeda di Irak mulai diperhitungkan secara serius sejak Juli 2005 ketika pemimpinnya saat itu, Abu Musab Al Zarqawi, berani tampil di publik.

Meski demikian, dokumen rahasia yang dirilis WikiLeaks itu tidak memberikan gambaran peta kekuatan dan gerak Tanzim Al Qaeda secara jelas dan akurat karena aparat keamanan dan dinas intelijen AS sering gagal mengevaluasi secara profesional gerak-gerik Tanzim Al Qaeda di Irak.

Dinas intelijen AS sering berlebihan melihat ancaman Tanzim Al Qaeda di Irak, seperti melihat ancaman Al Zarqawi pada September 2005 untuk menyerang penjara Abu Ghraib dan membebaskan tahanan dari penjara tersebut.

Kartel Narkoba Meksiko Kembali Membantai 30 Anak Anak Yang Sedang Pesta Ulang Tahun

Sekelompok pria bersenjata kembali menebar aksi mautnya pada hari Sabtu (23/10) di Ciudad Juarez, kota perbatasan di Meksiko utara. Mereka menembak mati 13 remaja dan pemuda yang sedang bersukaria merayakan pesta ulang tahun seorang remaja.

Sekitar 20 pria bersenjata api, dengan menumpang dua mobil, menyerang dua rumah bertetangga di perumahan kelas menengah bawah di Distrik Horizontes del Sur, Ciudad Juarez, ibu kota Chihuahua. Saat itu 33 anak muda sedang bersukaria merayakan hari ulang tahun ke-15 seorang remaja pria. Mereka menembak membabi buta hingga 13 orang tewas seketika.

Berdasarkan hasil identifikasi polisi, para korban tewas berusia 13 tahun hingga 32 tahun. Jaksa Agung Chihuahua, Carlos Salas, dalam jumpa pers menjelaskan, di antara korban tewas itu ada 6 perempuan. ”Sebagian besar korban tewas itu adalah pelajar sekolah menengah atas,” kata seorang remaja yang luput dari serangan tersebut.

Salas menjelaskan, kekerasan senjata itu juga menyebabkan 20 orang lain terluka, termasuk seorang bocah pria berusia 9 tahun. Beberapa korban dibawa ke rumah sakit. ”Saya ingin mati bersama putriku. Kami ingin keadilan meski putri saya takkan hidup lagi,” kata seorang ibu meratapi putrinya berusia 19 tahun yang juga tewas.

Polisi menemukan 70 selongsong peluru. Petugas menduga, kekerasan ini melibatkan geng atau kartel narkoba. Ciudad Juarez, kota di seberang El Paso, Texas, Amerika Serikat, telah lama menjadi medan perang antara kartel Sinaloa dan Juarez. Mereka ingin menguasai jalur gemuk peredaran narkoba lintas negara ke Texas.

Kota paling mematikan

Ciudad Juarez termasuk salah satu kota paling mematikan di dunia. Dari sudut kekerasan akibat narkoba, kota ini justru paling mematikan sejagat. Pedagang buah di kota ini, seperti pernah dikutip Harper’s Magazine, sampai mengatakan, ”Iblis pun takut tinggal di sini.”

Ciudad Juarez, kota berpenduduk sekitar 2,1 juta orang, memiliki sekitar 100.000 pencandu, tidak termasuk kaki tangan, pengedar, dan jaringan besar kartel narkoba. Kartel lokal terkenal selain Juarez adalah Los Rebeldes, El Diablo, dan El Grande. Kartel Sinaloa, sering bertarung dengan Juarez, berasal dari pantai barat.

Sejak awal tahun hingga Oktober 2010, 200.000 lebih warga telah pindah keluar dari Ciudad Juarez. Jumlah korban tewas akibat kekerasan dalam 10 bulan terakhir ini sekitar 2.000 orang. Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 6.500 orang tewas. Mereka umumnya dibantai dan ditembak mati antara lain di bar, restoran, dan klinik rehabilitasi narkoba.

Dalam tahun 2010 hingga Oktober, kekerasan yang menyasar rumah pribadi terus meningkat. Sebelum kasus terbaru ini, tepatnya pada 7 Oktober, sekelompok pria bersenjata menyatroni dua rumah. Sebanyak 7 orang tewas di sebuah rumah yang sedang menggelar pesta keluarga. Selain itu, 2 orang juga tewas di rumah tetangganya.

Sebelumnya, 31 Januari lalu, 23 orang tewas dalam dua kekerasan akibat narkoba di Ciudad Juarez. Salah satunya akibat kelompok bersenjata menyerang sebuah rumah yang tengah menggelar pesta ulang tahun remaja SMA. Di antara korban tewas, ada 16 pelajar. Pada 11 Juni, sekelompok pria bersenjata juga menembak mati 19 orang di klinik rehabilitasi narkoba.

Kekerasan terbaru pada hari Sabtu itu juga terjadi tidak jauh dari kasus 31 Januari. Selain itu, dua rumah yang diserang juga terletak 1,5 kilometer dari tempat penyergapan kelompok bersenjata terhadap seorang perempuan, mantan menteri keamanan negara, pada April lalu. Ia selamat dari sergapan itu, tetapi kemudian meletakkan jabatannya.

Korban kekerasan akibat perang antarkartel narkoba di Meksiko kini mulai menyasar ke kompleks perumahan. Korban paling banyak adalah remaja, pelajar dan atlet. Kata penyidik, 13 anak muda yang tewas kali ini akibat geng Juarez yang mencari anggota geng Sinaloa. Di seluruh Meksiko, dalam lima tahun terakhir lebih dari 29.000 orang tewas akibat kekerasan narkoba