Monthly Archives: June 2009

Demi Cinta Pria China Rela Berjalan 400 Km Guna Meraih Hati Sang Kekasih … Romantis Euy

Demi cinta, seorang pria dari kotapraja Chongqing, berjalan lebih dari 400 kilometer ke Chengdu, provinsi Sichuan, dengan harapan dapat menaklukkan hati mantan pacarnya.

Namun apa mau dikata, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak! Semua jerih payah sang pemuda berakhir dengan kegagalan, demikian laporan kantor berita resmi China, Xinhua.

Setelah memutuskan hubungan dengan pacarnya sesudah empat tahun menjalin asmara, pemuda itu menyadari ia tak dapat hidup tanpa sang gadis, kata Xinhua.

Dengan tekad bulat, katanya, ia pun mengumumkan bahwa ia akan berjalan kaki untuk menyambangi universitas tempat mantan kekasihnya menimba ilmu di Chengdu untuk kembali merebut hatinya.

Ia sampai di universitas tempat sang gadis belajar setelah menempuh perjalanan selama 15 hari.

Akan tetapi, sang mantan kekasih juga telah mengambil keputusan bahwa ia telah melanjutkan hidupnya tanpa sang pria karena telah memiliki pria lain yang juga telah lama menunggunya untuk putus dengan sang pacar lama.

Advertisements

Bom Meledak Dekat Rumah Wapres Nepal

Sebuah bom meledak persis di luar rumah wakil presiden Nepal di sebuah daerah pinggiran kota Kathmandu, Jumat, melukai satu orang, kata polisi.

Wakil Presiden Paramananda Jha, yang berada di rumah pada waktu itu, tidak terluka, jelas keluarganya.

“Itu adalah bahan peledak yang besar di luar rumah tersebut tapi tidak ada orang dari keluarga itu yang terluka,” ujar Jyoti Jha, seorang pembantu wapres.

Polisi mengatakan tidak jelas siapa yang menempatkan bahan peledak itu.

Jha, seorang anggota masyarakat etnik minoritas Madheshi yang mendominasi dataran selatan Nepal, telah dalam berita sejak ia dilantik tahun lalu dalam bahasa Hindi ketimbang bahasa Nepal, yang memicu protes kemarahan.

Seorang penjaga keamanan terluka dalam ledakan yang sama di rumahnya tahun lalu.

Pekan lalu mahkamah agung memutuskan bahwa “keabsahan wakil presiden tidak akan diakui” jika Jha gagal diambil sumpahnya kembali dengan menggunakan bahasa Nepal dalam tujuh hari.

Partai-partai politik yang bermarkas di dataran selatan negara Himalaya itu menyebut keputusan tersebut sebagai “berprasangka” dan mengatakan wakil presiden tidak perlu mengangkat sumpah lagi.

Partai-partai Madeshi menopang koalisi yang berkuasa. Hindi bukan bahasa resmi tapi secara luas digunakan untuk bercakap-cakap sehari-hari di dataran bagian selatan negara itu.

Perdana Menteri Madhav Kumar Nepal telah mendesak Jha untuk mengangkat sumpah dalam bahasa Nepal dan menghormati putusan pengadilan.

Perselisihan tersebut telah menjadi masalah yang memusingkan bagi pemerintah yang dibentuk setelah bekas pemberontak Maois mundur di tengah percekcokan mengenai pemecatan pemimpin militer negara itu.

Jha terpilih sebagai wakil presiden pertama Nepal tahun lalu setelah negara Himalaya itu menghapuskan monarki dan menjadi republik