Category Archives: China

Hujan Lebat Selama Sebulan … 31 Orang Tewas Di China

Hujan lebat selama satu bulan belakangan telah membuat 31 orang tewas atau hilang di Provinsi Guizhou di bagian barat-daya Tiongkok, kata pemerintah lokal pada Jumat (5/6).

Hujan lebat mengakibatkan banjir dan tanah longsor di Guizhou sejak 14 Mei. Lebih dari 1,42 juta orang terpengaruh dan 83.000 orang lagi dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, kata Departemen Urusan Sipil provinsi tersebut.

Lebih dari 1.100 rumah telah hancur dan 56.600 hektare lahan pertanian rusak, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi langsung sebesar 2,7 miliar yuan (435 juta dolar AS), kata departemen itu, sebagaimana dilaporkan Xinhua, Sabtu.

Provinsi tersebut diperkirakan menghadapi hujan lebat lagi selama dua hari ke depan.

Hujan lebat di Tiongkok Selatan sejak Minggu (31/5) juga mempengaruhi siswa sekolah menengah yang mengikuti “Gaokao”, ujian tahunan masuk perguruan tinggi, kata Pusat Meteorologi Nasional pada Jumat.

Hujan lebat mengguyur beberapa derah di provinsi tersebut termasuk Hubei, Anhui, Zhejiang, Jiangxi, Hunan dan Guangxi selama tiga hari, demikian prakiraan pusat meteorologi itu.

Pusat tersebut juga memperingatkan mengenai hujan badai dan angin kencang di wilayah itu serta mendesak semua pelajar agar berhati-hati saat melakukan perjalanan.

Wilayah Tiongkok Timur-laut juga dkan dipengaruhi oleh hujan lebat dan petir selama masa ujian sekolah, kata pusat meteorologi tersebut.

Sebanyak 9,42 juta siswa diperkirakan duduk menghadapi ujian yang melelahkan mulai Ahad. Ujian itu akan memutuskan pakah seorang siswa bisa masuk perguruan tinggi, kembali ke sekolah selama setahun lagi, atau berusaha mendapat pekerjaan. Ujian tersebut di beberapa provinsi berlangsung selama dua hari, dan tiga hari di wilayah lain.

Rusia dan China Buat Pakta Pertahanan Perang Cyber

Rusia dan Tiongkok menjalin sebuah perjanjian damai dalam hal cyber security. Kedua negara tersebut berjanji untuk tidak saling menyerang di dunia cyber, seperti dilaporkan oleh Wall Street Journal, Minggu (10/5/2015). Selain itu, mereka juga menyatakan akan saling berbagi informasi dan teknologi — salah satunya mengenai data ancaman cyber — antara agensi penegak hukumnya. Keduanya pun akan saling menjaga keamanan dari serangan-serangan yang dapat mengancam kondisi polik dan sosial ekonomi di kedua negara tersebut.

‘Kemesraan’ Rusia dan Tiongkok ini sebenarnya sudah terjalin sejak masa perang dingin. Namun belakangan ini, Rusia lebih sering berpihak ke Timur, terutama sejak aksi militer Rusia ke Ukraina yang punya efek buruk ke hubungannya ke Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Perjanjian ini disebut sebagai Wall Street Journal sebagai usaha Beijing dan Moscow untuk mengubah kebijakan internet secara global, yang akan mengurangi peran Amerika Serikat. Keduanya percaya bahwa pemerintah seharusnya mempunyai kontrol yang lebih ketat terhadap internet, juga informasi digital milik warga negaranya.

Ini juga sejalan dengan pernyataan menteri komunikasi Rusia Nikolai Nikiforov, yang membayangkan sebuah aksi mengisolasi jejaring internet di Rusia, seandainya Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa ‘mematikan’ mereka dari internet. Taiwan ingin bergabung dalam pelatihan anti serangan cyber yang dilakukan Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutunya. Ini mereka lakukan untuk melindungi negaranya dari serangan hacker Tiongkok.

Demikian dikatakan oleh Simon Chang, Wakil Perdana Menteri Taiwan. Menurutnya, banyak kasus peretasan di Taiwan yang terlacak berasal dari People Liberation Army milik Tiongkok. Tuduhan ini tentu dibantah keras oleh pihak Tiongkok. “Taiwan sebenarnya tak mempunyai musuh di komunitas internasional kecuali kamu tahu siapa. Siapa negara di dunia ini yang mau mencoba meretas Taiwan?” keluh Chang, yang mantan direktur operasi hardware Google Asia.

Agar AS bersedia menyertakan Taiwan dalam pelatihan bernama ‘Cyber Storm’ tersebut, Chang kembali menegaskan bahwa Taiwan seringkali dijadikan ‘tempat latihan’ bagi peretas Tiongkok. Di mana mereka menguji serangan-serangan cyber tercanggihnya. “Amerika Serikat punya pelatihan ‘Cyber Storm’ – kami tak diundang. Kami ingin sekali diundang,” ujar Chang. seperti dikutip dari Reuters, Rabu (1/4/2015).

Pelatihan yang dimaksud oleh Chang itu dilakukan setiap dua tahun sekali, seperti yang tercantum dalam situs milik US Departement of Homeland Security, yang sayangnya tak mencantumkan waktu pelaksanaan latihan tersebut. Taiwan sudah pernah mengundang pihak AS untuk mengamati latihan sejenis yang mereka adakan sendiri di negaranya, tepatnya pada tahun 2013.

Ketakutan Taiwan ini tentu punya dasar. Menurut penelitian FireEye –biro peneliti keamanan data — Taiwan adalah negara di Asia Pasifik yang paling banyak menerima serangan cyber selama enam bulan pertama di tahun 2014. Serangan cyber itu paling banyak dilakukan untuk mencuri data.

China Bangun Terowongan Bawah Tanah Di Bawah Gunung Everest

China sedang berencana untuk menggali jauh di bawah Gunung Everest guna membangun sebuah jalur kereta api ke Nepal. Kalau terowongan kereta api itu terwujud, perjalanan sehari dengan kereta api antara Calcutta dan Beijing menjadi mungkin.

Sebuah jalur kereta api telah beroperasi dari Xining di China tengah hingga ke Tibet. Namun, sejumlah pejabat China mengatakan bahwa Nepal telah meminta agar rute itu diperpanjang sampai ke perbatasan dan ke Kathmandu.

Sejumlah laporan di Kathmandu menyatakan, jalur yang diusulkan itu kemudian bisa terus ke Lumbini, sebuah Situs Warisan Dunia. Untuk bisa sampai ke sana, jalur itu harus lewat di bawah Everest.

“Jalur itu mungkin akan harus melalui Everest sehingga para pekerja mungkin harus menggali sejumlah terowongan yang sangat panjang,” kata Wang Mengshu, ahli kereta api di Chinese Academy of Engineering.

Dia mengatakan kepada harian China Daily bahwa persiapan pekerjaan sedang berlangsung atas permintaan Nepal. Namun, dia mengatakan, karena medan Himalaya yang menantang, kereta di setiap jalur ke Kathmandu mungkin akan memiliki kecepatan maksimum 80 kilometer per jam.

Proposal tersebut menegaskan pengaruh China di Nepal, ketika Beijing sudah beberapa tahun membangun jalan dan menginvestasikan miliaran dollar dalam pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan telekomunikasi.

Jalur itu akan menyediakan rute bagi para wisatawan dari Beijing ke Lumbini, di mana Buddha lahir. Jalur tersebut akan menarik sejumlah besar wisatawan dan peziarah, dan China telah menyuarakan kesiapannya untuk membantu mengembangkan kota itu.

Beberapa pejabat mengatakan, jalur tersebut bisa selesai tahun 2020 dan para analis telah menyatakan jalur itu juga bisa diperluas ke India sehingga berpotensi menciptakan salah satu perjalanan besar di dunia kereta api, dari Beijing ke Calcutta. “Jika proposal tersebut menjadi kenyataan, perdagangan bilateral, terutama dalam produk pertanian, akan mendapatkan dorongan yang kuat, bersama pariwisata dan pergerakan orang,” kata Wang.

Komentar Wang itu menyusul serangkaian pertemuan antara para pemimpin China dan Nepal dalam beberapa bulan terakhir, termasuk kunjungan ke Lumbini pada minggu ini oleh Wang Zuoan, Direktur Administrasi untuk Urusan Agama di China. Dia bertemu dengan Presiden Ram Baran Yadav, pemimpin Nepal, pada akhir pekan lalu untuk membahas lanjutan investasi China di Lumbini dan jaringan transportasi yang lebih baik antara kedua negara.

Jalur kereta api yang diusulkan itu bisa menghadapi tentangan dari India, yang takut akan perluasan pengaruh China di halaman belakangnya dan di Samudra Hindia. Hal itu sangat sensitif terkait kehadiran China di Nepal, tetangga terdekatnya.

Rencana China untuk memperluas jaringan kereta api di Tibet juga telah mendapat kritik dari kelompok hak asasi, termasuk dari International Campaign for Tibet. Kelompok itu memperingatkan, proyek tersebut punya “implikasi berbahaya bagi keamanan regional dan ekosistem yang rapuh dari dataran tertinggi dan terbesar di dunia itu”.

Namun,, sejumlah pejabat di New Delhi tampaknya santai saja dengan pembangunan itu dan para analis yakin hal itu bisa membawa manfaat yang signifikan bagi perdagangan India tanpa mengeluarkan biaya apa pun.

Islam Jadi Agama Terbesar Di Dunia Tahun 2070

Hasil penelitian dari Pew Research Center, Amerika Serikat, menunjukkan pertumbuhan umat muslim akan lebih banyak dibandingkan dengan jemaat Kristen di dunia dalam kurung kurang dari 60 tahun ke depan. Umat muslim pun diprediksi menjadi pemeluk agama paling besar di dunia. Dikutip dari Dailymail, jumlah seluruh pemeluk di agama di dunia akan setara dengan jumlah jemaat Kristen atau sekitar 32,3 persen pada 2070. Sedangkan, jumlah umat muslim akan terus bertambah dan diprediksi akan meningkat menjadi 35 persen dari populasi manusia pada 2100.

Pada 2100, umat muslim akan lebih banyak daripada jemaat Kristen. Yaitu, dari seluruh populasi di dunia, 35 persen akan menjadi umat muslim, sedangkan 34 persen menjadi jemaat Kristen. Sisanya, Hindu, Buddha, agama lokal, Yahudi, dan tidak beragama. Data yang dikumpulkan Pew menunjukkan pertumbuhan jumlah umat Islam terbesar datang dari India dan Benua Afrika. Negara-negara sub-Sahara juga akan menyumbangkan populasi muslim baru terbesar selama tiga dekade mendatang. “Jumlah negara dengan mayoritas Kristen pun akan turun, dari 159 menjadi 151,” kata laporan Pew Research Center yang dikutip Dailymail, Ahad, 5 April 2015.

Di beberapa negara, seperti Inggris, Australia, Benin, Bosnia-Herzegovina, Prancis, Belanda, Selandia Baru, dan Republik Makedonia, tingkat populasi jemaat Kristen akan kurang dari 50 persen. Tetapi, pertumbuhan umat Islam di Eropa akan berkembang. “Di Eropa muslim akan mencapai 10 persen dari total populasi pada 2050,” tulis laporan Pew. Sebagai gantinya, Islam akan menjadi agama mayoritas di 51 negara.

Selain itu, data ini dipengaruhi situasi Cina sebagai negara dengan penduduk terbesar sejagat. Saat ini, mayoritas warga Negeri Tirai Bambu tidak memeluk agama apa pun. Pew meramalkan akan ada peningkatan 5 persen untuk pemeluk Kristen di Cina, tapi itu tidak mengubah prediksi awal soal pertumbuhan umat muslim yang pesat lima dekade lagi.

Penelitian Pew ini berdasarkan data yang dimiliki oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan jumlah penduduk pada 2010 dengan total 6,9 miliar jiwa. Pada tahun itu, agama Kristen menjadi mayoritas dengan total 31,4 persen atau sekitar 2,2 miliar jiwa. Sedangkan, agama Islam, sekitar 23,2 persen atau sekitar 1,6 miliar jiwa. Tidak beragama 16,4 persen atau sekitar 1,1 miliar orang. Agama Hindu di angka 15 persen atau sekitar 1 miliar jiwa.

Sedangkan agama Buddha mencapai 7,1 persen atau sekitar 487,8 juta jiwa. Agama lokal di angka 5,9 persen atau sekitar 404,6 juta jiwa. Yahudi 0,2 persen atau sekitar 13,8 juta jiwa. Dan agama lainnya mencapai 0,8 persen atau sekitar 58,1 juta jiwa.

Pada 2050 dengan total populasi manusia yang diprediksi mencapai 9,3 miliar. Populasi jemaat Kristen pun nyaris diimbangi umat Islam. Yaitu, agama Kristen di angka 31,4 persen dengan total 2,9 miliar jiwa. Agama Islam dengan angka 29,7 persen atau sekitar 2,8 miliar jiwa. Tidak beragama 13,2 persen atau sekitar 1,2 miliar jiwa. Agama Hindu 14,9 persen atau sekitar 1,4 miliar jiwa.

Pertumbuhan umat muslim di dunia diprediksi lebih banyak dibandingkan dengan jemaat Kristen. Pernyataan itu hasil penelitian Pew Research Center, Amerika Serikat. Bahkan, Pew menyebutkan jumlah umat muslim diprediksi menjadi pemeluk agama paling besar di dunia pada 2070. Hasil riset Pew menjelaskan, pertumbuhan umat muslim di dunia terjadi karena beberapa hal. Pertama, perkembangan umat Islam terbesar datang dari India dan Benua Afrika. Seperti di India, walau mayoritas penduduknya beragama Hindu, jumlah pemeluk Islam pada 2050 atau 2070 akan menjadi paling besar di dunia.

“Jumlah penganut Islam di India melebihi umat muslim di Indonesia,” kata laporan Pew Research Center, seperti yang dikutip dari laman resmi lembaga riset itu, awal April 2015. Negara-negara sub-Sahara juga akan menyumbangkan populasi muslim baru terbesar selama tiga dekade mendatang. Kedua, beberapa negara seperti Inggris, Australia, Benin, Bosnia-Herzegovina, Prancis, Belanda, Selandia Baru, dan Republik Makedonia, tingkat populasi umat Kristen berkurang dari 50 persen. Namun, pertumbuhan umat Islam di Eropa akan berkembang. Di Eropa, jumlah muslim mencapai 10 persen dari total populasi pada 2050. Islam pun menjadi agama mayoritas di 51 negara.

Ketiga, pertumbuhan agama Kristen di Amerika Serikat turun lebih dari tiga perempat dari populasi pada 2010 dan menjadi dua pertiga pada 2050. Agama Yahudi pun tidak akan menjadi terbesar setelah Kristen. “Umat muslim lebih banyak di Amerika dibandingkan orang yang mengaku Yahudi sebagai dasar agama,” ujar laporan Pew.

Keempat, secara global, umat Islam di dunia memiliki tingkat kesuburan tinggi. Rata-rata, 3,1 anak per perempuan. Sedangkan, jemaat Kristen memiliki rata-rata 2,7 anak per perempuan dan Yahudi rata-rata 2,3 anak per perempuan. Jika hal tersebut tidak banyak berubah, jumlah seluruh pemeluk di agama di dunia akan setara dengan jumlah jemaat Kristen atau sekitar 32,3 persen pada 2070. Sedangkan, jumlah umat muslim akan terus bertambah dan diprediksi meningkat menjadi 35 persen dari populasi manusia pada 2100.

Pada 2100, umat muslim akan lebih banyak daripada jemaat Kristen. Yaitu, dari seluruh populasi di dunia, 35 persen akan memeluk agama Islam, sedangkan 34 persen menjadi jemaat Kristen. Sisanya, adalah pemeluk Hindu, Buddha, agama kepercayaan, Yahudi, dan warga tidak beragama.

Penelitian Pew ini berdasarkan data yang dimiliki oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan jumlah penduduk pada 2010 dengan total 6,9 miliar jiwa. Pada tahun itu, agama Kristen menjadi mayoritas dengan total 31,4 persen atau sekitar 2,2 miliar jiwa. Sedangkan, agama Islam, sekitar 23,2 persen atau sekitar 1,6 miliar jiwa. Tidak beragama 16,4 persen atau sekitar 1,1 miliar orang. Agama Hindu di angka 15 persen atau sekitar 1 miliar jiwa.

Sedangkan agama Buddha mencapai 7,1 persen atau sekitar 487,8 juta jiwa. Agama lokal di angka 5,9 persen atau sekitar 404,6 juta jiwa. Yahudi 0,2 persen atau sekitar 13,8 juta jiwa. Dan agama lainnya mencapai 0,8 persen atau sekitar 58,1 juta jiwa. Agama Buddha 5,2 persen atau sekitar 487 juta jiwa. Agama lokal sekitar 4,8 persen atau 450 juta jiwa. Yahudi 0,2 persen atau sekitar 16 juta jiwa. Dan agama lainnya 0,8 persen atau sekitar 61,4 juta jiwa.

Pada 2050 dengan total populasi manusia yang diprediksi mencapai 9,3 miliar. Populasi jemaat Kristen pun nyaris diimbangi umat Islam. Yaitu, agama Kristen di angka 31,4 persen dengan total 2,9 miliar jiwa. Agama Islam dengan angka 29,7 persen atau sekitar 2,8 miliar jiwa. Tidak beragama 13,2 persen atau sekitar 1,2 miliar jiwa. Agama Hindu 14,9 persen atau sekitar 1,4 miliar jiwa.

Amerika Kecam Pemblokiran Gmail Karena Sebabkan Kesulitan Memata Matai Cina

Pemerintah Amerika Serikat menyampaikan kekhawatiran terkait pemblokiran akses layanan surat elektronik populer Google, Gmail oleh Tiongkok.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jeffrey Rathke mengatakan penyensoran media tidak sesuai dengan aspirasi Tiongkok untuk membangun ekonomi dan masyarakat berbasis informasi.

“Jadi kami mendorong Tiongkok untuk transparan dalam memperlakukan perusahaan-perusahaan internasional dan mempertimbangkan sinyal yang dikirim ke pasar dengan tindakan-tindakan seperti itu,” kata Jeffrey Rathke.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok membantah pihaknya mengetahui layanan e-mail Google diblokir. Melalui seorang juru bicara, Tiongkok mengatakan negara itu menyambut investor asing yang melakukan bisnis sesuai dengan aturan yang berlaku.

Data dari perusahaan raksasa internet itu menunjukkan lalu lintas online dari Tiongkok ke Gmail turun drastis pada Jumat dan belum pulih. Wartawan BBC di Beijing Martin Patience melaporkan Google telah memeriksa layanan e-mailnya dan tidak mengalami masalah teknis.

Layanan Google, lanjut Patience, banyak digunakan oleh aktivis dan pembangkang yang berusaha agar komunikasi mereka tidak disadap oleh pihak berwenang.

Video Saat Presiden Putin Pakaikan Mantel Ke Tubuh Istri Presiden Cina Peng Liyuan Di Blokir

Potongan video saat Presiden Rusia Vladimir Putin memakaikan mantel kepada Peng Liyuan, istri Presiden Cina Xi Jinping, sempat ramai dibicarakan oleh netizen di Weibo (Twitter versi Cina) dan aplikasi chatting WeChat. Namun, kini tautan video dengan judul “Putin Gives Peng Liyuan His Coat” dikabarkan sudah diblokir oleh pemerintah Cina.

“Weibo tentang video itu menyebar dengan sangat cepat. Hingga tadi pagi, masih ada sejumlah pengguna media sosial yang membahasnya,” kata seorang pejabat, seperti dilaporkan CNN, Selasa, 11 November 2014. Menurut laporan, pencarian link video, dan komentar terkait dengan adegan itu sudah rusak alias tidak bisa dibuka lewat Internet. Namun, masih terdapat tautan foto tentang keakraban Putin dan Peng di acara APEC di Beijing, Cina, kemarin.

Belum ada komentar resmi dari Presiden Xi ataupun para pejabatnya. Media pemerintah Xinhua dan saluran CCTV yang pertama kali menyiarkan adegan itu juga tidak memberikan komentar. Cina memang berusaha mati-matian agar APEC yang digelar di negaraya dapat memproyeksikan citra yang bersih. Adegan Putin kepada Peng juga bukan satu-satunya yang disensor oleh pemerintah.

Sejak persiapan APEC pekan lalu, pemerintah mengontrol dengan sangat hati-hati nama-nama pejabat Cina di media sosial, khawatir akan ada kritik yang dilayangkan pengguna kepada mereka terkait dengan isu korupsi dan terbaca oleh media asing. Istri Presiden Cina Xi Jinping, Peng Liyuan, mendadak ramai dibicarakan oleh media internasional. Ini dipicu ulah Presiden Rusia Vladimir Putin memakaikan mantel untuk Peng saat acara penutupan APEC di Beijing, Cina, Selasa, 11 November 2014.

Dikutip dari Time, Selasa, 11 November 2014, Peng dulunya adalah seorang penyanyi sopran dan artis panggung yang sangat populer, bahkan lebih terkenal daripada Jinping sebelum menjabat sebagai presiden. Saat itu, wanita 51 tahun ini juga rutin tampil di stasiun televisi CCTV dalam acara perayaan Tahun Baru Cina.

Peng sering mendapatkan penghargaan di berbagai kompetisi menyanyi tingkat nasional. Lagu People from Our Village, Zhumulangma, dan In The Field of Hope membuat Peng semakin dikenal publik. Dia adalah orang Cina pertama yang mendapatkan gelar master dalam bidang musik etnik tradisional pada 1980-an. Peng juga masuk sebagai 57 wanita paling perpengaruh di dunia versi Forbes. Di balik wajah cantiknya, Peng pernah bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat pada 1980 saat usianya baru 18 tahun. Berawal menjabat sebagai prajurit biasa, kini wanita asal Yuncheng itu memegang peringkat setara sipil mayor jenderal.

Peng menikahi Jinping pada 1987 dan dikaruniai seorang putra bernama Xi Mingze. Para pejabat propaganda tengah berupaya membangun citra Xi dan Peng sebagai pasangan yang romantis dan penuh kasih yang dicintai oleh warga Cina.

Sumarti Ningsih WNI Indonesia Dibunuh Oleh Bankir Merrill Lynch Rurik Jutting Di Hong Kong

Pembunuhan dua wanita, salah satunya WNI, oleh Rurik Jutting, bankir sukses di Hong Kong menggemparkan kota tersebut. Terlebih lagi pembunuhan itu terjadi di apartemen mewah yang berada di distrik Wan Chai. Apartemen tersebut banyak dihuni para profesional finansial. “Sangat mengejutkan karena kami tak pernah mengira sesuatu seperti ini terjadi di Hong Kong, khususnya di gedung yang sama tempat saya tinggal,” ujar bankir setempat bernama Mina Liu seperti dilansir kantor Reuters, Senin (3/11/2014).

Dilaporkan bahwa harga sewa rata-rata unit apartemen yang ditinggali Jutting adalah 30 ribu dolar Hong Kong (hampir US$ 4 ribu) per bulan. Distrik Wan Chai sendiri dikenal sebagai lokasi hiburan malam yang populer di kalangan pria ekspatriat dan pekerja seks dari Asia Tenggara. Diberitakan bahwa polisi tiba di apartemen Jutting yang berada di lantai 31 pada Sabtu, 1 November. Polisi saat itu menemukan salah satu korban, Jesse Lorena Ruri (30) masih hidup, meski dengan luka tikaman parah di leher dan bokongnya. Namun wanita malang itu meninggal tak lama kemudian.

Delapan jam kemudian, saat polisi melakukan pemeriksaan forensik di flat tersebut, polisi menemukan sebuah koper di balkon. Tampak dua kaki menjulur keluar. Mayat dengan kepala nyaris terpenggal tersebut diidentifikasi sebagai Sumarti Ningsih (25), WNI. Kedua kaki dan tangannya terikat. Kedua korban oleh media setempat disebut sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Mengenai Jutting, pria berumur 29 tahun itu tadinya bekerja sebagai trader di bank terkemuka Amerika Serikat, Bank of America Merrill Lynch. Namun lulusan Universitas Cambridge, Inggris itu telah mengundurkan diri dari pekerjaannya beberapa hari sebelum pembunuhan tersebut terkuak.

Belum diketahui motif pembunuhan WNI bernama Sumarti Ningsih di Hong Kong oleh bankir Inggris bernama Rurik Jutting (29). Mayat wanita berumur 25 tahun itu ditemukan dalam sebuah koper warna hitam di balkon apartemen Jutting. Jasad Ningsih ditemukan dalam keadaan bugil dan dibungkus karpet lalu dimasukkan ke dalam koper.

“Dia nyaris terpenggal dan kedua tangan dan kakinya diikat tali,” ujar sumber kepolisian Hong Kong seperti dilansir South China Morning Post, Senin (3/11/2014). Paspor WNI itu ditemukan di lokasi. Hasil penyelidikan awal mengungkapkan, jasad Ningsih telah berada dalam koper tersebut selama tiga atau empat hari dan sudah mulai membusuk.

“Kami yakin wanita itu telah meninggal selama beberapa waktu,” tutur Wan Siu-hung, pejabat kepolisian distrik Wan Chai. Korban lainnya, dikenal dengan nama Jesse Lorena Ruri (30), juga ditemukan di apartemen Jutting dalam keadaan tanpa busana. Pada tubuhnya ditemukan luka-luka tikaman di leher dan bokong. Lokasi pembunuhan ini adalah di apartemen mewah Jutting yang berada di distrik Wan Chai. Distrik ini dikenal sebagai lokasi hiburan malam yang populer di kalangan pria ekspatriat dan pekerja seks dari Asia Tenggara.

Konsulat Jenderal RI di Hong Kong masih menelusuri keberadaan keluarga Sumarti Ningsih, WNI yang dibunuh oleh bankir Inggris Rurik Jutting. Proses pemulangan jenazah pun akan dilakukan secepatnya. “Sejauh ini kami sedang men-trace jati diri dan alamat korban di Indonesia, termasuk keluarganya,” kata wakil Konjen RI di Hong Kong Rafail Walangitan, saat dihubungi Senin (3/11/2014).

Menurut Rafail, jenazah Sumarti saat ini masih di rumah sakit. Pihak kepolisian masih memeriksa jasad wanita asal Indonesia yang masuk menggunakan visa turis tersebut. “Sesegera mungkin, apabila sudah selesai, kami akan siap siaga untuk memulangkan jenazah,” tambahnya. Sumarti dibunuh Jutting di apartemen di Hong Kong. Jutting sendiri yang melapor ke polisi bahwa dia sudah membunuh Sumarti dan seorang wanita lain bernama Jesse Lorena Ruri (30).

Kejadian ini berlangsung pada Sabtu, 1 November, lalu. Polisi saat itu menemukan salah satu korban, Jesse Lorena Ruri (30) masih hidup, meski dengan luka tikaman parah di leher dan bokongnya. Namun wanita malang itu meninggal tak lama kemudian. Delapan jam kemudian, saat polisi melakukan pemeriksaan forensik di flat tersebut, polisi menemukan sebuah koper di balkon. Tampak dua kaki menjulur keluar. Mayat dengan kepala nyaris terpenggal tersebut diidentifikasi sebagai Sumarti Ningsih (25), WNI. Kedua kaki dan tangannya terikat. Kedua korban oleh media setempat disebut sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Mengenai Jutting, pria berumur 29 tahun itu tadinya bekerja sebagai trader di bank terkemuka Amerika Serikat, Bank of America Merrill Lynch. Namun lulusan Universitas Cambridge, Inggris itu telah mengundurkan diri dari pekerjaannya beberapa hari sebelum pembunuhan tersebut terkuak. Bankir muda asal Inggris, Rurik Jutting ditahan di Hong Kong atas pembunuhan dua wanita yang merupakan pekerja seks komersial (PSK). Salah satu korban dipastikan sebagai WNI bernama Sumarti Ningsih (25). Pembunuhan ini terkuak setelah Jutting sendiri yang menelepon polisi.

Lulusan Universitas Cambridge, Inggris itu menelepon polisi pada Sabtu, 1 November sekitar pukul 3 dini hari waktu setempat. Demikian seperti diberitakan Daily Mail, Senin (3/11/2014), polisi pun menemukan kedua korban pembunuhan yang diidentifikasi sebagai Sumarti Ningsih (25) dan Jesse Lorena Ruri (30). Kepolisian setempat kini tengah menyelidiki dugaan adanya korban-korban lainnya. Ini dilakukan setelah polisi menemukan sekitar 2 ribu foto dan video di telepon genggam milik Jutting. Foto-foto kedua korban juga termasuk.

Lokasi pembunuhan ini adalah di apartemen mewah Jutting yang berada di distrik Wan Chai. Distrik ini dikenal sebagai lokasi hiburan malam yang populer di kalangan pria ekspatriat dan pekerja seks dari Asia Tenggara. Oleh media setempat, seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (3/11/2014), Jutting diberitakan bekerja sebagai trader di bank terkemuka Amerika Serikat, Bank of America Merrill Lynch. Namun pria itu telah mengundurkan diri dari pekerjaannya beberapa hari sebelum pembunuhan tersebut terkuak.

Juru bicara Bank of America Merrill Lynch menyatakan kepada Reuters, bahwa seorang pegawai dengan nama yang sama dengan Jutting telah ditahan sebagai tersangka utama dua kasus pembunuhan. Namun pihak bank tidak bersedia memberikan keterangan lebih detail. Juga tidak disebutkan sejak kapan Jutting berhenti dari pekerjaannya sebagai bankir investasi di bank ternama AS tersebut.

ankir Inggris, Rurik Jutting ditahan di Hong Kong atas pembunuhan dua wanita yang dilaporkan merupakan pekerja seks komersial (PSK). Pria berumur 29 tahun itu ditangkap setelah polisi menemukan kedua jasad korban di apartemen mewahnya di Wan Chai, distrik di Hong Kong yang dikenal akan kehidupan malamnya.

Kepolisian Hong Kong belum merilis identitas kedua korban. Namun dari pemberitaan media-media lokal, seperti dilansir Daily Mail, Senin (3/11/2014), kedua korban diidentifikasi sebagai Jesse Lorena Ruri (30) dan Sumarti Ningsih (25). Pemberitaan mengenai kewarganegaraan kedua wanita tersebut masih simpang-siur. Ada yang menyebut keduanya WNI, namun ada yang menulis salah satunya adalah WNI, yakni Sumarti dan korban lainnya adalah warga Filipina, yakni Ruri.

Diberitakan bahwa polisi tiba di apartemen Jutting yang berada di lantai 31 pada Sabtu, 1 November. Polisi saat itu menemukan Ruri masih hidup meski dengan luka tikaman di leher dan bokongnya. Namun wanita malang itu meninggal tak lama kemudian. Delapan jam kemudian, saat polisi melakukan pemeriksaan forensik di flat tersebut, polisi menemukan sebuah tas koper di balkon. Tampak dua kaki menjulur keluar. Mayat dengan kepala nyaris terpenggal tersebut diidentifikasi sebagai Sumarti. Kedua kaki dan tangannya terikat.

Oleh media setempat, seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (3/11/2014), Jutting diberitakan bekerja sebagai trader di bank terkemuka Amerika Serikat, Bank of America Merrill Lynch. Namun pria itu telah mengundurkan diri dari pekerjaannya beberapa hari sebelum pembunuhan tersebut terkuak.

Juru bicara Bank of America Merrill Lynch menyatakan kepada Reuters, bahwa seorang pegawai dengan nama yang sama dengan Jutting telah ditahan sebagai tersangka utama dua kasus pembunuhan. Namun pihak bank tidak bersedia memberikan keterangan lebih detail. Juga tidak disebutkan sejak kapan Jutting mundur dari pekerjaannya sebagai bankir investasi di bank ternama AS tersebut.