Lisa Orsi Pendaki Gunung Yang Sumbangkan Seluruh Organ Tubunya Setelah Mendaki Gunung Berapi Di Indonesia

Lisa Orsi asal Derry, Irlandia Utara, yang terjatuh setelah perjalanannya mendaki sebuah gunung berapi di Indonesia, akan menyumbangkan seluruh organ tubuhnya untuk amal. Keputusan ini diambil oleh keluarganya setelah harapan hidupnya semakin menipis.

Orsi, yang bekerja sebagai fisioterapis di Bright Vision Hospital Singapura selama setahun terakhir, tengah berlibur dengan teman-teman di Indonesia minggu lalu ketika tragedi itu terjadi. Dia jatuh sakit beberapa jam setelah pulang dari pendakian, kemudian terjatuh di kamar tidur setelah mandi. BBC melaporkan bahwa dia menderita kesulitan bernapas saat ditolong rekan-rekannya.

Mereka bergegas membawanya ke rumah sakit setempat, di mana ia kemudian dibantu dengan mesin penunjang hidup karena kondisinya memburuk dengan cepat. Orsi dikatakan telah menderita kerusakan otak parah dan saat ini dalam keadaan koma.

Surat kabar Belfast Telegraph melaporkan bahwa orang tua Orsi, Dennis dan Sharon Orsi, yang diterbangkan ke Indonesia untuk melihat kondisinya, memberikan izin untuk putrinya dibawa ke Singapura di mana organ tubuhnya akan disumbangkan. Mereka mengaku menerima kondisi bahwa Orsi hanya memiliki sedikit harapan untuk pulih.

“Kami berharap untuk sebuah keajaiban, tapi sayangnya itu tidak terjadi. Tapi Lisa akan menciptakan keajaiban untuk enam orang lain melalui donasi organnya,” kata Peter, sang paman. Dia mengatakan bahwa Orsi akan diangkut dengan ambulans udara ke Bright Vision Hospital.

“Lisa begitu bugar, sehat, dan penuh vitalitas. Saya pikir adalah indah bahwa dia akan memberikan kebahagiaan hidup kepada orang lain,” katanya.

Lisa sangat populer di antara masyarakat Irlandia yang tinggal di Singapura. Dia membantu membentuk tim olahraga Gaelic, Singapura Gaelic Lions. Saat ini rekan-rekannya melakukan penggalangan dana untuk membayar biaya medisnya yang sudah terkumpul sebanyak US$ 7.000.

ISIS Kembali Culik 150 Warga Kristen Suriah

Kelompok bersenjata Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menculik lagi 70-150 warga Kristen Suriah. Menurut aktivis, para korban hilang pada Selasa, 24 Februari 2015, di Suriah timur. Penculikan itu, ujar aktivis itu, berlangsung setelah kelompok ISIS berhasil merebut dua perkampungan warga Suriah dari kaum Kurdi yang terletak di sepanjang Sungai Khabur di Provinsi Hassakeh, Senin, 23 Februari 2015.

Dewan Nasional Suriah, kelompok yang mewakili sejumlah LSM di dalam dan luar negeri, mengatakan kepada kantor berita Reuters mereka telah memverifikasi setidaknya 150 orang hilang, termasuk perempuan dan orang lanjut usia. Adapun Syrian Observatory for Human Rights, pemerhati hak asasi manusia berbasis di London, menyatakan 90 orang telah diculik. Sedangkan aktivis lain, Nuri Kino, menyebut 70-100 warga Suriah dibawa lari.

Saat ini sekitar 3.000 orang mengungsi ke Kota Hassakeh dan Qamishli. Menurut para aktivis, angka itu diperoleh berdasarkan percakapan dengan warga desa yang melarikan diri akibat serangan dan informasi dari keluarga mereka.

“Bukankah mereka telah menggorok leher, apakah mereka masih hidup. Kami semua sedang mencari kabar,” kata seorang perempuan Kristen Suriah di daerah yang terkena serangan di Beirut kepada Associated Press. Perempuan yang tidak disebutkan namanya ini mengaku sedang mencari tahu apa yang terjadi dengan orang tua, kakak, dan anak-anaknya. Namun dia tidak ketemu satu orang pun di desa tersebut.

Assyrian Network for Human Rights di Suriah menjelaskan dalam laman Facebook bahwa milisi kelompok bersenjata itu memindahkan para korban penculikan ke Desa Umm-al-Masamir di Gunung Abdulaziz, sekitar 25 kilometer sebelah selatan Kota Tel Tamr. “Mereka bisa dijadikan tameng hidup oleh ISIS untuk berperang melawan militan Kurdi.” Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menculik puluhan warga Kristen Asyria di timur laut Suriah. Jumlah pasti mereka yang diculik belum jelas, diduga antara 70 hingga 150 orang.

Penculikan dilaporkan terjadi setelah pejuang ISIS menguasai Desa Asyur dari pasukan Kurdi di Provinsi Hassakeh, Senin. Desa-desa ini dihuni oleh minoritas Kristen ortodoks yang terletak di dekat Tel Tamr, kota utama Asiria.

The Syriac National Council of Syria, sebuah kelompok yang mewakili beberapa LSM dalam dan luar negeri, mengatakan kepada Reuters bahwa mereka telah menverifikasi sedikitnya 150 orang hilang, termasuk perempuan dan lansia. Sedang kelompok The Syrian Observatory for Human Rights memperkirakan jumlah orang yang diculik sebanyak 90 orang.

Menurut Al Jazeera, penculikan itu tampaknya merupakan respons langsung terhadap kemajuan yang dicapai oleh pasukan Kurdi di timur laut Suriah. Hassakeh kini terbagi menjadi dua, sebagian dikuasai ISIS dan sebagian lagi oleh pasukan Kurdi.

Pejuang Kurdi yang tergabung dalam Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) sebelumnya melakukan serangan besar-besaran di provinsi itu selama beberapa hari terakhir. Mereka berhasil mengambil alih 24 desa dan dusun sebagai bagian dari operasi untuk merebut kembali Kota Tal Hamis dan sekitarnya. Tal Hamis terletak di sebelah timur desa yang dikuasai oleh ISIS.

Pasukan YPG juga melakukan serangan di Provinsi Raqqa, tetangga Hassakeh dan menguasai 19 desa menyusul keberhasilan merebut kembali kota perbatasan strategis Kobane bulan lalu. Pasukan Kurdi didukung oleh serangan udara yang dipimpin Amerika Serikat.

Timur laut Suriah merupakan wilayah yang strategis dan penting dalam memerangi ISIS karena berbatasan dengan wilayah Irak yang dikuasai oleh kelompok ini. ISIS telah menghancurkan gereja dan situs Kristen di Suriah, dan menuntut warga Kristen yang hidup di bawah kekuasaan mereka untuk membayar pajak yang dikenal sebagai jizyah atau akan disiksa dan dibunuh bagi kaum pria sedangkan kaum wanitanya akan dijadikan budak seks dilokalisasi yang dikelola oleh ISIS.

Polisi Ini Disuntik Mati Karena Tidak Masuk Kerja Akibat Sakit

Pemandangan menyedihkan terlihat di sebuah kantor polisi di New Jersey, Amerika Serikat, ketika semua anggota polisi berbaris memberikan penghormatan terakhir untuk Judge, seekor anjing gembala Jerman anggota korps K-9 yang pensiun. Sambil menggigit mainan favoritnya, anjing berusia sembilan tahun itu melewati barisan polisi yang memberinya hormat sebelum dibawa ke Rumah Sakit Hewan Swedesboro, Woolwich, New Jersey, untuk disuntik mati.

Saat melewati barisan polisi itu, Judge dituntun pawangnya yang terlihat sedih saat mengantarkan rekan kerjanya selama beberapa tahun itu. Judge terpaksa dipensiunkan karena kondisi kesehatannya yang terus menurun.

Judge mendapatkan penghormatan tak hanya di kantor polisi, setibanya di rumah sakit, anggota kepolisian West Deptford sangat terkejut karena para dokter hewan juga berbaris saat Judge tiba. Bahkan, menurut kanal berita Gloucester County Online, salah seorang dokter tak kuasa membendung tangisnya saat Judge melintas.

Tak lama kemudian, Judge dibawa ke salah satu ruangan perawatan dan disuntik mati. Selama bertugas, Judge sudah membantu polisi menangkap 152 orang, menyita tiga kendaraan, merampas tiga senjata api, obat bius, dan menyita uang kejahatan bernilai lebih dari 47.000 dollar AS.

Judge masuk menjadi anggota korps K-9 pada 2007 dan menjadi salah satu andalan kepolisian hingga terpaksa pensiun pada 2013 karena masalah kesehatan di giginya. Pada Juni tahun lalu, kesehatan Judge terus menurun. Dia kerap muntah-muntah, bulunya rontok, dan menderita perut kembung. Saat dibawa ke dokter, ditemukan banyak gumpalan di dalam tubuh Judge.

Sebelumnya, kepolisian sempat menggalang dana untuk menyelamatkan nyawa Judge. Namun, meski dana yang terkumpul mencapai 13.000 dollar AS, penyakit yang diderita Judge tak bisa disembuhkan.

Wanita Meksiko Lakukan Mastrubasi Saat Menonton 50 Shades of Grey

Seorang perempuan yang sedang menonton film 50 Shades of Grey di Meksiko ditarik keluar dari bioskop dengan tangan diborgol. Sejumlah penonton di sebuah gedung bioskop di Sinaloa, Meksiko, itu menelepon polisi setelah melihat perempuan itu melakukan masturbasi selama pemutaran film.

Perempuan 33 tahun yang belum menikah itu mendapatkan kursi yang nyaman bagi dirinya di barisan kedua belas untuk menonton film itu. Dia menonton film tersebut setelah dua hari dirilis pada Hari Valentine, 14 Februari 2015.

Polisi tiba di gedung bioskop dan langsung menangkap perempuan itu terkait perilaku tidak senonoh di depan publik. Borgol dipasang di pergelangan tangannya, dan dia dibawa pergi dari tempat itu.

Adapun film 50 Shades of Grey telah mendapat tinjauan yang beragam dari para kritikus. Film yang berdasarkan novel laris karya EL James itu dibintangi Dakota Johnson dan Jamie Dornan. Film itu mengisahkan kehidupan mahasiswi Anastasia Steele (Johnson) yang berubah ketika dia bertemu miliarder tampan Christian Grey (Dornan), dan mereka mulai menjalin hubungan.

Menurut laporan USA Today, film yang mendominasi box office pada akhir pekan lalu dengan penjualan 81,7 juta dollar AS tersebut meraup pendapat kotor 23,2 juta dollar AS pada akhir pekan ini.

Gadis Muda Inggris Di Sasar ISIS Untuk Lakukan Jihad Seks

Kicauan di Twitter oleh satu dari tiga gadis Inggris yang diduga sedang menuju Suriah untuk bergabung dengan milisi Negara Islam di Irak dan Suriah atau ISIS itu seolah membangunkan publik Inggris. Warga negeri itu pun tersadar, anak-anak perempuan mereka ternyata terus menjadi incaran jaringan kelompok ekstrem di Suriah untuk direkrut.

”Follow saya supaya saya bisa kirim pesan langsung kepada Anda,” demikian kicauan Shamima Begum (15), Minggu (15/2/2015). Di Twitter, dua pengguna yang menjadi follower satu sama lain itu bisa berkirim pesan tanpa terpantau. Menurut BBC, Begum dilaporkan mengirim pesan kepada Aqsa Mahmood (20), perempuan Skotlandia yang pergi ke Suriah pada 2013 karena ingin menjadi “pengantin jihad”.

Ia dan dua rekannya, Kadiza Sultana (16) dan Amira Abase (15), kabur dari rumah masing-masing di London timur, Selasa (17/2/2015). Pejabat Anti-Terorisme Inggris yang dikutip Guardian mengatakan, ketiganya kabur pada pagi itu sebelum pukul 08.00. Mereka adalah pelajar Akademi Bethnal Green, London.

Kepada keluarga, salah satu dari mereka meminta izin akan belajar. Namun, ketiganya ternyata bertemu di Bandara Gatwick. Mereka lalu terbang dengan pesawat Turkish Airlines TK 1966, yang lepas landas pukul 12.40, menuju Istanbul, Turki. Pesawat ini mendarat di Istanbul pukul 18.40 waktu setempat.

Turki kerap dijadikan pintu gerbang warga asing yang ingin bergabung dengan ISIS di Suriah. Hingga Minggu, ketiga gadis itu diduga masih berada di Turki. Inggris mengatakan, ketiganya pernah diwawancara polisi setelah seorang pelajar perempuan dari sekolah mereka pergi ke Suriah, Desember lalu.

Tidak ada indikasi ketiga gadis itu berisiko ikut hengkang ke Suriah. Namun, kaburnya mereka dari Inggris membuktikan otoritas negeri itu kecolongan. Melalui pernyataan yang dikutip BBC, Minggu (22/2/2015), keluarga Aqsa Mahmood mengaku sangat ketakutan dan marah. Anak perempuan mereka kemungkinan ikut berperan merekrut gadis-gadis Inggris untuk ISIS.

“Namun, ada pernyataan serius bagi aparat keamanan yang harus dijawab,” demikian pernyataan keluarga Mahmood. “Media sosial Aqsa telah dimonitor sejak ia menghilang lebih dari setahun yang lalu. Meski ada dugaan terjadi kontak gadis-gadis itu dengan Aqsa, mereka (aparat keamanan) gagal mencegah mereka meninggalkan Inggris ke Turki, pos menuju Suriah.”

Nama Aqsa Mahmood menjadi buah bibir di Inggris setelah pada November 2013 meninggalkan negaranya untuk bergabung milisi ISIS di Suriah. Setelah tiba di Suriah, ia menghubungi keluarganya dan mengabarkan ia akan menikah di negeri itu. Kepada keluarganya, Aqsa ingin menjadi syahid.

Radikalisasi di kamar tidur
Dalam wawancara dengan CNN, yang dilansir 5 September 2014, ayah Aqsa, Muzaffar, mengungkapkan, pikiran Aqsa terpengaruh setelah sering menyaksikan khotbah-khotbah secara daring dan menjalin kontak lewat media sosial dengan orang-orang yang meninggalkan Glasgow ke Suriah.

Kini, setelah tinggal di Suriah, Aqsa memanfaatkan Twitter untuk mengajak gadis lainnya dari Inggris mengikuti jejaknya pergi ke Suriah. ”Kini makin jelas, orang tidak mengalami radikalisasi di tempat-tempat ibadah. Mereka sebenarnya teradikalisasi di kamar tidur lewat internet,” kata Baroness Warsi, mantan Menteri Luar Negeri Inggris, kepada Sky News.

Pakar anti-terorisme di Inggris memperkirakan, sekitar 50 perempuan muda Inggris bergabung dengan ISIS. Banyak dari mereka diyakini tinggal di Raqqa, ibu kota ISIS di Suriah timur. Mereka, kata Sara Khan dari Inspire, organisasi penanggulangan ekstremisme, merasa menjalankan tugas agama. Padahal, tanpa disadari, mereka dieksploitasi ekstremis

Bocah Perempuan Usia 8 Tahun Dijadikan Pembom Bunuh Diri Oleh Boko Haram

Seorang bocah perempuan dengan bahan peledak yang diikatkan di tubuhnya telah menewaskan lima orang dan melukai puluhan orang lainnya di sebuah pos pemeriksaan keamanan di luar sebuah pasar di kota Potiskum di Nigeria timur laut, Minggu (22/2/2015). Demikian kata sejumlah saksi.

“(Dia) menolak untuk diperiksa di pintu gerbang pasar dan sebuah perdebatan pun terjadi,” kata Ibrahim Maishago, yang melihat serangan itu. “Dia meledakkan bom itu, menewaskan dirinya dan lima orang lainnya, dan banyak orang lain terluka.”

Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas pengeboman tersebut. Namun, tudingan diarahkan ke kelompok militan Islam Boko Haram. Kelompok pemberontak itu telah menderita serangkaian kekalahan akibat serangan militer Nigeria dan sejumlah negara tetangga, yaitu Kamerun, Niger, dan Chad.

Seorang warga, Bala Potiskum, mengatakan, ia melihat puluhan orang yang terluka dibawa ke rumah sakit setelah ledakan itu. Kedua saksi tersebut menggambarkan pengebom sebagai “gadis kecil”, yang diperkirakan berusia tidak lebih dari delapan tahun.

Para milisi dari kelompok militan itu tampaknya sedang dalam pelarian di banyak wilayah Nigeria dan wilayah di dekat perbatasan, setelah mengalami serangan besar di semua sisi. Namun, mereka masih mempertahankan kemampuannya untuk melancarkan serangan kejutan yang mematikan.

Penggunaan pengebom bunuh diri perempuan, kadang-kadang gadis-gadis cilik, telah menjadi taktik umum Boko Haram sejak tahun lalu, sebagai serangan balas dendam terhadap warga sipil ketika kelompok itu berada di bawah tekanan.

Pasukan Nigeria yang didukung serangan udara merebut kota perbatasan Baga di timur laut dari Boko Haram pada Sabtu, kata pihak militer. Itu merupakan sebuah kemenangan yang signifikan dan merupakan salah satu dari serangkaian keberhasilan pada waktu akhir-akhir ini.

Presiden Goodluck Jonathan, yang sudah lama dikecam karena tidak mengambil tindakan lebih keras terhadap Boko Haram, menghadapi pemilihan umum pada 28 Maret dengan persoalan keamanan merupakan isu utama.

Warga Indonesia Gotong Royong Kumpulkan Koin Untuk Kembalikan Bantuan Australia

Pernyataan Perdana Menteri Australia Tony Abbott yang seolah-olah meminta imbalan atas bantuan yang diberikan negeri itu kepada Indonesia tidak hanya ditentang oleh warga negara Indonesia, tapi juga warga Australia sendiri. Dalam tagar #KoinforAustralia, gerakan warga Indonesia mengumpulkan uang receh untuk mengembalikan bantuan Australia, tampak komentar-komentar miring dari warga Australia tentang Abbott. Beberapa warga Australia yang turut berkomentar tidak segan menyebut Abbott sebagai idiot, dan bahkan ada yang terang-terangan mengatakan turut membenci Abbott dan berniat melengserkannya.

“#KoinuntukAustralia Please don’t hate Australia just because our leader is an idiot. We gave that money because we cared, no strings attached,” cuit akun @Volvo_of_doom. Tulisan itu berarti: “Tolong jangan benci Australia hanya karena pemimpin kami idiot. Kami memberikan uang itu karena kami peduli, tidak ada maksud lain.”

Pemilik akun @AKFRU bahkan menyatakan juga membenci Abbott. “Hi Indonesians, we hate Abbott too and will boot him out as soon as we get the opportunity. It’s him, not us! #KoinUntukAustralia,” cuitnya, yang berarti: “Halo warga Indonesia, kami juga membenci Abbott dan akan melengserkannya begitu mendapat kesempatan. Itu adalah opininya, bukan kami! #KoinUntukAustralia.”

Seorang pengguna Twitter lain, Jessica Gallagher, mengaku malu atas pernyataan pemimpin Australia tersebut. “As an Australian, I am completely embarrassed #CoinForAustralia,” cuit pemilik akun @jessygallagher itu, yang berarti: “Sebagai orang Australia, saya sangat malu #CoinForAustralia.”.

Gerakan #KoinuntukAustralia terus bergema di seantero negeri ini, bahkan dunia. Gerakan ini merupakan bukti bahwa jika seseorang mencoba-coba bermain opini terkait dengan kedaulatan sebuah negara, dia akan menerima akibatnya. Puluhan anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengadakan aksi pengumpulan uang koin untuk diberikan kepada pemerintah Australia. PMII menggelar aksinya di pertigaan depan Pasar Gondanglegi, Kabupaten Malang, Senin, 23 Februari 2015.

Aksi itu digelar untuk merespons pernyataan Perdana Menteri Australia Tony Abbott yang mengungkit bantuan negaranya untuk korban tsunami Aceh agar pemerintah Indonesia tidak mengeksekusi mati dua bandar narkotik asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. “Pernyataan PM Abbott itu sungguh tidak pantas diucapkan, dan kami anggap telah melecehkan kedaulatan bangsa dan merendahkan martabat rakyat Indonesia,” kata Aminullah, koordinator aksi.

Mereka meminta Presiden Joko Widodo bersikap tegas menolak permintaan Tony Abbott dengan tetap mengeksekusi mati dua gembong narkotik itu. Mereka pun meminta kepada pemerintah, warga Aceh, dan rakyat Indonesia untuk mengembalikan dana bantuan dari Australia langsung ke Tony Abbott. “Tony harus meminta maaf kepada rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Aceh,” ujar Aminullah. Menurut Aminullah, penggalangan uang koin tidak akan dilakukan di jalanan lagi. Mereka sudah membuka pos koordinasi pengumpulan koin di depan kantor Komisariat PMII Institut Agama Islam Al-Qalam, Gondanglegi. Rencananya, pos dibuka selama sebulan.

Uang yang terkumpul akan dikirim ke pemerintah pusat untuk dikembalikan ke pemerintah Australia. Hingga berita ini ditulis, PMII sudah mengumpulkan uang sekitar Rp 300 ribu. Pada 18 Februari 2015, Abbott meminta Indonesia tidak melupakan sumbangan yang diberikan rakyat Australia dalam jumlah sangat besar saat tsunami menerjang sejumlah wilayah di Indonesia pada 2004. Kemurahan hati rakyat Australia itu diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk menyelamatkan nyawa dua warga Australia yang sedang menunggu pelaksanaan eksekusi mati oleh aparat penegak hukum Indonesia.

“Mari untuk tidak melupakan beberapa tahun lalu, ketika Indonesia dihantam badai tsunami, Australia mengirimkan bantuan senilai miliaran dolar,” kata Tony Abbott, seperti dikutip dari Sydney Morning Herald, 18 Februari 2015.Aliansi Pemuda Aceh akan menggelar aksi simpatik mengumpulkan koin untuk Australia sekaligus aksi teatrikal pada siang hari ini, Senin, 23 Februari 2015, sekitar pukul 14.30 WIB di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Aksi itu merupakan protes terhadap sikap Perdana Menteri Australia Tony Abbott yang mengungkit bantuan negaranya untuk Indonesia saat terjadi tsunami Aceh pada 2004. Tujuan Abbott, menekan pemerintah Indonesia agar tidak mengeksekusi mati dua bandar narkoba asal Australia.Koordinator aksi, Darlis Azis, mengatakan aksi tersebut diikuti puluhan peserta dari lintas organisasi kepemudaan (OKP) di Aceh. “Beberapa organisasi telah dikabari dan menyambut positif,” ujar Ketua KAMMI Aceh tersebut.

Menurut dia, aksi itu juga merupakan dukungan kepada Presiden Indonesia Joko Widodo untuk menjaga marwah bangsa Indonesia. “Kami juga meminta agar segera melaksanakan vonis hukuman mati bagi gembong narkoba,” ucapnya.

Selain itu, tutur Darlis, aksi tersebut juga untuk mendesak Tony Abbott meminta maaf kepada rakyat Aceh, karena pernyataannya telah melukai masyarakat Indonesia, khususnya warga Aceh yang menjadi korban tsunami. Sebelumnya, KAMMI Aceh telah membuka posko penerimaan koin untuk Australia di kantor mereka, Lamnyong, Banda Aceh. Relawan Jokowi yang tergabung dalam Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) menyayangkan pernyatan Perdana Menteri Australia Tony Abbot yang meminta pemerintah Indonesia menghentikan eksekusi mati duo Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, karena Australia pernah membantu Indonesia pasca Tsunami Aceh 2004.

“Menurut kami, Tony Abbot telah menghina bangsa Indonesia dengan mengaitkan tsunami 2004 dengan eksekusi Bali Nine,”ujar Sihol Manullang, Ketua BaraJP, sebagaimana dikutip dari siaran pers yang diterima Minggu, 22 Februari 2015. Sihol menjelaskan, pernyataan Tony telah menghina Indonesia karena tidak konsisten yaitu di satu sisi mengatakan sumbangan selama tsunami untuk kemanusiaan, di sisi lain menentang pemberantasan kasus narkoba yang juga demi kemanusiaan. Padahal, kata Sihol, ada 50 orang Indonesia menjadi korban narkotika tiap harinya.

Sihol menyakini pernyataan Tony tidak mewakili mayoritas aspirasi rakyat Australia. Menurut ia, kecil kemungkinan rakyat Australia mendukung kenyataan tiap harinya 50 orang Indonesia tewas akibat narkotika. “Kalau mereka menyumbang korban tsunami dengan alasan kemanusiaan, maka seharusnya mereka ikut mendukung eksekusi mati bandar narkoba sebagai bentuk kepedulian terhadap korban narkoba,” ujarnya.

Sementara itu, anggota BaraJP Australia Brian Hardi mengatakan kebanyakan orang Australia justru bertanya-tanya kenapa eksekusi baru direncanakan sekarang. Menurut warga Australia, seharusnya eksekusi berlangsung begitu ada putusan inkracht. “Mengapa seperti sekarang, mereka sudah menjalani hukuman selama 10 tahun, baru dieksekusi,”ujarnya.