Monthly Archives: November 2011

Rusia Siap Gelar Rudal Nuklir Taktis Di Belarusia Untuk Hadapi Ancaman Amerika Serikat

Moskow telah mengancam untuk mengerahkan rudal-rudal taktis di Belarusia dan di perbatasannya sendiri jika pembicaraan dengan Washington mengenai rencana pertahanan rudal Eropa gagal, kata seorang sumber senior diplomatik, Senin.

Sumber itu mengatakan kepada kantor berita Interfax bahwa Moskow mungkin akan menempatkan rudal Iskander di Belarusia dan di wilayah Krasnodar di Rusia. Negara itu sebelumnya mengancam untuk membuat landasan peluncuran rudal di daerah kantung Kaliningrad di Baltik, Rusia.

“Ini akan memungkinkan kami untuk menghadapi ancaman terhadap kekuatan strategis Rusia seandainya komponen-komponen pertahanan rudal Amerika Serikat dikerahkan ke dekat perbatasan kami,” kata sumber tersebut.

Rusia menganggap sistem pertahanan rudal AS di Eropa, yang belum akan ditempatkan sepenuhnya hingga 2010, sebagai ancaman pada potensi nuklir strategisnya. Moskow telah mengancamkan “perlombaan senjata” baru dengan Washington jika kekhawatirannya diabaikan.

Rusia menyatakan mereka akan mengerahkan rudal Iskander pada saat pemerintah George W. Bush, tapi menunda rencana itu pada 2009, setelah Presiden Barack Obama mengurangi rencana pendahulunya itu. Rusia masih mengatakan sistem yang telah direvisi itu mengancam keamanannya.

ASEAN Sepakat Menggunakan VISA Bersama

Negara-negara ASEAN sepakat untuk mematangkan rencana penerapan ASEAN Common Visa (Visa Bersama) yang diharapkan pada tahun 2012 memasuki tahap rekomendasi.

“Wacana Visa Bersama ASEAN menjadi salah satu pembahasan utama dalam ASEAN Senior Offial Preparatory Meeting (ASEAN SOM) untuk selanjutnya dibahas di tingkat menteri ASEAN,” kata Dubes RI untuk ASEAN I Gede Ngurah Swajaya kepada ANTARA usai mengikuti ASEAN SOM dalam kerangka KTT ke-19 ASEAN di Bali Nusa Dua Convention Center, Senin.

Menurut Ngurah rekomendasi penerapan Visa Besama ASEAN dilakukan melalui kajian resmi secara mendalam mengenai berbagai hal seperti sistem on-line visa, koordinasi penerapan antar negara ASEAN, dan termasuk mengantisipasi kendala penerapannya, serta dampak negatif yang ditimbulkannya.

Ia menjelaskan sesungguhnya semua negara setuju bahwa penerapan Visa Bersama ini akan menguntungkan karena dapat meningkatkan jumlah pariwisata ke masing-masing negara ASEAN.

“Visa Bersama mendorong tumbuhnya jumlah pelancong di kawasan ini, namun bagaimana meminimalisir dampak negatifnya… itu yang harus diselesaikan,” ujarnya.

Wacana Visa Bersama ASEAN muncul sejak tahun 2009 pada pertemuan para Dirjen Imigrasi dan Konsuler se-Asia Tenggara, namun saat itu konsep tersebut belum dianggap mendesak karena masih banyak kendala menyangkut penerapan di masing-masing negara seperti keimigrasian, aspek keamanan, pengelolaan perbatasan, maupun aspek finansial.

Sesungguhnya diutarakan Ngurah, penerapan Visa Bersama sudah mendapat disepakati pada tingkat Senior Official Meeting (SOM) ASEAN tinggal menunggu hasil rekomendasi yang kemudian disampaikan ke tingkat pemimpin ASEAN untuk mendapat persetujuan.

“Secara prinsip Visa Bersama sudah mendapat persetujuan namun diperlukan waktu untuk mengelaborasi lebih lanjut bagaimana agar dalam penerapannya jangan sampai melanggar ketentuan yang ada di masing-masing negara,” ujarnya.

Meski demikian Ngurah belum bisa memastikan waktu tahun penerapan Visa Bersama, karena harus melalui berbagai tahapan pembahasan yang lebih lanjut.

Ia hanya menjelaskan bahwa Visa Bersama merupakan bagian “ASEAN Connectivity” yang dapat menginterkoneksi negara-negara ASEAN baik dari sisi infrastruktur dasar terkait perhubungan darat, laut dan udara sehingga mendorong interaksi antar penduduk, pariwisata, investasi dan pedagangan.

Terkait kemungkinan dampak negatif dari penerapan Visa Bersama tersebut berupa peningkatan kejahatan lintas negara (transnational crime), Ngurah mengatakan semua kebijakan memiliki efek. Namun bagaimana dampak negatif tersebut dampak diperkecil sehingga lebih menguntungkan semua pihak.

Ribuan Gadis Muda dan Cantik Asal Irak Diperdagangan Sebagai Budak Seks Di Irak

Bagi ribuan perempuan dan gadis muda Irak, konflik yang dimulai tahun 2003 hanyalah awal dari penderitaan mereka. Dalam kekacauan perang dan kebingungan, pelanggaran hukum dan kemiskinan yang mengikuti perang itu, tak terhitung jumlah perempuan Irak yang telah jadi korban perdagangan seksual, ada yang di Irak dan ada yang lain dijual melewati perbatasan negara itu.

Namun masalah perdagangan manusia itu hampir tidak dilaporkan. Menurut sejumlah peneliti sebagaimana diberitakan CNN, Rabu (9/11/2011), masalah itu tenggelam dalam bayang-bayang gabungan persoalan korupsi, tabu terkait agama dan budaya dan kurangnya minat pemerintah setempat untuk mengatasi problem itu.

Sebuah laporan yang dirilis kelompok swadaya masyarakat yang berbasis di London, yaitu Social Change for Education in the Middle East (SCEME), Rabu, berharap bisa mengubah kondisi itu. Laporan berjudul Karamatuna, atau Martabat Kami, itu menyoroti penderitaan para perempuan belia, berusia 10 atau 12 tahun, yang telah diperdagangkan pasca-perang Irak ke negara-negara seperti Suriah, Yordania, Lebanon, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi untuk eksploitasi seksual. Sejumlah korban lain yang diperdagangkan di Irak berakhir di klub malam atau rumah bordil, terutama di Baghdad. Menurut laporan itu, sejumlah rumah bordil itu “telah dibangun murni untuk memenuhi permintaan yang berasal dari para personel lembaga-lembaga Amerika Serikat.”

Iman Abou-Atta, perempuan peneliti klinis yang mengorbankan karirnya tahun lalu demi menghasilkan penelitian itu, mengatakan pada rapat dengar pendapat di House of Lords di London, saat meluncurkan laporan itu, bahwa ia terdorong untuk menyelidiki masalah itu setelah menyadari luasnya kebungkaman di sekitar persoalan tersebut. “Apa yang saya temui adalah pintu yang tertutup, rasa malu, keengganan pihak berwenang Suriah dan Yordania dan kebungkaman masyarakat sipil terhadap masalah ini,” tulisnya dalam kata pengantar untuk penelitian itu seperti dikutip CNN.

Abou-Atta juga mengalami hambatan dari pemerintah Inggris dan AS yang kehadiran pasukan mereka di Irak telah menjadi faktor yang berkontribusi pada masalah itu ketika ia mengangkat kasus tersebut. Walau eksploitasi seksual ada di Irak, sebagaimana juga di tempat lain, jauh sebelum perang dimulai pada tahun 2003, “invasi dan ketidakstabilan yang menyusul setelah invasi telah menciptakan lingkungan di mana para gadis belia dan perempuan menjadi jauh lebih rentan terhadap perdagangan manusia,” kata Abou-Atta pada hearing di House of Lords itu.

Sebuah organisasi non-pemerintah Irak, yaitu Organisasi untuk Kebebasan Perempuan Irak, memperkirakan bahwa sekitar 4.000 perempuan, seperlima dari mereka berusia di bawah 18, menghilang dalam tujuh tahun pertama usai perang. Walau data kasar sulit diperoleh, penelitian kelompok itu menunjukkan banyak perempuan yang diperdagangkan oleh kelompok kriminal nasional atau internasional, atau dijual dalam perkawinan paksa oleh keluarga mereka sendiri

Ratusan ribu warga Irak mengungsi atau dibuat jadi pengungsi karena perang. Sejumlah pria telah memaksa saudari perempuan mereka untuk menjadi pekerja seks demi mendapatkan uang buat keluarga. Yang lainnya mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain. Sebuah kasus yang dikutip penelitian itu adalah kasus Amira yang berumur 17 tahun. Ayah Amira yang miskin menerima tawaran seorang pria untuk mempekerjakan gadis itu, yaitu merawat isteri yang cacat dari si pria, dengan bayaran setara 200 dollar AS (sekitar Rp 1,8 juta) per bulan. Pada kenyataannya, selain merawat isteri cacat itu, Amira juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tak hanya itu, ia dipaksa berhubungan seks dengan anak laki-laki dan teman-teman pria itu.

Menurut laporan itu, jaringan perdagangan manusia yang profesional juga menargetkan perempuan muda setelah mereka meninggalkan rumah untuk melarikan diri dari pernikahan paksa, pelecehan atau kekerasan. Laporan itu juga mengungkapkan temuan yang mungkin mengejutkan sebagian orang, yaitu banyak para pelaku perdagang manusia di Irak justru perempuan. Menurut Abou-Atta, beberapa dari perempuan pelaku itu sebelumnya telah menjadi korban eksploitasi seksual. Namun yang lain berada dalam bisnis itu demi mendapatkan uang dengan mudah.

Para pelaku perdagangan manusia (trafficker) lainnya adalah sopir taksi yang memikat gadis-gadis dengan menawarkan bantuan palsu lalu membawa mereka ke rumah bordil. Pelaku lain adalah para pria muda yang direkrut oleh jaringan untuk menjebak para gadis muda-rentan ke dalam kawin lari. Setelah itu, para pemuda itu menjerumuskan para perempuan itu ke perbudakan seksual.

Sejumlah korban yang masih muda tertipu karena berpikir lamaran pernikahan itu sepenuh hati, kata Abou-Atta. Setelah dieksploitasi secara seksual lalu dicerai dengan cepat dan dibuang di jalan-jalan, semua kehormatan mereka hilang di mata masyarakat Arab yang konservatif. Mereka kemudian jadi sasaran empuk untuk eksploitasi lebih lanjut. Singkatnya, setelah jatuh ke tangan para trafficker, para korban menghadapi masa depan yang sangat suram.

Seorang gadis, yang diidentifikasi sebagai Shada, ditinggalkan ayahnya di perbatasan Suriah, kata penelitian itu. Dia dijual ke Damaskus. Di sana dia diperkosa lima pria, lalu dijual ke seorang perempuan yang memaksa dia bekerja sebagai pekerja seks di klub malam. Banyak perempuan yang dijerumuskan ke perdagangan seks kemudian merasa terjebak, tidak bisa lari karena ancaman terhadap keluarga mereka dan suramnya masa depan dalam sebuah masyarakat yang konservatif, yang cenderung melihat mereka justru sebagai yang disalahkan karena telah membuat “malu”.

Abou-Atta, yang telah berbicara dengan sejumlah korban perdagangan seks di Lebanon, mengatakan para perempuan itu menunjukkan gambar yang suram. “Pada awalnya itu adalah mimpi buruk,” katanya. “Lalu mereka menyadari tidak ada pilihan, mereka tidak dapat melarikan diri.” Seorang perempuan menceritakan bagaimana saat orang-orang yang telah menjual dirinya mengetahui bahwa ia berencana untuk lari. Orang-orang itu mengancam untuk menghancurkan kehidupan putrinya dengan membuat dirinya jadi malu di depan umum. Maka, perempuan itu memilih untuk tinggal, kata Abou-Atta.

Praktik kejam yang lain, khususnya di Suriah, adalah perkawinan “mut’ah”. Dalam perkawinan model itu seorang gadis dinikahkan demi sebuah bayaran ke seorang pria pada hari Jumat, hanya untuk dicerikan lagi pada hari Minggu. Jadi, perkawinan itu hanya berusia tiga hari. “Penelitian menunjukkan bahwa perkawinan mut’ah ini dilakukan intensif pada musim panas ketika para turis pria dari Teluk mengunjungi Suriah,” kata laporan tersebut. “Meskipun jenis perkawinan ini tidak secara eksplisit disebut prostitusi, itu adalah efek dari eksploitasi seksual, (itu) seringkali dipaksa, sebagai sarana untuk mengamankan mata pencaharian atau menghasilkan keuntungan.”

Meski undang-udang anti-perdagangan manusia dan prostitusi ada di banyak negara di kawasan itu, tekad untuk menegakkan hukum-hukum itu lemah – dan semua hukum gagal untuk memberi perlindungan bagi para korban. Dalam sebuah langkah ke arah yang benar, Suriah memperkuat undang-undang anti-trafficking tahun lalu, kata penelitian itu, dan mempertegas hukuman terhadap para pria yang terlibat dalam perdagangan manusia. Namun, perempuan yang telah dipaksa menjadi pekerja seks terus menghadapi sanksi juga di negara itu. Suriah juga mendeportasi para pengungsi Irak yang ditemukan bekerja secara ilegal di negara itu – termasuk para perempuan yang dipaksa terjun ke dalam perdagangan seks.

Sementara itu, penyediaan tempat-tempat penampungan, perawatan kesehatan atau dukungan psikologis bagi para korban eksploitasi seksual, yang punya kesempatan kecil untuk bekerja, hampir tidak ada di seluruh wilayah itu, kata Abou-Atta. Dia melihat, perbaikan pendidikan dan peningkatan kesadaran sebagai faktor kunci dalam melindungi generasi masa depan para perempuan dan anak perempuan di kawasan itu.

Dia juga berharap untuk melakukan penelitian lapangan lebih lanjut, demi mendukung sedikitnya bukti kuat yang tersedia pada sebuah isu terselubung dalam kerahasiaan itu. Upaya kelompok itu terhambat oleh revolusi Musim Semi Arab, yang membuat akses ke banyak tempat jadi sulit atau berbahaya.

Houzan Mahmoud, dari Organisasi untuk Kebebasan Perempuan Irak, yang menerbitkan laporan sendiri tentang prostitusi di Irak tahun lalu, mengatakan dalam rapat dengar pendapat di House of Lords itu bahwa pemerintah Irak telah menentang kerja kelompoknya dan mencoba untuk memblokir aksesnya ke media. Karean itu, dia mendesak pemerintah Barat untuk berbuat lebih banyak dalam menekan rekan-rekan Arab mereka guna mengatasi eksploitasi seksual, dan untuk memastikan bahwa mereka tidak mengirim para pencari suaka yang rentan kembali ke situasi di mana mereka dapat diperdagangkan lagi.

Para pemimpin agama juga harus memainkan peran dengan menggunakan pengaruh mereka untuk mengubah sikap masyarakat ketimbang menjelek-jelekan para perempuan yang dieksploitasi secara seksual, tambah dia.

Namun, perubahan tidak akan mudah. Di jantung persoalan itu adalah orang-orang yang senang menyerahkan uang demi seks – dan para pejabat korup di perbatasan serta tempat lain yang menutup mata terhadap apa yang terjadi pada perempuan yang rentan. “Masalahnya adalah ada permintaan untuk ini, ada pasar untuk ini,” ujar Mahmoud. “Ini tentang menghasilkan uang dan keuntungan.”

Rusia Ancam Israel Bila Berani Menyerang Fasilitas Nuklir Iran

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mewanti-wanti bahwa serangan militer Israel ke Iran akan menimbulkan akibat yang tak bisa ditebak. “Sebuah kekeliruan yang serius,” ujarnya kepada wartawan di Moskow. Sebab, “Intervensi militer hanya akan berujung pada jatuhnya korban jiwa dan menimbulkan penderitaan bagi manusia,” tuturnya.

Pernyataan Lavrov itu menimpali niat Presiden Israel Shimon Peres yang ingin menyerang Negeri Mullah itu. “Kemungkinan serangan militer terhadap Iran kian nyata ketimbang opsi diplomatik,” kata Peres. Pekan lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berusaha mendapatkan dukungan kabinet bagi satu serangan terhadap Iran.

Satu jajak pendapat yang disiarkan koran Israel, Haaretz, Kamis lalu, menyatakan opini publik Israel terbelah mengenai serangan terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran. Sebanyak 41 persen mendukung, 39 persen menentang, dan 20 persen tidak memberi keputusan. Menteri Pertahanan Ehud Barak bahkan menolak perintah menggelar serangan militer.

“Kami percaya sanksi-sanksi akan lebih efektif,” tutur Barak, yang menyebut rencana Iran membuat senjata nuklir sebagai ancaman terhadap stabilitas dunia. “Diplomasi bisa bekerja andaikata kita bersatu.” Israel ngotot menyerang Iran setelah intelijen mereka menyimpulkan bahwa Iran bakal memindahkan fasilitas nuklir mereka ke kota suci Qom, akhir tahun ini.

Rencana menyerang Iran berawal dari sejumlah laporan intelijen kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang menyebutkan adanya upaya Iran mengembangkan teknologi senjata nuklir. Koran The Washington Post pada Ahad lalu melansir laporan sejumlah diplomat Barat dan pakar nuklir yang mengkaji laporan intelijen itu.

“Iran telah mengambil langkah-langkah utama untuk mengatasi tantangan teknis dengan bantuan ilmuwan asing,” demikian ditulis The Washington Post. Disebut-sebut, Iran mendapat bantuan dari Korea Utara dan Abdul Qadeer Khan, pakar nuklir Pakistan. Bekas pejabat IAEA, David Albright, menyebut Iran telah mendapatkan desain dan menguji kapsul peledak.

Ulama Iran, Ayatollah Ahmad Khatami, mengingatkan Ketua IAEA Yukiya Amano agar tak merilis laporan intelijen tersebut pada pekan ini. “Laporan penuh kebohongan itu akan merusak kredibilitas IAEA,” katanya, seraya menegaskan Iran akan “menyiksa” Israel jika menyerang wilayah mereka.

Karyawan Kalbe Farma Diculik Di Nigeria dan Minta Tebusan 4,5 Milyar

Karyawan PT Kalbe Farma yang ditawan penculik di Nigeria, dibebaskan sore tadi atau Selasa 8 November 2011 malam. Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri Tatang Razak mengatakan, pembebasan MS, 43 tahun, berlangsung di Kano, Nigeria.

“Kami sudah mendapat konfirmasi dari wakil kepala daerah kepolisian setempat, bahwa korban sudah dibebaskan,” katanya kepada Tempo melalui sambung telepon internasional.

M ditahan penculik pada 23 Oktober lalu. Penculik meminta tebusan sebesar US$ 500 ribu atau sekitar Rp 4,5 miliar. Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, Senin, 7 November 2011 lalu mengatakan uang tebusan sudah disiapkan.

Korban diculik di rumah kontrakannya di Kota Kano yang berjarak 1.100 kilometer dari ibu kota Nigeria, Lagos. Di tangan penculik M selalu berpindah lokasi. Lokasi dari ibu kota Nigeria ke Kano cukup jauh dan terhalang pemeriksaan aparat di sepanjang jalur itu.

Berdasarkan video yang dikirimkan ke Kedutaan Besar RI, 30 Oktober 2011 lalu, kondisi korban dalam keadaan baik dan sehat. Aksi penculikan terhadap M tersebut tak mengganggu aktivitas 350 warga Indonesia ekspatriat yang bekerja di perusahaan-perusahaan Indonesia di Nigeria.

Upaya pembebasan M sudah dilakukan beberapa kali, tapi gagal, karena penculik selalu berpindah-pindah lokasi. Apalagi lokasi dari ibu kota Nigeria ke Kano cukup jauh, belum lagi terhalang pemeriksaan di sepanjang jalur itu. Berdasarkan video yang dikirim ke Kedutaan Besar RI pada 30 Oktober lalu, kondisi korban dalam keadaan baik dan sehat.

Aksi penculikan terhadap M tersebut tidak mengganggu aktivitas 350 warga Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan Indonesia di Nigeria.

Sejarawan Rusia Ditangkap Karena Mengoleksi 29 Mumi Gadis Cantik

Sebanyak 29 “mumi” ditemukan di rumah seorang sejarawan Rusia. Menurut polisi, sejarawan tersebut mengambil jenazah tersebut dari kuburan lalu dipakaikan baju dari kuburan.

Rekaman video di apartemen milik sejarawan yang terletak di Kota Volga River di Nizhny Novgorod menunjukkan jenazah yang mengerikan seperti boneka dipakaikan baju warna terang dan penutup kepala. Tangan dan muka jenazah tersebut terlihat dibungkus pakaian.

Polisi enggan menyebut nama tersangka yang ditangkap pekan lalu. Namun foto tersangka dilansir polisi dengan usia 45 tahun. Orang tersebut dikenal sebagai sejarawan spesialis sejarah Kota Nizhny Novgorod yang terletak di sebelah timur Moskow.

Media massa Rusia menyebut nama sejarawan itu Anatoly Moskvin. Dia dikenal sebagai ahli kuburan di Nizhny Novgorod. Ia juga mempelajari batu-batu kuburan untuk mencari cerita di balik batu-batu tersebut.

Surat kabar Rusia mewartakan sang sejarawan itu hanya mengambil jasad wanita muda untuk koleksinya yang mengerikan.

Menurut juru bicara kepolisian Svetlana Kovylina, sejarawan tersebut akhirnya ditangkap setelah penyelidikan panjang mengenai pembongkaran kuburan di sejumlah pemakaman di Nizhny Novgorod. Kovylina tidak menjelaskan bagaimana melacak pelaku pembongkaran kuburan tersebut.

Harian nasional Moskovsky Komsomolets mengatakan Moskvin ditahan di pemakaman saat membawa tas berisi tulang-tulang. Namun situs berita khusus berita kejahatan Kriminalnaya Khronika memberitakan polisi menemukan jenazah-jenazah tersebut ketika mereka mengunjungi Moskvin untuk berkonsultasi mengenai kasus pembongkaran kuburan.

Pihak Moskvin atau pengacaranya belum memberi keterangan mengenai kasus tersebut. Ia pernah menulis beberapa artikel soal pemakaman di kawasan tersebut. Ia juga ahli linguistik terutama budaya Celtic serta mempelajari 13 bahasa asing.

Obat Kumur Colgate Ditarik Dari Peredaran Karena Tercemar Bakteri Burkholderia

LEBIH dari 50 ribu botol obat kumur (mouthwash) bermerek Colgate ditarik dari peredaran di Inggris karena dikhawatirkan produk ini mungkin telah terkontaminasi oleh bakteri.

Colgate-Palmolive mengumumkan pada Rabu (2/11) bahwa pihaknya menarik produk obat kumur Periogard, setelah beberapa sampel ditemukan mengandung bakteri burkholderia.

Badan Pengawas Obat dan Kesehatan Produk (MHRA) mengatakan obat kumur yang terkontaminasi tidak menyebabkan kerugian bagi orang sehat, tapi bisa menyebabkan infeksi pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang bermasalah atau dengan kondisi paru-paru kronis seperti cystic fibrosis.

Selain Inggris, obat kumur ini juga telah ditarik dari peredarannya di 11 dari 12 negara di Eropa dan Autralasia seperti Australia, Selandia Baru dan pulau-pulau di sekitarnya Samudra Pasifik dengan berbagai nama merek yang berbeda. Gerald Heddell dari MHRA mengatakan, “Bagi orang sehat seharusnya tidak ada masalah, namun untuk beberapa orang mungkin ada potensi risiko infeksi kecil. Seandainya ada yang mengalami efek samping yang patut dicurigai setelah menggunakan produk ini, segeralah menghubungi dokter.