Category Archives: Indonesia Asing

Jumlah Pendukung ISIS Di Indonesia Membludak Dan Capai 2 Juta Pasukan

Mantan karyawan di US National Security Agency (NSA), Edward Snowden, telah mengungkapkan bahwa Inggris, Amerika Serikat dan Israel telah bekerja sama untuk menciptakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Lembaga intelejen di tiga negara ini menciptakan sebuah organisasi teroris untuk menarik semua ekstrimis dunia dalam satu tempat.

Strategi ini kata Snowden, dikenal dengan operasi “sarang lebah”. Dokumen NSA menunjukkan operasi “sarang lebah” bertujuan melindungi entitas Zionis dengan menciptakan slogan-slogan agama dan Islam. Menurut dokumen yang dirilis oleh Snowden, satu-satunya solusi untuk melindungi negara Yahudi itu adalah dengan menciptakan musuh di dekat perbatasannya. Bocoran ini mengungkapkan bahwa pemimpin ISIS dan Abu Bakar Al-Baghdadi mengambil pelatihan militer intensif selama satu tahun di tangan Mossad, selain program dalam teologi.

Mossad merupakan agen intelijen nasional Israel. Mossad dibentuk dengan tugas utama adalah mengumpulkan informasi intelijen, penyusupan, dan kontra-terorisme. Fokus utamanya adalah negara-negara dan organisasi Arab.

Direktur Jenderal Permasyarakatan Handoyo Sudrajat mengatakan lembaganya segera menggelar sidang tim pengamat permasyarakatan. Sidang ini untuk merespons beredarnya gambar terpidana terorisme 15 tahun penjara Abu Bakar Ba’asyir berbaiat kepada khalifah Al-Baghdadi, pemimpin kelompok ekstremis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

“Sekarang masih libur, Senin baru masuk, sedini mungkin akan kami lakukan sidang itu,” kata Handoyo ketika dihubungi. Foto yang menampilkan Ba’asyir bersama 13 orang yang diduga anggota ISIS beredar. Satu di antara mereka terlihat membentangkan bendera ISIS berwarna hitam. Foto itu diambil di sebuah ruangan lebar berlantai kayu. Ba’asyir duduk diapit para pria itu dan mereka mengenakan pakaian putih.

Menurut Handoyo, pihaknya sedang memastikan di mana lokasi foto tersebut diambil. “Sedang dicek lokasinya di sebelah mana Lapas.” Handoyo juga sudah meminta Direktur dan Kepala Unit Pelaksana Tugas untuk meningkatkan pengawasan terhadap para terpidana terorisme. Apabila dibutuhkan, kata Handoyo, lembaganya bisa saja melarang Ba’asyir dan komplotannya untuk menerima tamu dan melakukan penggeledahan. “Saat ini belum ada laporan, gambar itu diambil oleh siapa,” ujar Handoyo.

Informasi yang diterima Tempo, anggota satu organisasi pendukung ISIS, Forum Aktivis Syariat Islam (FAKSI), secara teratur bertemu Ba’asyir di LP Nusakambangan. Anggota-anggota FAKSI ini diketahui sebagai jaringan dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang didirikan Ba’asyir. Dugaan sementara, kata Handoyo, ada yang menyelundupkan kamera atau ponsel ke dalam. Untuk itu, kata dia, penggeledahan akan dilakukan. “Mereka punya banyak cara untuk menyelundupkan itu,” ujarnya.

Sebelumnya, sekelompok orang Indonesia muncul dalam sebuah video perekrutan yang dirilis ISIS. Mereka mendesak umat muslim di Indonesia untuk bergabung. Sebelumnya, ratusan orang di Solo, Jawa Tengah, menyatakan mendukung ISIS dan membaiat pimpinan mereka, Abu Bakar al-Baghdadi. Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones, menjelaskan pendukung utama milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia adalah mereka yang membentuk kamp pelatihan militer di Aceh yang kemudian digerebek aparat pada tahun 2010.

Mereka, pendiri kamp pelatihan militer di Jantho, Aceh, merupakan aliansi dari sejumlah kelompok ekstremis dari beberapa kota seperti Aceh, Medan, Solo, Malang, dan beberapa daerah di Jawa Timur, Bima, dan Poso. Belakangan dukungan juga datang dari kelompok esktremis Darul Islam dan jaringan teroris Banten. “Mereka sekarang yang menjadi inti pendukung ISIS di sini,” kata Sidney yang ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat, 1 Agustus 2014.

Tokoh-tokoh kelompok ekstremis itu bahkan sudah membaiat diri mendukung pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi, di antaranya Abu Bakar Ba’asyir, Aman Abdurrahman (Jamaah Ansharut Tauhid-JAT), dan Santoso alias Abu Wardah (pemimpin kelompok teroris di Poso, Sulawesi Tengah). Kelompok ekstremis Jamaah Islamiyah satu-satunya pendiri kamp pelatihan militer di Aceh yang tidak mendukung ISIS. Kelompok ini tetap mendukung jaringan ekstremis Al-Qaeda di Suriah, Al Nusra.

Awalnya, kata Sidney, para pendiri kamp pelatihan militer di Aceh adalah pendukung Ayman al-Zawahiri, tokoh jihad Al-Qaeda yang membidangi ISIS dan tewas ditembak pasukan Amerika Serikat di Irak tahun 2006. “Dialah orang yang namanya sudah banyak diketahui orang-orang di sini,” ujar Sidney. (Baca: Pendukung Pemimpin Milisi ISIS Dibaiat di Malang)

Para pendiri kamp militer di Aceh mendukung Zawahiri, termasuk Noordin Top, pemimpin kelompok teroris warga Malaysia yang tewas ditembak pada September 2009 di satu rumah di Kota Solo, Jawa Tengah. Belakangan mereka mendukung mentor Zawahiri yang juga penulis banyak buku tentang jihad, Abu Bakar al-Baghdadi.

Menurut Sidney, para pendiri kamp militer di Aceh ini menilai strategi operasi Zawahiri hanya memukul musuh dan bersifat jangka pendek. Sementara Baghdadi sebagai pendiri resmi ISIS, punya tujuan jelas mendirikan negara Islam (kekhalifan). Momen kemenangan besar ISIS di Irak dan Suriah telah membuat pemimpin kamp militer di Aceh berbalik mendukung pria kelahiran Samarra, kota di utara Bagdad, tahun 1971 itu. “Semua orang ingin bergabung dengan pemenang,” kata Sidney menjelaskan alasannya.

Seberapa besar pendukung milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia? Menurut Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones, masih sulit mengetahui secara pasti jumlah warga Indonesia pendukung ISIS. Namun jika merujuk dari jumlah pendukung ISIS di Irak dan Suriah, maka jumlah pendukung ISIS masih lebih kecil dibandingkan pendukung kelompok teroris jaringan Al-Qaeda, Al Nusra, atau Front Pembela Rakyat Suriah yang menentang kepemimpinan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Namun, kata Sidney, besarnya jumlah pendukung ISIS di Indonesia dapat diperkirakan dari jumlah anggota dan pendukung setiap kelompok ekstremis yang telah mendeklarasikan diri sebagai pendukung Baghdadi. Di Indonesia, dukungan terbuka kepada ISIS dan Baghdadi pertama kali muncul pada Sabtu, 8 Februari 2014. Ratusan orang mendeklarasikan dukungannya ke ISIS di halaman kampus Universitas Islam Negeri Ciputat, Tangerang. “Mereka bangga mengumumkan bahwa dalam pertemuan itu mereka berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 41 juta,” ujar Sidney.

Di situs berita pendukung ISIS, Al-mustaqbal.net, pada Jumat, 7 Juli 2014, dilaporkan tentang pembaitan ratusan orang untuk mendukung Baghdadi dan ISIS di auditorium Syahida Inn, Kampus II UIN Ciputat. Mereka datang dari berbagai daerah yakni Jabodetabek, Banten, Sukabumi, Cianjur, Lampung, Riau, dan Batam. Setelah itu, pembaiatan untuk mendukung ISIS juga terjadi di Solo dan Malang, Jawa Timur. Sidney menjelaskan pendukung ISIS juga sudah muncul di Aceh, Medan, Bima, dan Poso. Pemimpin kelompok teroris di Poso, Sulawesi Tengah, Santoso alias Abu Wardah, dibaiat sebagai pendukung ISIS pada tanggal 1 Juli 2014.

Adapun tanggal 29 Juni 2014 bertepatan dengan Ramadan, kata Sidney, dideklarasikan kekhalifan Islamiyah yang menjadi dasar perjuangan ISIS. Mengenai pola rekrutmen anggota atau pendukung ISIS lebih banyak menggunakan sosial media seperti Facebook dan Twitter daripada mendekati kampus-kampus atau organisasi-organisasi gerakan ekstremis. “Mereka betul-betul ahli memakai sosial media,” ujar Sidney. Bahkan mereka mendirikan media online untuk memberitakan kegiatan ISIS di berbagai negara.

Indonesia Tingkatkan Patroli Untuk Antisipasi Aksi Militer Australia

Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, mengakui adanya peningkatan patroli dan penjagaan keamanan di wilayah perbatasan, khususnya di perairan yang berbatasan dengan Australia. Penjagaan ini merupakan antisipasi atas aksi militer Australia yang mengembalikan kapal pencari suaka ke wilayah Indonesia.

“Ya, sekarang memang ada peningkatan volume pengamanan. Perkiraannya, jika keadaan normal satu hari satu kali patroli, sekarang dua kali,” kata Sjafrie saat ditemui di Istana Wakil Presiden, Rabu, 5 Februari 2014.

Ia mengklaim tak hapal detil perihal satuan keamanan dan jumlah armada yang berpatroli harian di wilayah perbatasan. Meski demikian, penjagaan itu tetap mengacu pada kebijakan Kementerian Luar Negeri dalam menanggapi sikap Australia. “Kita tetap melihat aspek kemanusiaan dalam bertindak. Tetapi, kedaulatan dan kepentingan negara tetap menjadi utama,” kata dia.

Menurus Sjafrie, patroli dan penjagaan perbatasan dapat berjalan baik karena ada peningkatan alat utama sistem persenjataan TNI yang sudah mengalami modernisasi. Pengamanan juga dilakukan di wilayah udara dan darat.

Hari ini, TNI Angkatan Laut dikabarkan menemukan sebuah sekoci yang terapung di Pantai Cikepuh, Sukabumi, Jawa Barat. Sekoci ukuran 8x3x1 meter tersebut diduga milik sejumlah pencari suaka yang hendak menyeberang ke Pulau Christmas Australia. TNI belum mengetahui jelas alasan kapal yang kini bersandar di Dermaga Jetty Pembangkit Listrik Tenaga Uap Pelabuhan Ratu sampai terapung dan kosong. Belum dapat dipastikan penyebabnya karena diusir militer Australia atau terhantam arus laut.

Pada awal Januari, di Rote Ndao, kepolisian setempat menampung sebanyak 83 imigran gelap asal Sudan dan Afrika. Mereka mengaku hendak ke Australia, namun diusir kapal perang milik Angkatan Laut negeri kanguru itu ketika baru memasuki perbatasan.

Wartawan Indonesia Dilarang Memotret Di Iran Karena Disangka Membela Amerika Serikat

Gara-gara mengambil foto di jalanan kota Teheran, Iran, dua orang wartawan Indonesia dikepung polisi Iran. Mereka kemudian meminta foto yang diambil itu dihapus.

Peristiwa itu terjadi, Jumat (31/8/2012) sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Saat itu wartawan baru saja turun ke lobi bawah hotel Howeyzeh yang terletak di pusat kota Teheran. Para wartawan bersiap untuk kembali meliput kegiatan Wakil Presiden Boediono yang sedang menghadiri KTT gerakan Non-Blok di Teheran.

Saat itu kondisi lalu lintas Teheran masih sepi. Hal ini disebabkan hari Jumat adalah hari libur kerja untuk warga Iran.

Dua orang wartawan Indonesia kemudian meminta izin petugas hotel mengambil foto. Setelah diizinkan, mereka keluar hotel untuk berfoto.

Wartawan Metro TV Hanif Mustafad kemudian mengambil foto wartawan TVRI Thom Endiarto di trotoar yang ada di samping hotel. Lokasi pengambilan foto itu sebenarnya biasa saja. Hanya sebuah trotoar di persimpangan jalan di Teheran. Namun hal itu tetap membuat polisi di Iran marah.

Begitu selesai mengambil foto, dua orang polisi beseragam hijau-hijau langsung menghampiri Tom dan Hanif. Kemudian mereka meminta kamera yang mereka gunakan.

Polisi itu kemudian melapor ke petugas berpakaian preman yang ada di dalam hotel. Petugas keamanan berpakaian preman ini memang selalu ada di hotel. Mereka berkumpul di lobi hotel itu siang dan malam.

Begitu mendapatkan laporan ada yang menggambil foto mereka langsung keluar. Total ada 6 orang petugas berpakaian preman dan 4 orang polisi berseragam mengepung Tom dan Hanif.

“Kamu mengambil foto? Tunjukan mana fotonya?” Kata salah seorang petugas berpakaian preman.

Petugas ini berbadan tegap, berpenampilan rapi dengan kemeja lengan panjang, celana bahan dan juga sepatu hitam. Kebanyakan petugas berpakaian preman di Teheran memang sangat rapi, ada juga yang mengenakanan kemeja tanpa dasi dengan kaca mata hitam.

Ia kemudian memeriksa semua foto yang sudah ada di kamera tersebut. Kemudian meminta agar foto yang diambil keduanya dihapus dari kamera.

“Tadi foto yang mana yang diambil, hapus fotonya,” perintahnya.

Setelah insiden itu, petugas Iran langsung mendata ulang wartawan yang ikut rombongan Wapres Boediono. Semua wartawan diminta menyebutkan nama, jabatan dan juga media tempatnya bekerja. Padahal hal ini sudah berkali kali di lakukan saat rombongan di Iran. Selain itu paspor masing-masing wartawan juga dicatat petugas itu.

Untungya insiden itu tak berlangsung lama. Petugas kemanan itu membiarkan para wartawan pergi untuk bisa meliput kegiatan Wapres Boediono. Dalam perjalanan, salah seorang petugas dari Iran yang bertugas mengawal wartawan RI mengatakan sikap keras polisi itu disebabkan mereka tidak tahu kalau Indonesia adalah rekan Iran.

“Mereka mengira anda adalah wartawan yang membawa kepentingan Amerika yang membenci kita. Untuk itulah saya menjelaskan ke petugas kalau mereka salah,” katanya.

Petugas KBRI sudah mengigatkan agar para wartawan tidak sembarangan mengambil foto di jalanan Teheran. Hal ini disebabkan kamera bisa dirampas polisi Iran yang berjaga-jaga di jalanan.

Angela Merkel Singgah di Masjid Istiqlal Sebagai Balasan Kunjungan SBY Ke Jerman

Kanselir Jerman Angela Dorothea Merkel mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta, Selasa (10/7), dalam rangkaian kunjungan kenegaraan yang dijadwalkan selama dua hari dari tanggal 10-11 Juli 2012.

Dalam kunjungannya ke Masjid Istiqlal Merkel didampingi oleh Imam Rawatib Masjid Istiqlal Drs. H Ahmad Husni Ismail, M.Ag dan Ketua Badan Pelaksana pengelola masjid Istiqlal, Drs H Mubarak Msi.

Sebelumnya Merkel disambut dengan shalawat dari Majelis Ta`lim ibu-ibu Masjid Istiqlal.

Kesempatan ini merupakan kunjungan balasan terhadap lawatan Presiden RI ke Jerman pada tahun 2009 lalu, Kanselir Angela Merkel juga rencannya akan mengadakan pertemuan dengan pebisnis, jurnalis dan aktivis HAM, serta Ketua Mahkamah Konstitusi.

Kemudian, Merkel juga dijadwalkan untuk mengunjungi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Masjid Istiqlal dan Gereja Immanuel.

Merkel juga dijadwalkan membahas isu keamanan regional terkait pembajakan di Selat Malaka dan bertemu dengan Ketua Hakim Mahkamah Konstitusi.

Sejauh ini, data perdagangan bilateral antara Indonesia dengan Jerman diprediksi mencapai 12 miliar dolar AS pada 2015.

Momentum kedatangan Kanselir Republik Federal Jerman, Angela Merkel ke Indonesia akan dimanfaatkan untuk mendorong investasi Jerman di Indonesia yang saat ini berada di peringkat 14.

Bali Money Mulai Diperdagangkan Di Australia Melebih Ketenaran Rupiah

Bukan Rupiah yang dikenal warga Australia, tetapi Bali Money. Ya, bagi warga Australia, istilah Bali money memang lebih dikenal sebagai mata uang Indonesia.

Hal itu terbukti dari salah satu loket penukaran mata uang atau money changer yang berada di Bandara Perth, Australia, Kamis (24/5/2012).

Di bandara tersebut tertulis ‘Buy your Bali money safe and commission free. Exchange over $100 an receive $0 commision on Indonesia Rupiah when your purchase your US Dollars for your visa on arrival in Bali’

Loket penukaran mata uang tersebut tengah mengadakan promosi. Setiap orang yang hendak menukarkan mata uang dollarnya ke mata uang Rupiah tidak akan dikenakan pajak. Padahal biasanya setiap penukaran mata uang dikenakan biaya 8 hingga 12 Dollar Australia.

Di loket tersebut banyak ditempeli kertas-kertas promosi tersebut. Bahkan di sisi kanan loket tersebut promo itu tertulis lebih besar. Namun pada saat detikcom melintasi loket tersebut, belum tampak warga Australia atau warga negara lain yang menukarkan uang mereka ke mata uang Rupiah atau Bali money.

Sementara itu First Secretary KBRI Australia, Eko Junor, mengatakan warga Australia lebih mengenal Bali daripada nama Indonesia.

“Kalau kita bilang Bali itu Indonesia. Oh no kata mereka itu saya mau ke Bali,” ujar Eko.

Bom Berdaya Ledak Tinggi Meledak Di Depan KBRI Kedutaan Besar Indonesia Di Paris Perancis

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa meminta seluruh staf Kedutaan Besar RI di Paris dan warganegara Indonesia di Perancis untuk meningkatkan kewaspadaan. Hal itu menyusul insiden ledakan bom yang terjadi di dekat kantor KBRI, Rabu (21/3/2012), sekitar pukul 05.15 setempat atau pukul 11.15 WIB tadi. Kepada KBRI Marty juga meminta agar terus memantau keadaan para WNI di seluruh wilayah Perancis. Hal itu disampaikan Marty lewat siaran pers Biro Administrasi Menteri (BAM) Kemlu, yang diterima Kompas.

Dalam siaran pers itu dipastikan tidak terdapat korban jiwa dalam insiden itu. Dilaporkan hanya sejumlah kaca gedung KBRI pecah akibat ledakan. Sejumlah kerusakan juga terjadi di sekitar lokasi kejadian. Hingga saat ini sasaran sesungguhnya masih belum diketahui. Kepolisian setempat tengah menginvestigasi kejadian tersebut. Kepolisian Perancis masih menyelidiki kasus ledakan bom yang terjadi dekat Kedutaan Besar RI (KBRI) di Paris, Perancis.

Diberitakan sebelumnya, sebuah bom meledak di perempatan jalan dekat KBRI di Paris, Rabu (21/3/2012), sekitar pukul 05.00 waktu setempat atau pukul 11.00 WIB. Ketika itu suasana sekitar lokasi relatif sepi. Ledakan itu mengakibatkan kaca-kaca jendela gedung di radius 50 meter, termasuk KBRI, pecah. Ledakan juga membakar dua mobil. Kepala kepolisian Perancis Michel Gaudin yang meninjau lokasi mengatakan, seorang petugas yang hendak mengosongkan tong sampah melihat sebuah tas di bawah jendela gedung KBRI.

“Dia melihat tas itu, membukanya, dan menduga isinya bom karena di situ ada kaleng yang terhubung dengan kabel. Dia menjatuhkannya dan meninggalkan tempat itu untuk menelepon polisi. Saat itulah bungkusan itu meledak,” papar Jean-Louis Fiamenghi, kepala kepolisian Paris. “Tidak ada yang terluka namun penghuni apartemen di sekitar lokasi cukup terkejut,” ujar Fiamenghi yang menambahkan bom itu diperkirakan mengandung “beberapa kilo bahan peledak”. Tidak ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas ledakan itu.

Polisi dan petugas pemadam kebakaran langsung dikirim ke lokasi dan menutup area di sekitarnya. Tim gegana juga ditugaskan untuk memastikan tidak ada bahan peledak lagi di situ. Sementara itu, Juru Bicara Presiden Bidang Luar Negeri, Teuku Faizasyah mengatakan di Jakarta, pemerintah Indonesia sudah mendapat laporan tentang kejadian itu. “Kami masih menunggu kejelasan apakah kami yang menjadi target atau bukan,” lanjutnya.

“Pada pertengahan 2000 terjadi kasus serupa, sebuah bom meledak di KBRI di Paris. Itu ternyata insiden lokal dan tidak ada terkait ancaman nasional (Indonesia),” imbuhnya. Sebelumnya Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan pihak KBRI Perancis berkoordinasi kepolisian Perancis untuk menyelidiki kasus itu.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Priyo Budi Santoso meminta kepada masyarakat di Indonesia tidak bereaksi berlebihan terkait kasus ledakan bom di depan Kedutaan Besar RI (KBRI) di Paris, Perancis, Rabu (21/3/2012). Pasalnya, menurut Priyo, belum ada kepastian mengenai sasaran bom itu. Priyo yakin bahwa Pemerintah Perancis dapat mengungkap kasus itu. Dia juga berharap agar Pemerintah Perancis dapat melindungi warga Indonesia di sana, sama seperti Pemerintah Indonesia melindungi warga Perancis.

Priyo mengaku heran bagaimana bisa negara Perancis yang terkenal aman bisa terjadi ledakan. “Perancis dengan berbagai ras bisa hidup di sana, kok ada bentuk teror seperti ini. Negara yang elok pun bisa terjadi, seperti yang terjadi di kawasan Timur Tengah,” kata Priyo di Komplek DPR, Rabu.

Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Michael Tene mengatakan, ledakan terjadi pukul 05.15 waktu setempat atau pukul 11.15 WIB. Tak ada korban jiwa akibat peristiwa itu. Ledakan hanya mengakibatkan sejumlah kaca di Gedung KBRI pecah. Kerusakan serupa terjadi di sekitar lokasi ledakan.

“Insiden ini sedang diinvestigasi oleh pihak kepolisian Paris. Hingga saat ini belum bisa dipastikan, sasaran dari ledakan tersebut,” kata Michael dalam siaran pers. Michael menambahkan, Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa telah meminta kepada semua staf KBRI Paris dan warga negara Indonesia lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan. “KBRI Paris juga diminta untuk terus memantau keadaan warga negara Indonesia di Perancis,” kata Michael.

Pelaku sekaligus motif di balik ledakan yang terjadi di dekat Kedutaan Besar RI di Paris, Perancis, Rabu (21/3/2012) sekitar pukul 05.00 waktu setempat, masih menjadi misteri. Hingga saat ini, kepolisian Perancis masih terus menyelidiki pelaku yang diduga berjumlah tiga orang, beserta motifnya.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, KBRI di Paris masih terus bekerja sama dengan kepolisian dan intelijen Perancis. “Kita belum bisa menyimpulkan apakah ledakan ini diarahkan atau ditargetkan kepada KBRI di Paris,” kata Marty kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu. Marty mengatakan, ada ledakan serupa pada 2004 di dekat KBRI di Paris. Saat itu, tak ada korban, dan motifnya pun tak jelas. “Saat itu tidak ada hasil investigasi yang konklusif,” kata Marty.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman mengatakan tak yakin bahwa ledakan yang terjadi di luar Kedutaan Besar RI (KBRI atau Kedubes RI) di Paris, Perancis, Rabu (21/3/2012) pukul 05.20 waktu setempat memang ditujukan untuk kedutaan.

“Kedubes RI terletak di pinggir jalan, dekat trotoar, sedangkan bom ini diletakkan di depan trotoar,” kata Marciano kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu. Saat ini, sambung Marciano, yang juga mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden, pihak KBRI tengah bekerja sama dengan lembaga kepolisian dan intelijen Paris. “Itu sedang dalam pendalaman,” jawabnya ketika ditanya soal motif pelaku ledakan tersebut. Menurut Marciano, Presiden telah diberi tahu mengenai ledakan tersebut. “Beliau memberikan kesempatan kepada kita untuk mendalaminya,” kata Marciano.

Diberitakan sebelumnya, sebuah paket yang ternyata berisi bom meledak di luar KBRI di Paris, Rabu ini sekitar pukul 05.20 pagi atau 11.20 WIB. Ledakan itu menyebabkan kaca-kaca KBRI dan gedung-gedung lain di radius 50 meter pecah. Tidak ada korban jiwa, baik warga negara Indonesia (WNI), staf KBRI, maupun warga setempat. Dalam pesan singkat yang diterima Kompas.com, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan, sesuai laporan Duta Besar RI untuk Perancis, ledakan terjadi di salah satu perempatan jalan di dekat KBRI di Jalan Cortambert, Paris.

“Belum diketahui apa sasaran bom yang dimaksud. Dubes RI telah berada di lokasi, tetapi tidak bisa mendekat,” demikian pernyataan Djoko Suyanto. AFP melaporkan, saksi mata mengaku melihat tiga lelaki meninggalkan sebuah bungkusan dekat gedung yang berlokasi di bagian barat ibu kota Perancis itu.

Seseorang yang melihat bungkusan itu memindahkannya sekitar 10 meter dari tempat semula. Menurut satu sumber yang dekat dengan penyelidikan kasus ledakan itu, orang tersebut kemudian kabur. Peristiwa ini terjadi saat pasukan elite Perancis mengepung seorang pria bersenjata di sebuah rumah di kota Toulouse. Pria bersenjata itu diduga terkait kasus penembakan tiga bocah dan seorang rabi di sebuah sekolah Yahudi di kota itu.

Jutawan dan Kolektor Wine Asal Indonesia Rudy Kurniawan Ditangkap FBI Karena Memalsukan Anggur Wine Langka

Jutawan kolektor wine (anggur) asal Indonesia, Rudy Kurniawan telah bertahun-tahun hidup mewah di Los Angeles, Amerika Serikat berkat usaha wine-nya. Dia dikenal sebagai kolektor dan penjual wine langka yang harganya selangit.

Namun pada Kamis, 8 Maret waktu setempat, pria kelahiran Jakarta itu ditangkap oleh FBI di Los Angeles. Dia ditahan atas sejumlah dakwaan penipuan termasuk mencoba menjual wine palsu, yang jika asli, bisa terjual dengan harga ribuan dolar AS per botol.

Para penyidik seperti dilansir The New York Times, Jumat (9/3/2012) mengatakan, Rudy membuat beberapa kesalahan sederhana yang menyebabkan terbongkarnya penipuan yang dilakukan pria berumur 35 tahun itu.

Salah satunya, adalah tentang botol-botol anggur Domaine Ponsot yang coba dilelangnya pada tahun 2008. Wine tersebut dikatakan Rudy dibuat pada tahun 1929. Padahal perusahaan pembuat anggur itu baru memulai proses pembotolan anggur pada tahun 1934.

Dakwaan kriminal yang dijatuhkan kepada Rudy dibuat setelah bertahun-tahun muncul kecurigaan terhadap Rudy di kalangan para kolektor wine. Sejumlah wine milik Rudy pernah ditarik dari peredaran pada tahun 2007 silam setelah sebuah rumah lelang menyebut wine tersebut palsu.

Para jaksa penuntut umum di New York menuntut Rudy terlibat “dalam berbagai skema penipuan terkait bisnis anggurnya”.

Itu termasuk menjual 84 botol wine palsu Domaine Ponsot pada sebuah lelang tahun 2008. Juga 78 botol anggur palsu Burgundy dari Domaine de la Romanee-Conti dalam sebuah acara lelang pada Februari lalu.

Bahkan menurut jaksa, Rudy juga telah memalsukan surat-surat untuk mendapatkan pinjaman jutaan dolar AS guna membiayai gaya hidupnya yang tinggi.

The New York Times melaporkan, Rudy ditangkap oleh agen-agen dari skuad elite FBI yang berbasis di New York, yang fokus pada kejahatan-kejahatan yang melibatkan seni, barang-barang antik dan koleksi-koleksi lainnya.

Rudy ditahan pada Kamis (8/3/2012) waktu Amerika Serikat. Dia ditahan atas tuduhan mencoba menjual anggur palsu, yang jika asli, akan bernilai sekitar US$ 1,3 juta.

Rudy yang tinggal di Arcadia, California, juga dituduh melakukan kecurangan dalam mendapatkan pinjaman jutaan dolar untuk membiayai apa yang disebut jaksa sebagai “gaya hidup tingkat tingginya”.

Dalam hearing di Pengadilan Distrik AS di Los Angeles, jaksa mengatakan bahwa dari penggeledahan di rumah Rudy didapatkan benda-benda yang digunakan untuk memalsukan botol-botol anggur.

Rudy pernah menjual anggur-anggur yang total harganya mencapai US$ 35 juta pada tahun 2006. Penangkapan Rudy terjadi setelah adanya tuduhan penipuan yang diajukan ke pengadilan federal di New York. Para jaksa di kantor kejaksaan di Manhattan rencananya akan mengirimkan Rudy ke New York dalam beberapa hari mendatang.

Miliarder Amerika Serikat (AS) William ‘Bill’ Koch menggugat kolektor sekaligus penjual wine Rudy Kurniawan karena Rudy menjual wine palsu. 5 Botol wine yang didapatkan Koch dari Rudy, 3 di antaranya didapatkan dari lelang dan 2 botol dari penjualan privat. Apa saja?

Berikut data 5 botol wine palsu tersebut yang tercantum di surat gugatan miliarder AS William ‘Bill’ Koch yang diteken pengacaranya Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP pada 10 September 2009 yang didaftarkan ke Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles:

  1. Botol 1949 Chateau Lafleur, didapatkan saat pelelangan di rumah lelang the Acker, Merall & Condit Company (AMC) di New York pada 23 April 2005, senilai US$ 10.575 atau Rp 96,5 juta.
  2. Botol 1947 Chateau Petrus, dibeli dalam penjualan privat dari AMC pada Mei 2005 senilai US$ 30.000 atau Rp 273,9 juta.
  3. Botol 1945 Comte Georges de Vogue Musigny, Cuvee Vielles Vignes yang dibeli secara privat dari AMC pada Juli 2005, senilai US$ 11.500 atau Rp 104,9 juta.
  4. Dua botol 1934 DRC Romanee-Conti yang dibeli dalam pelelangan dari rumah lelang AMC di New York pada 27 Januari 2006 senilai US$ 25.850 atau Rp 236 juta.

Total kerugian yang diderita Koch dari 5 botol wine palsu itu adalah sekitar US$ 75.000 atau sekitar Rp 684 juta.

Sebelumnya diberitakan dalam surat gugatan Koch pada 10 September 2009 yang diajukan pada Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles, disebutkan, Koch dan kolektor wine lainnya membeli wine Rudy pada pelelangan wine namun tak tahu bahwa Rudy ternyata adalah penjual.

“Koch baru-baru ini menyatakan bahwa banyak koleksi botol-botol wine-nya adalah palsu. Koch telah melacak bahwa beberapa wine palsu dibeli dari Kurniawan (Rudy). Koch menuntut ini untuk menghentikan Kurniawan menjual wine palsu dan untuk kepentingan korban lain penjualan wine palsu Kurniawan,” tulis surat gugatan yang diteken pengacara Bill Koch, Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP.

Sebelumnya, The New York Times melaporkan, Rudy ditangkap oleh agen-agen dari skuad elite FBI yang berbasis di New York, yang fokus pada kejahatan-kejahatan yang melibatkan seni, barang-barang antik dan koleksi-koleksi lainnya.

Rudy ditahan pada Kamis (8/3/2012) waktu Amerika Serikat. Dia ditahan atas tuduhan mencoba menjual anggur palsu, yang jika asli, akan bernilai sekitar US$ 1,3 juta.

Rudy yang tinggal di Arcadia, California, juga dituduh melakukan kecurangan dalam mendapatkan pinjaman jutaan dolar untuk membiayai apa yang disebut jaksa sebagai “gaya hidup tingkat tingginya”.

Dalam hearing di Pengadilan Distrik AS di Los Angeles pada Kamis, 8 Maret waktu setempat, jaksa mengatakan bahwa dari penggeledahan di rumah Rudy didapatkan benda-benda yang digunakan untuk memalsukan botol-botol anggur.

Rudy pernah menjual anggur-anggur yang total harganya mencapai US$ 35 juta pada tahun 2006. Penangkapan Rudy terjadi setelah adanya tuduhan penipuan yang diajukan ke pengadilan federal di New York. Para jaksa di kantor kejaksaan di Manhattan rencananya akan mengirimkan Rudy ke New York dalam beberapa hari mendatang.

Isu pemalsuan wine menghangat pasca penangkapan kolektor wine kelas kakap, Rudy Kurniawan. Para penipu memiliki modus tersendiri.

“Secara umum ada dua modus memalsukan wine,” kata pakar wine Indonesia, Yohan Handoyo, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (9/3/2012).

Modus pertama yakni penipuan yang dilakukan para produsen wine yang tidak bertanggng jawab. Mereka menggunakan jenis anggur yang tidak diperbolehkan atau mencampur wine dengan lebih banyak anggur kualitas rendahan.

Yohan mencontohkan, pada tahun 2010, seorang penghasil wine ternama dari Italia, Marchesi de Frescobaldi yang sudah membuat wine selama lebih dari 700 tahun dituntut.

“Ia dituntut karena menggunakan campuran anggur Italia Selatan dalam persentase yang jauh lebih tinggi dari yang diperbolehkan,” ujarnya.

Modus kedua, dilakukan oleh sejumlah orang yang memanfaatkan harga wine berkualitas atas dan langka yang kini meroket. Mereka memalsukan wine-wine yang menjadi favorit pembeli.

Wine-wine yang favorit dipalsukan adalah wine berharga mahal yang sudah berumur tua. Kebanyakan wine tersebut berasal dari Bordeaux dan dari tahun-tahun seperti 1921, 1945, 1947, dan 1961.

“Tapi dari tahun-tahun yang lebih muda pun tidak luput dari kejahatan seperti ini,” jelasnya.

Pada tahun 2002, Bea dan Cukai Hong Kong menyita Chateau Lafite 1982 palsu sebanyak 30 botol. Tahun 2003 polisi Italia menemukan Sassicaia tahun 1995 palsu sebanyak 20.000 botol.

“Tahun itu dianggap luar biasa. Jumlah botol di pasaran pada tahun itu sedikit sekali. Jadi mereka bikin wine palsu dari tahun itu,” ungkapnya.

Menurut Yohan, modus kedua ini dilakukan karena memang harga wine di rumah pelelangan sudah menyamai harga barang-barang seni. Menurut laporan majalah Wine Spectator di edisi Desember 2006, nilai penjualan rare and fine wines saja di rumah pelelangan seluruh dunia pada tahun tersebut mencapai $240.53 juta! Dan angka ini merupakan kenaikan 45% dari tahun sebelumnya.

Rudy diduga menggunakan modus kedua ini. Dia diadukan oleh William ‘Bill’ Koch, miliarder AS yang merasa tertipu oleh dagangan Rudy pada 2009. Rudy nantinya akan diadili di New York. Jaminan penangguhan penahanannya ditolak hakim karena hakim khawatir dia kabur ke Indonesia.

Rudy Kurniawan, kolektor sekaligus penjual wine asal Indonesia yang ditangkap FBI di Los Angeles (LA) AS, Kamis (8/3) ternyata sudah mendapat lisensi dari otoritas pengendalian alkohol California menjadi penjual wine. Toko atau butik wine Rudy bernama ‘The Wine Hotel’ yang kemudian berubah menjadi ‘Terroir’ di LA.

Hal ini terungkap dari surat gugatan miliarder AS William ‘Bill’ Koch yang diteken pengacaranya Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP pada 10 September 2009 yang didaftarkan ke Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles.

“Kurniawan diberikan lisensi oleh Departemen Pengendalian Alkohol Negara Bagian California (State of California Department of Alcohol Control) untuk menjual wine secara eceran. Dia mengoperasikan bisnis wine dengan nama Terroir, dan dia menerima lisensi dari Negara Bagian pada 2008,” demikian ditulis dalam surat gugatan itu.

Kemudian surat gugatan itu menunjukkan fakta gugatan, yaitu:

  1. Kurniawan disebut sebagai salah satu pembeli wine mahal dan langka dalam beberapa tahun ini. Pada Oktober 2008, Majalah LA Times menggambarkan Kurniawan sebagai ‘satu dari kolektor Burgundy di dunia’. Gudang penyimpanan wine miliknya dilaporkan berisi puluhan ribu botol wine, namun jumlah pastinya tidak diketahui.
  2. Kurniawan juga berkecimpung dalam bisnis wine eceran (retail). Dia mendirikan perusahaan yang dinamakan ‘Wine Hotel’ yang menawarkan penyimpanan wine, penjualan retail, tasting (pencicipan), dan kelas kursus. Perusahaan itu kini beroperasi dengan nama ‘Terroir’, dideskripsikan pada website-nya sebagai ‘full service wine retail store’.
  3. Kurniawan juga membeli dan menjual banyak botol-botol wine miliknya melalui penjualan privat dan lelang.
  4. Pada 2005 dan 2006, Koch (William ‘Bill’ Koch) membeli 5 botol wine dari Acker (rumah lelang, red). Acker tidak mengumumkan sumber-sumber botol wine yang dilelang karena terkait materi promosi dan iklan.
  5. Acker mengumumkan baru-baru ini bahwa 5 botol yang dijual ke Koch semuanya berasal dari Kurniawan. Masing-masing botolnya adalah palsu.
  6. Berdasarkan informasi dari investigasi yang dilakukan Koch, ditemukan bahwa Koch membeli botol wine palsu itu dari Kurniawan.

Sementara dari situs In & Around Los Angeles, ‘The Wine Hotel’ ini adalah butik wine yang melayani jasa penyimpanan wine dalam suhu yang sudah dikontrol. Dijelaskan pula bahwa The Wine Hotel ini sudah berubah menjadi ‘Terroir LA’.

“Tak begitu lama, pemilik baru mengambil alih dan memulai perubahan lambat yang bahkan lebih baik. Dari situ kami mengerti walaupun masih dipanggil dengan nama lamanya, The Wine Hotel, tujuannya adalah untuk mengubah menjadi ‘Terroir LA,'” tulis situs In & Around Los Angeles.

Bahkan situs yang mengulas tempat-tempat wisata dan kuliner di LA itu menyebutkan tempat ini ‘highly recommended’, untuk membeli bahkan sekadar mencicipi wine. Situs itu mencantumkan alamat ‘The Wine Hotel 5800 West Third Street Los Angeles, CA 90036 (323) 937-9463. Hours*: Monday-Saturday 11-7 Sunday CLOSED’.

Rudy Kurniawan, kolektor sekaligus penjual wine (anggur) asal Indonesia ditangkap di Los Angeles, Amerika Serikat, dibekuk oleh agen FBI, Kamis (8/3). Nama asli Rudy Kurniawan adalah Zhen Wang Huang. Masuk ke AS memakai visa pelajar.

Hal ini terungkap dari surat gugatan miliarder AS William ‘Bill’ Koch yang diteken pengacaranya Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP pada 10 September 2009, yang didaftarkan pada Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles.

Dalam surat gugatan itu Rudy disebutkan bernama asli Zhen Wang Huang, yang merupakan penduduk wilayah Los Angeles, California, AS. Rudy ternyata masuk ke AS memakai visa pelajar. Namun, tahun berapa Rudy pertama kali masuk ke AS, belum diketahui.

“Kurniawan tiba di California, kemungkinan memakai visa pelajar, untuk masuk California State Northridge (universitas, red) walaupun dia drop out setahun kemudian,” demikian ditulis dalam surat gugatan itu.

Rudy, imbuh surat gugatan itu, dikatakan tak pernah bersedia menjelaskan asal-usul persisnya dari mana uang yang keluarganya dapatkan. Rudy mengaku mendapatkan nama keluarga Indonesia yang berbeda dari nama keluarganya yang China.

“Dia terkadang melaporkan bahwa ayahnya masih hidup, dan di lain waktu, sudah meninggal. Ada banyak pertanyaan yang belum jelas yang butuh dibahas dalam penemuan,” tulis surat gugatan itu.

Pertanyaan yang perlu dijawab adalah:

  1. Bagaimana status keimigrasian saat dia memasuki pasar wine?
  2. Dari mana kekayaan keluarganya berasal, apakah nyata semua?
  3. Mengapa seseorang dengan usia 20-an menghabisan puluhan juta US Dollar untuk membeli wine dengan cepat?
  4. Mengapa dia membeli dan menjual wine bernilai jutaan US Dollar pada saat yang sama?
  5. Mengapa Kurniawan menawar wine saat pelelangan, apakah rumah lelang mengetahui bahwa dia memiliki uang untuk membayar wine?
  6. Apakah rumah lelang berdiskusi dengannya dan berapa banyak dia harus menawar? Apakah dia (Rudy) mengatur itu?
  7. Apakah hal itu dilakukan orang lain, atau apakah dia hanya boneka untuk orang lain dalam bisnis wine yang diuntungkan dari penawaran agresif untuk menaikkan harga?

Wine identik dengan gaya hidup kelas atas. Maklum saja, harganya selangit. Contohnya, 3 botol wine berkualitas tinggi merek DRC harganya setara satu Ferrari 430 baru!

Soal harga selangit ini diceritakan oleh pakar wine Indonesia, Yohan Handoyo, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (9/12/2012).

Yohan menceritakan, Aubert de Villaine dari Domaine de la Romanee-Conti (DRC) – produsen wine termahal di dunia dari Burgundy, Prancis – suatu hari mengumpulkan para kolektor kelas kakap yang sangat sangat bangga dengan koleksi DRC Richebourg tahun 1947 mereka dan dengan nada prihatin menjelaskan bahwa pada tahun 1947 DRC Richebourg tidak diproduksi karena mereka sedang menanam ulang pohon anggur mereka.

“Jika saya salah satu dari kolektor itu, mungkin saya akan terkena serangan jantung mendadak karena sekarang ini harga 3 botol DRC ukurang Jeroboam harganya sama dengan satu Ferrari F430 baru!” ungkap Yohan.

Ferrari F430 adalah mobil sport besutan perusahaan otomotif Italia, Ferrari, yang keluar pada 2004-2009, yang harganya sekitar Rp 1,9 miliar.

Yohan juga menceritakan, pengadilan distrik New York malah baru-baru ini menyidangkan gugatan William I Koch, seorang miliarder asal Florida, yang murka karena yakin bahwa tiga botol wine milik Thomas Jefferson (presiden ketiga Amerika Serikat) yang dibelinya seharga lima miliar rupiah dari Hardy Rodenstock adalah wine palsu. Saking seriusnya ia menyiapkan gugatan ini, wine yang diyakininya palsu itu ia kirimkan ke para ilmuwan untuk dicek umurnya dengan teknologi carbon dating yang juga dipakai untuk menyelediki “kain kafan Yesus” (the shroud of Turin).

“Memang runyam nasib para wine lover saat ini. Setelah harus menghadapi resiko meminum wine rusak, wine yang sudah berubah menjadi cuka, dan harga wine yang menyebalkan, kini kita harus menghadapi risiko membeli wine yang palsu,” tuturnya.

Terkait wine palsu, Yohan menjelaskan, ada dua modus pemalsuan. Pertama, penggunaan bahan-bahan tidak berkualitas oleh produsen. Kedua, memalsukan wine mahal yang langka, yang harganya setara dengan karya seni.

Isu tentang wine mencuat pasca penangkapan kolektor wine kelas kakap asal Indonesia, Rudy Kurniawan (35).