Monthly Archives: May 2014

Perang Terbuka Antara Tentara Ukraina dan Milisi Pro Rusia Terjadi Dalam Perebutan Bandara Udara Donetsk

Sedikitnya 30 jenazah kelompok pro-Rusia dibawa ke rumah sakit, Selasa (27/5/2014), sehari setelah pertempuran terbuka pertama di kawasan timur Ukraina, Senin (26/5/2014). Pertempuran tersebut melibatkan pesawat jet dan helikopter Pemerintah Ukraina, berhadapan dengan persenjataan darat kelompok pro-Rusia. Di luar rumah sakit, salah satu pejuang pro-Rusia yang tak bersedia menyebutkan nama dengan alasan keamanan mengatakan, truk pembawa jenazah itu masih ada di luar rumah sakit.

Menurut orang itu, jenazah belum diturunkan karena menunggu ahli peledak. Kehadiran ahli ini diperlukan untuk memastikan tak ada bahan peledak yang belum meledak ikut terbawa. Sepanjang Senin, ledakan dan letusan membahana di kota berpenduduk satu juta jiwa tersebut. Jet tempur dan helikopter militer terlihat terbang di udara, dengan asap hitam pekat membubung ke angkasa dari daratan. Banyak penerbangan dari dan ke Donetsk ditunda dan dibatalkan, setelah akses menuju bandara diblokade polisi.

Dua helikopter serbu milik militer Ukraina, Senin (26/5/2014), menyerang bangunan terminal utama bandara Donetsk yang dikuasai separatis di wilayah timur Ukraina. Dua helikopter itu terbang rendah lalu menembaki bangunan bandara dan mengenai terminal utama bandara tersebut. Asap hitam membubung ke udara dari tempat yang terkena tembakan. Sebelumnya, pada Senin pagi, sekelompok orang bersenjata menyerbu bandara Donetsk yang merupakan bentuk penentangan terhadap pemilu Ukraina yang ditolak kelompok separatis yang menguasai wilayah timur Ukraina.

Akibatnya, militer Ukraina meluncurkan operasi untuk merebut kembali bandara itu. Militer Ukraina mengerahkan jet-jet tempur dan helikopter serbu dalam operasi ini. “Setelah ultimatum (agar separatis meninggalkan bandara) pada pukul 13.00 habis, kami meluncurkan operasi anti-teror,” kata juru bicara militer Ukraina, Oleksiy Dmytrashyvskiy. Juru bicara militer lainnya, Vladyslav Seleznyov, lewat akun Facebook-nya mengatakan pasukan Ukraina didukung helikopter serbu Mi-8 dengan pasukan payung dan jet tempur.

“Pertama, jet tempur SU-25 melepaskan tembakan peringatan ditujukan ke arah teroris untuk memenuhi tuntutan kami. Beberapa pemberontak mulai panik,” kata Seleznyov. “Lalu MiG-29 melakukan serangan udara di dekat kawasan tempat berkumpulnya para teroris,” sambung dia. Akibat didudukinya bandara Donetsk, maka semua penerbangan masuk dan keluar kota itu dibatalkan. Bandara Donetsk baru saja direnovasi besar-besaran menjelang Piala Eropa 2012.

Serangan udara ini dilancarkan Pemerintah Ukraina untuk merebut kembali kendali bandara. Serangan ini pun menjadi operasi militer yang paling kasatmata sejak tindakan keras diputuskan akan diambil untuk menghadapi kelompok pro-Rusia di kawasan timur Ukraina. Dua helikopter terbang rendah menuju terminal bandara yang berkilauan dan melepaskan tembakan roket pada target tak terlihat di balik barisan pepohonan di sekitar bandara, mengirimkan segumpal hitam tebal asap mengepul ke udara.

Kedua helikopter kemudian kembali melepaskan tembakan, ketika satu-dua letusan senapan menyalak dari daratan. Satu helikopter melepaskan tembakan ke kaca depan terminal Bandara Donetsk, yang beberapa jam sebelumnya merupakan tempat para penumpang terbang ke luar Ukraina. Selama berjam-jam, Senin (26/5/2014), rentetan tembakan senapan mesin berat dan ledakan menjadi bunyi yang mendominasi di Donetsk, di kawasan timur Ukraina ini. “Perang” tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Ukraina merebut kembali kendali pusat transportasi strategis di kota besar yang dikuasi kelompok pro-Moskwa tersebut.

“Ini seperti di Chechnya,” kata Mikhail Rozhkov, mantan penambang, sembari terengah-engah saat dia bersepeda untuk memeriksa kondisi ayahnya yang berusia 76 tahun, yang bekerja sebagai penjaga garasi di dekat bandara. “Mereka menembakkan roket dan mortir. Ini menakutkan.” Rozhkov mengatakan, dia dan ayahnya bersembunyi di ruang bawah tanah, dan berusaha pulang untuk memastikan kondisi ibunya. “Saya harus memberitahunya bahwa ayah baik-baik saja dan hidup. (Namun) aku tidak tahu, bahkan untuk besok,” ujar dia.

Sebelumnya, puluhan orang bersenjata berat dari kelompok warga pro-Moskwa merebut bandara tanpa ada satu pun tembakan keluar. Mereka, yang sebagiannya mengenakan topi cossack dan berjenggot panjang, menuntut para tentara penjaga bandara untuk ditarik.

Dua ledakan tiba-tiba
Semua penerbangan masuk dan keluar bandara Donetsk dihentikan sebelum pemerintah menerbangkan jet tempur dan senjata berat untuk menyerang kelompok yang menguasai bandara tersebut, Senin siang. Bandara ini sebelumnya pernah mendapatkan perbaikan besar-besaran untuk menyongsong kejuaraan sepak bola Eropa pada 2012. Nilai perbaikan saat itu mencapai 900 juta dollar AS. Serangan pada bandara ini dilakukan setelah kelompok yang menguasainya mengabaikan ultimatum batas waktu jam makan siang untuk meninggalkan bandara.

“Saat suasana tenang, tiba-tiba dua ledakan terjadi, disusul dua ledakan lain, yang sepertinya ditembakkan dari pesawat,” kata Maksim Bakhal, seorang pekerja pemakaman di tepi bandara. “Kemudian tiga helikopter terbang dan ada tembakan senapan mesin,” ujar dia. “Lalu ada tembakan dari semua sisi bandara dengan senjata berat dan meriam.”

Di biara Svatoiversky, kubah emas yang berjarak beberapa ratus dari bandara, tujuh suster terjebak pertempuran ini. “Ke mana mereka pergi?” tanya seorang perempuan berkerudung kepada imam berjenggot yang membawanya ke biara. “Anda ingin tahu apa yang para biarawati itu lakukan?” tanya sang imam yang kembali satu jam kemudian. “Mereka berdoa.” Pertempuran pada Senin ini merupakan yang pertama setelah kelompok-kelompok di kawasan timur, yang menguasai perdesaan dan perkotaan sekitar Donetsk, mulai merangsek masuk ke kota ini.

“Kami tidak bisa melarikan diri dari perang saat ini. Seratus persen yakin,” kata pendukung pro-Moskwa, Sergei, begitu suara pesawat jet menderu menuju bandara. “Ini hanya awal.” Setelah empat jam, pertempuran sporadis sepertinya mereda. Namun, jalanan di sekitar bandara tetap sepi. Hanya kelompok pro-Moskwa yang terlihat berjongkok di tepi jalan dan berteriak ketika mobil yang membawa wartawan AFP melaju cepat meninggalkan kawasan tersebut.

“Masih terlalu dini untuk mengatakan bagaimana pertempuran akan berjalan,” kata seorang pejuang separatis senior, yang berdiri agak jauh dari bandara dengan menyandang senapan Kalashnikov. “Kami tak memiliki informasi tentang korban tewas atau terluka,” imbuh lelaki itu. Konfrontasi sengit meletus setelah Presiden Ukraina terpilih, Petro Poroshenko, bersumpah tak akan membiarkan kelompok pejuang di kawasan timur negaranya mengubah wilayah itu menjadi semacam Somalia. Dia yang terpilih dalam pemilu pada hari Minggu (25/5/2014) mengatakan, penumpasan pemberontak akan berlanjut, tetapi dengan operasi yang lebih efisien.

Poroshenko mengatakan, dia berencana mendatangi wilayah Donbass, region tempat Donetsk merupakan ibu kotanya, sebagai bagian dari langkah pertamanya setelah terpilih. Namun, kelompok pro-Moskwa menyatakan bahwa dia tak diterima di sana. “Situasi semakin buruk. Sangat tidak cerdas bila Poroshenko ingin datang ke sini. Orang tak ingin melihatnya,” kata salah satu pemimpin kelompok pro-Moskwa di Donetsk, Denis Pushilin.

“Dialog mungkin saja dilakukan, tetapi hanya di hadapan mediator, dan mediator itu adalah Rusia,” imbuh Pushilin seraya menyebutkan sejumlah persyaratan, termasuk pertukaran tawanan dan penarikan pasukan dari Donbass. Pertempuran pada Senin terjadi setelah taipan dan raja permen Petro Poroshenko mengklaim kemenangan dalam pemilu yang berlangsung pada Minggu (25/5/2014). Poroshenko berjanji menegosiasikan perdamaian dengan kelompok pro-Rusia di kawasan ini, di lokasi dengan penyitaan kantor-kantor pemerintah. Meski demikian, Poroshenko menyebut kelompok pro-Rusia ini tak beda dengan para perompak Somalia.

Cina Larang Lembaga Pemerintah Gunakan Windows 8

Cina memberlakukan larangan penggunaan perangkat Windows 8 untuk komputer di lembaga pemerintah. Tujuan penerapan larangan tersebut yakni untuk menghemat energi. Selain aturan ihwal penggunaan perangkat lunak, terdapat juga larangan menggunakan perangkat elektronik yang boros energi.

Kantor berita Xinhua melaporkan, selain terkait dengan energi, aturan pemerintah tersebut juga berhubungan dengan sistem keamanan. “Pemerintah Cina tidak bisa mengabaikan risiko dari penggunaan sistem operasi yang berjalan tanpa adanya jaminan teknis,” tulis Xinhua, yang dikutip Reuters, Rabu, 21 Mei 2014.

Pemerintah Negeri Tirai Bambu ingin memastikan keamanan teknologi informasi setelah berakhirnya dukungan terhadap sistem operasi Windows XP pada April lalu. Menyusul berakhirnya era Windows XP, Windows 8 menjadi pilihan bagi warga Cina. Windows XP sebelumnya sangat populer di Cina, baik di kalangan konsumen perorangan maupun lembaga pemerintah dan perusahaan.

Lembaga riset Data Canalys menyatakan larangan tersebut sangat merugikan Microsoft. “Keputusan Cina melarang Windows 8 akan menghambat Microsoft dalam upaya mendorong penggantian sistem operasi Windows XP,” ujar lembaga tersebut.

Microsoft mengaku terkejut mendengar larangan yang diberlakukan pemerintah Cina itu. “Kami telah bekerja secara proaktif dengan pusat pengadaan pemerintah Cina and lembaga pemerintah lain untuk mengevaluasi proses dan memastikan pengadaan produk kami,” ujar Microsoft lewat pernyataan resminya.

Raksasa teknologi Amerika Serikat ini menyatakan akan terus melanjutkan pengembangan Windows 7 bagi konsumen pemerintah. Selanjutnya, Microsoft akan terus mengevaluasi Windows 8 bersama lembaga terkait.

Cina sudah lama menjadi pasar yang sulit bagi perusahaan yang berbasis di Washington, DC, ini. Mantan CEO Microsoft, Steve Ballmer, pernah menyatakan kepada karyawannya pada 2011 bahwa tingginya kasus pembajakan di Cina mempengaruhi pemasukan perusahaan.

Thailand Dalam Darurat Militer Setelah Militer Ambil Alih Kekuasaan

Tak lama berselang setelah militer Thailand mengumumkan keadaan darurat militer, dampak nyata mulai terasa. Militer Thailand mengatakan sepuluh stasiun televisi harus menghentikan siarannya. Menurut laporan Reuters hari ini, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di televisi, militer telah meminta sepuluh stasiun televisi itu untuk menghentikan penyiaran. Hal ini dilakukan untuk mencegah distorsi berita yang bisa menciptakan kesalahpahaman.

Sepuluh stasiun tersebut adalah MV 5, DNN, UDD, Asia Update, P&P, Four Channel, Bluesky, FM TV, TNews, dan ASTV.

Belum diketahui kapan stasiun tersebut bisa kembali beroperasi. Dikutip dari Bangkok Post, pihak militer menyatakan penutupan akan terus terjadi hingga mereka bisa memastikan berita yang disebarkan adalah akurat dan tidak terdistorsi sehingga tidak meningkatkan ketegangan di negara ini. Pada Selasa, 20 Mei 2014 pagi, pihak militer mengumumkan darurat militer di seluruh wilayah. Banyak yang menganggap status darurat militer merupakan langkah militer untuk melakukan kudeta. Sebab dengan status tersebut, militer jadi memiliki wewenang mengontrol seluruh keamanan negeri.

Situasi Thailand kembali memanas sampai pihak militer mengumumkan darurat militer di seluruh wilayah. Lewat siaran televisi, pernyataan ini diumumkan Selasa, 20 Mei 2014 sebelum fajar tadi. Langkah ini secara efektif akan memberikan wewenang kepada militer untuk mengontrol keamanan di seluruh negeri. Banyak yang menganggap darurat militer merupakan langkah militer untuk melakukan kudeta.

Namun, seorang pejabat militer yang tidak mau disebut namanya mengatakan kepada Associated Press bahwa “Ini bukan kudeta. Ini hanya langkah untuk menjamin keselamatan seluruh warga.” Sebuah siaran di stasiun militer juga membantah adanya kudeta dan meminta masyarakat untuk tidak panik.

Situasi keamanan di Thailand kembali memanas setelah Perdana Menteri Yingluck Shinawatra dan sembilan anggota kabinetnya dilengserkan pada awal Mei lalu. Demonstran anti-pemerintah tak cukup puas dengan hal itu. Mereka juga mendesak pemerintah mundur karena mengganggap pemerintah hanyalah sisa-sisa dari dinasti Yingluck.

Namun, PM interim Thailand Niwattumrong Boonsongpaisan menolak permintaan ini. Dalam pernyataannya Senin kemarin, ia berkeras bahwa dirinya dapat melaksanakan tugas dan wewenang penuh sebagai perdana menteri. Di lain pihak, gelombang aksi demonstran anti-pemerintah ini dikhawatirkan akan memicu kemarahan pendukung pemerintah, yang dikenal dengan sebutan “Kaus Merah”. Namun hingga saat ini, Kaus Merah menyatakan akan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah dan militer.

epala Angkatan Darat Thailand Jenderal Prayut Chan-ocha mengingatkan tentara bisa menggunakan kekuatannya untuk memadamkan kekerasan politik setelah tiga demonstran anti-pemerintah tewas dalam serangan granat di Bangkok. “Saya ingin mengingatkan setiap kelompok, terutama mereka yang menggunakan kekerasan dan senjata terhadap warga sipil tak berdosa, untuk berhenti sekarang. Jika kekerasan terus terjadi, militer mungkin akan keluar untuk memulihkan perdamaian dan ketertiban,” kata Prayut, yang jarang berkomentar keras, Kamis, 15 Mei 2014.

Pernyataan resmi ini diikuti seruan agar pemilihan pemilu Juli ditunda karena terjadi kerusuhan. Sebelumnya, penyerang tak dikenal melemparkan dua granat ke sebuah kamp demonstran di Monumen Demokrasi dan diikuti oleh suara tembakan, Kamis, 15 Mei 2014. Tim Penanganan Darurat Erawan Bangkok mengatakan tiga orang tewas dan 23 terluka akibat insiden itu. Pertumpahan darah terbaru muncul setelah demonstran mendorong penunjukan perdana menteri yang bukan dari Partai Pheu Thai, partai penyokong Perdana Menteri Yingluck Shinawatra. Yingluck adalah adik Thaksin Shinawatra, bekas Perdana Menteri yang terguling oleh kudeta militer 2006.

Sebelumnya, Mahkamah Konstitusi melengserkan Yingluck dari kursinya setelah ada dugaan korupsi dalam kasus kebijakan mengenai beras. Oposisi meminta pengganti Yingluck berasal dari kelompok di luar pendukung Thaksin. Namun Pheu Thai tetap mengganti Yingluck dengan kadernya, Niwattumrong Boonsongpaisan.

Aparat Thailand memburu dua jurnalis Reuters yang dianggap telah mencemarkan nama baik institusi militer negara itu lewat pemberitaan. Polisi akan memanggil keduanya untuk menjalani pemeriksaan. Kedua jurnalis itu memberitakan tentang keterlibatan aparat angkatan laut Thailand dalam praktek penyelundupan imigran etnis Rohingya. Pemberitaan itu diganjar penghargaan Pulitzer tahun ini.

“Jika mereka tidak hadir,kami akan mengeluarkan perintah penangkapan,” kata Somkid, polisi yang menangani kasus ini kepada AFP di Phuket, Senin, 12 Mei 2014. Pemberitahuan tentang pemanggilan kedua jurnalis itu juga akan disampaikan ke kantor pusat Reuters.

Seperti diberitakan The Daily Star, Selasa, 13 Mei 2014, kedua jurnalis itu diyakini sudah keluar dari Thailand dan kemungkinan tidak akan hadir memenuhi panggilan polisi untuk diadili. Reuters menegaskan dalam meliput berita tentang penderitaan etnis Rohingya, kedua jurnalisnya telah melakukan prinsip jurnalisme secara adil dan seimbang.

Tak hanya kedua jurnalis Reuters itu yang dibidik aparat penegak hukum Thailand, ternyata angkatan laut Thailand juga menggugat jurnalis Australia dan jurnalis Thailand yang mengutip laporan Reuters itu. Keduanya dijerat pasal pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-Undang Kejahatan Komputer. Untuk kedua dakwaan tersebut, para jurnalis itu terancam dibui selama lebih dari lima tahun.

Human Rights Watch mengecam Thailand atas kasus yang menimpa para jurnalis itu sebagai noda hitam bagi negara itu dalam penghormatan kemerdekaan media. Seperti laporan Reporters Without Borders 2014, Thailand menempati posisi 130 dari 180 negara dalam indeks kemerdekaan pers. Posisi ini tertinggi dari 10 negara anggota ASEAN.

Serbia dan Bosnia Dilanda Banjir Setelah Hujan Lebat Tanpa Henti Selama 1 Minggu

Serbia dan Bosnia diterjang hujan terparah dalam 120 tahun terakhir. Hujan lebat selama satu minggu ini mengakibatkan sedikitnya 20 orang tewas dan ribuan lainnya telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman di wilayah barat dan tengah Serbia dan perbatasan Bosnia. Di Serbia saja, 6.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sedangkan ribuan lainnya sedang menunggu untuk dievakuasi karena debit air Sungai Sava dan Morava masih dalam situasi membahayakan.

Serbia dan Bosnia telah mengumumkan status negara dalam keadaan darurat pada Kamis, 14 Mei 2014. Hujan lebat juga membuat aliran listrik ke rumah penduduk terputus. Lebih dari 150 ribu rumah tangga hidup tanpa listrik saat ini. Peristiwa itu pun mengakibatkan tanah longsor sebanyak 200 kali. Pemerintah Serbia meminta negara-negara tetangganya untuk memberikan bantuan darurat setelah dua pembangkit listrik tenaga air di negara itu terpaksa tidak diaktifkan karena banjir bandang.

“Tidak pernah bencana alam separah ini terjadi di Serbia,” kata Aleksandar Vucic, Perdana Menteri Serbia, saat menggelar pertemuan darurat dengan stafnya. Hujan yang diperkirakan masih berlanjut hingga akhir pekan ini membuat para pejabat Bosnia mengingatkan warga tentang kemungkinan lebih banyak lagi tanah longsor yang terjadi.
Tim bantuan dari Rusia telah tiba di kedua negara untuk memberikan bantuan.

Banjir di wilayah Serbia dan Bosnia telah menewaskan sedikitnya 44 orang dan menyebabkan hampir 10.000 orang lebih mengungsi. Bencana di dua negara ini merupakan yang terparah sejak akhir abad ke-19. Menurut laporan Time, Senin, 19 Mei 2014, korban tewas sebanyak 27 orang dilaporkan di Bosnia, 16 orang di Serbia, dan satu orang di Kroasia. Perdana Menteri Serbia Aleksandar Vucic menyatakan angka korban tewas masih mungkin meningkat mengingat masih banyak lokasi yang belum terjangkau tim penyelamat.

Akibat banjir ini, beberapa wilayah benar-benar terputus. “Kami telah mengirim tim penyelamat dari daerah bencana. Beberapa kota benar-benar terputus akibat banjir ini,” kata Samo Minic, Wali Kota Samac, Bosnia. Ia menuturkan, seorang pekerja bahkan harus menghabiskan waktu selama dua hari untuk mencapai Desa Krupanj, Serbia. Wilayah ini terdampak sangat parah. Warga sampai menggambarkan dampak banjir seperti dampak tsunami dan gempa bumi yang terjadi sekaligus.

Satu juta jiwa terpaksa hidup tanpa air bersih lantaran bencana banjir yang melanda Bosnia -Hercegovina sejak pekan lalu. Menteri Luar Negeri Bosnia, Zlatko Lagumdzija mengatakan, kerusakan akibat banjir teramat parah. “Dampak banjir sangat mengerikan,” kata Lagumdzija dalam konferensi pers Senin, 19 Mei 2014 kemarin, seperti dikutip dari BBC News. Ia bahkan membandingkannya dengan perang Bosnia pada tahun 1992 hingga 1995 lalu.

Ia menuturkan, lebih dar 100 ribu rumah dan bangunan benar-benar tidak bisa digunakan lagi karena mengalami kerusakan yang sangat parah. Sejumlah jalan juga rusak. Selain itu, ia melaporkan, setidaknya ada 2000 tanah longsor yang beberapa di antaranya merupakan ladang ranjau sisa perang. Telah lebih dari 500 ribu orang dievakuasi. Helikopter penyelamat dari Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia, bekerja sama memindahkan warga dari tempat bencana ke daerah yang lebih aman.

Banjir akibat hujan terburuk dalam 120 tahun terakhir ini juga telah menewaskan puluhan warga Serbia. Hingga Senin kemarin, setidaknya sudah 44 orang dilaporkan tewas di Serbia dan Bosnia.Selain mengakibatkan banjir, curah hujan yang tinggi ini juga menyebabkan tanah longsor. Hal ini membuat pemerintah mengibau warga agar berhati-hati terhadap ranjau darat bekas perang pada tahun 1960-an yang terkubur yang mungkin masih aktif.

Iklan Kasur Dari Agency Ogivly & Mather Menuai Kritik Karena Manfaatkan Korban Terorisme

Nama Malala Yousafzai dikenal sebagai aktivis muda asal Pakistan yang telah menjadi ‘simbol keberanian internasional’. Namun, sebuah perusahaan iklan Ogivly & Mather dari India malah menggunakan Malala sebagai poster iklan dari produk kasur bermerek Kurl-on.

Iklan di poster itu memanfaatkan kejadian saat Malala ditembak di wajahnya oleh tentara Taliban 2012 dalam bentuk kartun. Iklan ini ingin menunjukkan bahwa kasur Kurl-on ini sangat empuk hingga yang menggunakannya seperti bisa “bounce back” atau memantul.

Pada bagian sebelah kiri, terlihat adegan Malala saat ditembak oleh tentara Taliban. Kemudian, ia terjatuh di atas kasur, memantul, “bangkit” lagi, sampai akhirnya terbentuk adegan ia akan menerima Nobel Perdamaian.

Iklan ini kemudian mendapat kritik tajam dari banyak orang. Ada yang menyebutnya, “Tidak berperasaan, kasar, dan kejam”. Setelah mendapatkan berbagai kritik, pihak Ogilvy akhirnya meminta maaf lewat akun Twiter-nya.

“Kami sangat menyesal dengan insiden ini. Kami ingin minta maaf kepada Malala Yousafzai dan keluarganya. Kami sedang menyelidiki bagaimana standar yang kami kompromikan dan akan segera mengambil tindakan korektif yang perlu dilakukan,” kata Racher Ufer dari pihak Ogily, seperti dilaporkan TIMES, Jumat, 16 Mei 2014.

Sebelumnya, Ogilvy juga menggunakan tokoh Steve Jobs dan Mahatma Gandhi sebagai model iklan kasur dengan konsep yang sama, tapi tidak sampai memunculkan banyak kecaman seperti ini.

Tindakan Sahabat Suriah Destruktif Untuk Perdamaian

Rusia menentang keputusan sejumlah negara yang tergabung dalam kelompok “Sahabat Suriah (Friends of Syiria)”, yang meningkatkan bantuan terhadap kelompok oposisi moderat di Suriah, menyebutnya sebagai tindakan “destruktif”. “Tidak seperti rekan kami di Barat, kami bekerja sama dengan semua pihak di Suriah, tidak hanya dengan satu kelompok saja,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov sebagaimana dikutip dari kantor berita Interfax, Kamis.

“Bagi kami, pendekatan hanya dengan salah satu pihak itu adalah tindakan yang destruktif,” kata Bogdanov. Demikian diberitakan AFP. Rusia, yang mempunyai hak veto di Dewan Keamanan PBB, selama tiga tahun terakhir ini memang memberi pemerintah Suriah dukungan krusial. Moskow berulang kali menghentikan upaya negara Barat dan Timur Tengah untuk menggulingkan Bashar.

Sebelumnya, kelompok negara “Sahabat Suriah” bertemu di London dan sepakat untuk meningkatkan bantuan terhadap kelompok oposisi moderat yang menentang kekuasaan Presiden Bashar al-Assad.Kelompok negara yang tergabung dalam “Sahabat Suriah (Friends of Syiria)” mengecam rencana Bashar al- Assad untuk menggelar Pemilu Presiden pada 3 Juni mendatang di tengah perang saudara.

Pernyataan bersama dari 11 negara yang terlibat di London itu menyebut pemilu itu sebagai pergelaran “yang tidak sah” dan merupakan “parodi demokrasi”. Mereka juga mendesak masyarakat internasional untuk menolak apapun hasilnya. Demikian diberitakan Reuters.

Kesebelas negara yang tergabung dalam “Sahabat Suriah” adalah Inggris, Mesir, Prancis, Jerman, Italia, Yordania, Qatar, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. “Rencana pemilu tersebut adalah lelucon yang menghina dan palsu,” kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry setelah pertemuan tersebut.

Selain menentang rencana gelaran Pemilu Presiden di Suriah, kelompok Sahabat Suriah ini juga akan meningkatkan bantuan kepada pihak oposisi moderat di Suriah. Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan, bahwa “Sahabat Suriah” berniat “untuk meningkatkan upaya pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa mempertimbangkan keberatan dari pihak rezim (Bashar).”

Pemerintah Suriah sendiri dinilai sering menghambat pengiriman bantuan makanan dan sejumlah peralatan lainnya dari badan internasional kepada masyarakat sipil yang semakin putus asa. Amerika Serikat, yang menyediakan bantuan kemanusiaan senilai 1,7 milyar dolar AS, menyatakan frustasi atas hal tersebut.

“Bantuan tidak sampai ke tangan orang yang membutuhkan. Bantuan itu harus melalu satu pintu, yaitu Damaskus, dan dikontrol oleh rezim Bashar. Ini tentu saja tidak dapat diterima,” kata Kerry. Suara yang sama juga sempat dinyatakan pada pekan lalu oleh direktur pelaksana bantuan PBB di Suriah, John Ging. Dia menuduh pemerintah Bashar telah memblokade bantuan medis yang ditujukan kepada penduduk wilayah kelompok oposisi.

Sementara di tempat terpisah Rusia menyatakan bahwa tindakan kelompok negara “Sahabat Suriah” yang hanya membantu satu pihak saja–yaitu kelompok oposisi moderat di Suriah– menyebutnya sebagai “tindakan destruktif”.

Demonstran Anti-Cina Bakar 10 Pabrik di Vietnam

Para demonstran anti-Cina telah membakar dan menjarah sekitar sepuluh pabrik di selatan Vietnam menyusul ketegangan antara Cina dan Vietnam terkait dengan penyebaran kilang minyak Cina di wilayah Laut Cina Selatan yang dipersengketakan.

Dilaporkan Associated Press, Rabu, 14 Mei 2014, para perusuh menyerang pabrik-pabrik di kawasan industri Singapura yang diyakini dikelola oleh Cina. Namun sesungguhnya, pabrik-pabrik tersebut banyak dikuasai Taiwan.

Telah lebih dari 20 ribu orang menggelar aksi protes terhadap penyebaran kapal kilang minyak Cina di wilayah Laut Cina Selatan yang diklaim Vietnam sebagai miliknya. Namun Cina berkeras bahwa seluruh wilayah Laut Cina Selatan adalah miliknya. Meski nyatanya Brunei, Malaysia, Filipina, dan Taiwan juga mengklaim wilayah tersebut.

Cina dan Vietnam memang sering terlibat sengketa. Pada 1988 lalu, keduanya terlibat pertempuran di Johnson South Reef dan mengakibatkan tewasnya 90 tentara Vietnam.