Monthly Archives: June 2014

Produksi Narkoba Asia Meningkat dan Bunuh 200 Ribu Orang Tiap Tahun

Meski pengendalian narkoba terus digalakkan di kawasan Asia, budi daya opium sebagai bahan baku narkotika jenis heroin, nyatanya terus meningkat di beberapa wilayah. Temuan ini dimuat di World Drug Report 2014 yang diterbitkan oleh Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC).

Seperti dikutip dari Xinhua, laporan yang diterbitkan dalam rangka memperingati Hari Anti-Narkoba Internasional ini menyebutkan, budi daya opium di Afganistan telah melonjak sebesar 36 persen dari 154 ribu hektare pada tahun 2012 menjadi 209 ribu hektare pada tahun 2013. Meski dilanda konflik bersenjata, negara ini masih menghasilkan sekitar 5.500 ton opium atau 80 persen dari produksi dari opium global. Budi daya opium di segitiga emas, Afganistan-Iran-Pakistan, kembali menggeliat sejak tahun 2006.

Tingginya budi daya opium ini meningkatkan kekhawatiran penyalahgunaan heroin di sejumlah negara Asia seperti Cina, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam. “Pasar narkoba di Asia Timur dan Asia Tenggara yang dinamis bisa berkembang secara signifikan,” kata Perwakilan Regional UNODC untuk Asia Tenggara, Jeremy Douglas.

Setiap tahun, 26 Juni diperingati sebagai Hari Anti-Narkoba Internasional (HANI). Sejak diputuskan pada 1987 lalu, peringatan HANI diharapkan bisa menjadi pengingat untuk mencapai tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam membentuk masyarakat internasional yang bebas dari penyalahgunaan narkoba.

Memang pengguna narkoba mencapai angka yang cukup tinggi. Menurut data dari Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC), sekitar 200 juta orang mengkonsumsi narkoba setidaknya satu kali dalam satu tahun. Dari jumlah tersebut, 25 juta di antaranya dianggap sebagai pencandu.

Jumlah yang tidak sedikit ini meningkatkan kekhawatiran global akan dampak narkoba bagi kesehatan. Efek negatif ini bervariasi, tergantung pada jenis obat yang dikonsumsi, dosis yang dipakai, dan frekuensi penggunaan. Bahkan, menurut UNODC, 200 ribu orang meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan narkoba ini.

Orang-orang muda dianggap lebih rentan terhadap penggunaan narkoba. Prevalensi penggunaan narkoba di kalangan anak muda diperkirakan dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan narkoba di kalangan populasi umum. Melihat kenyataan ini, sejak tahun 2000 UNODC mengeluarkan kampanye bahwa “Pengguna Narkoba Dapat Dicegah dan Diobati.” PBB berharap kaum muda bisa dibekali dengan keterampilan, informasi yang cukup, dan peluang untuk menjalani kehidupan yang sehat sehingga dapat mencegah dampak negatif dari penyalahgunaan narkoba.

Penggunaan ganja di Amerika Serikat meningkat tajam sehingga membuat PBB khawatir. Apalagi beberapa negara bagian di AS kini melegalkan ganja. “Kami mencatat peningkatan penggunaan ganja di Amerika Serikat,” kata Angela Me, seorang peneliti dari Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC), seperti dikutip Reuters, Kamis, 26 Juni 2014.

Dalam sebuah pertemuan tentang diskriminasi ganja, Angele mengatakan semakin banyak orang di seluruh dunia, baik di Amerika maupun Eropa, mencari pengobatan untuk gangguan kesehatan akibat penyalahgunaan ganja. Ditambah lagi, seperti yang ditulis dalam World Drug Report oleh UNODC ini, tingginya penggunaan ganja juga diimbangi oleh legalisasi di sejumlah daerah, seperti Washington dan Colorado, serta Uruguay. Meski memang terlalu dini untuk memahami dampak dari legalisasi ini.

Dalam perayaan Hari Anti-Narkoba Internasional tahun ini, UNODC mengkampanyekan pengguna narkoba bisa dicegah dan diobati. Mereka berharap semua pihak bisa mencegah penggunaan ganja, terutama pada kaum muda yang dianggap lebih rentan terhadap penggunaan narkoba.

World View Enterprises Hadirkan Tamasya Ke Luar Anggkasa Dengan Balon Udara

Perusahaan turisme luar angkasa dari Arizona sukses melakukan uji coba penerbangan balon udara tertinggi. World View Enterprises menerbangkan balon yang dilengkapi kapsul penumpang hingga melayang pada ketinggian 20 mil atau sekitar 32 kilometer. Dari ketinggian ini lekuk planet bumi bisa terlihat lebih jelas.

Uji coba balon udara ini menjadi bagian dari rencana pengembangan tur wisata ke atmosfer tinggi bumi pada 2016. Balon udara tersebut diluncurkan dari Roswell, New Mexico.

Presiden Direktur Jane Poynter mengatakan sistem balon udara mereka memecahkan rekor penerbangan tertinggi dengan menggunakan parafoil. “Semuanya berjalan sangat baik, kami sangat terkesan,” kata Poynter, Kamis, 26 Juni 2014.

Perusahaan itu menggunakan sistem balon serupa dengan yang mereka pakai pada 2012 untuk mengangkut penantang maut asal Austria, Felix Baumgartner. Saat itu dia berhasil membuat rekor dunia meluncur bebas di angkasa dari ketinggian 38 kilometer. Balon yang membawa Baumgartner juga berangkat dari Roswell.

Pekan lalu mereka melakukan uji coba perangkat penerbangan. Balon yang digunakan hanya sepertiga dari ukuran sesungguhnya untuk membawa penumpang. World Views Enterprises berencana untuk menjual penerbangan ekstrem itu pada 2016 dengan biaya US$ 75 ribu atau sekitar Rp 907 juta per penumpang.

Balon nantinya akan membawa kapsul yang bisa diisi enam penumpang dan dua kru hingga ketinggian 32 kilometer. Di ketinggian itu mereka akan melayang sekitar dua jam lalu kembali ke bumi. Kapsul yang dibawa dibuat cukup besar sehingga para penumpang bisa berjalan-jalan di dalamnya. Melihat pemandangan dan lekuk planet bumi dari tempat setinggi itu tentu akan menjadi pengalaman menarik yang didapat penumpang.

Pria Kulit Putih Berhasil Jadi Pimpinan Al-Shabab Di Somalia

Sejumlah saksi mata mengatakan, serangan Al-Shabab di kota pesisir Kenya beberapa hari lalu dipimpin oleh seorang pria kulit putih yang lancar berbahasa Inggris. Harian The Telegraph, Kamis (19/6/2014), mengabarkan, seorang saksi mata yang adalah seorang guru, mengatakan, serangan yang menewaskan sekitar 60 orang itu dipimpin oleh seseorang “berkulit pucat”.

“Saya melihat seorang pria kulit putih menggunakan bahasa Inggris yang lancar memberikan perintah untuk menyerang,” kata Mary Machoki, yang tinggal di kota Mpeketoni. Saksi lain, seorang perempuan yang tak mau disebutkan namanya karena takut pembalasan Al-Shabab, membenarkan kesaksian Mary Machoki.

“Ada seorang pria kulit putih di antara mereka. Dia memerintah kawan-kawannya dan berteriak-teriak,” kata perempuan itu. “Saya melihat dia memberi perintah untuk menyerang. Suaranya terdengar jelas, satu saat dia menggunakan bahasa Inggris lalu dia berbicara bahasa Arab,” tambah dia.

James Mwangi, seorang saksi lainnya, mengatakan, dia sedang mengobrol dengan seorang kawannya saat dia mendengar suara tembakan. “Serangan itu dipimpin seorang pria kulit putih atau Arab,” kata James. Kesaksian ini seketika mengingatkan insiden Westgate Mall, Nairobi, tahun lalu, saat sejumlah saksi mengatakan melihat seorang perempuan kulit putih di antara para penyerang.

Saat itu, diduga perempuan kulit putih itu adalah Samantha Lewtwaite, perempuan paling dicari yang konon kabarnya tinggal di wilayah kekuasaan Al-Shabab di Somalia. Namun, rekaman CCTV di Westgate yang diperiksa membuktikan kesaksian sejumlah orang terkait keterlibatan seorang perempuan kulit putih adalah salah.

Australia Bolehkan Pilot Buta Warna

Otoritas Keselamatan Penerbangan Sipil Australia (CASA) menyatakan pihaknya tidak akan mencabut izin terbang para pilot yang mengalami gangguan buta warna.

Pernyataan ini disampaikan juru bicara CASA Peter Gibson menjawab kabar mengenai kemungkinan mencabut izin pilot yang menderita buta warna.

Kabar itu sendiri merebak setelah CASA mengirim surat resmi ke 500 pemegang izin penerbangan dan 900 pilot pada 5 Juni lalu. Isi surat itu menyatakan kemungkinan CASA akan meninjau riset terbaru mengenai buta warna.

Dalam surat itu, manager perizinan CASA Peter Fereday mendorong operator penerbangan untuk “mempertimbangkan keamanan jika pilot (buta warna) tetap diizinkan menjalankan tugas-tugasnya”.

Namun Rabu (18/6/2014) ini, juru bicara CASA Peter Gibson mengatakan perubahan itu mungkin perlu waktu bertahun-tahun untuk diterapkan. “Para pilot dengan gangguan buta warna tidak perlu khawatir,” katanya.

“Kami tidak akan mencabut izin mereka, tidak akan menambah aturan bagi pilot. Kami hanya mengatakan, ada informasi baru yang mungkin perlu dipertimbangkan,” katanya.

Pilot buta warna bukan menjadi masalah di Australia sejak lebih dua dekade terakhir. Namun menurut Dr Arthur Pape, pakar kesehatan penerbangan yang juga seorang pilot buta warna, mengaku khawatir dengan review yang akan dijalankan CASA.

“Mereka sangat agresif dan tidak berdasarkan bukti-bukti,” katanya.

Riset dimaksud dijalankan oleh petugas kesehatan Otoritas Keselamatan Penerbangan Sipil Selandia Baru, Dougal B. Watson, terhadap 78 negara.

Riset ini menemukan, meski International Civil Aviation Organisation (ICAO) mensyaratkan para pilot “untuk memiliki kemampuan menafsirkan warna demi tanggung jawab keamanan penerbangan”, namun gterdapat sejumlah variasi di berbagai negara dalam penerapannya.

Menurut data CASA, dari sekitar 36 ribu pilot di Australia, 400 di antaranya mengalami buta warna, 140 di antaranya merupakan pilot pesawat komersial.

Rusia Akan Larang Perempuan Pakai Sepatu Hak Tinggi

Penampilan para perempuan Rusia bisa jadi akan berubah jika usulan seorang politisi pro-Kremlin, yaitu diberlakukannya larangan sepatu hak tinggi, disetujui.

Oleg Mikheyev, nama politisi itu, mengatakan, sepatu hak tinggi termasuk juga sepatu balet dan sepatu kasual pria tak baik untuk kesehatan dan sudah saatnya melakukan sesuatu untuk “melawan” hal-hal ini.

“Alas kaki hanya boleh memiliki hak setinggi dua atau empat sentimeter dan maksimal lima sentimeter,” demikian salinan proposal itu yang diterima AFP.

“Efek merusak menggunakan sepatu dengan hak sangat tinggi dan sepatu beralas datar sudah diketahui para pakar di seluruh dunia. Sehingga, perlu kiranya mengubah tren ini,” demikian isi proposal setebal lima halaman itu.

Perempuan Rusia dikenal lebih mengedepankan kecantikan dan keindahan ketimbang kenyamanan. Mereka bahkan tetap mengenakan sepatu dengan hak supertinggi saat jalanan licin diselimuti es pada musim dingin.

Berbicara kepada AFP, Mikheyev mengatakan, usulannya itu diajukan lebih untuk menumbuhkan pemahaman ketimbang mengejar penerbitan sebuah larangan.

Dia mengatakan, dengan proposalnya itu sebenarnya dia sangat menyayangi perempuan Rusia dan ingin melindungi mereka dari bahaya sepatu hak tinggi. “Mereka masih muda dan tak memikirkan hak-hak seperti itu,” kata Mikheyev.

Namun, dengan mengajukan proposal itu, Mikheyev harus menanggung akibatnya. Salah satunya adalah dimusuhi rekan-rekan kerja perempuannya. “Rekan-rekan perempuan saya sudah setengah hari ini tak menyapa saya,” ujar Mikheyev.

Meski baru sebatas proposal, ternyata usulan Mikheyev itu sudah memicu kontroversi di Rusia dan para perempuan Rusia mengatakan tetap akan memakai sepatu hak tinggi meski nantinya akan dilarang.

“Usulan itu adalah serangan terhadap kebebasan dan urusan pribadi saya. Saya cinta sepatu hak tinggi karena keren,” kata Maria Larionova (31), warga Moskwa.

Miliarder China Chen Guangbiao Undang 1000 Orang Miskin Untuk Makan

Miliarder Tionghoa, Chen Guangbiao, mengumumkan rencana untuk mengundang 1.000 orang miskin Amerika ke sebuah perjamuan makan siang di Central Park, New York, dalam upaya untuk memperlihatkan kepada sesama taipan bahwa ada sesuatu yang lebih penting ketimbang “barang mewah, perjudian, dan prostitusi”.

Chen, seorang pengusaha daur ulang dari Provinsi Jiangsu di Tiongkok timur, mengeluarkan undangannya untuk acara “makan siang amal bagi 1.000 orang miskin dan melarat Amerika” lewat dua iklan yang sangat menonjol yang dimuat dalam harian New York Times dan Wall Street Journal pada pekan ini. Para tamu akan diberi uang 300 dollar AS untuk digunakan sebagai dana “pelatihan kerja”. Mereka juga akan dijamu makan siang di restoran Loeb Boathouse di Manhattan Central Park.

Restoran itu, yang ditampilkan dalam film When Harry Met Sally pada 1989, menyebut dirinya sebagai “oase penting kota” dan “surga bagi para pencinta alam dan romantisme”.

Chen mengatakan, ia berharap, makan siang itu, yang ia perkirakan akan menelan biaya sekitar 1 juta dollar AS, akan meningkatkan hubungan antara Tiongkok dan Amerika Serikat dan mengubah persepsi tentang orang kaya Tionghoa. “Saya ingin menyebarkan pesan di AS bahwa ada sejumlah dermawan yang baik di Tiongkok dan tidak semua menghamburkan uangnya untuk barang-barang mewah,” katanya kepada South China Morning Post terbitan Hongkong.

Taipan itu, yang aksi kontroversialnya pada masa lalu antara lain menjual udara kalengan demi meningkatkan kesadaran akan polusi dan menghancurkan sebuah Mercedes Benz demi menarik perhatian terhadap pemanasan global, juga berharap bisa menjadi role model bagi para miliarder Tionghoa.

Dia mengatakan, “Ada banyak miliarder Tionghoa, tetapi kebanyakan mereka mendapatkan kekayaannya dari spekulasi pasar dan berkolusi dengan para pejabat pemerintah dalam merusak lingkungan. Saya tidak tahan melihat hal itu karena yang mereka lakukan hanya memborong barang-barang mewah, perjudian, dan prostitusi, sementara sangat sedikit dari mereka yang punya tanggung jawab sosial secara tulus.”

Tidak begitu jelas apakah para tamu Chen akan ditawarkan untuk melihat daftar dalam pesta di Central Park itu atau diizinkan untuk memilih hidangan dari menu makan siang a la carte restoran itu, yang menyajikan hidangan seperti Lemon-Oregano Crusted Salmon dan Yellowfin Tuna Sashimi dengan Tobiko Caviar dan Jalapeno Wasabi Vinaigrette.

Dalam sebuah wawancara pada 2010 dengan harian Daily Telegraph, Chen mengatakan bahwa ia berencana untuk membentuk sebuah “tentara amal” yang terdiri dari orang-orang kaya Tionghoa yang akan memompa sebagian keuntungan mereka kembali ke masyarakat.

Kisah Letizia Ortiz Rocasolano … Dari Supir Taksi Hingga Jadi Ratu Spanyol

Bagi Letizia Ortiz Rocasolano (41), menjadi Ratu Spanyol mendampingi Raja Felipe VI berarti harus bersedia kehilangan privasi yang selama ini masih bisa digunakannya untuk “nongkrong” bersama teman di kafe atau menonton konser musik.

Sebagai bagian dari keluarga kerajaan Spanyol yang elegan, glamor, sekaligus penuh misteri itu, tampil di muka publik bersama beberapa teman dan berbusana apa adanya bisa memicu gosip di berbagai media.

Sebagai contoh, pada April tahu lalu, mantan presenter televisi itu tertangkap kamera wartawan mengenakan jins dan jaket kulit hitam di luar kota Madrid menonton konser grup musik alternatif asal AS, Eels.

Beberapa bulan sebelumnya, Letizia juga terlihat di antara para penonton sedang berjingkrak-jingkrak menikmati aksi grup musik Spanyol, Los Planetas.

Letizia juga dikenal sangat menggemari grup musik The Killers asal Las Vegas dan juga menonton konser mereka di Madrid pada September 2012. Dia juga hadir di pergelaran Festival Rock FIB di kota pesisir Benicassim, Juli tahun lalu.

Kini, setelah resmi menjadi Ratu Spanyol, kehidupan cucu seorang pengemudi taksi itu akan berubah dramatis. Apalagi, kebiasaan Letizia “keluyuran” nonton konser musik itu sempat diisukan mengganggu kehidupan rumah tangganya bersama Felipe.

“Rumah tangga kerajaan membiarkan Letizia mengetahui bahwa kebiasaannya bepergian seperti itu memberikan kesan bahwa sesuatu yang tak beres sedang terjadi,” kata Jose Aparazena, penulis buku Felipe and Letizia: The Conquest of the Throne, yang terbit tahun lalu.

Dilahirkan pada 15 September 1972 dari keluarga kelas menengah, Letizia sudah berusia 30-an ketika berkenalan dengan Felipe, yang kemudian dinikahinya pada 2004. Saat itu, Letizia sudah berstatus janda dan sedang mengejar karier di bidang jurnalisme televisi.

“Kini dia menjalankan peran barunya seperti sebuah pekerjaan dan mengaplikasikan metode yang pernah digunakannya saat bekerja,” kata Aparazena.

Teman-teman dekatnya, kata Aparazena, mengatakan, sejak muda Letizia adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan perfeksionis. Sebagai pendamping pewaris takhta Spanyol, Letizia selalu ambil bagian dalam pertemuan mingguan keluarga kerajaan.

“Tidak berasal dari keluarga kerajaan dan masih berhubungan dengan teman-temannya, Letizia memberikan sudut pandang segar yang baru untuk keluarga kerajaan,” tambah Aparazena.

Meski demikian, jurnalis harian El Mundo, Cote Villar, mengatakan bahwa Letizia sudah banyak belajar sejak menikahi Felipe pada satu dekade lalu. Kini Letizia tahu menjadi ratu akan memberinya tanggung jawab baru.

“Dia memiliki banyak kegemaran. Letizia adalah perempuan masa kini yang berpendidikan dan berbudaya,” kata Villar.

“Sejak Raja Juan Carlos mengatakan segera menyerahkan mahkota kerajaan, Letizia sudah tak banyak lagi bepergian. Itu adalah bukti bahwa dia mengerti arti menjadi seorang ratu,” tambah Villar.