Monthly Archives: January 2014

Presiden Korea Utara Kim Jong Un Bunuh Semua Keluarga Pamannya Termasuk Anak Anak

Laporan mengenai kepemimpinan keji Kim Jong Un atas Korea Utara (Korut) kembali mencuat. Pasca mengeksekusi mati sang paman Jong Song Thaek, Jong Un dilaporkan mengeksekusi mati seluruh anggota keluarga sang paman termasuk yang masih anak-anak. Belum lama ini, atau pada 12 Desember 2013 lalu, paman Jong Un yang bernama Jang Song Thaek (67) dihukum mati atas tuduhan berniat menggulingkan keponakannya dari kursi pemimpin Korut, termasuk merencanakan kudeta militer. Jong Un bahkan menyebut pamannya lebih buruk dari anjing.

Kantor berita Yonhap melaporkan bahwa seluruh anggota keluarga sang paman dipanggil menghadap dirinya ke Pyongyang pada bulan lalu. Atas perintah Jong Un, seluruh anggota keluarga Jang dieksekusi mati dengan tujuan ‘menghentikan pemberontakan’ yang dimulai Jang.

“Eksekusi besar-besaran dilakukan terhadap keluarga Jang Song Thaek,” tutur seorang sumber seperti dikutip Yonhap News Agency dan dilansir news.com.au, Senin (27/1/2014). “Seluruh anggota keluarga Jang dihukum mati, bahkan termasuk anak-anak,” imbuh sumber yang enggan disebut namanya tersebut. Sumber itu menyebutkan, anggota keluarga yang dieksekusi mati termasuk saudara perempuan Jang yang bernama Jang Kye-sun, beserta suaminya yang menjabat Duta Besar Korut untuk Kuba, Jon Yong-jin yang juga dikenal sebagai diplomat senior.

Kemudian juga keponakan laki-laki Jang, yakni Jang Yong-chol yang menjabat Duta Besar Korut untuk Malaysia beserta kedua anak laki-lakinya. Anak laki-laki dan anak perempuan serta cucu-cucu dari dua saudara laki-laki Jang juga ikut dieksekusi mati. “Sejumlah anggota keluarga ditembak mati dengan pistol di depan sejumlah orang lain jika mereka menolak saat diseret keluar dari kediaman mereka,” terang sumber lainnya.

Beberapa anggota keluarga yang merupakan saudara ipar Jang, termasuk istri dari keponakannya dilaporkan mendapat pengampunan. Namun mereka dikirim ke desa-desa terpencil dan diasingkan di sana. “Eksekusi mati keluarga Jang berarti tidak ada jejaknya yang tertinggal. Pembersihan orang-orang yang berkaitan dengan Jang Song-thaek dilakukan dalam skala luas, mulai dari keluarga, kerabat hingga pejabat pangkat rendah,” tandas sumber tersebut.

Laporan mengenai eksekusi mati keluarga paman Jong Un ini muncul setelah Korut mendorong rencana untuk rekonsiliasi dan bersatu dengan Korea Selatan. Namun seruan tersebut ditanggapi dingin oleh Korsel.

Advertisements

Pengusaha Indonesia Irvung Tio Menang Undian 9,4 Milyar Di Singapura

Seorang pengusaha Indonesia Irvung Tio, awal pekan ini, mendapatkan hadiah 1 juta dollar Singapura atau sekitar Rp 9,4 miliar dalam undian “Be a Changi Millionaire” di Bandara Changi, Singapura.

Pria berusia 47 tahun itu mendapatkan hadiah utama setelah enam finalis lain gagal meraih hadiah puncak. Akhirnya tinggal tersisa dua peserta, yaitu Tio dan seorang warga Singapura, Thum Pei Xing.

Tio masuk ke undian final setelah dia membeli produk kosmetik dengan harga 667 dollar Singapura untuk istrinya di pusat perbelanjaan di Terminal 2 Bandara Changi pada September lalu. “Saya sangat gembira,” kata Tio yang menurut catatan Bandara Changi, selama 2013 mengunjungi Singapura sebanyak lima kali.

Finalis lain masing-masing memperoleh 5.000 dollar Singapura dan menginap tiga malam di Hotel Crowne Plaza Changi. Bagi finalis yang bukan warga Singapura, juga disediakan tiket penerbangan. Menurut catatan Bandara Changi, selama 2013, Tio dan keluarganya mengunjungi Singapura sebanyak lima kali.

Promosi “Be a Changi Millionaire” digelar selama enam bulan dari Mei hingga Oktober 2012. Promosi ini mendongkrak penjualan berbagai barang di bandara tersebut. Tahun lalu, angka penjualan di sejumlah gerai di Bandara Changi mencapai lebih dari 2 miliar dollar Singapura.

Bocah Kulit Hitam Yang Dieksekusi Mati 70 Tahun Lalu Tetap Gigih Mencari Keadilan

Bila novel “The Confession” karya John Grisham semata kisah fiksi, maka kisah nyata dengan alur cerita yang mendekati benar-benar terjadi di Amerika Serikat. Keduanya “bertutur” tentang remaja berkulit hitam yang dihukum mati, untuk tuduhan pembunuhan gadis berkulit putih.

Kedua cerita punya alur yang mirip. Bedanya, eksekusi di novel Grisham ternyata dilakukan pada orang yang salah, sementara pada kisah nyata ini belum dapat dipastikan soal bersalah atau tidaknya bocah kulit hitam itu. Sebuah sidang lanjutan akan digelar, Rabu (22/1/2014). Pembeda lain, kasus nyata tersebut terjadi 70 tahun lalu.

Seorang bocah berumur 14 tahun, George Stinney, pada 1944 dituduh membunuh dua bocah perempuan berkulit putih yang masing-masing berusia 7 dan 11 tahun. Seperti di novel Grisham, tuduhan untuk Stinney pun keluar setelah upaya pengungkapan kasus tak kunjung mendapatkan hasil.

Masalahnya, apakah sidang untuk memberikan keadilan Stinney bisa dibuka lagi? Kalaupun belum masuk tenggat waktu perkara kadaluarsa, tantangan terbesar yang menghadang adalah hampir semua saksi kasus sudah meninggal. Sebagian besar bukti, termasuk transkrip persidangan, sudah hilang pula.

Stinney dinyatakan bersalah membunuh Mary Emma Thames (7) dan Betty Binnicker (11), lebih dari satu bulan setelah jasad kedua bocah itu ditemukan tewas dengan luka pukulan di kepala dan teronggok di selokan berisi air. Sidang untuk Stinney berlangsung tak sampai seharian, di kota industri kecil, Alcolu, yang komunitasnya terbelah berdasarkan ras.

Para pengacara berkeyakinan keputusan bersalah Stinney bias rasial dan kurang bukti berdasarkan hukum Jim Crow yang melembagakan segregasi di kawasan selatan Amerika Serikat pada waktu itu.

Dalam sejarah hukum Amerika satu abad terakhir, Stinney adalah orang termuda yang menjalani hukuman mati. Bahkan pada 1944, protes untuk hukuman itu juga sudah terjadi.

Surat kabar setempat menggambarkan tali di kursi eksekusi tidak pas dengan postur Stinney yang hanya berbobot sekitar 43 kilogram. Satu elektroda yang akan mengalirkan listrik bervoltase mematikan untuk eksekusi itu bahkan terlalu besar untuk kaki Stinney.

Namun, sekali lagi, semua bukti termasuk pengakuan Stinney sudah lenyap. Pengacara yang disewa keluarga Stinney menggali bukti baru, antara lain berupa pernyataan di bawah sumpah dari kerabat yang memastikan keberadaan Stinney pada hari bocah-bocah perempuan itu terbunuh, pernyataan ahli patologi, dan data otopsi.

Tergantung ingatan

Pada akhirnya, sidang ulang untuk Stinney yang berlangsung 70 tahun setelah eksekusi kontroversial tersebut akan sangat tergantung pada ingatan. Adik Stinney yang pada 1944 masih berusia 7 tahun, pada 2009 membuat kesaksian. Di dalamnya dia menggambarkan bagaimana tubuh Stinney hangus setelah eksekusi dan dikebumikan dalam kuburan tak bertanda.

Amie Ruffner, adik Stinney, menuturkan pula dalam kesaksian 5 tahun lalu itu bagaimana dia bersembunyi di kandang ayam ketika kakaknya dijemput di rumahnya oleh beberapa orang kulit putih berseragam. Namun pada pemeriksaan silang, Ruffner harus berjuang keras untuk mengingat isi kesaksian itu, meski bersumpah sudah pernah memberikan kesaksian.

“Jika Anda tidak dapat mengingat apa yang Anda tulis pada 2009, mengapa kami harus percaya bahwa Anda berkeyakinan sesuatu terjadi pada 1944?” tanya Jaksa sesuatu yang terjadi pada tahun 1944 ? ” kata jaksa Ernest “Chip” Finney III, Selasa (21/1/2014).

Circuit Hakim Carmen Mullen mengatakan tugasnya dalam kasus ini bukan memutuskan Stinney bersalah atau tidak dalam perkara pembunuhan 70 tahun lalu. Dia mengatakan, sidang hanya akan memastikan apakah Stinney mendapatkan keadilan atau tidak di pengadilan pada 1944.

“Apa yang bisa kulakukan? Apa saya bisa memperbaiki (putusan saat itu)?” tanya Mullen pada awal sidang pemeriksaan. “Kalaupun kita coba lagi (membuka perkara pembunuhan itu), apa hasilnya? Sekali lagi, tak satu pun dari kita punya kekuatan untuk membawa anak 14 tahun itu kembali.”

Bila Mullen mendukung Stinney, hampir pasti pintu akan terbuka untuk ratusan banding untuk kasus lain. Meski demikian, Mullen mengakui bahwa kasus Stinney memang tidak biasa. “Tidak ada seorang pun di sini bisa membenarkan seorang anak 14 tahun yang dikenakan (tuduhan), diadili, divonis, dan dieksekusi hanya dalam 80 hari, ” kata dia.

Pada 1944, Stinney bisa diduga adalah satu-satunya manusia berkulit hitam yang berada di dalam ruang sidang. Namun, pada sidang pemeriksaan yang digelar Selasa (21/1/2014), ruang sidang kasus ini dipenuhi pendukung Afro-Amerika yang mendebat jaksa yang adalah putra dari Ketua Mahkamah Agung berkulit hitam pertama di Carolina Selatan.

Finney berpendapat tidak boleh ada sidang baru karena semua bukti hilang. Namun, dia menyatakan terkejut dan kecewa bahwa pengadilan pada 1944 mengambil nyawa Stinney. “Tapi itu cara keadilan bekerja pada waktu itu. Kita seharusnya tahu ada yang lebih baik, tetapi tidak saat itu.”

Pada era 1940-an, Carolina Selatan mengeksekusi mati 59 orang. Dari jumlah itu, 50 di antaranya berkulit hitam, merujuk data dari Pusat Informasi Hukuman Mati. Saat itu, populasi warga berkulit hitam di Carolina Selatan mencapai 43 persen. Saat ini populasi kulit hitam di negara bagian itu tinggal 28 persen.

Catatan koran dari zaman itu mendapatkan sidang Stinney menggunakan kesaksian dari pengakuan Stinney dan laporan otopsi. Beberapa orang di Alcolu mengatakan ada pakaian berdarah ditemukan di rumah Stinney tetapi orang-orang itu tak pernah muncul di persidangan. Tak ada juga keterangan dari ker

Cerita koran tentang sidang Stinney menawarkan sedikit petunjuk apakah bukti diperkenalkan di luar pengakuan remaja dan laporan otopsi . Beberapa orang di sekitar Alcolu mengatakan pakaian berdarah diambil dari rumah Stinney , tapi tidak pernah diperkenalkan di pengadilan karena pengakuannya .

Tidak ada catatan yang menyebutkan pakaian itu benar-benar ada atau tidak. Saudara-saudara Stinney mengaku tak pernah melihat celana maupun kemeja berdarah dikenakan Stinney.

Belakangan, keterangan berbeda muncul pula dari kerabat para bocah-bocah perempuan yang tewas. Menurut mereka, Stinney dikenal sebagai berandalan yang mengancam akan membunuh siapapun yang terlalu dekat dengan tempat dia menggembalakan sapi milik keluarga.

Terry Evans, sepupu Thames yang lahir setahun setelah saudaranya itu meninggal, mengaku malu bahwa persidangan ini tak digelar lebih awal. Dia bercerita bahwa pada 1944 pamannya hadir dalam eksekusi Stinney. Menurut Evans, pamannya yakin Stinney bersalah tetapi pada saat bersamaan merasa tak enak pada keluarga Stinney.

“Semua orang yang masih anak-anak pada saat itu, yang mereka tahu sesudah (kasus Stinney) adalah ketakutan,” ujar Evans. “Semua yang orang-orang katakan (sekarang) adalah desas-desus.”

Kota Hamburg Akan Larang Warganya Pakai Mobil

Pemerintah Kota Hamburg, Jerman, akan melarang pemakaian mobil. Kota kedua terbesar di Jerman ini akan mengharamkan penggunaan mobil di pusat kota pada 2034 alias 20 tahun lagi. Pelarangan ini akan meliputi wilayah pusat kota seluas 17 ribu hektare atau sekitar 40 persen luas kota itu. Pengharaman mobil ini untuk mengurangi emisi rumah kaca. Ini bukan cuma sekedar car free day seperti di Indonesia yang berjalan beberapa jam atau sehari.

Dalam tahap awalnya, kebiijakan yang disebut Grune Netz alias Green Network ini akan menggantikan jalan-jalan utama menjadi ruang hijau yang bisa dijadikan ruang aktivitas warga, seperti hiking, piknik, atau bahkan berenang. Antar ruang hijau itu akan saling terhubung dari pusat kota hingga pinggiran kota.

Dengan makin susutnya jalan raya, maka warga diharapkan berpindah ke angkutan umum dan makin banyak bergerak dengan sepeda motor atau jalan kaki. Walaupun rencana ini dinilai kontroversial, mayoritas warga sepakat dan mendukung rencana ini. “Warga Hamburg sangat progresif, mereka mau menyerahkan mobil mereka. Ini sangat tak biasa,” ujar Jens Kerstan, pemimpin Partai Hijau, Senin, 20 Januari 2013.

Pemerintah kota melibatkan 30 perencana tata kota guna merealisasikan Green Network. Pemerintah berharap Green Network bisa signifikan mengurangi dampak dari pemanasan global. Hamburg adalah kota yang terletak tepat di Laut Utara dan rentan dengan risiko banjir. Selama enam dasawarsa terakhir, air laut sudah naik sekitar 20 sentimeter.

Kiprah Aliansi Menghentikan Fotografer Cabul

Sara Ziff baru berusia 14 tahun ketika seorang fotografer menemukan bakat modeling dalam siswi Sekolah Menengah Sains di Bronx itu. Hanya dalam hitungan bulan, karir Ziff langsung melesat dan sempat dipotret untuk rumah mode Calvin Klein dan majalah Seventeen.

Tapi ada harga yang harus dibayar. Agensinya mengirim Ziff ke apartemen seorang fotografer untuk sesi pemotretan. Di sana, Ziff diharuskan tampil tanpa sehelai benangpun di tubuhnya dengan ditonton banyak pria. Usianya baru 15 tahun saat Ziff harus mengikusi sesi pemotretan yang lain di mana obat-obatan terlarang mengalir bebas. Dia pun diperintahkan untuk berpose telanjang dengan backdrop gambar-gambar dari majalah dewasa.

Kini Ziff sudah berusia 31 tahun. Dia masih bekerja sebagai model dan baru saja lulus dengan predikat magna cum laude dari Columbia University dalam bidang ilmu politik. Suatu ketika, Ziff bersama pacarnya, seorang mahasiswa jurusan film di New York University, bermaksud membuat film dokumenter yang berkisah soal kehidupan para model. Film bertajuk “Picture Me” itu dirilis pada 2009.

Tak hanya kisah para model di atas catwalk saja yang disajikan. Sejumlah model menuturkan pengalaman mereka yang dilecehkan secara seksual ketika pemotretan. Ada yang dipaksa karena dianggap berhutang kepada agensinya. Kisah-kisah pilu ini melahirkan ide pendirian Aliansi Model pada tahun lalu. Ini semacam serikat pekerja yang didirikan untuk menggebrak pakem-pakem buruk yang merugikan para model.

Aliansi Model didukung model-model besar seperti Coco Rocha dan Milla Jovovich. Kinerja mereka pun menggetarkan. Pada Oktober tahun lalu, kelompok ini berhasil ‘memaksa’ Gubernur New York, Andrew M. Cuomo, menandatangani undang-undang perlindungan model anak-anak.

Undang-undang lokal itu mengharuskan agensi modeling untuk menyediakan pendamping ke mana pun seorang model berusia di bawah 16 tahun melakukan casting atau pemotretan. Ziff bilang, pihaknya bukan bermaksud menyatukan agensi atau menawar kontrak. Aliansi Model, katanya, dimaksudkan untuk mendorong kondisi yang lebih baik bagi para model.

Prestasi awal Aliansi Model adalah ‘memaksa’ panitia New York Fashion Week untuk melarang fotografer masuk ke kamar ganti. Sebelumnya, para model sering komplain karena ada fotografer ‘cabul’ yang memotret mereka saat berganti baju dan foto-foto itu dibeberkan di situs-situs porno.

Aliansi Model juga bekerjasama dengan desainer dan agensi untuk memerangi anoreksia. Mereka meminta Vogue berhenti memakai jasa model yang sangat kurus atau model di bawah usia 16 tahun. Permintaan itu dituruti. Aliansi yang sekarang beranggotakan 400 model ini juga mempromosikan undang-undang hak asasi model. Khususnya dalam hal transparansi pembayaran. Agensi biasanya mengambil komisi 20 persen dan 20 persen untuk service fee dari bayaran model.

Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja, upah untuk model rata-rata US$ 42.670 per tahun di New York dan rata-rata US$ 26.110 per tahun untuk nasional. Sementara model papan atas bisa mendapat lebih besar dari itu. Tapi, pencapaian terbaik Aliansi Model adalah lahirnya undang-undang model anak-anak di New York. Regulasi itu mengharuskan ada pendamping bagi model di bawah usia 16 tahun saat melakukan pemotretan, serta keharusan menyediakan tutor apabila seorang model tak bisa mengikuti kelas di sekolah selama lebih dari tiga hari.

Undang-undang ini membuat perlakuan dan perlindungan terhadap model anak-anak sama seperti perlindungan terhadap aktor atau penari anak-anak di industri hiburan.

Pemerkosaan Terhadap Wisatawan Asing Kian Marak Di India

Lagi-lagi pemerkosaan di India! Seorang wanita Denmark diperkosa bergiliran oleh beberapa pria di New Delhi. Dia diperkosa sekelompok pria saat sedang kesasar dan menanyakan arah jalan menuju hotelnya. Wanita berumur 51 tahun itu diperkosa di bawah todongan pisau pada Selasa, 14 Januari malam. Pelakunya, sekelompok pria yang berjumlah lebih dari enam orang. Saat kejadian, wanita Denmark itu kesasar saat akan kembali ke hotelnya di sebuah kawasan yang populer bagi para turis backpacker di New Delhi.

“Dia kesasar ketika insiden ini terjadi. Saat ini, tim polisi terkait telah mengidentifikasi para tersangka dan tengah menginterogasi mereka. Investigasi masih berlangsung,” kata kepala kepolisian New Delhi, Rajan Bhagat kepada kantor berita AFP, Rabu (15/1/2014). Wanita yang tidak disebutkan namanya itu, membeberkan pemerkosaan itu kepada temannya ketika dia akhirnya bisa mencapai hotelnya di Paharganj, dekat Connaught Place.

Korban awalnya mendekati sekelompok pria di dekat Stasiun Kereta New Delhi untuk menanyakan arah jalan menuju hotelnya, usai berkunjung ke museum kota. Namun para pria itu membawanya ke tempat sepi dan memperkosanya dengan menodongkan pisau. Menurut surat kabar The Times of India, wanita itu baru berada di India sekitar sepekan. Kasus ini terjadi hanya beberapa pekan setelah seorang wanita Polandia diperkosa sopir taksi saat bepergian bersama putrinya yang berumur 2 tahun ke New Delhi.

Pemerkosaan dilaporkan kembali terjadi di India. Seorang gadis berusia 18 tahun asal Jerman diperkosa oleh seorang pria dalam sebuah kereta yang tengah melaju. Seperti dilaporkan Hindustan Times dan dilansir nydailynews.com, Jumat (17/1/2014), gadis Jerman ini tengah berkunjung ke India dalam rangka menjadi sukarelawan untuk sebuah organisasi non-pemerintah. Pemerkosaan tersebut terjadi di dalam kereta yang melaju ke Chennai pada 10 Januari lalu.

Korban dan pelaku kebetulan berbagi satu bilik kereta. Keduanya menaiki kereta jenis sleeper yang setiap biliknya terdiri atas dua tempat tidur tingkat. Menurut korban, pelaku menunggu hingga dirinya tertidur pulas sebelum melakukan aksinya. Korban mengaku sangat ketakutan sehingga tidak mampu berteriak minta tolong. Baru pada tanggal 13 Januari lalu korban melaporkan tindak pemerkosaan ini kepada polisi.

“Wanita muda tersebut membutuhkan waktu beberapa hari untuk mengumpulkan keberaniannya sebelum melapor ke polisi. Meskipun tergolong telat untuk melakukan pemeriksaan medis, kami menangani kasus ini dengan perlakuan sensitif,” jelas Inspektur Jenderal Kepolisian setempat, Seema Agarwal kepada NDTV. Polisi langsung memburu pelaku setelah memeriksa daftar nama penumpang. Pelaku pemerkosaan yang diketahui bernama Chandan Kumar (22) akhirnya berhasil ditangkap oleh kepolisian Tamil Nadu.

Kasus pemerkosaan ini semakin menambah panjang daftar tindak pemerkosaan yang marak terjadi di India. Baru saja awal pekan ini, seorang wanita asal Denmark dipukul dan diperkosa oleh sekelompok pria di New Delhi. Wanita berusia 51 tahun yang merupakan wisatawan tersebut tersesat dan meminta tolong sekelompok pria untuk memberitahu jalan pulang ke hotelnya. Namun dia malah dibawa ke tempat terpencil dan diperkosa.

Kepolisian India terus melakukan operasi penggerebekan di New Delhi untuk menangkap para tersangka pemerkosa seorang turis Denmark. Saat ini enam orang masih terus diburu setelah polisi berhasil menangkap dua tersangka. Kepolisian mengumumkan penangkapan dua gelandangan tersebut pada Rabu, 15 Januari malam waktu setempat. Keduanya diduga ikut serta dalam pemerkosaan dan perampokan wanita Denmark berumur 51 tahun itu.

“Kami telah menangkap dua dari delapan tersangka dalam kasus ini dan masih terus melakukan penggerebekan di berbagai lokasi berbeda untuk menangkap yang lainnya,” kata Wakil Kepala Kepolisian New Delhi Alok Kumar seperti dikutip kantor berita AFP, Kamis (16/1/2014). Dikatakannya, kedelapan tersangka pemerkosa tersebut merupakan “pria-pria muda, kebanyakan gelandangan”. Mereka telah menyerang korban selama hampir tiga jam di bawah todongan pisau.

Sebelumnya, lebih dari 15 pria gelandangan telah ditangkap untuk diinterogasi pada Rabu (15/1) kemarin. “Penangkapan dua orang itu telah membuka identitas tersangka lainnya dan kami sedang mencari mereka,” tutur Kumar. Turis Denmark yang tidak disebutkan namanya itu, diperkosa di bawah todongan pisau pada Selasa, 14 Januari malam. Pelakunya, sekelompok pria yang berjumlah lebih dari enam orang. Saat kejadian, wanita Denmark itu tersesat saat akan kembali ke hotelnya di sebuah kawasan yang populer bagi para turis backpacker di New Delhi.

Korban awalnya mendekati sekelompok pria di dekat Stasiun Kereta New Delhi untuk menanyakan arah jalan menuju hotelnya, usai berkunjung ke museum kota. Namun para pria itu membawanya ke tempat sepi dan memperkosanya. Kini, korban dalam perjalanan kembali ke negara asalnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Denmark menyatakan pihaknya akan memberi bantuan dan perawatan intens bagi korban setibanya di Denmark. Mereka menolak berkomentar lebih lanjut soal kasus tersebut.

Kepolisian India berhasil menangkap dua pelaku pemerkosaan turis wanita Denmark yang tersesat di New Delhi. Kedua pelaku tersebut merupakan pria gelandangan yang biasa tidur di stasiun setempat. “Dua orang telah ditangkap dalam kaitan dengan kasus pemerkosaan warga negara Denmark,” demikian pernyataan kepolisian setempat, seperti dilansir AFP, Kamis (16/1/2014). Satu dari dua pelaku yang ditangkap tersebut diketahui merupakan warga pendatang dari Uttar Pradesh. Pria berusia 25 tahun tersebut merupakan gelandangan dan biasa tidur di area stasiun New Delhi. Kedua pelaku kedapatan membawa barang-barang milik korban, termasuk sebuah iPod dan sebuah tempat kaca mata.

Seorang polisi yang menangani kasus ini menyatakan, pihaknya masih memburu 4-6 pelaku lainnya. Diduga kuat, pelaku lainnya juga merupakan gelandangan. Korban yang berusia 51 tahun diperkosa di bawah todongan pisau pada Selasa, 14 Januari malam. Pelakunya, sekelompok pria yang berjumlah lebih dari enam orang. Saat kejadian, wanita Denmark itu tersesat saat akan kembali ke hotelnya di sebuah kawasan yang populer bagi para turis backpacker di New Delhi.

Korban awalnya mendekati sekelompok pria di dekat Stasiun Kereta New Delhi untuk menanyakan arah jalan menuju hotelnya, usai berkunjung ke museum kota. Namun para pria itu membawanya ke tempat sepi dan memperkosanya dengan menodongkan pisau. Wanita yang tidak disebutkan namanya itu, membeberkan pemerkosaan itu kepada temannya ketika dia akhirnya bisa mencapai hotelnya di Paharganj, dekat Connaught Place. Saat melaporkan kasus ini ke polisi setempat, korban didampingi oleh Duta Besar Denmark untuk India.

Kini, korban dalam perjalanan kembali ke negara asalnya. Secara terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Denmark menyatakan pihaknya akan memberi bantuan dan perawatan intens bagi korban setibanya di Denmark. Mereka menolak berkomentar lebih lanjut soal kasus tersebut.

Barrack Obama dan Istrinya Michelle Akan Segera Cerai

Perselingkuhan Presiden Amerika, Barrack Obama, mulai diketahui istrinya, Michelle, dari bocornya informasi yang disimpan oleh Secret Service. Selama liburan Natal keluarga Obama di Hawaii Desember lalu, agen yang menutupi perselingkuhan sang Presiden membocorkan masalah ini kepada first lady AS. Dikutip dari Examiner, dalam sebuah insiden, Obama dilaporkan tertangkap basah tengah bersama seorang wanita. Hal ini langsung dirahasiakan agen Secret Service demi menjaga citra dan hubungan Obama dengan Michelle.

Sementara itu, dalam insiden terpisah, seorang agen Secret Service mengatakan melihat Barack Obama diketahui bersama wanita lain, sementara Michelle tengah berada di luar kota. Tuduhan-tuduhan perselingkuhan baru ini mengingatkan pada berita kecemburuan Michelle Obama dan rumor perselingkuhan antara Obama dan Vera Baker, anggota juru kampanye Obama, pada tahun 2010 silam.

Meski Obama santer diberitakan selingkuh, hingga kini belum diketahui secara jelas siapa selingkuhan dia. Gedung Putih juga belum memberi konfirmasi perihal dugaan permohonan perceraian yang diajukan Michelle terhadap suami yang telah dinikahinya selama 21 tahun tersebut.

Rumor mengenai gonjang-ganjing rumah tangga Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan istrinya, Michelle terus berhembus. Sejumlah media AS terus memberitakan bahwa pernikahan orang nomor satu di negeri itu tengah dilanda prahara. Pemberitaan kian marak setelah Michelle tetap berada di Hawaii bersama teman-temannya, sementara Obama kembali ke Washington bersama kedua putri mereka usai berlibur Natal pekan lalu. Bagi sejumlah media AS, hal itu pertanda lain goyahnya biduk rumah tangga Obama-Michelle yang telah berlangsung 22 tahun. Demikian seperti diberitakan News.com.au, Senin (13/1/2014).

Media terpercaya AS, National Enquirer, bahkan mengklaim bahwa Obama dan Ibu Negara AS itu kini tidur di kamar terpisah di Gedung Putih. Hal tersebut mengutip pernyataan “orang dalam Gedung Putih”. Gedung Putih sejauh ini tidak berkomentar mengenai rumor tersebut. Namun Gedung Putih menyampaikan, Michelle memang berlibur di Maui, Hawaii bersama teman-temannya. Disebutkan bahwa itu sebagai hadiah dari Obama menjelang ulang tahun Michelle yang ke-50 pada Sabtu, 18 Januari waktu setempat.

“Sebagai bagian dari kado ulang tahun dari presiden, Ibu Negara tetap berada di Hawaii untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya menjelang ulang tahunnya yang ke-50 nanti,” demikian pernyataan singkat Gedung Putih. Juru bicara Gedung Jay Carney menambahkan: “Jika Anda punya anak-anak, Anda tahu jika Anda membolehkan pasangan Anda pergi dari rumah selama seminggu, maka itu merupakan hadiah besar.”

Rumor mengenai rumah tangga Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan istrinya, Michelle kembali berhembus. Belum lama ini beredar kabar bahwa Michelle pernah meminta cerai dari suaminya itu. Kini, berita yang kebenarannya masih diragukan tersebut kembali diangkat media AS. Menurut sumber Gedung Putih kepada media National Enquirer seperti dilansir situs showbizspy.com, Selasa (24/12/2013), Obama dan Michelle tidur terpisah di kamar masing-masing di Gedung Putih. Bahkan Michelle dikabarkan serius berniat cerai dari suami yang telah dinikahinya selama 21 tahun itu.

Menurut sumber itu, pernikahan Obama dan Michelle telah goyah bertahun-tahun. Mereka selama ini bertahan hanya demi anak-anak mereka dan ambisi politik Obama untuk menjadi orang asing pertama yang menjadi predisen amerika. “Tapi sekarang Michelle sangat marah. Dia merasa dipermalukan di depan seluruh dunia karena perselingkuhan, dan menjerit padanya, “cukup sudah!”. Dia telah bertemu dengan pengacara perceraian dan bilang ke Barack bahwa dia ingin berpisah darinya,” kata sumber tersebut seperti diberitakan National Enquirer.

Menurut sumber itu, Michelle akan tetap berada di Gedung Putih selama sisa masa kepresidenan Obama. Namun dia telah menegaskan bahwa mereka akan menjalani hidup sendiri-sendiri. Michelle pun kini tidur di salah satu kamar kosong di areal Gedung Putih dan bahkan akan mengeluarkan pakaian dan barang-barang pribadi Obama dari rumah pribadi mereka di Chicago.

Masih menurut National Enquirer, Michelle marah besar setelah Obama berfoto-foto dan berakrab-akrab ria dengan Perdana Menteri Wanita Denmark Helle Thorning-Schmidt yang terlihat sangat cantik saat acara mengenang mendiang Nelson Mandela. Menurut sumber Gedung Putih itu, Michelle menahan kemarahannya selama berada di Afrika Selatan ketika itu. Namun begitu mereka tiba di Gedung Putih, dia pun meluapkan semua kecemburuannya.

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama digosipkan hendak digugat cerai istrinya, Michelle. Mereka disebut-sebut sudah pisah ranjang. Gosip ini belum tentu benar, apalagi keduanya sedang berlibur dan tampak mesra.

Menurut sumber Gedung Putih kepada media National Enquirer seperti dilansir situs showbizspy.com, Selasa (24/12/2013), Obama dan Michelle tidur terpisah di kamar masing-masing di Gedung Putih. Bahkan Michelle dikabarkan serius berniat cerai dari suami yang telah dinikahinya selama 21 tahun itu. Di tengah gosip yang belum jelas kebenarannya itu, Obama dan Michelle serta anak-anak mereka, Malia dan Sasha, pergi berlibur ke Honolulu, Hawaii, sejak akhir pekan lalu. Di sana, sang presiden sempat bermain golf dan menonton pertandingan basket kampus antara Oregon State dan University of Hawaii. Di pertandingan itu, adik ipar Obama, Craig Robinson, menjadi pelatih Oregon.

Rumor perceraian Presiden Amerika Serikat Barrack Obama dengan istrinya, Michelle Obama, ramai diberitakan di Internet. Seperti dilaporkan Inquisitr, isu ini pertama diungkap oleh The National Enquirer.

Dalam laporannya, The National Enquirer menyebutkan bahwa hubungan pasangan yang sudah 21 tahun menikah itu dikabarkan mulai merenggang sejak mereka menghadiri upacara pemakaman Nelson Mandela pada pertengahan Desember lalu, saat Obama ber-selfie dengan Si Cantik Perdana Menteri Denmark, Helle Thorning-Schmidt. Memang, saat Obama asyik ber-selfie, wajah first lady AS itu terlihat masam dan mengindikasikan dia tengah cemburu. Ia tidak ikut berfoto saat itu, entah karena tak ingin bergabung atau memang sengaja tak diajak bergabung.

Hal ini diklaim menjadi awal mula pertengkaran yang terjadi dalam rumah tangga Obama. Bahkan, menurut The National Enquirer, Michelle juga telah menemukan bahwa anggota Secret Service dengan sengaja menyembunyikan perselingkuhan Obama, meski tak jelas dengan siapa ia berselingkuh. Bermula dari aksi selfie yang dilakukan Barrack Obama saat pemakaman mantan Presiden Nelson mandela pada pertengahan Desember lalu, isu perselingkuhan yang berbuntut kabar perceraian antara Obama dan istrinya, Michelle Obama, kian santer diberitakan.

Bahkan, menurut pemberitaan Examiner, keduanya sudah lama pisah kamar. Meski sudah pisah kamar, pernyataan yang disampaikan oleh sumber anonim Gedung Putih ini menyebutkan Michelle akan tetap tinggal di Gedung Putih hingga masa jabatan Obama berakhir. Ini dilakukan untuk menjaga citra presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat tersebut.

Tidak hanya itu, sumber lain mengatakan, Michelle telah menyingkirkan sejumlah barang milik Obama dari rumah pribadi mereka di Chicago. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi mengenai rumor perceraian tersebut. Meski penyebab perceraian juga tidak jelas, sejumlah media menyebutkan, perceraian ini terjadi karena perselingkuhan yang dilakukan Obama dan besarnya kecemburuan sang istri.

Pertengkaran antara keduanya dikabarkan mulai panas sejak aksi selfie Obama bersama Perdana Menteri Denmark Helle Thorning-Schmidt. Saat itu, Obama sengaja mesra mesra berfoto bersama tanpa Michelle.