Bocah Kulit Hitam Yang Dieksekusi Mati 70 Tahun Lalu Tetap Gigih Mencari Keadilan


Bila novel “The Confession” karya John Grisham semata kisah fiksi, maka kisah nyata dengan alur cerita yang mendekati benar-benar terjadi di Amerika Serikat. Keduanya “bertutur” tentang remaja berkulit hitam yang dihukum mati, untuk tuduhan pembunuhan gadis berkulit putih.

Kedua cerita punya alur yang mirip. Bedanya, eksekusi di novel Grisham ternyata dilakukan pada orang yang salah, sementara pada kisah nyata ini belum dapat dipastikan soal bersalah atau tidaknya bocah kulit hitam itu. Sebuah sidang lanjutan akan digelar, Rabu (22/1/2014). Pembeda lain, kasus nyata tersebut terjadi 70 tahun lalu.

Seorang bocah berumur 14 tahun, George Stinney, pada 1944 dituduh membunuh dua bocah perempuan berkulit putih yang masing-masing berusia 7 dan 11 tahun. Seperti di novel Grisham, tuduhan untuk Stinney pun keluar setelah upaya pengungkapan kasus tak kunjung mendapatkan hasil.

Masalahnya, apakah sidang untuk memberikan keadilan Stinney bisa dibuka lagi? Kalaupun belum masuk tenggat waktu perkara kadaluarsa, tantangan terbesar yang menghadang adalah hampir semua saksi kasus sudah meninggal. Sebagian besar bukti, termasuk transkrip persidangan, sudah hilang pula.

Stinney dinyatakan bersalah membunuh Mary Emma Thames (7) dan Betty Binnicker (11), lebih dari satu bulan setelah jasad kedua bocah itu ditemukan tewas dengan luka pukulan di kepala dan teronggok di selokan berisi air. Sidang untuk Stinney berlangsung tak sampai seharian, di kota industri kecil, Alcolu, yang komunitasnya terbelah berdasarkan ras.

Para pengacara berkeyakinan keputusan bersalah Stinney bias rasial dan kurang bukti berdasarkan hukum Jim Crow yang melembagakan segregasi di kawasan selatan Amerika Serikat pada waktu itu.

Dalam sejarah hukum Amerika satu abad terakhir, Stinney adalah orang termuda yang menjalani hukuman mati. Bahkan pada 1944, protes untuk hukuman itu juga sudah terjadi.

Surat kabar setempat menggambarkan tali di kursi eksekusi tidak pas dengan postur Stinney yang hanya berbobot sekitar 43 kilogram. Satu elektroda yang akan mengalirkan listrik bervoltase mematikan untuk eksekusi itu bahkan terlalu besar untuk kaki Stinney.

Namun, sekali lagi, semua bukti termasuk pengakuan Stinney sudah lenyap. Pengacara yang disewa keluarga Stinney menggali bukti baru, antara lain berupa pernyataan di bawah sumpah dari kerabat yang memastikan keberadaan Stinney pada hari bocah-bocah perempuan itu terbunuh, pernyataan ahli patologi, dan data otopsi.

Tergantung ingatan

Pada akhirnya, sidang ulang untuk Stinney yang berlangsung 70 tahun setelah eksekusi kontroversial tersebut akan sangat tergantung pada ingatan. Adik Stinney yang pada 1944 masih berusia 7 tahun, pada 2009 membuat kesaksian. Di dalamnya dia menggambarkan bagaimana tubuh Stinney hangus setelah eksekusi dan dikebumikan dalam kuburan tak bertanda.

Amie Ruffner, adik Stinney, menuturkan pula dalam kesaksian 5 tahun lalu itu bagaimana dia bersembunyi di kandang ayam ketika kakaknya dijemput di rumahnya oleh beberapa orang kulit putih berseragam. Namun pada pemeriksaan silang, Ruffner harus berjuang keras untuk mengingat isi kesaksian itu, meski bersumpah sudah pernah memberikan kesaksian.

“Jika Anda tidak dapat mengingat apa yang Anda tulis pada 2009, mengapa kami harus percaya bahwa Anda berkeyakinan sesuatu terjadi pada 1944?” tanya Jaksa sesuatu yang terjadi pada tahun 1944 ? ” kata jaksa Ernest “Chip” Finney III, Selasa (21/1/2014).

Circuit Hakim Carmen Mullen mengatakan tugasnya dalam kasus ini bukan memutuskan Stinney bersalah atau tidak dalam perkara pembunuhan 70 tahun lalu. Dia mengatakan, sidang hanya akan memastikan apakah Stinney mendapatkan keadilan atau tidak di pengadilan pada 1944.

“Apa yang bisa kulakukan? Apa saya bisa memperbaiki (putusan saat itu)?” tanya Mullen pada awal sidang pemeriksaan. “Kalaupun kita coba lagi (membuka perkara pembunuhan itu), apa hasilnya? Sekali lagi, tak satu pun dari kita punya kekuatan untuk membawa anak 14 tahun itu kembali.”

Bila Mullen mendukung Stinney, hampir pasti pintu akan terbuka untuk ratusan banding untuk kasus lain. Meski demikian, Mullen mengakui bahwa kasus Stinney memang tidak biasa. “Tidak ada seorang pun di sini bisa membenarkan seorang anak 14 tahun yang dikenakan (tuduhan), diadili, divonis, dan dieksekusi hanya dalam 80 hari, ” kata dia.

Pada 1944, Stinney bisa diduga adalah satu-satunya manusia berkulit hitam yang berada di dalam ruang sidang. Namun, pada sidang pemeriksaan yang digelar Selasa (21/1/2014), ruang sidang kasus ini dipenuhi pendukung Afro-Amerika yang mendebat jaksa yang adalah putra dari Ketua Mahkamah Agung berkulit hitam pertama di Carolina Selatan.

Finney berpendapat tidak boleh ada sidang baru karena semua bukti hilang. Namun, dia menyatakan terkejut dan kecewa bahwa pengadilan pada 1944 mengambil nyawa Stinney. “Tapi itu cara keadilan bekerja pada waktu itu. Kita seharusnya tahu ada yang lebih baik, tetapi tidak saat itu.”

Pada era 1940-an, Carolina Selatan mengeksekusi mati 59 orang. Dari jumlah itu, 50 di antaranya berkulit hitam, merujuk data dari Pusat Informasi Hukuman Mati. Saat itu, populasi warga berkulit hitam di Carolina Selatan mencapai 43 persen. Saat ini populasi kulit hitam di negara bagian itu tinggal 28 persen.

Catatan koran dari zaman itu mendapatkan sidang Stinney menggunakan kesaksian dari pengakuan Stinney dan laporan otopsi. Beberapa orang di Alcolu mengatakan ada pakaian berdarah ditemukan di rumah Stinney tetapi orang-orang itu tak pernah muncul di persidangan. Tak ada juga keterangan dari ker

Cerita koran tentang sidang Stinney menawarkan sedikit petunjuk apakah bukti diperkenalkan di luar pengakuan remaja dan laporan otopsi . Beberapa orang di sekitar Alcolu mengatakan pakaian berdarah diambil dari rumah Stinney , tapi tidak pernah diperkenalkan di pengadilan karena pengakuannya .

Tidak ada catatan yang menyebutkan pakaian itu benar-benar ada atau tidak. Saudara-saudara Stinney mengaku tak pernah melihat celana maupun kemeja berdarah dikenakan Stinney.

Belakangan, keterangan berbeda muncul pula dari kerabat para bocah-bocah perempuan yang tewas. Menurut mereka, Stinney dikenal sebagai berandalan yang mengancam akan membunuh siapapun yang terlalu dekat dengan tempat dia menggembalakan sapi milik keluarga.

Terry Evans, sepupu Thames yang lahir setahun setelah saudaranya itu meninggal, mengaku malu bahwa persidangan ini tak digelar lebih awal. Dia bercerita bahwa pada 1944 pamannya hadir dalam eksekusi Stinney. Menurut Evans, pamannya yakin Stinney bersalah tetapi pada saat bersamaan merasa tak enak pada keluarga Stinney.

“Semua orang yang masih anak-anak pada saat itu, yang mereka tahu sesudah (kasus Stinney) adalah ketakutan,” ujar Evans. “Semua yang orang-orang katakan (sekarang) adalah desas-desus.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s