Monthly Archives: April 2011

Kisah Tiga Kota Paling Indah Didunia : Beograd, Athena, dan Istanbul

Pesan pendek yang dikirimkan Sidney Jones dari International Crisis Group, ”…enjoy the most beautiful city in the world”, benar adanya. Istanbul memang indah dan pantas dinikmati. Bagaimana dengan Beograd di Serbia dan Athena di Yunani, Sidney? Pertanyaan itu tak dijawab Sidney Jones karena memang tidak dikirimkan.

Ketiga kota itu sama-sama indah, masing-masing memiliki daya tarik sendiri, dan kini juga sama-sama berjuang untuk tidak ditelan perkembangan zaman. Ada sejarah yang menautkan ketiga kota itu. Yunani kuno pernah menguasai Turki ketika helenisme, peradaban Yunani, menguasai kawasan Mediterania. Sebutlah nama kota yang selalu disebut-sebut dalam cerita Yunani, yakni Troya, dekat Selat Dardanella, yang sekarang menjadi wilayah Turki. Menurut sejarah, tempat Istana Topkapi sekarang berdiri dahulu adalah kota kuno Yunani.

Sebaliknya, Turki juga pernah menguasai Yunani, yang bahkan hingga kini masih meninggalkan trauma. Yang selalu diingat orang Yunani adalah penjajahan Yunani oleh Turki selama 400 tahun, mulai tahun 1458 hingga 1821 (untuk sementara diselingi pendudukan oleh orang-orang Venetia tahun 1687-1715). Bahkan, sekarang pun Yunani merasa selalu direpotkan oleh imigran-imigran Turki yang hendak masuk ke Eropa.

Beograd pada zaman dulu pernah juga dikuasai Kekhalifahan Utsmaniyah (Ottoman). Penguasa Ottoman melihat bahwa Beograd adalah pintu masuk ke Eropa Tengah sehingga harus ditundukkan. Menurut sejarah, pada tahun 1284, tentara Turki masuk Beograd, tetapi tidak bisa sepenuhnya menguasai kota itu. Baru pada tahun 1521 di bawah pimpinan Sultan Suleiman Akbar, Beograd jatuh dan sepenuhnya dikuasai Turki hingga tahun 1801.

Ketiga kota itu dahulu sama-sama pernah dikuasai Imporium Romanum, Kekaisaran Romawi. Romawi menguasai Beograd sejak abad pertama hingga empat abad kemudian. Athena bahkan jauh tahun sebelumnya, yakni sekitar tahun 88 SM hingga zaman Kekaisaran Romawi Timur yang berpusat di Byzantium, atau Istanbul sekarang.

Kini ketiga kota itu berjuang untuk tetap berjaya pada zaman yang berlari kencang ini. Beograd, yang kini menjadi ibu kota Serbia dan membanggakan Sungai Sava dan Danube sebagai rohnya, terus berusaha menata diri setelah terluka parah karena perang saudara yang dipicu oleh nasionalisme religius yang kelewat batas. Secara ekonomi, Beograd tertatih-tatih. Harga-harga barang mahal. Meski mereka masih setia menggunakan mata uang mereka sendiri, dinar, harga-harga dipatok senilai mata uang Eropa, euro, karena tengah berjuang untuk menjadi anggota Uni Eropa.

Athena, ibu kota Yunani, kondisi perekonomiannya lebih parah lagi. Korupsi dan pungutan liar nyaris merobohkan pemerintahan Yunani. Muncul istilah fakelaki atau uang amplop dan rousfeti atau politik perkoncoan, KKN. Krisis ekonomi mulai melanda Yunani sejak akhir 2009.

”Pajak dinaikkan dan gaji dipotong. Biasanya kami menerima 14 kali gaji setiap tahun, kini hanya menerima 12 kali,” tutur Johny, pekerja asal Manado di Athena.

Pariwisata menjadi tumpuan hidup negeri itu. Setiap tahun tercatat 16,5 juta wisatawan, sedangkan jumlah penduduknya ”hanya” 11 juta jiwa.

”Pariwisata memang menjadi tulang punggung Yunani. Mereka bisa mengelola dengan sangat baik. Infrastruktur baik, promosi baik, pendek kata kita bisa belajar banyak dari mereka dalam bidang pariwisata,” kata Duta Besar Indonesia untuk Yunani Ahmad Rusdi.

Istanbul menjadi pesaing Athena dalam dunia pariwisata. Istanbul, kota terbesar di Turki, berpenduduk 12 juta jiwa (penduduk Turki 77 juta orang), memang indah. Banyak bagian kota yang bisa dipamerkan kepada dunia, kepada wisatawan, bahkan sampai hal kecil seperti kamar kecil di obyek wisata yang selalu bersih.

Para wisatawan—yang menurut catatan tahun 2008 mencapai 31 juta orang—dimanja dengan tersedianya sarana angkutan. Ada bus, taksi, dan kereta listrik yang membelah kota pusat wisata.

Kota ini memeluk dua budaya—Barat dan Asia. Dan, kedua-duanya disodorkan bersama. Istanbul yang menempati posisi strategis secara geopolitik, jalan simpang antara Eropa dan Asia, hingga kini masih terus berjuang menjadi anggota Uni Eropa. Meski, sejak awal berdiri menyatakan diri sebagai bagian dari Barat dan menjadi anggota NATO sejak tahun 1952, sama seperti Yunani.

Walau berwajah dua, Istanbul tetap menarik. ”…The most beautiful city in the world,” kata Sidney Jones. Tak kalah dari Athena dan Beograd, yang juga indah.

Advertisements

Inggris Kirim Tentara Ke Libya Untuk Melatih Siapa Saja Yang Mau Melawan Khadafi

Aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara akhirnya mengakui tidak mudah melawan pemimpin Libya, Moammar Khadafy. Namun, para pemimpin Barat, termasuk Amerika Serikat, dan oposisi Libya terus saja mendesaknya turun. Diserang pakai senjata saja Khadafy masih tangguh, bagaimana mungkin dia mau turun hanya karena desakan-desakan verbal.

Sebagai pelopor revolusi Libya, Khadafy, yang sejak berkuasa pada 1 September 1969 menyebut dirinya ”pemimpin revolusi”, bersumpah untuk berperang hingga ”orang terakhir” dan ”tetes darah terakhir”.

Mustahil Khadafy turun begitu saja hanya karena pernyataan, ancaman, dan desakan pemimpin Barat itu. Desakan Perancis, Inggris, dan AS agar Khadafy turun diabaikan seperti angin lalu. Dia bahkan terus melakukan operasi yang sejak awal perang disebutnya serangan ”dari rumah ke rumah” dan ”sedikit demi sedikit”.

Buktinya, seperti dilaporkan AFP, polisi rahasia Khadafy memburu para ulama dari masjid ke masjid di seantero negeri. Ulama yang berkhotbah menentangnya ditangkap, diculik, dan ditahan. Bahkan, ada yang hilang begitu saja dan dibunuh. Begitu pula dengan para pemimpin aksi protes massa dan aktivis sosial yang menggelorakan perlawanan terhadap rezim Khadafy.

Aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang melakukan operasi penegakan zona larangan terbang di atas Libya kini pun menyerah. Komandan operasi NATO di Libya, Brigadir Jenderal Mark van Uhm, Selasa (19/4), mengatakan, memang tidak mudah melawan Khadafy. Uhm berbicara dalam konteks pertempuran Misrata, satu-satunya basis oposisi di Libya barat.

Hingga Rabu, loyalis Khadafy bahkan intens menggempur Misrata untuk menghancurkan oposisi. Kota-kota lain di Libya barat, seperti Zintan, Zawiya, Sirte, dan Nalut, yang sempat dikuasai oposisi telah direbut kembali oleh pasukan Khadafy.

Rumah sakit di Misrata kelimpahan mayat dan korban luka-luka. Organisasi Kesehatan Dunia terpaksa harus mengevakuasi 120 pasien dari rumah sakit itu karena serangan dari kubu loyalis Khadafy menyasar ke berbagai tempat, termasuk ke sekitar rumah sakit.

Kubu oposisi yang berusaha menggempur Tripoli, basis Khadafy, justru telah dipatahkan dengan mudah. Oposisi kini hanya menguasai Benghazi dan beberapa kota di Libya timur. Kota lain di timur, seperti Ras Lanuf dan Brega, telah dikuasai Khadafy lagi meski NATO terus menyerangnya sejak 19 Maret lalu.

Aliansi NATO sudah lama retak. Kini hanya Perancis dan Inggris yang ngotot mengirimkan pasukan dan armadanya membantu oposisi. Mereka juga mulai kewalahan karena biaya operasional aksi militer di Libya bisa Rp 2,7 miliar sampai Rp 4 miliar per hari. Jelas bukan dana yang kecil.

Kewalahan

NATO saja kewalahan, apalagi kubu oposisi yang serba terbatas sumber dayanya, baik personel maupun senjata. Gagal mengusir Khadafy lewat serangan udara, Inggris bahkan berencana melakukan serangan darat. Perancis, yang setia dengan Inggris sejak awal, kini bersatu dengan Italia menolak ide itu.

Menteri Luar Negeri Perancis Alain Juppe mengatakan, dia ”benar-benar menentang” ide melakukan serangan darat sebab tidak ada klausul itu dalam Resolusi DK PBB Nomor 1973, yang terbit 17 Maret. Resolusi hanya menyebutkan, anggota dimungkinkan mengambil ”tindakan yang diperlukan” demi melindungi warga sipil.

Jika ”tindakan yang diperlukan” itu ditafsirkan lebih luas, misalnya memakai serangan darat, jelas akan timbul persoalan baru. Selain bertentangan dengan resolusi, hal itu juga bisa berarti upaya ”pendudukan” atas Libya. Kasus Irak dan Afganistan bisa terulang di sini.

Langkah Inggris mengirim 20 tenaga ahlinya ke Benghazi untuk melatih anggota pasukan oposisi dikecam rezim Khadafy. Inggris dituding hendak mendukung ”pemberontak” yang diidentifikasi sebagai teroris Al Qaeda. Sampai kini Barat belum pernah mengidentifikasi kelompok mana yang akan mereka bantu. Bisa-bisa bantuan menyasar ke Al Qaeda.

Harus diakui, oposisi lemah karena tidak terorganisasi dengan baik. Khadafy tahu itu sehingga dia takkan mau turun begitu saja. Jika Khadafy diturunkan paksa, berakhir damaikah krisis Libya? Tampaknya sulit sebab di dalam kubu oposisi ada banyak faksi dengan beragam ambisi. Misalnya, ada yang ingin membentuk negara Islam, demokrasi liberal, ataupun demokrasi parlementer.

Berita terbaru, Pemerintah Libya mungkin akan menggelar pemilu, termasuk untuk menentukan masa depan Khadafy. Pemilu dapat digelar jika NATO menghentikan serangan. ”Jika aksi pengeboman dihentikan, enam bulan setelahnya pemilu bisa digelar dalam pengawasan PBB,” kata Menteri Luar Negeri Libya Abdul Ati al-Obeidi.

CIA Buka Dokumen Teknologi Rahasia Perang Dunia Pertama Karena Sudah Temukan Teknologi Pengganti

Badan intelijen Amerika Serikat, CIA, Rabu (20/4) di Washington, membuka enam dokumen rahasia terkait Perang Dunia I dari tahun 1917 dan 1918. Dokumen rahasia tersebut adalah yang paling tua yang pernah dimiliki Pemerintah AS.

Dalam beberapa dokumen itu disebutkan sejumlah teknik terhebat masa itu dalam berbagai kegiatan mata-mata pada perang diplomatik setelah perang fisik selesai. Berbagai teknik itu dipakai diplomat dan intelijen.

Misalnya, ada tinta rahasia. Tulisannya tak terlihat, tetapi bisa dipahami di dunia intelijen. Juga dipaparkan bagaimana para intelijen pada masa itu belajar membuka dan membaca isi surat, tetapi si penerima surat tak pernah tahu bahwa surat tersebut pernah dibuka.

Sebuah dokumen lain berisikan cara pembuatan tinta dalam keadaan darurat. Rendam sapu tangan atau kerah baju dalam larutan kimia kombinasi nitrat, soda, dan tepung kanji. Lalu jemur sapu tangan atau kerah itu hingga kering. Namun, larutan kimia itu tampak kembali ketika sapu tangan dan kerah direndam di air. Larutan kimia itu kemudian bisa dipakai sebagai tinta pena dan sewaktu-waktu dipakai untuk menulis pesan rahasia.

”Ada pula dokumen, tertulis dalam bahasa Perancis, yang menyebutkan keberhasilan (Perancis) mengungkap formula tinta rahasia Jerman, yang sekaligus menunjukkan keberhasilan mereka membongkar kode rahasia musuhnya itu. Hampir seabad dokumen itu dirahasiakan hingga sekarang ketika teknologi memungkinkan untuk mengungkapkannya,” ujar Direktur CIA Leon E Panetta.

Juru bicara CIA, Marie E Harf, menjelaskan, pengungkapan sejumlah dokumen rahasia itu kini dimungkinkan. Ini berkat makin canggihnya perkembangan dan kemajuan teknologi kimia. Hal ini dibantu dengan metode pencahayaan untuk mendeteksi cairan tinta kuno, yang memang sudah lama ditinggalkan.

Tidak rasional

Sepanjang tahun lalu CIA berhasil mengungkap lebih dari satu juta lembaran dokumen bersejarah, yang ditulis secara rahasia.

Namun, menurut Steve Aftergood dari Federasi Ilmuwan AS, CIA tidak selalu bersedia mengungkap dokumen rahasia tertentu yang telah diurai artinya.

Ia berpendapat, CIA tetap menolak Undang-Undang Kebebasan Informasi tahun 2002 untuk mengungkap semua dokumen dan catatan sejarah rahasia itu.

Namun, Aftergood mengaku sangat terkesan dengan pernyataan Panetta, yang menyebutkan semua dokumen tersebut baru dapat diungkapkan saat ini lantaran kemajuan teknologi baru.

Menurut dia, teknologi pelacak surat rahasia itu sudah lama ada, bukan saja belakangan ini. ”Direktur CIA Panetta sepertinya tengah berupaya merasionalisasikan kebijakan informasi CIA yang selama ini tidak rasional. Klaimnya sama sekali tidak berdasar,” ujar Aftergood.

Saat ini keenam dokumen tersebut tersedia di situs jejaring CIA dalam laman Ruang Baca Elektronik UU Kebebasan Informasi. Sarjana dan mahasiswa dapat membaca dan mempelajarinya di Arsip Nasional di College Park, Maryland, dalam perangkat cari catatan CIA (the CIA Records Search Tool/CREST).

Program CREST sendiri belakangan ini menjadi tempat penyimpanan lebih dari 10 juta halaman dokumen CIA yang telah dideklasifikasikan. Sejak tahun 1995, CIA merilis lebih dari 30 juta halaman dokumen rahasia sesuai ketentuan UU Kebebasan Informasi, UU Privasi, dan tinjauan deklasifikasi yang diwajibkan.

Ratusan Gadis Menghadiri Pesta Belanja Tanpa Busana Di Shopping Center Inggris

Demi mendapatkan vocer belanja sebesar £100 atau Rp1,4 juta, sejumlah wanita nekat memasuki pusat perbelanjaan hanya berbalut pakaian dalam. Mereka berpartisipasi dalam program ‘belanja seksi’ yang digelar Lakeside Shopping Centre di Essex, Inggris.

Pusat perbelanjaan itu sebelumnya mengumumkan akan memberikan hadiah menarik pada 100 wanita pertama yang datang pada minggu pagi. Syaratnya, mereka hanya boleh mengenakan bra, celana dalam, dan sepatu tumit tinggi.

Sebanyak 100 wanita yang bergegas memasuki pusat perbelanjaan mendapat kartu vocer gratis. Dengan vocer di genggaman, mereka langsung berburu barang yang diinginkan.

Barang yang menjadi buruan utama para wanita ini bukan jaket atau busana untuk menutupi tubuh mereka. Para wanita itu justru langsung berjalan ke arah tempat penjualan sepatu. Sebagian besar dari mereka terlihat menenteng tas belanja yang berisi sepatu tumit tinggi.

Pihak dari Lakeside Shopping Centre, Kylie Minor, berharap para wanita yang memenangkan vocer tersebut merasa puas dengan koleksi pakaian dan sepatu musim semi yang ditawarkan.

Mereka juga merasa senang banyak wanita yang ikut serta dalam program tersebut. “Senang melihat semua wanita cantik menggunakan lingerie dan sepatu tumit tinggi,” kata Kylie, seperti dikutip dari Genius Beauty.

Moammar Khadafy Langsung Lakukan Pawai Gaya Koboi Disambut Ratusan Rakyat Saat NATO Melakukan Pemboman di Tripoli

Moammar Khadafy kembali memberi sinyal, dia masih pemimpin kuat Libya. Di saat aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara mengebom Tripoli, ibu kota negara, Kamis (14/4), Khadafy justru berpawai di jalan-jalan kota ala koboi. Ratusan orang pun bersorak menyambutnya.

Pawai Khadafy disiarkan televisi nasional Libya. Di televisi itu tampak sang kolonel mengendari mobil SUV warna perak di dampingi puluhan mobil lainnya. Pemimpin Libya itu berdiri di mobil yang bagian atapnya (sunroof) dibuka sambil menebar senyum dan melambaikan tangannya ke kamera televisi.

Khadafy tampil mirip seorang penggembala sapi. Dia memakai topi koboi warna hijau, jaket hitam, dan kacamata hitam pula. Selain melambaikan tangan, dia sesekali mengacungkan kedua tangannya yang terkepal dan berteriak untuk menggelorakan para simpatisan yang menantinya di tepi jalan.

Penampilan Khadafy disambut meriah penduduk kota. Ratusan warga mengelu-elukannya sambil menyerukan nama ”Allah, Libya, Moammar, dan tiada yang lain” sebagai dukungan untuk Khadafy.

Entah bermaksud mengejek atau tidak, pemimpin kuat Libya yang sudah berkuasa selama 41,5 tahun itu mengatakan, pawainya terpaksa digelar pada saat Tripoli sedang diserang Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Perlawanan Khadafy

Pada saat Khadafy berpawai, bom-bom NATO mengguncang sekitar Bab al-Aziziya, basis militer dan tempat tinggal Khadafy, dan kemah wartawan asing. Televisi Libya melaporkan ada yang tewas dalam serangan itu.

Pada Kamis pagi, pasukan loyalis Khadafy menembaki pesawat NATO dari tengah kota Tripoli. Reuters mendengar empat ledakan dan melihat asap mengepul di selatan kota. Seorang fotografer melihat satu jet tempur di atas kota sebelum akhirnya terdengar satu ledakan dahsyat.

Loyalis Khadafy kembali menembakkan roket ke Misrata, kota terbesar ketiga setelah Tripoli dan Benghazi. Seorang dokter di kota itu kepada televisi Al-Jazeera mengatakan, delapan orang tewas dan tujuh lainnya terluka. Misrata adalah satu-satunya kota di Libya barat yang masih dikuasai pasukan oposisi.

Seorang warga Misrata mengatakan, sebanyak 120 roket menghantam kota dan ratusan warga sipil tewas selama enam minggu pengepungan oleh Khadafy. Serangan NATO yang mengarah ke pasukan Khadafy juga menyebabkan warga sipil tewas.

Perancis, Inggris, dan para sekutu mereka di NATO bertekad terus menyerang hingga Khadafy menyerah. Putri Khadafy, Aisha (Aisyah), menegaskan, desakan Barat agar ayahnya turun adalah penghinaan besar bagi rakyat Libya.

TNI Telah Kirim 401 Kopassus dan Marinir Untuk Bebaskan Sandera Bajak Laut Somalia

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (15/4), mengungkapkan, pemerintah telah mengirim dua kapal perang kelas fregat dan satu helikopter ke perairan Somalia untuk operasi pembebasan Kapal MV Sinar Kudus dan para awaknya.

Dua kapal perang itu membawa 401 personel pasukan khusus gabungan dari Korps Marinir TNI Angkatan Laut dan Kopassus TNI Angkatan Darat. Selain mengirim kapal, pemerintah juga mengirim personel Badan Intelijen Negara ke Nairobi, Kenya, untuk mengumpulkan informasi.

Akan tetapi, dengan posisi Kapal Sinar Kudus yang berada di dekat markas pembajak di tepi pantai, risikonya sangat tinggi bagi keselamatan para sandera jika dilakukan penyerbuan.

”Banyak pendapat, pemerintah tidak melakukan apa-apa, lemah, tidak mencari opsi keras menghadapi pembajakan ini. Padahal, opsi militer keras pun jadi pilihan,” kata Djoko.

Empat kali

Djoko memaparkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah empat kali memimpin rapat koordinasi dalam menangani kasus pembajakan ini. ”Tanggal 17 Maret sore dapat informasi, tanggal 18 rapat. Arahan utamanya, selamatkan awak kapal. Kemudian, rapat lagi tanggal 20, tanggal 22 Maret finalisasi,” ujarnya.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menambahkan, setelah mendapat arahan pada 18 Maret, sehari kemudian dilakukan pemaparan rencana operasi. Presiden langsung memerintahkan pasukan untuk berangkat.

Tanggal 23 Maret dua fregat berangkat. ”Kami harapkan bisa bertemu di laut, sampai di posisi tanggal 5 April. Tetapi, kapal Sinar Kudus sudah di pantai, di antara delapan kapal lain yang dibajak,” ungkap Agus.

Djoko menegaskan, prioritas utama pemerintah tetap keselamatan para sandera sehingga tidak mau gegabah melakukan operasi penyelamatan.

Pemerintah Indonesia Memberikan Restu Pada Bajak Laut Somalia Dengan Membayar Tebusan

Aksi perompakan di perairan lepas pantai Somalia menjadi momok bagi industri perkapalan di dunia. ”Saat ini problema besar bagi industri perkapalan adalah perompakan,” ujar SS Teo, Presiden Asosiasi Perkapalan Singapura.

Teo, sebagaimana dikutip harian the Business Times, mengakui aksi para perompak Somalia ini sudah menggila. Aksi mereka praktis sudah menjangkau perairan Samudra Hindia, bahkan sampai mendekati ujung selatan jazirah India.

Aksi ini yang membuat jumlah korban yang diserang dan dirompak belakangan ini semakin banyak. Tahun 2010 saja tercatat 53 kapal dirompak dengan lebih dari 392 kapal lainnya sempat diserang. Mereka berhasil menyandera 1.181 pelaut dari berbagai negara.

Menurut Biro Maritim Internasional, jumlah pelaut yang disandera ini merupakan yang terbesar yang terjadi di laut. Tahun lalu para perompak membunuh delapan pelaut. Semuanya berlangsung di lepas pantai Somalia, negara yang praktis dalam dua dekade ini tanpa sebuah pemerintahan yang efektif.

Menurut Teo yang juga Direktur Pelaksana Pacific International Lines—sebuah perusahaan perkapalan terkemuka di Singapura—para perompak Somalia ini kian nekat dan brutal. Mereka bersenjata mesin dan dilengkapi peralatan canggih untuk bisa mendeteksi setiap kapal yang berada bukan saja di Teluk Aden, bahkan sebagian besar Samudra Hindia, termasuk di lepas pantai India.

Kian memprihatinkan bagi perusahaan perkapalan, ujar Teo, aksi perompakan itu sudah seperti lahan pekerjaan. Empat tahun lalu perompak Somalia ini hanya merompak kapal dagang. Kapal disekap beberapa bulan dan dilepas begitu mendapat uang tebusan bahkan hanya beberapa ribu dollar AS.

Namun, kini para perompak menjelajah ke seluruh kawasan Samudra Hindia dan merompak kapal apa pun jenisnya. ”Tanpa terkecuali, mereka juga menyandera kapal kecil atau kapal layar yang hanya membawa beberapa sanak keluarga,” ujar Teo.

Menjadi mahal

Teo mengaku dibuat stres akibat aksi perompakan. Pada Oktober 2009, salah satu kapal Pacific International Lines, Kota Wajar, dirompak di lepas pantai Somalia dan disekap selama 75 hari. ”Itu masa yang paling meletihkan,” ujarnya. Keprihatinan utama adalah nasib awak kapal.

Kalau aksi pembajakan pesawat terbang, perkembangan bisa diikuti karena mendapat liputan media massa, termasuk media televisi selama 24 jam. Anggota keluarga dari sekitar 20 awak kapal Kota Wajar terus gelisah dan waswas karena tidak bisa mengetahui kondisi keluarga mereka.

Menurut Teo, karena tidak dipantau media massa, ada kesan pemilik kapal tidak memerhatikan nasib awak kapal. Kondisi ini membuat anak muda juga enggan menjadi awak kapal dagang. Begitu juga para pengguna jasa perkapalan. ”Padahal, nasib awak kapal menjadi perhatian utama,” ujar Teo.

Aksi perompakan yang kian brutal sehingga meminta korban jiwa dan jangkauan perompak yang semakin luas membuat Dewan Keamanan PBB dan Organisasi Maritim Internasional menyerukan aksi melawan para perompak.

Namun, kalangan industri perkapalan menghendaki dibentuk semacam pengadilan internasional atas perompak yang tertangkap. ”Tak ada yang bisa dilakukan terhadap perompak yang ditangkap. Mereka seharusnya dipenjarakan apabila terbukti bersalah di pengadilan tersebut,” ujar Teo.

Maraknya aksi perompakan di lepas pantai Somalia, bahkan di sebagian besar wilayah perairan di sisi barat Samudra Hindia, membuat perusahaan perkapalan enggan melayani jasa melintasi perairan itu. Menurut Teo, jika ada permintaan membawa barang ke wilayah itu, pemilik kapal akan meminta biaya angkut yang mahal.

Biaya mahal ini untuk menutupi premi asuransi yang juga mahal dan untuk membayar jasa pengawalan bersenjata di atas kapal ataupun pengawalan kapal perang. Ongkos jasa pengawalan bersenjata ini bisa mencapai 300.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,8 miliar. Biaya ini jelas semakin menambah biaya angkut dan akhirnya dibebankan kepada konsumen akhir.

Aksi perompakan yang kian marak ini kini juga dialami kapal MV Sinar Kudus berbendera Indonesia. Sudah hampir sebulan perompak Somalia menyekap kapal dengan 20 awak kapal ini. Membayar tebusan hingga Rp 27 miliar bagi pembebasan kapal dan muatannya merupakan upaya terbaik demi keamanan semua pihak.

Hanya saja, memberikan tebusan semakin membuat perompak mendapat ”restu” untuk terus merompak sebagai sumber hidup mereka. Sebab, dalam empat tahun ini, sebagaimana disinyalir Teo, aksi mereka kian meningkat dan jangkauannya kian menjauh dari lepas pantai Somalia.

”Mereka kini sudah sampai ke selatan India. Boleh jadi mereka akan melintasi wilayah perairan Sri Lanka dan suatu ketika bisa sampai ke Selat Malaka,” ujar Teo.

Jadi, perlu langkah tegas, entah dari PBB atau siapa saja yang terganggu dengan aksi perompak ini. Aksi tegas ini diharapkan bisa membuat para perompak kapok!