Category Archives: Kartel Narkoba Narkotika

Gembong Narkotika Ini Baru Berusia 30 Tahun dan Sudah Membunuh 1500 Orang

Polisi menghargai informasi tentang Acosta Hernandez hingga $1,2 juta lebih.

Kepolisian Meksiko mengatakan tersangka gembong kartel narkoba, Jose Antonio Acosta Hernandez mengakui telah memberikan perintah pembunuhan terhadap 1500 orang.

Pria berusia 30 tahun ini juga diduga terlibat dalam aksi serangan terhadap seorang perempuan pegawai kantor Konsulat AS bersama suaminya saat berada di Ciudad Juarez tahun lalu.

Petugas mengatakan Acosta Hernandez adalah tokoh kunci di dalam kartel Juarez yang berhasil ditangkap polisi pada hari Jumat pekan lalu.

Kartel ini berkuasa untuk mengontrol jalur peredaran narkoba dari Ciudad Juarez hingga Amerika Serikat.

Juarez sendiri merupakan kota dengan angka kekerasan paling tinggi di negara itu, data pada tahun lalu menunjukan telah terjadi 3000 kasus pembunuhan di kota tersebut.

KORBAN REMAJA
Acosta yang lebih dikenal dengan nama El Diego juga diduga merupakan pimpinan geng La Linea, yang anggotanya diperkerjakan oleh kartel Juarez untuk melakukan pembunuhan terhadap lawan-lawan mereka.

Kepala Unit Anti Narkoba Kepolisian Federal Meksiko, Ramon Pequeno mengatakan Acosta Hernandez dalam pemeriksaan juga mengakui telah memerintahkan pembunuhan 15 orang yang kebanyakan adalah remaja saat melakukan pesta di Ciudad Juarez tahun lalu.

Sebelumnya pemerintah Meksiko menawarkan uang sebesar $1,275 juta kepada orang yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan Acosta.

Pemerintah AS juga berupaya untuk membawa Acosta ke Amerika karena terlibat kasus pembunuhan terhadap pegawai konsulat keduataan itu, Lesley Enriquez beserta suaminya Arthur Redelfs dan suami rekannya, Jorge Salcedo.

Mereka semua ditembak mati di dalam kendaraan merela sesaat setelah meningalkan sebuah acara sosial di kota Ciudad Juarez.

Dalam peristiwa itu putri Enriquez yang masih berusia tujuh bulan dan berada di bangku belakang mobil mereka dibiarkan selamat.

Kartel Narkoba Meksiko La Familia Bantai 41 Orang Dengan Dukungan Polisi

Pemerintah Meksiko mengirim 1.800 tambahan polisi pada Sabtu untuk menghadapi perang narkoba yang mengerikan dan mematikan di negara itu, dengan setidaknya 41 orang dibunuh selama akhir pekan, termasuk 10 dipenggal.

Seluruhnya 1.800 agen federal dikirim ke negara bagian Michoacan pada Sabtu, dalam pertempuran di sana terutama dengan Knights Templar, sebuah kelompok sempalan kartel obat La Familia.

Bala bantuan yang didukung oleh 170 kendaraan, 15 ambulans dan empat MI serta helikopter Black Hawk, kata kantor Keselamatan Publik mengumumkan.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Alejandro Poire menyebutnya sebagai penguatan operasi yang dihadapkan pada kemungkinan mobilisasi yang lebih besar oleh kelompok kejahatan terorganisir.

“Mereka melancarkan perang absurd, untuk mati, untuk mengendalikan tindak kejahatan dan rute perdagangan narkoba ke Amerika Serikat,” tegasnya.

Pemerintah federal sudah mengerahkan sekitar 50.000 tentara angkatan darat dan ribuan polisi federal dalam memerangi kartel narkoba.

Pihaknya menyalahkan kelompok tersebut sebagai penyebab sebagian besar dari 37.000 orang yang tewas sejak mulai serangan militer terhadap kartel-kartel pada Desember 2006.

Dan pada akhir pekan ini tidak terkecuali dengan derajat pertumpahan darah yang mengejutkan, untuk mengintimidasi yang sering ditimbulkan ketika kelompok-kelompok orang menolak untuk bekerja sama dengan pengedar narkoba.

Polisi di kota utara Torreon Sabtu mengatakan mereka menemukan mayat tanpa kepala tujuh pria dan tiga wanita di belakang sebuah truk pick-up yang ditinggalkan.

Kepala polisi Guillermo Flores mengatakan kepada AFP bahwa hanya satu kepala, milik perempuan, ditemukan di tempat kejadian, dan bahwa pembunuh telah menempatkan sosok itu di kap truk.

Truk pick-up tersebut diparkir di jalan raya di sekitar Torreon, kota berpenduduk sekitar 650.000 di mana terletak dua jalan raya utama menuju utara ke Amerika Serikat bertemu.

“Para korban tampaknya telah dibunuh beberapa hari lalu di lokasi yang berlainan, dan tubuh mereka ditumpuk di truk pick-up yang ditinggalkan dalam upaya menimbulkan teror di antara warga Torreon,” kata polisi kota dalam sebuah pernyataan.

Polisi belum mengatakan siapa-siapa mereka yang menjadi tersangka, tetapi negara bagian Coahuila, di mana Torreon terletak, adalah medan pertempuran antara dua kartel kuat obat di Meksiko.

Zetas, yang didirikan oleh mantan tentara pasukan khusus Meksiko, dan kartel Pasifik, yang dipimpin oleh Joaquin “Chapo” (si Pendek) Guzman.

Mayat-mayat tanpa kepala itu ditemukan beberapa jam setelah 20 orang tewas Jumat malam, ketika orang-orang bersenjata menyerang sebuah bar lokal di kota utara Monterrey, kota penting ketiga Meksiko.

Para penyerang, yang tiba dengan dua truk pick-up dan mobil, menyerbu ke dalam bar di distrik kehidupan malam yang ramai Monterrey dan mulai menembak kepada para pengunjung. 11 orang ditembak mati pada Jumat sore di Chalco, sebuah kota di pinggiran Mexico City.

Kartel narkoba Meksiko, La Familia, melakukan pemerasan meluas kepada petani, petambang, bahkan penyelenggara adu banteng. Namun, dalam tindakannya ini La Familia mendapatkan perlindungan dari para komandan polisi negara bagian.

Badan kepolisian federal Meksiko, Sekretariat Keamanan Publik, mengungkapkan itu dalam sebuah laporan mengenai luasnya praktik korupsi dan intimidasi kartel tersebut di Negara Bagian Michoacan yang menjadi basisnya.

Untuk menambah pemasukan dari perdagangan narkoba, La Familia memaksa petambang membayar komisi dari hasil tambang. La Familia juga meminta peternak memberikan komisi dari daging yang mereka jual.

Perkebunan alpukat dan limau Michoacan juga dimintai komisi. Aksi adu banteng, adu ayam, dan konser diperas pula oleh La Familia.

Laporan itu dikeluarkan pada Minggu (26/6), lima hari setelah pihak berwenang federal menangkap orang yang diduga pemimpin La Familia, Jose de Jesus Mendez Vargas, alias ”El Chango”, atau ”Sang Monyet”.

Pakai seragam aparat

Laporan itu mengatakan, para komandan polisi Negara Bagian Michoacan membantu La Familia dalam operasinya. Para komandan mengizinkan agen-agen kartel itu menggunakan mobil patroli, frekuensi radio, dan seragam polisi.

Laporan itu menyebutkan seorang mantan pejabat polisi negara bagian menggunakan mobil-mobil patroli menutupi jalan-jalan dan membantu pembunuh bayaran melarikan diri dari polisi yang lain.

”Mereka menggunakan infrastruktur polisi negara bagian untuk membuat rute dan menjamin keselamatan komando bersenjata mereka,” kata laporan itu.

La Familia banyak menggunakan propaganda, seperti menyelenggarakan demonstrasi-demonstrasi menentang upaya pemberantasan geng narkoba oleh pemerintah, mengembuskan kabar angin penyiksaan oleh polisi, dan mengajukan laporan pelanggaran HAM palsu, kata laporan itu.

Walau demikian, pihak berwenang mengatakan, mereka berhasil mendorong kartel itu mundur ke kawasan pegunungan dan menahan atau menewaskan sebagian besar dari pemimpin utamanya. Laporan itu mengatakan, lebih dari 700 anggota La Familia ditangkap sejak 2008, terutama di Negara Bagian Michoacan dan Negara Bagian Mexico, yang berbatasan dengan Mexico City.

Namun, pemimpin sebuah kelompok sempalan yang keras, yang menyebut diri mereka Caballeros Templarios (Ksatria Kenisah) dan yang mulai muncul dengan aksi kejamnya bulan Maret lalu, masih buron.

La Familia lahir di Michoacan, negara bagian asal Presiden Felipe Calderon, tahun 2006. Ketika Calderon dilantik menjadi presiden pada Desember tahun itu, dia mengirim ribuan polisi ke sana dan memperingatkan bahwa kartel tersebut menyuap pejabat-pejabat setempat dan memeras bisnis setempat

El Chapo Guzman Raja Kartel Narkoba Yang Masuk Daftar Orang Terkaya Dunia

Sejak melarikan diri dari sebuah penjara berpengamanan ketat dengan sebuah truk binatu sepuluh tahun lalu, Joaquin ”El Chapo” Guzman telah mengubah dirinya dari seorang gembong kecil narkoba menjadi salah satu gembong paling berpengaruh di dunia. Dia juga menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

El Chapo lolos dari sebuah penjara di Meksiko barat pada 19 Januari 2001 setelah hampir delapan tahun beroperasi dari belakang terali besi.

Selama 10 tahun dia buron, Federasi Sinaloa, kartel narkobanya, telah bergerak dari operasi perdagangan narkoba yang relatif kecil-kecilan menjadi menguasai daerah luas wilayah Meksiko. Mereka juga terus memperluas daerah kekuasaannya dengan menempur kartel-kartel pesaingnya.

Kekayaannya telah berkembang menjadi lebih dari 1 miliar dollar AS, menurut majalah Forbes, yang menempatkannya dalam daftar ”Orang-orang Paling Berkuasa di Dunia” tahun 2010 serta menempatkannya di atas Presiden Perancis dan Presiden Venezuela. Pengaruhnya kini meluas dari Argentina sampai Australia.

Dia telah melakukan itu semua, sementara ada sebuah hadiah 7 juta dollar AS untuk penangkapannya. Dia juga mengelakkan ribuan agen penegak hukum dari AS dan negara-negara lain yang ditugaskan untuk menangkapnya dan menghancurkan kartel Sinaloa-nya.

”Kami punya personel yang ditugaskan khusus menangani Chapo Guzman. Itu memperlihatkan betapa penting bagi kami untuk menangkapnya,” kata seorang pejabat tinggi DEA, badan antinarkoba AS, di Meksiko yang tak bisa diungkapkan identitasnya.

”Kalau Anda mengumpulkan semua petugas penegak hukum AS dan asing di seluruh Amerika Tengah dan Amerika Selatan, ada ribuan yang memusatkan perhatian pada seluruh operasi Sinaloa,” katanya.

Guzman (53) membuat pihak berwenang tak mampu menangkapnya dengan dukungan banyak warga setempat di tempat asalnya di Negara Bagian Sinaloa, Meksiko barat laut. Di situ dia menggunakan kekayaannya untuk membantu kaum miskin keluar dari kemiskinan dengan menjadikanya petani opium atau mati dan bisnis narkobanya untuk mempekerjakan banyak orang. Dia diperkirakan bersembunyi di pegunungan ”Segitiga Emas” yang terletak di Negara Bagian Sinaloa dan Durango—wilayah yang begitu terpencil dan tak berhukum sehingga ibu-ibu rumah tangga dipaksa menanam bunga opium dan diperlukan berjam-jam untuk polisi mencapai tempat itu.

Salah sebuah kawat yang dikeluarkan WikiLeaks mengutip seorang pemimpin militer Meksiko, Jenderal Guillermo Galvan, mengatakan, Guzman beserta wanita-wanita simpanannya berpindah-pindah antara 10 dan 15 lokasi untuk menghindari penangkapan serta mempunyai pengamanan sampai 300 orang.

”Dia itu seperti Robin Hood,” kata pejabat DEA tersebut mengenai Chapo. ”Orang-orang di sekitarnya mungkin tidak termotivasi untuk menyerahkan dia.”

Lolosnya Guzman dari penjara di Guadalajara merupakan hal yang sangat memalukan bagi Presiden Meksiko waktu itu, Vicente Fox, dan menimbulkan tuduhan bahwa kartel Sinaloa dilindungi partai Fox, Partai Aksi Rakyat (PAN). Kabar angin itu masih menghantui Presiden Felipe Calderon, pengganti Fox yang juga dari PAN.

Lahir di kota kecil Badariguato di Negara Bagian Sinaloa, Guzman mulai dengan kartel Guadalajara pada tahun 1980-an, yang waktu itu dipimpin Miguel Felix Gallardo, gembong narkoba tertinggi Meksiko.

Setelah Gallardo ditangkap tahun 1989, kelompok itu terpecah. Guzman mengambil alih operasi Sinaloa, menguasai jalur ke Arizona, dan menempur kartel Arellano Felix untuk menguasai kota Tijuana.

Tahun 1993, orang-orang bersenjata yang ada hubungannya dengan geng Arellano Felix mencoba membunuh Guzman di bandara Guadalajara, tetapi menewaskan Kardinal Katolik Juan Jesus Posadas Ocampo, yang membuat rakyat Meksiko marah. Guzman ditangkap beberapa hari kemudian di Guatemala.

Setelah menjalani delapan tahun dari masa hukuman penjara 20 tahun, El Chapo lolos keluar penjara Puente Grande di Guadalajara dalam sebuah truk binatu. Dia konon dibantu direktur penjara itu dan dua puluhan penjaga.

Setelah itulah nama El Chapo mulai menjadi legenda, menyaingi Pablo Escobar, gembong Kolombia yang berkuasa selama 10 tahun sebelum tewas oleh polisi tahun 1993.

Guzman adalah orang pertama yang melanggar perjanjian non-agresi antar kartel-kartel top beberapa tahun lalu untuk mendapatkan rute penyelundupan melalui Negara Bagian Chihuahua dari kartel Juarez.

Upaya-upaya untuk menangkapnya malah memperkuat legendanya. Dia kabarnya menyelenggarakan sebuah pesta perkawinan terbuka dengan pengantin perempuan berusia 18 tahun yang orangtuanya tidak bisa membayar hutang padanya pada 2007 yang dihadiri banyak pejabat dan polisi setempat. Polisi federal yang mau menangkap dia datang terlambat.

Bandar Besar Narkoba Meksiko La Familia Tewas Dalam Serangan

Bandar narkoba terbesar “La Familia” di Meksiko, Nazario Moreno Gonzalez, tewas pada Kamis malam dalam operasi yang dipimpin oleh polisi federal dan tentara di negara bagian barat, Michoacan, ujar pejabat keamanan, Jumat (10/12).

Juru bicara Kabinet Keamanan Nasional, Alejandro Poire mengatakan bahwa Moreno yang terkenal sebagai “El Chayo” atau “Sang Dokter” tewas dalam sebuah serangan gabungan polisi dan tentara.

Serangan itu menewaskan sepuluh orang yang terdiri atas lima petugas polisi federal, tiga warga sipil, dan dua anggota organisasi kriminal itu, ujar dia.

Poire mengatakan bahwa Kabinet Keamanan Nasional akan meningkatkan jumlah polisi dan pasukan militer di kawasan Tierra Caliente, Michoacan.

Dalam sebuah pesan kepada para pewarta di Los Pinos -rumah bagi Presiden Meksiko- Poire mengatakan operasi memberantas “La Familia” akan berlanjut.

“Kami tidak akan menghentikan upaya dalam menjamin dan melindungi keamanan masyarakat” selama penyergapan melawan organisasi kriminal itu, ujar Poire.

Pemimpin lain “La Familia” terdiri Jose de Jesus Mendes atau “El Chango”, Dionisio Loya atau “El Tito” dan Servando Gomez yang dikenal sebagai “La Tuta”. Pihak yang berwenang akan melanjutkan penangkapan mereka dan menawarkan hadiah sejumlah 167.000 dolar AS bagi keterangan keberadaan mereka.

Menurut media setempat, pada 2010 setidaknya 7.500 warga di negara itu tewas, yang menurut pemerintah penyebab kematian paling besar adalah akibat tindakan pembalasan antar kelompok kriminal yang terorganisir.

Kartel Narkoba Meksiko Gunakan Anak Umur 14 Tahun Untuk Penggal Kepala 4 Orang

SEORANG bocah dijaga ketat tiga tentara bersenjata saat dihadapkan dengan wartawan. Tiga tentara itu mengenakan topeng untuk menyembunyikan wajahnya, sedangkan wajah si bocah dibiarkan terbuka. Dilihat dari wajahnya bocah itu seusia anak SMP. Memang usianya baru 14 tahun, tapi dia sudah memenggal leher empat orang dewasa!

Edgar, nama depan bocah lelaki itu – nama belakangnya tidak diungkapkan oleh militer – ditangkap bersama kakak perempuannya yang berumur 19 tahun, saat mereka berada di Bandara Kota Cuernavaca, bagian selatan Meksiko. Mereka hendak melarikan diri dengan pesawat penumpang menuju Kota Tijuana, untuk selanjutnya ke Amerika Serikat.

Saat ditangkap oleh tentara pada Kamis pekan lalu, Edgar membawa dua telepon seluler (ponsel). Dalam ponselnya ditemukan foto-foto korban penyiksaan yang dilakukannya.

“Aku terlibat dalam eksekusi mati terhadap empat orang. Tapi aku melakukannya dalam pengaruh narkotika, dan dibawah ancaman, jika aku tidak melakukan pembunuhan itu mereka akan membunuhku,” begitu pengakuan Edgar, dalam nada tanpa sesal, di depan para wartawan Jumat pekan lalu.

Pengakuan bocah tersebut menunjukkan bahwa geng-geng narkotika Meksiko sudah menggunakan anak-anak di bawah umur dalam kegiatan bisnis brutal mereka. Bocah-bocah yang masih ingusan itu digunakan untuk menggantikan anggota geng dewasa yang tewas atau ditangkap pihak berwajib.

Sejak Presiden Felipe Calderon mencanangkan perang terhadap geng-geng narkotika pada 1996, dengan mengerahkan 50.000 personil militer federal, paling sedikit sudah 30.000 orang tewas. Sebagian besar anggota geng.

Para korban di kalangan geng itu tak hanya tewas karena serangan aparat pemerintah, tapi juga karena perang antargeng. Paling sedikit ada enam sindikat narkotika yang paling besar, yang satu sama lain tidak akur karena berebut daerah kekuasaan, dan pasar.

Menurut pengakuan Edgar, dia diculik saat berumur 11 tahun, dan dipaksa bekerja untuk geng Kartel Pasifik Selatan, yang dipimpin oleh Julio “El Negro” Padilla. Kelompok ini pecahan dari Kartel Beltran Leyva. Dua geng ini bentrok untuk berebut pengaruh di Provinsi Morelos.

Saling bunuh antaranggota dua geng itu menyebabkan jumlah tindak kekerasan bersenjata meningkat tajam di provinsi tersebut, dan provinsi yang berdekatan, Guerrero. Tiap hari ditemukan paling sedikit lima tubuh dengan luka bekas penyiksaan, termasuk kepala terpenggal.

Dalam perang itulah Edgar berpartisipasi. Dia mengaku paling sedikit memenggal kepala empat orang.

Edgar diduga adalah bocah yang dijuluki El Ponchis. Nama julukan ini tersebar setelah muncul sebuah rekaman video di situs YouTube yang mempertontonkan beberapa bocah remaja bersenjata berada di dekat onggokan beberapa mayat orang dewasa yang baru saja mati mereka siksa. Salah satu bocah dalam rekaman itu, yang dirilis bulan lalu, mengaku bahwa mereka adalah kawan El Ponchis.

Sedangkan identitas fisik El Ponchis yang muncul di YouTube dan di situs-situs internet lainnya, selalu dengan wajah tertutup. Namun, sebagian ciri wajah dan kepala yang terlihat menunjukkan kemiripan dengan Edgar. Pihak militer maupun polisi tidak mau mengkonfirmasi apakah El Ponchis adalah Edgar.

Dalam rekaman video tersebut, si bocah mengaku bahwa mereka dibayar sekitar Rp27 juta untuk satu nyawa musuh yang mereka cabut. “Jika kami tak menemukan musuh, ya kami bunuh sembarang orang saja. Mungkin dia pekerja bangunan atau sopir taksi,” kata bocah itu.

Fakta bahwa bocah-bocah itu dilibatkan dalam geng-geng tergambar dari hasil tangkapan aparat keamanan. Saat dilakukan operasi pemberantasan geng narkotika pada 2006, aparat keamanan menangkap 482 bocah di bawah umur yang terlibat dalam tindak kekerasan terkait narkotika. Jumlah tersebut meningkat menjadi 810 orang pada 2009. Dan pada delapan bulan pertama tahun ini saja sudah 562 bocah ditangkap.

Geng-geng narkotika itu merekrut bocah untuk menjadi kaki tangan mereka karena anak-anak di bawah umur mudah diintimidasi, dan diarahkan. Alasan lain, masa hukuman badan terhadap anak-anak cuma sebentar. Karena, hukum di Meksiko menerapkan peradilan anak, dan anak di bawah umur yang menjadi narapidana akan dibebaskan setelah umurnya 18 tahun.

Jadi, jika Edgar yang kini berumur 14 tahun diadili dan diperjarakan atas kesalahan membunuh empat orang, maka dia hanya akan menjalani masa hukuman badan selama empat tahun saja.

Alemao Dikuasai, Perang “Favela” Belum Selesai

Badan-badan penegak hukum Brasil, Senin (29/11), merayakan kemenangan setelah sebuah penggerebekan antinarkoba ke sebuah kompleks permukiman kumuh atau favela di Rio de Janeiro. Namun, seorang pejabat negara bagian memperingatkan bahwa ”sebuah pertempuran dimenangi, tetapi perangnya belum”.

Menjelang peran Rio menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016, sejumlah 2.600 anggota pasukan para, marinir, dan polisi elite didukung helikopter dan kendaraan lapis baja melakukan sebuah serangan Minggu dini hari ke kubu geng narkoba di favela Grota, berpenduduk 400.000 jiwa.

Grota hanyalah satu dari 15 permukiman kumuh yang membentuk Complexo do Alemao, sebuah kompleks favela yang luas di Rio utara.

Pihak kepolisian menyatakan telah menyita 40 ton ganja, yang dibungkus siap untuk pengiriman, dari beberapa rumah di Grota. Polisi membentuk sebuah rantai manusia yang panjang, mengular ke bawah sepanjang jalan-jalan yang curam, meneruskan bungkusan narkoba itu sampai ke truk-truk yang telah menanti di jalan utama di bawah.

Akan terus mengusir

Sejumlah 200 kilogram kokain juga disita di daerah itu, kata media.

Direktur Keamanan Publik Negara Bagian Rio de Janeiro Jose Beltrame, Minggu, mengatakan bahwa setelah Complexo do Alemao, pasukan keamanan akan terus mengusir para penjahat dari favela-favela lain di sekitar kota.

”Kami akan bergerak ke Rocinha dan Vidigal (favela besar di bagian selatan kota yang mempunyai penduduk lebih dari 150.000 jiwa). Kami telah memenangi sebuah pertempuran, tetapi belum memenangi perangnya terhadap para pedagang narkoba Rio,” katanya.

 

Operasi “Favela” Perang Lawan Narkoba

Setelah persiapan beberapa hari, polisi Rio didukung helikopter dan kendaraan-kendaraan lapis baja pada Minggu (28/11) dini hari melancarkan penggerebekan ke sebuah kompleks permukiman kumuh atau favela di mana antara 500 dan 600 pedagang narkoba bertahan.

Petugas-petugas dari unit elite polisi mulai memasuki Kompleks Alemao, dengan tayangan TV memperlihatkan helikopter-helikopter polisi dan militer terbang rendah untuk memberikan dukungan kepada petugas di darat, sementara ratusan anggota geng narkoba mencoba mempertahankan posisi mereka.

Operasi ini terjadi setelah sepekan kekerasan meluas di Rio, dengan lebih dari 100 mobil dan bus dibakar dan sedikitnya 35 orang tewas, sebagian besar tersangka anggota geng narkoba.

Ratusan tentara di kendaraan-kendaraan lapis baja juga ditempatkan untuk mendukung operasi ini, yang dipandang sebagai sebuah langkah kunci dalam kampanye untuk mengusir para penjahat keluar dari favela di mana mereka sejak lama berkuasa tanpa dapat disentuh tangan hukum.

Polisi dan pasukan bergerak memasuki favela itu didukung kendaraan-kendaraan lapis baja, sementara warga menyaksikan dari jendela di permukiman kumuh sepanjang bukit-bukit curam itu.

Ratusan tentara berseragam loreng dan polisi elite serta reguler telah mengepung Alemao, berlindung di belakang kendaraan-kendaraan lapis baja. Tembak-menembak terjadi antara mereka dan para anggota geng narkoba di banyak jalan dari 44 jalan masuk ke favela itu.

Lebih dari 1.000 polisi dan tentara disiapkan untuk menyerbu kompleks permukiman kumuh, sementara sekitar 600 anggota geng narkoba bertahan. Pihak berwenang mengatakan, penggerebekan itu tak terhindarkan kalau para anggota geng tidak menyerahkan diri.

Pihak berwenang berusaha menerapkan keamanan dan ketertiban di favela yang jumlahnya ratusan di Rio de Janeiro sebelum Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016.

Tidak mudah menguasai Kompleks Alemao, yang menjadi tempat tinggal 400.000 orang di lereng bukit curam dengan banyak jalan buntu.

Hari Kamis, polisi menduduki favela Vila Cruzeiro, mengusir para anggota geng. Polisi yang dibantu tentara sejak Kamis itu bersiap untuk menggerebek Alemao, tempat para anggota geng bertahan

 

Polisi Brazil Perang Lawan Geng Narkoba

Rio de Janeiro, Jumat - Kendaraan-kendaraan lapis baja militer membawa polisi memasuki jantung sebuah kubu geng, Kamis (25/11), hari kelima polisi menempur geng-geng narkoba yang bermarkas di permukiman- permukiman kumuh Rio de Janeiro, Brasil.

Liputan langsung televisi memperlihatkan polisi yang bersenjata berat tembak-menembak dengan tersangka pedagang narkoba di permukiman-permukiman kumuh berbukit-bukit di pinggiran kota.

Pihak berwenang tidak mengatakan apakah polisi akan segera memasuki permukiman-permukiman kumuh atau favela itu, tetapi mengatakan polisi federal akan bergabung dalam operasi itu hari Jumat untuk membantu mempertahankan wilayah yang telah direbut dari geng-geng narkoba itu.

Polisi menargetkan favela Vila Cruzeiro di bagian utara kota, yang dianggap sebagai kubu sebuah geng yang diperkirakan ada di belakang perintah kekerasan sejak hari Minggu.

Sedikitnya 10 kendaraan lapis baja Marinir, yang sebelumnya tidak pernah dipakai dalam pertempuran di favela, membawa polisi ke dalam Vila Cruzeiro hari Kamis, bahkan saat para anggota geng mendirikan rintangan.

Sedikitnya 350 petugas polisi dari unit polisi elite Rio dan polisi reguler dibawa ke puncak favela itu dengan kendaraan-kendaraan lapis baja yang dipinjam dari AL negara itu.

Menjelang siang, tayangan langsung televisi dari udara memperlihatkan puluhan gengster yang bersenjata berat melarikan diri dari permukiman kumuh itu ke kawasan hutan dan kemudian dengan tenang berjalan ke Alemao, kompleks belasan permukiman kumuh, yang tak jauh dari situ.

Polisi sejak lama menyebut Alemao satu dari dua kawasan terkuat yang ditargetkan dalam program polisi dua tahun yang telah membuat polisi memasuki 13 favela dan mengusir geng-geng narkoba yang telah menguasai penuh daerah itu selama puluhan tahun.

Pejabat-pejabat keamanan menolak mengatakan apakah mereka akan memasuki Alemao hari Jumat—atau apakah mereka akan menanti untuk memasuki kawasan itu kemudian dalam waktu enam bulan mendatang, seperti telah direncanakan sebelumnya.

Penggerebekan pada geng-geng narkoba itu merupakan jawaban pada kekerasan yang meluas yang diduga dilakukan para penjahat itu sejak Minggu. Lebih dari 40 bus dan mobil telah dibakar di jalan-jalan besar, pengendara-pengendara dirampok, dan pos-pos polisi di pinggiran ditembaki di kota yang akan menjadi tuan rumah pertandingan final Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016 itu.

Sedikitnya 30 orang telah tewas dalam kekerasan pekan ini, antara lain seorang remaja putri 14 tahun karena peluru nyasar. Sejak Minggu malam, pihak berwajib telah menangkap lebih dari 150 orang dalam razia di hampir 30 favela di bagian utara dan barat Rio.

Menurut para pejabat, masuknya polisi hari Kamis ke permukiman kumuh Vila Cruzeiro menyebabkan sedikitnya delapan orang tewas dan seorang polisi cedera.

 

Kapal Iran Membawa Heroin Ke Nigeria

Agen-agen Nigeria telah menyita sekitar 130 kilogram heroin pada sebuah kapal dari Iran yang baru berlabuh di pelabuhan utama di Lagos. Juru bicara Bea dan Cukai Nigeria di Lagos, Wale Adniyi, pada hari Jumat (19/11) mengatakan, barang haram itu diangkut dengan menggunakan sebuah kapal laut, yakni MV Montenegero.

Meski demikian, Adniyi menolak memberikan penjelasan lebih rinci mengenai siapa pengirim dan tujuannya ke mana. ”Sejauh ini ada 10 bungkus yang masing-masing seberat 11,2 kg. Sisanya tersimpan dalam bungkusan yang lebih kecil lagi, masing-masing seberat 1,2 kg. Setelah diuji, semuanya positif heroin,” katanya.

Dia menjelaskan, paket heroin itu disita dari kapal MV Montenegero pada hari Kamis. Paket barang terlarang tersebut, menurut manifes barang, berisi bahan bangunan. Karena curiga, petugas pelabuhan dan aparat terkait kemudian membongkar salah satu paket hingga akhirnya diketahui bahwa isi barang tidak sesui dengan manifesnya.

Badan Antinarkotika dan Obat-obat Berbahaya Nigeria kemudian memastikan bahwa barang yang disita itu adalah heroin. Dalam sebuah pernyataannya, badan narkotika menjelaskan, ”hasil temuan itu berisi 130 kg konsentrat heroin dan tersimpan dalam sebuah kontainer berasal dari Iran”.

Adniyi juga menjelaskan, aparat Nigeria dapat membongkar kasus penyelundupan heroin tersebut berkat kerja sama antara lembaga intelijen dalam negeri dan badan asing. ”Laporan intelijen atas konsinyasi barang tersebut sudah diterima empat bulan lalu dari sebuah lembaga kerja sama luar negeri. Lembaga itu juga sudah memantaunya secara saksama sejak awal sebelum akhirnya barang itu tiba di sini.”

Adniyi juga mengatakan, selain menyita 130 kg heroin tersebut, petugas juga sudah menahan kapal dan awaknya. Petugas sedang meminta keterangan dari para awak tentang asal dan tujuan barang. Meski demikian, ia belum memberikan penjelasan lebih detail tentang hasil pemeriksaan yang sedang berjalan tersebut.

Nigeria pada bulan lalu juga mencegah pengiriman senjata ilegal yang mencakup roket dan granat di pelabuhan Lagos yang juga dimuat dari Iran. Hubungan antarkedua negara mengalami sedikit kesulitan menyusul insiden itu. Pekan ini Nigeria telah melaporkan Iran kepada Dewan Keamanan PBB karena berusaha mengirim senjata, yang berisi roket artileri, mortir, dan amunisi tersebut.

Kartel Obat Bius Meksiko Membangun Terowongan Bawah Tanah Yang Dilengkapi Kereta Api Untuk Menyelundupkan Narkotika Ke Amerika Serikat

POLISI perbatasan Amerika Serikat telah menemukan sebuah terowongan canggih penyelundup seluas enam kali lapangan sepakbola yang menghubungkan California Selatan dengan Meksiko dan dipercaya telah digunakan oleh para pedagang obat bius.

Badan Perlindungan Pabean dan Perbatasan AS mengatakan, Rabu (3/11), terowongan itu menghubungkan gudang-gudang di Otay Mesa, California, dan Tijuana, Meksiko. Terowongan itu berukuran 1.800 kaki (550 meter) dan diperlengkapi dengan sistem kereta api, pencahayaan dan ventilasi.

Para agen juga menemukan lebih dari 20 ton ganja dalam pencarian terowongan itu semalam, kata patroli perbatasan tersebut dalam keterangan pers.

Kartel-kartel narkoba Meksiko telah membor sejumlah terowongan di bawah perbatasan AS-Meksiko untuk mengalahkan keamanan yang meningkat antara lain di pelabuhan masuk dan temat-tempat yang sulit.

Hampir semua tempat itu menghubungkan kota-kota di sisi perbatasan Meksiko dengan California dan Arizona.

Pada awal 2006, agen-agen menemukan terowongan berukuran 2.400 kaki (731 meter) yang membentang di bawah jalur perbatasan yang sama ke Otay Mesa dari Tijuana. Terowongan itu tetap yang terluas yang pernah ditemukan hingga saat itu.

Tijuana adalah jalan masuk utama bagi obat bius ke California dari Meksiko. Bulan lalu pemerintah setempat telah menyita lebih dari 100 ton ganja bernilai lebih dari 340 juta dolar dalam tangkapan terbesar Meksiko sampai waktu itu