Monthly Archives: November 2010

Korea Utara Klaim Miliki Ribuan Alat Pembuat Bom Nuklir

Korea Utara mengatakan mereka memiliki ribuan sentrifugal nuklir di fasilitas yang baru diumumkan ke masyarakat internasional bulan ini.

“Untuk tahap ini kami sedang membangun reaktor air dan untuk memenuhi permintaan, kami mengoperasikan sistem pengayaan uranium modern,” kata pejabat Korut seperti dikutip kantor berita Korut, KCNA, Selasa (30/11).

“Kami memiliki ribuan sentrifugal,” tambahnya.

Belum diketahui apakah sentrifugal ini bisa dimanfaatkan untuk membuat senjata nuklir.

Ilmuwan Amerika Serikat, Siegfried Hecker, telah berkunjung ke fasilitas nuklir Korut tersebut namun tidak bisa memastikan apakah fasilitas bisa beroperasi.

Dia hanya menyebut bahwa berbagai peralatan nuklir di dekat ibukota Pyongyang tersebut luar biasa.

Pyongyang mengatakan reaktor tersebut bisa dioperasikan sepenuhnya pada 2012 dan dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.

Pemerintah Korea Utara memastikan bahwa sentrifugal bisa digunakan untuk melakukan pengayaan uranium.

Klaim Pyongyang dikeluarkan ketika ketegangan di Semenanjung Korea masih tinggi menyusul serangan artileri Korut ke Pulau Yeonpyong sepekan silam, menewaskan empat orang.

Klaim ini besar kemungkinan juga akan semakin membuat Korsel khawatir. Pyongyang mengatakan serangan ini merupakan balasan atas latihan militer Korea Selatan dan Amerika Serikat di dekat Pulau Yeonpyong yang diserang.

Korut menggambarkan latihan militer gabungan Korsel-Amerika Serikat di Laut Kuning, yang tengah berlangsung di dekat garis perbataan yang disengketakan, sebagai tindakan provokatif.

Dalam latihan militer selama empat hari mulai Minggu lalu itu, Korsel dan AS mengerahkan berbagai peralatan perang termasuk kapal induk USS George Washington.

Raja Arab Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab Meminta Amerika Serikat Serang Iran Yang Mereka Sebut Jahat

Situs web online peniup peluit (whistle-blower) WikiLeaks mulai menerbitkan lebih dari 250.000 dokumen diplomatik dari kedutaan-kedutaan besar AS di seluruh dunia, Minggu (28/11/2010), yang mengundang kecaman tajam Gedung Putih dan para pemimpin Kongres AS. Dari ribuan dokumen yang dibocorkan, antara lain, tentang raja Arab Saudi yang secara pribadi mendesak Amerika Serikat untuk menyerang Iran demi menghancurkan program senjata nuklir negera republik Islam itu.

WikiLeaks, yang mengatakan server-nya mengalami serangan elektronik pada Minggu sore, mengatakan, dokumen-dokumen tersebut merupakan pengungkapan terbesar yang pernah ada tentang informasi rahasia dan memberikan kepada dunia wawasan yang belum pernah punya preseden tentang kegiatan luar negeri Pemerintah Amerika Serikat. “Dokumen-dokumen itu menunjukkan, AS memata-matai sekutu-sekutunya dan PBB; menutup mata terhadap korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia di ‘negara-negara yang menjadi klien'; mengadakan perjanjian rahasia dengan negara-negara yang seharusnya menjadi negara netral; dan melobi untuk kegiatan perusahaan-perusahaan AS,” kata pemimpin redaksi dan juru bicara WikiLeaks, Julian Assange, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Minggu malam, sebagaimana dikutip CNN.

“Pembeberan dokumen ini mengungkapkan kontradiksi antara persona publik AS dan apa yang dikatakannya di balik pintu tertutup, dan menunjukkan bahwa warga suatu negara demokrasi ingin pemerintah mereka bisa mencerminkan keinginan mereka, mereka meminta untuk melihat apa yang terjadi di balik layar.”

Namun, Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs mengecam pembeberan dokumen itu. “Penerbitan dokumen-dokumen tersebut akan membahayakan para diplomat kami, para intelijen profesional dan orang-orang dari seluruh dunia yang datang ke Amerika Serikat untuk upaya mempromosikan demokrasi dan pemerintahan yang terbuka. Dengan membeberkan dokumen-dokumen yang dicuri dan dirahasiakan, WikiLeaks telah menempatkan dalam bahaya tidak hanya hak asasi manusia, tetapi juga kehidupan dan pekerjaan orang-orang ini,” kata Gibbs. “Kami mengutuk keras pengungkapan yang tidak sah dari dokumen-dokumen rahasia dan informasi keamanan nasional yang sensitif.”

Bocoran dari WikiLeaks menyebutkan, pemimpin Arab Saudi sering mendesak AS untuk menyerang Iran demi mengakhiri program senjata nuklir Iran. Bocoran itu mengungkapkan, Raja Arab Saudi, Abdullah, meminta kepada Amerika untuk “memotong kepala ular itu (Iran)” pada sebuah pertemuan tahun 2008. Bocoran itu juga mengungkapkan bagaimana para pemimpin di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir menyebut Iran “jahat” dan sebuah kekuasaan yang “akan membawa kami ke dalam perang”.

Bocoran itu, sebagaimana dilansir Telegraph.co.uk, juga mengungkap tindakan para pejabat Amerika yang memata-matai kepemimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon. Dalam dokumen-dokumen itu, diplomat Amerika juga membandingkan Presiden Iran Ahmadinejad dengan Adolf Hitler dan melabel Presiden Perancis Nicolas Sarkozy sebagai “kaisar tanpa busana”. Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin disebut sebagai seekor “anjing alpha”. Presiden Afganistan Hamid Karzai sebagai orang “yang didorong oleh paranoia”.

Antara Singapura dan Indonesia dan Pertanian

Kalimat itu terpampang di lobi Gedung DuPont Agriculture and Nutrition Platform di Johnston, Des Moines, Iowa, Amerika Serikat. Di sanalah inovasi bidang pertanian dan produk pangan perusahaan multinasional DuPont ditekuni dan menghasilkan. Salah satu produknya di Indonesia adalah benih jagung hibrida, Pioneer.

Pioneer banyak ditanam petani jagung, khususnya di bagian Provinsi Jawa Timur. Sekadar menyebut, di antaranya di Kabupaten Ngawi, Nganjuk, Madiun, dan Kediri.

DuPont, perusahaan rintisan keluarga imigran Perancis sejak tahun 1803 itu, terus berupaya mengukuhkan dirinya sebagai perusahaan berbasis riset dan inovasi. Mereka memiliki 28.000 peneliti dan staf di puluhan laboratorium di puluhan negara. Sebanyak 2.000 di antaranya (500 di antaranya bergelar PhD) bekerja di DuPont Experimental Station di Wilmington, Delaware. Di sanalah serat superkuat Kevlar dikembangkan.

Perjalanan kultur riset DuPont sangat panjang. DuPont Experimental Station berdiri tahun 1903, yang termasuk salah satu laboratorium penelitian industrial paling awal di Amerika. Di sana, hingga saat ini dikembangkan penelitian berbasis ilmu fisika dan kimia, termasuk biomaterial. Tahun 2008, dibangun DuPont Innovation Center: tempat penelitian, pengembangan, dan penerapan berbagai produk biosains dengan hasil produk-produk yang diklaim ramah lingkungan.

Memantapkan jejak sebagai perusahaan berbasis penelitian, DuPont menganggarkan dana 1,4 miliar dollar AS (hampir Rp 12 triliun) untuk pengembangan riset pada tahun 2009. Tahun 2010, sejumlah fasilitas penelitian dibangun di sejumlah negara, salah satunya laboratorium photovoltaic (PV) di Swiss.

Sebagai gambaran fokus riset mereka, tahun 2009 DuPont meluncurkan 1.400 produk dan mencatatkan 2.086 paten. Adapun 39 persen (sekitar 10 miliar dollar AS) dari total pendapatan berasal dari penjualan produk yang mereka luncurkan tahun 2005-2009.

”Sebanyak 75 persen dana penelitian dan pengembangan tahun 2009 kami gunakan menjawab tantangan megatren,” kata Ketua sekaligus CEO DuPont Ellen Kulman pada DuPont Global Media Briefing di Iowa, September lalu. Pernyataan itu sekaligus menegaskan arah DuPont sebagai perusahaan berbasis riset.

Megatren yang dimaksud mengarah pada kebutuhan pangan dunia yang tumbuh minimal dua kali lipat pada tahun 2050 mendatang. Tahun itu, jumlah penduduk dunia diperkirakan 9 miliar. Untuk itu, DuPont terus mengembangkan benih jagung dan kedelai hibrida, yang ditargetkan mendominasi pasar global. Mereka juga sedang mengembangkan benih padi hibrida di Filipina.

Teknologi berikutnya yang dikembangkan adalah menjawab tantangan mengurangi ketergantungan dunia pada energi berbahan fosil. DuPont saat ini, di antaranya mengembangkan teknologi sel surya, biofuel, hingga material konstruksi berbahan khusus.

Mereka juga terus menyempurnakan serat kain kuat Kevlar dan Nomex, yang melindungi individu dari tindak kriminalitas yang akan meningkat seiring tekanan sosial dan ekonomi yang tinggi. Mereka juga mengembangkan Tyvek, material khusus yang di antaranya diaplikasikan untuk jaket pelindung dari bahan-bahan kimia berbahaya.

Menurut Kulman, yang Oktober ini dinobatkan Fortune pada urutan ke-7 perempuan paling berpengaruh di dunia bisnis, riset-riset yang mereka kembangkan disesuaikan kebutuhan penduduk dunia. Dengan kata lain, mendengarkan keinginan pasar, dikembangkan di laboratorium, lalu dikembalikan ke pasar. ”Itu yang kami sebut market driven R and D,” kata dia. Sekadar menyebut contoh, hadirlah material khusus yang disebut Nomex on demand, sebuah serat pintar yang bisa mengerut atau mengembang menyesuaikan kondisi suhu. Serat ini bisa diaplikasikan seperti kaus atau semacam kaus kaki (stocking). Ada pula Kevlar PX, serat superkuat jenis baru yang dapat melindungi tubuh dari trauma terjangan peluru, hanya dengan rompi lima lapis kain dengan berat kurang dari 5 kilogram.

Ekonomi riset

DuPont paham betul bahwa riset berkelas sangat mahal, tetapi menguntungkan.

Dari segi pemasaran, pendapatan global mereka tahun 2009 sebesar 26,1 miliar dollar AS, yang banyak disumbang dari sektor pertanian dan nutrisi (8,3 miliar dollar AS) dan kimia (5 miliar dollar AS).

Pemasukan itu diproyeksikan meningkat hingga dua digit seiring pulihnya perekonomian dunia dari krisis global. ”Kondisi keuangan perusahaan kami saat ini sangat baik,” kata Executive Vice President and Chief Financial Officer Nick Fanandakis.

Nick menegaskan, penelitian dan pengembangan yang menjadi napas perusahaan diarahkan pada sektor-sektor yang menjanjikan kembali modal. Namun, tetap ada persentase penelitian jangka panjang.

Dengan kata lain, riset dan hasil riset berupa keuntungan bisnis akan terus mengalir dari waktu ke waktu. Di bidang riset pangan, DuPont sedang mengembangkan benih jagung tahan kekeringan ekstrem. Setidaknya, ada dua jenis benih yang dikembangkan, yang salah satunya akan diluncurkan tahun 2011 untuk pasar Amerika Serikat saja.

Di tengah perkembangan dunia yang sudah diprediksikan, DuPont memosisikan diri. Sejumlah negara, seperti Singapura, juga mengantisipasinya dengan menganggarkan 16 miliar dollar AS bagi pendanaan riset dan inovasi untuk lima tahun mendatang.

Langkah itu merefleksikan cara pandang Singapura terhadap pentingnya riset dan pengembangan teknologi bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Sementara Indonesia, dengan sumber daya peneliti dan sumber daya alam yang melimpah ruah, masih saja terus-menerus terjebak pada persoalan jangka pendek, seperti persoalan politik yang jauh dari mencerdaskan, apalagi menyejahterakan.

 

Pengatur Kecepatan di Arena Balap

Bukan karena MotoGP merupakan olahraga yang berbahaya dan memiliki risiko kematian bagi pebalapnya yang membuat perusahaan asuransi asal Italia, Generali, tertarik menjadi salah satu sponsor salah satu tim.

Risiko bahaya di ajang MotoGP bukan hanya sekadar peringatan belaka. Tahun ini saja pebalap asal Jepang yang turun di kelas Moto2 atau satu level di bawah MotoGP, Shoya Tomizawa, tewas karena kecelakaan di Sirkuit Monza, Italia.

Sebelum Shoya, Jepang juga pernah kehilangan pebalapnya di arena balapan, Doijiro Kato. Malangnya, mantan juara dunia tahun 2002 di ajang GP 250 cc (sekarang kelasnya berganti menjadi Moto2) itu harus meninggal di depan publiknya sendiri, Sirkuit Suzuka, Jepang, tahun 2003.

Assistant Manager Corporate Communications Generali Asia Sabrina Di Giorgio sembari tersenyum mengatakan, meski perusahaannya banyak bergerak di bidang asuransi jiwa, bukan karena risiko yang sangat berbahaya dari arena balapan yang membuat Generali memutuskan untuk mensponsori tim Ducati di ajang MotoGP. Bahkan, menurut Sabrina, tak satu pun pebalap Ducati dan anggota kru mereka di paddock yang secara resmi terlindungi program asuransi Generali karena urusan kerja sama sponsorship ini.

Kerja sama

Kerja sama antara Generali dan Ducati, kata Sabrina, lebih karena kedua perusahaan ini memiliki perjalanan panjang sebagai salah satu brand Italia yang terkenal di seluruh dunia. Generali berdiri pertama kali sebagai perusahaan asuransi di Trieste, timur laut Italia tahun 1831, sementara Ducati didirikan oleh tiga bersaudara Ducati, Bruno, Adriano, dan Marcello, di Bologna tahun 1926.

”Pilihan mensponsori Ducati di ajang MotoGP ini lebih karena baik Generali maupun Ducati merupakan brand Italia yang terkenal di seluruh dunia. Kami juga memiliki sejarah yang panjang. Bahkan, Generali sudah didirikan sebelum Italia resmi berdiri sebagai negara republik tahun 1861,” kata Sabrina saat menemani jurnalis dari Indonesia menonton balapan MotoGP di Sirkuit Sepang, Malaysia, Minggu (10/10).

Generali memang belum lama menjadi sponsor Ducati di ajang MotoGP. Secara resmi Generali menjadi sponsor bagi tim Ducati sejak tahun 2009, atau setahun sejak Ducati mematahkan dominasi pabrikan Jepang, Yamaha dan Suzuki, di ajang MotoGP. Tahun 2008 pebalap Australia, Casey Stoner, menjadi juara dunia MotoGP dengan mengendarai Ducati.

”Sejarah panjang, tradisi besar brand Italia di dunia membuat kami memilih mensponsori tim Ducati di MotoGP. Selain tentu saja Generali dan Ducati juga perusahaan yang penuh inovasi,” kata Sabrina sembari menuturkan, sejak tahun 1831, Generali beroperasi di 68 negara, dengan 70 juta klien dan total premi mencapai 70,5 miliar euro.

Chief Executive Officer Generali Giovanni Perissinotto mengakui, kerja sama dengan Ducati di ajang MotoGP bagi perusahaannya merupakan langkah yang tepat mengembangkan pangsa pasar internasional lebih luas lagi. ”Kerja sama ini membawa kami bersama-sama sebagai dua perusahaan utama Italia, yang selama bertahun-tahun telah menunjukkan kapasitas dalam berinovasi dan sukses sebagai pemain internasional,” kata Giovanni.

Tak kalah bersemangatnya Chief Executive Officer Ducati Gabriele Del Torchio yang menilai kerja sama sponsorship di antara dua perusahaan global ini, sebagai perjanjian yang membawa nilai-nilai besar dari dua merek Italia, yang sekaligus bisa mempromosikan ”made in Italia” ke seluruh dunia.

Langkah sebuah perusahaan Eropa, apa pun jenisnya, untuk mensponsori sebuah tim balapan MotoGP, kata Sabrina, merupakan hal yang tepat. Ini disebabkan citra MotoGP sebagai olahraga yang penuh risiko dan digemari banyak orang di Eropa. ”Selain sepak bola dan Formula 1, MotoGP adalah olahraga yang sangat terkenal bagi orang Eropa,” ujarnya. ”Lebih-lebih karena siaran televisi di ajang balapan MotoGP menjangkau pemirsa seluruh dunia”.

Sebagai pemain yang lama berkecimpung di Eropa, perusahaan asuransi seperti Generali, diakui Sabrina, memang belum banyak dikenal di Asia. Meski menjadi salah satu perusahaan asuransi jiwa terbesar di Eropa, di Asia, Generali baru beroperasi di delapan negara, China, India, Thailand, Filipina, Jepang, Uni Emirat Arab, Hongkong, dan Indonesia. Generali masuk ke Asia tahun 2002 sebagai penyedia asuransi jiwa bagi perusahaan minyak nasional China.

Masuk Indonesia

Di Indonesia, Generali resmi masuk pada Agustus 2009. Menurut Chief Executive Officer PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia Edy Tuhirman, meski baru sebagai pemain asuransi di Indonesia, Generali cukup percaya diri mengingat rekam jejak mereka di Eropa. ”Banyak perusahaan global yang beroperasi di Indonesia menjadi klien kami. Saat ini ada sekitar 150 perusahaan yang menjadi klien kami,” ujar Edy.

Edy mengakui, sebagai perusahaan yang cukup mengakar lama di Eropa, Generali cukup konservatif. Untuk itu, dia tak terlalu khawatir dengan langkah progresif perusahaan asuransi di Indonesia dalam mencari klien. Edy mencontohkan, saat tren bankasurrance dalam bentuk asuransi unit link atau produk asuransi jiwa yang sekaligus menawarkan investasi kepada pemegang polis ditawarkan di banyak bank nasional, Generali malah memilih bank asing, seperti Bank Development Bank of Singapore (DBS).

”Kami memang sengaja menyasar klien menengah ke atas. Investor Indonesia itu selalu melihat perilaku investor yang ada di atas mereka. Jadi, kalau kalangan menengah pasti melihat apa yang dilakukan investor kalangan atas. Dengan sengaja menyasar yang ada di atas, kami berharap perilaku investor kalangan atas ini bakal ditiru oleh mereka yang ada di segmen menengah ke bawah,” katanya.

Seperti dalam balapan, untuk menjaga risiko, produk unit link Generali juga mengambil pilihan konservatif yang membatasi nafsu kliennya mendapatkan untung sebesar mungkin. Edy mengungkapkan, sifat serakah investor bisa berakibat fatal.

Untuk itu, produk link Generali, kata dia, membatasi keuntungan dan kerugian pada persentase tertentu. Ini yang disebut Edy sebagai instrumen cruise control atau pengatur kecepatan. Seperti dalam balapan, cruise control memudahkan pebalap, kapan saatnya harus menginjak gas dan kapan saatnya mengerem.

Edy mengaku punya pengalaman pahit sebagai investor pasar modal yang harus kehilangan banyak saat pasar dilanda gejolak seperti tahun 2008 lalu. ”Dengan cruise control, investor dibatasi. Saat profit sudah mencapai 25 persen, dia harus jual. Kalaupun rugi, ketika level kerugian mencapai 5 persen, kami akan alihkan ke instrumen lain, seperti pasar uang. Ini seperti sell high, buy low,” kata Edy.

Menurut dia, sangat mungkin baru Generali perusahaan asuransi jiwa yang menawarkan produk link dengan instrumen cruise control seperti ini. Klien, nasabah pemegang polis, atau investor tetap diberi tahu hari per hari kemajuan dana yang mereka setorkan. Edy cukup percaya diri bahwa instrumen cruise control ini tetap menarik meski keuntungan klien dibatasi pada persentase tertentu.

Edy mengungkapkan, konservatisme di Generali tidak selamanya kaku. Konservatisme telah membuat Generali melalui perjalanan panjang, lebih tua dari usia negara tempat mereka lahir. ”Tetapi, dengan inovasi seperti instrumen cruise control ini, kami percaya bisa beroperasi lebih lama. Lihat saja betapa pemain besar di Amerika Serikat begitu mudah kolaps hanya dengan satu gejolak. Makanya, inovasi seperti instrumen cruise control ini, karena unik, kami mematenkannya,” kata Edy.

Seperti halnya balapan MotoGP yang penuh risiko dan berbahaya, investasi pun demikian adanya.

”Percayalah, bagi orang yang pernah jatuh dalam permainan investasi seperti saya, instrumen cruise control ini penting. Coba Anda tanya ke Valentino Rossi yang sudah pernah jatuh di lintasan balap, maukah dia mengendarai sepeda motor yang tak ada remnya. Sehebat apa pun cara Rossi membalap, saya yakin dia pasti tak mau mengendarai sepeda motor tanpa rem,” kata Edy.

 

Jagung Setara Dengan Logam Mulia

Bagi DuPont, jagung adalah produk pertanian berharga layaknya logam mulia. Mereka memperlakukannya istimewa. Teknologi robot berharga jutaan dollar AS diadopsi, mulai dari tahap penyeleksian benih hingga laboratorium lapangan.

Para peneliti lulusan perguruan-perguruan tinggi berkelas direkrut untuk bekerja pada rantai proses penelitian. Di sana, mereka menerapkan pengetahuan bioteknologi yang terus berkembang demi produk benih jagung berkualitas. Sejauh ini, jagung hibrida masih menjadi andalan atas nama produktivitas, selain kedelai.

Produktivitas benih tanaman pangan menjadi kata kunci. Alasannya, penduduk dunia akan bertambah menjadi 9 miliar pada tahun 2050. Sementara luas lahan pertanian tak akan pernah bertambah, kecuali membuka hutan. Namun, itu jelas-jelas bertentangan dengan upaya mencegah laju perubahan iklim.

Di tengah kondisi semacam itu, ilmu pengetahuan diharapkan menjadi jembatan. ”Bioteknologi menjadi sangat penting meskipun bukan jawaban semua persoalan,” kata Executive Vice President DuPont James Borel. Sejauh ini, DuPont mengklaim bahwa mereka tidak menjual produk rekayasa genetika yang membahayakan manusia dan lingkungan.

Di laboratorium Pioneer di Johnston, Iowa, para peneliti DuPont sedang dan terus mengembangkan jagung produktif tahan kekeringan ekstrem: Drought Tolerance I. Produk tersebut rencananya hanya akan diluncurkan di AS tahun 2011. AS merupakan salah satu konsumen jagung terbesar di dunia.

Kekeringan menjadi isu besar karena salah satu dampak perubahan iklim adalah minimnya suplai air. ”Kekeringan dapat mengurangi 50 persen potensi panen, setelah empat hari saja,” kata Drought Program Pioneer Dave Warner. Di AS, 85 persen lahan jagung terdampak kurang air, yang dapat mengancam industri dan ketahanan pangan AS.

Adapun dampak global kekeringan di bidang pertanian jagung menyebabkan kerugian 13 miliar dollar AS. ”Jadi, Anda tahu betapa pentingnya penelitian kami,” kata Dave di rumah kaca penelitian jagung Pioneer.

Setelah Drought Tolerance I, DuPont menargetkan meluncurkan benih jagung Drought Tolerance II (pada tahap penelitian fase II). Produk itu disebut-sebut justru lebih produktif apabila ditanam di lahan kering. Tidak di lahan basah.

Kepada para wartawan yang diundang mengunjungi laboratorium penelitian DuPont, DuPont menegaskan bahwa pengembangan riset berbasis kebutuhan riil dunia menjadi fokus mereka. Jagung hanya salah satu ”logam mulia” DuPont yang telah sampai di Indonesia.

Bagaimana dengan padi? ”Itu belum prioritas utama kami, tetapi kami akan ke sana juga pada akhirnya,” kata Borel.

 

Ekspor-Impor dengan Korsel Terancam

Kelancaran ekspor-impor Indonesia dan Korea Selatan terancam kemungkinan gangguan perang. Situasi di Korsel memanas menyusul serangan militer Korea Utara terhadap negara tetangganya itu ke Pulau Yeonpyeong di Laut Kuning.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Sri Adiningsih, seusai Seminar Nasional Akhir Tahun Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jawa Barat di Bandung, Rabu (24/11), mengatakan, pengusaha di Indonesia harus bersiap-siap terhadap kemungkinan terburuk. Korsel termasuk salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

”Jadi, Korsel adalah salah investor penting dan besar untuk Indonesia sehingga pengaruhnya akan signifikan kalau terjadi perang,” katanya. Jika perang berlangsung, perdagangan Korsel akan terhambat dan pertumbuhan ekonominya merosot, bahkan negatif. Adiningsih mengatakan, nilai perdagangan dengan Korsel sekitar 5 persen dari total ekspor dan impor Indonesia terhadap semua negara.

Akan tetapi, Adiningsih lebih mengkhawatirkan contagious effect (efek menular) daripada perang. Pengaruh Korsel terhadap perekonomian Asia tergolong besar. Jika terjadi perang, negara-negara di sekitar wilayah konflik akan terkena imbasnya.

Indonesia juga mengekspor ke Korsel melalui negara-negara lain. Perang bisa mengganggu ekspor Indonesia yang dilakukan melalui negara-negara tersebut.

”Misalnya, Jepang sudah bersiap-siap dengan berbagai rencana. Rusia juga mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan,” katanya.

Pasar modal terpukul

Adiningsih menambahkan, potensi kekhawatiran lain adalah kecemasan para investor yang menanamkan dana jangka pendek. ”Kalau muncul persepsi negatif sedikit saja meski persoalannya terjadi di Korsel, dana bisa keluar. Saya khawatir stabilitas ekonomi makro Indonesia,” katanya.

Tak hanya Korsel, dana dari negara-negara lain juga bisa ditarik. Adiningsih mengungkapkan, saat terjadi krisis subprime mortgage di Amerika Serikat tahun 2008, pasar modal di Indonesia terpukul dan nilai rupiah sempat melemah karena efek menular.

”Indonesia tak punya investor subprime mortgage. Ekspor pun berupa kebutuhan sehari-hari dengan pasar yang sederhana. Bukan produk mewah yang terpukul,” katanya. Akan tetapi, banyak dana yang keluar sebagai dampak dari efek menular subprime mortgage.

”Kita harus waspada dan mengikuti perkembangan di Korsel. Mungkin saja sentimen negara-negara lain menjadi negatif,” katanya.

 

Republik Diguncang Skandal

Austin, Kamis – Juri Texas hari Rabu (24/11) memutuskan mantan Ketua Mayoritas DPR AS dari Partai Republik Tom DeLay bersalah melakukan pencucian uang dan konspirasi untuk melakukan pencucian uang.

DeLay dituduh berkonspirasi untuk secara ilegal menyalurkan 190.000 dollar AS sumbangan kampanye perusahaan pada kandidat-kandidat Partai Republik untuk badan legislatif Texas dalam pemilu 2002.

Juri bertemu untuk menimbang selama 19 jam sebelum keluar dengan putusan bersalah atas kedua dakwaan itu. DeLay (63) menghadapi ancaman hukuman 5 sampai 99 tahun penjara jika terbukti bersalah melakukan pencucian uang. Dia juga terancam hukuman 2 sampai 20 tahun penjara atas dakwaan konspirasi, ditambah denda.

Saat ini dia bebas dengan jaminan sampai putusan hukumannya di sebuah pengadilan Texas pada 20 Desember.

Setelah pembacaan putusan itu, DeLay memeluk putrinya, Danielle, dan istrinya, Christine. DeLay membisikkan ke telinga putrinya bahwa dia tidak akan mendapatkan pengadilan yang adil di Austin. DeLay telah mencoba membuat sidang dipindah keluar Austin, kota paling liberal di salah satu negara bagian Republik, tetapi tidak berhasil.

”Ini adalah penyalahgunaan kekuasaan. Ini suatu kesalahan hukum dan saya tetap mempertahankan bahwa saya tidak bersalah. Kriminalisasi politik merongrong sistem kita dan saya sangat kecewa atas hasilnya,” kata DeLay kepada wartawan di luar ruang sidang.

Banding

”Kami akan mengajukan banding,” kata pengacara DeLay, Dick DeGuerin. ”Saya khawatir ini adalah putusan emosional karena semua uang dan politik, tetapi pada akhirnya kami akan menang.”

DeLay bebas dengan jaminan dan beberapa saksi diperkirakan akan dipanggil selama fase penghukuman dari sidangnya, yang dimulai tanggal 20 Desember.

Seorang mantan pemilik sebuah perusahaan pembasmian hama, DeLay terpilih ke DPR AS tahun 1984 dan naik ke posisi nomor 2 di majelis di belakang ketua DPR AS. Dia mundur dari DPR AS tahun 2006, disebut-sebut mempunyai hubungan dengan Jack Abramoff, mantan pelobi Partai Republik yang terjerat dalam sebuah penyidikan federal mengenai jual beli pengaruh di Capital Hill.

Pihak jaksa menyatakan bahwa DeLay, yang pernah dijuluki ”sang Palu”, menggunakan komite aksi politiknya untuk secara ilegal menyalurkan donasi perusahaan sebesar 190.000 dollar AS ke pemilu legislatif Texas melalui pertukaran uang.

DeLay dan para pengacaranya mengatakan, mantan anggota Kongres dari daerah Houston itu tidak melakukan kesalahan apa pun karena tidak ada dana korporat yang diterima kandidat Texas dan pertukaran uang itu legal.

Putusan itu diberikan setelah tiga pekan sidang di mana pihak jaksa menampilkan lebih dari 30 saksi dan banyak sekali e-mail dan dokumen lain. Pengacara DeLay mengajukan lima saksi.

”Kasus ini adalah sebuah pesan dari warga negara Negara Bagian Texas bahwa para pejabat publik yang mereka pilih untuk mewakili mereka harus melakukan tugas secara jujur dan etis. Jika itu tidak dilakukan, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya,” kata Kepala Kejaksaan Wilayah Travis Rosemary Lehmberg setelah pembacaan putusan.

Lehmberg mengatakan, kejaksaan akan memutuskan dalam pekan-pekan mendatang tentang hukuman apa yang mereka rekomendasikan dalam kasus itu pada hakim senior Pat Priest. DeLay memilih Priest untuk menetapkan hukuman baginya dan bukannya juri itu.