Category Archives: Timur Tengah

ISIS Pancung Warga Muslim Amerika Abdul-Rahman Kassig Sebagai Hadiah Buat Obama

Sebuah rekaman video yang muncul di internet mengklaim bahwa kelompok milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah membunuh seorang pekerja kemanusiaan muslim asal Amerika Serikat bernama Abdul-Rahman Kassig. Tayangan video tersebut menunjukkan seseorang berdiri di dekat sebuah kepala yang diklaim sebagai Kassig. Keaslian video, yang juga menayangkan pembunuhan sekelompok serdadu Suriah tersebut, belum diketahui secara pasti.

Abdul Rahman-Kassig (26) dulu dikenal dengan nama Peter sebelum dia menjadi seorang mualaf karena kepeduliannya terhadap sesama muslim yang menderita di Suriah. Kassig berasal dari negara bagian Indiana, AS. Orangtua Kassig mengatakan, putranya sedang bekerja untuk organisasi bantuan kemanusiaan yang didirikannya, Tanggap Darurat dan Bantuan Khusus (SERA), ketika ia disergap ISIS dalam perjalanan ke Deir Ezzor di Suriah timur tahun lalu.

Dalam sebuah wawancara sebelum penculikannya, Peter Kassig menggambarkan dirinya sebagai seorang idealis yang menemukan makna dan tujuan dalam Islam dan kemudian bekerja sebagai pekerja kemanusiaan di tengah-tengah kompleksitas konflik Timur Tengah. Peter Kassig ditampilkan pada akhir video yang menunjukkan kematian sandera asal Inggris, Alan Henning. Orangtua Kassig bulan lalu merilis surat yang ditulis putra mereka yang ditawan.

“Ini adalah hal tersulit yang dilalui seorang pria. Stres dan ketakutan luar biasa. Mereka memberi tahu kami bahwa ayah dan ibu telah menelantarkan kami dan tidak peduli. Namun, tentu kami tahu ayah dan ibu melakukan semua yang bisa dilakukan,” ujar Kassig saat itu. “Jangan khawatir, ayah. Jika saya tiada, saya tidak akan berpikir apa pun, kecuali yang saya tahu itu benar bahwa ayah dan ibu mencintai saya lebih dari bulan dan bintang-bintang,” tambah pemuda itu.

Di tengah gencarnya serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan koalisi internasionalnya terhadap basis ISIS, baik di Suriah maupun Irak, kelompok radikal itu kembali membuat sebuah kejutan pahit untuk AS.
Melansir Reuters, Minggu (16/11/2014), ISIS kembali mengeluarkan sebuah klaim yang menyebutkan bahwa mereka telah mengeksekusi mati salah seorang pekerja sosial asal AS, Petter Kassig. Pemuda 26 tahun itu diekeskusi dengan cara dipenggal oleh ISIS.

Berbeda dengan klaim sebelumnya, dimana ISIS mengeluarkan sebuah video yang menunjukan pemenggalan korban, kali ini eksekusi tak diperlihatkan. Dalam video terbaru yang dirilis ISIS, nampak seorang anggoa ISIS yang menggunakan tutup kepala, menginjak sebuah kepala yang berlumuran darah. “Ini adalah Peter Edward Kassig, seorang warga AS,” ucap pria tersebut dengan menggunakan aksen Inggris. Belum diketahui kapan dan dimana pemenggalan itu terjadi. Keaslian video itu pun masih diragukan karena belum mendapat verifikasi oleh pihak AS.

Selian Kassig, dalam video itu juga terlihat beberapa kepala berlumuran darah lainnya tergeletak di tanah. Jika benar, maka ini adalah kali ketiga AS harus melihat warga mereka dieksekusi oleh ISIS. Sebelumnya dua orang jurnalis AS diesekusi mati oleh ISIS dengan cara yang sama. Peter Kassig adalah warga Barat kelima yang dieksekusi oleh kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dalam sebuah video yang dirilis Ahad kemarin, terlihat seorang milisi menginjak sebuah benda yang diyakini merupakan kepala Kassig yang sudah terpenggal.

Banyak pihak yang menyayangkan kepergian Kassig. Bahkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengaku bahwa Kassig adalah aktivis kemanusiaan yang amat berjasa dan peduli dengan nasib warga muslim Suriah. Dikutip dari NBC News, Senin, 17 November 2014, sebelum menjadi relawan, Kassig adalah seorang tentara AS. Dia dikirim ke Irak pada Maret 2012. Saat bertugas di Irak, Beirut, dan Lebanon, ia melihat banyak sekali masalah yang dialami penduduk di sana. Semuanya serba-kekurangan dan terlalu banyak penderitaan.

“Saya menjalani hidup dengan apa yang saya percayai. Namun saya belum merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu. Di sini, di negeri ini, saya menemukan panggilan hidup. Saya memiliki kesempatan untuk membuat perubahan dan membantu orang-orang di sini,” tulis Kassig dalam pesan yang ditulisnya pada 18 Maret 2012 lalu. Setelah 18 bulan membantu warga, ia memutuskan untuk mendirikan organisasi non-pemerintah bernama Special Emergency Response and Assitance (SERA). Lalu ia pindah ke Turki dan membuat SERA jauh lebih besar untuk membantu warga Suriah yang kabur dari konflik negaranya.

Oktober 2013, Kassig ditangkap oleh ISIS saat sedang mengantarkan peralatan medis dengan ambulans. Pada waktu yang sama pula, Kassig dilaporkan telah masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul-Rahman Kassig. Awal bulan lalu, ISIS merilis video penyekapan Kassig. Pria 26 tahun itu muncul dalam video pemenggalan Allan Henning, relawan asal Inggris. Kala itu, ISIS mengancam akan membunuh Kassig jika Amerika Serikat tidak menghentikan serangan ke Suriah untuk menghancurkan ISIS.

Berkaitan dengan eksekusi terhadap Kassig, akun Twitter khusus untuk keluarga Kassig saat ini memiliki 1.779 pengikut. Setelah video kematian Kassig beredar, akun bernama Kassigfamily itu berkicau, “Kami sangat hancur ketika menyadari bawa anak kami telah kehilangan nyawanya karena menunjukkan cintanya kepada warga Suriah.”

Video yang dirilis oleh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sebagai klaim kematian relawan Amerika Serikat, Peter Kassig, ternyata menyimpan sejumlah kejanggalan. Untuk pertama kalinya, setelah eksekusi empat sandera sebelumnya, video Kassig tidak menampilkan adegan pemenggalan, tidak menyampaikan ancaman, dan tidak pula menyebut target selanjutnya. Dalam video itu, tahu-tahu seorang anggota ISIS sudah menginjak kepala yang diduga adalah kepala Kassig yang sudah terpenggal.

ISIS justru berfokus pada pemenggalan terhadap lebih dari 20 tentara Suriah oleh sejumlah anggotanya. Salah satu algojo lalu mengecam Presiden Barack Obama lantaran menyisakan tentara AS di Irak sejak penarikan pasukan pada 2004. Seorang pengamat anti-ekstremis Irak dari Qulliam Foundation, Haris Rafiq, menelaah arti kejanggalan video itu. Rafiq memprediksi keanehan itu mengindikasikan keadaan ISIS kini sedang tertekan.

“Seperti seekor binatang yang terluka, mereka akan semakin ganas dan brutal untuk melindungi diri dan mengancam musuh. ISIS ingin menunjukkan bahwa mereka masih kuat meski dihujani serangan dari aliansi Amerika,” kata Rafiq, seperti dilaporkan CNN, Senin, 17 November 2013. Rafiq menjelaskan, sisi brutal yang ingin ditunjukkan ISIS menandakan bahwa mereka sedang terpojok. “Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka bisa lebih keji dalam keadaan putus asa,” kata Rafiq.

Sementara itu, pensiunan Angkatan Darat AS sekaligus ahli kontraterorisme, Letnan Kolonel Joe Ruffini, berpendapat, video itu dirilis untuk menakut-nakuti warga Suriah dan Irak. Ruffini mengatakan ISIS ingin kemauannya dituruti oleh negara yang telah mereka kuasai. “ISIS seperti ingin berkata, ‘Saat kami meminta Anda melakukan sesuatu, Anda akan tahu apa konsekuensinya jika menolak’,” kata Ruffini.

Daveed Gartenstein-Ross, petinggi Yayasan Pertahanan Demokrasi, mengatakan mungkin terjadi masalah serius sebelum Kassig dieksekusi. “Kemungkinan yang paling besar adalah terjadi hal yang tidak beres, di luar dugaan ISIS, ketika mereka memenggal Kassig,” kata Ross.

Tidak Mau Di Poligami … Kaum Wanita Arab Pilih Menikah Dengan Pria Asing

Kaum perempuan Arab Saudi kembali melirik warga negara barat sebagai prioritas satu untuk menjadi pasangan hidupnya. Alasan mereka demi menjaga stabilitas dan menyelamatkan tali perkawinan. Di antara mereka banyak yang mengatakan memilih warga barat agar perkawinannya tidak mudah berakhir dalam perceraian atau tak mau suaminya poligami.

“Tak terhitung jumlahnya perempuan Saudi yang takut menikah dengan keluarga Saudi karena tingginya angka perceraian,” ucap Hady Makki, seorang perawat di sebuah rumah sakit kepada Arab News. Suad Ali, seorang warga Arab Saudi yang menikah dengan warga asing mengatakan perkawinan antarbudaya sangat umum di beberapa kota di Arab Saudi, seperti di Mekah, Jedah, Madinah, dan Taif.

Seorang konsultan hukum, Abdulaziz Dashnan, menerangkan menurut data statistik 2012, pria-pria Kuwait menempati daftar tertinggi di antara negara-negara Teluk yang menikah dengan perempuan Arab Saudi. Adapun lelaki Yaman, negara di luar Teluk, tergolong paling besar menikahi perempuan Saudi.

Studi lainnya menunjukkan, 118 perempuan Saudi menikah dengan lelaki Pakistan meskipun menikah dengan pria di luar Arab dianggap tabu. Anggota Dewan Syura, Sadaqah Fadel, mengatakan 700 ribu perempuan Saudi menikah dengan warga asing. “Angka itu 10 persen dari populasi perempuan Saudi.”

Abdullah Asiri, konsultan psikiatri di rumah sakit kesehatan mental Abha, mendukung pandangan bahwa perempuan Saudi membutuhkan rasa aman dalam pernikahannya sehingga mencari pasangan hidup warga asing. “Keamanan merupakan kebutuhan mendasar dalam perkawinan,” ucapnya.

Pemuda Arab Paling Suka Foya Foya

Sebuah studi yang dilakukan oleh Prince Salman Youth Center baru-baru ini menunjukkan fakta bahwa 29 persen pemuda Arab Saudi boros, suka berfoya-foya. Menurut survei lembaga tersebut, mereka senang membeli pakaian, pergi ke rumah makan mahal, dan membawa keluarganya melakukan perjalanan pada akhir pekan dengan biaya tinggi.

Meskipun demikian, studi ini bertolak belakang dengan temuan survei yang digelar oleh Saudi Youth Planning Trends. Hasil temuan institusi ini menyebutkan 40 persen responden mengaku gemar menabung.

Para peneliti yang terlibat dalam survei tersebut mengajukan pertanyaan kepada sejumlah responden mengenai rencana masa depan mereka. Hasilnya, peneliti menemukan jawaban bahwa 30 persen para pemuda itu memikirkan karier dan ingin mendapatkan pekerjaan bagus. Sebanyak 74 persen para pemuda tersebut yakin bahwa segala kebutuhan harus diperoleh melalui membaca dan mengikuti program pelatihan.

Survei ini juga mendapati bahwa tujuh dari sepuluh pemuda Saudi yang bekerja sebagai pengusaha menerapkan lebih dari 50 persen rencana mereka. Selain itu, 29 persen pemuda Saudi yakin bahwa mereka mudah mewujudkan rencana yang telah dibuat.

Sebanyak 60 persen pemuda yang turut serta dalam survei itu mengatakan mereka mendapatkan banyak pengalaman melalui jejaring media sosial. Sedangkan 40 persen membagi pengalamannya melalui jejaring media yang sama. Sigi menemukan pula banyak pemuda Saudi tidak memiliki rencana masa depan sebab mereka takut apa yang mereka rencanakan sebelumnya tidak bisa diwujudkan. Selain itu, survei ini mencatat bahwa keinginan pribadi, orang tua, teman-teman, dan pendidikan memiliki dampak terbesar pada bagaimana orang-orang muda itu merencanakan masa depan mereka.

Presiden Palestina Mahmud Abbas Tuduh Hamas Sabotase Terbentuknya Negara Palestina Dengan Menyerang Israel

Presiden Palestina Mahmud Abbas menuduh pasukan Hamas melakukan “penghancuran” rekonsiliasi nasional dengan melakukan serangan bom di Jalur Gaza, pekan lalu. Pernyataan itu disampaikan oleh Abbas dalam pidato peringatan kematian mantan pemimpin Palestina Yasser Arafat pada Selasa, 11 November 2014.

“Para pemimpin Hamas adalah yang bertanggung jawab atas ledakan di Gaza. Mereka mencoba mensabotase dan menghancurkan proyek nasional di Palestina,” kata Abbas, seperti dilaporkan Channel News Asia, kemarin. Awal tahun ini, kedua kelompok gerakan nasionalis menandatangani perjanjian rekonsiliasi dengan tujuan mengakhiri tujuh tahun persaingan di Tepi Barat dan Gaza yang dipimpin oleh pemerintahan yang terpisah. Kesepakatan itu memicu pembentukan pemerintah kosensus nasional yang bermarkas di Ramallah, yang sebelumnya dikuasai Hamas.

Tuduhan itu langsung dibantah oleh Hamas. Juru bicara kelompok Mushir al-Masri mengatakan ucapan Abbas itu bohong. “Pidato Abbas adalah bentuk penghinaan dan tidak jelas. Palestina butuh pemimpin yang berani, bukan pembohong,” kata Al-Masri. (Baca: Israel Nekat Bangun 600 Rumah Yahudi di Palestina)

Abbas juga menuduh kelompok itu memicu ketegangan di Al-Aqsa selama empat bulan terakhir. Untuk itu, Abbas juga akan membuat keputusan tegas untuk membela Al-Aqsa dan gereja-gereja terhadap ekstremis dan pemukiman.

Militan ISIS Keluarkan Ancaman Jadikan Milisi Wanita Kurdi Budak Seks Setelah Gagal Rebut Kobane Yang Dijaga Oleh Pasukan Wanita Kurdi

Dalam sebuah pesan yang disampaikan kepada pasukan Peshmerga Kurdi Irak, militan ISIS mengancam akan menjadikan budak sek setiap petempur perempuan Peshmerga yang berhasil mereka tangkap. Kolonel Nahida Ahmad Rashid, komandan Batalion Perempuan Peshmerga kedua, kepada MailOnline mengatakan bahwa militan ISIS bahkan berencana untuk menikahi para perempuan yang membuat mereka ‘muak”. “Pesan itu mengatakan bahwa setiap kali mereka menangkap seorang perempuan Peshmerga, mereka akan menjadikan budak seks. Bahkan walau mereka muak terhadapnya, mereka akan tetap menikahinya.”

Namun Kolonel Rashid mengatakan, dia dan pasukannya punya ide lain. Dia mengungkapkan, dirinya telah meminta para pejuangnya untuk menyimpan sebuah peluru cadangan buat berjaga-jaga jika tertangkap. “Saya telah menyampaikan kepada semua tentara garis depan saya untuk menyimpan sebuah peluru di saku mereka buat berjaga-jaga dalam hal mereka ditangkap,” kata dia. “Saya tentu tidak pernah menginginkan salah satu dari mereka ditangkap ISIS.”

Sejauh ini, Kolonel Rashid dan pasukannya tidak perlu menggunakan peluru cadangan mereka, walau dia mengatakan bahwa anggota PKK (Partai Pekerja Kurdistan) lainnya yang bertempur di kota Kobani di Suriah utara telah terpaksa melakukan hal itu. “Pekan lalu, salah seorang pejuang PKK mendapati dirinya sendirian dan dikelilingi ISIS setelah semua teman-temannya terbunuh. Dia menembak dirinya sendiri daripada membiarkan mereka (ISIS) membawanya.”

Pasukan Peshmerga Kurdi terkenal dengan pengerahan tentara perempuan, semuanya bertempur bersama rekan-rekan pria mereka di garis depan. Akibatnya, mereka berada di bagian tersulit dalam perang melawan ISIS yang, menurut Kolonel Rashid, militan ISIS sangat takut terhadap para tentara perempuan karena mereka percaya bahwa laki-laki yang dibunuh oleh perempuan tidak akan masuk surga. “ISIS itu sangat munafik,” kata dia. “Mereka berpikir, jika mereka dibunuh oleh perempuan Peshmerga, mereka tidak akan masuk surga. Mereka ingin membuat kami tunduk tetapi mereka takut terhadap kami, jadi mereka benar-benar munafik.”

Namun, jika ISIS berharap bahwa ancaman menjadikan mereka budak seks akan membuat Kolonel Rashid dan para pejuangnya memikirkan ulang partisipasi mereka dalam pertempuran itu, dia justru punya pesan yang tegas buat mereka yaitu, “Kami akan mencari kalian dan jika ketemu, kami akan membunuh kalian”.

“Merupakan sebuah tragedi besar bagi saya melihat manusia, di abad ke-21, menyiksa dan memenggal kepala orang-orang seperti yang dilakukan ISIS,” tambahnya. “Sampai saat saya mati, hingga titik darah terakhir, saya akan melawan ISIS. Saya menganggap mereka menjijikkan. Bagaimana perasaan Anda jika perempuan yang dekat dengan Anda yang dinikah paksa oleh ISIS? Bagaimana perasaan Anda? Mereka melakukan hal paling menjijikkan yang pernah saya lihat dalam hidup saya.”

Dia juga mengecam kaum pria yang berpikir perempuan bukanlah petempur tangguh. “Di garis depan, satu-satunya perbedaan antara pasukan Peshmerga pria dengan kami adalah pada senapan mesin yang kami gunakan. Senjata terberat yang kami gunakan adalah 14.7mm. Para pria menggunakan senjata yang lebih berat. Selain itu, tidak ada perbedaan di antara kami. Ketika musuh datang, Anda punya senjata di tangan Anda dan Anda harus bertempur. Jika Anda mundur, mereka akan membunuhmu. Jika Anda tidak melawan, mereka akan membunuhmu. Anda harus berjuang untuk bertahan hidup.”

Terlebih lagi, kata dia, dirinya tidak kekurangan relawan yang bersedia untuk bergabung dengan pasukannya, termasuk putrinya sendiri yang berusia 10 tahun. “Dia baru 10 tahun tetapi dia ingin menjadi seorang Peshmerga,” katanya terkekeh. “Dia bilang dia ingin membalas dendam pada ISIS untuk semua hal yang telah mereka lakukan terhadap anak-anak.”

Salah seorang perempuan yang merasakan hal yang sama adalah pejuang berusia 22 tahun bernama Sevres. Dia seorang pendatang baru di garis depan. Sevres mengatakan, dia sangat bangga dengan negaranya dan akan berjuang untuk mempertahankannya apa pun risikonya.

“Saya merasa sangat sedih dengan hal-hal yang ISIS lakukan dan ancaman yang mereka lontarkan terhadap kami kaum perempuan jika mereka menangkap atau menculik kami. Tetapi prioritas saya sekarang adalah membela negara saya, tidak peduli dengan apa yang mereka katakan.”

Dia menambahkan, “Saya sangat senang bahwa saya akan membela negara saya. Saya akan membersihkannya dari ISIS.”

ISIS Eksekusi 255 Pejuang Muslim Suni Di Irak Barat

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah mengeksekusi 255 pejuang suku muslim Suni dan polisi lokal di Provinsi Anbar, Irak barat. Laporan ini diungkap oleh sumber keamanan di Anbar pada Kamis, 30 Oktober 2014.

Menurut laporan tersebut, seperti diberitakan Xinhua hari ini, mayat sekitar 150 pejuang muslim Sunni dan anggota polisi setempat yang berjuang melawan ISIS ditemukan di sebuah kuburan massal di Albu Ali al-Jasim, sekitar 110 kilometer sebelah barat Bagdad.

Pada hari yang sama, sekitar 75 pejuang suku muslim Sunni juga ditangkap di Kota Heet. Mereka kemudian dieksekusi ISIS karena dituduh bekerja sama dengan militer Irak untuk memerangi kelompok pimpinan Abu Bakar al-Bagdadi tersebut.

Puluhan pejuang ini ditembak di bagian kepala oleh ISIS. Warga Kota Heet dipaksa melihat langsung eksekusi ini. Hal ini dilakukan ISIS sebagai ancaman agar tidak ada lagi yang mencoba menentang mereka.

Tak hanya itu, sehari sebelumnya, ISIS mengeksekusi sekitar 30 pejuang suku Albu Nimer yang juga berjuang menghentikan gerakan ISIS di Irak.

Seorang Perempuan Muda Etnis Yazidi Diperkosa Lebih Dari 30 Kali Oleh Milisi ISIS

Seorang perempuan muda Yazidi, yang telah dipaksa menjadi budak seks oleh Negara Islam atau ISIS, memohon pihak Barat mengebom rumah bordil di mana dia ditawan. Perempuan itu mengaku, kaum militan ISIS memerkosanya 30 kali hanya dalam waktu beberapa jam.

Perempuan tak dikenal itu, yang diketahui disekap sebagai tawanan ISIS di suatu tempat di Irak barat, telah ditangkap ISIS dalam pembantaian di Sinjar pada awal Agustus lalu.

Sebuah kelompok yang sedang meningkatkan kesadaran orang akan penganiayaan ISIS terhadap kaum perempuan di wilayah yang dikendalikan kelompok itu di Timur Tengah mengatakan, perempuan tersebut telah menghubungi para pejuang Peshmerga Kurdi melalui telepon. Dalam pembicaraan telepon, perempuan itu memohon agar rumah bordil tersebut dibom sehingga para perempuan yang dijadikan budak seks oleh ISIS bisa keluar dari kesengsaraan mereka.

Dia mengatakan kepada para pejuang Kurdi bahwa dirinya telah begitu sering diperkosa. Bahkan, dia tidak bisa ke toilet. Penderitaannya begitu mengerikan sehingga dia berencana untuk bunuh diri, bahkan jika akhirnya pun dibebaskan.

Rincian pengalaman brutal perempuan di tangan ISIS itu muncul dalam sebuah wawancara dengan aktivis Kurdi yang menggelar demonstrasi di London guna meningkatkan kesadaran orang akan penderitaan perempuan di Timur Tengah. Dalam sebuah wawancara dengan BBC World Service, seorang pria yang diidentifikasi sebagai Karam menggambarkan bagaimana seorang temannya yang ikut dengan Peshmerga menerima telepon perempuan Yazidi itu.

Karam mengatakan, perempuan itu menangis di telepon. “Jika kalian tahu di mana posisi kami, silakan mengebom kami … Tidak ada kehidupan setelah ini. Saya akan tetap bunuh diri, yang lain telah bunuh diri pagi ini,” kata perempuan itu sebagaimana dikutip Karam. “Saya pernah diperkosa 30 kali dalam waktu beberapa jam. Saya tidak bisa pergi ke toilet. Silakan bom kami,” kata Karam menirukan pengakuan perempuan tersebut.

Kelompok aktivis Kurdi, di mana Karam ikut serta di dalamnya, melakukan aksi unjuk rasa di pusat kota London demi meningkatkan kesadaran orang akan penderitaan kaum perempuan yang hidup di bawah penindasan brutal ISIS. Di antara aksi mereka baru-baru ini adalah penyelenggaraan sebuah tiruan pasar budak. Dalam pasar budak palsu itu, sejumlah perempuan yang mengenakan nikab dirantai bersama-sama. Sementara pria bertopeng menggunakan pengeras suara untuk melelang mereka ke penawar tertinggi.

Pekan lalu, PBB menegaskan bahwa ribuan warga Yazidi dibantai saat ISIS menyapu Irak utara pada Agustus lalu. Pembantaian tersebut menyerupai adegan dalam peristiwa di Bosnia Srebrenika.

Para penyidik kini menyimpulkan bahwa lebih dari 5.000 warga Yazidi ditembak mati dalam serangkaian pembantaian oleh ISIS. Selain itu, 5.000-7.000 perempuan juga ditahan di pusat penahanan darurat, di mana mereka entah telah dibawa dan dijual ke perbudakan atau diserahkan kepada para militan sebagai selir.

Lima pusat penahanan di kota Tal Afar diperkirakan telah menampung sekitar 3.500 perempuan dan anak-anak.