Category Archives: Timur Tengah

Hamas Akan Wajibkan Anak Anak Palestina Belajar Bahasa Ibrani Agar Mudah Mendapatkan Pekerjaan Di Israel

Seorang pejabat senior Hamas di Gaza mengatakan pada hari Senin bahwa penguasa militan di wilayah itu berniat mulai mengajarkan bahasa Ibrani untuk siswa SMA mulai tahun depan. Ziad Thabet, Wakil Menteri Pendidikan Hamas, mengatakan pemerintah mulai melatih para guru.

“Siswa harus diperkenalkan dengan sebanyak mungkin bahasa,” katanya. Selama ini, bahasa Ibrani, bahasa utama yang digunakan oleh Israel, hanya ditawarkan sebagai kursus tambahan di universitas.

Thabet mengatakan pemerintah Gaza masih perlu menimbang keputusan tersebut, tapi kemungkinan besar disetujui.

Banyak warga Palestina melihat bahasa Ibrani sebagai bahasa musuh. Namun ditengah keterpurukan ekonomi Palestina maka bahasa Ibrani mulai digunakan secara luas di Gaza, terutama oleh mereka yang bekerja di Israel sampai satu dekade lalu ketika Israel mulai melarang buruh memasuki negara itu di tengah meningkatnya kekerasan di wilayah yang kini diblokade itu.

Palestina Hukum Mati Warganya Karena Berjualan Dengan Orang Israel

Seorang mantan agen intelijen Palestina dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Palestina. Vonis mati itu dijatuhkan hanya karena pria ini menjual rumahnya kepada seorang pria Israel.

Muhammad Abu Shahala yang bekerja untuk otoritas Palestina tersebut, akhirnya memberikan pengakuan bahwa dia menjual rumahnya di kawasan Hebron, Tepi Barat, kepada seorang pria Israel. Vonis mati pun dijatuhkan kepadanya. Demikian seperti dilansir Daily Mail, Selasa (24/4/2012).

Para pejabat Yahudi kini menyerukan komunitas internasional untuk terlibat guna menyelamatkan nyawa Abu Shahala. Sesuai hukum Palestina, vonis mati baru bisa dieksekusi jika telah mendapatkan persetujuan dari Presiden Palestina, dalam hal ini Mahmoud Abbas.

Untuk menyelamatkan Abu Shahala dari hukuman mati, Komunitas Israel di Hebron mengirimkan surat terbuka kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton, Perdana Menteri Israel Benjamin Netenyahu dan sejumlah pejabat tinggi lainnya.

Surat tersebut dimaksudkan sebagai pernyataan protes terhadap putusan pengadilan Palestina tersebut. Juga sebagai seruan bagi dunia internasional untuk membantu upaya penyelamatan Shahala.

“Menurut informasi dari berbagai kantor berita, Muhammad Abu Shahala, seorang mantan agen intelijen yang bekerja pada otoritas Palestina, telah dijatuhi hukuman mati, dalam persidangan yang singkat. Kejahatannya adalah: menjual properti kepada pria Israel di Hebron. Nampaknya sangat mengerikan jika penjualan properti dikategorikan sebagai ‘kejahatan’ yang bisa dihukum dengan hukuman mati,” demikian seperti tertulis dalam surat terbuka tersebut.

“Fakta bahwa hukum seperti itu benar-benar ada dan menjadi sistem hukum yang diterapkan oleh otoritas Palestina, merupakan bentuk keadilan yang menyesatkan dan biadab. Praktek hukum seperti ini hanya berlaku saat zaman jahiliah,” imbuh mereka.

“Ini menjadi kewajiban seluruh masyarakat internasional, untuk menolak bersama-sama aksi pembunuhan dengan hukum seperti itu, saat kejahatan tidak lebih dari penjualan properti. Bagaimana reaksi Anda jika hukum seperti itu diterapkan di AS, Inggris, Prancis, atau Swiss, melarang penjualan properti kepada orang Israel?” demikian disampaikan dalam surat terbuka itu.

Dua Bom Mobil Guncang Ibukota Suriah Damaskus

Hanya sehari setelah dua bom mobil mengguncang ibu kota Damaskus, sebuah bom mobil lainnya meledak di kota Aleppo di Suriah utara, Minggu (18/3/2012). Tiga orang dilaporkan tewas dalam serangan terakhir ini.

Syrian Observatory for Human Rights yang bermarkas di London, Inggris, menyatakan, ledakan tersebut terjadi di dekat kantor-kantor pasukan keamanan. Selain 3 warga sipil yang tewas, 25 orang lainnya terluka.

Kantor berita SANA hanya memberitakan, sebuah bom mobil “teroris” meledak di dekat dua bangunan tempat tinggal di Distrik Sulaiymaniyah, Aleppo, tanpa menyebutkan jumlah korban.

Salah satu aktivis hak asasi manusia di Aleppo mengatakan kepada wartawan AFP di Beirut, Lebanon, bahwa ledakan terjadi sekitar pukul 12.50 waktu setempat (17.50 WIB). Tayangan televisi memperlihatkan bangunan dan mobil-mobil yang hancur akibat ledakan itu.

Aleppo juga menjadi sasaran serangan bom pada 10 Februari, yang menewaskan 28 orang.

Sabtu kemarin, dua bom mobil meledak berturut-turut di dekat markas polisi dan dinas intelijen angkatan udara di Damaskus. Dua ledakan itu menewaskan 27 orang dan melukai sekitar 140 orang, sebagian besar warga sipil.

Dua ledakan keras, Sabtu (17/3), mengguncang Damaskus, ibu kota Suriah. Akibat ledakan itu, sebanyak 44 orang tewas dan lebih dari 100 orang cedera. Sejumlah warga sipil dipastikan tewas akibat ledakan bom itu.

Para aktivis juga mengungkapkan, ada ledakan ketiga di dekat kamp pengungsi Palestina di kawasan Yarmouk.

Televisi pemerintah memberitakan, satu dari dua ledakan tersebut menghantam kantor intelijen Angkatan Udara dan ledakan lain terjadi di dekat kantor keamanan urusan kriminal.

Menurut televisi pemerintah itu, penyidikan awal menunjukkan dua ledakan itu berasal dari bom mobil dan dilakukan kelompok teroris. Teroris yang dimaksudkan di sini adalah segelintir pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahan.

Pemerintah Suriah selalu beranggapan, pihak asing adalah motor utama di balik aksi oposisi, yang menuntut pergantian rezim. Kubu oposisi membantah turut berperan di balik aksi pengeboman itu.

Dalam tayangan televisi Aljazeera, masih terlihat pekatnya bubungan asap dari ledakan di distrik Al-Jamarik.

Juru bicara Dewan Pimpinan Revolusi, kubu oposisi, Murad Shami mengatakan ledakan ketiga terjadi beberapa menit dari dua ledakan sebelumnya di Jalan Tsalatsin dekat kamp pengungsi Palestina di kawasan Yarmouk. Suriah juga merupakan negara yang turut menampung warga Palestina, yang melarikan diri dari Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Dalam beberapa bulan terakhir, Damaskus dihantam serangan bersenjata dan ledakan bom. Pada 6 Januari, sebuah serangan bunuh diri menghantam Damaskus. Pada kejadian ini, 24 orang tewas dan 46 orang luka-luka, yang sebagian besar dari warga sipil. Pada 23 Desember 2011, dua bom mobil menghantam kantor keamanan dan menewaskan 30 orang.

Sama seperti ledakan terbaru itu, pelaku ledakan-ledakan sebelumnya juga tak pernah jelas.

Seruan Annan

Dalam konteks politik, utusan khusus PBB dan Liga Arab, Kofi Annan, memperingatkan dampak krisis di Suriah jika tidak segera diatasi secara benar. Ia meminta negara-negara anggota Dewan Keamanan (DK) PBB bersatu menekan Presiden Bashar al-Assad.

Annan, Sabtu, seusai memberi keterangan di forum DK PBB, mengatakan, hendaknya semua pihak berhati-hati menangani isu Suriah. Ini bertujuan untuk menghindari eskalasi yang bisa mengganggu stabilitas kawasan. Menurut Annan, kondisi di Suriah lebih kompleks dari kondisi di Libya.

Ia juga memperingatkan, jika otoritas Suriah masih mengulur-ulur waktu, masyarakat internasional segera mengambil sikap tegas.

Ia menambahkan, ia secara pribadi telah menyampaikan kepada para pejabat Suriah ketika berkunjung ke Damaskus bahwa rakyat Suriah sudah lelah dengan penderitaan. Otoritas Suriah harus memperhatikan aspirasi rakyat agar bisa meraih stabilitas.

Di forum DK PBB Annan mengungkapkan, jawaban otoritas Suriah atas usulannya tentang solusi krisis Suriah mengecewakan. Namun Annan mengatakan, komunikasi dengan otoritas Suriah masih berlanjut.

Ia menambahkan, usulannya terdiri dari enam butir dan masih terus dibahas dengan otoritas Suriah. Menurut Annan, ia mengirim tim ke Damaskus pekan depan untuk mendiskusikan lagi usulan itu dengan pihak-pihak terkait di Damaskus.

Tak banyak berharap

Anggota Dewan Nasional Suriah (SNC), Farouk Taefour, kepada harian Aharq al Awsat mengatakan, SNC tidak banyak berharap pada misi Kofi Annan. Namun, misi Annan saat ini merupakan satu-satunya upaya di lapangan dan tidak ada pilihan bagi SNC kecuali mendukung serta menunggu hasilnya.

Anggota lain SNC, Muhammad Sarmini, juga menyatakan bahwa ada kriteria dasar yang harus dipenuhi bagi keberhasilan misi Annan. Kriteria dasar tersebut adalah solusi politik harus memenuhi aspirasi rakyat Suriah, yaitu Presiden Assad harus mundur.

Di Ankara, Pemerintah Turki menyatakan akan mempertimbangkan membentuk zona penyangga di kawasan perbatasan Turki-Suriah. Zona ini bertujuan untuk melindungi warga sipil Suriah dari serangan pasukan pemerintah. Turki juga menuduh pasukan Pemerintah Suriah telah menyebar ranjau di kawasan dekat perbatasan Turki-Suriah untuk mencegah warga sipil lari ke Turki.

Irak juga turut menekan Suriah dengan menghambat semua pasokan logistik dari Iran menuju Suriah, yang hendak diangkut lewat darat via Irak. Jubir pemerintahan Irak, Ali al-Dabbagh, Sabtu, di Baghdad menegaskan hal itu

Presiden Suriah Bashar al-Assad Ternyata Ketahuan Suka Selingkuh Setelah Email Pribadinya Berhasil Dibongkar Oposisi

Bocornya email pribadi Presiden Suriah Bashar al-Assad mengungkap sejumlah fakta menarik. Salah satunya tentang wanita misterius yang memakai bra putih dan tampil provokatif demi Assad. Siapa dia?

Diberitakan Telegraph, Sabtu (17/3/2012), foto itu muncul di kiriman email pribadi Assad yang bocor beberapa hari lalu. Pihak oposisi berhasil mencuri password email presiden kontroversial itu dan membocorkannya ke publik.

Dari fotonya, wanita itu tampak masih muda. Dia hanya mengenakan BH putih sambil menghadap tembok dengan pose sensual.

Foto itu dikirim ke Assad pada 11 Desember 2011 lalu oleh seorang wanita yang dipastikan bukan istrinya. Tidak ada ucapan apa pun dalam email tersebut. Identitas wanita tersebut juga masih misteri.

Para anggota oposisi yakin wanita itu juga mengirim email dengan akun lain. Isinya, pesan-pesan intim antara Assad dan wanita tersebut.

Salah satu pesan yang bocor tercatat pada 1 Desember 2011. Si wanita mengirim pesan “Hi”, lalu Assad membalasnya dengan “Hi and a half”.

Beberapa minggu kemudian, komunikasi keduanya lebih berbau asmara. Mereka saling berbagi musik romantis dan bertukar kado.

Nah, pada 17 Januari 2012, Assad juga menerima email dari akun lain wanita tersebut yang bertuliskan “I love you” dalam bahasa Arab. Lalu pada tanggal 25 Januari 2012, email lainnya dikirim dengan hanya mencantumkan huruf ‘X’, simbol populer untuk sebuah ciuman di dunia maya.

Meski tidak ada bukti otentik ada hubungan seksual di antara keduanya, kasus ini bisa berdampak negatif bagi Assad. Terlebih lagi, dia kini menjadi sorotan internasional bersama sang istri Asma al-Assad.

Hingga saat ini, Assad masih belum bisa dimintai konfirmasi.

Suriah Kini Berubah Menjadi Neraka Dunia

Sudah 40 tahun Jacques Beres, seorang dokter bedah Perancis, beroperasi di berbagai kawasan perang, namun di kondisi di Suriah merupakan salah satu satu yang paling mengerikan yang pernah dilihatnya.

Beres “menyelundupkan diri” ke Homs, kota yang digempur pasukan pemerintah Suriah, selama dua minggu Februari lalu. Di kota itu dia mendirikan rumah sakit darurat di sebuah rumah di mana dia mengoperasi 89 orang dalam 12 hari.

Sebagian besar adalah para lanjut usia dan anak-anak. Dia berhasil menyelamatkan sebagian besar pasiennya, namun sembilan orang meninggal di meja operasi.

Dalam sebuah pertemuan para aktivis hak asasi manusia di Jenewa, Swiss, Selasa (13/3/2012), dokter berusia 71 tahun itu, merupakan satu-satunya dokter Barat yang berhasil masuk Homs. Dalam pertemuan itu dia mengisahkan pertumpahan darah dan kondisi mengerikan yang disaksikannya di kota itu.

“Seperti neraka,” kata Beres, yang juga salah satu pendiri organisasi Doctors Without Borders dan Doctors of the World. Beres sendiri pernah bekerja di sejumlah wilayah perang seperti Vietnam, Rwanda, dan Irak.

“Yang terjadi adalah pembunuhan massal. Sangat tidak adil. Tidak bisa dibenarkan,” tegasnya.

Beres berangkat ke Suriah atas permintaan dua kelompok, France-Syrie Democracy dan Union of Muslim Associations in France. Dia masuk Suriah dari Lebanon secara ilegal dan mendirikan meja operasi di sebuah rumah kosong hanya dengan tiga tempat tidur.

Kata warga Paris, Perancis itu, tantangan terbesarnya adalah hal-hal mendasar sperti langkanya listrik dan mendapatkan ruang yang cukup untuk tandu.

Beres mengatakan, warga Homs, yang merupakan jantung perlawanan terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad, hidup dalam keputusasaan meskipun mereka menyampaikan terima kasih pada para wartawan yang mengabarkan pada dunia tentang yang sedang mereka hadapi.

“Mereka bilang, memang baik kalian memikirkan kami, tetapi mereka bilang ‘itu tidak memberi kami makanan, obat, ataupun senjata,” kata Beres menirukan warga Homs di KTT Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Jenewa.

Pemberontakan di Suriah dimulai pada Maret 2011. Berawal dari unjuk rasa damai di provinsi-provinsi yang miskin di negara itu. Ketika aparat keamanan menindas para pengunjuk rasa hingga menewaskan ribuan orang, protes pun berkembang dan memanas hingga memicu pemberontakan bersenjata.

Badan urusan pengungsi PBB mengatakan 230.000 warga Suriah mengungsi sejak perlawanan terhadap rezim Assad dimulai tahun lalu. Menurut PBB, lebih dari 7.500 orang terbunuh dalam 12 bulan terakhir. Kelompok-kelompok aktivis mengatakan, jumlah korban tewas bahkan sudah melewati angka 8.000.

Hadeel Kouki, aktivis Suriah berusia 20 tahun, mengatakan, dia ditahan selama 52 hari setelah dinas intelijen Suriah memeriksanya. Perempuan muda itu mengaku membagikan selebaran berisi anjuran pada teman-teman kampusnya untuk berdemonstrasi.

“Ada sekitar 10.000 orang tewas hingga saat ini dan pembunuhan itu terus berlanjut. Dalam catatan kami 100 orang tewas setiap hari. Banyak di antaranya anak-anak. Mereka tewas di rumah,” tutur mahasiswi sastra Inggris dan hukum itu.

Dalam pertemuan di Jenewa itu, Kouki menceritakan pengalaman pertamanya ditangkap. Ketika itu dia dikurung di penjara selama 40 hari dengan “kondisi mengerikan”. Setelah itu dia dua kali lagi ditahan. “Aparat menyiksa saya dengan listrik dan memukulinya di penjara,” ujarnya.

Dia memang dibebaskan tetapi dilarang kembali universitas di Aleppo. Kouki kini tinggal di Mesir dan terlibat dalam aktivitas dunia maya melawan Presiden Bashar al Assad.

Rezim Assad selalu mengatakan, bahwa pasukannya memerangi teroris asing dan geng-geng kriminal. Assad juga membantah yang sedang terjadi di negaranya adalah revolusi seperti yang dialami Libya, Mesir, atau Tunisia.

Kata Kouki, tidak ada pejuang asing di Suriah. “Saya bisa katakan bahwa hal itu tidak benar. Tidak ada orang asing, tidak ada teroris. Itu propaganda pemerintah,” tegasnya.

Amerika Serikat Beri Israel Hadiah Senjata Modern Super Canggih Karena Mau Menunda Serangan Ke Iran Sampai Tahun 2013

Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan menawarkan persenjataan canggih baru kepada Israel namun dengan syarat. Syaratnya, Israel harus berkomitmen untuk tidak menyerang fasilitas nuklir Iran tahun ini.

Demikian diberitakan harian Israel, Maariv seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (8/3/2012) yang mengutip diplomat-diplomat Barat yang tidak disebutkan namanya dan sumber-sumber intelijen.

Dituliskan media tersebut, saat kunjungan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu ke Washington pekan ini, pemerintah AS menawarkan kepada Israel untuk menyediakan bom-bom penghancur bunker dan pesawat-pesawat pengisi bahan bakar jarak jauh.

Bom-bom penghancur bunker yang ditawarkan AS tersebut jauh lebih hebat daripada bom-bom serupa yang dimiliki Israel saat ini. Dengan bom-bom tersebut, Israel akan bisa menargetkan fasilitas-fasilitas nuklir meski berada di bawah bebatuan yang kuat karena memiliki daya ledak beberapa kali lebih besar dari bom atom.

Sebagai imbalan atas persenjataan canggih tersebut, Israel setuju untuk menunda kemungkinan serangan terhadap Iran hingga tahun 2013, setelah pemilihan presiden AS pada November 2012 mendatang.

Pemerintah AS dan Israel belakangan terus bertentangan mengenai cara menghadapi ambisi nuklir Iran. Pemerintah AS berulang kali mengingatkan bahwa serangan militer terhadap Iran akan berkonsekuensi besar bagi wilayah Timur Tengah juga global.

Karena itu AS terus menyerukan sekutunya itu untuk bersabar menunggu hasil proses diplomatik dan sanksi-sanksi terhadap Iran. Sementara pemerintah Israel mencetuskan bahwa sanksi-sanksi terhadap Iran telah gagal membuat negeri itu menghentikan ambisi nuklirnya. “Kami tak bisa menunggu lebih lama lagi,” cetus Netanyahu beberapa hari lalu.

Presiden Yemen Serukan Perang Jihad Melawan Al Qaeda

SEORANG pengebom bunuh diri meledakkan bom di sebuah kendaraan dekat istana kepresidenan di Yaman selatan, Sabtu (25/2) menewaskan 26 personil pasukan elit, kata para dokter dan seorang pejabat militer.

“Mayat-mayat 20 tentara dibawa ke kamar mayat dan banyak yang cedera,” kata seorang dokter di rumah sakit Ibnu Sina di ibu kota provinsi Hadramaut, Makalla kepada AFP.

Seorang dokter lainnya mengatakan “enam orang lainnya tewas akibat luka-luka yang mereka derita.”

Seorang pejabat militer mengatakan “sebuah mobil pikup yang dikemudikan seorang pembom bunuh diri meledak di pintu masuk istana kepresidenan di Mukalla” ketika Abdrabuh Mansur Hadi dilantik sebagai presiden di ibu kota Sanaa.

Sumber yang sama mengatakan tidak ada pejabat tinggi di istana itu ketika serangan bom itu terjadi.

Istana itu dijaga pasukan elit Pengawal Republik, yang berada di bawah komando Ahmed, putra mantan presiden Ali Abdullah Saleh.

Ledakan diikuti baku tembak antara tentara dan pria-pria bersenjata, kata pejabat militer itu.

Penduduk Mukalla mengemukakan kepada AFP bahwa baku tembak itu terdengar dari daerah sekitar rumah sakit Ibnu Sina.

“Pasukan pengawal Republik mengepung rumah sakit itu untuk menjaga para anggota pasukan mereka yang dirawat,” kata pejabat militer itu.

Dalam satu pidato nasional segera setelah dilantik menggantikan Saleh, Hadi berikrar akan menumpas Al Qaidah dan memulihkan keamanan di seluruh negaranya.

“Adalah satu tugas patriotik dan agama untuk melanjutkan perang jihad terhadap Al Qaida,” kata presiden baru itu.

“Jika saya tidak memulihkan keamanan, hasil yang akan diperoleh hanya kekacauan.” katanya seperti dikutip Antara.

Dulu Bermusuhan Kini Al Qaeda dan Amerika Serikat Bahu Membahu Membantu Oposisi Di Suriah

Al-Qaidah memberikan dukungan penuh kepada kelompok oposisi di Suriah dalam upaya menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad. Mereka diminta tidak tergantung pada Barat dan negara-negara Arab.

Dalam rekaman video yang diunggah melalui Internet, Ahad, 12 Februari 2012, Ayman al-Zawahri menyerukan agar para pemberontak tidak tergantung pada Barat dan negara-negara Arab dalam upaya menggulingkan Presiden Bashra al-Assad.

Siaran video berdurasi delapan menit bertajuk “Melihat Masa Depan Singa Suriah” juga berisi permintaan pria kelahiran Mesir itu agar umat muslim di Turki, Irak, Lebanon, dan Yordania memberikan bantuan kepada pemberontak Suriah guna menghadapi pasukan keamanan Suriah.

“Hari demi hari darah telah tumpah di Suriah, sementara tukang daging, putra tukang daging Bashar bin Hafiz (Hafez al-Assad) tidak bersedia menghentikannya,” kata Zawahri yang tampak mengenakan surban putih di depan kamera.

“Namun perlawanan rakyat kami di Suriah terus berlangsung kendati mengalami rasa sakit, perlu pengorbanan, dan eskalasi pertumpahan darah meningkat,” ujarnya.

Zawahri mengambil alih tongkat komando Al-Qaidah menyusul kematian Usamah bin Ladin yang tewas akibat diserbu pasukan khusus Amerika Serikat di Pakistan, Mei tahun lalu. “Setiap muslim harus membantu saudara-saudaranya di Suriah dengan apa saja yang bisa dilakukan, termasuk nyawa, uang, fitnah, atau apa pun,” kata Zawahri.

Pria ini melanjutkan, “Wahai rakyat kami di Suriah, jangan tergantung pada Barat atau Amerika Serikat atau pemerintah Arab dan Turki,” ucapnya yang diyakini bakal mendapatkan sambutan baik dari kelompok oposisi di Suriah.

Rusia Dukung Suriah Tanpa Syarat Setelah Hapus Hutang Luar Negeri Suriah Karena Merupakan Sekutu Terakhir Di Timur Tengah

Kasus veto Rusia dan China terhadap rancangan resolusi Arab-Barat yang diajukan Maroko dua pekan lalu di forum Dewan Keamanan PBB menjadi isu utama yang terus diperbincangkan di berbagi forum di dunia Arab. Ada yang mendukung, tetapi lebih banyak yang mengkritik penggunaan hak veto itu.

Tindakan Rusia menggunakan hak veto tersebut dilihat sebagai bentuk dukungan tanpa batas terhadap Suriah, khususnya selama berkobarnya aksi unjuk rasa antirezim Presiden Bashar al Assad, 11 bulan terakhir ini.

Rusia juga terus menyuplai senjata ke Suriah. Rusia bulan lalu telah mengirim kapal perangnya ke kota pelabuhan Tartus di Suriah sebagai simbol dukungan terhadap rezim Presiden Assad. Pangkalan militer Rusia (dulu Uni Soviet) sudah dibangun di kota pelabuhan Tartus sejak tahun 1963.

Bagi Rusia, Suriah memiliki nilai strategis secara militer dan politik maupun ekonomi. Suriah adalah pasar senjata Rusia terbesar di Timur Tengah. Hampir semua peralatan militer Suriah adalah buatan Rusia.

Uni Soviet (sebelum bubar menjadi Rusia) adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Suriah pada tahun 1946. Hubungan Uni Soviet-Suriah semakin kuat setelah Presiden Hafez Assad, ayah Presiden Suriah sekarang, memegang kekuasaan di Damaskus pada tahun 1970.

Kontrak senjata

Setelah penasihat militer Uni Soviet diusir dari Mesir pada tahun 1972, Uni Soviet semakin mengandalkan Suriah yang diperintah partai sosialis Baath untuk memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah. Peralatan militer Uni Soviet semakin mengalir banyak ke Suriah saat itu. Uni Soviet juga menjadi jaminan bagi dukungan politik Suriah di pentas internasional.

Hubungan strategis Rusia- Suriah itu tergambarkan pula ketika Rusia pada tahun 2005 menghapus 75 persen utang Suriah kepada Rusia. Sebagian besar utang Suriah kepada Rusia berasal dari pembelian senjata buatan Rusia oleh Suriah. Utang Suriah terhadap Rusia saat itu mencapai 13 miliar dollar AS.

Meski Rusia terpaksa menghapus sebagian besar utang Suriah ke Moskwa, ekspor peralatan militer Rusia ke Suriah justru naik antara 7 dan 10 persen sejak saat itu.

Di tengah gencarnya aksi unjuk rasa antirezim Presiden Assad di berbagai kota di Suriah, Rusia saat ini justru mengirim 60 ton senjata, lengkap dengan suku cadangnya.

Rusia dan Suriah bulan lalu berhasil mencapai kesepakatan untuk menyuplai Suriah dengan 130 pesawat jet tempur tipe Yak-130 dengan nilai kontrak 550 juta dollar AS dan kontrak bisnis peralatan militer lainnya senilai 700 juta dollar AS.

Neraca perdagangan Rusia-Suriah saat ini mencapai nilai hampir dua miliar dollar AS, khususnya dalam kerja sama di bidang minyak dan gas.

Sejumlah pengamat mengatakan, dukungan tanpa batas Rusia atas Suriah saat ini hanya semata untuk menghentikan hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah. Rusia ingin menunjukkan bahwa Barat, khususnya AS, tidak bisa bergerak semena-mena secara sepihak.

Namun, bagi pengkritik, tindakan Rusia menggunakan hak veto, untuk menggagalkan rancangan resolusi Arab-Barat di forum DK PBB, lebih banyak membawa kerugian daripada keuntungan bagi Rusia. Kini banyak tangisan warga di Suriah yang merasa terancam setiap hari. Pemerintah Suriah seperti tidak peduli pada tuntutan sah rakyat soal demokrasi.

Pasukan Asing Mulai Turun Bergerilya Membantu Pejuang Kemerdekaan Oposisi Di Suriyah

Kehadiran militer asing mulai terendus dalam konflik Suriah. Media terkemuka Rusia, RT Network, melontarkan isu ini dalam berita utama mereka dengan mengutip peringatan Majelis Rendah tentang kekhawatiran Suriah jadi Libya Jilid II.

Ketua Komite Internasional Mejelis Rendah, Alexei Pushkov, berbicara menyusul laporan bahwa gugus tugas asing telah dikirim ke Suriah dalam upaya memberikan bantuan kepada kubu oposisi.

“Menurut laporan terbaru yang sekarang sedang diverifikasi, satuan tugas khusus asing telah dikerahkan ke Suriah,” kata Pushkov kepada wartawan pada hari Jumat. “Jika laporan ini terbukti benar, skenario akan benar-benar sama seperti di Libya.”

Menurut Pushkov, mereka mendukung oposisi dengan memasok senjata. “Mereka juga mengkondisikan sebuah resolusi tidak seimbang pada rezim yang berkuasa di Suriah, untuk menyerah pada tuntutan oposisi,” katanya.

Dunia internasional, katanya, ingin mengulang skenario Libya di Suriah.

Komentarnya datang pada hari yang sama saat anggota parlemen Rusia diharapkan mengadopsi rancangan pernyataan mengenai Suriah. Pushkov menyatakan Majelis Rendah mendukung posisi resmi Rusia untuk memfasilitasi penyelesaian konflik di dalam wilayah Suriah.

Dalam salah satu bab draf Majelis Rendah, mereka menyebut hal yang sangat penting adalah PBB, khusus untuk Dewan Keamanan, untuk tidak memihak salah satu pihak dalam konflik itu.

“Pendekatan semacam ini tidak seimbang akan merusak peluang untuk dialog yang adil dan konstruktif,” tulis draf itu.

Draf juga mengkritik ultimatum yang dikeluarkan hanya untuk satu pihak. “Sementara, pada saat yang sama, menyerukan perubahan rezim sebagai prasyarat wajib untuk menyelesaikan konflik.”

Mereka juga mengutuk intervensi militer dalam urusan dalam negeri negara lain.
“Rusia tidak akan mendukung satu dokumen yang menyiratkan atau memungkinkan intervensi tersebut tanpa persetujuan langsung Dewan Keamanan PBB.”

Rusia telah menyatakan kekhawatirannya atas meningkatnya kecenderungan pemerintah asing, terutama negara-negara NATO, untuk menyelesaikan konflik internal di negara-negara asing melalui kekuatan militer. Intervensi terbaru terjadi di Libya, yang baru saja mengalami perang sipil besar-besaran.

Setelah berlalunya resolusi PBB mengenai Libya yang menyerukan perlindungan warga sipil yang tidak bersalah, negara-negara NATO melancarkan serangan udara besar yang menimbulkan korban lebih banyak. Rusia menyebut NATO telah melampaui mandat.

Misi NATO mendapat kecaman lebih lanjut saat rekaman video menunjukkan pemimpin Libya Muammar Gaddafi yang ditangkap hidup-hidup oleh Tentara Pembebasan Nasional di Sirte, tapi kemudian dieksekusi.