Category Archives: Timur Tengah

Umat Kristen Di Irak Diminta Masuk Agama Islam Atau Mati Oleh ISIS

Kelompok Negara Islam mengancam umat Kristen Irak di Kota Mosul untuk dibunuh jika mereka tidak pindah agama atau membayar pajak.

Ancaman tersebut disampaikan para pemberontak Sunni dalam sebuah surat yang diedarkan usai salat Jumat, 18 Juli 2014. Dokumen ancaman yang diperolah Al Ajazeera itu menyatakan bahwa perintah pembunuhan itu dikeluarkan setelah pemimpin umat Kristen tak menghadiri sebuah pertemuan yang mereka selenggarakan.

Kelompok ini menegaskan dalam suratnya bahwa umat Kristen harus memilih pindah ke agama Islam, membayar pajak sebagai warga non-muslim yang dikenal dengan sebutan jiziya serta menyerahkan seluruh harta bendanya atau meninggalkan kota. “Bila tak bisa memberikan jawaban, maka pilihannya adalah hukuman mati.”

Mosul adalah kota terbesar kedua di Irak yang dikuasai oleh pemberontak Negara Islam dan berbagai aliansi pemberontak lainnya. Unit-unit militer Irak yang bertugas di kota ini lari kocar-kacir setelah setelah kelompok bersenjata ini kembali berperang dari Suriah dan melakukan serangan ke wilayah utara Irak.

Sebelum melakukan penyerangan, komunitas Kristen Mosul diperkiran tinggal berjumlah 3.000 orang. Setelah kelompok bersenjata menguasai kota tersebut, banyak umat Kristen ini melakukan eksodus sehingga yang tinggal di Mosul hanya tinggal beberapa orang saja. Beberapa laporan menyebutkan, setelah mereka meninggalkan Mosul, sejumlah gereja dan toko milik umat Kristen dijarah.

21 Polisi Tewas Dalam Penyerangan Di Pos Pemeriksaan Mesir

Sekelompok pria bersenjata membunuh 21 militer Mesir di dekat perbatasan dengan Libya pada Sabtu, 19 Juli 2014. Hal ini menyoroti ancaman yang meningkat di daerah yang disebut sebagai “surga bagi militan” dalam upaya menggulingkan pemerintahan Kairo.

Mengutip laporan Reuters hari ini, serangan ini terjadi di Wado al Gadid yang berbatasan dengan Sudan dan Libya. Selain menewaskan penjaga perbatasan, pertempuran ini juga menewaskan dua penyerang.

Para pejabat keamanan menyatakan penyerang adalah para penyelundup. Namun, lewat akun Facebook-nya, juru bicara militer menuturkan mereka adalah teroris.

Para penyerang dilaporkan juga meledakkan fasilitas penyimpanan senjata dengan granat roket, sehingga membunuh seorang tentara dan melukai empat lainnya.

Presiden Mesir Abdel Fattah el Sisi telah berulang kali menyatakan keprihatinannya terhadap militan yang memanfaatkan kekacauan di Libta dan melancarkan operasi di sepanjang perbatasan. Sisi juga telah mengadakan pertemuan darurat dengan para pejabat keamanan Mesir untuk membahas masalah ini.

Meski belum diketahui secara pasti siapa penyerangnya, militan Sinai memang telah meningkatkan serangan terhadap polisi dan tentara sejak Sisi menggulingkan Presiden Mesir Muhammad Mursi tahun lalu

Hanya Militer Amerika Serikat Yang Pernah Salah Tembak Pesawat Sipil

Penembakan pesawat penumpang Malaysia Airlines MH17 mencuatkan berbagai spekulasi, salah satunya adalah kelompok separatis yang mengincar pesawat Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebab, di hari yang sama, pesawat jet Putin terbang dari Brasil menuju Moskow dan melewati wilayah udara Ukraina.

Lintasan pesawat Putin diduga berpotongan di titik yang sama dengan pesawat Malaysia Airlines MH17. Pukul 15.44 waktu Moskow, pesawat MH17 berada di titik itu, baru kemudian 16.21 waktu Moskow, pesawat Putin melintas di titik yang sama. Berdasarkan sumber yang tak diketahui namanya, dan dilansir RT.com, pesawat Putin dan MH17 memiliki kemiripan bentuk, sisi garis, dan warna.

Malaysia Airlines sempat kehilangan kontak dengan MH17, hingga akhirnya mengumumkan bahwa pesawat jatuh karena tembakan rudal Buk. Pesawat hancur berkeping-keping di dekat Desa Grabovo, Ukraina. Sebanyak 295 orang tewas, termasuk awak pesawat.

Kecerobohan militer ini sempat terjadi 26 tahun silam. Pada 3 Juli 1988, pesawat penumpang Iran Air 655 terbang dari Bandara Abbas, Iran, menuju Dubai. Di atas teluk Persia, pesawat ditembak rudal jenis SM-2MR oleh kapal USS Vincennes milik militer Amerika Serikat.

Tim Angkatan Laut Amerika Serikat mendeteksi pesawat Iran Air sebagai pesawat tempur F-14 Tomcat Iran. Tim militer Amerika Serikat menyatakan pesawat IR655 terbang melewati batas udara jalur pesawat komersial, di atas 7 ribu kaki, dan seolah menikuk ke arah kapal Vincennes. Padahal, tubuh pesawat IR655 terlihat lebih besar dibanding pesawat tempur F-14.

Satu rudal mengenai pesawat dan menghancurkan pesawat hingga berkeping-keping, kemudian jatuh ke teluk. Terdapat 290 orang, termasuk 66 anak-anak dan 16 kru pesawat tewas. Kecelakaan ini tercatat sebagai kecelakaan pesawat terbesar sepanjang 1988, dan peringkat tujuh kecelakaan pesawat paling mengerikan sepanjang sejarah.

Hingga kini, tragedi itu meninggalkan kontroversi hubungan Iran-Amerika Serikat. Pasalnya, Amerika Serikat belum pernah melayangkan permintaan maaf atau menyatakan kesalahan atas tragedi salah tembak tersebut. Mereka hanya membayar ganti rugi sebesar US$ 213 ribu atau sekitar Rp 2,4 miliar per penumpang.

Ribuan Umat Kristen Mosul Mengungsi Setelah Diusir ISIS Karena Menolak Pindah Agama

Umat Kristen berbondong-bondong keluar dari Kota Mosul di Irak setelah gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menguasai kota itu. Melalui pengeras suara di masjid-masjid, perwakilan ISIS menyampaikan ultimatum memberi pilihan selama beberapa jam untuk mereka pergi atau berpindah agama. “Keluarga Kristen sedang dalam perjalanan mereka ke Dohuk dan Arbil,” ujar Louis Sako, pemuka agama Kristen. “Untuk pertama kalinya dalam sejarah Irak, Mosul sekarang bebas dari umat Kristen.”

Mosul jatuh ke tangan ISIS setelah serangan ofensif bulan lalu. Saat itu beredar kabar mengenai opsi yang akan diterapkan bagi kaum Kristen, yaitu boleh tetap tinggal di Mosul dengan membayar pajak khusus, pindah agama, meninggalkan kota itu, atau dibunuh. “Kami terkejut oleh pernyataan bahwa kami harus berpindah agama, atau untuk membayar upeti yang tidak ditentukan, atau meninggalkan kota dengan hanya membawa pakaian yang melekat dan tidak ada bagasi, dan bahwa rumah kemudian akan disita oleh ISIS,” kata Sako.

Dalam beberapa hari terakhir, di rumah-rumah umat Kristen diberi tanda huruf “N” yang berarti “Nassarah”, istilah yang mengacu pada orang-orang Kristen. Meski begitu, ISIS belum mengambil tindakan lebih lanjut.

Ratusan keluarga Kristen Irak, Sabtu (19/7/2014), meninggalkan kediaman mereka di kota Mosul setelah kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memberi ultimatum agar mereka meninggalkan kota itu. Seorang koresponden AFP di Mosul, yang menjadi ibu kota Kekalifan Islam yang diproklamirkan ISIS, mengatakan warga Kristen Irak berdesakan di dalam berbagai kendaraan bergegas mengungsi sebelum tenggat waktu tengah hari habis.

“Sejumlah keluarga bahkan harus kehilangan uang dan harta benda mereka yang dijarah di pos pemeriksaan pemberontak saat mereka meninggalkan kota,” kata Abu Rayan, seorang warga Kristen Irak yang mengungsi. ISIS, yang menguasai Mosul sejak menggelar serangan kilat enam pekan lalu, memberi pilihan bagi warga Kristen Irak yaitu memeluk Islam, membayar pajak, meninggalkan Mosul atau dibunuh.

Sebelumnya, ISIS mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada pilihan lain selain pedang jika warga Kristen Irak tidak menetapkan pilihan yang sudah diberikan pada Sabtu tengah hari waktu setempat. Saat beberapa keluarga Kristen sudah memilih untuk membayar pajak agar bisa tetap tinggal di kediaman mereka, pesan yang dikumandangkan lewat masjid-masjid itu malah memicu eksodus.

Seorang guru yang mengaku bernama Fadi adalah sedikit warga Kristen Irak yang memutuskan tetap tinggal di kota Mosul. “Saya memilih tinggal karena saya sudah merasa seperti orang mati. Kini tinggal nyawa saya yang tersisa. Jika mereka mau mengambil nyawa saya, silakan,” kata Fadi kepada AFP.

Patriach Chaldean Louis Sako, pemimpin komunitas Kristen terbesar di Irak, mengatakan masih terdapat 25.000 orang Kristen di Mosul hingga Kamis lalu. Sementara itu Bulan Sabit Merah Irak mengatakan setidaknya 200 keluarga Kristen telah meninggalkan Mosul di hari Sabtu.

“Ini adalah bentuk pembersihan etnis dan tak ada yang angkat bicara soal ini,” kata Yonadam Kanna, salah satu politisi Kristen ternama Irak. Ancaman kekerasan tak hanya menimpa minoritas Kristen. Nasib kelompok-kelompok minoritas lain seperti Yazidiz, Turkmenistan dan komunitas Syiah Shabak bahkan lebih buruk. Banyak dari anggota komunitas ini diculik dan dibunuh karena menolak memeluk Islam.

Akhirnya Bantuan Rakyat Indonesia Untuk Gaza Tiba

Bantuan kemanusiaan rakyat Indonesia untuk rakyat Gaza, yang disalurkan lewat lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT), telah tiba di Palestina dalam wujud paket bantuan pangan. ACT, dalam siaran persnya yang diterima Rabu (16/7/2014), menyebutkan bahwa sejumlah penduduk Gaza telah menikmati makanan berbuka yang penuh gizi yang disalurkan oleh mitra dan relawan lokal ACT di Gaza pada bulan Ramadhan ini.

Siaran pers itu menyatakan bahwa di tengah perang yang belum menunjukkan tanda-tanda berhenti, relawan ACT bertekad segera mengirim paket makanan, obat-obatan, dan membuka Dapur Umum Ramadhan, serta pengadaan air minum dengan truk tangki air yang akan keliling di Gaza City.

ACT telah secara periodik menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Palestina. Selain bantuan pangan untuk penduduk yang kehilangan mata pencaharian akibat perang, ACT juga mengirim donasi dari masyarakat Indonesia untuk kebutuhan kesehatan melalui Jabaliya Medical Centre. “Pengiriman dana operasional tergantung kebutuhan pihak Jabaliya Medical Centre,” kata Vice President ACT Ibnu Khajar.

Serangan udara Israel dalam beberapa hari terakhir telah membuat penduduk Gaza mengalami kesulitan yang lebih parah. Selain kesulitan memperoleh makanan, penduduk Gaza kesulitan mendapatkan air bersih. “Penduduk Gaza sudah bertahun-tahun kesulitan mendapatkan air bersih karena air tanah disedot pihak Israel untuk keperluan penduduk Kota Tel Aviv dan daerah-daerah sekitarnya,” kata Senior Vice President ACT Imam Akbari.

Kantor di Gaza
ACT juga menyatakan dalam siaran persnya bahwa lembaga itu akan membuka kantor perwakilan di Gaza. Pembukaan kantor itu penting karena konflik Israel-Palestina dipastikan bakal berkepanjangan.

“Perang mungkin sekali waktu berhenti. Namun, efek perang, yang membutuhkan aksi-aksi recovery bagi korban-korban perang, khususnya masyarakat sipil, tidak bisa diselesaikan hanya dalam hitungan hari. Belum lagi masalah insfrastruktur yang hancur atau rusak akibat perang. Dengan pembukaan kantor perwakilan ini, ACT ke depan bisa lebih cepat lagi melakukan aksi-aksi bantuan kemanusiaan dari masyarakat Indonesia, baik yang bersifat emergency maupun recovery,” kata Presiden ACT Ahyudin.

Senin malam lalu, ACT mengirim dua relawan, yakni Andhika P Swasono dan dr Fakhrur Razi, ke Palestina. Mereka akan memasuki Gaza melalui Jordania.

Kisah Pejuang Perempuan Irak Melawan ISIS

Wartawan BBC, Shaimaa Khalil, bertemu dengan anggota unit elite perempuan ketika mereka bersiap-siap untuk bertempur melawan ISIS. Pagi yang cerah di lokasi militer di pinggiran Sulaimaniya, sebuah kota di daerah otonomi Kurdistan, Irak utara. Pasukan terlihat serius dan fokus meskipun panas terik melanda musim panas Irak. Sekilas tempat ini terlihat seperti lokasi militer lainnya. Namun rambut panjang yang diikat dan ditaruh di bawah topi dan sedikit riasan pada wajah, menunjukkan perbedaan.

Siap bertempur
Ini adalah unit perempuan dari Peshmerga, Pasukan Keamanan Daerah Kurdistan, yang sedang menjalani pelatihan intensif. Beberapa anggotanya bersiap-siap untuk pergi bertempur melawan militan dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Komandan Unit, Kolonel Nahida Ahmed Rashid, mengatakan unit ini dibentuk tahun 1996 untuk melawan loyalis mantan Presiden Saddam Hussein. Unit ini terdiri dari beberapa ratus pejuang perempuan yang semuanya merupakan relawan.

Hanya beberapa yang pernah bertempur, tetapi banyak mengatakan kepada komandan mereka, mereka ingin berjuang sejak ISIS menduduki sebagian besar wilayah Irak utara dan barat bulan lalu. Kolonel Rashid mengatakan pasukan perempuannya berlatih setiap hari dan siap bertempur. “Mereka telah dilatih dengan pasukan khusus. Beberapa sudah berjuang bersama rekan-rekan pria dan saya akan mengirim beberapa orang ke Kirkuk segera. Saya sendiri belum lama ini berada di Kirkuk.”

Suportif
Salah seorang perempuan di unit tersebut adalah Awas Tawfiq. Dia juga akan berangkat bertempur. “Saya sangat senang. Saya sudah berlatih selama delapan tahun untuk ini,” katanya. “Saya tidak takut, saya tahu saya akan membela negara saya, saya sangat bersemangat untuk pergi.”

Awas Tawfiq adalah seorang ibu dari dua anak laki-laki remaja. Ia bercerai dari suaminya. Dia menghabiskan dua hari seminggu di tempat militer dan empat hari lainnya bersama anak-anaknya. Awas Tawfiq mengatakan anak-anaknya mengetahui dia berjuang untuk tujuan baik dan mereka sangat mendukungnya. Kolonel Rashid juga menjelaskan para keluarga sangat mendukung keputusan anak dan saudara perempuan mereka untuk bergabung dengan pasukannya.

“Saya punya anak perempuan, dia berusia 10 tahun, dan ketika dia melihat video serangan ISIS di Facebook dan di internet, dia bilang: ‘Tolong ibu, kalau ibu pergi bertempur, tolong bawa saya.’”

Amerika Serikat Jual Apache dan Rudal Patriot ke Qatar

Amerika Serikat akan menjual helikopter tempur Apache dan sistem pertahanan udara Patriot dan Javelin kepada Qatar. Kesepakatan pertahanan kedua negara ini bernilai lebih dari 11 miliar dollar AS atau sekitar Rp 129,5 triliun.

Seorang pejabat pertahanan Amerika kepada kantor berita AFP mengatakan berdasarkan kesepakatan ini Qatar antara lain akan mendapatkan 10 baterai untuk Patriot, sistem pertahanan yang bisa menghadang dan menghancurkan rudal musuh.

Selain itu Qatar akan menerima 24 helikopter Apache dan 500 rudal antitank Javelin.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Amrika menggambarkan hubungan Washington dengan Qatar sebagai “sangat penting” dan kesepakatan penjualan senjata ini menggarisbawahi pentingnya hubungan kedua negara.

“Ini juga akan membantu meningkatkan hubungan militer yang lebih luas antara Amerika dan Qatar, kata sekretaris bidang media di Kementerian Pertahanan Amerika, John Kirby.

Perjanjian ini ditandatangani di kantor Kementerian Pertahanan di Washington oleh Menhan Amerika Chuck Hagel dan mitranya dari Qatar, Hamad bin Ali al-Attiya.

Bagi Qatar ini adalah pembelian rudal Patriot yang pertama.

Negara-negara Teluk lain, seperti Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sudah memiliki sistem pertahanan udara ini.

Israel Peringatkan Warga Palestina Evakuasi dari Gaza Utara

Militer Israel memperingatkan rakyat Palestina di Jalur Gaza utara untuk meninggalkan rumah mereka. Seruan ini disampaikan demi keselamatan warga di wilayah tersebut. “Malam ini kita akan mengirim pesan kepada warga Gaza utara mendesak mereka untuk meninggalkan rumah mereka demi keselamatan mereka sendiri. Saat ini tidak aman berada di dekat Hamas,” bunyi pernyataan militer Israel, Sabtu (12/7/2014) malam waktu setempat.

Peringatan itu disampaikan di saat Israel terus menggelar serangan udara di wilayah tersebut setelah rentetan roket ditembakkan ke Tel Aviv. Setidaknya 16 orang tewas dalam serangan Sabtu malam, termasuk 15 orang di lingkungan Kota Gaza Tuffah.

Kemarin, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak Israel dan kelompok Hamas untuk mengakhiri pertikaian mereka di Gaza. PBB juga meminta kedua pihak menghormati aturan-aturan hukum kemanusiaan internasional serta menghentikan aksi-aksi yang bisa menghilangkan nyawa para korban.

Dalam deklarasi yang dicapai dengan suara bulat, 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB mengimbau pihak-pihak terkait untuk kembali pada masa tenang setelah gencatan senjata November 2012. Dewan Keamanan PBB merasa sangat khawatir terhadap perlindungan dan kesejahteraan warga sipil di kedua belah pihak. Dewan Keamanan PBB juga mengimbau Israel dan Palestina kembali berunding untuk mencapai perjanjian perdamaian yang menyeluruh berdasarkan penyelesaian masalah.

Dewan Keamanan PBB dan Paus Serukan Genjatan Senjata Di Jalur Gaza

ewan Keamanan PBB menyerukan kepada Israel dan Palestina di wilayah Jalur Gaza untuk mengadakan gencatan senjata di tengah peningkatan jumlah korban tewas Palestina. Kelima belas anggota Dewan Keamanan menyetujui pernyataan untuk menyerukan penghentian eskalasi kekerasan dan pemulihan keadaan. Dalam pernyataannya, Sabtu (12/7/2014) Dewan Keamanan PBB juga menyerukan agar perundingan damai dilanjutkan.

Dewan Keamanan meminta “pemberlakukan kembali gencatan senjata November 2012″ yang ditengahi oleh Mesir, tetapi tidak dijelaskan kapan sebaiknya gencatan senjata harus dilakukan. Ini untuk kali pertama Dewan Keamanan PBB mengeluarkan pernyataan sejak Israel memulai operasi terbaru lima hari lalu. Sebelumnya anggota Dewan Keamanan berbeda pendapat menyikapi konflik Israel-Gaza.

Pernyataan yang tidak mengikat itu juga menyebutkan bahwa Dewan Keamanan khawatir akan kesejahtaraan warga sipil di kedua belah pihak. Menurut sumber-sumber Palestina, sedikitnya 133 warga Palestina tewas sejauh ini. Tiga perempat jumlah korban tewas tercatat warga sipil. Israel mengatakan wilayahnya telah diserang dengan 40 roket sejak Jumat dan mengalami kerusakan.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry Minggu (13/7/2014) dijadwalkan akan membicarakan gencatan senjata dengan para menteri luar negeri dari Inggris, Perancis dan Jerman di Vienna, Austria. Paus Fransiskus, sebelum doa Angelus pada Minggu (13/7/2014), menyerukan gencatan senjata di Timur Tengah dan mengatakan bahwa pertemuannya pada Juni lalu dengan presiden Israel dan Otoritas Palestina tidak sia-sia.

“Saya mendesak semua pihak yang berkepentingan dan semua mereka yang punya tanggung jawab politik di tingkat lokal dan internasional untuk tidak berhenti berdoa, maupun berupaya untuk menghentikan permusuhan dan mencapai perdamaian yang diinginkan demi kebaikan semua pihak,” kata Paus. CNN melaporkan, Paus berbicara dalam bahasa Italia dari jendela apartemennya di atas Lapangan Santo Petrus.

Juni lalu, Presiden Otorita Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Israel Shimon Peres berkomitmen untuk mengupayakan perdamaian ketika berkunjung ke Vatikan. Itu pertama kalinya Paus menjadi tuan rumah pertemuan doa bagi dua pemimpin yang terlibat dalam konflik itu.

“Seseorang mungkin berpikir bahwa pertemuan tersebut berlangsung sia-sia. Justru sebaliknya, karena doa membantu kita untuk tidak membiarkan yang jahat menang. Doa membuat (kita) tidak melibatkan diri dalam kekerasan dan kebencian dan lalu melakukan dialog dan rekonsiliasi,” kata Paus.

Doa Angelus merupakan doa tradisional yang dilakukan pada hari Minggu siang setelah sebuah khotbah singkat dari Paus. Konflik antara Israel dan militan Palestina meningkat bulan ini menyusul embunuhan tiga remaja Israel dan seorang remaja Palestina. Sejak Senin lalu, puluhan orang di Gaza telah tewas, kata Kementerian Kesehatan Gaza. Walau beberapa orang Israel terluka, tidak ada warga negara itu yang tewas akibat sejumlah roket yang ditembakkan Hamas dan kelompok militan lainnya di Gaza.

Hacker China Tembus Komputer Pemerintah AS dan Israel

Para peretas China berhasil masuk ke sistem komputer pemerintah AS yang berisi data pribadi seluruh pegawai federal AS. Demikian dilaporkan harian The New York Times, Kamis (10/7/2014). The New York Times kemudian melanjutkan peretasan yang terjadi pada Maret lalu itu nampaknya ditujukan untuk mencari data sejumlah pegawai pemerintah AS yang bisa mengakses berbagai informasi terpenting.

Laporan ini muncul di saat Menteri Luar Negeri AS John Kerry tengah berada di China selama dua hari untuk membahas berbagai isu yang mengganjal hubungan kedua negara, termasuk masalah peretasan. Dalam kasus terbaru ini, peretas berhasil menembus basis data sejumlah komputer di badan kepegawaian federal sebelum ketahuan lalu akses para peretas itu diblokir.

Sejauh ini tidak diketahui seberapa banyak data yang berhasil diperoleh para peretas China itu. Dalam data yang diretas tersebut terdapat banyak informasi soal para pegawai federal yang meminta akses keamanan, daftar kontak internasional mereka, pekerjaan sebelumnya dan data pribadi seperti riwayat penggunaan obat bius.

Seorang pejabat pemerintah kepada The New York Times mengatakan setelah dilacak peretasan itu berawal di China meski belum diketahui apakah para peretas itu bekerja untuk pemerintah. Para peretas menyerang komputer-komputer di Israel, termasuk yang digunakan Kementerian Pertahanan yang berkaitan dengan warga di wilayah pendudukan Tepi Barat. Demikian pakar perlindungan data Israel menjelaskan, Senin (27/1/2014).

“Awal bulan ini sejumlah surat elektronik dikirimkan ke beberapa perusahaan di Israel, termasuk perusahaan keamanan,” kata Aviv Raff, dari perusahaan keamanan siber Israel, Seculert. “Dalam surat itu terdapat tautan yang jika dibuka akan menyebarkan virus, semacam kuda Troya, yang memungkinkan peretas mengendalikan komputer. Salah satu komputer adalah milik Badan Kependudukan,” tambah Raff. Sementara itu, militer Israel enggan berkomentar banyak soal kabar ini. Militer hanya mengatakan tengah menyelidiki masalah tersebut.

Raff tidak mengidentifikasi sumber serangan, tetapi Radio Militer Israel mengatakan, serangan itu kemungkinan besar berasal dari Gaza. Sebanyak 15 komputer di Israel menjadi sasaran.Radio Militer mengatakan, hanya jaringan komputer Badan Kependudukan yang terdampak, dan tidak ada komunikasi rahasia yang bocor.

Para politisi Israel dan pejabat keamanan berulang kali memperingatkan bahaya peretasan dan mengatakan pemerintah sudah berulang kali mengagalkan sejumlah upaya peretasan seperti ini. Sementara itu, PM Israel yang sedang berada di Davos, Swiss, mengatakan bahwa pemerintahannya terus meningkatkan kemampuan pengamanan terhadap serangan siber semacam ini.

“Di era informasi seperti ini, sangat dipahami bahwa informasi adalah sesuatu yang harus dilindungi, sebab jika tidak maka akan terjadi kekacauan,” kata Netanyahu.