Category Archives: Timur Tengah

Nurjannah Wanita Yang Menggunting Kain Penutup Kabah Di Mekah Akhirnya Dibebaskan

Nurjannah binti Amin Sadjo (56), warga Kelurahan Djagong, Pangkajene, Pangkep, yang mendekam di Penjara Khusus Wanita Tan’im, Mekkah, Rabu (5/3/2014), dilaporkan sudah bebas. Nurjannah kini beristirahat di Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah.

“Alhamdulillah, kini sudah di KJRI, tunggu pemulangan,” kata Nuluddin Alwi, pemilik Alfit Tour, biro travel yang memberangkatkan Nurjannah dan rombongannya ke Tanah Suci, sejak tiga pekan lalu.

Sebelumnya diberitakan, Nurjannah tertangkap basah oleh surtah Masjidil Haram, Kepolisian Sektor Masjid Al Haram, Mekkah, saat menggunting kain penutup Kabah, kiswah. Besar guntingannya seukuran alas cangkir teh. Hal itu dilakukan Nurjannah pada Kamis (27/2/2014) petang waktu KSA, atau Jumat (28/2/2014) Wita.

Keesokan harinya, kasus ini langsung disidik. Nurjannah pun dijadikan tersangka. Penyidikan kasus ini dipimpin Inspektur Polisi Abdul Hakim Al Syarif.

Selanjutnya, kasus ini sudah dilimpahkan ke Kantor Badan Investigasi dan Penuntut Umum Mekkah dengan Surat Nomor 181382/20/4/7. Kasus tercatat di Kantor Badan lnvestigasi dan Penuntut Umum dengan nomor perkara: 15278.

“Tim KJRI telah menemui penyidik yang menangani kasus tersebut, Nasir AI Utaibi, di Kantor Badan lnvestigasi dan Penuntut Umum Mekkah dan diperoleh informasi bahwa Nurjannah telah di-BAP satu kali dan BAP kedua dilakukan pada Selasa (4/3/2014),” kata Pelaksana Fungsi Pensosbud KJRI Jeddah Syarif Shahabudin, Selasa (4/3/2014).

Beruntung, kepolisian tidak memperpanjang proses hukum bagi Nurjannah. Berkat upaya dari KJRI Jeddah juga, Nurjannah akhirnya bisa keluar dari penjara.

“Pada akhirnya, pihak penyidik memberikan nasihat kepada Nurjannah untuk tidak melakukan dan mengulangi perbuatannya karena hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam dan sunah Rasulullah dan untuk selanjutnya membebaskan Nurjannah,” ujar Nasir.

Kini, KJRI tengah mengurus administrasi untuk mengatur kepulangan perempuan kelahiran 21 Januari 1958 ini ke Indonesia.

Jemaah Umrah Mengeluh Karena Tarif Hotel Meningkat Tajam

Penuhnya penginapan di sekitar Mekah dan Madinah menyebabkan warga Arab Saudi yang ingin melaksanakan umrah kesusahan. Seluruh kamar penginapan telah dipesan oleh jemaah umrah dari berbagai negara.

“Saya tak dapat mendapatkan kamar untuk keluarga saya di Madinah pada akhir pekan. Kami menghabiskan malam di dalam mobil dan tidur dalam cuaca dingin,” kata Syed Rafi, warga Jeddah.

Mohammed Ghafour, warga Riyadh, mengatakan, “Seluruh hotel di dekat Masjidil Haram Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah telah dipesan oleh biro-biro umrah. Di sana sudah tak ada kamar untuk jemaah umrah lokal. Setelah tiga jam mencari, saya akhirnya berhasil mendapatkan satu kamar di sebuah hotel yang berjarak 10 kilometer dari masjid.”

Banyak warga setempat yang melaksanakan ibadah umrah di Mekah terpaksa tidur di Masjidil Haram, sedangkan di Madinah, mereka memilih tidur di dalam mobil. Ketidaktersediaan akomodasi hotel memaksa para jemaah umrah lokal menghabiskan malam yang dingin di dalam mobil atau di sekitar Masjidil Haram.

“Sebuah ide yang bagus bila manajemen hotel menyediakan sejumlah kamar untuk jemaah lokal di dekat Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Hal tersebut dapat memudahkan keluarga yang membawa anak-anak dan orang tua untuk beribadah di Tanah Suci,” ucap Ahmed Sayeed, warga setempat.

Selain itu, sejumlah warga lokal yang melaksanakan umrah mengeluhkan kenaikan tarif kamar hotel. Tarif kamar melambung hingga sepuluh persen.

Habib Ali, salah seorang jemaah umrah asal Dammam, mengatakan, “Hotel yang tarifnya terjangkau di dekat Masjidil Haram telah dipesan (jemaah umrah lain), sedangkan kamar yang tersedia harganya terlalu mahal.”

Dia menambahkan, “Hotel yang tarifnya terjangkau di Mekah dan Madinah memasang harga SR600-SR700 (sekitar Rp 1,8-2 juta) per malam. Bila ingin mendapatkan layanan lebih bagus maka harus merogok kocek SR800 (sekitar Rp 2,5 juta).”

Menanggapi keluhan tersebut, salah seorang manajer hotel di Mekah mengatakan, “Sepertinya telah terjadi peningkatan jemaah umrah dari berbagai negara, sehingga berdampak pada harga tarif kamar hotel.”

Hotel Madinah Kebakaran …. 15 Jemaah Meninggal Dunia

Lima belas orang tewas dan sekitar 130 luka-luka ketika kebakaran terjadi di sebuah hotel yang dihuni oleh jemaah umrah di Kota Madinah, Arab Saudi, Ahad, 9 Februari 2014. Menurut berita yang dilansir kantor berita Arab Saudi, semua jemaah umrah yang meninggal berasal dari Mesir. Soal penyebab kebakaran, menurut stasiun televisi pemerintah Mesir, karena adanya hubungan listrik arus pendek (korsleting).

Tim penyelamat membutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk memadamkan api. Penghuni hotel yang ada di dekatnya juga dievakuasi sebagai langkah pencegahan. Sekitar 700 jemaah tinggal di hotel itu pada waktu kebakaran terjadi. Pihak berwenang Arab Saudi sedang menyelidiki penyebab kebakaran tersebut.

Sekali dalam setahun, umat Islam dunia melakukan ibadah haji ke Mekah, kota suci umat Islam. Namun, sepanjang tahun, umat Islam juga dapat melakukan umrah di Arab Saudi, termasuk ke situs kedua paling suci bagi umat Islam, Madinah.

Polisi Irak Wafat Sebagai Martir Setelah Peluk Teroris Pelaku Bom Bunuh Diri Untuk Selamatkan Warga Tak Berdosa

Kisah mengharukan datang dari seorang polisi Irak. Polisi ini mengorbankan nyawanya demi melindungi para peziarah di Khales, Irak. Polisi pemberani ini memeluk pelaku bom bunuh beberapa saat sebelum pelaku meledakkan diri, demi melindungi warga sipil yang ada di sekitarnya.

Ayyub Khalaf tewas dalam ledakan tersebut. Polisi berusia 34 tahun ini telah berkeluarga dan memiliki dua anak, yang berusia 6 tahun dan 9 tahun. Tindakan berani Khalaf berhasil meminimalisir korban tewas dalam insiden tersebut.

Sedikitnya 5 orang tewas dan 10 orang lainnya luka-luka dalam insiden ini. Seorang kolonel polisi setempat menyatakan, korban tewas akan lebih banyak jika Khalaf tidak dengan berani mengorbankan nyawanya.

Kolonel polisi yang enggan disebut namanya tersebut menerangkan, Khalaf tanpa rasa takut mendekati pelaku dan melingkarkan lengannya untuk memeluk pelaku bom bunuh diri tersebut, sesaat sebelum ledakan terjadi. Seperti dilansir AFP, Kamis (19/12/2013), insiden ini terjadi di wilayah Khales, Baghdad yang tengah dipenuhi para perziarah spiritual.

“Ayyub menjadi martir melindungi para peziarah. Namanya akan menjadi simbol abadi karena dia menyelematkan puluhan orang tak berdosa,” ucap seorang rekan Khalaf, Saad Naim.

Sepupu Khalaf, Hassan Jassem memuji aksi berani Khalaf. “Sepupu saya, Ayyub Khalaf berdiri di hadapan terorisme ketika dia menyelamatkan… para peziarah dari kematian. Kami sangat bangga terhadapnya,” tuturnya.

Kolega Khalaf di kepolisian, Jaafar Khamis juga memuji keberanian rekannya ini. Menurut Khamis, Khalaf sengaja mengorbankan dirinya untuk negara.

“Ayyub itu teman saja sejak masa sekolah. Dia seorang pria pemberani yang mencintai negaranya dan rela mengorbankan dirinya untuk itu,” pujinya.

“Saya sangat bangga terhadapnya, karena dia berani menghadapi terorisme dan mampu membungkam suara kekerasan dan ketidakadilan dengan mengorbankan raga dan jiwanya,” tandas Khamis.

Turki Serahkan dan Bocorkan Daftar Nama Agen Mossad Ke Iran

Kantor Perdana Menteri Turki, Kamis 17 Oktober 2013, menolak untuk mengomentari laporan Washington Post yang mengatakan bahwa Turki sengaja membocorkan identitas warga Iran yang menjadi mata-mata dinas rahasia Israel, Mossad, awal 2012 lalu. Mata-mata itu kabarnya dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi intelijen bagi Mossad soal program nuklir Republik Islam itu.

Di Washington Post edisi 17 Oktober 2013, kolumnis David Ignatius menulis, Israel menjalankan jaringan mata-matanya di Iran di luar Turki. Tapi, itu memberikan kesempatan bagi dinas intelijen Turki untuk memantau gerakan mereka. Pejabat Amerika Serikat mengatakan, Israel percaya Turki tidak akan membocorkan rahasia ini karena kedua negara sudah bekerjasama puluhan tahun.

Namun pada awal 2012, kata Ignatius, pemerintah Ankara memberi Teheran identitas sekitar 10 Iran yang telah melakukan perjalanan ke Turki untuk bertemu agen Mossad. Pembocoran informasi ini mengakibatkan kerugian “signifikan” bagi intelijen Israel.

Pada April 2012, Pemerintah Iran mengumumkan bahwa mereka berhasil membongkar jaringan besar mata-mata Israel dan menangkap 15 orang. Tapi tidak jelas apakah penangkapan ini berkaitan dengan pembocoran identitas agen Mossad oleh Turki itu atau karena hal lain.

Seorang pejabat di Ankara, yang bersedia berbicara asal tidak disebutkan namanya, mengatakan, laporan soal pembocoran identitas agen Mossad itu sebagai paya untuk mendiskreditkan Turki oleh kekuatan asing yang merasa tidak nyaman dengan pengaruh negara sekuler ini yang berkembang di Timur Tengah.

Apa yang ditulis Washington Post ini adalah laporan kedua oleh media Amerika dalam beberapa minggu ini yang menuduh kepala intelijen Turki, Hakan Fidan, mentransfer informasi intelijen sensitif kepada Iran. Artikel sebelumnya , yang diterbitkan di Wall Street Journal pekan lalu, juga mengungkap hal senada.

Namun, meskipun ada sejumlah keberatan terhadap Fidan, kepala Mossad, Tamir Pardo, bertemu dengan dia beberapa kali, menurut laporan media. Pendahulu Pardo, Meir Dagan, memiliki keberatan serius tentang Fidan. Ia menudingnya berfungsi sebagai agen Iran. Dagan juga berhasil meyakinkan Menteri Pertahanan Ehud Barak, yang tak lama setelah insiden Gaza Flotila pada Mei 2010, secara terbuka menyuarakan keprihatinan bahwa Turki bisa membagikan rahasia intelijen Israel kepada Iran.

“Ada beberapa rahasia kita ( dipercayakan ke Turki ) dan berpikir bahwa ini bisa terbuka untuk Iran selama beberapa bulan ke depan … ini cukup mengganggu,” kata Radio Angkatan Darat mengutip pernyataan Ehud Barak, Agustus 2010.

Tapi tidak semua orang di komunitas intelijen Israel setuju dengan kecurigaan Meir Dagan terhadap Fidan. Setelah menjabat sebagai kepala Mossad pada Januari 2011, Pardo mengadopsi pandangan yang berlawanan dan membangun kembali hubungan dengan Fidan.

David Meidan, yang sebelumnya memimpin divisi hubungan luar negeri Mossad dan kemudian menjabat sebagai utusan khusus pemerintah dalam negosiasi dengan Hamas untuk mengembalikan tentara yang diculik Gilad Shalit, juga mempertahankan kontak dengan Fidan. Dia bahkan membujuk Ankara untuk menerima beberapa tahanan Palestina yang dibebaskan dalam pertukaran untuk Shalit tapi melarangnya kembali ke salah satu daerah Palestina, entah ke Gaza atau Tepi Barat.

Pada November 2012, selama Operasi Pilar Pertahanan di Gaza, Pardo dan Fidan bertemu dua kali di Kairo untuk membahas upaya untuk menengahi gencatan senjata antara Israel dan Hamas, kata laporan di media Turki. Pertemuan tersebut terungkap saat ada konferensi Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan.

Selain itu, pada bulan Juni tahun ini, suratkabar Turki Hurriyet Daily News melaporkan bahwa Pardo telah melakukan perjalanan rahasia ke Ankara untuk bertemu dengan Fidan dan bahkan memintanya untuk mengatur pertemuan dirinya dengan Tayyip Erdogan.

Menurut Hurriyet Daily News, pertemuan 10 Juni 2013 itu membagas keterlibatan Iran dalam perang sipil Suriah, kemajuan program nuklir Iran, dan kerjasama intelijen Israel -Turki mengenai situasi di Suriah. Topik-topik semacam ini kemungkinan tak akan dibahas jika Israel mencurigai Fidan sebagai agen Iran.

Laporan Washington Post ini memicu kemarahan pejabat di Ankara, yang sebelumnya sudah membela diri setelah ada artikel serupa di Wall Street Journal, pekan lalu. AK, seorang pejabat senior partai Erdogan, mengatakan, tuduhan tersebut adalah bagian dari upaya yang disengaja untuk mendiskreditkan Turki dan melemahkan perannya di wilayah tersebut, menyusul pemilihan Presiden Iran baru Hassan Rohani.”

” Turki adalah kekuatan regional dan ada pusat-pusat kekuasaan yang tidak nyaman dengan ini … Cerita seperti ini adalah bagian dari kampanye , ” kata pejabat itu , yang meminta untuk tidak diidentifikasi karena sensitifnya isu ini. ” Ini jelas tujuan dari beberapa adalah untuk merusak astmosfir suasana politik moderat setelah pemilu Rohani… dan untuk menetralisir Turki, yang memberikan kontribusi untuk memecahkan masalah di wilayah tersebut dan memiliki hubungan dengan Iran.”

Wakil Menteri Luar Negeri Israel Zeev Elkin, juga menolak untuk mengomentari laporan Washington Pos dan mengatakan kepada Radio Israel bahwa hubungan dengan Turki adalah “sangat kompleks . “Orang-orang Turki membuat keputusan strategis … untuk mencari kepemimpinan di Timur Tengah , dan mereka memilih kartu nyaman anti-Israel untuk membangun kepemimpinannya, ” katanya kepada stasiun radio.

Presiden AS Barack Obama mencoba untuk menengahi sengketa antara Turki dan Israel pada bulan Maret 2013, yang tegang setelah insiden penyerangan tentara Israel ke kapal Gaza Flotilla, 1 Mei 2012. Serangan itu menewaskan sembilan awak kapal Flotila, delapan di antaranya berkewarganegaraan Turki. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akhirnya meminta maaf atas serangan itu setelah dilobi oleh Obama, untuk memulihkan hubungan Turki dan Israel.

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan tahun lalu diduga membocorkan identitas 10 warga negaranya yang bekerja sama dengan dinas rahasia Israel, Mossad, ke Iran. Menurut kolumnis David Ignatius dalam Washington Post edisi 17 Oktober 2013, warga Iran itu disebut kerap bertemu dengan agen Mossad di Turki.

Ignatius, mengutip sumber-sumber yang dimilikinya, menggambarkan kerusakan yang disebabkan oleh pembocoran identitas agen Mossad itu “signifikan”. Ia menyebut langkah pemerintah Ankara itu sebagai “upaya Turki menampar Israel”.

Menurut laporan surat kabar tersebut, kebocoran itu adalah salah satu alasan di balik penolakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meminta maaf kepada Turki mengenai insiden Gaza Flotilla, 31 Mei 2010. Penyerbuan tentara Israel ke kapal yang akan mengirim bantuan ke Gaza itu menyebabkan sembilan aktivis (delapan berkewarganegaraan Turki) tewas. Netanyahu akhirnya bersedia meminta maaf kepada Turki atas insiden itu setelah Presiden AS Barack Obama mengunjungi Israel, Maret 2013.

Ignatius mengatakan, meskipun akhirnya Israel meminta maaf atas insiden itu, hubungan kedua negara tetap tegang. Para pejabat Israel juga curiga kepada kepala intelijen Turki, Hakan Fidan. Kepada dinas rahasia Amerika Serikat Central Intelligence Agency (CIA), Israel menyebut Fidan adalah “Kepala Kantor MOIS (Ministry of Intelligence and Security) di Ankara”. MOIS adalah Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran.

Meskipun ada keluhan Israel soal pembocoran identitas agen itu, Amerika Serikat tidak mempersoalkannya kepada Turki. Ignatius juga menulis, para pejabat senior AS mengatakan bahwa mereka tidak tahu sampai hari ini apakah kebocoran itu bagian dari reaksi Turki atas insiden Flotila, atau apakah itu terkait dengan rusaknya hubungan Israel dan Turki.

Menurut laporan Washington Post itu, para pejabat AS mengatakan, Mossad telah bekerja sama dengan Turki selama lebih dari 50 tahun, dan karena itu mereka tidak memiliki kekhawatiran bahwa Turki akan memberikan nama-nama agen-agen Mossad itu ke musuhnya, Iran.

Perancis Akan Bertindak Memakai Kekerasan Bila Pemerintah Suriah Terbukti Gunakan Senjata Kimia

Perancis akan bereaksi dengan “kekuatan” jika pembantaian menggunakan senjata kimia di Suriah terbukti benar. Demikian pernyataan Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius, Kamis (22/8/2013), seperti dikutip AFP.

“Jika itu (serangan senjata kimia) terbukti, maka Perancis menyatakan harus ada sebuah reaksi,” kata Fabius.

Lebih jauh Fabius mengatakan, reaksi yang dimaksudkannya adalah reaksi dengan “kekuatan”, tetapi dia menegaskan sangat tidak mungkin mengirim pasukan militer ke Suriah.

Pada Juni lalu, Fabius sempat memunculkan kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk menghancurkan pusat produksi senjata kimia Suriah, setelah Perancis memastikan Damaskus memiliki senjata kimia.

Namun, dalam pernyataan terbarunya, Fabius tidak menyinggung soal kemungkinan intervensi militer di Suriah terkait kepemilikan senjata kimia.

“Jika Dewan Keamanan PBB tidak mengambil keputusan, maka saat ini keputusan harus diambil dengan cara lain. Bagaimana caranya? Saya tak ingin berbicara lebih jauh lagi,” kata dia.

Saat ini, DK PBB tengah mencari kejelasan soal klaim serangan senjata kimia itu. Namun, para diplomat di PBB mengatakan DK PBB tidak akan bisa menghasilkan deklarasi bulat karena tentangan dari China dan Rusia, yang selama dua tahun terakhir mati-matian membela Damaskus.

Dalam kondisi ini, lanjut Fabius, Rusia harus menunjukkan tanggung jawabnya.

“Kita tengah berada dalam fase di mana dunia harus yakin bahwa anggota DK PBB tetap konsisten. Semua mengatakan senjata kimia tak boleh digunakan. Semua negara menandatangani konvensi internasional soal pelarangan senjata kimia, termasuk Rusia,” papar Fabius.

Sebelumnya, kelompok oposisi Suriah mengklaim 1.300 orang tewas setelah pasukan rezim Bashar al-Assad menyerang kawasan Ghouta di pinggiran Damaskus dengan menggunakan senjata kimia.

Arab Saudi Minta Dunia Internasional Bantu Pemerintah Mesir Ciptakan Kedamaian

Pemerintah Arab Saudi mengharapkan dukungan dunia bagi upaya pemerintah interim Mesir untuk menciptakan stabilitas di negeri itu. Komunitas internasional pun diminta untuk tidak menghambat upaya-upaya tersebut.

“Kami harap komunitas internasional mendukung upaya-upaya pemerintah Mesir untuk mencapai apa yang kita semua inginkan — keamanan, stabilitas dan kemakmuran,” kata Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Saud al-Faisal kepada kantor berita AFP, Rabu (21/8/2013).

“Kerajaan mendesak komunitas internasional untuk tidak mengambil langkah-langkah yang bisa menghambat upaya-upaya pemerintah Mesir untuk menstabilkan negara,” tegas Pangeran Saud.

Pernyataan ini disampaikan seiring para menteri Uni Eropa akan menggelar pertemuan hari Rabu ini di Brussels, Belgia untuk membahas krisis Mesir. Diperkirakan dalam pertemuan itu Uni Eropa akan menyampaikan kecaman atas tindakan aparat Mesir dalam menghadapi para demonstran pendukung presiden terguling Mohamed Morsi.

Sebelumnya, Pangeran Saud mengumumkan bahwa negara-negara Arab siap membantu Mesir jika negara-negara Barat menghentikan paket bantuan untuk Kairo. Saudi dan negara-negara Teluk lainnya menyambut baik penggulingan Morsi oleh pihak militer Mesir pada 3 Juli lalu. Pemerintah Saudi bahkan mengumumkan paket bantuan senilai US$ 5 miliar untuk Mesir. Kuwait dan Uni Emirat Arab pun mengambil langkah serupa dengan menjanjikan bantuan miliaran dolar AS untuk Mesir.

Aparat Mesir kembali melakukan penahanan dua tokoh Ikhwanul Muslimin. Keduanya adalah seorang pendakwah terkemuka dan seorang juru bicara kelompok tersebut.

Menurut sumber militer Mesir seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (21/8/2013), pendakwah Safwat Hegazy ditangkap di dekat perbatasan Mesir dengan Libya. Hegazy telah menjadi buronan setelah surat perintah penangkapan atas dirinya dikeluarkan menyusul penggulingan presiden terpilih Mohamed Morsi.

Sementara Mourad Ali, juru bicara partai Kebebasan dan Keadilan Ikhwanul Muslimin ditangkap di bandara Kairo saat dia akan bertolak menuju Italia. Sumber bandara mengatakan, Ali yang namanya masuk dalam daftar dilarang terbang ‘telah mencukur jenggotnya, meninggalkan jubah putihnya dan mengenakan pakaian barat.”

Sebelumnya, pemimpin Ikhwanul, Mohamed Badie juga ditahan pada Selasa, 20 Agustus pagi waktu setempat. Pada Juli lalu, otoritas Mesir mengeluarkan sekitar 300 surat perintah penangkapan terhadap para anggota Ikhwanul Muslimin.

Muslim Sunni Irak Dihadiahi Bom Oleh Al Qaeda Untuk Idul Fitri … 80 Orang Tewas

Kelompok militan yang berafiliasi dengan Al Qaeda, dalam pernyataannya, Senin (12/8/2013), mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan bom yang menewaskan puluhan orang tepat pada hari raya Idul Fitri lalu.

Kelompok militan itu, Negara Islam Irak dan Levant (ISIL), bahkan mengancam akan terus melakukan serangan serupa di wilayah Irak.

ISIL terbentuk awal tahun ini melalui merger kelompok-kelompok afiliasi Al Qaeda di Suriah dan Irak.

Levant atau Bilad ash-Sham adalah nama lain kawasan Mediterania Timur antara Anatolia (Turki) hingga Mesir. Kawasan ini meliputi Lebanon, Suriah, Jordania, Israel, Palestina, Siprus, wilayah selatan Turki, dan Semenanjung Sinai.

“ISIL melakukan serangan di Baghdad dan wilayah selatan Irak dan tempat-tempat lain untuk memberikan sebuah pesan,” demikian pernyataan ISIL, yang dikutip SITE sebuah kelompok yang memantau situs-situs kelompok militan.

ISIL juga mengklaim bertanggung jawab atas pembobolan dua penjara besar di Irak bulan lalu yang mengakibatkan ratusan tahanan, termasuk para anggota Al Qaeda, melarikan diri.

“Mereka akan membayar mahal atas perbuatannya. Tak akan ada hari yang aman baik selama Idul Fitri atau sesudahnya,” lanjut ISIL.

“Mereka harus mewaspadai langkah dan menghentikan penahanan serta berhenti menyakiti kelompok Sunni,” tambah ISIL.

Tepat pada hari raya Idul Fitri lalu serangkaian serangan bom menghantam pasar, kafe, dan sejumlah taman saat warga Irak merayakan berakhirnya bulan Ramadhan.
Akibat serangan itu, hampir 80 orang tewas dan ratusan lainnya menderita luka.

Ramadhan tahun ini menjadi bulan puasa paling berdarah di Irak selama beberapa tahun belakangan. Sedikitnya 1.000 orang tewas dalam satu bulan terakhir akibat berbagai serangan di Irak.

Ratusan Perempuan Ditelanjangi dan Diperkosa Selama Demonstrasi Anti Presiden Morsi

wanita mesir diperkosaHuman Right Watch mengungkapkan data lebih banyak mengenai korban kekerasan seksual dalam demonstrasi anti-pemerintah di Mesir. Mereka menyatakan sekitar 100 orang wanita menjadi korban pelecehan seksual selama aksi demonstrasi di Mesir. Sebagian dari mereka mengaku diperkosa atau mengalami percobaan perkosaan.

Dalam serangan yang khas, sekelompok laki-laki mengepung satu perempuan dan mulai merobek pakaian si perempuan sampai dia telanjang. Sebagian besar korbannya juga mengaku diraba-raba.

“Tiba-tiba, aku berada di tengah, dikelilingi oleh ratusan orang dalam lingkaran yang semakin mengecil dan kemudian mulai melakukan pelecehan,” kata seorang korban. “Pada saat yang sama, mereka menyentuh dan meraba-rabaku di mana-mana dan ada begitu banyak tangan di bawah bajuku dan di dalam celanaku.”

HRW menyatakan, jumlah pelecehan meningkat sejak empat hari menjelang Presiden Muhamed Mursi lengser. “Massa diserang secara seksual dan dalam beberapa kasus diperkosa, setidaknya 91 perempuan di Tahrir Square … di tengah iklim impunitas,” kata pernyataan HRW, yang berbasis di New York, dalam sebuah pernyataan.

Lembaga ini mengutip data dari Egyptian Operation Anti-Sexual Harassment/Assault, yang membuka hotline 24 jam bagi korban kekerasan seksual. Angkanya, 46 serangan terhadap perempuan dilakukan pada hari Minggu, 17 serangan pada hari Senin, dan 23 serangan pada hari Selasa.

HRW meminta para pejabat Mesir dan pemimpin politik “di seluruh spektrum untuk mengutuk insiden ini dan mengambil langkah-langkah segera untuk mengatasi tingkat kekerasan seksual yang makin mengerikan” di Tahrir Square.

“Ini adalah kejahatan serius yang menghalangi perempuan untuk turut berpartisipasi penuh dalam kehidupan masyarakat Mesir pada titik kritis dalam pembangunan negara,” kata Joe Stork, Direktur HRW wilayah Timur Tengah.

Beberapa korban bahkan memerlukan intervensi bedah setelah serangan. “Beberapa dari mereka dipukuli dengan rantai logam, tongkat, dan kursi, dan menyerang dengan pisau,” katanya.

Siapa pelakunya? Ada yang mengatakan serangan yang dipentaskan oleh preman yang menyalahgunakan kekosongan keamanan dan percaya tak akan ada proses hukum atas tindakannya. Yang lain mengatakan serangan-serangan itu dilakukan secara terorganisasi (karena banyaknya korban, sistematis dan kesamaan metode) oleh Presiden Morsi untuk menakut-nakuti perempuan dan menodai citra demonstrasi anti-pemerintah yang damai. Dan seperti Presiden Morsi menuntut mantan presiden Hosni Mubarak terhadap jatuhnya korban jiwa selama demonstrasi berdarah waktu lalu kini rakyat muslim mesir juga menginginkan agar Presiden Morsi dimintai pertanggung jawaban dan dihukum untuk itu.

Kakek Umur 92 Tahun Nikahi Gadis Perawan Cantik Umur 22 Tahun

kakek umur 92 tahun nikahi gadis perawan umur 22 tahun di irakSeorang kakek berumur 92 tahun di Irak menikahi seorang wanita muda yang usianya terpaut 70 tahun di bawahnya! Menariknya lagi, pernikahan itu digelar berbarengan dengan pernikahan dua cucu laki-lakinya yang masih remaja.

Musali Mohammed al-Mujamaie mempersunting wanita berumur 22 tahun, Muna Mukhlif al-Juburi pada Kamis, 4 Juli malam waktu setempat. Pernikahan itu digelar tiga tahun setelah kematian istri pertama sang kakek yang telah dinikahinya selama 58 tahun. Dari perkawinan itu, sang kakek dikaruniai 16 anak.

“Saya sangat bahagia bisa menikah berbarengan dengan cucu-cucu saya,” tutur Mujamaie kepada kantor berita AFP, Sabtu (6/7/2013) usai acara pernikahan itu.

“Saya merasa seperti berumur 20 tahun!” seru kakek yang tinggal di desa Gubban, sebelah selatan kota Samarra, Irak tengah.

Menurut Mujamaie, pernikahan kedua cucu laki-lakinya itu telah beberapa ditunda karena harus mengatur jadwal pernikahannya. Dengan demikian kakak dan kedua cucunya yang berumur 17 tahun dan 16 tahun itu, bisa melangsungkan pernikahan di hari yang sama.

Pesta pernikahan itu berlangsung sekitar empat jam, dengan dimeriahkan oleh tarian-tarian dan musik. Pernikahan itu dihadiri pula oleh para tokoh agama dan kesukuan setempat.

Selamat ya, Kek!