Category Archives: Timur Tengah

ISIS Mulai Berhasil Kuasai Sepertiga Kota Kobani Di Suriah

Kaum militan Negara Islam atau ISIS, Kamis (9/10/2014), mengontrol lebih dari sepertiga kota Kobani, Suriah, yang terletak di dekat perbatasan dengan Turki setelah memukul mundur para pejuang muslim Sunni Kurdi. “Meski ada perlawanan sengit dari pasukan Muslim Sunni Kurdi, ISIS bergerak maju pada malam hari dan menguasai lebih dari sepertiga Kobani,” kata Rami Abdel Rahman, Direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, kepada kantor berita AFP.

Ia mengatakan, seorang pemimpin milisi Kurdi dan sejumlah anak buahnya tewas saat kaum militan ISIS menguasai sebuah bangunan yang pejuang Kurdi gunakan sebagai basis di timur laut kota itu. Sementara itu wanita pejuang Kurdi meledakan bom bunuh diri ditengah militan ISIS yang menewaskan sedikitnya 20 militan ISIS. Laju pergerakan militan ISIS terjadi meski ada serangan udara intensif yang dipimpin AS yang bertujuan untuk mencegah Kobani jatuh ke tangan kaum militan itu.

Kota itu, yang juga dikenal dengan nama Ain al-Arab, akan menjadi sebuah hadiah besar bagi ISIS. Dengan menguasai kota itu, ISIS dapat melakukan kontrol atas wilayah luas yang membentang dari perbatasan Suriah dengan Turki hingga ke Raqqa, kota yang telah dinyatakan sebagai ibu kota kelompok itu. Pertempuran jalanan yang intens berkecamuk di kota Kobani, Suriah, Senin (6/10/2014), saat kaum militan ISIS mendekat untuk menguasai wilayah penting di perbatasan dengan Turki itu.

Seorang saksi mata dari dalam kota itu mengatakan kepada CNN, kaum militan ISIS menancapkan bendera mereka di sebuah bukit di sisi timur Kobani, kemudian bertahan demi membuka rute bagi pasukannya. Para kru CNN, Senin, juga melihat sendiri apa yang tampak seperti bendera hitam ISIS berkibar dari puncak sebuah bukit di sisi timur kota itu. Bendera tersebut berada lebih jauh di dalam sisi timur kota itu ketimbang sebuah bendera yang terlihat berada di atas sebuah gedung dalam video Reuters dan juga terlihat oleh para kru CNN.

Saksi mata itu mengatakan, puluhan milisi muslim sunni Kurdi yang mempertahankan kota itu terluka dan tewas, sedangkan ratusan militan ISIS juga tewas saat bentrokan berlangsung dari jalan ke jalan karena milisi Kurdi lebih mengetahui medan tempur dikota tersebut.

Jatuhnya kota itu akan membawa simbol dan dampak strategis yang besar, yang akan membuat ISIS menguasai sebuah wilayah yang tidak terganggu yang terbentang antara perbatasan Turki hingga ke Raqqa yang telah dinyatakan sebagai ibu kota kelompok itu, yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Kobani.

Militer Turki, yang telah menempatkan pertahanan di sepanjang perbatasan dalam beberapa hari terakhir saat pertempuran berkobar, menghalangi orang-orang melarikan diri dari kota yang terkepung itu untuk melintasi perbatasan. “Kami ingin pergi ke seberang!” teriak calon pengungsi ketika mereka menempel di pagar perbatasan.

Seorang saksi mata di dalam kota Kobani mengatakan kepada CNN bahwa ia telah menunggu untuk meninggalkan kota itu bersama ratusan orang lain sejak hari Minggu malam. “Kami akan terbunuh jika kami tetap tinggal,” katanya. Saat kaum militan ISIS menyerang dengan menggunakan tank dan artileri berat, para pembela kota ini bersumpah untuk terus berjuang. “Kami takut akan hal ini. Kami berkewajiban untuk mempertahankan rumah kami, kota kami,” kata pejabat Kurdi Kobani, Idriss Nassan. “Kami tidak memilih perang ini, tetapi kami berkewajiban untuk melawan demi membela agama”

ISIS berhasil mendekati Kobani meskipun ada serangan udara Amerika Serikat dan pasukan sekutu selama akhir pekan dan pada hari Senin. Serangan udara terbaru itu menyasar dua posisi pertempuran dekat Kobani dan dua tank dekat Raqqa, serta dua unit kecil ISIS, dua posisi mortir dan sebuah bangunan di Irak, kata militer AS, Senin.

Seorang pejabat pertahanan senior AS mengatakan akan melancarkan lebih banyak serangan udara terhadap sasaran ISIS di daerah Kobani pada Senin. Namun hal itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Seorang pejabat senior militer lain mengatakan banyak target ISIS di Kobani yang terlalu dekat dengan perbatasan Turki atau pasukan Kurdi untuk diserang. Dan Pentagon, kata pejabat itu, yakin situasi di Kobani telah dibesar-besarkan karena wartawan ada di sana. Banyak kota-kota lain telah jatuh ke tangan ISIS tanpa ada kru televisi yang hadir, kata pejabat itu.

Nassan mengatakan, dia tidak terlalu peduli apa peran serangan udara AS ke depan. “Ketika saya berbicara dengan orang-orang di sini di Kobani, mereka mengucapkan terima kasih kepada masyarakat internasional, dan Amerika Serikat, mereka mengucapkan terima kasih kepada negara-negara yang menyerang ISIS. Namun semua orang yakin itu tidak cukup,” katanya. “Masyarakat internasional tidak dapat mengalahkan ISIS dengan hanya menyerang mereka dari langit. Mereka harus membantu orang-orang yang sedang berperang, yaitu (Unit Perlindungan Rakyat Kurdi) YPG, (pemberontak) Tentara Pemebebasan Suriah yang ada di sini, di darat.”

Para pejuang muslim sunni Kurdi dan militan ISIS terlibat bentrokan sengit untuk merebut kota perbatasan Kobani di Suriah, yang menimbulkan korban tewas cukup besar pada kedua pihak dan bantuan senjata berat berdatangan dari wilayah sekitar kepada militan ISIS.

Badan Pemantau HAM Suriah yang berkantor di Inggris melaporkan sedikitnya 370 militan ISIS dan 19 pejuang muslim Kurdi tewas dalam pertempuran hari Minggu dan Senin. Jumlah ini termasuk seorang pejuang perempuan Kurdi yang meledakkan dirinya dan menewaskan sejumlah militan ISIS.

Sebuah bendera hitam dengan tulisan Arab yang serupa dengan bendera ISIS juga terlibat berkibar di sebuah gedung di kota Kobani, yang berbatasan dengan Turki, tetapi pasukan Kurdi mengatakan mereka sedang mengusir para militan itu. Tembakan mortir masih menghujani kota yang juga dikenal sebagai Ayn Al-Arab itu. Amerika dalam tiga minggu ini telah berupaya mencegah kemajuan pasukan ISIS dan militer Amerika hari Senin berhasil menghancurkan dua posisi tempur militan itu dalam serangan terbaru mereka.

Gadis Yazidi Kisahkan Pengalaman Horornya Menjadi Budak Seks ISIS

Seorang gadis muda dari komunitas agama minoritas Yazidi yang ditangkap Negara Islam di Irak dan Suriah atau yang lebih dikenal dengan nama ISIS melukiskan horor yang dialaminya selama disekap menjadi budak seks kelompok ekstremis itu dan satu satu harapannya agar pasukan muslim Kurdi Peshmerga (milisi Islam Kurdi) datang menjadi pembebas bagi mereka.

Gadis 17 tahun itu mengatakan, dia merupakan salah satu dari sekelompok 40-an perempuan Yazidi yang masih disekap dan hingga kini setiap hari mengalami pemerkosaan oleh kaum militan ISIS. Gadis itu mengatakan, dirinya ditangkap 3 Agustus lalu dalam sebuah serangan ISIS terhadap kota Sinjar di Irak utara dan sekarang sedang disekap dalam perbudakan seksual dengan kondisi mengerikan di sebuah desa di selatan Mosul.

Sejumlah ekstremis asal Inggris yang berperang di Suriah dan Irak telah membual di Twitter dan media sosial lainnya bahwa sejumlah perempuan Yazidi telah diculik dan dijadikan “budak seks”. Gadis muda itu mengatakan, dia sedang ditahan di sebuah bangunan dengan jendela berjeruji dan dijaga sejumlah pria bersenjata.

“Saya mohon kepada Anda untuk tidak memublikasikan nama saya karena saya sangat malu dengan apa yang mereka lakukan terhadap saya. Sebagian diri saya sudah ingin mati saja. Namun, yang sebagian masih berharap bahwa saya akan diselamatkan dan sehingga saya akan dapat merangkul orangtua saya sekali lagi,” katanya kepada harian Italia, La Repubblica. Laporan La Repubblica itu kemudian dikutip sejumlah media lain, antara lain harian The Telegraph dari Inggris. La Repubblica berhasil mewawancarai gadis itu dengan menelepon ke telepon genggamnya. Nomor kontaknya diberi oleh orangtuanya yang kini berada di sebuah kamp pengungsi di Kurdistan, Irak.

Perempuan itu mengatakan, para penculiknya awalnya menyita ponselnya dan semua ponsel milik perempuan lainnya. Namun, para penculiknya kemudian “mengubah strategi”. Mereka mengembalikan ponsel-ponsel para perempuan itu sehingga mereka bisa menceritakan kepada dunia luar bagaimana pengalaman mereka menjadi budak seks yang terjadi pada mereka. “Untuk lebih menyakiti kami, mereka mengatakan kepada kami agar menjelaskan secara rinci kepada orangtua kami apa yang mereka lakukan. Mereka menertawakan kami karena mereka berpikir mereka tak terkalahkan. Mereka menganggap diri mereka “superman”. Namun, mereka adalah orang-orang yang tidak punya hati.

Gadis itu melanjutkan, “Para penyiksa kami bahkan tidak mengasihani sejumlah perempuan yang (disekap) bersama dengan anak-anak mereka. Mereka juga tidak mengasihani sejumlah gadis yang masih belia. Beberapa dari kelompok kami bahkan belum genap 13 tahun usianya. Beberapa dari mereka kini tidak lagi mengucapkan sepatah kata pun.”

Perempuan itu, yang oleh La Repubblica diberi nama samaran Mayat, mengatakan bahwa para perempuan itu diperkosa di lantai paling atas bangunan, di dalam tiga bilik. Para gadis dan perempuan dewasa itu diperkosa sampai tiga kali sehari oleh kelompok-kelompok pria ISIS yang berbeda-beda.

“Mereka memperlakukan kami laksana kami adalah budak mereka. Orang-orang itu memukul dan mengancam kami ketika kami mencoba untuk menolak. Saya sering berharap agar mereka memukul saya sedemikian parah sehingga saya mati.” Gadis itu mengatakan bahwa beberapa dari kaum militan itu merupakan orang-orang muda yang baru berperang di Suriah, sementara yang lain merupakan orang-orang tua.

“Jika suatu hari penyiksaan ini berakhir, hidup saya akan selalu ditandai oleh apa yang saya alami dalam minggu-minggu ini. Bahkan, jika saya bertahan hidup, saya tidak tahu bagaimana saya akan menghilangkan horor ini dari pikiran saya. Kami telah meminta para sipir untuk menembak mati kami, membunuh kami, tetapi kami terlalu berharga buat mereka. Mereka terus mengatakan kepada kami bahwa kami adalah orang-orang kafir dan bahwa kami merupakan milik mereka, seperti rampasan perang. Mereka mengatakan kami seperti kambing yang dibeli di pasar.”

Para perempuan tawanan itu berharap datangnya penyelamatan, baik oleh pasukan darat anti-ISIS maupun intervensi internasional. “Satu-satunya harapan adalah bahwa pasukan muslim Kurdi Peshmerga (milisi Islam Kurdi) datang dan menyelamatkan kami. Saya tahu Amerika mengebom (posisi ISIS). Saya ingin mereka bergegas dan mengusir mereka semua keluar karena saya tidak tahu berapa lama lagi saya bisa bertahan. Mereka sudah membunuh tubuh saya. Sekarang mereka sedang membunuh pikiran saya.”

Dia mengatakan, dia pernah mendengar sejumlah wanita Kristen Arab juga telah ditangkap dan dipenjarakan sebagai budak seks oleh ISIS. Namun, kelompoknya hanya terdiri para perempuan Yazidi, yang semuanya berasal dari kota Sinjar.

Kota itu terletak di kaki Gunung Sinjar, di mana ribuan warga Yazidi terpaksa mengungsi bulan lalu setelah dikepung ISIS. Walau banyak dari pengungsi itu akhirnya berhasil melarikan diri ke gunung, yang lainnya ditangkap kelompok ekstremis.

PBB telah menuduh ISIS melakukan pembersihan etnis di Irak utara. Kelompok militan itu dikatakan telah melakukan penahanan dan eksekusi massal di kantong kelompok-kelompok minoritas di wilayah itu.

Kisah Gadis Remaja Yazidi Yang Berhasil Meloloskan Diri Saat Akan Dijual Jadi Budak Seks Oleh ISIS

Saat Adeba Shaker tiba di sebuah rumah di Raabia, Irak, setelah diculik kaum militan Negara Islam atau ISIS bulan lalu, salah seorang dari penculiknya menerima panggilan telepon. Tak lama kemudian, kelima pria di apartemen itu mengambil senjata mereka dan bergegas keluar. Shaker, gadis berusia 14 tahun dari etnis minoritas Yazidi, mendengar suara sejumlah truk meninggalkan tempat itu. Suasana lalu senyap. Itu kali pertama dalam 20 hari dia dan seorang gadis lain yang disekap bersamanya berada dalam kondisi sendirian, tanpa penjaga, dan pintu terbuka.

Kaum militan ISIS telah memperdagangkan Shaker dari desanya di Sinjar di Irak timur laut ke perbatasan Suriah. Gadis itu dijadikan “hadiah seks” untuk para anggota militan di garis depan. Dia harus menganut Islam dan dipaksa untuk menikah dengan salah satu dari mereka.

“Ketika (para anggota militan itu) meninggalkan kami, saya panik. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya lihat sebuah tas yang penuh ponsel dan saya menelepon saudara saya,” kata Shaker via telepon dari sebuah kamp untuk pengungsi di Irak.

Di telepon, Samir, kakaknya, menyuruh gadis itu pergi ke sebuah rumah terdekat dan meminta bantuan serta petunjuk untuk mencapai perbatasan tempat pejuang dari Partai Pekerja Negara Kurdistan (PKK) sedang memerangi kelompok militan ISIS. Samir mengatakan bahwa PKK akan membantu dia. “Itu seperti berjudi karena saya tidak tahu siapa yang menjadi teman dan siapa yang menjadi musuh,” kata Shaker.

Dia dan temannya memutuskan untuk mencoba keberuntungan mereka. Kedua gadis itu menyelinap keluar dari rumah tersebut dan mengetuk pintu rumah tetangga. “Kami menjelaskan situasinya kepada mereka dan mereka menunjukkan kepada kami jalan ke perbatasan. Kami tidak pernah menoleh.”

Kedua gadis itu berangkat ke garis depan.
“Saya tak bisa berjalan tegak, kaki saya gemetaran dan jantung saya berdetak sangat cepat. Kami berlari, berjalan, dan kami tidak pernah melihat ke belakang,” kata Shaker. Setelah dua jam berjalan, mereka mendengar suara tembakan. Saat mereka mendekat, mereka melihat sekelompok pejuang PKK. Mereka pun mulai berlari ke arah pejuang PKK itu. “Saya menangis dan tertawa pada saat bersamaan,” katanya. “Kami bebas!”

Adeba Shaker adalah salah satu dari beberapa warga Yazidi yang lolos dari kaum militan ISIS yang telah mengambil alih sebagian besar wilayah Irak dan Suriah dalam beberapa bulan terakhir. Puluhan ribu warga Yazidi melarikan diri dari tanah air leluhur mereka di Sinjar dan desa-desa lain. Mereka lari dari kejaran kelompok militan ISIS, yang menganggap warga Yazidi sebagai penyembah setan yang harus menganut Islam versi radikal kelompok itu atau mereka akan mati.

Selain Shaker, kelompok militan itu menculik sedikitnya 73 perempuan dan anak-anak dari desanya dan memperdagangkan mereka di Irak utara. Shaker ingat bagaimana para anggota militan itu memisahkan perempuan tua dari kelompok mereka. Perempuan muda dan para gadis remaja dilaporkan menghadapi nasib yang mengerikan. Setelah diperkosa beramai-ramai, mereka akan dijual kepada penawar tertinggi.

Perempuan dewasa dan gadis remaja dilelang seharga sedikit 10 dollar AS (atau sekitar Rp 100.000), kata sejumlah laporan. Yang lainnya, seperti Shaker, harus menikah dengan para anggota militan. “Saat paling menakutkan adalah pada malam pertama setelah mereka menangkap kami,” kenang Shaker. “Kami tiba di sebuah kantor polisi di kota lain. Semua orang dalam kondisi menangis dan menjerit. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami.”

Shaker sebelumnya tinggal di sebuah desa kecil bersama 25 anggota keluarganya. Dia mencintai sekolah dan ingin menjadi seorang guru. Saat keluarga itu mendengar bahwa anggota militan ISIS mendekat, mereka pun lari ke desa terdekat. Namun, kaum militan mengejar mereka tak lama kemudian.

“Mereka berjanji, mereka tidak akan menyakiti kami jika kami menyerah,” kata gadis itu. “Mereka memisahkan perempuan dewasa dan anak-anak dari para lelaki…. Mereka kemudian mengambil semua perhiasan, uang, telepon, dan kendaraan kami.” Dua jam kemudian, semua tahanan dimuat ke sejumlah truk dan dipindahkan ke tujuan yang tidak diketahui. “Awalnya (mereka) berusaha bersikap baik kepada kami …. Mereka mencoba menenangkan kami.” Tak lama setelah itu, sikap mereka berubah dan mereka menjadi “kasar dan agresif”.

Akhirnya, Shaker dan keluarganya tiba di kota Badoosh, dekat Mosul, tempat mereka bergabung dengan sekitar 1.000 perempuan Yazidi dan anak-anak lainnya. Dia dipisahkan dari ibunya dan seluruh keluarganya. Gadis itu kemudian dikirim ke rumah di Raabia itu, tempat dia berhasil melarikan diri.

Shaker kini aman di sebuah kamp pengungsi di Irak. Di situ dia bertemu kembali dengan dua saudara laki-lakinya. Dia belum tahu nasib 22 anggota keluarga lainnya yang masih berada di tangan kelompok militan ISIS. “Kadang-kadang saya tidak bisa tidur pada malam hari. Saya sangat khawatir dengan mereka,” katanya. “Itulah waktu terburuk … Semua orang tertidur dan saya masih berpikir tentang pelarian diri saya.”

“Saya tahu, saya beruntung. Tuhan menyelamatkan saya.”

Kisah Prajurit Syiah Lolos Dari Pembantaian ISIS Meski Sudah Dieksekusi

Saat pasukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menggulung wilayah utara Irak pada awal Juni lalu, ratusan tentara Irak menjadi korban baik di dalam baku tembak maupun dieksekusi setelah menyerah.

Salah satu prajurit Irak yang ditangkap ISIS saat merebut kota Tikrit pada 12 Juni lalu adalah Ali (23). Bersama ratusan orang lainnya, Ali tertangkap saat berusaha kabur ke jalan raya utama dari sebuah pangkalan militer.

Ali mengatakan, dia ada di antara para tahanan yang ditampung di sebuah kontainer di sebuah istana di kota itu sebelum dibawa dalam sebuah kelompok berisi 10 orang pada pukul 17.00 waktu setempat.

Pasukan ISIS kemudian memerintahkan ke-10 orang itu berbaris untuk ditembak satu per satu dengan menggunakan pistol.

Kepada Human Right Watch (HRW), Ali mengatakan, dia selamat dengan cara menjatuhkan diri dan berpura-pura mati. Ali sungguh beruntung karena entah bagaimana peluru dari pistol yang ditembakkan sang eksekutor meleset dari tubuhnya.

Setelah berpura-pura mati, Ali menunggu selama beberapa jam sebelum meloloskan diri di dalam kegelapan malam.

Seorang juru bicara HRW kepada harian The Independent mengatakan, Ali kemudian bersembunyi di kawasan yang dipenuhi alang-alang selama beberapa hari sebelum memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. “Dia kini sudah aman berada jauh di luar wilayah yang dikuasai ISIS,” kata juru bicara HRW itu.

Pada Juni lalu, ISIS mengklaim telah mengeksekusi 1.700 orang tahanan Irak, yang menurut mereka adalah para prajurit Irak yang memeluk Syiah. Tak lama setelah klaim itu, ISIS mengunggah serangkaian foto yang memperlihatkan para tahanan dinaikkan ke atas sejumlah truk. Foto lain memperlihatkan para tahanan dengan tangan terikat berbaring telungkup di dekat sebuah parit yang dangkal.

Pria Inggris Yang Akan Dibunuh ISIS Ternyata Pernah Membela Muslim Bosnia

Seorang pria Inggris yang disandera Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan diancam akan dieksekusi ternyata adalah seorang pekerja kemanusiaan yang pernah membantu komunitas Muslim di Balkan.

Pria yang oleh media Inggris tidak disebutkan namanya karena permintaan keluarga itu ditampilkan dalam video yang berisi eksekusi jurnalis AS, Steven Sotloff. Pria berusia 44 tahun itu sudah disandera selama 17 bulan sejak diculik di dekat kamp pengungsi Atmeh di dekat perbatasan Suriah dan Turki pada Maret 2013.

Seorang mantan rekan kerja pria ini kepada harian The Telegraph mengatakan, dia pernah bekerja untuk sebuah organisasi amal untuk membangun kembali masyarakat di Kroasia pada 1999-2004. Dia dan istrinya kemudian menetap di dekat kota Zagreb, Kroasia.

“Saya ikut membantunya membangun kembali komunitas masyarakat di sana. Kami membangun kembali rumah, memulai kembali sekolah yang hancur dalam perang,” ujar sang kolega.

“Dia membantu semua pihak, Serbia, Kroasia, membantu Muslim. Dia sangat adil kepada mereka semua dan ingin meningkatkan kehidupan semua etnis. Itulah sebabnya saya sangat terkejut ketika dia diculik Muslim karena dia berusaha keras membantu mereka,” tambah pria itu.

Dalam video yang dirilis ISIS itu, pria yang mengeksekusi Sotloff memperlihatkan sandera Inggris itu di hadapan kamera. Dia mengancam akan membunuh ayah dua anak itu jika AS dan Inggris tidak berhenti memerangi ISIS.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan, pemerintah akan mempelajari semua kemungkinan untuk melindungi sandera Inggris itu. Pemerintah Inggris mengakui, pasukan Amerika Serikat pernah berupaya untuk membebaskan dia, tetapi operasi itu berujung pada kegagalan

ISIS Siapkan Pasukan Untuk Mulai Serbu Rusia Karena Mendukung Suriah

Kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) melontarkan ancaman bagi Presiden Rusia Vladimir Putin. ISIS bersumpah akan menggulingkan Putin karena mendukung rezim Suriah. Ancaman tersebut disampaikan dalam video ISIS yang diposting di situs berbagi video YouTube pada Selasa (2/9) kemarin. Kantor Jaksa Agung Rusia telah meminta video tersebut untuk diblokir.

“Ini merupakan pesan untuk Anda, hai Vladimir Putin, ini adalah jet tempur yang Anda kirimkan untuk Bashar (Bashar al-Assad), kami akan mengirimkannya kepada Anda, insya Allah, ingatlah itu,” ujar salah satu anggota ISIS dalam video tersebut, seperti dilansir AFP, Kamis (4/9/2014).

Anggota ISIS tersebut berbicara dalam bahasa Arab, namun terdapat arti terjemahan dalam bahasa Rusia di video tersebut. “Dan kami akan membebaskan Ceko dan seluruh Kaukasus, insya Allah. ISIS sedang dan akan terus berkembang, insya Allah,” lanjut anggota ISIS dalam video tersebut.

“Takhta Anda sudah mulai begroyang, berada di bawah ancaman dan akan jatuh ketika kami datang kepada Anda karena Allah berada di pihak kami. Kami sudah dalam perjalanan, insya Allah,” imbuhnya.

Dalam video yang sama, sejumlah anggota ISIS yang mengenakan jubah tradisional mengancam Presiden Suriah Bashar al-Assad dari dalam jet tempur. “Ini merupakan milik Rusia,” bunyi narasi dalam video tersebut, yang terdengar beraksen Rusia, saat kamera mengambil gambar kabin pesawat dari dekat.

Kantor Jaksa Agung Rusia telah memerintahkan penyelidik untuk memulai penyelidikan kriminal atas video tersebut.

Makam Nabi Muhammad Akan Dipindahkan

Bocornya dokumen yang ditulis akademikus Arab Saudi mengenai usulan pemindahan makam Nabi Muhammad menjadi perbincangan publik. Laporan di harian The Independent berjudul “Saudi Menghadapi Risiko Perpecahan Baru dengan Usulan Memindahkan Makam Nabi Muhammad” itu mengutip usulan dalam dokumen oleh seorang akademikus yang beredar di antara para pengawas Masjid Nabawi.

Dalam laporan setebal 61 halaman tersebut dijelaskan bahwa makam, termasuk kerangka jenazah Nabi Muhammad, yang kini berada di Kubah Hijau Masjid Nabawi di Madinah akan dipindahkan ke pemakaman al-Baqi, yang letaknya tak jauh dari Masjid Nabawi.

Makam Nabi Muhammad merupakan tempat suci bagi umat Islam. Setiap hari, banyak jemaah yang berdoa di sana. Saat musim haji tiba, peziarah akan membeludak mengunjungi makam Nabi Muhammad yang berjejeran dengan makam Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab.

Rencana pemindahan makam ini menuai sejumlah kritik. Kepada The Independent, Senin, 1 September 2014, Direktur Yayasan Penelitian Peninggalan Islam Saudi Dr Irfan al-Alawi mengatakan upaya apa pun untuk melakukan perubahan terhadap makam akan memicu kerusuhan. Langkah itu juga berisiko memicu ketegangan sektarian antara Sunni dan Syiah yang kini telah terjadi di Suriah dan Irak.

Usulan pemindahan makam Nabi Muhammad yang diajukan seorang akademikus Arab Saudi yang belum diketahui namanya membuat dunia terhenyak. Pasalnya, Nabi Muhammad memiliki peranan penting, baik bagi kelompok Syiah ataupun Sunni. Setiap hari jutaan umat Islam, baik Syiah maupun Sunni, berziarah dan berdoa di sana. Pemindahan makam Nabi Muhammad dari Masjid Nabawi menuju pemakaman al-Baqi yang tak jauh dari Nabawi bisa memicu ketegangan sektarian antara Sunni dan Syiah seperti yang kini telah terjadi di Suriah dan Irak.

Namun demikian, menurut Direktur Yayasan Penelitian Peninggalan Islam Saudi, Dr Irfan al-Alawi, kaum Wahabi yang merupakan cabang dari Sunni menganggap penyembahan dan penyucian “benda”, termasuk makam, sebagai praktek syirik.

Ia menduga pemindahan makam dimaksudkan untuk mencegah perbuatan syirik atau penyembahan berhala. “Memang, jemaah yang mengunjungi Kubah Hijau, tempat makam Nabi Muhammad berada, akan menoleh ke pemakaman dan berdoa,” tutur al-Alawi kepada The Independent, Senin, 1 September 2014.

Dengan alasan dan cara lebih ekstrim, hal serupa sudah lebih dulu dilakukan pada makam Nabi Yusuf di Kota Mosul, Irak, pada akhir Juli lalu. Militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menguasai wilayah tersebut menganggap menziarahi makam termasuk penyembahan berhala. Oleh karena itu, mereka kemudian menghancurkannya.

Bahkan, ISIS bersumpah akan menghancurkan Kabah jika mereka berhasil menguasai Arab Saudi dan mencapai Mekah. Mereka menyatakan Kabah menyebabkan seseorang “menyembah batu selain Allah”. Menanggapi kerasnya paham dan tindakan ISIS itu, pemerintah Arab Saudi telah menyerukan bahwa kelompok itu merupakan musuh nomor satu umat Islam.