Category Archives: Rusia

Media Rusia Sebut Kemungkinan Sukhoi Disabotase Karena Persaingan Bisnis

Malapetaka Sukhoi Superjet 100 diduga bukan kejadiaan nahas semata. Sejumlah media luar negeri menganalisis ada sabotase terhadap Sukhoi pada saat joy flight, Rabu, 9 Mei 2012. Akibatnya, kapal itu menubruk tebing Gunung Salak dan menewaskan ke-45 penumpangnya.

Misalnya saja Russia & India Report. Dalam situs itu, analis Rakesh Krishnan Simha menuliskan Sukhoi Superjet 100 bukan sekadar pesawat uji coba. Kapal produksi 2009 itu telah dipesan sebanyak 300 buah oleh perusahaan penerbangan Armenia Armavia dan Aeroflot.

“Karenanya, tidak ada alasan untuk meragukan kelaikan dan keandalan Sukhoi,” tulis Simha, 12 Mei 2012.

Simha juga menampik dugaan kesalahan manusia, baik dari sisi pilot Aleksandr Yablontsev atau pengawas menara Air Traffic Controller Bandara Soekarno-Hatta. Sebab Yablontsev turut campur dalam pengembangan Sukhoi. Sedangkan pengawas ATC telah memandu Superjet selama melayang, meski terhambat daerah pegunungan yang rumit.

“Jadi kita tak dapat menuduh kalau pengendali ATC salah membimbing Sukhoi hingga menabrak gunung,” ujarnya.

Rusia mulai mengembangkan Superjet sejak tahun 2000. Sebagai proyek utama Moskow, Sukhoi ditujukan merebut pasar penerbangan dunia, melawan Boeing atau Airbus. Bahkan Superjet 100 berani menawarkan dirinya US$ 30 juta atau Rp 277 miliar lebih murah dari Embraer dan Bombadier, saingannya.

Selama ini, pasar pesawat di negara berkembang telah dikuasai perusahaan manufaktur penerbangan Amerika. Mereka tidak punya banyak saingan pada pangsa ini. Kedatangan Rusia dengan kapal terbarunya membuat Amerika memiliki musuh baru. “Terkadang kondisi itu menciptakan pertarungan yang membuat atmosfer bisnis berubah jelek,” ujarnya.

Analisis tak jauh beda dicetuskan Wayne MADSEN di situs Strategic Culture Foundation. Wayne menganggap masuknya Superjet 100 ke pasar penerbangan telah menguntungkan Indonesia. Tapi, di sisi lain, keberadaannya mengancam bisnis Boeing. Apalagi sebelumnya Barack Obama menandatangani kesepakatan dengan Indonesia untuk menjual 230 pesawat Boeing ke Lion Air dengan jaminan pinjaman US$ 22 miliar (Rp 203 triliun).

“Karenanya, ada kemungkinan Amerika tidak ragu melakukan sabotase industri pesaingnya, terutama pada saat masuk ke Asia,” ujar Wayne.

Rusia Dukung Suriah Tanpa Syarat Setelah Hapus Hutang Luar Negeri Suriah Karena Merupakan Sekutu Terakhir Di Timur Tengah

Kasus veto Rusia dan China terhadap rancangan resolusi Arab-Barat yang diajukan Maroko dua pekan lalu di forum Dewan Keamanan PBB menjadi isu utama yang terus diperbincangkan di berbagi forum di dunia Arab. Ada yang mendukung, tetapi lebih banyak yang mengkritik penggunaan hak veto itu.

Tindakan Rusia menggunakan hak veto tersebut dilihat sebagai bentuk dukungan tanpa batas terhadap Suriah, khususnya selama berkobarnya aksi unjuk rasa antirezim Presiden Bashar al Assad, 11 bulan terakhir ini.

Rusia juga terus menyuplai senjata ke Suriah. Rusia bulan lalu telah mengirim kapal perangnya ke kota pelabuhan Tartus di Suriah sebagai simbol dukungan terhadap rezim Presiden Assad. Pangkalan militer Rusia (dulu Uni Soviet) sudah dibangun di kota pelabuhan Tartus sejak tahun 1963.

Bagi Rusia, Suriah memiliki nilai strategis secara militer dan politik maupun ekonomi. Suriah adalah pasar senjata Rusia terbesar di Timur Tengah. Hampir semua peralatan militer Suriah adalah buatan Rusia.

Uni Soviet (sebelum bubar menjadi Rusia) adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Suriah pada tahun 1946. Hubungan Uni Soviet-Suriah semakin kuat setelah Presiden Hafez Assad, ayah Presiden Suriah sekarang, memegang kekuasaan di Damaskus pada tahun 1970.

Kontrak senjata

Setelah penasihat militer Uni Soviet diusir dari Mesir pada tahun 1972, Uni Soviet semakin mengandalkan Suriah yang diperintah partai sosialis Baath untuk memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah. Peralatan militer Uni Soviet semakin mengalir banyak ke Suriah saat itu. Uni Soviet juga menjadi jaminan bagi dukungan politik Suriah di pentas internasional.

Hubungan strategis Rusia- Suriah itu tergambarkan pula ketika Rusia pada tahun 2005 menghapus 75 persen utang Suriah kepada Rusia. Sebagian besar utang Suriah kepada Rusia berasal dari pembelian senjata buatan Rusia oleh Suriah. Utang Suriah terhadap Rusia saat itu mencapai 13 miliar dollar AS.

Meski Rusia terpaksa menghapus sebagian besar utang Suriah ke Moskwa, ekspor peralatan militer Rusia ke Suriah justru naik antara 7 dan 10 persen sejak saat itu.

Di tengah gencarnya aksi unjuk rasa antirezim Presiden Assad di berbagai kota di Suriah, Rusia saat ini justru mengirim 60 ton senjata, lengkap dengan suku cadangnya.

Rusia dan Suriah bulan lalu berhasil mencapai kesepakatan untuk menyuplai Suriah dengan 130 pesawat jet tempur tipe Yak-130 dengan nilai kontrak 550 juta dollar AS dan kontrak bisnis peralatan militer lainnya senilai 700 juta dollar AS.

Neraca perdagangan Rusia-Suriah saat ini mencapai nilai hampir dua miliar dollar AS, khususnya dalam kerja sama di bidang minyak dan gas.

Sejumlah pengamat mengatakan, dukungan tanpa batas Rusia atas Suriah saat ini hanya semata untuk menghentikan hegemoni Amerika Serikat di Timur Tengah. Rusia ingin menunjukkan bahwa Barat, khususnya AS, tidak bisa bergerak semena-mena secara sepihak.

Namun, bagi pengkritik, tindakan Rusia menggunakan hak veto, untuk menggagalkan rancangan resolusi Arab-Barat di forum DK PBB, lebih banyak membawa kerugian daripada keuntungan bagi Rusia. Kini banyak tangisan warga di Suriah yang merasa terancam setiap hari. Pemerintah Suriah seperti tidak peduli pada tuntutan sah rakyat soal demokrasi.

Rusia Modernisasi Besar Besaran Armada Pesawat Tempur Dengan Penambahan 100 Persen Pesawat

Sambil menunggu proses pengembangan pesawat pengebom (bomber) generasi kelima, PAK DA, Armada Penerbangan Jarak Jauh Angkatan Udara Rusia akan memodernisasi armada bomber andalannya dari era Perang Dingin, Tupolev Tu-22M3.

Juru bicara AU Rusia Kolonel Vladimir Dirk mengatakan di Moskwa, Selasa (31/1/2012), sedikitnya 30 pesawat pengebom jarak jauh Tu-22M3 akan dimodernisasi menjadi versi M3M sampai tahun 2020.

Modifikasi meliputi berbagai sektor, mulai dari sistem komunikasi, avionik, kokpit, hingga kemampuan membawa muatan senjata yang lebih besar dan lebih bervariasi.

Tu-22M3 (oleh NATO dijuluki Backfire-C) adalah pesawat pengebom supersonik jarak jauh dengan sayap variabel (variable swing wing) yang berdaya jelajah hingga 6.800 kilometer dan mampu membawa muatan persenjataan seberat 24.000 kilogram.

Berbagai jenis senjata penghancur yang bisa digotong pesawat ini, antara lain, adalah bom konvensional, bom nuklir, dan peluru kendali berhulu ledak konvensional ataupun nuklir.

Pesawat yang dikembangkan pada puncak era Perang Dingin dekade 1970-an ini digunakan terutama untuk berpatroli di bagian selatan Rusia, termasuk di kawasan perbatasan dengan Asia Tengah dan Laut Hitam.

Hingga tahun 2008, AU Rusia masih mengoperasikan sedikitnya 141 pesawat Tu-22M3.

Komandan Penerbangan Jarak Jauh AU Rusia Mayor Jenderal Anatoly Zhikarev sebelumnya menyatakan, armada udara strategis Rusia akan menjalani program modernisasi besar-besaran sambil menunggu bomber generasi kelima Rusia, PAK DA, selesai dikembangkan oleh biro desain pesawat Tupolev.

Rusia benar-benar serius meningkatkan kemampuan militernya. Setelah mengumumkan program modernisasi 30 pesawat pengebom Tu-22M3 Backfire-C, kini Angkatan Udara Rusia juga menyatakan akan memodernisasi armada pesawat pengebom strategis terbesarnya, Tupolev Tu-160 Blackjack.

Menurut juru bicara AU Rusia, Kolonel Vladimir Dirk, lebih dari 10 Blackjack akan masuk program modernisasi hingga 2020. Saat ini AU Rusia mengoperasikan sedikitnya 16 pesawat jet supersonik yang mampu membawa bom nuklir itu dan berencana meningkatkan jumlahnya menjadi 30 unit.

Pesawat pengebom strategis dengan sayap ayun variabel ini dirancang khusus untuk menyerang hingga jauh ke dalam wilayah musuh. Versi Blacjack yang sudah dimodernisasi, Tu-160M, akan dilengkapi dengan sistem persenjataan baru serta sistem elektronik dan avionik yang lebih canggih untuk melipatgandakan efektivitas tempur pesawat yang mampu melesat dengan kecepatan lebih dari Mach 2 tersebut.

Rusia berencana terus mengoperasikan pesawat-pesawat pengebom strategis dari era Perang Dingin, seperti Blackjack, Backfire-C, dan Tu-95 Bear, serta pesawat pengebom generasi kelima, yang masih dalam tahap konsep, selesai dikembangkan.

Rusia Siap Gelar Rudal Nuklir Taktis Di Belarusia Untuk Hadapi Ancaman Amerika Serikat

Moskow telah mengancam untuk mengerahkan rudal-rudal taktis di Belarusia dan di perbatasannya sendiri jika pembicaraan dengan Washington mengenai rencana pertahanan rudal Eropa gagal, kata seorang sumber senior diplomatik, Senin.

Sumber itu mengatakan kepada kantor berita Interfax bahwa Moskow mungkin akan menempatkan rudal Iskander di Belarusia dan di wilayah Krasnodar di Rusia. Negara itu sebelumnya mengancam untuk membuat landasan peluncuran rudal di daerah kantung Kaliningrad di Baltik, Rusia.

“Ini akan memungkinkan kami untuk menghadapi ancaman terhadap kekuatan strategis Rusia seandainya komponen-komponen pertahanan rudal Amerika Serikat dikerahkan ke dekat perbatasan kami,” kata sumber tersebut.

Rusia menganggap sistem pertahanan rudal AS di Eropa, yang belum akan ditempatkan sepenuhnya hingga 2010, sebagai ancaman pada potensi nuklir strategisnya. Moskow telah mengancamkan “perlombaan senjata” baru dengan Washington jika kekhawatirannya diabaikan.

Rusia menyatakan mereka akan mengerahkan rudal Iskander pada saat pemerintah George W. Bush, tapi menunda rencana itu pada 2009, setelah Presiden Barack Obama mengurangi rencana pendahulunya itu. Rusia masih mengatakan sistem yang telah direvisi itu mengancam keamanannya.

Rusia Ancam Israel Bila Berani Menyerang Fasilitas Nuklir Iran

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mewanti-wanti bahwa serangan militer Israel ke Iran akan menimbulkan akibat yang tak bisa ditebak. “Sebuah kekeliruan yang serius,” ujarnya kepada wartawan di Moskow. Sebab, “Intervensi militer hanya akan berujung pada jatuhnya korban jiwa dan menimbulkan penderitaan bagi manusia,” tuturnya.

Pernyataan Lavrov itu menimpali niat Presiden Israel Shimon Peres yang ingin menyerang Negeri Mullah itu. “Kemungkinan serangan militer terhadap Iran kian nyata ketimbang opsi diplomatik,” kata Peres. Pekan lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berusaha mendapatkan dukungan kabinet bagi satu serangan terhadap Iran.

Satu jajak pendapat yang disiarkan koran Israel, Haaretz, Kamis lalu, menyatakan opini publik Israel terbelah mengenai serangan terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran. Sebanyak 41 persen mendukung, 39 persen menentang, dan 20 persen tidak memberi keputusan. Menteri Pertahanan Ehud Barak bahkan menolak perintah menggelar serangan militer.

“Kami percaya sanksi-sanksi akan lebih efektif,” tutur Barak, yang menyebut rencana Iran membuat senjata nuklir sebagai ancaman terhadap stabilitas dunia. “Diplomasi bisa bekerja andaikata kita bersatu.” Israel ngotot menyerang Iran setelah intelijen mereka menyimpulkan bahwa Iran bakal memindahkan fasilitas nuklir mereka ke kota suci Qom, akhir tahun ini.

Rencana menyerang Iran berawal dari sejumlah laporan intelijen kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang menyebutkan adanya upaya Iran mengembangkan teknologi senjata nuklir. Koran The Washington Post pada Ahad lalu melansir laporan sejumlah diplomat Barat dan pakar nuklir yang mengkaji laporan intelijen itu.

“Iran telah mengambil langkah-langkah utama untuk mengatasi tantangan teknis dengan bantuan ilmuwan asing,” demikian ditulis The Washington Post. Disebut-sebut, Iran mendapat bantuan dari Korea Utara dan Abdul Qadeer Khan, pakar nuklir Pakistan. Bekas pejabat IAEA, David Albright, menyebut Iran telah mendapatkan desain dan menguji kapsul peledak.

Ulama Iran, Ayatollah Ahmad Khatami, mengingatkan Ketua IAEA Yukiya Amano agar tak merilis laporan intelijen tersebut pada pekan ini. “Laporan penuh kebohongan itu akan merusak kredibilitas IAEA,” katanya, seraya menegaskan Iran akan “menyiksa” Israel jika menyerang wilayah mereka.

Raja Media Rusia Memukul Tamu Sampai KO Dalam Acara Debat Karena Kalah Berdebat

Raja media Rusia, Alexander Lebedev, memukul sesama tamu dalam acara debat di televisi tentang perekonomian di Moskow. Lebedev memukul mantan pengusaha perumahan, Sergei Polonsky, dengan dua pukulan sampai dia terjatuh dari tempat duduk. Demikian dilansir BBC Indonesia, Senin (19/9).

Lewat blognya, Lebedev mengatakan Polonsky menjadi agresif dalam acara debat tentang krisis ekonomi global yang disiarkan oleh stasiun NTV Rusia, Ahad kemarin, dan dia menetralisirnya. “Dalam situasi yang kritis, tidak ada pilihan. Saya tidak melihat alasan untuk lebih dulu dipukul. Saya menetralisirnya,” ujarnya.

Sebelum insiden pemukulan itu, Polonsky mengatakan kepada tamu debat lain bahwa dia “rasanya ingin memukul seseorang dan orang itu akan menyesal.” Lebedev kemudian berdiri, melihat ke arah pemirsa dan duduk kembali namun tiba-tiba melepaskan dua pukulan yang membuat Polonsky jatuh tergeletak.

Lebedev merupakan pengusaha terkemuka Rusia. Dia salah satu pemilik koran Rusia Novaya Gazeta bersama mantan pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev. Dia juga pemilik saham pribadi terbesar di maskapai penerbangan Aeroflot.

Sementara Polonsky kini sedang mempertimbangkan untuk mengajukan gugatan hukum. Polonsky tampaknya tidak menderita cedera namun gambar yang diperlihatkan di internet menunjukkan ada luka di lengannya sementara celananya robek.

Namun, celana yang robek itu justru dipertanyakan Lebedev. “Sekarang dia memperlihatkan celananya yang robek dan sulit untuk berkomentar atas hal itu. Dia kena pukul di muka dan dia memperlihatkan robekan di bagian belakang celananya,” tulis Lebedev di blognya

Rusia Siap Ekspor Pesawat Siluman Sukhoi T-50 Saingan F-22 Raptor Dengan Fitur Canggih dan Harga Murah

Jet tempur terbaru Rusia, Sukhoi T-50, tampil di pameran kedirgantaraan MAKS 2011 di luar Moskwa, Selasa (16/8/2011). Pesawat itu akan menjadi saingan dari F-22 Raptor buatan AS.

Jet tempur siluman baru Rusia membuat debut publik Selasa (16/8/2011) lalu, demikan menurut laporan kantor berita resmi negara itu, RIA Novosti. Jet tempur Sukhoi T-50, yang dikembangkan secara bersama oleh Rusia dan India, tampil dalam pameran kedirgantaraan MAKS 2011 di Zhukovsky, di luar Moskwa. Jenderal Alexander Zelin, kepala angkatan udara Rusia, mengatakan kepada RIA Novosti, sebagaimana dikutip CNN, bahwa dia berharap prototipe T-50 akan siap pada 2013. Produksi secara massal pesawat itu diperkirakan akan terjadi pada 2014 atau 2015 dan akan dipasarkan ke seluruh dunia sebagai alternatif yang lebih murah dari jet tempur F-22 Raptor bikinan Amerika Serikat.

Pesawat itu diharapkan akan menjadi inti pertahanan udara bagi kedua negara, Rusia dan India, kata Mikhail Pogosyan, kepala Korps Angkatan Udara Rusia, kepada RIA Novosti. “T-50 akan menjadi pesawat utama terbaru baik untuk Rusia dan angkatan udara India,” kata Pogosyan.

Sumber-sumber kantor berita milik negara itu mengatakan, pengembangan Sukhoi T-50 itu membebani kedua negara sekitar 6 miliar dollar AS. India menanggung sekitar 35 persen dari biaya tersebut.

Menurut BBC, pameran yang menampilkan Sukhoi T-50 itu ditonton oleh Perdana Menteri Vladimir Putin. Putin mengatakan, industri kedirgantaraan merupakan bagian penting dari upaya Rusia dalam melakukan diversifikasi agar tidak semata bergantung pada ekspor minyak dan gas.

Pesawat tempur berteknologi stealth pertama buatan Rusia, Sukhoi T-50, akhirnya ditampilkan kepada publik untuk kali pertama dalam hajatan MAKS Air Show di lapangan udara Zhukovskiy di dekat Moskwa, Selasa (16/8/2011).

Pesawat itu diharapkan akan menjadi pesaing utama pesawat tempur stealth AS, F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.

Pesawat tempur generasi kelima, yang dikembangkan bersama oleh Rusia dan India itu, terbang perdana pada Januari lalu di salah satu pangkalan udara Rusia di Timur Jauh. Namun, penampilan hari Selasa adalah penampilan perdana di depan publik, yang menunjukkan para pembuat pesawat itu sudah percaya diri dengan kemampuannya.

Hari Rabu (17/8/2011) besok, dua purwarupa pesawat berwarna perak itu akan memeragakan berbagai manuver aerobatik di hadapan para pengunjung MAKS Air Show, termasuk Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin. Ini akan menjadi kesempatan yang ditunggu-tunggu para pencinta dunia dirgantara di seluruh dunia.

Mikhail Pogosyan, Presiden United Aircraft Corporation yang memproduksi pesawat ini, mengatakan, T-50 nantinya tak hanya menjadi tulang punggung kekuatan AU Rusia, tetapi juga AU India. India bahkan dikabarkan memesan lebih banyak pesawat, yakni 200 pesawat, dibandingkan AU Rusia yang hanya memesan sekitar 150 pesawat.

United Aircraft berambisi menjual sedikitnya 1.000 pesawat T-50 dalam beberapa dekade mendatang, dan menguasai setidaknya sepertiga dari pangsa pasar pesawat tempur berteknologi stealth (siluman, tak terdeteksi radar) di dunia. Untuk bersaing dengan pesawat-pesawat setara buatan AS, T-50 akan dijual dengan harga lebih murah.

Perkiraan sementara menunjukkan, pesawat canggih itu akan dijual dengan harga tak lebih dari 100 juta dollar AS (Rp 852,5 miliar) per unit. Bandingkan dengan harga F-22 Raptor yang dihargai 140 juta dollar AS.

Para pejabat Rusia mengatakan, versi final Sukhoi T-50 ini baru akan selesai pada akhir 2016. Meski demikian, Kepala Staf AU Rusia Kolonel Jenderal Alexander Zelin berharap, pesawat pertama pesanan AU Rusia sudah bisa dikirim dalam tiga tahun mendatang.

Proyek pesawat ini sudah dimulai sejak dekade 1980, dengan tujuan membangun pesawat untuk menggantikan armada MiG-29 dan Su-27 AU Uni Soviet yang sudah mulai menua. Namun, proyek ini kemudian kesulitan dana dan sempat dihentikan. India kemudian bersedia digandeng untuk bekerja sama pada akhir 2010 lalu.

Jika dibandingkan dengan AS, maka pengembangan pesawat siluman Rusia tertinggal cukup jauh. Saat ini, AS bahkan sudah akan mengoperasikan armada pesawat tempur stealth kedua, yakni F-35 Lightning II, yang juga akan dijual ke beberapa negara sekutu AS di NATO.

Zelin mengatakan, untuk menutup ketimpangan kekuatan angkatan udara sampai T-50 siap dioperasikan penuh, AU Rusia akan mengandalkan versi terbaru pesawat tempur MiG, yakni MiG-35. “Kami belum menghentikan proyek MiG-35D. Namun, pada akhirnya, kami akan melakukan transisi penuh ke (armada) T-50,” tutur Zelin.

Muslim Amerika Paling Optimis Tentang Masa Depan Ketimbang Kelompok Agama Lain Di Dunia

Umat Muslim AS lebih optimis tentang masa depan ketimbang kelompok agama lain. Namun, meski mereka sangat menentang terorisme, hampir separuh dari mereka melaporkan adanya diskriminasi, demikian menurut sebuah jajak pendapat yang dirilis Selasa (2/8/2011).

Survei itu dilakukan menjelang peringatan 10 tahun serangan teroris 11 September yang meruntuhkan dua menara kembar World Trade Center, New York tahun 2001. Survei itu juga untuk mengetahui seberapa baik integrasi 2,6 juta warga Muslim AS setelah “perang melawan teror” yang diluncurkan mantan presiden George W Bush menyusul pembajakan pesawat yang mematikan pada 11 September itu.

Menurut jajak pendapat tersebut, umat Islam AS cenderung lebih optimis baik tentang situasi ekonomi dan politik setelah Presiden Barack Obama terpilih. Obama, berdasarkan jajak pendapat itu, mendapat 80 persen persetuan umat Islam, lebih tinggi dari kelompok agama besar lain.

Masih menurut survei itu, 60 persen umat Muslim mengatakan, mereka “berkembang” di AS. Sebanyak 61 persen orang Yahudi, 54 persen orang Katolik dan 52 persen Protestan juga mengatakan hal serupa, bahwa mereka berkembang di AS. Hanya 37 persen umat Muslim yang mengatakan mereka “sedang berjuang,” di bawah dari kelompok Protestan dan Katolik tetapi satu persen lebih tinggi dari kelompok Yahudi. Dan, hanya tiga persen umat Muslim yang mengatakan mereka “sedang menderita”.

Lebih lanjut, survei itu menemukan, 54 persen umat Muslim berpendapat ekonomi AS “semakin baik,” sebuah persentase yang jauh lebih tinggi dari kelompok agama lainnya. “Warga Muslim Amerika puas dengan kehidupan mereka saat ini dan lebih optimis ketimbang kelompok agama lain bahwa hal-hal menjadi lebih baik,” kata laporan itu, yang tidak membedakan kelompok-kelompok berbeda yang ada di antara kalangan Muslim.

Namun, 48 persen dari umat Muslim yang disurvei mengatakan, mereka punya “pengalaman pribadi terkait diskriminasi ras atau agama”. Persoalan yang sama juga dialami 31 persen orang Mormon, 21 persen orang Yahudi dan 20 persen Katolik.

Orang Muslim, menurut survei itu, cenderung punya pandangan yang lebih negatif tentang militer AS dan Biro Investigasi Federal (FBI). Menurut survei itu, perasaan-perasaan seperti itu terkait dengan “perang melawan teror” yang dipandang sejumlah orang lebih bertitik berat pada kaum Muslim. Umat Muslim AS juga lebih suka, dibandingkan dengan kelompok lain, menyalahkan pandangan yang tidak menguntungkan AS di dunia Muslim pada tindakan pemerintah AS sendiri, ketimbang karena “misinformasi”. Namun, Muslim AS juga berada di atas semua kelompok lain dalam menentang serangan terhadap warga sipil oleh individu atau kelompok. Sebanyak 89 persen dari mereka menentang tindakan seperti itu.

Jajak pendapat itu dilakukan Abu Dhabi Gallup Center, kantor penelitian Gallup yang berbasis di Uni Emirat Arab, yang menggunakan data hasil wawancara yang dilakukan antara Januari 2008 hingga April 2011 terhadap 868.264 orang dewasa, termasuk 3.883 orang Muslim. Kelompok-kelompok agama lain disurvei dalam jajak pendapat adalah Protestan, Katolik, Yahudi, Mormon dan mereka “yang tidak beragama/atheis/agnostik”.

Gadis Gadis Muda Rusia Berkampanye Sambil Telanjang Untuk Mendukung Putin Menjadi Presiden Kembali

Sebuah kampanye melalui Internet menyerukan kepada gadis-gadis muda Rusia untuk tampil bugil agar rakyat mau memilih Vladimir Putin dalam pemilihan presiden tahun depan.

Kampanye melalui rekaman video itu diunggah di blog milik Kirill Shchitov, anggota parlemen dari Partai Rusia Bersatu yang dipimpin oleh Putin. Dalam video bertajuk “Tentara Putin” itu, seorang mahasiswi berambut pirang dengan nama Diana mulai melepas satu-satu pakaiannya di sebuah jalan di ibu kota Moskow.

“Saya akan bertelanjang buat Putin,” kata Diana yang dibalut setelan berwarna hitam dengan lipstik merah menyala dan ditopang sepatu berhak tinggi. Para gadis yang bersedia mengumbar syahwat buat Putin itu bakal dihadiahi iPad 2.

Putin pernah menjabat Presiden Rusia pada 2000-2008 sebelum diambil alih oleh Dmitry Medvedev. Meski begitu, banyak pihak meyakini dialah pemegang keputusan utama di Negeri Beruang Merah itu. Ia juga dipercaya bakal menang pada pemilihan umum Maret 2012.

“Tujuannya untuk Putin menjadi presiden,” kata sebuah pernyataan yang diunggah di situs vkontakte.ru, sebuah media sosial ala Facebook yang populer di Rusia dan negara-negara pecahan Uni Soviet.

Oktober tahun lalu, sekelompok mahasiswi jurnalisme juga berpose dengan pakaian dalam buat sebuah kalender untuk hari ulang tahun Putin ke-58.

Seorang Pencuri Rusia Dijadikan Budak Seks Selama 3 Minggu Oleh Wanita Pemilik Salon Setelah Tertangkap Basah Mencuri

Seorang pria Rusia yang berniat menggasak sebuah salon kecantikan justru dijadikan sebagai budak seks selama tiga hari setelah berhasil diperdayai oleh wanita yang tak lain adalah pemilik salon dan pemegang sabuk hitam karate. Pemegang sabuk hitam karate, Olga Zajac (28), memang unik. Pemilik salon di Rusia ini justru memberi pelajaran ke pencuri yang berupaya menggasak salonnya dengan menjadikannya sebagai budak seks

Dalam pengakuannya ke polisi, Viktor Jasinski (32) menerangkan, rencana awalnya pergi ke salon di Meshchovsk, Rusia, adalah untuk mencuri. Namun, fakta yang ditemuinya justru di luar dugaan, Viktor Jasinski berhasil dirobohkan oleh pemilik salon, Olga Zajac (28), hanya dengan sekali menyarangkan tendangan.

Dalam keadaaan setengah sadar setelah berhasil dilumpuhkan, Jasinski diseret ke sebuah ruang di belakang salon oleh Olga Zajac yang kemudian mengikatnya dengan kabel hair dryer. Viktor Jasinski yang ditahan dengan cara diikatkan dalam kondisi telanjang di sebuah radiator selama tiga minggu mengaku tidak diberi makan, kecuali diberi Viagra sebelum akhirnya dibebaskan.

Rupanya Viktor Jasinski tidak dapat menerima perlakuan terhadap dirinya sebagai budak seks. Viktor Jasinski kemudian melaporkan apa yang dialaminya ke polisi.

Menerima laporan tersebut, polisi segera mendatangi salon Olga Zajac. Namun, apa yang dikatakannya kepada polisi?

“Dasar kurang ajar. Ya, kami memang berhubungan seks beberapa kali. Tapi saya membelikannya beberapa celana jins, memberikannya makan, dan bahkan uang 1.000 rubel sebelum dia pergi,” kata Olga Zajac.

Alhasil, berdasarkan keterangan yang didapatkan polisi, baik Viktor Jasinski maupun Olga Zajac saat ini ditahan.