Category Archives: Iran

Pesawat Iran Jatuh di Teheran … 40 Penumpangnya Tewas Semua

Lebih dari 40 penumpang pesawat Iran yang jatuh di Teheran, Minggu (10/8/2014), diperkirakan tewas, kantor-kantor berita negara itu melaporkan.

Stasiun televisi IRNN melaporkan, pesawat itu jatuh di kawasan permukiman Azadi, yang terletak di barat Bandara Mehrabad. Belum ada kejelasan apakah kecelakaan itu juga menewaskan warga di permukiman tersebut. “Semua penumpang tewas,” kata juru bicara dinas pemadam kebakaran setempat yang dikutip kantor berita IRNA.

Masih ada informasi yang simpang siur tentang jenis pesawat yang jatuh maupun maskapai pemiliknya. Satu laporan menyebut pesawat itu milik Taban Air, namun laporan lain mengatakan pesawat yang jatuh itu dari Sepahan Airlines.

Kantor berita AP melaporkan, pesawat yang jatuh adalah jenis Iran-141, pesawat kecil berkapasistas 52 penumpang, buatan Iran dengan teknologi Ukraina. Sementara itu, informasi lain menyebut, pesawat yang jatuh adalah An-140.

Bandara Mehrabad terletak tidak jauh dari pusat kota Teheran dan merupakan bandara utama untuk penerbangan domestik. Sampai saat ini Mehrabad merupakan bandara tersibuk yang melayani penerbangan ke semua kota di negara itu. Sementara itu, sebagian besar penerbangan internasional dilakukan dari Bandar Internasional Imam Khomeini, Teheran. Letaknya di sisi barat ibukota Iran tersebut.

Seperti diberitakan, sebuah pesawat penumpang Iran jatuh di sebuah kawasan permukiman di Teheran pada Minggu (10/8/2014) pada pukul 09.14 waktu setempat. Sebuah pesawat penumpang milik Taban Airlines, Iran, jatuh sebuah kompleks perumaha di Teheran, Minggu (10/8/2014).

Televisi Iran melaporkan, pesawat itu jatuh setelah lepas landas dari bandara Mehrabad dalam penerbangan menuju Kota Tabas. Pesawat itu membawa sekitar 40 orang.

Menurut kantor berita IRNA dan Fars, pesawat itu jatuh pada pukul 09.18 waktu setempat.

Filsuf Noam Chomsky Serukan Pembebasan Wartawan Iran

Filosof Amerika Serikat, Noam Chomsky, meminta Iran membebaskan jurnalis perempuan, Marzieh Rasouli, yang dipenjara pekan lalu dan akan menjalani hukuman cambuk dan dua tahun masa penahanan. Chomsky, seperti dilansir Guardian edisi Sabtu, 12 Juli 2014, menyebut penahanan Rasouli dan setidaknya tiga jurnalis perempuan lainnya dalam dua bulan terakhir di Iran “tidak dapat diterima”.

Ia mendesak pemerintahan Hassan Rouhani cepat bertindak untuk membebaskan mereka. Dua wartawan yang ditangkap sebelumnya adalah Saba Azarpeik dan Reyhaneh Thabathaba’i.”Saya terkejut dan prihatin mendengar penahanan dan perlakuan kasar terhadap Marzieh Rasouli dan jurnalis perempuan lainnya di Iran,” kata Chomsky kepada Guardian.

“Tentunya tindakan tersebut sama sekali tidak dapat diterima, dan saya berharap dan percaya bahwa mereka akan segera dibebaskan dan mendapat kompensasi untuk hukuman mereka yang tidak adil.” Saat Rouhani meningkatkan hubungan dengan negara Barat, peradilan Iran, yang independen dari pemerintah, bersama dengan intelijen dan aparat keamanannya telah meluncurkan gelombang baru penangkapan terhadap wartawan.

Rasouli yang menulis untuk sejumlah penerbitan reformis, termasuk surat kabar Shargh dan Etemaad, dipenjara setelah pengadilan tertinggi menguatkan dakwaan terhadapnya atas tuduhan “menyebarkan propaganda” terhadap sistem pemerintahan dan “mengganggu ketertiban umum”. Ini adalah dua dakwaan yang kerap digunakan pemerintah Iran dalam beberapa tahun terakhir terhadap aktivis dan wartawan.

Reporters Without Borders juga mengutuk pemenjaraan Rasouli di Iran dan melaporkan bahwa dengan total 64 jurnalis dan blogger di penjara, Iran telah menjadi salah satu musuh terburuk bagi media di dunia. Dalam kasus yang menimpa Reyhaneh Thabathaba’i, kampanye internasional untuk hak asasi manusia di Iran (ICHRI), mengatakan ia dipanggil ke penjara Evin di Teheran pada bulan Juni untuk menjalani hukuman enam bulannya.

Aktivis Iran mengatakan wartawan perempuan lainnya, Sajedeh Arabsorkhi, juga sudah dipanggil untuk menjalani hukuman penjara satu tahun.

Wanita Iran Ampuni Pembunuh Anaknya Sesaat Sebelum Akan Digantung

Seorang narapidana pembunuhan di Iran bernama Balal lolos dari tiang gantungan pada menit-menit menjelang eksekusi mati dilakukan, setelah ibu korban memberinya permintaan maaf. Balal divonis mati tujuh tahun silam setelah ia terbukti membunuh seorang pemuda bernama Abdollah dalam perkelahian. Keduanya berusia 17 tahun saat itu.

Kasus ini menjadi berita besar di Iran setelah pengguna media sosial dan pesohor di negara itu melakukan kampanye agar eksekusi dibatalkan. Namun, hukum di Iran mewajibkan narapidana mendapat permintaan maaf dari keluarga korban sebelum hukum mati dibatalkan atau kisas, yang berarti “utang nyawa dibayar nyawa”.

Permintaan maaf itu tidak juga datang hingga eksekusi mati dijadwalkan pada Selasa (15/4/2014). Balal berteriak meminta nyawanya diselamatkan saat simpul hendak diletakkan di lehernya. Tiba-tiba, ibu korban mendekatinya dan menampar pipinya kemudian mengatakan bahwa ia memaafkan perbuatan Balal terhadap anaknya.

Amnesty International menyatakan, Iran memiliki angka hukuman mati tertinggi di dunia. Sebagian besar dilakukan dengan hukum gantung. Kini ada kelompok-kelompok masyarakat di Iran yang mendorong pemerintah agar mengubah sistem kisas dan melarang hukuman mati.

Rusia Berencana Akan Dukung Program Senjata Nuklir Iran Bila Ditekan Soal Krimea

Rusia pada Rabu malam mengancam akan mengubah pendiriannya soal program nuklir Iran sebagai tanggapan atas tekanan Uni Eropa dan Amerika Serikat yang mengecam invasi Moskow ke Krimea. “Kami tidak ingin menggunakan perundingan ini sebagai ajang perjudian dengan mempertimbangkan apa yang sedang terjadi di ibu kota negara-negara Eropa seperti Brussels dan juga Washington,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov kepada kantor berita Interfax.

“Namun jika kami dipaksa maka kami akan berbalik arah. Nilai historis mengenai apa yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan juga penyatuan kembali Krimea dan Rusia tidak dapat diperbandingkan dengan apa yang kami lakukan (berkaitan dengan Iran),” kata dia seperti dikutip AFP.

Pernyataan tersebut disampaikan Ryabkov di Wina di sela perundingan nuklir Iran yang juga melibatkan Rusia. Negosiasi tersebut dihadiri Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton dan Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif, yang baru-baru ini mengaku optimistis kesepakatan nuklir jangka panjang dapat diraih.

Iran bersama enam negara lainnya saat ini sedang berusaha mencapai kesepakatan nuklir jangka panjang sebelum 20 Juli mendatang. Ryabkov mengatakan bahwa Rusia, yang sebelumnya mendukung Barat dan mendesak Teheran untuk menghentikan program nuklirnya, dapat mengubah pendiriannya dan menegaskan bahwa peristiwa historis di Krimea merupakan persoalan yang lebih penting.

“Pada akhirnya, semua pilihan dan keputusan bergantung pada sahabat-sahabat kami di Washington dan Brussels,” kata Ryabkov. “Keberhasilan perundingan ini bergantung kepada mereka. Berubahnya pendirian kami juga bergantung pada mereka, bukan kami,” kata dia.

Ryabkov mengatakan bahwa Rusia tidak ingin “bermain-main dengan Amerika Serikat, Eropa, maupun Iran.” Moskow hanya ingin mempertahankan “kepentingan nasional yang fundamental.”

Iran Kirim Armada Perang Ke Perbatasan Laut Amerika Serikat

Komandan Angkatan Laut senior Iran mengumumkan pada hari Sabtu bahwa negara itu telah mengirim beberapa armada kapal perangnya ke perbatasan maritim Amerika Serikat.

“Armada Angkatan Laut Iran sudah dalam perjalanan menuju Samudra Atlantik melalui perairan dekat Afrika Selatan,” kata Komandan Armada Utara Angkatan Laut Iran Laksamana Afshin Rezayee Haddad, Sabtu, 8 Februari 2014.

Laksamana, yang juga komandan Zona 4 Angkatan Laut Iran, itu mengatakan, “Armada militer Iran mendekati perbatasan maritim Amerika Serikat, dan langkah ini memiliki pesan.”

Pada bulan September 2012, Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Habibollah Sayyari menegaskan rencananya untuk berlayar di lepas pantai AS guna melawan kehadiran AS di perairannya, di Teluk Persia.

Sayyari sebelumnya telah memberi informasi tentang rencana Teheran mengirim pasukan angkatan lautnya ke Atlantik untuk ditempatkan di sepanjang perbatasan laut AS. Lalu, pada September 2012, dia mengatakan bahwa ini akan terjadi “dalam beberapa tahun mendatang”.

Pengiriman kapal perang ini merupakan bagian dari respons Iran atas meningkatnya kehadiran Angkatan Laut AS di Teluk Persia. Armada kelima Angkatan Laut AS berpangkalan di Bahrain–di seberang Teluk Persia dari Iran, dan Amerika Serikat telah melakukan dua latihan perang maritim besar dalam dua tahun terakhir.

Pemerintah Iran Mendiskualifikasi Anggota Dewan Wanita Karena Terlalu Cantik

ninasiahkalimoradinewscomdlmSalah satu kandidat dalam pemilu Iran didiskualifikasi karena dianggap cantik atau “terlalu menarik”. Politikus wanita berusia 27 tahun ini gagal menjadi anggota dewan kota meski berhasil meraih suara yang cukup banyak.

Seperti dilaporkan The Independent dan dilansir news.com.au, Kamis (15/8/2013), Nina Siahkali Moradi berhasil meraih 10 ribu suara dalam pemilu legislatif untuk kota Qazvin. Perolehan tersebut menempatkannya dalam posisi nomor 14 dari total 163 kandidat.

Meskipun hanya 13 kandidat yang menempati posisi teratas yang terpilih sebagai anggota dewan kota, namun kandidat yang menempati posisi ke-14 meraih posisi sebagai ‘anggota alternatif’, atau ‘cadangan pertama’.

Jadi ketika salah satu anggota dewan kota terpilih menjadi Wali Kota, maka Moradi berhak mengisi posisi anggota dewan kota yang kosong tersebut. Namun pada kenyataannya, Moradi justru didiskualifikasi secara tiba-tiba dan dilarang untuk menempati posisi tersebut.

“Kami tidak ingin model cantik catwalk ada di dalam tubuh dewan kota yang akan membuat semua pria tidak bisa berkonsentrasi,” ujar pejabat senior kota Qazvin menanggapi hal tersebut.

Moradi merupakan lulusan fakultas arsitektur dan berjuang keras bersama rekan-rekannya untuk maju dalam pemilihan dewan kota. Moradi sendiri merasa heran dengan diskualifikasi ini.

“Nyaris 10 ribu orang memilih saya dan berdasarkan hal itu, seharusnya saya merupakan anggota alternatif pertama dalam Dewan Kota,” ucap Moradi kepada media setempat.

Keputusan otoritas setempat ini agak janggal karena melakukan diskualifikasi terhadap seseorang yang sebenarnya memiliki kualifikasi untuk menjabat, merupakan tindakan melanggar hukum. Nampaknya ini menjadi ujian bagi Presiden Iran yang baru, Hassan Rowhani yang dalam kampanyenya telah bersumpah untuk menegakkan hak-hak wanita.

Wartawan Indonesia Dilarang Memotret Di Iran Karena Disangka Membela Amerika Serikat

Gara-gara mengambil foto di jalanan kota Teheran, Iran, dua orang wartawan Indonesia dikepung polisi Iran. Mereka kemudian meminta foto yang diambil itu dihapus.

Peristiwa itu terjadi, Jumat (31/8/2012) sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Saat itu wartawan baru saja turun ke lobi bawah hotel Howeyzeh yang terletak di pusat kota Teheran. Para wartawan bersiap untuk kembali meliput kegiatan Wakil Presiden Boediono yang sedang menghadiri KTT gerakan Non-Blok di Teheran.

Saat itu kondisi lalu lintas Teheran masih sepi. Hal ini disebabkan hari Jumat adalah hari libur kerja untuk warga Iran.

Dua orang wartawan Indonesia kemudian meminta izin petugas hotel mengambil foto. Setelah diizinkan, mereka keluar hotel untuk berfoto.

Wartawan Metro TV Hanif Mustafad kemudian mengambil foto wartawan TVRI Thom Endiarto di trotoar yang ada di samping hotel. Lokasi pengambilan foto itu sebenarnya biasa saja. Hanya sebuah trotoar di persimpangan jalan di Teheran. Namun hal itu tetap membuat polisi di Iran marah.

Begitu selesai mengambil foto, dua orang polisi beseragam hijau-hijau langsung menghampiri Tom dan Hanif. Kemudian mereka meminta kamera yang mereka gunakan.

Polisi itu kemudian melapor ke petugas berpakaian preman yang ada di dalam hotel. Petugas keamanan berpakaian preman ini memang selalu ada di hotel. Mereka berkumpul di lobi hotel itu siang dan malam.

Begitu mendapatkan laporan ada yang menggambil foto mereka langsung keluar. Total ada 6 orang petugas berpakaian preman dan 4 orang polisi berseragam mengepung Tom dan Hanif.

“Kamu mengambil foto? Tunjukan mana fotonya?” Kata salah seorang petugas berpakaian preman.

Petugas ini berbadan tegap, berpenampilan rapi dengan kemeja lengan panjang, celana bahan dan juga sepatu hitam. Kebanyakan petugas berpakaian preman di Teheran memang sangat rapi, ada juga yang mengenakanan kemeja tanpa dasi dengan kaca mata hitam.

Ia kemudian memeriksa semua foto yang sudah ada di kamera tersebut. Kemudian meminta agar foto yang diambil keduanya dihapus dari kamera.

“Tadi foto yang mana yang diambil, hapus fotonya,” perintahnya.

Setelah insiden itu, petugas Iran langsung mendata ulang wartawan yang ikut rombongan Wapres Boediono. Semua wartawan diminta menyebutkan nama, jabatan dan juga media tempatnya bekerja. Padahal hal ini sudah berkali kali di lakukan saat rombongan di Iran. Selain itu paspor masing-masing wartawan juga dicatat petugas itu.

Untungya insiden itu tak berlangsung lama. Petugas kemanan itu membiarkan para wartawan pergi untuk bisa meliput kegiatan Wapres Boediono. Dalam perjalanan, salah seorang petugas dari Iran yang bertugas mengawal wartawan RI mengatakan sikap keras polisi itu disebabkan mereka tidak tahu kalau Indonesia adalah rekan Iran.

“Mereka mengira anda adalah wartawan yang membawa kepentingan Amerika yang membenci kita. Untuk itulah saya menjelaskan ke petugas kalau mereka salah,” katanya.

Petugas KBRI sudah mengigatkan agar para wartawan tidak sembarangan mengambil foto di jalanan Teheran. Hal ini disebabkan kamera bisa dirampas polisi Iran yang berjaga-jaga di jalanan.