Category Archives: China

Video Saat Presiden Putin Pakaikan Mantel Ke Tubuh Istri Presiden Cina Peng Liyuan Di Blokir

Potongan video saat Presiden Rusia Vladimir Putin memakaikan mantel kepada Peng Liyuan, istri Presiden Cina Xi Jinping, sempat ramai dibicarakan oleh netizen di Weibo (Twitter versi Cina) dan aplikasi chatting WeChat. Namun, kini tautan video dengan judul “Putin Gives Peng Liyuan His Coat” dikabarkan sudah diblokir oleh pemerintah Cina.

“Weibo tentang video itu menyebar dengan sangat cepat. Hingga tadi pagi, masih ada sejumlah pengguna media sosial yang membahasnya,” kata seorang pejabat, seperti dilaporkan CNN, Selasa, 11 November 2014. Menurut laporan, pencarian link video, dan komentar terkait dengan adegan itu sudah rusak alias tidak bisa dibuka lewat Internet. Namun, masih terdapat tautan foto tentang keakraban Putin dan Peng di acara APEC di Beijing, Cina, kemarin.

Belum ada komentar resmi dari Presiden Xi ataupun para pejabatnya. Media pemerintah Xinhua dan saluran CCTV yang pertama kali menyiarkan adegan itu juga tidak memberikan komentar. Cina memang berusaha mati-matian agar APEC yang digelar di negaraya dapat memproyeksikan citra yang bersih. Adegan Putin kepada Peng juga bukan satu-satunya yang disensor oleh pemerintah.

Sejak persiapan APEC pekan lalu, pemerintah mengontrol dengan sangat hati-hati nama-nama pejabat Cina di media sosial, khawatir akan ada kritik yang dilayangkan pengguna kepada mereka terkait dengan isu korupsi dan terbaca oleh media asing. Istri Presiden Cina Xi Jinping, Peng Liyuan, mendadak ramai dibicarakan oleh media internasional. Ini dipicu ulah Presiden Rusia Vladimir Putin memakaikan mantel untuk Peng saat acara penutupan APEC di Beijing, Cina, Selasa, 11 November 2014.

Dikutip dari Time, Selasa, 11 November 2014, Peng dulunya adalah seorang penyanyi sopran dan artis panggung yang sangat populer, bahkan lebih terkenal daripada Jinping sebelum menjabat sebagai presiden. Saat itu, wanita 51 tahun ini juga rutin tampil di stasiun televisi CCTV dalam acara perayaan Tahun Baru Cina.

Peng sering mendapatkan penghargaan di berbagai kompetisi menyanyi tingkat nasional. Lagu People from Our Village, Zhumulangma, dan In The Field of Hope membuat Peng semakin dikenal publik. Dia adalah orang Cina pertama yang mendapatkan gelar master dalam bidang musik etnik tradisional pada 1980-an. Peng juga masuk sebagai 57 wanita paling perpengaruh di dunia versi Forbes. Di balik wajah cantiknya, Peng pernah bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat pada 1980 saat usianya baru 18 tahun. Berawal menjabat sebagai prajurit biasa, kini wanita asal Yuncheng itu memegang peringkat setara sipil mayor jenderal.

Peng menikahi Jinping pada 1987 dan dikaruniai seorang putra bernama Xi Mingze. Para pejabat propaganda tengah berupaya membangun citra Xi dan Peng sebagai pasangan yang romantis dan penuh kasih yang dicintai oleh warga Cina.

Sumarti Ningsih WNI Indonesia Dibunuh Oleh Bankir Merrill Lynch Rurik Jutting Di Hong Kong

Pembunuhan dua wanita, salah satunya WNI, oleh Rurik Jutting, bankir sukses di Hong Kong menggemparkan kota tersebut. Terlebih lagi pembunuhan itu terjadi di apartemen mewah yang berada di distrik Wan Chai. Apartemen tersebut banyak dihuni para profesional finansial. “Sangat mengejutkan karena kami tak pernah mengira sesuatu seperti ini terjadi di Hong Kong, khususnya di gedung yang sama tempat saya tinggal,” ujar bankir setempat bernama Mina Liu seperti dilansir kantor Reuters, Senin (3/11/2014).

Dilaporkan bahwa harga sewa rata-rata unit apartemen yang ditinggali Jutting adalah 30 ribu dolar Hong Kong (hampir US$ 4 ribu) per bulan. Distrik Wan Chai sendiri dikenal sebagai lokasi hiburan malam yang populer di kalangan pria ekspatriat dan pekerja seks dari Asia Tenggara. Diberitakan bahwa polisi tiba di apartemen Jutting yang berada di lantai 31 pada Sabtu, 1 November. Polisi saat itu menemukan salah satu korban, Jesse Lorena Ruri (30) masih hidup, meski dengan luka tikaman parah di leher dan bokongnya. Namun wanita malang itu meninggal tak lama kemudian.

Delapan jam kemudian, saat polisi melakukan pemeriksaan forensik di flat tersebut, polisi menemukan sebuah koper di balkon. Tampak dua kaki menjulur keluar. Mayat dengan kepala nyaris terpenggal tersebut diidentifikasi sebagai Sumarti Ningsih (25), WNI. Kedua kaki dan tangannya terikat. Kedua korban oleh media setempat disebut sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Mengenai Jutting, pria berumur 29 tahun itu tadinya bekerja sebagai trader di bank terkemuka Amerika Serikat, Bank of America Merrill Lynch. Namun lulusan Universitas Cambridge, Inggris itu telah mengundurkan diri dari pekerjaannya beberapa hari sebelum pembunuhan tersebut terkuak.

Belum diketahui motif pembunuhan WNI bernama Sumarti Ningsih di Hong Kong oleh bankir Inggris bernama Rurik Jutting (29). Mayat wanita berumur 25 tahun itu ditemukan dalam sebuah koper warna hitam di balkon apartemen Jutting. Jasad Ningsih ditemukan dalam keadaan bugil dan dibungkus karpet lalu dimasukkan ke dalam koper.

“Dia nyaris terpenggal dan kedua tangan dan kakinya diikat tali,” ujar sumber kepolisian Hong Kong seperti dilansir South China Morning Post, Senin (3/11/2014). Paspor WNI itu ditemukan di lokasi. Hasil penyelidikan awal mengungkapkan, jasad Ningsih telah berada dalam koper tersebut selama tiga atau empat hari dan sudah mulai membusuk.

“Kami yakin wanita itu telah meninggal selama beberapa waktu,” tutur Wan Siu-hung, pejabat kepolisian distrik Wan Chai. Korban lainnya, dikenal dengan nama Jesse Lorena Ruri (30), juga ditemukan di apartemen Jutting dalam keadaan tanpa busana. Pada tubuhnya ditemukan luka-luka tikaman di leher dan bokong. Lokasi pembunuhan ini adalah di apartemen mewah Jutting yang berada di distrik Wan Chai. Distrik ini dikenal sebagai lokasi hiburan malam yang populer di kalangan pria ekspatriat dan pekerja seks dari Asia Tenggara.

Konsulat Jenderal RI di Hong Kong masih menelusuri keberadaan keluarga Sumarti Ningsih, WNI yang dibunuh oleh bankir Inggris Rurik Jutting. Proses pemulangan jenazah pun akan dilakukan secepatnya. “Sejauh ini kami sedang men-trace jati diri dan alamat korban di Indonesia, termasuk keluarganya,” kata wakil Konjen RI di Hong Kong Rafail Walangitan, saat dihubungi Senin (3/11/2014).

Menurut Rafail, jenazah Sumarti saat ini masih di rumah sakit. Pihak kepolisian masih memeriksa jasad wanita asal Indonesia yang masuk menggunakan visa turis tersebut. “Sesegera mungkin, apabila sudah selesai, kami akan siap siaga untuk memulangkan jenazah,” tambahnya. Sumarti dibunuh Jutting di apartemen di Hong Kong. Jutting sendiri yang melapor ke polisi bahwa dia sudah membunuh Sumarti dan seorang wanita lain bernama Jesse Lorena Ruri (30).

Kejadian ini berlangsung pada Sabtu, 1 November, lalu. Polisi saat itu menemukan salah satu korban, Jesse Lorena Ruri (30) masih hidup, meski dengan luka tikaman parah di leher dan bokongnya. Namun wanita malang itu meninggal tak lama kemudian. Delapan jam kemudian, saat polisi melakukan pemeriksaan forensik di flat tersebut, polisi menemukan sebuah koper di balkon. Tampak dua kaki menjulur keluar. Mayat dengan kepala nyaris terpenggal tersebut diidentifikasi sebagai Sumarti Ningsih (25), WNI. Kedua kaki dan tangannya terikat. Kedua korban oleh media setempat disebut sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Mengenai Jutting, pria berumur 29 tahun itu tadinya bekerja sebagai trader di bank terkemuka Amerika Serikat, Bank of America Merrill Lynch. Namun lulusan Universitas Cambridge, Inggris itu telah mengundurkan diri dari pekerjaannya beberapa hari sebelum pembunuhan tersebut terkuak. Bankir muda asal Inggris, Rurik Jutting ditahan di Hong Kong atas pembunuhan dua wanita yang merupakan pekerja seks komersial (PSK). Salah satu korban dipastikan sebagai WNI bernama Sumarti Ningsih (25). Pembunuhan ini terkuak setelah Jutting sendiri yang menelepon polisi.

Lulusan Universitas Cambridge, Inggris itu menelepon polisi pada Sabtu, 1 November sekitar pukul 3 dini hari waktu setempat. Demikian seperti diberitakan Daily Mail, Senin (3/11/2014), polisi pun menemukan kedua korban pembunuhan yang diidentifikasi sebagai Sumarti Ningsih (25) dan Jesse Lorena Ruri (30). Kepolisian setempat kini tengah menyelidiki dugaan adanya korban-korban lainnya. Ini dilakukan setelah polisi menemukan sekitar 2 ribu foto dan video di telepon genggam milik Jutting. Foto-foto kedua korban juga termasuk.

Lokasi pembunuhan ini adalah di apartemen mewah Jutting yang berada di distrik Wan Chai. Distrik ini dikenal sebagai lokasi hiburan malam yang populer di kalangan pria ekspatriat dan pekerja seks dari Asia Tenggara. Oleh media setempat, seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (3/11/2014), Jutting diberitakan bekerja sebagai trader di bank terkemuka Amerika Serikat, Bank of America Merrill Lynch. Namun pria itu telah mengundurkan diri dari pekerjaannya beberapa hari sebelum pembunuhan tersebut terkuak.

Juru bicara Bank of America Merrill Lynch menyatakan kepada Reuters, bahwa seorang pegawai dengan nama yang sama dengan Jutting telah ditahan sebagai tersangka utama dua kasus pembunuhan. Namun pihak bank tidak bersedia memberikan keterangan lebih detail. Juga tidak disebutkan sejak kapan Jutting berhenti dari pekerjaannya sebagai bankir investasi di bank ternama AS tersebut.

ankir Inggris, Rurik Jutting ditahan di Hong Kong atas pembunuhan dua wanita yang dilaporkan merupakan pekerja seks komersial (PSK). Pria berumur 29 tahun itu ditangkap setelah polisi menemukan kedua jasad korban di apartemen mewahnya di Wan Chai, distrik di Hong Kong yang dikenal akan kehidupan malamnya.

Kepolisian Hong Kong belum merilis identitas kedua korban. Namun dari pemberitaan media-media lokal, seperti dilansir Daily Mail, Senin (3/11/2014), kedua korban diidentifikasi sebagai Jesse Lorena Ruri (30) dan Sumarti Ningsih (25). Pemberitaan mengenai kewarganegaraan kedua wanita tersebut masih simpang-siur. Ada yang menyebut keduanya WNI, namun ada yang menulis salah satunya adalah WNI, yakni Sumarti dan korban lainnya adalah warga Filipina, yakni Ruri.

Diberitakan bahwa polisi tiba di apartemen Jutting yang berada di lantai 31 pada Sabtu, 1 November. Polisi saat itu menemukan Ruri masih hidup meski dengan luka tikaman di leher dan bokongnya. Namun wanita malang itu meninggal tak lama kemudian. Delapan jam kemudian, saat polisi melakukan pemeriksaan forensik di flat tersebut, polisi menemukan sebuah tas koper di balkon. Tampak dua kaki menjulur keluar. Mayat dengan kepala nyaris terpenggal tersebut diidentifikasi sebagai Sumarti. Kedua kaki dan tangannya terikat.

Oleh media setempat, seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (3/11/2014), Jutting diberitakan bekerja sebagai trader di bank terkemuka Amerika Serikat, Bank of America Merrill Lynch. Namun pria itu telah mengundurkan diri dari pekerjaannya beberapa hari sebelum pembunuhan tersebut terkuak.

Juru bicara Bank of America Merrill Lynch menyatakan kepada Reuters, bahwa seorang pegawai dengan nama yang sama dengan Jutting telah ditahan sebagai tersangka utama dua kasus pembunuhan. Namun pihak bank tidak bersedia memberikan keterangan lebih detail. Juga tidak disebutkan sejak kapan Jutting mundur dari pekerjaannya sebagai bankir investasi di bank ternama AS tersebut.

China Kerahkan Ribuan Tentara dan Jet Tempur Untuk Buru Drone Yang Terbang Di Dekat Bandara Beijing

Pemerintah China mengerahkan 1.200 personel militer dan sejumlah jet tempur setelah sebuah benda terbang tak dikenal melayang di dekat Bandara Beijing. Harian China Daily mengabarkan, benda terbang tak dikenal itu adalah sebuah drone yang tengah melakukan pemetaan. Tiga orang, lanjut harian itu, ditahan terkait insiden drone ini.

Harian China Daily mengutip pejabat pemerintah, sebanyak 1.226 personel militer, 123 kendaraan, 26 radar, 2 jet tempur, dan 2 helikopter dikerahkan setelah drone itu tertangkap di layar radar. Polisi kemudian menahan dua orang yang menerbangkan drone itu dan orang ketiga kemudian menyerahkan diri. Ketiga orang itu bekerja untuk sebuah perusahaan teknologi penerbangan dan drone berukuran 2,3 meter itu ditujukan untuk pekerjaan survei dan pemetaan.

Pemerintah China melarang jenis pesawat apa pun, berawak atau tidak, tanpa persetujuan angkatan udara, otoritas penerbangan sipil, dan biro pengendalian lalu lintas udara lokal melintas di wilayah udaranya.

Pada Juni lalu, seorang pria asal Selandia Baru sempat ditahan setelah menerbangkan drone yang dilengkapi kamera di atas kompleks “Kota Terlarang”, bekas kediaman kaisar China dan kini menjadi obyek wisata terkenal, yang terletak di dekat perumahan pejabat yang sangat tertutup.

Koki Cina Tewas Digigit Ular Kobra Yang Sudah Dipenggal dan Akan Dimakannya

Kejadian mengejutkan terjadi di sebuah restoran di Kota Foshan, Provinsi Guangdong, China. Suasana dinner atau makan malam pengunjung langsung heboh lantaran ada seorang koki yang tewas digigit ular. Anehnya, ia digigit kepala ular yang sudah dipenggal sekitar 20 menit sebelumnya.

Ketika itu, juru masak bernama Peng Fan itu sedang memasak sup spesial yang berisi daging ular kobra. Pertama-tama, ia memulai mengolah menu khas restoran itu dengan memenggal kepala ular Indochina. Bagian tubuh dan kepala sudah Peng pisahkan. Namun saat sang koki membuang kepala ular yang sudah berpisah dengan badan 20 menit sebelumnya, ia lantas digigit.

Ular Indochina dikenal memiliki bisa yang mematikan. Nyawa Peng tak terselamatkan, karena racun sudah merasuk ke dalam sel tubuhnya. Tim medis sudah terlambat untuk memberikan vaksin. Seorang pengunjung, Lin Sun mengaku kaget saat mendengar teriakan seseorang dari dalam dapur. Kemudian ia mendapat kabar ada koki yang digigit ular.

“Kami penasaran apa yang sedang terjadi di sana. Ternyata ada koki digigit ular. Dokter sudah dipanggil, tapi ia tak tertolong. Kami semua waktu itu langsung tak nafsu makan,” ujar Lin, seperti dikutip dari New York Daily News, Minggu (24/8/2014).

Juru bicara kepolisian setempat mengatakan kasus ini sebagai hal yang luar biasa. Tapi hal itu dinilai murni kecelakaan. “Dia sedang memasak dan tak terduga ia mendapat malapetaka. Tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkannya,” ujarnya kepada The Mirror.

Ahli ular kobra Yang Hong-Chang mengungkap alasan kenapa ular tersebut masih bisa menggigit sang koki. Dia mengatakan semua jenis kepala reptil masih bisa hidup selama 1 jam meski sebagian atau seluruhnya tubuhnya sudah dipotong.

Ular kobra jenis Indochinese kerap dijadikan salah satu bahan makanan lezat di Asia, termasuk China. Reptil yang ukuran rata-ratanya sekitar lima kaki ini kerap ditemui di negara Asia Tenggara Selain mematikan, bisa ular ini juga bisa dijadikan obat setelah diolah.

Pesawat Jet Tempur Cina Dekati Pesawat Militer Amerika Serikat Sambil Pamer Senjata

Sebuah jet tempur Cina terbang sangat dekat dan membahayakan sebuah pesawat patroli militer AS di atas perairan internasional di timur Pulau Hainan Cina, kata Pentagon. Juru bicara John Kirby mengatakan bahwa AS telah mengirim protes kepada militer Cina atas apa yang mereka sebut dengan pencegatan di udara dan menyebut tindakan pilot jet tempur Cina “tidak aman dan tidak profesional.”

Ia mengatakan bahwa pesawat Cina itu hanya berjarak 10 meter dari pesawat Angkatan Laut AS. Para koresponden mengatakan ini adalah insiden keempat sejak bulan Maret. Hingga saat ini tidak ada komentar mengenai insiden tersebut dari Cina. Laksamana Kirby mengatakan kejadian itu terjadi pada hari Selasa (19/08) ketika sebuah pesawat tempur Cina Su-27 mencegat pesawat patroli Poseidon P-8 milik Angkatan Laut AS dalam misi rutin.

“Kami telah memberitahu keberatan kami kepada Cina mengenai pencegatan yang tidak aman dan tidak profesional itu, serta mengancam keselamatan para awak pesawat serta tidak konsisten dengan hukum internasional,” kata Kirby.

Ia mengatakan bahwa manuver Cina itu tidak sejalan dengan upaya untuk meningkatkan hubungan militer kedua negara. Jet tempur Cina terbang sangat dekat dengan pesawat pengintai AS tiga kali, kata Kirby, di atas, di bawah dan di samping.

Pada satu titik pesawat itu melakukan manuver “barrel roll” atau berputar untuk menunjukkan persenjataannya. Laksamana Kirby mengatakan manuver Cina itu “sangat, sangat dekat dan sangat berbahaya.”

Pasangan Lansia Dibunuh dan Dimasak Oleh Anak Mereka Di Hongkong

Sepasang warga lanjut usia di Hong Kong diduga telah dibunuh oleh anak mereka sendiri bersama seorang temannya. Mayat pasangan itu kemudian dipotong-potong, diasinkan, dimasak dan dikemas ke dalam kotak makanan “seperti babi panggang”,lalu dibuang di tong sampah. Horor tragis itu terungkap di pengadilan Hong Kong sebagaimana dilaporkan harian South China Morning Post, Rabu (6/8/2014), yang kemudian dikutip kantor berita AFP.

Kepala Chau Wing-ki (65 tahun) dan istrinya Siu Yuet-yee (62 tahun) yang sudah dipenggal, ditemukan pada Maret tahun lalu. Kedua kepala itu dimasukan ke dalam dua lemari es di sebuah apartemen yang berceceran darah, beberapa hari setelah pasangan tersebut dilaporkan hilang.

Bagian-bagian lain dari mayat mereka ditemukan di sebuah tong sampah. Dokumen pengadilan menyebutkan, potongan-potongan mayat itu telah dimasak dan dikemas dalam kotak makanan bersama nasi. Tampaknya, kedua tersangka melakukan hal itu demi menyembunyikan kejahatan mereka setelah tidak bisa lagi menaruh potongan-potongan mayat tersebut di dua lemari es itu.

Putra pasangan malang itu, Henry Chau, yang berusia 30 tahun menyatakan tidak bersalah atas dakwaan pembunuhan itu. Sejumlah laporan menyatakan, ia mengatakan hal itu hari Rabu, saat ia dan Tse Chun-kei yang diduga telah ikut membantunya muncul pada hari kedua pengadilan. Harian South China Morning Post melaporkan, Henry Chau pada Selasa mengaku telah melakukan pembunuhan tetapi tidak sepenuhnya dapat disalahkan terkait dengan masalah mentalnya, sementara Tse, 36 tahun, membantah telah terlibat pembunuhan itu

Para jaksa menuduh Henry Chau dan Tse merencakan pembunuhan selama berbulan-bulan. Mereka telah membeli pisau, lemari es, sejumlah microwave oven, dan rice cooker. Berdasarkan laporan South China Morning Post, pasangan itu terekam kamera CCTV pada 1 Maret tahun lalu memasuki sebuah gedung berma putra mereka itu, kata para jaksa. Itulah terakhir kali pasangan itu terlihat masih hidup. Anak mereka meninggalkan gedung itu sendirian sekitar 20 menit kemudian, kata laporan tersebut. Dia lalu mencari pengobatan di sebuah rumah sakit untuk sejumlah luka di tangannya. Ada dugaan luka-luka itu dideritanya saat bertarung dengan ayahnya yang mungkin berjuang untuk membela diri.

Henry Chau semuka mengatakan kepada polisi bahwa keedua orang tuanya telah pergi ke daratan China. Namun ia kemudian mengakui pembunuhan itu di sebuah kelompok pesan di internet. Ia mengirim pesan WhatsApp dari kantor polisi kepada seorang teman di mana ia mengakui bahwa ia telah membunuh orang tuanya.

Dalam bukti yang dibacakan di Pengadilan Tinggi Hong Kong, Rabu, Chau menyatakan bahwa ia berencana untuk mengecoh polisi agar punya waktu bagi dirinya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman. “Saya dan teman yang melakukan pembunuhan bersama saya berencana untuk membuat itu menjadi kasus orang hilang dan membuang mayat sepotong demi sepotong,” katanya.

Dalam pesan itu, ia juga menyebut dirinya “psikopat” dan berkata, “Saya tidak bisa berempati dengan penderitaan orang lain karena pengalaman masa kecil dan remaja saya.”

South China Morning Post melaporkan bahwa Chau mengaku telah membunuh orang tuanya dengan bantuan Tse saat dirinya sedang emosional. Namun para jaksa menyatakan, pembunuhan itu direncanakan dengan hati-hati.

Kedua orang itu ditangkap pada 15 Maret. Polisi melakukan pencarian di apartemen dan menemukan mayat dipotong-potong itu, serta catatan dan tanda terima yang menunjukkan kedua tersangka sudah mulai merencanakan pembunuhan sejak November 2012.

Harian itu melaporkan, Chau mengatakan kepada polisi bahwa ia dan Tse membunuh orang tuanya, tetapi Tse-lah yang memotong-motong mayat mereka. Ia mengaku, Tse telah mengatakan kepadanya bahwa lemari es tidak cukup besar dan Tse kemudian mengasinkan sebagian potongan mayat dan menaruhnya dalam sejumlah kotak.

Chau juga menuduh Tse telah memasak sisa-sisa mayat sebelum mengemasnya dalam kotak makan bersama nasi dan membuangnya di tempat sampah, kata laporan tersebut.

Namun Tse membantah berperan dalam pembunuhan itu. Dia mengatakan, Chau memperlihatkan kepadanya sebuah kotak berisi tangan manusia dan bagian tubuh lainnya sebelum memperingatkan Chau bahwa akan sulit buat Tse untuk meyakinkan orang bahwa dirinya tidak membantu memotong-motong mayat itu, kata harian tersebut.

Pemerintah Cina Akhirnya Periksa Elit Partai Komunis Atas Dugaan Korupsi

Satu dari segelintir mantan elite Partai Komunis Cina telah menjalani pemeriksaan atas tuduhan melakukan korupsi. Zhou Yongkang, 71 tahun, yang dijuluki “Kamerad” oleh media milik pemerintah Cina, menjalani pemeriksaan oleh badan antikorupsi Negeri Tirai Bambu.

Selain mantan pengurus partai, Zhou juga mantan Menteri Keamanan Cina. Ia dituding melakukan korupsi saat duduk di jajaran elite partai dan menjadi pejabat pemerintah. China Morning Post dalam pemberitaannya, Selasa, 29 Juli 2014, menyatakan langkah pemerintahan Xi Jinping menyeret tokoh senior dalam kasus korupsi baru pertama kali ini terjadi.

Dalam beberapa dekade sebelumnya, menjerat para elite partai dalam kasus korupsi merupakan hal tabu. Zhou merupakan pejabat tersenior Cina yang pernah dijerat dalam kasus korupsi di sepanjang era modern Cina. Penjeratan ini diyakini akan memberikan dampak besar bagi negara itu.

The New York Times, Selasa, 29 Juli 2014, memberitakan, Zhou telah memperkaya keluarganya saat menjabat di pemerintah dengan menerima suap dari perusahaan-perusahaan minyak dan gas. Anak laki-laki Zhou, ipar, dan besannya memiliki aset senilai US$ 160 juta. Kasus Zhou ini telah mengakhiri aturan tak tertulis bahwa petinggi Komite Pengurus Revolusi Budaya dan Politbiro tidak boleh dihukum untuk kasus ekonomi dan kejahatan sosial. Alasannya, demi keutuhan partai.

Jerat korupsi yang dililitkan kepada Zhou dianggap sebagai suatu kejutan dari Presiden Xi Jinping dalam pemberantasan korupsi. Menurut Direktur Institusi Kebijakan Cina dari University of Nottingham di Inggris, Steve Tsang, kebijakan Xin Jinpiang merupakan hal yang hebat. “Mengakhiri konvensi tentang anggota Komite Pelaksana Politbiro tak tersentuh hukum atas tindakan kriminal yang dilakukannya,” kata Steve Tsang.

ebuah panel Partai Komunis Cina yang bertugas melaksanakan reformasi telah mengadakan pertemuan pertama dengan melibatkan empat pejabat tinggi, Kamis 23 Januari 2014. Panel yang dibentuk November lalu, akan melaksanakan reformasi pada korupsi, reformasi tanah, pasar, dan finansial.

Presiden Xi Jinping akan memimpin panel reformasi Cina tersebut. Tiga anggota panel berasal dari panitia kerja Politbiro yaitu Perdana Menteri Li Keqiang, Kepala Propaganda Liu Yunshan, dan Wakil Perdana Menteri Zhang Gaoli yang ditunjuk Wakil Ketua Panel.

Pembentukan kelompok ini diumumkan setelah Sidang Pleno Ketiga Partai Komunis pada bulan November, sebuah pertemuan partai untuk menetapkan kebijakan untuk jangka lima tahun mereka. Beberapa langkah reformasi di antaranya: penghapusan jaringan yang luas Cina kamp kerja paksa dan melonggarnya kontroversial kebijakan satu anak yang ada sejak 1980-an .

Tetapi pada saat yang sama, para pemimpin baru Cina ini jusru menghukum aktivis yang bersuara keras tentang kebijakan pemerintah. Pemerintah memperketat kontrol atas kebebasan berekspresi dan menahan puluhan aktivis sejak Xi mengambil alih kekuasaan pada akhir 2012.

Ilham Tohti, seorang akademisi yang vokal mengkritik perlakuan pemerintah Cina terhadap sebagian besar Muslim Uighur minoritas ditahan. Xu Zhiyong, seorang pengacara hak asasi manusia terkemuka, diadili di Beijing pada Rabu karena terlibat dalam protes menyerukan pejabat untuk mengungkapkan aset mereka. Jaksa mendakwa dengan ancaman hukuman lima tahun.

Menurut surat kabar Global Times milik negara, panel reformasi baru memiliki 19 anggota dan akan mempunyai enam gugus tugas yang ditujukan memperkuat sistem ekonomi dan ekologi, demokrasi, dan supremasi hukum, budaya, dan sistem sosial.