Category Archives: China

Koki Cina Tewas Digigit Ular Kobra Yang Sudah Dipenggal dan Akan Dimakannya

Kejadian mengejutkan terjadi di sebuah restoran di Kota Foshan, Provinsi Guangdong, China. Suasana dinner atau makan malam pengunjung langsung heboh lantaran ada seorang koki yang tewas digigit ular. Anehnya, ia digigit kepala ular yang sudah dipenggal sekitar 20 menit sebelumnya.

Ketika itu, juru masak bernama Peng Fan itu sedang memasak sup spesial yang berisi daging ular kobra. Pertama-tama, ia memulai mengolah menu khas restoran itu dengan memenggal kepala ular Indochina. Bagian tubuh dan kepala sudah Peng pisahkan. Namun saat sang koki membuang kepala ular yang sudah berpisah dengan badan 20 menit sebelumnya, ia lantas digigit.

Ular Indochina dikenal memiliki bisa yang mematikan. Nyawa Peng tak terselamatkan, karena racun sudah merasuk ke dalam sel tubuhnya. Tim medis sudah terlambat untuk memberikan vaksin. Seorang pengunjung, Lin Sun mengaku kaget saat mendengar teriakan seseorang dari dalam dapur. Kemudian ia mendapat kabar ada koki yang digigit ular.

“Kami penasaran apa yang sedang terjadi di sana. Ternyata ada koki digigit ular. Dokter sudah dipanggil, tapi ia tak tertolong. Kami semua waktu itu langsung tak nafsu makan,” ujar Lin, seperti dikutip dari New York Daily News, Minggu (24/8/2014).

Juru bicara kepolisian setempat mengatakan kasus ini sebagai hal yang luar biasa. Tapi hal itu dinilai murni kecelakaan. “Dia sedang memasak dan tak terduga ia mendapat malapetaka. Tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkannya,” ujarnya kepada The Mirror.

Ahli ular kobra Yang Hong-Chang mengungkap alasan kenapa ular tersebut masih bisa menggigit sang koki. Dia mengatakan semua jenis kepala reptil masih bisa hidup selama 1 jam meski sebagian atau seluruhnya tubuhnya sudah dipotong.

Ular kobra jenis Indochinese kerap dijadikan salah satu bahan makanan lezat di Asia, termasuk China. Reptil yang ukuran rata-ratanya sekitar lima kaki ini kerap ditemui di negara Asia Tenggara Selain mematikan, bisa ular ini juga bisa dijadikan obat setelah diolah.

Pesawat Jet Tempur Cina Dekati Pesawat Militer Amerika Serikat Sambil Pamer Senjata

Sebuah jet tempur Cina terbang sangat dekat dan membahayakan sebuah pesawat patroli militer AS di atas perairan internasional di timur Pulau Hainan Cina, kata Pentagon. Juru bicara John Kirby mengatakan bahwa AS telah mengirim protes kepada militer Cina atas apa yang mereka sebut dengan pencegatan di udara dan menyebut tindakan pilot jet tempur Cina “tidak aman dan tidak profesional.”

Ia mengatakan bahwa pesawat Cina itu hanya berjarak 10 meter dari pesawat Angkatan Laut AS. Para koresponden mengatakan ini adalah insiden keempat sejak bulan Maret. Hingga saat ini tidak ada komentar mengenai insiden tersebut dari Cina. Laksamana Kirby mengatakan kejadian itu terjadi pada hari Selasa (19/08) ketika sebuah pesawat tempur Cina Su-27 mencegat pesawat patroli Poseidon P-8 milik Angkatan Laut AS dalam misi rutin.

“Kami telah memberitahu keberatan kami kepada Cina mengenai pencegatan yang tidak aman dan tidak profesional itu, serta mengancam keselamatan para awak pesawat serta tidak konsisten dengan hukum internasional,” kata Kirby.

Ia mengatakan bahwa manuver Cina itu tidak sejalan dengan upaya untuk meningkatkan hubungan militer kedua negara. Jet tempur Cina terbang sangat dekat dengan pesawat pengintai AS tiga kali, kata Kirby, di atas, di bawah dan di samping.

Pada satu titik pesawat itu melakukan manuver “barrel roll” atau berputar untuk menunjukkan persenjataannya. Laksamana Kirby mengatakan manuver Cina itu “sangat, sangat dekat dan sangat berbahaya.”

Pasangan Lansia Dibunuh dan Dimasak Oleh Anak Mereka Di Hongkong

Sepasang warga lanjut usia di Hong Kong diduga telah dibunuh oleh anak mereka sendiri bersama seorang temannya. Mayat pasangan itu kemudian dipotong-potong, diasinkan, dimasak dan dikemas ke dalam kotak makanan “seperti babi panggang”,lalu dibuang di tong sampah. Horor tragis itu terungkap di pengadilan Hong Kong sebagaimana dilaporkan harian South China Morning Post, Rabu (6/8/2014), yang kemudian dikutip kantor berita AFP.

Kepala Chau Wing-ki (65 tahun) dan istrinya Siu Yuet-yee (62 tahun) yang sudah dipenggal, ditemukan pada Maret tahun lalu. Kedua kepala itu dimasukan ke dalam dua lemari es di sebuah apartemen yang berceceran darah, beberapa hari setelah pasangan tersebut dilaporkan hilang.

Bagian-bagian lain dari mayat mereka ditemukan di sebuah tong sampah. Dokumen pengadilan menyebutkan, potongan-potongan mayat itu telah dimasak dan dikemas dalam kotak makanan bersama nasi. Tampaknya, kedua tersangka melakukan hal itu demi menyembunyikan kejahatan mereka setelah tidak bisa lagi menaruh potongan-potongan mayat tersebut di dua lemari es itu.

Putra pasangan malang itu, Henry Chau, yang berusia 30 tahun menyatakan tidak bersalah atas dakwaan pembunuhan itu. Sejumlah laporan menyatakan, ia mengatakan hal itu hari Rabu, saat ia dan Tse Chun-kei yang diduga telah ikut membantunya muncul pada hari kedua pengadilan. Harian South China Morning Post melaporkan, Henry Chau pada Selasa mengaku telah melakukan pembunuhan tetapi tidak sepenuhnya dapat disalahkan terkait dengan masalah mentalnya, sementara Tse, 36 tahun, membantah telah terlibat pembunuhan itu

Para jaksa menuduh Henry Chau dan Tse merencakan pembunuhan selama berbulan-bulan. Mereka telah membeli pisau, lemari es, sejumlah microwave oven, dan rice cooker. Berdasarkan laporan South China Morning Post, pasangan itu terekam kamera CCTV pada 1 Maret tahun lalu memasuki sebuah gedung berma putra mereka itu, kata para jaksa. Itulah terakhir kali pasangan itu terlihat masih hidup. Anak mereka meninggalkan gedung itu sendirian sekitar 20 menit kemudian, kata laporan tersebut. Dia lalu mencari pengobatan di sebuah rumah sakit untuk sejumlah luka di tangannya. Ada dugaan luka-luka itu dideritanya saat bertarung dengan ayahnya yang mungkin berjuang untuk membela diri.

Henry Chau semuka mengatakan kepada polisi bahwa keedua orang tuanya telah pergi ke daratan China. Namun ia kemudian mengakui pembunuhan itu di sebuah kelompok pesan di internet. Ia mengirim pesan WhatsApp dari kantor polisi kepada seorang teman di mana ia mengakui bahwa ia telah membunuh orang tuanya.

Dalam bukti yang dibacakan di Pengadilan Tinggi Hong Kong, Rabu, Chau menyatakan bahwa ia berencana untuk mengecoh polisi agar punya waktu bagi dirinya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman. “Saya dan teman yang melakukan pembunuhan bersama saya berencana untuk membuat itu menjadi kasus orang hilang dan membuang mayat sepotong demi sepotong,” katanya.

Dalam pesan itu, ia juga menyebut dirinya “psikopat” dan berkata, “Saya tidak bisa berempati dengan penderitaan orang lain karena pengalaman masa kecil dan remaja saya.”

South China Morning Post melaporkan bahwa Chau mengaku telah membunuh orang tuanya dengan bantuan Tse saat dirinya sedang emosional. Namun para jaksa menyatakan, pembunuhan itu direncanakan dengan hati-hati.

Kedua orang itu ditangkap pada 15 Maret. Polisi melakukan pencarian di apartemen dan menemukan mayat dipotong-potong itu, serta catatan dan tanda terima yang menunjukkan kedua tersangka sudah mulai merencanakan pembunuhan sejak November 2012.

Harian itu melaporkan, Chau mengatakan kepada polisi bahwa ia dan Tse membunuh orang tuanya, tetapi Tse-lah yang memotong-motong mayat mereka. Ia mengaku, Tse telah mengatakan kepadanya bahwa lemari es tidak cukup besar dan Tse kemudian mengasinkan sebagian potongan mayat dan menaruhnya dalam sejumlah kotak.

Chau juga menuduh Tse telah memasak sisa-sisa mayat sebelum mengemasnya dalam kotak makan bersama nasi dan membuangnya di tempat sampah, kata laporan tersebut.

Namun Tse membantah berperan dalam pembunuhan itu. Dia mengatakan, Chau memperlihatkan kepadanya sebuah kotak berisi tangan manusia dan bagian tubuh lainnya sebelum memperingatkan Chau bahwa akan sulit buat Tse untuk meyakinkan orang bahwa dirinya tidak membantu memotong-motong mayat itu, kata harian tersebut.

Pemerintah Cina Akhirnya Periksa Elit Partai Komunis Atas Dugaan Korupsi

Satu dari segelintir mantan elite Partai Komunis Cina telah menjalani pemeriksaan atas tuduhan melakukan korupsi. Zhou Yongkang, 71 tahun, yang dijuluki “Kamerad” oleh media milik pemerintah Cina, menjalani pemeriksaan oleh badan antikorupsi Negeri Tirai Bambu.

Selain mantan pengurus partai, Zhou juga mantan Menteri Keamanan Cina. Ia dituding melakukan korupsi saat duduk di jajaran elite partai dan menjadi pejabat pemerintah. China Morning Post dalam pemberitaannya, Selasa, 29 Juli 2014, menyatakan langkah pemerintahan Xi Jinping menyeret tokoh senior dalam kasus korupsi baru pertama kali ini terjadi.

Dalam beberapa dekade sebelumnya, menjerat para elite partai dalam kasus korupsi merupakan hal tabu. Zhou merupakan pejabat tersenior Cina yang pernah dijerat dalam kasus korupsi di sepanjang era modern Cina. Penjeratan ini diyakini akan memberikan dampak besar bagi negara itu.

The New York Times, Selasa, 29 Juli 2014, memberitakan, Zhou telah memperkaya keluarganya saat menjabat di pemerintah dengan menerima suap dari perusahaan-perusahaan minyak dan gas. Anak laki-laki Zhou, ipar, dan besannya memiliki aset senilai US$ 160 juta. Kasus Zhou ini telah mengakhiri aturan tak tertulis bahwa petinggi Komite Pengurus Revolusi Budaya dan Politbiro tidak boleh dihukum untuk kasus ekonomi dan kejahatan sosial. Alasannya, demi keutuhan partai.

Jerat korupsi yang dililitkan kepada Zhou dianggap sebagai suatu kejutan dari Presiden Xi Jinping dalam pemberantasan korupsi. Menurut Direktur Institusi Kebijakan Cina dari University of Nottingham di Inggris, Steve Tsang, kebijakan Xin Jinpiang merupakan hal yang hebat. “Mengakhiri konvensi tentang anggota Komite Pelaksana Politbiro tak tersentuh hukum atas tindakan kriminal yang dilakukannya,” kata Steve Tsang.

ebuah panel Partai Komunis Cina yang bertugas melaksanakan reformasi telah mengadakan pertemuan pertama dengan melibatkan empat pejabat tinggi, Kamis 23 Januari 2014. Panel yang dibentuk November lalu, akan melaksanakan reformasi pada korupsi, reformasi tanah, pasar, dan finansial.

Presiden Xi Jinping akan memimpin panel reformasi Cina tersebut. Tiga anggota panel berasal dari panitia kerja Politbiro yaitu Perdana Menteri Li Keqiang, Kepala Propaganda Liu Yunshan, dan Wakil Perdana Menteri Zhang Gaoli yang ditunjuk Wakil Ketua Panel.

Pembentukan kelompok ini diumumkan setelah Sidang Pleno Ketiga Partai Komunis pada bulan November, sebuah pertemuan partai untuk menetapkan kebijakan untuk jangka lima tahun mereka. Beberapa langkah reformasi di antaranya: penghapusan jaringan yang luas Cina kamp kerja paksa dan melonggarnya kontroversial kebijakan satu anak yang ada sejak 1980-an .

Tetapi pada saat yang sama, para pemimpin baru Cina ini jusru menghukum aktivis yang bersuara keras tentang kebijakan pemerintah. Pemerintah memperketat kontrol atas kebebasan berekspresi dan menahan puluhan aktivis sejak Xi mengambil alih kekuasaan pada akhir 2012.

Ilham Tohti, seorang akademisi yang vokal mengkritik perlakuan pemerintah Cina terhadap sebagian besar Muslim Uighur minoritas ditahan. Xu Zhiyong, seorang pengacara hak asasi manusia terkemuka, diadili di Beijing pada Rabu karena terlibat dalam protes menyerukan pejabat untuk mengungkapkan aset mereka. Jaksa mendakwa dengan ancaman hukuman lima tahun.

Menurut surat kabar Global Times milik negara, panel reformasi baru memiliki 19 anggota dan akan mempunyai enam gugus tugas yang ditujukan memperkuat sistem ekonomi dan ekologi, demokrasi, dan supremasi hukum, budaya, dan sistem sosial.

Korban Gempa Di Cina Mencapai 589 Orang

Jumlah korban tewas akibat gempa di Cina pada Ahad, 3 Agustus 2014, mencapai 589 orang. Tim penyelamat terus melakukan pencarian korban yang masih tertimbun reruntuhan bangunan.

Pejabat pemerintahan Provinsi Yunnan mengatakan gempa berkekuatan 6,1 Skala Richter itu juga mengakibatkan lebih dari 2.400 orang cedera serta menghancurkan lahan pertanian di kawasan pegunungan. “Hingga saat ini, Rabu, 6 Agustus 2014 pukul 10.30 waktu setempat, korban tewas mencapai 589 orang,” ujar Kementerian Urusan Sipil Cina dalam keterangannya di laman resmi.

Kementerian mengatakan ribuan korban luka-luka tersebut seluruhnya diakibatkan oleh lindu. Adapun 230 ribu korban lainnya telah dievakuasi. “Sebanyak 80 ribu rumah yang ada di kawasan tersebut benar-benar hancur.”

Tentara Pembebasan Rakyat Cina menerangkan mereka telah mendirikan sejumlah pos darurat di kawasan terburuk akibat gempa di Longtousan sembari berharap dapat menemukan kembali korban selamat. “Di sana masih banyak korban. Mungkin kami tak sanggup lagi menggali korban yang tertimpa reruntuhan,” kata Kolonel Seng, pejabat militer senior di Provinsi Sichuan. “Namun, masih ada harapan menemukan mereka.”

Jumlah korban pada Rabu, 6 Agustus 2014, meningkat tajam. Sebelumnya pada Selasa, 5 Agustus 2014, jumlah korban dilaporkan mencapai 410 orang tewas. Namun pada Rabu, jumlah korban meningkat menjadi 589 orang tewas. “Kami sebelumnya kesulitan menghubungi orang-orang yang ada di kawasan pegunungan tersebut,” ujar Feng.

Ledakan Pipa Gas Hancurkan Kota Kaohsiung Di Taiwan

Ledakan pipa gas beruntun mengoyak-ngoyak Kaohsiung, kota terbesar kedua di Taiwan, Kamis tengah malam, 31 Juli 2014. Sedikitnya 25 orang tewas dan 267 luka-luka dalam kejadian itu. Ledakan terjadi di Distrik Cianjhen, membuat mobil-mobil terlempar dan jalan-jalan terbelah. Aparat masih menyelidiki penyebab kebocoran gas yang menyebabkan ledakan. Beberapa laporan menyebutkan ledakan disebabkan oleh pecahnya pipa di bawah tanah.

“Pemadam kebakaran menerima telepon ihwal adanya kebocoran gas sekitar pukul 20.46, Kamis malam lalu. Terjadi serangkaian ledakan sekitar tengah malam mencakup wilayah dua-tiga kilometer persegi,” kata Badan Pemadam Kebakaran Nasional Taiwan. Tayangan media memperlihatkan kebakaran besar, kendaraan yang jungkir balik, jenazah yang tertutup puing, serta jalan terbelah menjadi dua. Para saksi mengatakan ledakan tersebut menimbulkan bola api besar yang membubung ke udara hingga setinggi 30 meter.

Perdana Menteri Taiwan Jiang Yi-huah menyebutkan sedikitnya terjadi lima ledakan. Empat petugas pemadam kebakaran yang menyelidiki kebocoran gas dilaporkan turut menjadi korban, 22 lagi cedera, dan dua masih hilang. Sekitar 1.100 warga di sekitar lokasi ledakan diungsikan ke sekolah-sekolah, sementara tim pemadam berusaha memadamkan api dan mencari sumber kebocoran gas. Hingga Jumat pagi, sebagian besar kebakaran berhasil dipadamkan, namun ada yang masih berkobar. Pemerintah kota setempat menutup jalan sepanjang enam kilometer.

Sejumlah orang dilaporkan terjebak di bawah puing-puing. Penyebab pasti ledakan masih belum diketahui, tetapi beberapa perusahaan petrokimia memiliki pipa di sepanjang sistem pembuangan distrik. “Penyebab kebakaran hingga kini belum diketahui. Kami menduga kebocoran gas adalah propena,” kata Menteri Ekonomi Taiwan Chang Chia-chu.

Propena adalah gas tidak berbau dan mudah terbakar yang digunakan untuk membuat poliester. Kaohsiung adalah salah satu pusat produksi petrokimia Taiwan. Media setempat melaporkan sekolah-sekolah di Distrik Cianjhen dan Lingya diliburkan kemarin. Wali Kota Kaohsiung Chen Chu lewat akun Facebook-nya mengatakan penyelamatan masih dilakukan. Dia meminta masyarakat untuk mengikuti petunjuk tim penyelamat di lokasi kejadian dan tidak berdiri menonton.

“Pemerintah setempat telah meminta CPC dan Hsin Kao Gas (pemasok gas setempat) menghentikan pasokan gas,” kata Chen. Ia juga meminta Presiden Taiwan Ma Ying-jeou mengkaji kembali sistem pipa petrokimia di bawah tanah Kaohsiung untuk mencegah insiden serupa terjadi pada masa mendatang.

Pemerintah Taiwan menyatakan tiga hari berkabung dan mengibarkan bendera setengah tiang. Ucapan belasungkawa membanjiri media sosial. Masyarakat membentuk kelompok sukarelawan untuk mendistribusikan makanan dan kebutuhan lain. Sejumlah perusahaan besar juga menjanjikan bantuan senilai puluhan juta dolar Taiwan untuk operasi penyelamatan.

Serangan Kelompok Orang Berpisau Tewaskan Puluhan Orang di Xinjiang

Puluhan orang tewas dan terluka dalam sebuah serangan di wilayah Xinjiang, China. Demikian dikabarkan media massa China, Selasa (29/7/2014). Sekelompok orang bersenjatakan pisau menyerang sebuah pos polisi dan sejumlah kantor pemerintah di wilayah Shache, Xinjiang, Senin (28/7/2014) pagi.

Kantor berita Xinhua mengutip kepolisian setempat mengabarkan puluhan warga etnis Uighur dan Han tewas atau terluka akibat serangan itu. “Petugas polisi di lokasi kejadian menembak mati puluhan penyerang. Hasil investigasi awal menunjukkan aksi ini merupakan sebuah aksi teror terencana,” demikian Xinhua.

Pemerintah Beijing biasanya menuding kelompok separatis Uighur menjadi dalang aksi-aksi kekerasan semacam ini yang selama setahun terakhir berkembang hingga ke luar wilayah yang bergolak itu. Salah satu insiden terbesar adalah sebuah serangan di sebuah pasar di ibu kota Xinjiang, Urumqi pada Mei lalu yang menewaskan 39 orang. Aksi kekerasan lain adalah serangan pisau di sebuah stasiun kereta api di Kunmin, China baratdaya pada Maret yang menewaskan 29 orang.

Tiga orang dilaporkan tewas dan 79 orang terluka dalam sebuah serangan di stasiun kereta api di Xinjiang, Tiongkok, Rabu (30/4/2014) malam. Bersamaan dengan serangan kelompok berpisau itu, terjadi ledakan pada pukul 19.10 waktu setempat. Ledakan diduga berasal dari sebuah koper yang tergeletak di antara pintu keluar stasiun dan halte bus.

Stasiun itu langsung ditutup setelah peristiwa itu terjadi. Layanan kereta api pun dihentikan dan baru dibuka lagi dua jam kemudian dengan penjagaan aparat keamanan yang sangat ketat. Menurut Xinhua, beberapa orang bersenjata menyerang warga yang baru turun dari kereta di stasiun yang berada di Urumqi, ibu kota Xinjiang.

Serangan itu terjadi ketika Presiden Xi Jinping mengakhiri kunjungan ke provinsi tersebut. Namun, tidak jelas apakah Presiden Xi masih berada di wilayah itu ketika serangan terjadi. Dalam pernyataannya, Xi mendesak aparat berwenang untuk “mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melawan aksi terorisme”.

“Kita tidak boleh lengah dalam pertempuran melawan kekerasan dan terorisme dan tindakan nyata harus diambil untuk menekan para teroris,” kata Xi seperti dikutip Xinhua.Ketegangan antara Pemerintah Tiongkok dan warga etnis Uighur, yang merupakan warga mayoritas Xinjiang, berlangsung selama bertahun-tahun.

Pada pemberontakan yang pecah di Urumqi pada tahun 2009, hampir 200 orang tewas. Beijing menuding peristiwa itu diprovokasi pihak-pihak dari luar Tiongkok meskipun tidak ada bukti yang menunjukkan tuduhan itu.