Category Archives: Korea Utara Selatan

Korea Utara Klaim Miliki Ribuan Alat Pembuat Bom Nuklir

Korea Utara mengatakan mereka memiliki ribuan sentrifugal nuklir di fasilitas yang baru diumumkan ke masyarakat internasional bulan ini.

“Untuk tahap ini kami sedang membangun reaktor air dan untuk memenuhi permintaan, kami mengoperasikan sistem pengayaan uranium modern,” kata pejabat Korut seperti dikutip kantor berita Korut, KCNA, Selasa (30/11).

“Kami memiliki ribuan sentrifugal,” tambahnya.

Belum diketahui apakah sentrifugal ini bisa dimanfaatkan untuk membuat senjata nuklir.

Ilmuwan Amerika Serikat, Siegfried Hecker, telah berkunjung ke fasilitas nuklir Korut tersebut namun tidak bisa memastikan apakah fasilitas bisa beroperasi.

Dia hanya menyebut bahwa berbagai peralatan nuklir di dekat ibukota Pyongyang tersebut luar biasa.

Pyongyang mengatakan reaktor tersebut bisa dioperasikan sepenuhnya pada 2012 dan dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.

Pemerintah Korea Utara memastikan bahwa sentrifugal bisa digunakan untuk melakukan pengayaan uranium.

Klaim Pyongyang dikeluarkan ketika ketegangan di Semenanjung Korea masih tinggi menyusul serangan artileri Korut ke Pulau Yeonpyong sepekan silam, menewaskan empat orang.

Klaim ini besar kemungkinan juga akan semakin membuat Korsel khawatir. Pyongyang mengatakan serangan ini merupakan balasan atas latihan militer Korea Selatan dan Amerika Serikat di dekat Pulau Yeonpyong yang diserang.

Korut menggambarkan latihan militer gabungan Korsel-Amerika Serikat di Laut Kuning, yang tengah berlangsung di dekat garis perbataan yang disengketakan, sebagai tindakan provokatif.

Dalam latihan militer selama empat hari mulai Minggu lalu itu, Korsel dan AS mengerahkan berbagai peralatan perang termasuk kapal induk USS George Washington.

Ekspor-Impor dengan Korsel Terancam

Kelancaran ekspor-impor Indonesia dan Korea Selatan terancam kemungkinan gangguan perang. Situasi di Korsel memanas menyusul serangan militer Korea Utara terhadap negara tetangganya itu ke Pulau Yeonpyeong di Laut Kuning.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Sri Adiningsih, seusai Seminar Nasional Akhir Tahun Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jawa Barat di Bandung, Rabu (24/11), mengatakan, pengusaha di Indonesia harus bersiap-siap terhadap kemungkinan terburuk. Korsel termasuk salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

”Jadi, Korsel adalah salah investor penting dan besar untuk Indonesia sehingga pengaruhnya akan signifikan kalau terjadi perang,” katanya. Jika perang berlangsung, perdagangan Korsel akan terhambat dan pertumbuhan ekonominya merosot, bahkan negatif. Adiningsih mengatakan, nilai perdagangan dengan Korsel sekitar 5 persen dari total ekspor dan impor Indonesia terhadap semua negara.

Akan tetapi, Adiningsih lebih mengkhawatirkan contagious effect (efek menular) daripada perang. Pengaruh Korsel terhadap perekonomian Asia tergolong besar. Jika terjadi perang, negara-negara di sekitar wilayah konflik akan terkena imbasnya.

Indonesia juga mengekspor ke Korsel melalui negara-negara lain. Perang bisa mengganggu ekspor Indonesia yang dilakukan melalui negara-negara tersebut.

”Misalnya, Jepang sudah bersiap-siap dengan berbagai rencana. Rusia juga mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan,” katanya.

Pasar modal terpukul

Adiningsih menambahkan, potensi kekhawatiran lain adalah kecemasan para investor yang menanamkan dana jangka pendek. ”Kalau muncul persepsi negatif sedikit saja meski persoalannya terjadi di Korsel, dana bisa keluar. Saya khawatir stabilitas ekonomi makro Indonesia,” katanya.

Tak hanya Korsel, dana dari negara-negara lain juga bisa ditarik. Adiningsih mengungkapkan, saat terjadi krisis subprime mortgage di Amerika Serikat tahun 2008, pasar modal di Indonesia terpukul dan nilai rupiah sempat melemah karena efek menular.

”Indonesia tak punya investor subprime mortgage. Ekspor pun berupa kebutuhan sehari-hari dengan pasar yang sederhana. Bukan produk mewah yang terpukul,” katanya. Akan tetapi, banyak dana yang keluar sebagai dampak dari efek menular subprime mortgage.

”Kita harus waspada dan mengikuti perkembangan di Korsel. Mungkin saja sentimen negara-negara lain menjadi negatif,” katanya.

 

Indonesia Diminta Mengecam Korut

Pemerintah Korea Selatan meminta Indonesia ikut mengecam keras serangan militer Korea Utara. Permintaan itu disampaikan Wakil Duta Besar Korea Selatan Ahn Myung-soo di Jakarta, Kamis (25/11).

Kutukan, menurut dia, harus disuarakan dunia internasional untuk mencegah provokasi lebih jauh oleh Korea Utara pada masa mendatang.

”Serangan itu disengaja, terencana, dan jelas-jelas melanggar sejumlah ketentuan internasional, seperti Piagam PBB, perjanjian gencatan senjata kedua negara, dan Perjanjian Dasar Utara-Selatan tahun 1992 tentang Perjanjian Non-agresi. Para penguasa Korut harus bertanggung jawab penuh terhadap peristiwa tanggal 23 November 2010,” ujar Myung-soo.

Dia juga menambahkan, serangan itu sama sekali tidak bisa dimaafkan karena menyasar ke lokasi tempat tinggal masyarakat sipil dan bukan fasilitas-fasilitas militer.

Dalam kejadian itu, selain dua anggota marinir Korsel tewas, korban jiwa juga jatuh di kalangan masyarakat sipil sebanyak dua orang. Selain itu, 16 prajurit Korsel dan tiga warga sipil juga terluka.

Lebih lanjut Myung-soo juga mengingatkan, tindakan Korut bisa mengancam keamanan dan perdamaian kawasan Asia Pasifik. Selama ini Korut punya rekam jejak buruk, sering memprovokasi Korsel.

”Sebelumnya mereka menenggelamkan kapal Angkatan Laut kami (Cheonan) pada Maret tahun ini. Sekarang mereka menyerang permukiman sipil kami secara membabi buta,” ujar Myung-soo.

Komentar Presiden RI

Indonesia berharap Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk negara-negara yang dapat berperan kunci di Semenanjung Korea, berupaya maksimal untuk mencegah meluasnya konflik di kawasan itu. Potensi terjadinya peperangan baru di kawasan tersebut tidak dapat diabaikan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan keprihatinan Indonesia atas terjadinya ketegangan di Semenanjung Korea itu. Presiden menyatakan hal itu mengawali Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis.

”Saya harus mengatakan bahwa situasi itu membahayakan. Dan, kalau berlanjut bisa memicu konflik yang lebih besar, bahkan bisa memicu terjadinya peperangan baru. Kalau meluas, tidak mustahil bisa melibatkan negara-negara lain dalam konflik di Semenanjung Korea itu,” ujar Presiden.

Pada kesempatan itu, Presiden Yudhoyono menyampaikan bahwa Indonesia sangat prihatin atas terjadinya insiden dan ketegangan antara Korsel dan Korut yang bahkan telah menimbulkan korban jiwa, termasuk dari warga sipil tersebut.

Indonesia berpendapat bahwa tindakan melancarkan serangan militer, yang berpotensi memperluas konflik dan memicu peperangan baru, itu tidak dapat dibenarkan.

Terkait hal itu, di tengah situasi yang tidak menentu ini, PBB dan negara-negara kunci bisa mencegah terjadinya konflik dan peperangan baru di Semenanjung Korea.

Berkaitan dengan posisi Indonesia sebagai Ketua ASEAN pada 2011 sekaligus tuan rumah pertemuan puncak negara-negara Asia Timur, Presiden Yudhoyono mengatakan, salah satu agenda yang dirancang adalah dialog politik dan keamanan kawasan Asia Timur.

Mengingat ketegangan baru di Semenanjung Korea dan di Laut China Selatan, Presiden menilai, inisiatif untuk mengadakan dialog ini menjadi penting. ”Kita tahu, kita memerlukan kawasan yang betul-betul stabil, aman, dan damai agar perekonomian kita terus tumbuh di kawasan ini sebagai pilar perekonomian global,” ujar Presiden.

Asia Timur adalah salah satu sentra pertumbuhan ekonomi dunia, dengan keberadaan China, Korsel, dan Jepang. Kemajuan kawasan ini termasuk sebagai katalisator pembangunan ekonomi di kawasan dan dunia.

 

Korea Utara Mampu Menguasai Teknologi Nuklir

Pemerintah Amerika Serikat beserta sejumlah negara sekutu gusar soal kemampuan dan penguasaan teknologi nuklir Korea Utara. Mereka juga gusar dengan fasilitas pengayaan uranium yang dikuasai dan dimiliki Korut.

Mereka mengatakan, kemampuan pengayaan nuklir Korea Utara berpotensi besar membahayakan keselamatan negara-negara di sekitarnya. Namun, AS mengaku masih membuka kesempatan berdialog.

Kekhawatiran itu beralasan mengingat Korut dikenal sebagai pengekspor persenjataan nuklir. Bahkan, negara itu mengandalkan sepenuhnya pemasukan bagi perekonomian yang morat-marit itu dari hasil ekspor senjata. Negara komunis dan paling tertutup di dunia itu gembar mengembangkan senjata.

Kegusaran dan keterkejutan sejumlah negara muncul. Korut mengekspos fasilitas dan teknologi pengayaan uranium yang dimilikinya.

Ilmuwan AS bernama Siegfried S Hecker dan timnya dari Center for International Security and Cooperation, Universitas Stanford, AS, pertengahan November lalu berkunjung ke fasilitas nuklir Korut di Yongbyon. Hecker mengaku sangat terkejut dengan perkembangan yang dia lihat.

Teknologi pengayaan nuklir yang dikuasai Korut tampaknya sangat maju dan canggih dari yang diduga selama ini. Korut ternyata telah menguasai teknologi reaktor air biasa (light-water reactor) dan memiliki sedikitnya 2.000 unit mesin pemroses, yang digunakan untuk proses pengayaan nuklir.

Dalam laporan tertulisnya Hecker mengatakan, mereka beranggapan hanya akan menemukan sejumlah kecil alat pemroses uranium. Dia dan timnya justru menemukan sejumlah instalasi yang terdiri dari ribuan peralatan yang terpasang rapi dan bersih.

Instalasi itu diketahuinya punya kemampuan memproduksi uranium yang diperkaya (enriched uranium) berskala tingkat rendah. Material nuklir itu biasa digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir.

Telah mampu

Tidak hanya itu, Hecker dan timnya juga menduga kuat bahwa Korut sudah dalam tahap mampu membuat sumber sekunder material nuklir untuk keperluan persenjataan.

Sebelumnya Korut telah memiliki bom-bom berbasis plutonium. Bom sejenis (bom berbasis uranium) itu pernah dijatuhkan dan diledakkan AS di Hiroshima, Jepang, pada tahun 1945, yang mengakhiri Perang Dunia II.

Lebih lanjut, Panglima Angkatan Bersenjata AS Laksamana Mike Mullan menilai ekspos sengaja kemampuan nuklirnya itu menunjukkan sikap provokatif Korut, yang cenderung menunjukkan perilaku ingin berperang.

Untuk itu, Mullen meminta semua negara besar harus bersatu menekan Korut, tidak terkecuali China, negara sekutu utama Korut.

China sampai sekarang belum mengeluarkan reaksi resmi soal temuan terbaru itu. Satu-satunya komentar yang muncul adalah dari dosen Central Party School di Beijing, Zhang Liangui. Namun, dia menilai masalah tersebut hanya merupakan persoalan antara AS dan Korut.

 

Dunia Mengecam Korut

Para pemimpin dunia, Selasa (23/11), mengecam keras serangan militer Korea Utara ke Yeonpyeong, salah satu pulau di dalam teritori Korea Selatan. AS bersumpah akan membela Korsel jika Korut terus melancarkan serangan.

Gedung Putih menyatakan, ”Hentikan segera tindakan bermusuhan itu.” Korut didesak mematuhi perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea (1950-1953). ”AS bersumpah untuk membela sekutu kami, Korea Selatan, memelihara perdamaian dan stabilitas regional,” demikian pernyataan Gedung Putih, Selasa di Washington.

Rusia, Jepang, dan Eropa Barat juga mengecam Korut. China, sekutu dan penyanggah ekonomi Korut, juga prihatin atas insiden di perbatasan kedua Korea itu dan meminta agar perundingan nuklir enam negara yang terhenti untuk diteruskan. Perundingan terakhir pada Desember 2008 diikuti dua Korea, China, AS, Jepang, dan Rusia. Korut meninggalkan forum itu April 2009.

Menlu RI Marty Natalegawa mengatakan, Pemerintah Indonesia prihatin dengan perkembangan yang terjadi di Semenanjung Korea. Indonesia mendesak kedua negara menahan dan mengakhiri permusuhan untuk menghindari peningkatan ketegangan.

Jepang mengantisipasi

Insiden di Yeonpyeong ini merupakan yang paling serius setelah Perang Korea. Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengatakan, pemerintahannya mengantisipasi kemungkinan terburuk. ”Agar kita dapat bersikap tegas terhadap berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi,” kata Kan.

Menlu Rusia Sergey Lavrov, Menlu Inggris William Hague, Menlu Jerman Guido Westerwelle, dan Kepala Diplomat Uni Eropa Catherine Ashton juga mengecam keras tindakan Korut. ”Provokasi baru ini mengancam perdamaian regional,” kata Westerwelle.

Laut Kuning adalah tempat paling sensitif bagi kedua Korea. Bentrokan fisik pernah terjadi tahun 1999, 2002, dan November lalu di sana. Ketegangan meningkat sejak tenggelamnya kapal perang Korsel pada Maret 2010 akibat torpedo Korut. Pyongyang membantah. Pada akhir Oktober, Korut dan Korsel terlibat baku tembak di perairan dekat perbatasan. Hal itu menyebabkan ketegangan menjelang KTT G-20 di Seoul, bulan ini.

 

Korea Utara Umumkan Perang dan Serang Korea Selatan

Kepulan asap menjulang di Pulau Yeonpyeong, yang menjadi wilayah sengketa antara Korea Utara dan Korea Selatan, Selasa (23/11/2010). Asap tersebut menandai serangan di wilayah laut kuning, oleh pihak militer Korea Utara.

Korea Utara menembakkan puluhan peluru artileri ke sebuah pulau di perbatasan Korea Selatan, Selasa (23/11/2010). Akibatnya, seorang anggota marinir Korsel tewas dan 13 lainnya cedera.

Serangan terjadi setelah terkuak laporan bahwa Korea Utara (Korut) tampaknya sedang melakukan program pengayaan uranium, satu cara yang potensial untuk membangun sebuah bom nuklir, yang menyebabkan kekhawatiran serius bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Sekitar 50 peluru artileri Korut mendarat di pulau perbatasan Korea Selatan (Korsel), Yeonpyeong, yang terletak di dekat perbatasan Laut Kuning yang tegang. Serangan itu merusak puluhan rumah dan mengirim gumpalan asap tebal ke udara, lapor televisi YTN.

Seorang anggota marinir Korsel, bagian dari kontingen yang berbasis permanen di Pulau Yeonpyeong, tewas, kata militer. Pihak militer Korsel mengatakan, 13 marinir lainnya terluka dan YTN mengatakan, dua warga sipil juga terluka.

“Sebuah unit artileri Korea Utara melancarkan serangan provokasi ilegal pada pukul 14.34 waktu setempat (atau 12.43 WIB) dan pasukan Korea Selatan segera melakukan tembakan balasan sebagai upaya membela diri,” kata seorang juru bicara Pemerintah Korsel kepada AFP.

Korea Utara Membebaskan Nelayan Korea Selatan Setelah Dibayar 76 Milyar

Korea Utara (Korut) akhirnya membebaskan kapal nelayan Korea Selatan (Korsel) beserta tujuh awaknya yang terdiri atas empat warga Korsel dan tiga warga China, Selasa (7/9).

Kapal tersebut ditangkap aparat keamanan Korut di Laut Timur (Laut Jepang), 8 Agustus, karena dituduh mencuri ikan di Zona Ekonomi Eksklusif Korut. Pengembalian kapal ini dikait-kaitkan dengan permintaan Korut kepada Korsel untuk membantu pemulihan korban banjir di Korut.

Pekan lalu, Palang Merah Korsel menawarkan bantuan obat-obatan, makanan, dan kebutuhan sehari-hari senilai 10 miliar won (Rp 76,3 miliar) kepada Korut. Namun, Palang Merah Korut menyatakan lebih membutuhkan beras, semen, dan peralatan berat. Kementerian Unifikasi Korea di Seoul menyatakan tak ada hubungan antara permintaan bantuan Korut dan pengembalian kapal itu.

Korut Menahan Kapal Korsel Sehabis Latihan Perang

Di saat latihan militer besar-besaran Korea Selatan di Laut Kuning masih berlangsung, Korea Utara dilaporkan menahan satu kapal nelayan milik Korea Selatan di lepas pantai timur Semenanjung Korea, Minggu (8/8). Ketegangan pun memuncak.

Kapal nelayan Daeseung 55, yang diawaki empat warga Korea Selatan (Korsel) dan tiga warga negara China, ditangkap setelah dituduh memasuki zona ekonomi eksklusif Korut. Kapal kemudian ditarik menuju Pelabuhan Songjin di bagian timur laut Korea Utara (Korut).

”Kapal nelayan kami saat ini sedang diselidiki oleh pihak berwenang Korea Utara di perairan yang diperkirakan masuk zona ekonomi eksklusif Korut di sebelah utara Laut Timur,” kata kesatuan Penjaga Pantai Korsel dalam pernyataan resmi, Minggu petang.

Pihak Penjaga Pantai Korsel mendesak agar kapal tersebut segera dikembalikan utuh bersama seluruh awaknya. ”Kami mendesak pihak berwenang Korea Utara menangani kasus ini sesuai hukum dan norma internasional dan mengembalikan kapal serta awaknya sesegera mungkin.”

Penangkapan kapal nelayan berbobot 41 ton itu memicu ketegangan baru di Semenanjung Korea setelah pekan lalu kedua Korea saling berbalas ancaman terkait latihan perang anti-kapal selam yang digelar Korsel di Laut Kuning.

Korut mengancam akan membalas dengan dahsyat jika ada indikasi Korsel menyerang mereka. Pihak Korsel membalas dengan mengatakan tidak akan menoleransi provokasi apa pun dari Korut.

Insiden penangkapan kapal tersebut terungkap hanya beberapa jam setelah Presiden Korsel Lee Myung-Bak mendadak mengumumkan perombakan kabinet, Minggu siang. Lee menunjuk perdana menteri baru dan mengganti tujuh menteri.

Terkait ketegangan

Kim Tae-Ho (47), tokoh reformis yang sebelumnya menjabat Gubernur Gyeongsang Selatan di tenggara Korsel, ditunjuk sebagai perdana menteri.

Tujuh menteri yang diganti itu adalah Menteri Pendidikan, Menteri Kebudayaan, Menteri Pertanian, Menteri Ekonomi, Menteri Kesehatan, Menteri Tenaga Kerja, dan Menteri Urusan Khusus.

Tiga menteri yang berkaitan dengan hubungan luar negeri, yakni Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, dan Menteri Unifikasi, tetap dipertahankan. Pengamat memandang itu menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Presiden Lee, terutama terkait dengan sikap keras terhadap Korut, tak akan berubah.

”Melihat hubungan yang sedang tegang antara Seoul-Pyongyang, dan sentimen negatif para pemilih di Korsel terhadap sikap Utara, sepertinya keadaan tak akan berubah dalam waktu dekat,” tutur Kim Kyung-Min, profesor ilmu politik dari Universitas Hanyang, Seoul.

Korea Utara Mau Berunding Setelah Menenggelamkan Kapal Selam Korea Utara

Korea Utara menyatakan siap kembali ke perundingan enam negara yang terakhir dilakukan pada tahun 2005. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Korut Pak Ui Chun kepada Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Marty Natalegawa di Jakarta, Senin (2/8).

”Menlu Korut (Korea Utara) menyampaikan sanggahan atas tuduhan bahwa pihaknya bertanggung jawab atas tenggelamnya kapal milik Angkatan Laut Korea Selatan (Korsel). Menlu Korut mengatakan, negaranya sedang fokus pada upaya pembangunan. Untuk itu, dibutuhkan situasi kondusif, termasuk dengan kawasan regional,” ujar Marty.

Menurut Marty, Korut menyatakan siap untuk kembali ke perundingan enam pihak dengan Korsel, China, Rusia, Jepang, dan Amerika Serikat. Namun, tidak dijelaskan kapan perundingan enam pihak itu digelar kembali.

Marty mengingatkan, peran China sangat penting dalam upaya membuka kembali perundingan enam pihak tersebut. Sebagai langkah awal, diperlukan pembangun rasa saling percaya oleh para pihak yang terlibat.

RI berusaha meyakinkan Menlu Korut bahwa tidak ada upaya untuk mengucilkan atau memusuhi Korut. Sebaliknya, Menlu Korut menyampaikan, perundingan enam pihak itu harus didasarkan pada posisi setara dan berdaulat dari negara yang terlibat perundingan di Semenanjung Korea.

Siap hadapi agresi

Terhadap ancaman agresi militer, Menlu Korut menegaskan, pihaknya siap menghadapi agresi dari pihak mana pun.

Menlu Korut tiba pukul 11.00 di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin. Dia meninggalkan lokasi bersama rombongan tanpa memberi keterangan kepada wartawan pada pukul 14.00 seusai makan siang bersama Menlu RI. Menlu Korut diantar dengan sedan Toyota Camry hitam bernomor polisi B 1723 SAC. Rombongan yang mendampingi Menlu Korut diantar dengan sedan Mercedes Benz E 300 warna abu-abu dengan nomor polisi CD 65 01.

Marty menambahkan, pihak Indonesia mengecam penenggelaman kapal selam AL Korsel. Dalam upaya penyelamatan terhadap para korban tewas akibat kapal Cheo Nam yang tenggelam itu, dua pelaut WNI turut tewas walaupun mereka mendapatkan bintang jasa dari Pemerintah Korsel.

Menlu Korut dijadwalkan berada di Indonesia hingga 5 Agustus. Dia akan menghadiri pertemuan Sasaran Pembangunan Milenium (MDGs) yang diselenggarakan PBB di Jakarta. Sebelum ke Jakarta, Chui Un mengadakan kunjungan ke Myanmar untuk bertemu kubu diktator militer Tan Shwe.

Myanmar dan Korut menjadi sorotan dunia internasional karena menjalankan pemerintahan otoriter dan menutup diri.

Marty menegaskan, RI tidak akan menjadi mediator dalam pembicaraan Korut dan Korsel. Mekanisme tersebut sudah diatur dalam perundingan enam pihak yang disanggupi Korut untuk dilanjutkan kembali.

Alasan menyerang

Sementara dari Seoul, Senin, diberitakan, pihak Korut pernah melobi Korsel melalui partai politik di Korsel. Seorang anggota senior Partai Akbar Nasional yang berkuasa di Korsel dikabarkan membantu upaya perundingan damai antara Korsel dan Korut pada Desember 2009, sebagaimana dikutip Koran Dong-A Ilbo.

Namun, dikatakan, Pemerintah Korut meminta imbalan berupa bantuan ekonomi, termasuk 300.000 ton pupuk bagi Korut sebagai syarat untuk kembali ke perundingan antara Presiden Lee Myung Bak dan pemimpin komunis Kim Jong Il.

Permintaan itu ditolak oleh Korsel. Setelah itu, terjadilah serangan torpedo oleh Korut ke sebuah kapal selam Korsel.

Kementerian Unifikasi Korea dan Kantor Kepresidenan Korsel belum menanggapi beredarnya informasi tersebut.

Yim Tae-Hee adalah salah satu pejabat kepercayaan Presiden Lee Myung Bak. Yim Tae-Hee dikabarkan mengadakan pertemuan rahasia dengan pihak Korea Utara di Singapura, akhir tahun lalu. Pertemuan puncak pertama kedua Korea digelar tahun 2000 dan pertemuan kedua kalinya pada tahun 2007.

Para pemimpin pro-kiri di Seoul mendorong dijalankannya kebijakan untuk merangkul Pyongyang dan pengiriman bantuan kemanusiaan. Namun, pada tahun 2008 Presiden Lee mengaitkan bantuan dengan program nuklir Korut

Korea Utara Akan Menggunakan Senjata Nuklir Apabila Diserang Korea Selatan

Korea Utara Sabtu memperingatkan, negara itu akan menggunakan senjata nuklir jika diserang oleh AS dan Korea Selatan.

Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, mengangkat ucapan Kepala Gabungan Utara, Jenderal Ri Yong-Ho, dalam pertemuan nasional pada malam ulang tahun angkatan bersenjata negara komunis itu.

“Pasukan bersenjata revolusioner DPRK (Korea Utara) siap sepenuhnya untuk membuat frustrasi setiap provokasi agresor dengan satu pukulan,” kata Ri.

“Mereka akan memobilisasi semua alat termasuk alat penangkis nuklir … akankah imperialis AS dan boneka penghasut perang Korea Selata berani masuk ke langit, tanah dan laut DPRK meskipun hanya 0,001 mm,” katanya.

Ia menambahkan bahwa “situasi mengerikan sekarang berlaku di Semenanjung Korea” karena Korea Selatan yang berdekatan dan sekutunya AS, yang ia katakan ingin memulai perang.

Retorika keras itu terjadi ketika ketegangan antara kedua Korea itu tinggi karena tenggelamnya kapal perang Korea Selatan bulan lalu di dekat perbatasan laut yang diperselisihkan di Sungai Kuning dengan 46 orang tewas.

Seoul telah berhati-hati untuk tidak menuding secara langsung pada Utara karena insiden di Sungai Kuning itu, yang meningkatkan hubungan yang telah tegang, dan Pyongyang menolak Korea Utara disalahkan.

Ketegangan tersebut mendorong Menlu AS Hillary Clinton untuk mengatakan, ia mengharapkan tidak akan ada “salah perhitungan” yang dapat memicu perang baru antara kedua Korea it