Category Archives: Korea Utara Selatan

Rambut Pria Korea Utara Kini Harus Sama Dengan Presiden Kim Jong-un

Mulai sekarang, mahasiswa Korea Utara akan tampil serupa. Model rambut mereka akan sama dengan pemimpin negeri itu, Kim Jong-un. Pemerintah Korea Utara mengumumkan peraturan baru tersebut sekitar dua minggu lalu di Pyongyang.

Kebijakan ini akan dimulai di Pyongyang dan selanjutnya akan menyebar ke seluruh negeri. Meski mereka menghormati Kim, kebijakan model rambut ini dinilai negatif.

“Potongan rambut pemimpin kami sangat khusus. Ini belum tentu cocok untuk semua orang karena masing-masing memiliki bentuk muka dan kepala yang berbeda,” kata sejumlah sumber kepada Radio Free Asia, seperti dikutip Korea Times, Rabu, 26 Maret 2014.

Kunjungan ke salon di negara itu dikontrol ketat oleh rezim komunis. Seperti dilansir Australia Network News, pemerintah telah melarang sepuluh model rambut untuk pria dan 18 model untuk wanita.

Seorang warga Pyongyang yang kini tinggal di Cina mengatakan gaya rambut seperti itu tidak digemari di Korea Utara karena mirip dengan penampilan penyelundup dari Cina.

Delegasi Korea Selatan dan Utara Bertemu Membahas Reuni

Korea Selatan dan Korea Utara telah memulai pembicaraan untuk melanjutkan pembahasan mengenai rencana penyelenggaraan reuni keluarga pada Rabu, 5 Februari 2014. Pertemuan ini dilakukan di desa perbatasan Panmunjeom.

Menurut laporan Xinhua, tiga delegasi dari kedua belah pihak memulai pembicaraan ini pada pukul 10.00 waktu setempat atau sekitar pukul 08.00 WIB di Tongilgak, sebuah gedung administrasi di desa yang merupakan perbatasan kedua negara tersebut.

Sejak Perang Korea pada tahun 1950-1953, ribuan keluarga terpaksa berpisah. Hubungan keduanya terus tegang selama berpuluh tahun lamanya. Pembicaraan ini menjadi tanda kemajuan yang signifikan. Jika terlaksana, reuni ini akan menjadi yang pertama sejak 2010.

Pada Agustus lalu, sempat dilakukan pembicaraan serupa antara Palang Merah Korut dan Korsel. Rencananya akan dilakukan reuni bagi beberapa ratus anggota keluarga Korea yang terpisah pada bulan berikutnya. Namun, pembicaraan ini dibatalkan Korut lantaran mereka merasa adanya sikap “permusuhan” dari pihak Korsel.

Banyak yang khawatir Korut juga akan membatalkan kembali reuni ini.

Presiden Korea Utara Kim Jong Un Bunuh Semua Keluarga Pamannya Termasuk Anak Anak

Laporan mengenai kepemimpinan keji Kim Jong Un atas Korea Utara (Korut) kembali mencuat. Pasca mengeksekusi mati sang paman Jong Song Thaek, Jong Un dilaporkan mengeksekusi mati seluruh anggota keluarga sang paman termasuk yang masih anak-anak. Belum lama ini, atau pada 12 Desember 2013 lalu, paman Jong Un yang bernama Jang Song Thaek (67) dihukum mati atas tuduhan berniat menggulingkan keponakannya dari kursi pemimpin Korut, termasuk merencanakan kudeta militer. Jong Un bahkan menyebut pamannya lebih buruk dari anjing.

Kantor berita Yonhap melaporkan bahwa seluruh anggota keluarga sang paman dipanggil menghadap dirinya ke Pyongyang pada bulan lalu. Atas perintah Jong Un, seluruh anggota keluarga Jang dieksekusi mati dengan tujuan ‘menghentikan pemberontakan’ yang dimulai Jang.

“Eksekusi besar-besaran dilakukan terhadap keluarga Jang Song Thaek,” tutur seorang sumber seperti dikutip Yonhap News Agency dan dilansir news.com.au, Senin (27/1/2014). “Seluruh anggota keluarga Jang dihukum mati, bahkan termasuk anak-anak,” imbuh sumber yang enggan disebut namanya tersebut. Sumber itu menyebutkan, anggota keluarga yang dieksekusi mati termasuk saudara perempuan Jang yang bernama Jang Kye-sun, beserta suaminya yang menjabat Duta Besar Korut untuk Kuba, Jon Yong-jin yang juga dikenal sebagai diplomat senior.

Kemudian juga keponakan laki-laki Jang, yakni Jang Yong-chol yang menjabat Duta Besar Korut untuk Malaysia beserta kedua anak laki-lakinya. Anak laki-laki dan anak perempuan serta cucu-cucu dari dua saudara laki-laki Jang juga ikut dieksekusi mati. “Sejumlah anggota keluarga ditembak mati dengan pistol di depan sejumlah orang lain jika mereka menolak saat diseret keluar dari kediaman mereka,” terang sumber lainnya.

Beberapa anggota keluarga yang merupakan saudara ipar Jang, termasuk istri dari keponakannya dilaporkan mendapat pengampunan. Namun mereka dikirim ke desa-desa terpencil dan diasingkan di sana. “Eksekusi mati keluarga Jang berarti tidak ada jejaknya yang tertinggal. Pembersihan orang-orang yang berkaitan dengan Jang Song-thaek dilakukan dalam skala luas, mulai dari keluarga, kerabat hingga pejabat pangkat rendah,” tandas sumber tersebut.

Laporan mengenai eksekusi mati keluarga paman Jong Un ini muncul setelah Korut mendorong rencana untuk rekonsiliasi dan bersatu dengan Korea Selatan. Namun seruan tersebut ditanggapi dingin oleh Korsel.

Predisen Korea Utara Kim Jong Un Hukum Mati Pamannya Sendiri

Berita eksekusi mati paman pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengejutkan dunia. Selain dicap sebagai pengkhianat negara, pria nomor dua dalam rezim komunis Korut ini juga disebut lebih buruk dari anjing. Kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA) seperti dilansir news.com.au, Jumat (13/12/2013) mengumumkan eksekusi mati pria bernama Jang Song Thaek ini di halaman depan dengan judul ‘Traitor Jang Song Thaek Executed’. Disertai dua foto yang menunjukkan persidangan militer yang dijalani Jang serta foto Jang sedang dikawal ketat oleh dua tentara Korut.

Eksekusi mati pria berusia 67 tahun tersebut dilakukan setelah dua orang dekatnya, Ri Yong-Ha dan Jang Soo-Kil dieksekusi mati terlebih dahulu pada pertengahan November lalu. Ketiganya dijatuhi hukuman mati karena berusaha melakukan kudeta militer terhadap Kim Jong Un.

Dalam artikelnya, KCNA menyebut tindakan Jang ini memancing kemarahan rakyat Korut. Hukuman mati, menurut KCNA, dijatuhkan untuk menjawab kemarahan rakyat. “Pelayan negara dan rakyat di seluruh negeri meluapkan kemarahan dan menyerukan agar hukuman yang tegas diterapkan bagi setiap elemen anti-partai dan faksi kontra-revolusi,” demikian tulis KCNA.

“Putusan yang dijatuhkan merupakan pukulan keras yang diberikan pelayan negara dan rakyat yang marah terhadap Jang, seorang anti-partai, anggota faksi kontra-revolusi dan penipu politik yang keji,” imbuh KCNA dalam artikelnya. Tidak hanya itu, media resmi Korut ini juga memberikan julukan kasar bagi pria yang pernah menjadi mentor Kim Jong Un ini. “Manusia sampah yang keji, lebih buruk dari seekor anjing,” sebut KCN

KCNA juga merilis pengakuan Jang atas rencana kudeta militer terhadap Kim Jong Un yang merupakan keponakannya. “Saya berusaha untuk memancing keluhan rakyat dan kalangan militer bahwa situasi ekonomi negara ini dan kehidupan rakyatnya dalam kondisi mengerikan, rezim berkuasa gagal untuk menanganinya,” ucap Jang di pengadilan militer seperti dikutip KCNA.

Persidangan kasus ini didasarkan pada Undang-undang Kriminal yang berlaku di Korut. Jang dijatuhi hukuman mati atas nama revolusi dan rakyat Korut. “Hukuman mati dilaksanakan segera,” tulis KCNA tanpa menyebut lebih lanjut waktu dan lokasi eksekusi mati Jang.

Jang merupakan suami dari satu-satunya saudara perempuan Kim Jong Il, Kim Kyong-Hui. Semasa hidup, Jang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Korut. Sebelum disidang, Jang dicopot dari seluruh jabatannya, termasuk sebagai Wakil Ketua Komisi Pertahanan Nasional.

Korea Utara Klaim Miliki Ribuan Alat Pembuat Bom Nuklir

Korea Utara mengatakan mereka memiliki ribuan sentrifugal nuklir di fasilitas yang baru diumumkan ke masyarakat internasional bulan ini.

“Untuk tahap ini kami sedang membangun reaktor air dan untuk memenuhi permintaan, kami mengoperasikan sistem pengayaan uranium modern,” kata pejabat Korut seperti dikutip kantor berita Korut, KCNA, Selasa (30/11).

“Kami memiliki ribuan sentrifugal,” tambahnya.

Belum diketahui apakah sentrifugal ini bisa dimanfaatkan untuk membuat senjata nuklir.

Ilmuwan Amerika Serikat, Siegfried Hecker, telah berkunjung ke fasilitas nuklir Korut tersebut namun tidak bisa memastikan apakah fasilitas bisa beroperasi.

Dia hanya menyebut bahwa berbagai peralatan nuklir di dekat ibukota Pyongyang tersebut luar biasa.

Pyongyang mengatakan reaktor tersebut bisa dioperasikan sepenuhnya pada 2012 dan dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.

Pemerintah Korea Utara memastikan bahwa sentrifugal bisa digunakan untuk melakukan pengayaan uranium.

Klaim Pyongyang dikeluarkan ketika ketegangan di Semenanjung Korea masih tinggi menyusul serangan artileri Korut ke Pulau Yeonpyong sepekan silam, menewaskan empat orang.

Klaim ini besar kemungkinan juga akan semakin membuat Korsel khawatir. Pyongyang mengatakan serangan ini merupakan balasan atas latihan militer Korea Selatan dan Amerika Serikat di dekat Pulau Yeonpyong yang diserang.

Korut menggambarkan latihan militer gabungan Korsel-Amerika Serikat di Laut Kuning, yang tengah berlangsung di dekat garis perbataan yang disengketakan, sebagai tindakan provokatif.

Dalam latihan militer selama empat hari mulai Minggu lalu itu, Korsel dan AS mengerahkan berbagai peralatan perang termasuk kapal induk USS George Washington.

Ekspor-Impor dengan Korsel Terancam

Kelancaran ekspor-impor Indonesia dan Korea Selatan terancam kemungkinan gangguan perang. Situasi di Korsel memanas menyusul serangan militer Korea Utara terhadap negara tetangganya itu ke Pulau Yeonpyeong di Laut Kuning.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Sri Adiningsih, seusai Seminar Nasional Akhir Tahun Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jawa Barat di Bandung, Rabu (24/11), mengatakan, pengusaha di Indonesia harus bersiap-siap terhadap kemungkinan terburuk. Korsel termasuk salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

”Jadi, Korsel adalah salah investor penting dan besar untuk Indonesia sehingga pengaruhnya akan signifikan kalau terjadi perang,” katanya. Jika perang berlangsung, perdagangan Korsel akan terhambat dan pertumbuhan ekonominya merosot, bahkan negatif. Adiningsih mengatakan, nilai perdagangan dengan Korsel sekitar 5 persen dari total ekspor dan impor Indonesia terhadap semua negara.

Akan tetapi, Adiningsih lebih mengkhawatirkan contagious effect (efek menular) daripada perang. Pengaruh Korsel terhadap perekonomian Asia tergolong besar. Jika terjadi perang, negara-negara di sekitar wilayah konflik akan terkena imbasnya.

Indonesia juga mengekspor ke Korsel melalui negara-negara lain. Perang bisa mengganggu ekspor Indonesia yang dilakukan melalui negara-negara tersebut.

”Misalnya, Jepang sudah bersiap-siap dengan berbagai rencana. Rusia juga mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan,” katanya.

Pasar modal terpukul

Adiningsih menambahkan, potensi kekhawatiran lain adalah kecemasan para investor yang menanamkan dana jangka pendek. ”Kalau muncul persepsi negatif sedikit saja meski persoalannya terjadi di Korsel, dana bisa keluar. Saya khawatir stabilitas ekonomi makro Indonesia,” katanya.

Tak hanya Korsel, dana dari negara-negara lain juga bisa ditarik. Adiningsih mengungkapkan, saat terjadi krisis subprime mortgage di Amerika Serikat tahun 2008, pasar modal di Indonesia terpukul dan nilai rupiah sempat melemah karena efek menular.

”Indonesia tak punya investor subprime mortgage. Ekspor pun berupa kebutuhan sehari-hari dengan pasar yang sederhana. Bukan produk mewah yang terpukul,” katanya. Akan tetapi, banyak dana yang keluar sebagai dampak dari efek menular subprime mortgage.

”Kita harus waspada dan mengikuti perkembangan di Korsel. Mungkin saja sentimen negara-negara lain menjadi negatif,” katanya.

 

Indonesia Diminta Mengecam Korut

Pemerintah Korea Selatan meminta Indonesia ikut mengecam keras serangan militer Korea Utara. Permintaan itu disampaikan Wakil Duta Besar Korea Selatan Ahn Myung-soo di Jakarta, Kamis (25/11).

Kutukan, menurut dia, harus disuarakan dunia internasional untuk mencegah provokasi lebih jauh oleh Korea Utara pada masa mendatang.

”Serangan itu disengaja, terencana, dan jelas-jelas melanggar sejumlah ketentuan internasional, seperti Piagam PBB, perjanjian gencatan senjata kedua negara, dan Perjanjian Dasar Utara-Selatan tahun 1992 tentang Perjanjian Non-agresi. Para penguasa Korut harus bertanggung jawab penuh terhadap peristiwa tanggal 23 November 2010,” ujar Myung-soo.

Dia juga menambahkan, serangan itu sama sekali tidak bisa dimaafkan karena menyasar ke lokasi tempat tinggal masyarakat sipil dan bukan fasilitas-fasilitas militer.

Dalam kejadian itu, selain dua anggota marinir Korsel tewas, korban jiwa juga jatuh di kalangan masyarakat sipil sebanyak dua orang. Selain itu, 16 prajurit Korsel dan tiga warga sipil juga terluka.

Lebih lanjut Myung-soo juga mengingatkan, tindakan Korut bisa mengancam keamanan dan perdamaian kawasan Asia Pasifik. Selama ini Korut punya rekam jejak buruk, sering memprovokasi Korsel.

”Sebelumnya mereka menenggelamkan kapal Angkatan Laut kami (Cheonan) pada Maret tahun ini. Sekarang mereka menyerang permukiman sipil kami secara membabi buta,” ujar Myung-soo.

Komentar Presiden RI

Indonesia berharap Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk negara-negara yang dapat berperan kunci di Semenanjung Korea, berupaya maksimal untuk mencegah meluasnya konflik di kawasan itu. Potensi terjadinya peperangan baru di kawasan tersebut tidak dapat diabaikan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan keprihatinan Indonesia atas terjadinya ketegangan di Semenanjung Korea itu. Presiden menyatakan hal itu mengawali Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis.

”Saya harus mengatakan bahwa situasi itu membahayakan. Dan, kalau berlanjut bisa memicu konflik yang lebih besar, bahkan bisa memicu terjadinya peperangan baru. Kalau meluas, tidak mustahil bisa melibatkan negara-negara lain dalam konflik di Semenanjung Korea itu,” ujar Presiden.

Pada kesempatan itu, Presiden Yudhoyono menyampaikan bahwa Indonesia sangat prihatin atas terjadinya insiden dan ketegangan antara Korsel dan Korut yang bahkan telah menimbulkan korban jiwa, termasuk dari warga sipil tersebut.

Indonesia berpendapat bahwa tindakan melancarkan serangan militer, yang berpotensi memperluas konflik dan memicu peperangan baru, itu tidak dapat dibenarkan.

Terkait hal itu, di tengah situasi yang tidak menentu ini, PBB dan negara-negara kunci bisa mencegah terjadinya konflik dan peperangan baru di Semenanjung Korea.

Berkaitan dengan posisi Indonesia sebagai Ketua ASEAN pada 2011 sekaligus tuan rumah pertemuan puncak negara-negara Asia Timur, Presiden Yudhoyono mengatakan, salah satu agenda yang dirancang adalah dialog politik dan keamanan kawasan Asia Timur.

Mengingat ketegangan baru di Semenanjung Korea dan di Laut China Selatan, Presiden menilai, inisiatif untuk mengadakan dialog ini menjadi penting. ”Kita tahu, kita memerlukan kawasan yang betul-betul stabil, aman, dan damai agar perekonomian kita terus tumbuh di kawasan ini sebagai pilar perekonomian global,” ujar Presiden.

Asia Timur adalah salah satu sentra pertumbuhan ekonomi dunia, dengan keberadaan China, Korsel, dan Jepang. Kemajuan kawasan ini termasuk sebagai katalisator pembangunan ekonomi di kawasan dan dunia.

 

Korea Utara Mampu Menguasai Teknologi Nuklir

Pemerintah Amerika Serikat beserta sejumlah negara sekutu gusar soal kemampuan dan penguasaan teknologi nuklir Korea Utara. Mereka juga gusar dengan fasilitas pengayaan uranium yang dikuasai dan dimiliki Korut.

Mereka mengatakan, kemampuan pengayaan nuklir Korea Utara berpotensi besar membahayakan keselamatan negara-negara di sekitarnya. Namun, AS mengaku masih membuka kesempatan berdialog.

Kekhawatiran itu beralasan mengingat Korut dikenal sebagai pengekspor persenjataan nuklir. Bahkan, negara itu mengandalkan sepenuhnya pemasukan bagi perekonomian yang morat-marit itu dari hasil ekspor senjata. Negara komunis dan paling tertutup di dunia itu gembar mengembangkan senjata.

Kegusaran dan keterkejutan sejumlah negara muncul. Korut mengekspos fasilitas dan teknologi pengayaan uranium yang dimilikinya.

Ilmuwan AS bernama Siegfried S Hecker dan timnya dari Center for International Security and Cooperation, Universitas Stanford, AS, pertengahan November lalu berkunjung ke fasilitas nuklir Korut di Yongbyon. Hecker mengaku sangat terkejut dengan perkembangan yang dia lihat.

Teknologi pengayaan nuklir yang dikuasai Korut tampaknya sangat maju dan canggih dari yang diduga selama ini. Korut ternyata telah menguasai teknologi reaktor air biasa (light-water reactor) dan memiliki sedikitnya 2.000 unit mesin pemroses, yang digunakan untuk proses pengayaan nuklir.

Dalam laporan tertulisnya Hecker mengatakan, mereka beranggapan hanya akan menemukan sejumlah kecil alat pemroses uranium. Dia dan timnya justru menemukan sejumlah instalasi yang terdiri dari ribuan peralatan yang terpasang rapi dan bersih.

Instalasi itu diketahuinya punya kemampuan memproduksi uranium yang diperkaya (enriched uranium) berskala tingkat rendah. Material nuklir itu biasa digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir.

Telah mampu

Tidak hanya itu, Hecker dan timnya juga menduga kuat bahwa Korut sudah dalam tahap mampu membuat sumber sekunder material nuklir untuk keperluan persenjataan.

Sebelumnya Korut telah memiliki bom-bom berbasis plutonium. Bom sejenis (bom berbasis uranium) itu pernah dijatuhkan dan diledakkan AS di Hiroshima, Jepang, pada tahun 1945, yang mengakhiri Perang Dunia II.

Lebih lanjut, Panglima Angkatan Bersenjata AS Laksamana Mike Mullan menilai ekspos sengaja kemampuan nuklirnya itu menunjukkan sikap provokatif Korut, yang cenderung menunjukkan perilaku ingin berperang.

Untuk itu, Mullen meminta semua negara besar harus bersatu menekan Korut, tidak terkecuali China, negara sekutu utama Korut.

China sampai sekarang belum mengeluarkan reaksi resmi soal temuan terbaru itu. Satu-satunya komentar yang muncul adalah dari dosen Central Party School di Beijing, Zhang Liangui. Namun, dia menilai masalah tersebut hanya merupakan persoalan antara AS dan Korut.

 

Dunia Mengecam Korut

Para pemimpin dunia, Selasa (23/11), mengecam keras serangan militer Korea Utara ke Yeonpyeong, salah satu pulau di dalam teritori Korea Selatan. AS bersumpah akan membela Korsel jika Korut terus melancarkan serangan.

Gedung Putih menyatakan, ”Hentikan segera tindakan bermusuhan itu.” Korut didesak mematuhi perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea (1950-1953). ”AS bersumpah untuk membela sekutu kami, Korea Selatan, memelihara perdamaian dan stabilitas regional,” demikian pernyataan Gedung Putih, Selasa di Washington.

Rusia, Jepang, dan Eropa Barat juga mengecam Korut. China, sekutu dan penyanggah ekonomi Korut, juga prihatin atas insiden di perbatasan kedua Korea itu dan meminta agar perundingan nuklir enam negara yang terhenti untuk diteruskan. Perundingan terakhir pada Desember 2008 diikuti dua Korea, China, AS, Jepang, dan Rusia. Korut meninggalkan forum itu April 2009.

Menlu RI Marty Natalegawa mengatakan, Pemerintah Indonesia prihatin dengan perkembangan yang terjadi di Semenanjung Korea. Indonesia mendesak kedua negara menahan dan mengakhiri permusuhan untuk menghindari peningkatan ketegangan.

Jepang mengantisipasi

Insiden di Yeonpyeong ini merupakan yang paling serius setelah Perang Korea. Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengatakan, pemerintahannya mengantisipasi kemungkinan terburuk. ”Agar kita dapat bersikap tegas terhadap berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi,” kata Kan.

Menlu Rusia Sergey Lavrov, Menlu Inggris William Hague, Menlu Jerman Guido Westerwelle, dan Kepala Diplomat Uni Eropa Catherine Ashton juga mengecam keras tindakan Korut. ”Provokasi baru ini mengancam perdamaian regional,” kata Westerwelle.

Laut Kuning adalah tempat paling sensitif bagi kedua Korea. Bentrokan fisik pernah terjadi tahun 1999, 2002, dan November lalu di sana. Ketegangan meningkat sejak tenggelamnya kapal perang Korsel pada Maret 2010 akibat torpedo Korut. Pyongyang membantah. Pada akhir Oktober, Korut dan Korsel terlibat baku tembak di perairan dekat perbatasan. Hal itu menyebabkan ketegangan menjelang KTT G-20 di Seoul, bulan ini.

 

Korea Utara Umumkan Perang dan Serang Korea Selatan

Kepulan asap menjulang di Pulau Yeonpyeong, yang menjadi wilayah sengketa antara Korea Utara dan Korea Selatan, Selasa (23/11/2010). Asap tersebut menandai serangan di wilayah laut kuning, oleh pihak militer Korea Utara.

Korea Utara menembakkan puluhan peluru artileri ke sebuah pulau di perbatasan Korea Selatan, Selasa (23/11/2010). Akibatnya, seorang anggota marinir Korsel tewas dan 13 lainnya cedera.

Serangan terjadi setelah terkuak laporan bahwa Korea Utara (Korut) tampaknya sedang melakukan program pengayaan uranium, satu cara yang potensial untuk membangun sebuah bom nuklir, yang menyebabkan kekhawatiran serius bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Sekitar 50 peluru artileri Korut mendarat di pulau perbatasan Korea Selatan (Korsel), Yeonpyeong, yang terletak di dekat perbatasan Laut Kuning yang tegang. Serangan itu merusak puluhan rumah dan mengirim gumpalan asap tebal ke udara, lapor televisi YTN.

Seorang anggota marinir Korsel, bagian dari kontingen yang berbasis permanen di Pulau Yeonpyeong, tewas, kata militer. Pihak militer Korsel mengatakan, 13 marinir lainnya terluka dan YTN mengatakan, dua warga sipil juga terluka.

“Sebuah unit artileri Korea Utara melancarkan serangan provokasi ilegal pada pukul 14.34 waktu setempat (atau 12.43 WIB) dan pasukan Korea Selatan segera melakukan tembakan balasan sebagai upaya membela diri,” kata seorang juru bicara Pemerintah Korsel kepada AFP.