Mayang Prasetyo Transjender Indonesia Yang Dimutilasi dan Direbus Di Australia


Kepolisian Australia menggerebek kediaman Marcus Volke (28) setelah para tetangga melaporkan adanya bau tak sedap dari kediaman pria yang berprofesi sebagai juru masak itu. “Baunya seperti daging mentah yang dibiarkan begitu saja selama beberapa hari,” kata tetangga Volke, Courtney Reichart, seperti dikutip ABC.

Courtney mengaku sudah mencium bau itu sejak Rabu pekan lalu, tetapi tidak mengindahkannya hingga kian hari kian menyengat. Saat memasuki rumah itu, polisi sangat terkejut karena mendapati bagian tubuh Mayang Prasetyo tengah dimasak di dalam panci yang sedang dipanaskan di atas kompor.

Bagian tubuh lain perempuan yang diduga adalah seorang transjender itu ditemukan di sebuah tempat sampah di luar apartemen sang koki. Polisi kemudian menemukan jasad Volke di dalam sebuah tempat sampah besar di dekat apartemen tersebut. Sejumlah laporan menyebut Volke melukai lehernya sendiri.Mayang Prasetyo, seorang warga negara Indonesia yang menjadi korban pembunuhan dan mutilasi di Brisbane, Australia, dikatakan adalah seorang pekerja seks komersial (PSK) kelas internasional.

Seperti diberitakan oleh media Australia, dalam menjalankan profesinya sebagai PSK, Mayang memasang tarif sebesar Rp 5 juta per jam. “Seorang wanita transjender yang dibunuh dan dimutilasi oleh suaminya di sebuah apartemen di Brisbane adalah PSK ‘kelas tinggi’,” tulis media Australia Couriermail, Selasa (7/10/2014).

Media tersebut menulis, Mayang memasang tarif sebesar Rp 5 juta per jam atas jasanya. Mayang juga diketahui memasarkan jasa sebagai pekerja seks secara online. Dalam promosinya di media online, Mayang mengaku sebagai “PSK internasional”. Dalam salah satu iklan yang dibuat untuk menawarkan jasa sebagai pekerja seks, Mayang menulis, “Ambil saya sekarang sebelum terlambat.”

Nining Sukarni, ibu dari Mayang Prasetyo, saat dihubungi Couriermail.com.au mengatakan, Febri, panggilan Mayang, merupakan tulang punggung keluarga. Nining mengatakan, Mayang selalu mengirimkan uang ke Indonesia, terutama bagi dua adik perempuan yang masih berusia 15 dan 18 tahun.

Pada Sabtu (4/10/2014), Kepolisian Australia menggerebek kediaman Marcus Volke (28) setelah para tetangga melaporkan adanya bau tak sedap dari kediaman pria yang berprofesi sebagai juru masak itu. Saat dilakukan pemeriksaan di dalam rumah, polisi sangat terkejut karena mendapati bagian tubuh Mayang Prasetyo tengah dimasak di dalam panci yang sedang dipanaskan di atas kompor.

Bagian tubuh lain perempuan yang kemudian diketahui sebagai seorang transjender itu ditemukan di sebuah tempat sampah di luar apartemen sang koki. Polisi kemudian menemukan jasad Volke di dalam sebuah tempat sampah besar di dekat apartemen tersebut. Sejumlah laporan menyebut Volke melukai lehernya sendiri. Pasangan Volke dan Mayang baru pindah ke apartemen di wilayah elite Teneriffe yang terletak di pinggiran kota Brisbane.

Pasangan Volke dan Mayang baru pindah ke apartemen di wilayah elite Teneriffe yang terletak di pinggiran kota Brisbane. Volke bertemu Mayang saat mereka bekerja sebagai juru masak di sebuah kapal pesiar internasional. “Dia baru saja pulang. Semuanya tampak normal, dan dia pulang untuk merayakan Natal,” kata ibunda Marcus, Dorothy Volke.

Kepolisian kini masih menyelidiki kasus pembunuhan sadis yang mengguncang warga Brisbane tersebut. Keluarga berharap jasad Mayang Prasetyo alias Febri Andriansyah (27) dibawa ke Indonesia untuk dimakamkan di kampung halamannya. Hal tersebut disampaikan ibu korban, Nining Sukarni (45), saat ditemui di rumah kontrakannya di sebuah gang di Kelurahan Sukamenanti, Bandar Lampung, Selasa (7/10/2014).

“Keluarga berharap jenazah Febri segera dipulangkan ke Lampung,” kata Nining. Nining mengatakan, ia sebelumnya tak mengira bahwa korban mutilasi adalah anaknya sendiri. Apalagi setelah mengetahui bahwa pelaku pembunuhan adalah suaminya sendiri, Marcus Pieter Volke.”Saya kaget begitu mendapat kabar dari kawan Febri bahwa anak saya meninggal dbunuh suaminya sendiri,” kata Nining.

Menurut keterangan keluarga, Mayang dan Volke menikah di Denmark pada 1 Agustus 2013 lalu. Keduanya kemudian tinggal di Australia untuk mengembangkan bisnis penjualan dan perawatan anjing. Bagi keluarga, Mayang adalah tulang punggung keluarga. Dalam sebulan, Mayang kerap mengirim uang antara Rp 3 juta sampai Rp 4 juta untuk membiayai sekolah kedua adiknya serta pengobatan neneknya yang sudah tua. “Dia tulang punggung keluarga ini. Saya sangat sedih anak saya meninggal dengan cara yang mengenaskan,” ujar dia.

Sebelumnya diberitakan, Mayang dimutilasi dan bagian tubuh korban direbus oleh pasangannya yang bekerja sebagai chef di kapal pesiar. Febri adalah laki-laki yang mentransformasi jendernya dan mengubah nama menjadi Mayang Prasetyo.Pasangan Marcus Volke dan Mayang Prasetyo pernah mengunjungi Lampung dan menemui orangtua Mayang untuk meminta restu sebelum keduanya memutuskan untuk menikah pada bulan Agustus 2013.

Mayang ditemukan tewas dalam kondisi dimutilasi di apartemen mereka di Brisbane, setelah polisi mendatangi tempat itu karena bau menyengat, Sabtu (4/10/2014) malam. Marcus sempat melarikan diri lewat pintu belakang sebelum ditemukan tewas tidak jauh dari lokasi, diduga karena bunuh diri.

Marcus adalah pria yang berasal dari Kota Ballarat, di luar Kota Melbourne. Menurut informasi yang diperoleh ABC, jenazah Marcus nantinya akan dimakamkan di Ballarat.Sementara itu, pemulangan jenazah Mayang belum menunjukkan kepastian karena masih harus menunggu selesainya penyelidikan polisi. Saat ini, polisi masih terus menyelidiki kasus tersebut dan berusaha mendapatkan informasi dari rekan-rekan Mayang.

Media lokal di Brisbane melaporkan, ibu Mayang, Nining Sukarni, yang tinggal di Lampung, telah mengetahui musibah yang menimpa anaknya di Brisbane. Dilaporkan, Mayang merupakan anak tertua yang sehari-hari dipanggil dengan nama Febri. Disebutkan pula bahwa Febri selama ini selalu mengirimkan uang untuk kebutuhan sekolah dua adik perempuannya.

“Dia yang menyekolahkan adik-adiknya,” demikian dikatakan Nining Sukarni sebagaimana dilaporkan surat kabar Courier Mail di Brisbane. Ia mengaku terakhir berbicara dengan Mayang pada Kamis pekan lalu. Ia juga menjelaskan bahwa Marcus yang akrab dipanggil “Hit” pernah datang ke Lampung pada tahun lalu bersama Mayang. Mayang sendiri dikabarkan meminta restu dari ibunya sebelum melangsungkan pernikahan dengan Marcus pada bulan Agustus 2013 di luar negeri.

Pasangan ini kemudian pindah ke Brisbane. Namun, Mayang dilaporkan sering mengeluh bosan dan selalu ingin kembali ke rumah mereka di Bali. “Saya bilang ke dia, jangan suka berantem ya, harus saling baikan,” demikian dikatakan Nining seperti dilaporkan media lokal di Brisbane. Mayang sendiri pernah mengiklankan dirinya dalam sebuah situs online pada tahun 2011 dengan bayaran hingga 500 dollar Australia (sekitar Rp 5 juta) per jam.

Sejauh ini, polisi belum memastikan motif di balik pembunuhan Mayang dan aksi bunuh diri yang dilakukan Marcus Volke.Kisah cinta antara Mayang Prasetyo alias Febri Andriansyah (27) dengan pria Australia, Marcus Pieter Volke, berakhir tragis. Wanita transgender kelahiran Sukamenanti, Bandar Lampung, Provinsi Lampung, itu justru menjadi korban pembunuhan oleh pasangannya itu di apartemen mereka di Brisbane, Australia. Tak hanya dibunuh, tubuh Mayang dimutilasi dan potongan tubuhnya direbus oleh Volke.

Namun, siapa sangka kisah tragis pasangan tersebut menjadi akhir dari cinta yang sebenarnya sudah direstui keluarga Mayang sendiri. Keluarga tak menyangka, peristiwa itu bisa terjadi. “Ibu sebenarnya sudah merestui hubungan mereka. Kami sekeluarga juga sudah merestui saat kakak beserta lelaki bulenya minta izin untuk menikah di Eropa,” tutur Gebi Dendrian, adik Mayang, kepada Tribunnews.com, Selasa (7/10/2014).

Mayang dan Volke sempat berkunjung ke Lampung. Volke memang pendiam, namun keluarga tidak melihat tanda-tanda ada masalah di antara mereka. Hanya saja, Mayang sempat mengeluh kepada ibunya kalau dia tidak betah di Brisbane dan ingin kembali ke Bali. Mayang juga pernah menyebut Volke pencemburu dan temperamental.

Gebi menuturkan, sang kakak merupakan tulang punggung keluarga. Mayang juga yang selama ini membiayai sekolah dirinya dan sang adik, Geni Dendrian. “Kami berharap, jasad kakak bisa dipulangkan untuk dikebumikan di Lampung, karena ini tanah kelahirannya,” tutur dia.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Tatang Budie Utama Razak sebelumnya mengatakan, Mayang diduga dibunuh pada Sabtu (4/10/2014) sekitar pukul 21.00 waktu setempat. Setelah dibunuh, tubuh Mayang lantas dimutilasi. Sebagian potongan tubuhnya ditemukan polisi berada di atas kompor.

Seusai memutilasi tubuh pacar sejenisnya, Volke lantas diduga bunuh diri karena ditemukan luka sayatan di leher.Selama ini, Mayang Prasetyo, korban pembunuhan dengan mutilasi di Brisbane, Australia, adalah tulang punggung bagi keluarga. Kematian Mayang membuat keluarga sangat kehilangan.

Ibu Mayang, Nining Sukarni, mengaku sangat terpukul karena kehilangan anak sulungnya yang punya nama asli Febri itu. Menurut Nining, Mayang rutin mengirim uang ke Indonesia untuk membantu keluarganya di Indonesia, termasuk biaya pendidikan dua saudara perempuannya yang berusia 18 tahun dan 15 tahun.

“Dia membiayai sekolah kedua saudara perempuannya,” kata Nining Sukarni kepadaThe Courier-Mail Australia, di Lampung, Senin (6/10/2014) kemarin. Sukarni mengatakan, Mayang terakhir menghubunginya pada Kamis pekan lalu. Saat itu, Mayang mengaku baik-baik saja dan tidak ada tanda-tanda masalah yang dihadapinya.

Selain itu, Sukarni tak menyangka pasangan Mayang tega melakukan perbuatan itu. Menurut dia, Marcus Volke telah mengunjungi Indonesia tahun lalu. Dia tampak berperilaku tenang dan baru saja mulai bekerja di sebuah restoran Brisbane. Sebelum menikah dengan Volke di luar negeri bulan Agustus tahun 2013, Mayang meminta restu kepada ibunya Sukarni. Namun, kata Sukarni, belakangan ini Mayang mengeluh mulai bosan dan ingin pulang ke Bali, di mana pasangan itu memiliki rumah.

Kata Sukarni, Mayang pernah bercerita bahwa suaminya pencemburu. Volke juga temperamental setiap kali Mayang mengutarakan keinginannya meninggalkan Brisbane. “Febri tidak merasa betah tinggal di Brisbane. Bagaimanapun ia berusaha, namun rasa tidak betahnya tidak hilang,” kata Sukarni. “Saya mengatakan kepadanya untuk bersabar satu sama lainnya, bukan malah bertengkar,” tambahnya.

Namun, kisah Mayang dan Volke berakhir tragis. Polisi menemukan Mayang tewas dalam kondisi mengenaskan, Minggu (5/10/2014). Bagian tubuhnya dimutilasi dan sebagian sedang direbus di atas kompor. Volke sempat melarikan diri saat apartemennya digerebek polisi. Namun, tak lama kemudian ia tewas diduga bunuh diri. Pada Sabtu (4/10/2014) malam, Marcus Volke kabur ketika polisi menemukan potongan tubuh di apartemennya, di pinggiran Brisbane, setelah sejumlah tetangganya melaporkan terciumnya bau busuk dari kediaman pria tersebut.

Setelah membukakan pintu untuk petugas polisi, Marcus kabur dengan melewati pintu kaca dan kemudian meloncati balkon apartemennya dengan meninggalkan bercak darah di pagar balkon. Tak lama kemudian, tubuh Marcus ditemukan di dalam gudang industri, tempat di mana ia diyakini telah menghabisi hidupnya sendiri. Polisi belum mengkonfirmasi laporan bahwa Marcus telah memasak bagian tubuh pacarnya di atas kompor, ketika petugas tiba di apartemennya.

Ibu Marcus, Dorothy Volke, mengatakan, anak laki-lakinya itu tak pernah menunjukkan gelagat yang aneh. “Saya tak tahu apa yang dilakukannya – terakhir yang kami tahu ia bekerja di kapal,” ujarnya. Ia menuturkan, dirinya tak mengetahui perusahaan tempat Marcus bekerja. “Saya tak tahu, ia selalu berpindah-pindah pekerjaan,” sebutnya. Marcus diyakini bertemu pacarnya, Mayang Prasetyo, saat bekerja di sebuah kapal pesiar internasional.

Dorothy mengungkapkan, ia belum pernah bertemu dengan pacar Marcus, yang menurut sumber ABC berasal dari Indonesia. Para penyidik kini berharap agar kamera CCTV yang dipasang di lingkungan apartemen Marcus mampu mengungkap kejadian tragis pada Sabtu malam itu.

Sejumlah tetangga Marcus melaporkan bau busuk tersebut kepada manajer gedung. Courtney Reichart pertama kali mencium bau busuk pada Rabu (1/10/2014) ketika ia pulang bekerja. Ia mengatakan, bau busuk itu bertambah parah tiap harinya dan tak pernah hilang.

“Pada hari Sabtu, waktu saya keluar rumah untuk berjalan-jalan, baunya membuat mata berair, membuat tiba-tiba mual. Baunya seperti seseorang telah mengeluarkan makanan anjing atau daging merah dan meninggalkannya begitu saja selama beberapa hari,” kisahnya. Kompleks apartemen Marcus dan Courtney baru dibuka dua bulan lalu, selama waktu itu, Courtney hanya pernah bertemu Marcus dan pacarnya beberapa kali.

Courtney mengungkapkan, ia tak pernah mendengar pertengkaran dan pasangan itu memiliki sejumlah anjing. “Mereka pasangan yang normal. Mereka terlihat sangat ramah,” ujarnya seraya menyebut bahwa pacar Marcus adalah sosok yang cantik.

Dari halaman Facebook milik Marcus terlihat dirinya adalah seseorang yang kritis terhadap para pelaku kekerasan perempuan dan binatang. Kurang dari sebulan yang lalu, ia mengunggah sebuah tautan berita tentang seorang pria yang mengalami kekerasan karena membela sekelompok perempuan. Marcus mengomentari pria yang ditulis dalam berita itu sebagai ‘teman seperjuangan’. Pada Juni, ia bahkan meminta agar pelaku kekerasan dikebiri setelah membaca berita tentang dua gadis India yang digantung setelah diperkosa beramai-ramai.

Meninggalnya Mayang Prasetyo di Australia menjadi buah bibir di kalangan transgender yang kerap nongkrong seputaran klub malam Jalan Caplung Tanduk, Senin (7/10/2014).Seorang manajer bar, di saat dimintai keterangan, menuturkan, telah mengetahui berita kematian Mayang berdasarkan kabar yang beredar di kalangan kaum transgender.”Aku dengar si Mayang meninggal di Australia, aku enggak kenal, tapi katanya dulu sering nongkrong di sekitar sini (Jalan Camplung Tanduk, red),” ujarnya.

Sementara penerima tamu di Bali Joe Bar yang tak mau disebutkan namanya juga mengaku telah mendengar kematian Mayang Prasetyo. “Ya dengar matinya, dulu dia sering mangkal dijalan ini (Jalan Camplung Tanduk),” ucapnya. Dilaporkan, Mayang tewas dibunuh oleh kekasihnya, Marcus Volke (28) di Brisbane, Australia. Volke membunuh, memotong, dan merebus potongan tubuh Mayang.

Kepolisian Australia pun menggerebek Volke setelah para tetangga melaporkan adanya bau tak sedap dari kediaman pria yang berprofesi sebagai juru masak itu.”Baunya seperti daging mentah yang dibiarkan begitu saja selama beberapa hari,” kata tetangga Volke, Courtney Reichart, seperti dikutip ABC.Courtney mengaku sudah mencium bau itu sejak Rabu pekan lalu, tetapi tidak mengindahkannya hingga kian hari kian menyengat.

Saat memasuki rumah itu, polisi sangat terkejut karena mendapati bagian tubuh Mayang tengah dimasak di dalam panci yang sedang dipanaskan di atas kompor.Bagian tubuh lain perempuan yang diduga adalah seorang transjender itu ditemukan di sebuah tempat sampah di luar apartemen sang koki.

Polisi kemudian menemukan jasad Volke di dalam sebuah tempat sampah besar di dekat apartemen tersebut. Sejumlah laporan menyebut Volke melukai lehernya sendiri.Pasangan Volke dan Mayang baru pindah ke apartemen di wilayah elite Teneriffe yang terletak di pinggiran kota Brisbane.Volke bertemu Mayang saat mereka bekerja sebagai juru masak di sebuah kapal pesiar internasional.

“Dia baru saja pulang. Semuanya tampak normal, dan dia pulang untuk merayakan Natal,” kata ibunda Marcus, Dorothy Volke. Kepolisian kini masih menyelidiki kasus pembunuhan sadis yang mengguncang warga Brisbane tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s