Category Archives: Suriah

Uni Emirat Arab Kirim 1 Skuadron F-16 Untuk Bantu Jordania Melawan ISIS

Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), Sabtu (7/2/2015), mengirimkan satu skuadron jet tempur F-16 ke Jordania untuk membantu negeri itu menyerang Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Demikian disampaikan seorang pejabat Jordania yang tak mau disebutkan namanya.

Kabar dari pemerintah UEA itu diwartakan kantor berita WAM namun pemerintah tidak merinci peran yang akan diambil skuadron tempurnya saat membantu AU Jordania. Kabar ini merupakan perkembangan baru setelah sebelumnya UEA menyatakan mundur dari koalisi internasional pimpinan AS yang memerangi ISIS setelah video pembunuhan pilot Jordania Maaz al-Kassasbeh tersebar.

Sebelumnya, Jordania sudah bersumpah akan membalas kematian al-Kassasbeh dan akan meningkatkan serangan terhadap posisi ISIS di Suriah. Mulai Kamis (5/2/2015), angkatan udara Jordania melakukan serangan harian ke sejumlah sasaran ISIS. Demikian dikabarkan pihak militer dan media setempat.

Menteri Dalam Negeri Jordania Hussein al-Majali kepada harian Al-Rai mengatakan pemerintah negeri itu akan mengejar ISIS kemanapun mereka bersembunyi. Pemerintah Jordania mengatakan aparat keamanan mulai memperketat pengawasan dan siap menangani siapapun yang dicurigai akan mengganggu keamanan Jordania. Pemerintah juga meminta warga Jordania untuk melaporkan hal-hal yang mencurigakan terutama di kawasan yang banyak dihuni warga non-Jordania.

Raja Jordania Abdullah II sangat murka ketika mengetahui Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dengan brutal membunuh pilot muda neger itu Maaz al-Kassasbeh yang videonya kemudian disebar beberapa hari lalu. Saat video ekskusi brutal Al-Kassasbeh beredar, Raja Abdullah sedang melakukan kunjungan kerja ke salah satu sekutu terdekatnya, Amerika Serikat.

Begitu mendengar kabar duka ini, Abdullah mempersingkat kunjungannya di AS dan kembali ke negaranya. Setibanya di Jordania, Abdullah menyempatkan diri menyampaikan bela sungkawa langsung kepada keluarga Al-Kassasbeh. Selain itu, Abdullah yang nampaknya benar-benar murka langsung memerintahkan angkatan udaranya melakukan serangan balasan terhadap ISIS. Sejak Kamis lalu, kini setiap hari jet-jet tempur Jordania menghantam ISIS di wilayah Suriah yang didudukinya.

Di mata sejumlah pengamat Raja Abdullah yang baru merayakan ulang tahunnya ke-53 pada 30 Januari lalu melakukan respon yang sangat tepat. “Raja Abdullah sanga realistis saat menghadapi krisis,” kata Mohammad Abu Rummaneh, seorang peneliti di Pusat Studi Strategis Universitas Jordania.

Robert Danin, peneliti senior di lembaga Dewan Studi Timur Tengah untuk Hubungan Luar Negeri, sepakat dengan pendapat Abu Rummaneh. “Raja Abdullah selalu memandang masalah ISIS dengan pemikiran jernih. Dia menganggap ISIS sebagai ancaman baik untuk Jordania maupun kawasan Timur Tengah,” ujar Danin. “Raja Abdullah sangat cepat dalam bertindak. Pertama dia memerintahkan eksekusi dua terpidana teroris lalu meningkatkan kampanye militer melawan ISIS,” tambah Danin.

Cepatnya Raja Abdullah mengambil keputusan untuk meningkatkan serangan terhadap ISIS tak lama setelah kematian Al-Kassasbeh bisa dipahami karena Abdullah dikenal memiliki latar belakang militer yang kental. Di masa mudanya, Abdullah, seperti halnya sang ayah, mendapat pendidikan di Akademi Militer Sandhurst, Inggris yang bergengsi. Dia juga mendapatkan “lisensi” menerbangkan helikopter tempur Cobra.

Tak hanya itu, Abdullah adalah komandan pasukan khusus Jordania sebelum kemudian menjadi raja menggantikan ayahnya, Raja Hussein, yang wafat pada 1999.Di sisi politik, posisi Abdullah juga sangat kuat. Konstitusi negeri itu memb uat Abdullah benar-benar mengendalikan semua sendi pemerintahan. Dia bisa membentuk dan membubarkan pemerintahan bahkan dalam titik tertentu juga bisa membubarkan parlemen.

Abdullah juga memelihara hubungan baik dengan suku-suku yang menjadi tulang punggung keutuhan kerajaan tersebut. Di sisi lain, Abdullah menikahi Ratu Rania (44), seorang perempuan Kuwait kelahiran Palestina. Hal ini menjadi penting karena hampir separuh dari tujuh juta penduduk Jordania memiliki darah Palestina.

Sosok Abdullah yang dihormati di kalangan militer sekaligus disegani para politisi menjadi sangat relevan karena Jordania, menurut Abdullah, adalah sebuah negeri yang terjepit di antara “karang dan tempat yang keras”, yang merujuk lokasi antara Irak dan Tepi Barat yang diduduki Israel.

Raja Salman Dari Arab Saudi Sebut Pembakaran Hidup Hidup Pilot Muslim Jordania Tidak Sejalan Dengan Ajaran Islam

Raja Salman dari Arab Saudi, Rabu (4/2/2015), menyebut langkah ISIS membakar hidup-hidup pilot Jordania, Moaz al-Kassasbeh, sebagai perbuatan yang tak berperikemanusiaan dan tak sejalan dengan Islam. Dalam pesan ucapan belasungkawa yang disampaikan untuk Raja Jordania Abdullah II, Raja Salman mengatakan, kerajaannya ikut merasakan kesedihan mendalam warga Jordania terkait tewasnya Al-Kassasbeh.

Lebih jauh, Raja Salman juga mengecam kejahatan menjijikkan yang dilakukan ISIS, dan menambahkan bahwa semua tindakan ISIS sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kantor berita Arab Saudi, SPA, mengutip sejumlah sumber resmi, mengabarkan bahwa pemerintah kerajaan itu mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan upaya memerangi terorisme, dari mana pun asalnya.

Seperti halnya Jordania, Arab Saudi sejak September lalu juga bergabung dengan koalisi internasional pimpinan AS yang menggelar serangan udara terhadap ISIS yang menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah.

Angelina Jolie dan Kisah Gadis Budak Nafsu Syahwat Para Pejuang ISIS

Bintang Hollywood Angelina Jolie meresmikan sebuah pusat pemberdayaan wanita di London School of Economics (LSE). Ia menyerukan “pemberdayaan perempuan sebagai prioritas tertinggi untuk pemikiran terbaik di institusi akademik terbaik.” Ia meresmikan pusat ini bersama mantan Menteri Luar Negeri Inggris William Hague.

Jolie, utusan khusus untuk Komisi Tinggi PBB untuk pengungsi (UNHCR), baru saja kembali dari Irak utara. Di Irak utara Jolie bertemu dengan beberapa pengungsi yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka karena kekerasan yang dilakukan ISIS. Dia mengatakan bahwa mahasiswa di pusat perempuan, perdamaian dan keamanan di LSE memiliki kesempatan untuk mengubah dunia.

“Jika Anda bertanya untuk siapa pusat ini, saya membayangkan seseorang yang tidak berada dalam ruangan ini hari ini,” kata Jolie. “Saya memikirkan seorang gadis yang saya temui di Irak tiga minggu yang lalu. Usianya 13 tahun, tapi bukannya ia berangkat ke sekolah, ia duduk di lantai di tenda darurat.”

Gadis itu ditangkap oleh ISIS sebagai budak nafsu dan berulang kali diperkosa. “Sekarang dia mungkin tidak akan pernah bisa menyelesaikan pendidikannya, atau menikah atau memiliki keluarga, karena dalam masyarakatnya, korban pemerkosaan dijauhi dan dianggap memalukan. Bagi saya, apa yang telah kita mulai hari ini di LSE adalah bagi gadis Irak dan gadis-gadis lain sepertinya,” kata Jolie

Pusat ini akan mengumpulkan pemikir, aktivis, dan pembuat kebijakan, dan akademisi penting untuk bersama-sama menangani masalah-masalah dan isu-isu seperti pemerkosaan di medan perang dan keterlibatan perempuan dalam ranah politik.

ISIS Kembali Eksekusi 13 Remaja Muslim Irak

Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dikabarkan mengeksekusi 13 orang remaja laki-laki yang kedapatan tengah menonton laga Piala Asia 2015 antara Irak melawan Jordania, Senin (19/1/2015).Para remaja ini ditangkap ISIS di distrik Al-Yarmouk, Mosul, kota terbesar kedua Irak, yang kini berada di bawah kendali kelompok militan itu.

Laporan kelompok anti-ISIS “Raqqa Sedang Dibantai Diam-diam” itu menyebut ke-13 remaja itu ditangkap dan kemudian dieksekusi di hadapan publik dengan menggunakan senjata mesin.”Jasad mereka bergelilmpangan begitu saja di jalanan dan orangtua mereka tak bisa mengambil jenazah anak-anak mereka karena khawatir akan dibunuh ISIS,” ujar kelompok itu lewat situs resminya.

Kelompok ini menambahkan, sebelum proses eksekusi, seorang anggota ISIS menyebutkan kejahatan mereka dengan menggunakan pengeras suara. Menurut ISIS, kejahatan para remaja itu adalah melanggar hukum agama dengan menonton sepak bola. Kelompok “Raqqa Sedang Dibantai Diam-diam” adalah sebuah kelompok aktivis kecil yang secara rahasia mengumpulkan berbagai dokumen dan bukti kekejian ISIS yang berlangsung di kota asal mereka.

Kabar kekejian ISIS ini muncul dua hari setelah kelompok itu merilis video saat mereka melemparkan dua orang yang dituduh sebagai gay dari puncak sebuah bangunan bertingkat di kota Mosul.

Perancis Hadapi Serangan Teroris Kedua … Seorang Polwan tewas

Sehari setelah serangan penembakan yang terjadi di kantor majalah mingguan kontroversial Charlie Hebdo, baku tembak pecah di Montrouge, Paris selatan, Kamis (8/1). Insiden ini mengakibatkan seorang polisi wanita tewas. Belum jelas apakah baku tembak yang terjadi secara mengejutkan ini terkait dengan penembakan di Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang, termasuk pemimpin redaksi majalah mingguan itu dan sejumlah kartunis Perancis ternama.

Walikota Montrouge, Pierre Brossollette, mengatakan seorang polisi wanita dan seorang rekan tengah bertugas di lokasi kejadian untuk menangani kemacetan lalu lintas. Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti dan seorang pria keluar, lalu menembak kedua polisi tersebut sebelum melarikan diri. Seperti diberitakan Reuters pada Kamis (8/1), saksi mengatakan pelaku melarikan diri dengan mobil merek Renault Clio. Sementara, sumber polisi mengatakan sang pelaku mengenakan rompi anti peluru, dan bersenjatakan sepucuk pistol dan senapan serbu.

Siaran langsung di televisi Perancis memperlihatkan puluhan polisi dengan rompi pelindung dan helm berkumpul di luar gedung di dekat lokasi terjadinya baku tembak. Namun, salah satu petugas polisi yang berada di tempat kejadian menyatakan pelaku penembakan itu tampaknya tidak sama dengan tersangka insiden penembakan di Charlie Hebdo.

Hingga saat ini, seorang pelaku penembakan di kantor Charlie Hebdo, Hamyd Mourad yang berusia 18 tahun telah menyerahkan diri ke kantor polisi Charleville-Mezieres di Ardennes. Namun, dua tersangka utama adalah Said Kouachi, 34 tahun, dan Cherif Kouachi, 32 tahun, masih diburu polisi hingga saat ini. Baku tembak ini memicu melebarnya pencarian untuk kedua kakak-beradik Kouachi, yang merupakan warga keturunan Aljazair. Media lokal Perancis melaporkan bahwa Mourad merupakan teman dari kakak ipar salah satu tersangka utama. Media itu juga menyebutkan bahwa Mourad tengah berada di sekolah pada saat serangan itu terjadi.

Serangan bom
Dalam insiden terpisah, sumber dari kepolisian mengatakan serangan bom terjadi di sebuah toko kebab yang terletak di sebelah masjid di kota pusat Villefrance-sur- Saone. Media setempat mengatakan insiden ini tidak mengakibatkan korban jiwa maupun luka. Petugas keamanan Perancis telah lama khawatir bahwa warga Perancis yang menjadi simpatisan kelompok militan ISIS yang ikut berperang di Suriah dan Irak, kembali ke Perancis untuk membuat kekacauan.

Kelompok militan memang telah berulang kali mengancam Perancis dengan serangan, setelah negara ini ikut berpartisipasi dalam koalisi serangan udara yang dipimpin Amerika Serikat ke markas-markas ISIS. Ancaman tersebut membuat pemerintah mengeluarkan undang-undang anti-terorisme pada tahun lalu. Perdana Menteri Manuel Valls mengatakan Perancis tengah menghadapi ancaman teroris dan menegaskan dua bersaudara telah lama menjadi buron pihak kepolisian.

Namun, Valls menyatakan serentetan serangan ini tidak dapat disimpulkan sebagai akibat dari pihak kepolisian yang meremehkan ancaman teroris. “Karena mereka telah lama menjadi buron, mereka telah lama diincar. Kita harus memikirkan korban hari ini dan berkabung,” kata Valls kepada Radio RTL, seperti ditulis Reuters, Kamis (8/1).

Insiden baku tembak ini terjadi pada hari pertama dalam total tiga hari berkabung yang diintruksikan Presiden Perancis, Froncois Hollande. Di sejumlah lokasi di Paris, bendera tiga warna Perancis dikibarkan setengah tiang, dan berbalut pita hitam. Sebanyak tujuh orang telah ditangkap. Sumber dari pihak kepolisian mengatakan sebagian besar dari mereka yang ditangkap adalah kenalan dari dua tersangka utama.

Majalah Charlie Hebdo terkenal kontroversial karena kerap menerbitkan kartun satire yang menyinggung berbagai tokoh politik dan agama, termasuk Islam. Puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan di Paris dan sejumlah kota besar lainnya Perancis, sebagai aksi solidaritas pada Rabu (7/1) malam. Beberapa warga Paris mengekspresikan ketakutan mereka akan efek yang ditimbulkan setelah penembakan di Perancis, yang menjadi negara dengan populasi umat Muslim terbesar di Eropa.

Demonstrasi terjadi di mana-mana menyerukan kebebasan berbicara dan kebebasan media. Banyak warga memakai lencana bertuliskan “Je Suis Charlie”, yang berarti “Saya Charlie”. Serentetan serangan yang terjadi di Perancis telah menimbulkan pertanyaan keamanan di negara Barat dan di seluruh dunia. Para pemimpin komunitas Muslim mengutuk serangan itu, namun beberapa menyatakan kekhawatiran insiden ini dapat memicu sentimen anti-Islam di Perancis, negara dengan populasi Muslim terbesar di Eropa.

Korea Utara Ekspor Tank dan Rudal Buat ISIS

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dilaporkan memiliki tank dan rudal buatan Korea Utara. Mengutip informasi sumber intelijen, NK News melaporkan, tank dan rudal itu digunakan ISIS menyerang Kurdi, Irak utara, pada September lalu. Tank tipe T-55 itu diyakini buatan Uni Soviet yang kemudian diperbarui di Korea Utara. Sedangkan rudal yang dipakai milisi ISIS memang buatan Korea Utara.

Hari ini, 5 Desember 2014, Chosun Ilbo memberitakan, sebelumnya, intelijen Jerman menjelaskan ke parlemen bahwa ISIS memiliki rudal yang mampu menembak jatuh pesawat sipil. Foto milisi ISIS menggunakan rudal itu diunggah di Twitter baru-baru ini. Intelijen Jerman yakin senjata-senjata yang dimiliki ISIS berasal dari Rusia, Bulgaria, atau Cina.

Senjata itu juga diduga hasil rampasan saat mereka berperang dengan pasukan pemerintah Suriah di Kota Raqqa pada Agustus lalu. Suriah dan Korea Utara berteman dekat sejak 1970-an. Korea Utara menjual berbagai jenis senjata ke Suriah, termasuk tank dan rudal itu. Dengan temuan senjata buatan Korea Utara di tangan ISIS, keterlibatan Suriah tidak boleh diremehkan dalam konflik di Timur Tengah.

ISIS Pancung Warga Muslim Amerika Abdul-Rahman Kassig Sebagai Hadiah Buat Obama

Sebuah rekaman video yang muncul di internet mengklaim bahwa kelompok milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah membunuh seorang pekerja kemanusiaan muslim asal Amerika Serikat bernama Abdul-Rahman Kassig. Tayangan video tersebut menunjukkan seseorang berdiri di dekat sebuah kepala yang diklaim sebagai Kassig. Keaslian video, yang juga menayangkan pembunuhan sekelompok serdadu Suriah tersebut, belum diketahui secara pasti.

Abdul Rahman-Kassig (26) dulu dikenal dengan nama Peter sebelum dia menjadi seorang mualaf karena kepeduliannya terhadap sesama muslim yang menderita di Suriah. Kassig berasal dari negara bagian Indiana, AS. Orangtua Kassig mengatakan, putranya sedang bekerja untuk organisasi bantuan kemanusiaan yang didirikannya, Tanggap Darurat dan Bantuan Khusus (SERA), ketika ia disergap ISIS dalam perjalanan ke Deir Ezzor di Suriah timur tahun lalu.

Dalam sebuah wawancara sebelum penculikannya, Peter Kassig menggambarkan dirinya sebagai seorang idealis yang menemukan makna dan tujuan dalam Islam dan kemudian bekerja sebagai pekerja kemanusiaan di tengah-tengah kompleksitas konflik Timur Tengah. Peter Kassig ditampilkan pada akhir video yang menunjukkan kematian sandera asal Inggris, Alan Henning. Orangtua Kassig bulan lalu merilis surat yang ditulis putra mereka yang ditawan.

“Ini adalah hal tersulit yang dilalui seorang pria. Stres dan ketakutan luar biasa. Mereka memberi tahu kami bahwa ayah dan ibu telah menelantarkan kami dan tidak peduli. Namun, tentu kami tahu ayah dan ibu melakukan semua yang bisa dilakukan,” ujar Kassig saat itu. “Jangan khawatir, ayah. Jika saya tiada, saya tidak akan berpikir apa pun, kecuali yang saya tahu itu benar bahwa ayah dan ibu mencintai saya lebih dari bulan dan bintang-bintang,” tambah pemuda itu.

Di tengah gencarnya serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan koalisi internasionalnya terhadap basis ISIS, baik di Suriah maupun Irak, kelompok radikal itu kembali membuat sebuah kejutan pahit untuk AS.
Melansir Reuters, Minggu (16/11/2014), ISIS kembali mengeluarkan sebuah klaim yang menyebutkan bahwa mereka telah mengeksekusi mati salah seorang pekerja sosial asal AS, Petter Kassig. Pemuda 26 tahun itu diekeskusi dengan cara dipenggal oleh ISIS.

Berbeda dengan klaim sebelumnya, dimana ISIS mengeluarkan sebuah video yang menunjukan pemenggalan korban, kali ini eksekusi tak diperlihatkan. Dalam video terbaru yang dirilis ISIS, nampak seorang anggoa ISIS yang menggunakan tutup kepala, menginjak sebuah kepala yang berlumuran darah. “Ini adalah Peter Edward Kassig, seorang warga AS,” ucap pria tersebut dengan menggunakan aksen Inggris. Belum diketahui kapan dan dimana pemenggalan itu terjadi. Keaslian video itu pun masih diragukan karena belum mendapat verifikasi oleh pihak AS.

Selian Kassig, dalam video itu juga terlihat beberapa kepala berlumuran darah lainnya tergeletak di tanah. Jika benar, maka ini adalah kali ketiga AS harus melihat warga mereka dieksekusi oleh ISIS. Sebelumnya dua orang jurnalis AS diesekusi mati oleh ISIS dengan cara yang sama. Peter Kassig adalah warga Barat kelima yang dieksekusi oleh kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dalam sebuah video yang dirilis Ahad kemarin, terlihat seorang milisi menginjak sebuah benda yang diyakini merupakan kepala Kassig yang sudah terpenggal.

Banyak pihak yang menyayangkan kepergian Kassig. Bahkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengaku bahwa Kassig adalah aktivis kemanusiaan yang amat berjasa dan peduli dengan nasib warga muslim Suriah. Dikutip dari NBC News, Senin, 17 November 2014, sebelum menjadi relawan, Kassig adalah seorang tentara AS. Dia dikirim ke Irak pada Maret 2012. Saat bertugas di Irak, Beirut, dan Lebanon, ia melihat banyak sekali masalah yang dialami penduduk di sana. Semuanya serba-kekurangan dan terlalu banyak penderitaan.

“Saya menjalani hidup dengan apa yang saya percayai. Namun saya belum merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu. Di sini, di negeri ini, saya menemukan panggilan hidup. Saya memiliki kesempatan untuk membuat perubahan dan membantu orang-orang di sini,” tulis Kassig dalam pesan yang ditulisnya pada 18 Maret 2012 lalu. Setelah 18 bulan membantu warga, ia memutuskan untuk mendirikan organisasi non-pemerintah bernama Special Emergency Response and Assitance (SERA). Lalu ia pindah ke Turki dan membuat SERA jauh lebih besar untuk membantu warga Suriah yang kabur dari konflik negaranya.

Oktober 2013, Kassig ditangkap oleh ISIS saat sedang mengantarkan peralatan medis dengan ambulans. Pada waktu yang sama pula, Kassig dilaporkan telah masuk Islam dan berganti nama menjadi Abdul-Rahman Kassig. Awal bulan lalu, ISIS merilis video penyekapan Kassig. Pria 26 tahun itu muncul dalam video pemenggalan Allan Henning, relawan asal Inggris. Kala itu, ISIS mengancam akan membunuh Kassig jika Amerika Serikat tidak menghentikan serangan ke Suriah untuk menghancurkan ISIS.

Berkaitan dengan eksekusi terhadap Kassig, akun Twitter khusus untuk keluarga Kassig saat ini memiliki 1.779 pengikut. Setelah video kematian Kassig beredar, akun bernama Kassigfamily itu berkicau, “Kami sangat hancur ketika menyadari bawa anak kami telah kehilangan nyawanya karena menunjukkan cintanya kepada warga Suriah.”

Video yang dirilis oleh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sebagai klaim kematian relawan Amerika Serikat, Peter Kassig, ternyata menyimpan sejumlah kejanggalan. Untuk pertama kalinya, setelah eksekusi empat sandera sebelumnya, video Kassig tidak menampilkan adegan pemenggalan, tidak menyampaikan ancaman, dan tidak pula menyebut target selanjutnya. Dalam video itu, tahu-tahu seorang anggota ISIS sudah menginjak kepala yang diduga adalah kepala Kassig yang sudah terpenggal.

ISIS justru berfokus pada pemenggalan terhadap lebih dari 20 tentara Suriah oleh sejumlah anggotanya. Salah satu algojo lalu mengecam Presiden Barack Obama lantaran menyisakan tentara AS di Irak sejak penarikan pasukan pada 2004. Seorang pengamat anti-ekstremis Irak dari Qulliam Foundation, Haris Rafiq, menelaah arti kejanggalan video itu. Rafiq memprediksi keanehan itu mengindikasikan keadaan ISIS kini sedang tertekan.

“Seperti seekor binatang yang terluka, mereka akan semakin ganas dan brutal untuk melindungi diri dan mengancam musuh. ISIS ingin menunjukkan bahwa mereka masih kuat meski dihujani serangan dari aliansi Amerika,” kata Rafiq, seperti dilaporkan CNN, Senin, 17 November 2013. Rafiq menjelaskan, sisi brutal yang ingin ditunjukkan ISIS menandakan bahwa mereka sedang terpojok. “Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka bisa lebih keji dalam keadaan putus asa,” kata Rafiq.

Sementara itu, pensiunan Angkatan Darat AS sekaligus ahli kontraterorisme, Letnan Kolonel Joe Ruffini, berpendapat, video itu dirilis untuk menakut-nakuti warga Suriah dan Irak. Ruffini mengatakan ISIS ingin kemauannya dituruti oleh negara yang telah mereka kuasai. “ISIS seperti ingin berkata, ‘Saat kami meminta Anda melakukan sesuatu, Anda akan tahu apa konsekuensinya jika menolak’,” kata Ruffini.

Daveed Gartenstein-Ross, petinggi Yayasan Pertahanan Demokrasi, mengatakan mungkin terjadi masalah serius sebelum Kassig dieksekusi. “Kemungkinan yang paling besar adalah terjadi hal yang tidak beres, di luar dugaan ISIS, ketika mereka memenggal Kassig,” kata Ross.