Arab Saudi Sumbang Dana 14 Triliun Untuk Bantu Tentara Lebanon Setelah Kotanya Dikuasai ISIS


Para militan dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah berhasil menjebol perbatasan Libanon dan menguasai kota pertamanya, Arsal, yang berbatasan langsung dengan Suriah. Mereka juga sudah mendirikan check-point di kota tersebut, meskipun belum secara resmi mendeklarasikan bahwa Arsal merupakan bagian dari Negara Islam. Mengutip laporan Telegraph, Selasa, 5 Agustus 2014, sejumlah tentara Libanon masih terus dikerahkan di Arsal, sehingga memunculkan kekhawatiran akan timbulnya perpecahan yang lebih besar. Banyak yang risau situasi ini akan mempengaruhi 40 ribu warga lokal dan 120 ribu pengungsi Suriah yang berada di sana.

“Serangan terhadap martabat nasional Libanon tidak akan luput dari hukuman,” kata Perdana Menteri Libanon Tammam Salam, yang juga menyebut tindakan ISIS ini sebagai hal yang “sakit”. Namun perebutan Arsal ini disebut telah mendapat dukungan dari ulama Sunni di Libanon yang tergabung dalam Jabhat al-Nusra, suatu organisasi yang berafiliasi dengan Al-Qaidah yang juga memiliki cabang di Suriah. Namun hal ini belum dapat dikonfirmasi kebenarannya.

Perebutan Kota Arsal dipicu oleh penangkapan Abu Ahmed Joumaa, pemimpin brigade Tentara Pembebasan Suriah yang kemudian menyatakan setia pada ISIS, pada Sabtu lalu oleh tentara Libanon. Mereka mengatakan Joumaa ditangkap karena bermaksud menyerang pos-pos militer dan menyatakan Arsal sebuah “emirat Islam”. Sementara itu, tentara Libanon juga mendapat dukungan Hizbullah, yang mengendalikan sebagian besar daerah Syiah di sana untuk merebut kembali Kota Arsal.

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) atau yang juga dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) rupanya mulai melebarkan sayap ke wilayah Lebanon. Kelompok ini telah menunjuk seorang emir–gelar bangsawan tinggi/pemimpin, untuk menjadi wakil ISIS di Lebanon. Dikutip dari laman Mehr News, Senin, 30 Juni 2014, ISIS menunjuk Abdul Salam al-Ordoni sebagai emir atau pemimpin ISIS di Lebanon. Emir ini bahkan disebut berada di balik ledakan yang dilakukan oleh dua orang asal Arab Saudi di hotel Beirut pekan lalu.

Tak sampai di situ, televisi lokal Lebanon juga menyebut bahwa ISIS telah mendirikan sebuah kamp untuk melatih pengebom yang akan melakukan serangan teroris di Lebanon. Kabar ini muncul selang beberapa hari setelah ISIS mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di wilayah Irak dan Suriah. Sejumlah daerah di Irak telah jatuh di bawah kendali ISIS sejak serangan pada Januari tahun ini. Dari situ, rupanya ISIS terus melebarkan sayap, hingga ke Lebanon.

Arab Saudi memberikan bantuan dana kepada tentara Libanon yang tengah berjuang melawan kelompok pemberontak di perbatasan Suriah. Arab Saudi memberikan dana sebesar US$ 1,25 miliar (Rp 14,68 triliun) untuk memperkuat keamanan di wilayah Libanon yang berbatasan dengan Suriah. “Raja Abdullah telah memberitahu saya keputusannya yang dermawan untuk memberikan tentara Libanon dana satu miliar dolar untuk memperkuat kemampuan dalam menjaga keamanan Libanon,” kata mantan Perdana Menteri Hariri kepada wartawan di Jeddah, seperti dilansir AsiaOne, Rabu, 6 Agustus 2014.

Berbicara dari istana Raja Abdullah di Kota Saudi, Laut Merah, Jeddah, perwakilan politik paling menonjol komunitas Sunni Libanon itu mengatakan bahwa mereka telah menerima bantuan dana tersebut. “Bantuan ini sangat penting, terutama pada situasi sekarang saat Libanon tengah memerangi terorisme,” kata Hariri.

Sejak Sabtu lalu, tentara Libanon terlibat bentrok dengan kelompok militan di Kota Arsal, sebelah timur negara tersebut. Wilayah yang didominasi oleh kaum Sunni Arab Saudi itu telah dibiayai paket peralatan militer Prancis senilai US$ 3 miliar (Rp 35,23 triliun) dan persenjataan untuk pasukan tentara Libanon. Panglima militer Libanon Jenderal Jean Kahwaji pada Selasa kemarin mendesak Prancis mempercepat pasokan senjata yang dijanjikan untuk membantu pasukannya.

Raja Arab Saudi, Abdullah, telah menyatakan dukungan untuk Beirut dalam melawan terorisme saat berbicara pada sambungan telepon dengan mantan Presiden Libanon Michel Sleiman. “Raja juga menegaskan tekadnya untuk mempercepat pelaksanaan dukungan bagi tentara Libanon,” kata kantor Kepresidenan. Pertempuran di Arsal adalah kekerasan terburuk yang melanda wilayah perbatasan itu sejak 2011 saat pecahnya pemberontakan bersenjata di Suriah terhadap Presiden Bashar al-Assad.

Libanon menjadi tuan rumah bagi satu juta pengungsi Suriah. Meskipun kebijakan resmi negara itu adalah netral dalam konflik yang terjadi di Suriah, tapi lambat laun terlihat pemberontak hendak merebut perbatasan. Pertempuran di Arsal telah menyebabkan 16 tentara tewas dan 85 lainnya terluka. Di lain pihak, puluhan pemberontak dilaporkan tewas bersama dengan tiga warga sipil. Sedangkan 22 tentara lainnya hilang, kemungkinan dijadikan sandera oleh kelompok militan pemberontak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s