Ribuan Orang Miskin Di Usir dari Menara Daud


Torre de David atau Menara Daud yang ada di jantung Caracas, Venezuela, kembali menjadi pembahasan. Gedung yang semula direncanakan sebagai perkantoran finansial tersebut rupanya menarik minat investor asing. Padahal, Torre de David kini tengah dihuni oleh ribuan masyarakat miskin setempat. TalCual melaporkan bahwa pemerintah Venezuela kini tengah melakukan negosiasi dengan pihak perbankan Tiongkok. Organisasi perbankan asal Tiongkok ini akan menggunakan Torre de David sebagai Pusat Finansial Internasional.

Negosiasi antara pemerintah Venezuela dengan konsorsium perbankan diwakili oleh Menteri Negara Transformasi Revolusioner Greater Caracas, Ernesto Villegas. Siap tidak siap, relokasi penduduk harus dilakukan segera. Menurut rencana, mereka akan dipindahkan ke Cúa, 53 kilometer dari pusat kota Caracas pada Desember tahun ini. Sementara, bentuk negosiasi antara pemerintah Venezuela dengan pihak Tiongkok belum diketahui hingga saat ini.

Sementara itu, Archdaily mengemukakan, pemerintah setempat sudah mengumumkan, mereka akan melakukan sesuatu menyangkut hal ini. Pemerintah akan mengadakan “analisa atas komunitas agar bisa mengambil langkah yang tepat untuk meningkatkan kondisi kehidupan dan lingkungan” penghuni menara. Sebagai informasi, penduduk miskin Caracas mulai menghuni gedung ini sejak 2007. Sebanyak 1.258 keluarga tinggal di tempat ini. Selama tujuh tahun belakangan, mereka tidak hanya menghuni, namun juga membangun komunitas. Setidaknya ada sekitar 5.000 orang menetap di sana.

Seorang fotografer bernama Jorge Silva berhasil mengabadikan dengan jujur kehidupan di dalam “Tower of David”, sebuah gedung terbengkalai setinggi 45 lantai di jantung Caracas, Venezuela. Gedung belum rampung tersebut membuka berbagai luka yang diderita Venezuela, negara tropis di Amerika Selatan.

Berdasarkan catatan BBC, Venezuela merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Negara ini juga menghasilkan batu bara, bijih besi, bauksit, dan emas. Ironisnya, mayoritas penduduk Venezuela hidup di tengah kemiskinan. Angka pengangguran di negara itu juga tinggi. Setidaknya, 60 persen dari sekitar 28,9 juta penduduk Venezuela (sensus 2011) tergolong miskin. Mereka tinggal di daerah-daerah kumuh. Sebagian berkumpul di lereng-lereng bukit yang mengitari ibu kota Venezuela, Caracas.

Kehidupan nyata masyarakat miskin kota di Venezuela itu terekam jelas di “Tower of David”. Gedung pencakar langit itu dibangun oleh pengembang bernama David Brillembourg dan tidak dilanjutkan setelah kematian sang pengembang pada 1994. Kini, gedung terbengkalai tersebut menjadi rumah bagi 3.000 penduduk Caracas. Mereka menganggap “Tower of David” sebagai tempat berlindung dari tingginya tingkat kriminalitas di Caracas.

Tidak semua penduduk Caracas menganggap gedung ini sebagai “jalan keluar” perlindungan, mengentaskan kemiskinan, apalagi menganggapnya sebagai rumah. Penduduk Caracas sendiri memandang gedung ini sebagai sarang penyamun. Silva, dari Reuters, menyatakan penduduk Caracas melihat gedung ini sebagai simbol pelecehan properti. Satu dekade lalu, mendiang Presiden Hugo Chavez mengambil alih berbagai gedung. Bagi penghuni Tower of David, inilah cara mereka bertahan hidup.

Berdasarkan foto-foto, juga deskripsi dari sang fotografer dalam blognya, bangunan ini dia sebut telah membawa sebuah fenomena ke tingkat baru. Bangunan tertinggi ketiga di Venezuela, yang awalnya dibangun sebagai pusat finansial tersebut, tidak rampung, informal, dan “dipercantik” secara serampangan oleh “penghuni”. Silva bahkan menyebut cerita-cerita yang terjadi di dalam bangunan itu kini termasuk dalam “legenda urban”.

Lantas, apa yang bisa ditemukan di dalam menara ini? Dari luar, tampak bahwa sebagian fasad gedung sudah ditutup dengan kaca. Para penghuni membiarkan kaca-kaca ini terbuka agar mereka juga bisa menikmati pemandangan kota dari ruang-ruang “apartemennya”. Namun, tidak semua lantai di gedung itu bisa dihuni. Dari 45 lantai, hanya 28 lantai ada penghuninya. Sepeda motor dan kendaraan lain hanya bisa mencapai parkiran di lantai 10. Dari 28 lantai yang berpenghuni, di dalamnya tidak hanya ada hunian. Gudang, toko baju, salon, bahkan penitipan anak pun tersedia. Gedung kumuh ini menjadi pengembangan “mixed use” masyarakat Caracas.

Memang, karena tidak rampung, penghuni harus naik-turun tangga. Silva bercerita, seorang perempuan yang mengantarnya ke apartemen miliknya di lantai 27 menunjukkan betapa guyubnya penghuni gedung ini. Meski dari luar masyarakat Caracas sendiri sudah berprasangka buruk, Silva mengakui, dia merasa lebih aman berada di dalam gedung ini. Pada 2007, ketika para tunawisma mulai merajah bangunan ini, mereka tinggal di dalam tenda. Kini, Silva sudah bisa menyaksikan mereka membangun dinding-dinding beton di dalam gedung.

Para penghuni gedung ini juga mengecat koridor, mengecat interior rumah mereka, bahkan mendekornya seperti layaknya penghuni apartemen mendekor rumahnya. Ada yang memilih gaya minimalis, ada pula penghuni lain mendekor ruang kerjanya dengan foto-foto Presiden Chavez.

Silva menyaksikan hal-hal unik di dalam gedung tersebut. Semua berjalan seperti biasa. Misalnya, seorang bapak membawa botol air 20 liter ke lantai 26. Ada pula seseorang membawa mesin cuci ke apartemennya. Anak-anak perempuan berlatih Taekwondo pun ada di gedung ini. Silva juga sempat menemui seorang ibu yang tengah mencari anaknya di dalam kegelapan ketika terjadi mati lampu dengan menggunakan lampu dari telepon selulernya.

“Bukankah benar, kami adalah orang-orang terkaya di antara yang termiskin,” kata Gabriel Rivas, seorang penghuni di dalam gedung ini. Tidak salah, tentunya. Penghuni gedung itu juga punya berbagai barang elektronik, makanan dan minuman yang cukup, serta berkegiatan seperti biasa. Sepanjang mata memandang di dalam koridor, anak-anak tetap bermain seperti biasa, ibu-ibu berkegiatan, dan bapak-bapak bekerja.

Toh, para penghuni gedung ini juga membayar biaya sewa. Seperti dikutip dalam Bussiness Insider, setiap keluarga membayar 200 bolivar atau Rp 360.042 tiap bulan. Biaya ini juga digunakan untuk menjamin keamanan penghuni selama 24 jam. Ada pula hal menarik lain yang diungkapkan oleh Silva. Menurut dia, menara ini merupakan contoh fisik dari masalah terbesar yang dihadapi masyarakat Venezuela, yaitu jumlah kekurangan hunian begitu besar dan masalah keamanan.

“Ini adalah simbol atas apa yang terjadi setelah runtuhnya sistem finansial pada tahun 1990-an dan titik sejarah di mana Revolusi Bolivarian ala Venezuela telah menemukan dirinya sendiri,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s