Ribuan Umat Kristen Mosul Mengungsi Setelah Diusir ISIS Karena Menolak Pindah Agama


Umat Kristen berbondong-bondong keluar dari Kota Mosul di Irak setelah gerilyawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menguasai kota itu. Melalui pengeras suara di masjid-masjid, perwakilan ISIS menyampaikan ultimatum memberi pilihan selama beberapa jam untuk mereka pergi atau berpindah agama. “Keluarga Kristen sedang dalam perjalanan mereka ke Dohuk dan Arbil,” ujar Louis Sako, pemuka agama Kristen. “Untuk pertama kalinya dalam sejarah Irak, Mosul sekarang bebas dari umat Kristen.”

Mosul jatuh ke tangan ISIS setelah serangan ofensif bulan lalu. Saat itu beredar kabar mengenai opsi yang akan diterapkan bagi kaum Kristen, yaitu boleh tetap tinggal di Mosul dengan membayar pajak khusus, pindah agama, meninggalkan kota itu, atau dibunuh. “Kami terkejut oleh pernyataan bahwa kami harus berpindah agama, atau untuk membayar upeti yang tidak ditentukan, atau meninggalkan kota dengan hanya membawa pakaian yang melekat dan tidak ada bagasi, dan bahwa rumah kemudian akan disita oleh ISIS,” kata Sako.

Dalam beberapa hari terakhir, di rumah-rumah umat Kristen diberi tanda huruf “N” yang berarti “Nassarah”, istilah yang mengacu pada orang-orang Kristen. Meski begitu, ISIS belum mengambil tindakan lebih lanjut.

Ratusan keluarga Kristen Irak, Sabtu (19/7/2014), meninggalkan kediaman mereka di kota Mosul setelah kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memberi ultimatum agar mereka meninggalkan kota itu. Seorang koresponden AFP di Mosul, yang menjadi ibu kota Kekalifan Islam yang diproklamirkan ISIS, mengatakan warga Kristen Irak berdesakan di dalam berbagai kendaraan bergegas mengungsi sebelum tenggat waktu tengah hari habis.

“Sejumlah keluarga bahkan harus kehilangan uang dan harta benda mereka yang dijarah di pos pemeriksaan pemberontak saat mereka meninggalkan kota,” kata Abu Rayan, seorang warga Kristen Irak yang mengungsi. ISIS, yang menguasai Mosul sejak menggelar serangan kilat enam pekan lalu, memberi pilihan bagi warga Kristen Irak yaitu memeluk Islam, membayar pajak, meninggalkan Mosul atau dibunuh.

Sebelumnya, ISIS mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada pilihan lain selain pedang jika warga Kristen Irak tidak menetapkan pilihan yang sudah diberikan pada Sabtu tengah hari waktu setempat. Saat beberapa keluarga Kristen sudah memilih untuk membayar pajak agar bisa tetap tinggal di kediaman mereka, pesan yang dikumandangkan lewat masjid-masjid itu malah memicu eksodus.

Seorang guru yang mengaku bernama Fadi adalah sedikit warga Kristen Irak yang memutuskan tetap tinggal di kota Mosul. “Saya memilih tinggal karena saya sudah merasa seperti orang mati. Kini tinggal nyawa saya yang tersisa. Jika mereka mau mengambil nyawa saya, silakan,” kata Fadi kepada AFP.

Patriach Chaldean Louis Sako, pemimpin komunitas Kristen terbesar di Irak, mengatakan masih terdapat 25.000 orang Kristen di Mosul hingga Kamis lalu. Sementara itu Bulan Sabit Merah Irak mengatakan setidaknya 200 keluarga Kristen telah meninggalkan Mosul di hari Sabtu.

“Ini adalah bentuk pembersihan etnis dan tak ada yang angkat bicara soal ini,” kata Yonadam Kanna, salah satu politisi Kristen ternama Irak. Ancaman kekerasan tak hanya menimpa minoritas Kristen. Nasib kelompok-kelompok minoritas lain seperti Yazidiz, Turkmenistan dan komunitas Syiah Shabak bahkan lebih buruk. Banyak dari anggota komunitas ini diculik dan dibunuh karena menolak memeluk Islam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s