Israel Mobilisasikan Pasukan Untuk Siapkan Serangan Darat Ke Gaza


Saat kekhawatiran akan serangan darat Israel berkembang di antara penduduk Gaza pada Kamis (10/7/2014), Israel mengungkapkan bahwa pihaknya telah memperkuat pasukannya dengan memanggil sekitar 30.000 tentara cadangan ke unit-unit mereka. “Kami memanfaatkan pasukan itu untuk memungkinkan kami menciptakan sebuah kekuatan besar di sekitar Gaza, yang jika diperlukan, kami akan dapat memobilisasinya sesegera mungkin,” kata juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Peter Lerner kepada CNN.

Kabinet Israel telah melakukan otorisasi militer untuk memanggil 40.000 tentara jika diperlukan. Jumlah itu 10.000 lebih banyak dari yang dipanggil saat serangan Israel ke Gaza pada November 2012. Juru bicara pemerintah Mark Regev mengatakan, banyak dari tentara cadangan itu telah dikerahkan. “Kami sudah siap pergi, jika kami harus pergi,” katanya kepada CNN. Regev mengatakan, Israel tidak menginginkan situasi di mana Hamas diberi jeda waktu yang dapat digunakan kelompok itu untuk kembali menyusun kekuatan sebelum memulai lagi serangannya.

Suasana muram terjadi di Gaza, di mana orang-orang memperkirakan yang terburuk. Banyak orang tidak punya tempat untuk melarikan diri dan tidak ada tempat untuk berlindung dari bom. “Saya tidak bisa pergi. Saya tak punya tempat untuk pergi. Lebih baik tinggal di rumah, di dalam dan aman,” kata salah seorang warga kota Bait Hanoun di Gaza utara kepada CNN.

Sebagian besar penduduk tinggal di rumah-rumah tanpa ruangan yang aman dan dinding yang hanya terbuat dari beton ringan, di mana peluru bisa tembus seperti menembus kertas. Di perbatasan Gaza dengan Mesir, sejumlah warga Mesir dan orang asing diberitahu bahwa mereka bisa meninggalkan Gaza. “Saya sudah menunggu tiga hari di (sekitar) Rafah sejak serangan udara dimulai,” kata seorang warga Kanada-Palestina kepada CNN. “Saya ingin pergi. Situasinya berbahaya di sini, tetapi Mesir tidak membuka perbatasan sampai hari ini, dan saya sudah menunggu di sini selama tiga jam. Saya harus pergi.”

Seorang sopir ambulans mengatakan bahwa beberapa orang yang telah terluka juga telah diizinkan untuk pergi, tetapi hanya beberapa orang yang mampu melakukan itu. Ada sejumlah petunjuk selama beberapa hari ini dari para pejabat Israel tentang kemungkinan serangan darat di Gaza. Namun, ada sejumlah pertanyaan terkait hasrat pemerintah untuk terlibat dalam konflik seperti itu.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan pada Kamis pagi bahwa pihaknya akan meningkatkan serangan terhadap Hamas. “Operasi ini akan diperluas dan akan berlanjut sampai penembakan terhadap warga kita berhenti dan ketenangan dipulihkan,” kata Netanyahu. Namun, dia tidak merinci perluasan seperti apa yang akan diperlukan, tetapi mengatakan bahwa militer Israel “siap untuk segala kemungkinan”.

Serangan udara Israel telah menewaskan sedikitnya 90 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 500 orang.Serangkaian serangan udara Israel menghantam sejumlah sasaran di Gaza dan menewaskan belasan orang pada Rabu (9/7/2014) saat puluhan roket kaum militan Hamas melesat ke Israel.

Tembakan roket-roket Hamas yang bertubi-tubi mendorong Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meningkatkan serangan terhadap kelompok militan itu. “Operasi ini akan diperluas dan akan berlanjut sampai penembakan terhadap warga kita berhenti dan ketenangan dipulihkan,” kata Netanyahu. Dia tidak merinci perluasan seperti apa yang akan diperlukan tetapi mengatakan bahwa militer Israel “siap untuk segala kemungkinan.”

Presiden Israel Shimon Peres, yang perannya secara umum seremonial dan tidak terlibat dalam menetapkan kebijakan, mengatakan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CNN bahwa ia yakin serangan darat “mungkin akan terjadi segera” kecuali Hamas berhenti menembakkan roket ke Israel.”Kami memperingatkan mereka. Kami meminta mereka menghentikannya,” kata Peres. “Kami menunggu satu hari, dua hari, tiga hari dan mereka terus berlanjut, dan mereka roket ke daerah-daerah lainnya di Israel.” Meski Peres berbicara atas nama dirinya sendiri dan posisinya tidak dapat menjelaskan kebijakan resmi pemerintah, Menteri Intelijen Israel Yuval Steinitz sebelumnya mengatakan kepada CNN bahwa operasi darat “mungkin diperlukan.”

Sementara itu, Presiden Otorita Palestina Mahmoud Abbas mengadakan pertemuan darurat dengan kabinetnya guna membahas krisis itu. “Perang ini bukan melawan Hamas atau partai politik lain tetapi ini melawab rakyat Palestina,” katanya kepada media sesudah rapat tersebut. “Apa nama yang anda berikan untuk kejahatan ini? Apa jenis kejahatan ini menurut hukum internasional? Membunuh seluruh keluarga, apakah ini hukuman kolektif? Ini merupakan genosida kolektif!”

Seorang juru bicara Hamas, Sami Abu Zuhri, mengatakan bahwa ancaman Israel untuk meluncurkan serangan darat yang “bodoh” itu tidak akan membuat takut siapa pun. Ia menegaskan bahwa para pejuang sayap militer Hamas siap untuk menghadapi para tentara “pengecut” Israel di Gaza.Komentar tersebut terjadi saat korban tewas meningkat di Gaza, di mana militer Israel telah menyerang 550 sasaran Hamas sejak melancarkan serangannya Senin. Militer Israel mengatakan, sasaran itu termasuk 60 peluncur roket, 31 terowongan dan rumah dari 11 pemimpin senior Hamas, yang digambarkan tentara Israel sebagai “pusat komando.”

Setidaknya 61 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 550 orang terluka dalam serangan udara Israel itu, kata sumber-sumber medis dan pejabat Departemen Kesehatan Palestina.Di antara yang tewas adalah delapan wanita dan 11 orang anak, termasuk seorang bayi berusia 18 bulan dan seorang wanita 80 tahun. Demikian menurut sebuah daftar yang disediakan sumber-sumber medis Palestina dan pejabat Departemen Kesehatan.

Dalam sebuah serangan udara pada Rabu, dua orang anak dan ibu mereka termasuk di antara lima orang tewas ketika pasukan Israel menyasar rumah mereka. Sejumlah sumber keamanan Palestina mengatakan, beberapa anggota keluarga itu diyakini punya hubungan dengan Hamas. Kabinet Israel telah mengotorisasi pihak militer untuk memanggil 40.000 tentara jika diperlukan. Jumlah itu 10.000 lebih banyak dari yang dipanggil saat serangan Israel ke Gaza pada November 2012. Namun sejauh ini baru sekitar 1.000 yang telah dimobilisasi.

Militer Israel mengatakan, sebanyak 72 roket menghujani negara itu pada Rabu. Beberapa dari roket tersebut jatuh di daerah tidak berpenghuni, sementara yang lainnya dicegat oleh sistem pertahanan Iron Dome negara itu di atas Tel Aviv, Ashkelon dan Dimona. Belum ada laporan tentang korban. Dimona merupakan lokasi pembangkit nuklir. Media Israel melaporkan, fasilitas tersebut tidak terkena serangan roket.

Hamas diyakini memiliki 10.000 roket dengan rentang yang berbeda-beda, kata Letnan Kolonel Peter Lerner, seorang juru bicara militer Israel. Negara Yahudi itu mengatakan, sekitar 3,5 juta penduduk tinggal di daerah yang berada dalam jangkauan roket.Duta Besar RI untuk Mesir Nurfaizi Suwandi mengimbau semua relawan dari Indonesia untuk sementara mengurungkan niat ke Jalur Gaza akibat kondisi keamanan dan sulitnya izin masuk ke wilayah bergolak itu.

“Para relawan Indonesia hendaknya tidak berkunjung ke Gaza dalam kondisi saat ini,” kata Dubes Nurfaizi di Kairo, Jumat (11/7/2014), seperti dikutip Antaranews.com. Menurut Dubes Nurfaizi, dalam kondisi saat ini pintu perbatasan Rafah, yang menghubungkan Mesir dan Jalur Gaza, ditutup oleh Badan Sandi Negara Mesir (General Intelligence Service/GIS). Saat ini, tidak ada warga yang diizinkan untuk masuk ke Gaza.

Untuk masuk ke Gaza, kata Dubes Nurfaizi, harus memperoleh izin khusus dari Kementerian Luar Negeri Mesir, dan surat izin tersebut melalui proses yang cukup lama memakan waktu lebih dari sebulan. Pemerintah Mesir hanya mengizinkan keluar dari Gaza bagi korban luka-luka akibat serangan Israel untuk menjalani pengobatan di berbagai rumah sakit di Mesir. Pemerintah Mesir juga mengawasi arus masuk ke arah Gaza dengan diberlakukan sekitar 10 titik pemeriksaan ketat oleh militer Israel.

Oleh karena itu, katanya, bantuan yang akan diberikan sebaiknya disalurkan melalui Bulan Sabit Mesir atau Dubes Palestina di Jakarta. Dubes menekankan bahwa kondisi kian memburuk karena pasukan Israel terus melancarkan penyerangan terhadap rakyat Palestina di Gaza hingga kini. Setiap orang yang akan memasuki Gaza pasti akan melalui pintu perbatasan Rafah yang dijaga ketat oleh pasukan militer Mesir.

Meskipun Jalur Gaza merupakan wilayah berbatasan dengan Mesir, kata dia, tetapi kantong Palestina itu merupakan daerah akreditasi KBRI Amman, Yordania. Kendati Jalur Gaza merupakan daerah akreditasi KBRI Amman, KBRI Kairo berkewajiban memantau perkembangan di Gaza, terutama warga negara Indonesia (WNI) yang berada di sana. Sebelumnya, delegasi DPR-RI saat berkunjung ke Gaza pada akhir 2012, sempat berjanji akan mengupayakan agar Jalur Gaza dimasukkan dalam akreditasi KBRI Kairo, dan KBRI Amman membawahi Tepi Barat Palestina. Namun, hingga kini belum ada tanggapan dari pemerintah.

Saat ini terdapat 21 WNI di Gaza, 19 WNI di antaranya adalah para relawan MER-C yang sedang membangun rumah sakit di Kota Gaza. Menurut Dubes Nurfaizi, semua WNI tersebut saat ini dalam kondisi aman.Tujuh warga Palestina tewas dalam beberapa serangan udara Israel pada Sabtu (12/7/2014) dini hari. Jumlah total korban tewas sejak operasi militer digulirkan Israel pada Selasa (8/7/2014), sudah mencapai 112 orang.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Palestina Ashraf al-Qudra, mengatakan empat orang tewas dalam serangan ke Jebaliya di kawasan utara Jalur Gaza dan dua orang lain tewas dalam serangan di kawasan selatan Deir el Balah. Tak berselang lama, lanjut al-Qudra, seorang remaja 17 tahun tewas dalam serangan ke Gaza City.

Operation Protective Edge merupakan operasi militer Israel paling mematikan ke Gaza sejak November 2012. Sebagai balasan, para pejuang Palestina melontarkan 520 mortir dan roket ke wilayah Israel, dengan 140 di antaranya bisa dicegat sistem anti-rudal Israel, Iron Dome, berdasarkan pernyataan militer Israel, Jumat (11/7/2014).

Sejauh ini belum ada satu pun warga Israel tewas karena serangan balik dari para pejuang Palestina. Seorang tentara Israel dikabarkan terluka parah dalam serangan mortir pada Kamis (10/7/2014) malam dan seorang pria lain Israel terluka ketika sebuah roket menghantam pompa bensin di selatan Asdod pada Jumat pagi.

Dua tentara Israel mengalami luka ringan di perbatasan wilayah Gaza, ketika Palestina menembakkan rudal anti-tank ke arah mereka. Lalu seorang perempuan mengalami luka ringan ketika roket menghantam rumahnya di kota Beersheva. Israel telah memanggil 40.000 pasukan cadangan untuk menopang operasi ini.Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jumat (11/7/2014), menyatakan Israel dapat dinyatakan melanggar hukum perang atas aksinya membombardir rumah warga Palestina di Jalur Gaza. Pernyataan ini muncul seiring jumlah korban tewas serangan Israel sudah mencapai 100 orang.

“Kami telah menerima laporan yang mengganggu bahwa banyak korban sipil, termasuk anak-anak, dalam serangan (Israel) ke rumah-rumah (warga),” kata juru bicara komisi ini, Ravina Shamdasani, di Geneva, Swiss. Hukum humaniter internasional adalah aturan PBB tentang hukum perang. Shamdasani mengatakan menargetkan rumah warga sebagai sasaran adalah pelanggaran hukum tersebut kecuali bangunan itu jelas dipakai untuk keperluan militer, yang itu pun berlaku sejumlah pembatasan.

Per Jumat, jumlah korban tewas di Gaza akibat serangan Israel sudah mencapai 100 orang. Operation Protective Edge yang digelar Israel sejak Selasa (8/7/2014), merupakan operasi paling mematikan negara ini ke Gaza sejak November 2012. “Dalam hal ada keraguan terhadap bangunan yang biasanya dipakai untuk keperluan sipil, seperti rumah, tetap tidak sah dijadikan target (serangan) militer,” tegas Shamdasani.

Menurut Shamdasani, rumah penduduk hanya bisa menjadi target serangan militer ketika sudah diindentifikasi dengan tepat telah dipakai untuk kepentingan militer. Serangan tersebut tetap harus proporsional, imbuh dia, dengan perlindungan penuh kepada warga sipil. Sebelumnya, Israel menuduh para pejuang Palestina termasuk kelompok Hamas sengaja menempatkan instalasi militer di pemukiman padat penduduk di Gaza dan menjadikan warga sipil sebagai perisai.

Kepala Komisi HAM PBB, Navi Pillay pada Jumat juga membuat pernyataan yang mendesak Israel maupun Palestina untuk menghentikan retorika “beracun” dan aksi saling balas yang mematikan, untuk mendukung resolusi damai di kawasan tersebut. “Israel, Hamas, dan kelompok-kelompok bersenjata Palestina di Gaza telah menyusuri jalan ini sebelumnya, dan itu hanya menyebabkan kematian, kehancuran, ketidakpercayaan, dan perpanjangan konflik yang menyakitkan,” kata Pillay dalam pernyataan tertulisnya.

“Kali ini, sekali lagi, warga sipil menanggung beban konflik. Saya mendorong semua pihak untuk tabah menghormati kewajiban mereka menurut hukum hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter internasional untuk melindungi warga sipil,” imbuh Pillay. Dia pun menyerukan penyelidikan menyeluruh dan efektif atas segala bentuk dugaan pelanggaran hukum militer terkait serangan Israel ke Gaza ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s