Kisah Gwyneth Escort Girl Yang Berhasil Tidur Dengan 10.000 Pria Dibukukan


Seorang perempuan yang berprofesi sebagai escort atau pendamping pria, Gwyneth Montenegro (36), meluncurkan buku yang mengisahkan perjalanan kariernya. Dalam buku berjudul 10.000 Men and Counting itu, dengan blakblakan Gwyneth menceritakan kisah hidupnya, termasuk pengakuannya telah tidur dengan 10.000 atau tepatnya 10.091 pria sejak dia menjadi escort sejak berusia 21 tahun.

Dalam bukunya, Gwyneth yang kini telah menjadi seorang pebisnis sukses itu menceritakan, dia mengawali hidupnya sebagai seorang anak yang “liar”. Gwyneth menjadi korban perkosaan pada usia 18 tahun dan menjadi penari erotis pada usia 19 tahun.

Pada usia 21 tahun, perempuan asal Melbourne ini memulai karier escort-nya yang saat itu masih berkutat di sekitar kota kelahirannya itu. Selanjutnya, wilayah kerja Gwyneth semakin luas ke seluruh Australia dan seluruh dunia yang melegalkan profesi escort seperti yang dijalaninya.

Selama menjalani kariernya itu, Gwyneth mengaku menggunakan banyak nama. Bahkan, nama Montenegro diakuinya hanya sekadar nama pena untuk kepentingan penulisan bukunya. “Saya pernah menggunakan nama Angelina. Saya ingin memiliki nama yang lebih seksi dan apa yang lebih baik ketimbang Angelina Jolie,” kata Gwyneth.

Gwyneth mengatakan, klien utamanya adalah para pekerja pekerja kerah putih, termasuk para pengacara, politisi, dan musisi. Di masa puncak kariernya, Gwyneth bisa mendapatkan 500-1.000 dollar atau sekitar Rp 5-10 juta per jam. Namun, dalam pekerjaan ini pula, Gwyneth mulai berkenalan dengan narkotika dan obat-obatan terlarang. “Saya berkenalan dengan kokain saat berusia 20-an dan itu adalah barang kelas atas yang diberi oleh seorang klien jutawan,” kenangnya.

Perkenalannya dengan kokain ini membuatnya kecanduan. Kokain sudah menjadi gaya hidupnya ketika itu. Dia sadar gaya hidup seperti itu bisa menghancurkan siapa saja. Inilah yang membuatnya memantapkan diri menuliskan pengalamannya menjadi seorang escort kelas atas. “Banyak orang memiliki persepsi buruk soal profesi ini dan saya ingin mengubah anggapan itu,” kata Gwyneth.

“Saya juga ingin mewakili suara mereka yang ada di dalam industri ini. Sebab, saya hanyalah manusia biasa begitu juga mereka,” tambah dia. Namun, Gwyneth mengakui sulit untuk melepaskan diri dari industri yang memberinya penghasilan hingga ribuan dollar setiap pekannya itu.

“Uang itu tak ubahnya obat bius. Uang membuat saya bisa pergi ke mana-mana,” lanjut dia sambil menambahkan bahwa bisa bepergian ke berbagai belahan dunia membuatnya bisa melupakan sejenak realitas kehidupan yang menjeratnya.

Meski sepanjang 15 tahun kariernya sebagai escort Gwyneth hampir tak memiliki pengalaman buruk, dia bertekad tidak akan pernah lagi berkecimpung di dalam profesi itu lagi.

Salah satu momen yang membuatnya memutuskan berhenti menjadi escort adalah saat dia nyaris tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu. “Saya mengendarai VW Golf dan mengalami kecelakaan. Beruntung saya selamat meski menderita sedikit luka dan memar,” kenangnya.

Saat terbaring di rumah sakit, Gwyneth akhirnya mengakui profesi dia kepada kedua orangtuanya. Awalnya ayah dan ibunya mengira Gwyneth bekerja sebagai seorang model. Dia juga menceritakan kepada orangtuanya bagaimana dia menyembunyikan sebagian besar uang yang diperolehnya sehingga ayah ibunya tidak menaruh curiga.

“Saya cukup mampu menyembunyikan semuanya, tetapi jauh di dalam hati saya merasa sakit karena harus menyimpan rahasia besar itu,” kata dia. Setelah kecelakaan itu, kondisi berangsur-angsur membaik, apalagi setelah Gwyneth berhasil meraih lisensi pilot pesawat terbang komersial pada usia 29 tahun.

Namun, kariernya sebagai pilot pesawat sewaan berusia pendek setelah dia didiagnosis menderita gagal ginjal yang membuatnya tak bisa mempertahankan lisensi terbangnya. Akibatnya, Gwyneth kembali menerjuni profesi lamanya sebagai escort dan baru berakhir setelah dia bertemu seorang pria yang kini menjadi rekan bisnisnya saat ini. Dia hanya menyebut pria itu dengan nama Roger.

Gwyneth kemudian memulai kursus pemrograman neuro-linguistik dan bersama Roger mulai membangun sebuah bisnis baru. “Ini seperti ilmu pikiran, seperti sebuah psikologi gaya baru dan ini sangat membantu saya mengatasi berbagai masalah,” tambah dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s