Jepang Alami Krisis Pangan Karena Perubahan Cuaca Global


Perubahan cuaca ekstrim yang melanda Jepang saat ini tidak hanya mempengaruhi waktu mekar bunga sakura. Beberapa penelitian memprediksi akan terjadi krisis makanan karena pergeseran suhu. Untuk mengatasinya, masyarakat dianjurkan menanam bahan makanan sendiri.

Menyambut musim semi, masyarakat Jepang berbondong- bondong memenuhi Ueno Park di Tokyo. Di sana mereka melakukan piknik bersama keluarga atau teman sambil menikmati indahnya bunga sakura yang sedang mekar, sebuah tradisi dikenal dengan nama Hanami. Sayangnya, waktu mekar bunga sakura yang rata- rata selama ribuan tahun, saat ini bergeser empat hari lebih cepat karena perubahan iklim.

Perubahan ini sejalan dengan prediksi yang didiskusikan oleh sekelompok peneliti di pertemuan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di Yokohama. Dilaporkan dalam jangka pendek dengan usaha dan sumber daya yang signifikan, terjadi penurunan risiko krisis makanan di benua Afrika. Tapi, negara maju justru akan menghadapi krisis makanan karena perubahan suhu yang tidak mereka sadari.

“Kami sebelumnya berpikir suhu panas yang meningkat satu hingga dua derajat bisa menjadi keuntungan. Tapi, efek buruk malah terjadi berdasarkan data terbaru, seperti kehilangan rata- rata 5% hasil panen,” tutur Prof. Andy Challoner dari Leeds University, selaku salah satu penulis IPCC kepada BBC (14/04/2014).

Perubahan ini yang membawa sistem makan di Jepang menjadi tidak aman karena 60% bahan makanan diimpor. Kepercayaan konsumen Jepang pada pemerintah menurun setelah bencana Fukushima dan skandal makanan China. Selain itu petani Jepang semakin tua dan jumlah semakin menurun.

Perubahan cuaca sangat dirasakan seorang petani dan wakil presiden Japanese Organic Agriculture Association di kota Ishiko, Tokyo bernama Michio Uozumi. Pada awal musim gugur, suhu masih sama dengan musim panas sehingga bayam dan dedaunan diserang hama. Penanaman pun harus ditunda hingga dua minggu.

Michio Uozumi mengumpulkan daun busuk dan sampah hutan yang kaya akan mikroba dan mengubahnya menjadi kompos padat. Kompos hangat tersebut menjadi alternatif alat penghangat tanah dan menghasilkan sayuran sepanjang tahun.

“Semua orang harusnya berkontribusi, aktivitas menanam bahan makanan sendiri adalah langkah yang sangat alami. Saya menyarankan konsumen untuk mempunyai tanah pertanian sendiri,” tambah Michio.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s