Puing MH370 Berada Di Kawah Gunung Berapi Bawah Laut Samudera Hindia


encarian bangkai pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 bakal menghadapi tantangan yang pelik. Selain fenomena Roaring Forties dan ancaman siklon tropis di bagian selatan Samudra Hindia, medan yang sulit menunggu–demikian diungkapkan ahli geologi. “Puing-puing yang diduga MH370 berada di atas sebuah rangkaian gunung api bawah laut raksasa yang belum terpetakan,” kata Robin Beaman, ahli geologi bawah laut dari James Cook University, Australia, kepada Sidney Morning Herald, Selasa, 25 Maret 2014.

Di seluruh dunia, ada sekitar 30.000 gunung api bawah laut atau seamount yang terhampar di dasar samudra. Lokasi puing-puing MH370 itu berada di zona pemekaran lantai dasar samudra, yaitu South-East Indian Ocean Ridge (SEIOR). Rangkaian gunung berapi bawah laut itu berjejer di barat daya Australia ke Selandia Baru. Para ahli geologi menyebut gunung-gunung ini masih aktif hingga sekarang. Kedalaman dasar laut dan palung di wilayah ini antara 4.000 hingga 7.000 meter.

Menurut Robin Beaman, untuk mencari bangkai MH370 itu dibutuhkan pemetaan 3D (tiga dimensi) oleh kapal-kapal berperalatan pendeteksi bawah air atau multibeam echo sounders. Sayangnya, RV Southern Surveyor, satu-satunya kapal milik Australia yang mampu memetakan itu, sudah dinonaktifkan Desember lalu.

Multi-beam echosounder dapat menghasilkan data batimetri dengan resolusi tinggi, yaitu 0,1 meter akurasi vertikal dan kurang dari 1 meter akurasi horisontalnya. Memang, perangkat ini mengirimkan pancaran pulsa atau gelombang bunyi langsung ke dasar laut yang lalu akan dipantulkan kembali ke kapal yang ada di permukaan. Beaman mengatakan bagian puing pertama yang dipotret satelit DigitalGlobe pada 16 Maret lalu berlokasi sekitar 60 km sebelah barat daya South-East Indian Ocean Ridge (SEIOR).

Obyek satunya lagi yang dilihat pesawat Cina berada sekitar 180 kilometer barat daya SEIOR. Sedangkan obyek diduga puing yang dilihat sebuah pesawat Australia hari Senin lalu berada sekitar 200 kilometer sebelah timur laut SEIOR. “Pada sayap-sayap SEIOR yang besar kemungkinan di mana zona kecelakaan terjadi, hampir tidak ada pemetaan yang terlepas dari jalur penerbangan yang ganjil itu,” kata dia.

Menurut dia, tanpa pemetaan yang akurat sulit mencari puing MH370 di kompleks SEIOR itu. “Tak bisa lain, harus dipetakan kembali wilayah itu,” kata Beaman. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim ahli berbagai daerah yang terus mencari keberadaan bangkai MH370.

Proses pencarian pesawat Malaysia Airlines yang hilang sejak dua pekan lalu masih terus dilakukan hingga hari ini. Kini, pencarian oleh belasan negara dipusatkan di daerah baru yang disebut Roaring Forties, yang terletak di Samudra Hindia bagian selatan. Lokasi yang terletak sekitar 1.600 kilometer barat daya Perth, Australia, itu pun disebut-sebut sebagai salah satu lokasi yang paling sulit diakses.

Dilansir Washington Post, Sabtu, 22 Maret 2014, istilah Roaring Forties diperkenalkan oleh para pelaut yang sudah akrab dengan ekspedisi lautan. Kata “Roaring” merujuk pada embusan angin barat yang sangat kuat hingga menimbulkan gemuruh kencang. Sedangkan istilah “Forties” mengacu pada lokasi daerah yang disesuaikan dengan garis lintang selatan, yakni terletak mulai di 40 derajat.

Angin kencang pun kerap terjadi di kawasan itu karena perubahan cuaca yang bisa terjadi dengan cepat. Hal itu disebabkan lokasinya yang berada di zona transisi antara daerah subtropis yang tenang dan pusaran hawa dingin di sekitar Kutub Selatan. Tidak adanya gunung maupun daratan lain membuat angin bisa bertiup kencang dengan mulus, sehingga kecepatannya bisa menjadi yang tercepat di dunia.

Matthew England, peneliti perubahan iklim dari University of New South Wales, Sydney, mengatakan keberadaan Roaring Forties dulunya amat membantu para pengusaha ekspedisi. Kebedaraan angin kencang kerap menjadi pertanda bagi navigator kapal untuk mengetahui keberadaan mereka di Samudra Hindia. Lokasi itu pun menjadi rute navigasi populer dari Afrika menuju Australia.

Hanya saja, dia memperingatkan bahwa arus yang berada di kawasan itu cukup cepat dan rumit untuk diprediksi. Soalnya, kontur dasar laut di daerah Roaring Fortis terdiri atas banyak bukit dan tebing yang mempengaruhi arus laut. Keberadaan “bukit dan tebing” laut membuat lautan itu menjadi berbahaya karena seperti arus yang hidup. “Itu merupakan kawasan yang banyak pusaran airnya,” kata England.

Untuk proses pencarian pesawat Malaysia Airlines, daerah itu bisa dijangkau menggunakan pesawat terbang. Perjalanan oleh tim pencari pun akan memakan waktu delapan jam bolak-balik Perth-Roaring Forties-Perth. Kondisi itu membuat tim cuma memiliki waktu dua jam melakukan pencarian di perairan tersebut. England mengatakan pencarian yang dilakukan sejak Kamis, 19 Maret 2014, bakal semakin sulit. Sebab, angin kencang berembus di kawasan tersebut pada setiap akhir pekan. Kondisi demikian bakal menghasilkan hujan lebat dan ombak setinggi 30 kaki yang membuat jarak pandang terbatas. Cuaca seperti itu, kata dia, akan membuat pesawat rentan terkena turbulensi. Dia juga tidak yakin puing pesawat yang sempat terlihat sebelumnya masih berada di posisi yang sama dalam kondisi demikian.

Penemuan benda yang diduga puing pesawat Malaysia Airlines MH370 di Samudra Hindia membawa titik terang bagi pencarian pesawat yang telah hilang hampir dua minggu tersebut. Meskipun satelit Australia berhasil mendapat gambaran tersebut, nyatanya pencarian lokasi puing membutuhkan waktu setidaknya dua-tiga hari. Peninjauan pertama sudah dilakukan oleh tiga pesawat peninjau jarak jauh, tapi mereka tak menemukan apa pun. “Kru tidak dapat menemukan puing karena cuaca hujan dan berawan sehingga jarak pandang terbatas,” kata Twitter Otoritas Keselamatan Maritim Australia (AMSA), seperti dilansir Malaysia Insider, Kamis, 20 Maret 2014.

Sejak pencitraan satelit dirilis kemarin, Australia langsung mengirimkan pesawat Royal Australian Air Force P-3C Orion ke lokasi yang dimaksud. Kru yang terdiri atas pesawat pengintai Australia, Selandia Baru, dan AS tersebut akan menyisir zona pencarian sekitar 2500 kiloeter sebelah barat daya Perth. Semua pihak kini berharap cuaca di Samudra Hindia bisa membaik sehingga benda terduga puing tersebut bisa segera dikonfirmasi. Beberapa negara lain juga akan membantu penyisiran di kawasan tersebut sambil terus menyusuri kawasan lain yang mungkin menjadi lokasi ditemukannya pesawat.

Perdana Menteri Australia, Tonny Abbott, menyatakan pencarian pesawat Malaysia Airlines sangat sulit dilakukan. Bahkan, dia menyebut lokasi pencarian pesawat itu sebagai lokasi yang paling terpencil di dunia. “Ini semua mengenai lokasi yang paling sulit diakses di muka bumi seperti yang kita bayangkan,” katanya seperti dikutip dari Today Online, Sabtu, 22 Maret 2014.

Sebelumnya, proses pencarian pesawat Malaysia Airlines yang hilang sejak Sabtu, 8 Maret 2014, dipusatkan di kawasan Samudera Hindia. Hal itu dilakukan setelah hasil pencitraan satelit menemukan benda mengambang yang diduga sebagai serpihan pesawat. Australia pun menyataan siap melakukan pencarian di daerah yang terletak di sebelah barat negara tersebut. Abbott mengatakan, proses pencarian pesawat itu memiliki sejumlah tantangan yang cukup berat untuk dihadapi. Lokasi pencarian yang terletak antara Australia, Antartika, dan Afrika bagian selatan itu merupakan daerah yang cukup berbahaya. Bahkan, para pelaut handal menyebut daerah itu sebagai ‘Roaring Forties’.

Terletak di 40-50 derajat garing lintang selatan, daerah itu dikenal kerap dilanda angin dengan kekuatan yang cukup kencang. Daerah itu juga diyakini sebagai daerah yang menjadi poros rotasi bumi. Hal itu membuat hembusan angin menjadi cukup kencang. Posisinya sesuai garis lintang itu juga menjadikan lokasi pencarian pesawat sebagai petemuan antara lokasi beriklim sub-tropis dengan iklim dingin. Hal itu membuat proses pergantian udara terjadi dengan cepat. Pergantian cuaca itu bisa menghasilkan angin berkecepatan 60 kilometer per jam yang meningkatkan ketinggian ombak.

Meski lokasi pencarian cukup sulit untuk diakses, Abbott menyatakan tim pencari dari Negeri Kangguru siap menelusuri di kawasan laut dalam tersebut. Dia pun yakin bisa menemukan pesawan Boeing777-200ER, Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370. “Kalau memang ada sesuatu di daerah itu, kami akan menemukannya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s