Singapura Alami Kekeringan Yang Parah Sejak 1869


Singapura melewati Februari lalu sebagai bulan yang paling kering sejak tahun 1869, seperti diungkapkan Badan Lingkungan Nasional, Rabu (5/3/2014). Sepanjang Februari, hanya tercatat tujuh hari hujan gerimis yang pendek dan beberapa kawasan hanya menerima 0,2 milimeter air hujan.

Ancaman kekeringan yang meluas menimbulkan kekhawatiran akan naiknya harga pangan dan memperlambat kegiatan ekonomi. Singapura menggantungkan pasokan air dari Malaysia sekitar 60 persen dari total kebutuhan. Namun, upaya negara pulau itu dalam desalinasi air laut dan teknologi daur ulang bisa mengurangi ketergantungan impor air.

Kekeringan diperkirakan masih akan berlangsung hingga pertengahan Maret 2014 dengan beberapa hujan lokal dalam beberapa hari, dengan curah hujan masih tetap di bawah rata-rata. Badan Pengairan Nasional (PUB)—seperti dilaporkan situs berita AsiaOne—sudah mendesak warga untuk menghemat air. Sejauh ini PUB sudah menyalurkan air secara manual ke 25.000 warga di kawasan perumahan milik negara.

Warga juga diminta untuk mandi dengan pancuran air tidak lebih dari lima menit dan mengurangi penggunaan yang tidak mendesak, seperti mencuci mobil maupun menyiram tanaman. Kekeringan juga melanda beberapa kawasan Asia Tenggara lain, seperti Malaysia yang sudah menyalurkan air lewat truk tangki, sementara kebakaran hutan melanda Provinsi Riau, Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s