Jutawan dan Kolektor Wine Asal Indonesia Rudy Kurniawan Ditangkap FBI Karena Memalsukan Anggur Wine Langka


Jutawan kolektor wine (anggur) asal Indonesia, Rudy Kurniawan telah bertahun-tahun hidup mewah di Los Angeles, Amerika Serikat berkat usaha wine-nya. Dia dikenal sebagai kolektor dan penjual wine langka yang harganya selangit.

Namun pada Kamis, 8 Maret waktu setempat, pria kelahiran Jakarta itu ditangkap oleh FBI di Los Angeles. Dia ditahan atas sejumlah dakwaan penipuan termasuk mencoba menjual wine palsu, yang jika asli, bisa terjual dengan harga ribuan dolar AS per botol.

Para penyidik seperti dilansir The New York Times, Jumat (9/3/2012) mengatakan, Rudy membuat beberapa kesalahan sederhana yang menyebabkan terbongkarnya penipuan yang dilakukan pria berumur 35 tahun itu.

Salah satunya, adalah tentang botol-botol anggur Domaine Ponsot yang coba dilelangnya pada tahun 2008. Wine tersebut dikatakan Rudy dibuat pada tahun 1929. Padahal perusahaan pembuat anggur itu baru memulai proses pembotolan anggur pada tahun 1934.

Dakwaan kriminal yang dijatuhkan kepada Rudy dibuat setelah bertahun-tahun muncul kecurigaan terhadap Rudy di kalangan para kolektor wine. Sejumlah wine milik Rudy pernah ditarik dari peredaran pada tahun 2007 silam setelah sebuah rumah lelang menyebut wine tersebut palsu.

Para jaksa penuntut umum di New York menuntut Rudy terlibat “dalam berbagai skema penipuan terkait bisnis anggurnya”.

Itu termasuk menjual 84 botol wine palsu Domaine Ponsot pada sebuah lelang tahun 2008. Juga 78 botol anggur palsu Burgundy dari Domaine de la Romanee-Conti dalam sebuah acara lelang pada Februari lalu.

Bahkan menurut jaksa, Rudy juga telah memalsukan surat-surat untuk mendapatkan pinjaman jutaan dolar AS guna membiayai gaya hidupnya yang tinggi.

The New York Times melaporkan, Rudy ditangkap oleh agen-agen dari skuad elite FBI yang berbasis di New York, yang fokus pada kejahatan-kejahatan yang melibatkan seni, barang-barang antik dan koleksi-koleksi lainnya.

Rudy ditahan pada Kamis (8/3/2012) waktu Amerika Serikat. Dia ditahan atas tuduhan mencoba menjual anggur palsu, yang jika asli, akan bernilai sekitar US$ 1,3 juta.

Rudy yang tinggal di Arcadia, California, juga dituduh melakukan kecurangan dalam mendapatkan pinjaman jutaan dolar untuk membiayai apa yang disebut jaksa sebagai “gaya hidup tingkat tingginya”.

Dalam hearing di Pengadilan Distrik AS di Los Angeles, jaksa mengatakan bahwa dari penggeledahan di rumah Rudy didapatkan benda-benda yang digunakan untuk memalsukan botol-botol anggur.

Rudy pernah menjual anggur-anggur yang total harganya mencapai US$ 35 juta pada tahun 2006. Penangkapan Rudy terjadi setelah adanya tuduhan penipuan yang diajukan ke pengadilan federal di New York. Para jaksa di kantor kejaksaan di Manhattan rencananya akan mengirimkan Rudy ke New York dalam beberapa hari mendatang.

Miliarder Amerika Serikat (AS) William ‘Bill’ Koch menggugat kolektor sekaligus penjual wine Rudy Kurniawan karena Rudy menjual wine palsu. 5 Botol wine yang didapatkan Koch dari Rudy, 3 di antaranya didapatkan dari lelang dan 2 botol dari penjualan privat. Apa saja?

Berikut data 5 botol wine palsu tersebut yang tercantum di surat gugatan miliarder AS William ‘Bill’ Koch yang diteken pengacaranya Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP pada 10 September 2009 yang didaftarkan ke Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles:

  1. Botol 1949 Chateau Lafleur, didapatkan saat pelelangan di rumah lelang the Acker, Merall & Condit Company (AMC) di New York pada 23 April 2005, senilai US$ 10.575 atau Rp 96,5 juta.
  2. Botol 1947 Chateau Petrus, dibeli dalam penjualan privat dari AMC pada Mei 2005 senilai US$ 30.000 atau Rp 273,9 juta.
  3. Botol 1945 Comte Georges de Vogue Musigny, Cuvee Vielles Vignes yang dibeli secara privat dari AMC pada Juli 2005, senilai US$ 11.500 atau Rp 104,9 juta.
  4. Dua botol 1934 DRC Romanee-Conti yang dibeli dalam pelelangan dari rumah lelang AMC di New York pada 27 Januari 2006 senilai US$ 25.850 atau Rp 236 juta.

Total kerugian yang diderita Koch dari 5 botol wine palsu itu adalah sekitar US$ 75.000 atau sekitar Rp 684 juta.

Sebelumnya diberitakan dalam surat gugatan Koch pada 10 September 2009 yang diajukan pada Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles, disebutkan, Koch dan kolektor wine lainnya membeli wine Rudy pada pelelangan wine namun tak tahu bahwa Rudy ternyata adalah penjual.

“Koch baru-baru ini menyatakan bahwa banyak koleksi botol-botol wine-nya adalah palsu. Koch telah melacak bahwa beberapa wine palsu dibeli dari Kurniawan (Rudy). Koch menuntut ini untuk menghentikan Kurniawan menjual wine palsu dan untuk kepentingan korban lain penjualan wine palsu Kurniawan,” tulis surat gugatan yang diteken pengacara Bill Koch, Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP.

Sebelumnya, The New York Times melaporkan, Rudy ditangkap oleh agen-agen dari skuad elite FBI yang berbasis di New York, yang fokus pada kejahatan-kejahatan yang melibatkan seni, barang-barang antik dan koleksi-koleksi lainnya.

Rudy ditahan pada Kamis (8/3/2012) waktu Amerika Serikat. Dia ditahan atas tuduhan mencoba menjual anggur palsu, yang jika asli, akan bernilai sekitar US$ 1,3 juta.

Rudy yang tinggal di Arcadia, California, juga dituduh melakukan kecurangan dalam mendapatkan pinjaman jutaan dolar untuk membiayai apa yang disebut jaksa sebagai “gaya hidup tingkat tingginya”.

Dalam hearing di Pengadilan Distrik AS di Los Angeles pada Kamis, 8 Maret waktu setempat, jaksa mengatakan bahwa dari penggeledahan di rumah Rudy didapatkan benda-benda yang digunakan untuk memalsukan botol-botol anggur.

Rudy pernah menjual anggur-anggur yang total harganya mencapai US$ 35 juta pada tahun 2006. Penangkapan Rudy terjadi setelah adanya tuduhan penipuan yang diajukan ke pengadilan federal di New York. Para jaksa di kantor kejaksaan di Manhattan rencananya akan mengirimkan Rudy ke New York dalam beberapa hari mendatang.

Isu pemalsuan wine menghangat pasca penangkapan kolektor wine kelas kakap, Rudy Kurniawan. Para penipu memiliki modus tersendiri.

“Secara umum ada dua modus memalsukan wine,” kata pakar wine Indonesia, Yohan Handoyo, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (9/3/2012).

Modus pertama yakni penipuan yang dilakukan para produsen wine yang tidak bertanggng jawab. Mereka menggunakan jenis anggur yang tidak diperbolehkan atau mencampur wine dengan lebih banyak anggur kualitas rendahan.

Yohan mencontohkan, pada tahun 2010, seorang penghasil wine ternama dari Italia, Marchesi de Frescobaldi yang sudah membuat wine selama lebih dari 700 tahun dituntut.

“Ia dituntut karena menggunakan campuran anggur Italia Selatan dalam persentase yang jauh lebih tinggi dari yang diperbolehkan,” ujarnya.

Modus kedua, dilakukan oleh sejumlah orang yang memanfaatkan harga wine berkualitas atas dan langka yang kini meroket. Mereka memalsukan wine-wine yang menjadi favorit pembeli.

Wine-wine yang favorit dipalsukan adalah wine berharga mahal yang sudah berumur tua. Kebanyakan wine tersebut berasal dari Bordeaux dan dari tahun-tahun seperti 1921, 1945, 1947, dan 1961.

“Tapi dari tahun-tahun yang lebih muda pun tidak luput dari kejahatan seperti ini,” jelasnya.

Pada tahun 2002, Bea dan Cukai Hong Kong menyita Chateau Lafite 1982 palsu sebanyak 30 botol. Tahun 2003 polisi Italia menemukan Sassicaia tahun 1995 palsu sebanyak 20.000 botol.

“Tahun itu dianggap luar biasa. Jumlah botol di pasaran pada tahun itu sedikit sekali. Jadi mereka bikin wine palsu dari tahun itu,” ungkapnya.

Menurut Yohan, modus kedua ini dilakukan karena memang harga wine di rumah pelelangan sudah menyamai harga barang-barang seni. Menurut laporan majalah Wine Spectator di edisi Desember 2006, nilai penjualan rare and fine wines saja di rumah pelelangan seluruh dunia pada tahun tersebut mencapai $240.53 juta! Dan angka ini merupakan kenaikan 45% dari tahun sebelumnya.

Rudy diduga menggunakan modus kedua ini. Dia diadukan oleh William ‘Bill’ Koch, miliarder AS yang merasa tertipu oleh dagangan Rudy pada 2009. Rudy nantinya akan diadili di New York. Jaminan penangguhan penahanannya ditolak hakim karena hakim khawatir dia kabur ke Indonesia.

Rudy Kurniawan, kolektor sekaligus penjual wine asal Indonesia yang ditangkap FBI di Los Angeles (LA) AS, Kamis (8/3) ternyata sudah mendapat lisensi dari otoritas pengendalian alkohol California menjadi penjual wine. Toko atau butik wine Rudy bernama ‘The Wine Hotel’ yang kemudian berubah menjadi ‘Terroir’ di LA.

Hal ini terungkap dari surat gugatan miliarder AS William ‘Bill’ Koch yang diteken pengacaranya Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP pada 10 September 2009 yang didaftarkan ke Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles.

“Kurniawan diberikan lisensi oleh Departemen Pengendalian Alkohol Negara Bagian California (State of California Department of Alcohol Control) untuk menjual wine secara eceran. Dia mengoperasikan bisnis wine dengan nama Terroir, dan dia menerima lisensi dari Negara Bagian pada 2008,” demikian ditulis dalam surat gugatan itu.

Kemudian surat gugatan itu menunjukkan fakta gugatan, yaitu:

  1. Kurniawan disebut sebagai salah satu pembeli wine mahal dan langka dalam beberapa tahun ini. Pada Oktober 2008, Majalah LA Times menggambarkan Kurniawan sebagai ‘satu dari kolektor Burgundy di dunia’. Gudang penyimpanan wine miliknya dilaporkan berisi puluhan ribu botol wine, namun jumlah pastinya tidak diketahui.
  2. Kurniawan juga berkecimpung dalam bisnis wine eceran (retail). Dia mendirikan perusahaan yang dinamakan ‘Wine Hotel’ yang menawarkan penyimpanan wine, penjualan retail, tasting (pencicipan), dan kelas kursus. Perusahaan itu kini beroperasi dengan nama ‘Terroir’, dideskripsikan pada website-nya sebagai ‘full service wine retail store’.
  3. Kurniawan juga membeli dan menjual banyak botol-botol wine miliknya melalui penjualan privat dan lelang.
  4. Pada 2005 dan 2006, Koch (William ‘Bill’ Koch) membeli 5 botol wine dari Acker (rumah lelang, red). Acker tidak mengumumkan sumber-sumber botol wine yang dilelang karena terkait materi promosi dan iklan.
  5. Acker mengumumkan baru-baru ini bahwa 5 botol yang dijual ke Koch semuanya berasal dari Kurniawan. Masing-masing botolnya adalah palsu.
  6. Berdasarkan informasi dari investigasi yang dilakukan Koch, ditemukan bahwa Koch membeli botol wine palsu itu dari Kurniawan.

Sementara dari situs In & Around Los Angeles, ‘The Wine Hotel’ ini adalah butik wine yang melayani jasa penyimpanan wine dalam suhu yang sudah dikontrol. Dijelaskan pula bahwa The Wine Hotel ini sudah berubah menjadi ‘Terroir LA’.

“Tak begitu lama, pemilik baru mengambil alih dan memulai perubahan lambat yang bahkan lebih baik. Dari situ kami mengerti walaupun masih dipanggil dengan nama lamanya, The Wine Hotel, tujuannya adalah untuk mengubah menjadi ‘Terroir LA,'” tulis situs In & Around Los Angeles.

Bahkan situs yang mengulas tempat-tempat wisata dan kuliner di LA itu menyebutkan tempat ini ‘highly recommended’, untuk membeli bahkan sekadar mencicipi wine. Situs itu mencantumkan alamat ‘The Wine Hotel 5800 West Third Street Los Angeles, CA 90036 (323) 937-9463. Hours*: Monday-Saturday 11-7 Sunday CLOSED’.

Rudy Kurniawan, kolektor sekaligus penjual wine (anggur) asal Indonesia ditangkap di Los Angeles, Amerika Serikat, dibekuk oleh agen FBI, Kamis (8/3). Nama asli Rudy Kurniawan adalah Zhen Wang Huang. Masuk ke AS memakai visa pelajar.

Hal ini terungkap dari surat gugatan miliarder AS William ‘Bill’ Koch yang diteken pengacaranya Bruce A Wessel dari firma hukum Irrel & Manella LLP pada 10 September 2009, yang didaftarkan pada Pengadilan Tinggi California untuk wilayah Los Angeles.

Dalam surat gugatan itu Rudy disebutkan bernama asli Zhen Wang Huang, yang merupakan penduduk wilayah Los Angeles, California, AS. Rudy ternyata masuk ke AS memakai visa pelajar. Namun, tahun berapa Rudy pertama kali masuk ke AS, belum diketahui.

“Kurniawan tiba di California, kemungkinan memakai visa pelajar, untuk masuk California State Northridge (universitas, red) walaupun dia drop out setahun kemudian,” demikian ditulis dalam surat gugatan itu.

Rudy, imbuh surat gugatan itu, dikatakan tak pernah bersedia menjelaskan asal-usul persisnya dari mana uang yang keluarganya dapatkan. Rudy mengaku mendapatkan nama keluarga Indonesia yang berbeda dari nama keluarganya yang China.

“Dia terkadang melaporkan bahwa ayahnya masih hidup, dan di lain waktu, sudah meninggal. Ada banyak pertanyaan yang belum jelas yang butuh dibahas dalam penemuan,” tulis surat gugatan itu.

Pertanyaan yang perlu dijawab adalah:

  1. Bagaimana status keimigrasian saat dia memasuki pasar wine?
  2. Dari mana kekayaan keluarganya berasal, apakah nyata semua?
  3. Mengapa seseorang dengan usia 20-an menghabisan puluhan juta US Dollar untuk membeli wine dengan cepat?
  4. Mengapa dia membeli dan menjual wine bernilai jutaan US Dollar pada saat yang sama?
  5. Mengapa Kurniawan menawar wine saat pelelangan, apakah rumah lelang mengetahui bahwa dia memiliki uang untuk membayar wine?
  6. Apakah rumah lelang berdiskusi dengannya dan berapa banyak dia harus menawar? Apakah dia (Rudy) mengatur itu?
  7. Apakah hal itu dilakukan orang lain, atau apakah dia hanya boneka untuk orang lain dalam bisnis wine yang diuntungkan dari penawaran agresif untuk menaikkan harga?

Wine identik dengan gaya hidup kelas atas. Maklum saja, harganya selangit. Contohnya, 3 botol wine berkualitas tinggi merek DRC harganya setara satu Ferrari 430 baru!

Soal harga selangit ini diceritakan oleh pakar wine Indonesia, Yohan Handoyo, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (9/12/2012).

Yohan menceritakan, Aubert de Villaine dari Domaine de la Romanee-Conti (DRC) – produsen wine termahal di dunia dari Burgundy, Prancis – suatu hari mengumpulkan para kolektor kelas kakap yang sangat sangat bangga dengan koleksi DRC Richebourg tahun 1947 mereka dan dengan nada prihatin menjelaskan bahwa pada tahun 1947 DRC Richebourg tidak diproduksi karena mereka sedang menanam ulang pohon anggur mereka.

“Jika saya salah satu dari kolektor itu, mungkin saya akan terkena serangan jantung mendadak karena sekarang ini harga 3 botol DRC ukurang Jeroboam harganya sama dengan satu Ferrari F430 baru!” ungkap Yohan.

Ferrari F430 adalah mobil sport besutan perusahaan otomotif Italia, Ferrari, yang keluar pada 2004-2009, yang harganya sekitar Rp 1,9 miliar.

Yohan juga menceritakan, pengadilan distrik New York malah baru-baru ini menyidangkan gugatan William I Koch, seorang miliarder asal Florida, yang murka karena yakin bahwa tiga botol wine milik Thomas Jefferson (presiden ketiga Amerika Serikat) yang dibelinya seharga lima miliar rupiah dari Hardy Rodenstock adalah wine palsu. Saking seriusnya ia menyiapkan gugatan ini, wine yang diyakininya palsu itu ia kirimkan ke para ilmuwan untuk dicek umurnya dengan teknologi carbon dating yang juga dipakai untuk menyelediki “kain kafan Yesus” (the shroud of Turin).

“Memang runyam nasib para wine lover saat ini. Setelah harus menghadapi resiko meminum wine rusak, wine yang sudah berubah menjadi cuka, dan harga wine yang menyebalkan, kini kita harus menghadapi risiko membeli wine yang palsu,” tuturnya.

Terkait wine palsu, Yohan menjelaskan, ada dua modus pemalsuan. Pertama, penggunaan bahan-bahan tidak berkualitas oleh produsen. Kedua, memalsukan wine mahal yang langka, yang harganya setara dengan karya seni.

Isu tentang wine mencuat pasca penangkapan kolektor wine kelas kakap asal Indonesia, Rudy Kurniawan (35).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s