Kerusuhan Sepakbola di Mesir 74 Tewas, Partai Berkuasa Mesir Ikhwanul Muslimin Menyalahkan Pendukung Mubarak


Sedikitnya 74 orang tewas dalam bentrokan antar kelompok pendukung klub papan atas Liga Mesir Al-Masry dan Al-Ahly di kota Port Said, Rabu (1/2) malam waktu setempat. Selain itu, puluhan lainnya terluka saat kedua kubu penggemar yang bersenjatakan pisau menyerbu lapangan usai pertandingan antara kedua klub itu. Aparat keamanan khawatir jumlah korban tewas akan bertambah. Dilaporkan sebagian korban tewas adalah petugas keamanan.

Menteri Kesehatan Mesir Hesham Sheiha menyatakan insiden itu adalah kerusuhan sepakbola terburuk di negeri itu. “Peristiwa ini sangat buruk dan menyedihkan,” tutur Hesham kepada stasiun televisi pemerintah. Wartawan BBC di Kairo Jon Leyne mengatakan buruknya pengamanan di stadion berkontribusi atas kerusuhan berdarah ini. Selain itu, pendukung sepakbola di Mesir terkenal brutal terutama pendukung klub Al-Ahly yang menyebut diri mereka Ultras. Anggota Ultras banyak terlibat juga dalam berbagai unjuk rasa politik belakangan ini, sambung Leyne. Bahkan muncul spekulasi bahwa dinas rahasia memiliki kepentingan untuk merangkul para pendukung Al-Ahly ini.

Kerusuhan terjadi usai pertandingan yang berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan klub tuan rumah Al-Masry. Sejumlah saksi mata menuturkan suasana tegang sudah terasa di sepanjang pertandingan, apalagi pendukung Al-Ahly membentangkan spanduk yang menghina pendukung tuan rumah. Tak lama setelah wasit meniupkan peluit panjang tanda pertandingan usai pendukung Al-Masry masuk ke lapangan dan menyerang para pemain Al-Ahly.

Sejumlah kecil pasukan keamanan berusaha mencegah amuk ribuan penonton itu namun mereka tak kuasa membendung massa yang membludak. Aparat keamanan menyatakan korban tewas kebanyakan akibat gegar otak, luka tusukan dan terinjak-injak.
“Ini bukan sepakbola. Ini perang, orang tewas di depan mata kami,” kata pemain Al-Ahly Mohamed Abo Treika. “Saya pikir kerusuhan ini bukan karena sepakbola. Para perusuh itu bukan fans sepakbola,” kata mantan pemain Al-Ahly Hani Seddik kepada BBC. “Bagaimana mungkin mereka bisa membawa pisau ke dalam stadion? Bagi saya ini adalah tindakan orang-orang yang tak menginginkan negeri ini aman dan ingin mengusir turis dari sini,” kata Seddik yang menonton pertandingan lewat televisi di kediamannya di Kairo.

Sementara itu, Ikhwanul Muslimin yang baru saja menjelma menjadi partai politik terbesar Mesir usai pemilu menuding kerusuhan ini dilakukan para pendukung mantan Presiden Hosni Mubarak. “Insiden di Port Said sudah direncanakan dan menjadi sebuah pesan dari sisa-sisa pendukung rezim lama,” kata anggota parlemen dari Ikhwanul Muslimin, Essam al-Erian.

Essam menambahkan militer dan polisi berkeinginan untuk membungkam kritik yang menuntut dihentikannya situasi darurat di Mesir. Kerusuhan di Port Said ini segera merambah Kairo yang mengakibatkan satu pertandingan liga ditunda.
Selanjutnya seluruh pertandingan Liga Primer Mesir ditunda dan parlemen Mesir yang baru terpilih akan menggelar pertemuan darurat, Kamis (2/2). Insiden ini juga mengundang komentar Presiden FIFA Sepp Blatter yang menyatakan keterkejutannya mendengar kerusuhan berdarah di Mesir itu. “Kejadian ini adalah hari kelam untuk sepakbola. Tragedi semacam ini tak pernah terbayangkan dan seharusnya tidak terjadi,” kata Blatter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s