Tawakkul Karman, Perempuan Arab Pertama Raih Nobel Perdamaian


Tawakkul Karman, wartawati dan pegiat hak asasi manusia (HAM) asal Yaman, Jumat (7/10/2011), ditetapkan Komite Nobel meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2011.

Tawakkul Karman (32) tercatat sebagai perempuan Arab pertama yang meraih hadiah bergengsi itu berbagi dengan dua perempuan pegiat Liberia, yaitu Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf dan pejuang perdamaian Liberia, Leymah Gbowee.

Tawakkul dikenal penentang hebat rezim Yaman yang dipimpin oleh Presiden Ali Abdullah Saleh, yang sedang menghadapi prahara politik di negeri paling selatan jazirah Arab itu.

Sejumlah stasiun televisi Arab menunda sementara siaran regulernya untuk membuat breaking news pada Jumat saat Komite Nobel mengumumkan bahwa Tawakkul meraih Hadiah Nobel.

Namun, televisi Pemerintah Yaman mengecam putusan Komite Nobel yang menganggap bahwa “pemberontak” itu tidak layak memperoleh Hadiah Nobel.

Selain dikenal sebagai pegiat HAM, Tawakkul juga merupakan wartawati yang kritis. Ibu dari tiga orang anak itu pada 2005 mendirikan Perhimpunan Wanita Jurnalis Tanpa Belenggu.

Dalam status terbarunya di jejaring sosial, Tawakkul menulis, “Kalian tak bisa membelenggu kebebasanku.”

Belakangan, perempuan berjilbab itu bergabung dengan Partai At Tajammu Al Yamani Lil Ishlah (Perhimpunan Yaman untuk Reformasi), oposisi utama Yaman.

Perempuan pegiat HAM Mesir, Marwah Sameer, menyambut hangat penetapan Tawakkul sebagai penerima Hadiah Nobel. “Ini merupakan penghormatan terhadap dedikasi perempuan Arab,” kata Marwah kepada jaringan televisi Nile TV.

Di Yaman, ada dua hal yang menjadi barang langka. Pertama, kebebasan berpendapat dan berekspresi serta hak-hak berdemokrasi. Maka, bagi Tawakal Karman yang kini menjadi anggota senior Al Islah, partai yang diperhitungkan di Yaman, dirinya menjadi bagian untuk memperjuangkan kedua hal itu.

Begitulah, perempuan yang juga orang nomor satu di Grup Wartawan Perempuan Tanpa Belenggu (WJWC) yang dibentuknya pada 2005 mendapat penghargaan tertinggi Nobel Perdamaian 2011. Ia tak sendirian. Bersama dua perempuan lainnya Ellen Johnson Sirleaf dan Leymah Gbowee, anugerah tersebut menjadi milik mereka.

Perjuangannya untuk merealisasikan dua syarat di atas memang berjumpa dengan jalan berliku dan penolakan. Ide membentuk surat kabar dan stasiun radio sebagai alat perjuangan ditolak Kementerian Informasi Yaman. Lalu, sejak 2007 hingga 2010, Karman selalu di barisan depan saat berunjuk rasa di ibu kota Yaman, Sana’a.

Sampai kini pun, Karman masih menjadi orang yang menyuarakan protes terhadap kepemimpinan Presiden Ali Abdullah Saleh. Sempat ditangkap aparat berwajib, dia dibebaskan pada 24 Januari 2011.

Lalu, lima hari setelah dibebaskan, Karman malah menggelar protes besar-besaran, menentang Ali Abdullah Saleh. Masih terus melakukan unjuk rasa, aparat kembali menangkapnya pada 17 Maret 2011.

Namun, bagi Karman, perjuangan memang belum selesai. Dua syarat itu pun masih dibawanya ke mana-mana demi perubahan baik di tanah airnya, Yaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s