Presiden Amerika Serikat Barrack Obama Berhutang USD 5 Pada Pria Bali


Paus Johannes Paulus II tersenyum. Kedua tangannya dirapatkan di depan dada. Baju kepausan serba putih yang dikenakan membuat pemimpin umat Katolik sedunia itu terlihat berwibawa. Di bawah foto berukuran 6-R tersebut, sebuah tanda tangan tertera: Johannes Paulus II.

Mirip Paus, pose Dalai Lama yang mengenakan pakaian khas biksu Buddha warna merah hati juga terlihat semringah. Di bagian bawah foto, sebuah tanda tangan dari pemenang Nobel Perdamaian 1989 itu tergores dengan tinta hitam.

Dua foto bertanda tangan itu merupakan bagian dari 160-an foto sejenis yang menjadi koleksi Debby Lukito, 38 tahun. Tokoh-tokoh lainnya yang foto dan tanda tangannya telah dikoleksi antara lain Ratu Inggris Elizabeth II, Perdana Menteri Australia John Howard, Presiden AS Bill Clinton dan Ibu Negara Hillary Clinton, Presiden Prancis Jacques Chirac, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden Israel Moshe Katsav.

Hobi unik yang dilakukan Debby disebut autograf. Dibutuhkan kesabaran dan usaha berkelanjutan untuk mendapatkan tanda tangan dari tokoh-tokoh tersebut. Debby bisa mengirim surat hingga berkali-kali sebelum akhirnya keinginannya terpenuhi. “Saya mengirim surat ke Obama, tapi dibalas dengan e-mail. Dia minta agar surat dikirim dengan amplop tertentu dan menggunakan perangko internasional,” kata Debby kepada Tempo, 29 Juli lalu.

Karena tak bisa menemukan perangko yang dimaksud, di dalam surat permohonan yang kembali dikirim, dia menyelipkan uang US$ 5. Tujuannya sebagai ganti beli perangko internasional. “Tapi sampai sekarang tidak dibalas. Makanya Obama masih utang ke saya US$ 5,” ujar Debby yang kini tinggal di Denpasar, Bali, sambil tertawa.

Benih kecintaan pada autograf telah dimulainya saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar sekitar 1982. Awalnya adalah tantangan dari sang ayah, Bing Lukito. “Kalau kamu kirim surat ke Pak Harto, kamu bakal dikasih hadiah sepeda dari Pak Harto,” kata Debby menirukan ucapan ayahnya.

Berharap mendapatkan hadiah sepeda, Debby pun menyurati penguasa Orde Baru itu. Pada surat ketiga, dia mendapatkan balasan dan diabadikan dalam buku Pak Harto dan Anak-anak Indonesia. “Setelah itu saya diwawancara harian Bernas dari Yogyakarta dan gara-gara itu saya mulai senang baca koran,” Debby mengenang.

Saat di bangku SMA, hobi berkirim surat untuk mendapatkan foto dan tanda tangan para tokoh kembali dia tekuni. Tokoh pertama yang dikirimi surat adalah Presiden Prancis Jacques Chirac. Tak sampai tiga bulan, surat yang dia kirim berbalas. Sukses itu tentu membuat dia senang bukan kepalang. Dia pun makin getol berkirim surat ke tokoh-tokoh lain. Atas hobinya itu, Debby yang bekerja sebagai penerjemah tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) 2010 dengan jumlah koleksi sebanyak 152 buah.

Di Jakarta, Andi Istiabudi, 28 tahun, juga menekuni hobi seperti Debby. Jumlah koleksinya bahkan sudah mencapai 231 buah. Karyawan di perusahaan manajemen artis ini memang tak membatasi koleksi foto dan artis di kalangan politikus dan negarawan, tapi juga pesohor di bidang musik dan olahraga. Koleksinya dari dunia sepakbola antara lain Marco van Basten (Belanda), Lionel Messi (Barcelona), dan David Beckham (Inggris). Untuk musisi, dia mengoleksi Yoko Ono, istri mendiang John Lennon, serta pemain keyboard Deep Purple, Don Airey.

Dari hobi autograf ini, baik Debby maupun Andi bisa melihat adanya perbedaan politikus dalam dan luar negeri. Politikus luar negeri, kata Debby, sangat menghargai surat yang disampaikan kepada mereka. Meskipun enggan memberikan tanda tangan, mereka pasti membalas surat berisi alasan penolakan. Berbeda dengan politikus dalam negeri. Kiriman surat sering tak berbalas tanpa alasan yang jelas. “Saya ngirim surat ke SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) sampai lima kali dan hingga kini tidak ada balasan. Sampai saya bosan,” ujar Debby.

Karena masih sedikit orang yang melirik hobi ini, Debby dan Andi merintis komunitas autograf di dunia maya. Namanya Hastaksara Indonesia. Berinteraksi dengan pelaku sejarah membuat kolektor autograf ini merasa menjadi bagian dari sejarah. “Karena kita berhubungan dengan pelaku sejarah, kita menjadi bagian dari sejarah,” Debby melanjutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s