Somalia Kian Merana Diantara Kelaparan Dan Peperangan


Deru derita Somalia jauh dari usai. Perserikatan Bangsa-Bangsa, Rabu waktu New York, Amerika Serikat (Kamis lalu WIB), mengumumkan kekurangan pangan yang membekap sejumlah wilayah Somalia selatan, yang meluas ke tiga wilayah baru, tampaknya bakal ditetapkan menjadi zona kelaparan dalam enam pekan ke depan.

Data teranyar PBB juga menunjukkan bahwa seluruh Somalia, hampir setengah dari populasi yang berjumlah 7,5 juta jiwa, terkena dampak krisis pangan. Di antara mereka, 3,2 juta orang membutuhkan bantuan segera untuk menyelamatkan hidup.

Di satu kamp pengungsi di perbatasan Somalia-Etiopia, ratusan orang Somalia menunggu bantuan dari World Food Program saban hari. Tapi rasio makanan tak pernah cukup untuk mereka.

Seorang pengungsi Somalia, Nura Ale Said, Rabu pekan lalu mengatakan, “Rasio makanan yang mereka berikan kepada kami untuk satu bulan habis dalam kurang dari dua pekan untuk kami, dengan sembilan anak. Saya harus menemukan cara lain untuk melangsungkan asupan makanan keluarga untuk melanjutkan hidup.”

“Respons kemanusiaan saat ini tetap tak memadai, sebagian karena pembatasan akses dan kesulitan-kesulitan terus memperluas program-program bantuan darurat, seiring dengan kesenjangan pendanaan,” demikian pernyataan PBB.

Sebagian besar wilayah Somalia selatan dikendalikan oleh militan Islam Al-Shabaab, yang tahun lalu melarang masuknya bantuan makanan dan mengusir banyak kelompok bantuan keluar dari wilayah ini, sehingga memperparah krisis kekeringan.

PBB bahkan menyatakan kondisi kelaparan diperkirakan bakal tetap menerpa Somalia selatan sampai dengan akhir tahun ini.

Setiap hari, ratusan warga Somalia yang terkena dampak kekeringan berlindung di kamp-kamp kumuh di dalam dan sekitar Ibu Kota Mogadishu, berkebalikan dengan perintah gerilyawan untuk bertahan di zona perang.

Awal bulan suci Ramadan tahun ini bertepatan dengan serangan baru oleh pasukan penjaga perdamaian Afrika dan pemerintah menghadapi pemberontak serta lonjakan ancaman serangan bunuh diri gerilyawan.

Begitulah kekerasan telah menggerogoti pemberian bantuan darurat ke sekitar 100 ribu pengungsi, yang tiba di Mogadishu selama dua bulan terakhir, membuat total pengungsi yang kekurangan makanan menjadi sekitar 400 ribu.

“Para dokter lokal datang kepada kami pagi ini dan mengatakan dua anak kami kekurangan gizi dan menderita anemia. Kami diberi banyak makanan untuk beberapa hari, tapi kami tidak memiliki tempat tinggal, bahkan tak ada lembaran-lembaran plastik,” tutur seorang ibu dari tujuh anak bernama Hawa Omar tak jauh dari bandar udara.

Omar berbicara kepada Reuters di sebuah penampungan yang kini dihuni sekitar 4.000 pengungsi yang baru tiba, sekitar 10 kilometer dari garis depan, lokasi di mana pasukan pemerintah terlibat baku tembak tiap hari dengan kubu pemberontak.

Badan pengungsi PBB, UNHCR, mengatakan mampu mendistribusikan bantuan lewat sejumlah jaringan lokal, tapi proses pengawalan yang dibutuhkan berjalan lambat.

“Rencananya memulai penyaluran di sekitar 10 penampungan lain dalam beberapa hari mendatang, tapi semua gerakan telah dibatasi sejak serangan dimulai,” kata Andy Needham, juru bicara UNHCR di Somalia, Kamis pekan lalu di Nairobi, Kenya.

Yang lebih memprihatinkan, menurut Program Pangan Dunia (WFP), wilayah-wilayah selatan dan tengah Etiopia, Kenya, dan Somalia yang paling terpukul, dengan total 12,4 juta jiwa penduduk terkena dampak kekurangan pangan menuju kelaparan. Kawasan yang disebut Tanduk Afrika itu tengah mengalami kekeringan terburuk dalam 60 tahun terakhir.

Menghadapi kekeringan terburuk itu, PBB dan organisasi internasional lainnya tengah melaksanakan operasi-operasi bantuan secara masif.

Selasa lalu, WFP menyambut langkah Washington melonggarkan aturan pengoperasian bantuan-bantuan yang diberlakukan di kawasan yang dikontrol militan Al-Shabaab di Somalia, dengan tujuan meningkatkan jumlah bantuan untuk menjangkau banyak daerah di sana.

“Pastinya, organisasi-organisasi bakal lebih rileks. Hal itu harus memungkinkan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau lebih dekat kepada mereka yang paling membutuhkan,” ujar juru bicara WFP, David Orr. Organisasi WFP dipaksa menunda operasi-operasi di Somalia selatan pada awal tahun lalu.

Advertisements

2 responses to “Somalia Kian Merana Diantara Kelaparan Dan Peperangan

  1. Pingback: Somalia Kian Merana « fokus nusantara

  2. Kasian banget mereka yaa..miris banget lihat photo-photo mereka,mengapa ya PBB tidak mengosongkan negara Somalia,mereka kan bisa di kirim ke negara-negara yang ada di muka bumi ini,mereka pasti bersedia di pindahkan ,yang penting mereka bisa makan alias tidak kelaparan,Ya Allah mudahkan jalan mereka…aminn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s