Sudan Selatan Memproklamasikan Kemerdekaan dan Menjadi Negara Baru


Rakyat Sudan Selatan, Sabtu (9/7/2011), merayakan kelahiran negara mereka, setelah memilih untuk merdeka dalam referendum berdasarkan ketentuan perjanjian perdamaian 2005 yang mengakhiri beberapa dekade perang saudara utara-selatan.

Negara itu memiliki ibukotanya di Juba dan telah diakui secara resmi oleh pemerintah Sudan (utara), yang bermarkas di Khartoum, beberapa jam sebelum perpisahan resmi terjadi.

Beberapa pejabat mengatakan kelahiran negara baru itu terjadi pada tengah malam antara 8 dan 9 Juli, dan upacara kemerdakaan resmi akan diadakan kemudian pada Sabtu malam.

“Pada tengah malam itu, bel-bel akan meraung di seluruh negara baru itu. Genderang akan ditabuh untuk menandai transisi bersejarah dari Sudan selatan menjadi Republik Sudan Selatan,” kata sebuah pernyataan dari pemerintah selatan.

Menurut program resmi, Proklamasi Kemerdekaan Sudan Selatan akan dibacakan oleh ketua parlemen selatan James Wani Igga pada pukul 11.45 waktu setempat (pukul 15.45 WIB).

Republik baru yang belum berkembang tapi kaya-minyak itu memperoleh kemerdekaannya pada puncak perjanjian damai 2005 yang mengakhiri beberapa dasawarsa perang saudara dengan utara.

Pemerintah Khartoum adalah yang pertama mengakui negara baru itu, beberapa jam sebelum perpisahan resmi terjadi, langkah yang melancarkan jalan ke pembagian, yang hingga Sabtu, negara terbesar di Afrika itu.

Namun pengakuan itu tidak menghalau kekhawatiran akan ketegangan pada masa mendatang. Para pemimpin utara dan selatan masih belum menyepakati mengenai satu daftar masalah sensitif, yang diawali dengan garis tepat perbatasan, bagaimana mereka akan membagi cadangan minyak, dan sumber hidup kedua ekonomi itu.

Di Juba, rakyat di sudut-sudut jalan melambai-lambaikan bendera dan menari dalam sorotan lampu besar mobil, menyanyi sesaat sebelum tengah malam.

Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan (SPLM) telah memimpin gerakan pemberontak yang memerangi utara hingga 2005 dan sekarang mendominasi parlemen Sudan selatan.

Di Khartoum, sesaat sebelum pemisahan itu, Presiden Omar Hassan al-Bashir, yang sekarang hanya memimpin Sudan Utara, ia akan menghadiri perayaan kemerdekaan di selatan Sabtu malam.

“Saya ingin ke menekankan…. kesiapan kami untuk bekerja dengan saudara-saudara kami di Selatan dan membantu mereka membentuk negara mereka agar, Insya Allah, negara itu stabil dan berkembang. Kerja sama antara kita akan baik sekali, khususnya ketika kita akan menandai dan melindungi perbatasan sehingga di sana ada gerakan warga dan barang melalui perbatasan itu,” kata Bashir.

Beberapa pengamat mengkhawatirkan kembalinya ke perang saudara jika perselisihan yang ada tidak dipecahkan.

Setelah pembagian tengah malam itu, Republik Sudan (Utara) kehilangan sekitar tigaperempat cadangan minyaknya, yang terletak di selatan, dan menghadapi masa depan dengan gerilya di wilayah Darfur dan Kardofan Selatan.

Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan pada wartawan di Juba pada Jumat malam, ia yakin Sudan Selatan akan segera bergabung dengan badan global itu.

Sebelumnya di Khartoum, ia mendesak pemerintah utara agar mengizinkan penjaga perdamaian tinggal melewati mandat mereka (yang telah berakhir) guna mengawasi situasi di Kardofan Selatan, negara bagian minyak terbesar yang masih tersisa dari utara, dan tempat tak aman lainnya.

Kurang dari 24 jam sebelum Sudan Selatan resmi berdiri, kegembiraan menyelimuti seluruh penjuru ibu kota Juba, Jumat (8/7). Warga berkumpul sambil menari di jalan dan persiapan terus berlangsung menjelang proklamasi kemerdekaan, Sabtu ini.

Parade kelompok veteran, tentara, dan warga sipil, termasuk kaum perempuan, berbaris melewati pusat kota Juba di bawah terik matahari. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian tradisional sambil menari diiringi tabuhan drum dan perkusi.

Tak jauh dari sana, para pekerja bekerja keras menyelesaikan panggung upacara tepat pada waktunya di mausoleum John Garang yang menjadi lokasi utama. John Garang adalah pemimpin perjuangan Sudan Selatan yang terbunuh hanya beberapa bulan setelah penandatanganan perjanjian damai tahun 2005, yang mengakhiri konflik brutal selama beberapa dekade antara Sudan utara dan selatan.

”Saya sangat gembira dengan kemerdekaan ini, itu alasan saya membantu. Saya ingin menyambut semua yang datang untuk merayakan ini dan memperlihatkan kehebatan negeri kami,” kata Jhawawar Dawson (28), yang bekerja secara sukarela mempersiapkan panggung upacara.

Menteri Informasi Baranaba Marial Benjamin yakin persiapan akan selesai pada waktunya. Pada Sabtu, 9 Juli 2011, jutaan warga Sudan Selatan dan perwakilan negara asing—termasuk 30 pemimpin negara Afrika—akan menghadiri peringatan lahirnya negara termuda di dunia itu.

Pergantian hari

Lonceng gereja akan mengawali pesta rakyat tepat pada pergantian hari, lewat tengah malam. Upacara utama terdiri atas parade militer, doa, pengibaran bendera Republik Sudan Selatan, dan penandatanganan konstitusi oleh presiden pertama Sudan Selatan, Salva Kiir

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki- moon dijadwalkan tiba di Juba, Jumat. Adapun Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma lebih dulu bertemu Pemimpin Sudan Omar al-Bashir di Khartoum sebelum terbang ke Juba.

Bashir, yang oleh Mahkamah Kriminal Internasional dijadikan tersangka kejahatan melawan kemanusiaan dan genosida di Darfur, berjanji untuk hadir. Menurut Bashir, dia berkepentingan agar Sudan Selatan stabil dan aman. Pejabat Sudah Selatan memastikan Al-Bashir akan menjadi tamu kehormatan.

Namun, Menteri Luar Negeri Perancis Alain Juppe, yang akan tiba Sabtu pagi, mengatakan akan berusaha agar dirinya dan tamu negara lainnya, seperti Menlu Inggris William Hague, tidak bertemu dengan Bashir. ”Hanya karena Bashir ada di sana, tidak berarti kami tak bisa memperlihatkan dukungan pada upacara kemerdekaan itu,” kata Juppe.

Konflik bersenjata antara Sudan utara dan selatan terjadi selama lebih dari 50 tahun. Jutaan orang tewas dan wilayah itu porak-poranda. Konflik baru berakhir setelah penandatanganan Perjanjian Perdamaian Komprehensif (CPA) tahun 2005.

Kedua pihak sepakat berdamai dengan tekanan dari negara asing, terutama Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia. Referendum diselenggarakan pada Januari 2011, dan 99 persen warga Sudan Selatan memilih memisahkan diri, berujung pada proklamasi kemerdekaan Sudan Selatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s