Laurent Gbagbo Presiden Pantai Gading Ditangkap Pasukan Khusus Prancis


Pasukan yang setia kepada presiden terpilih Pantai Gading, Alassane Ouattara, akhirnya menangkap rivalnya, Laurent Gbagbo, di kediamannya di Abijan, Senin (11/4). Penangkapan yang dibantu pasukan perdamaian PBB dan pasukan khusus Perancis itu mengakhiri krisis yang terjadi sejak pemilihan umum November 2010.

Gbagbo, mantan profesor sejarah, memerintah Pantai Gading sejak tahun 2000, lima tahun lebih lama dari mandat yang diterima. Dia menolak mengakui kekalahannya dari Ouattara pada pemilu yang mendapat legitimasi PBB dan dunia internasional, November lalu. Pembangkangannya memicu perang saudara dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintahan Ouattara mengatakan, Gbagbo ditahan dan dibawa ke markas sementara Ouattara di Hotel Golf, Abijan. ”Mimpi buruk itu sudah berakhir,” kata mantan pemimpin kelompok perlawanan yang kini menjadi perdana menteri di kabinet Ouattara, Guillaume Soro.

Juru bicara Ouattara, Anne Ouloto, kepada AFP mengatakan, Gbagbo ditahan bersama istrinya, Simone, dan putranya, Michel. ”Dia ada di sini bersama istri dan putranya. Saya bisa melihatnya sekarang,” kata Ouloto dari hotel resor yang kini berubah menjadi kamp tentara.

Situasi di Abijan, ibu kota ekonomi Pantai Gading, belum diketahui. Sebagian distrik di kota itu masih dikuasai pasukan yang setia kepada Gbagbo, termasuk kawasan bisnis Plateau dan distrik Cocody di sebelahnya.

Sebelum penangkapan terjadi, saksi mata melaporkan, pasukan pro-Ouattara memasuki kompleks kediaman Gbagbo, tempat Gbagbo bersembunyi sambil terus melakukan perlawanan. Di luar kompleks itu, pasukan khusus Perancis dan pasukan perdamaian PBB menggelar kendaraan lapis baja.

Pasukan PBB dan Perancis, bekas penjajah Pantai Gading, mengepung kediaman Gbagbo sejak sehari sebelumnya untuk menghancurkan senjata berat milik Gbagbo yang dilaporkan telah menyerang warga sipil.

Korban tewas bertumbangan di Abijan setelah terjadi pertempuran terbuka di jalan setelah masuknya pasukan Ouattara dari wilayah utara untuk menggulingkan Gbagbo, pekan lalu.

Konfirmasi

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengonfirmasikan telah memerintahkan serbuan ke kediaman Gbagbo. Ban Ki-moon juga mengulang tuduhannya bahwa Gbagbo menggunakan tawaran dialog yang diajukannya pekan lalu untuk ”mengumpulkan kembali pasukannya dan menyiapkan senjata berat”.

Ouattara mengatakan, dia memang meminta PBB menetralisasi kekuatan senjata berat rivalnya. Dia juga berjanji Gbagbo akan menjalani sidang yang adil untuk kekejaman yang dilakukannya selama krisis.

Pemerintah Perancis mengakui, pasukan militer mereka terlibat atas permintaan Sekjen PBB. Perancis juga membantah laporan bahwa pasukan khusus mereka yang menangkap Gbagbo dan menyerahkannya kepada kubu Ouattara. Sementara itu, Kantor Presiden Perancis Nicolas Sarkozy mengatakan, pemimpin Perancis itu telah menelepon Ouattara, mantan Deputi Direktur Dana Moneter Internasional, segera setelah Gbagbo ditahan.

Penuntut dari Pengadilan Kriminal Internasional telah memulai investigasi awal untuk kekerasan yang terjadi di negara itu. Mereka akan melihat apakah kejahatan yang dilakukan cukup serius dan termasuk yurisdiksi pengadilan internasional.

Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengatakan, Gbagbo harus diperlakukan dengan hormat dan mendapat perlakuan adil. ”Tuan Gbagbo telah bertindak melawan prinsip demokrasi dalam beberapa bulan terakhir dan tentu saja banyak pelanggaran hukum yang dilakukan. Namun, dia harus diperlakukan dengan hormat dan proses yudisial yang dilakukan harus berjalan adil,” ujar Hague di London.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s