Tripoli Kembali Di Bombardir Oleh Pasukan Koalisi Namun Para Pemberontak Anti Khadafi Belum Berhasil Maju


Tripoli, ibu kota Libya, masih membara pada Rabu (23/3), hari keempat setelah intervensi koalisi militer Barat. Terjadi dua ledakan tidak jauh dari Bab al-Aziziya, pusat pertahanan Moammar Khadafy, menjelang fajar. Pemimpin Libya ini pun masih terus mengobarkan perlawanan.

Ledakan bom terdengar amat memekakkan telinga dan kembali membuat warga kota panik dan lari ketakutan menjauhi pusat ledakan. Wanita, orang lanjut usia, dan anak-anak kembali menjerit. Jet tempur meraung-raung di atas kota dan rentetan tembakan meronai langit kota, Rabu dini hari.

Pada Selasa malam tembakan senjata antipesawat terdengar berkali-kali tak jauh dari Bab al- Aziziya di selatan Tripoli. Intensitas serangan tak sehebat dua hari pertama Operasi Fajar Odyssey yang dimulai dengan serangan beruntun pada Sabtu malam dan Minggu dini hari.

Dua ledakan beruntun itu terdengar menjelang fajar, hari Rabu. Belum diketahui pasti apa yang menjadi sasarannya. Ledakan terjadi beberapa jam seusai Khadafy tampil di televisi negara, Selasa malam. Ini merupakan penampilan pertamanya di depan publik dalam sepekan terakhir.

Televisi melaporkan, Khadafy berbicara di Bab al-Aziziya, pusat pertahanan dan kediamannya yang hancur terkena rudal koalisi sehari sebelumnya. Berdiri di balkon di kompleks itu dan berbicara selama lima menit, Khadafy menggelorakan semangat pendukungnya. ”Dalam jangka pendek, kita akan mengalahkan mereka. Dalam jangka panjang, kita akan menundukkan mereka,” katanya.

Sambil berdiri di balkon, Khadafy dengan lantang mengecam serangan bom koalisi yang telah melumpuhkan sebagian kekuatannya. ”Wahai penduduk Libya yang besar, kalian harus hidup sekarang, ini saat kemuliaan bahwa kita hidup,” katanya.

Belum jelas siapa yang dimaksud ”mereka” oleh Khadafy; apakah koalisi Barat, oposisi, atau kedua-duanya. Jika koalisi Barat, tentunya Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris. Minggu malam lalu, pasukan koalisi membombardir pusat pertahanan dan kediamannya itu hingga hancur.

Salah seorang putra Khadafy diduga tewas. Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri AS Hillary R Clinton kepada ABC News. Hillary mengutip laporan yang kebenarannya masih samar- samar. Ia juga tak bisa menjelaskan anak Khadafy yang mana dan ia pun mengatakan, ”bukti tak cukup”.

Khadafy memimpin Libya selama 41 tahun 6 bulan melalui kudeta militer terhadap Raja Idris, 1 September 1969. Pada 15 Februari lalu, terinspirasi gejolak di Tunisia dan Mesir, warga berunjuk rasa menuntutnya mundur. Krisis politik itu diikuti perang saudara yang ditingkahi intervensi koalisi militer Barat.

Khadafy mengatakan, serangan koalisi akan berakhir sia-sia. ”Serangan ini dilakukan oleh sekelompok fasis dan mereka akan berakhir di tong sampah sejarah,” katanya dalam pidato singkat itu. Para pendukung menyambutnya dengan kembang api dan bersorak sambil menembakkan senjata ke udara.

Makin sengit

Intensitas serangan koalisi Barat sudah mulai berkurang sejak Selasa. Penegakan zona larangan terbang oleh koalisi memang berhasil meredam serangan udara Khadafy terhadap pasukan oposisi, tetapi hal itu sama sekali tak mengurangi serangan loyalisnya kepada warga sipil.

Pertempuran di darat antara pasukan Khadafy dan oposisi semakin sengit. Dua kubu terlibat baku tembak di sejumlah kota, baik di Libya barat maupun di Libya timur. Pertempuran kian membara di Misrata di barat serta Ajdabiya di timur, Rabu. Penembak jitu dan tank-tank pasukan Khadafy ditempatkan di kota-kota itu untuk menakuti warga dan penduduk oposisi.

Warga Misrata, 200 km di tenggara Tripoli, melaporkan, pasukan Khadafy menguasai kota. Menurut seorang dokter, tank- tank pasukan loyalis Khadafy menembaki massa dalam sebuah aksi protes yang berjalan damai di kota itu, Senin. Kota sempat dikuasai pasukan pro-Khadafy, Rabu. Namun, beberapa saat kemudian, serangan koalisi kembali memaksa mundur pasukan Khadafy.

”Jumlah yang tewas terlalu banyak. Rumah sakit kami kewalahan,” kata dokter itu tanpa mau menyebutkan namanya.

Kondisi yang sama terjadi di Ajdabiya, kota dengan penduduk 140.000 orang. Kota dikepung pasukan loyalis yang lalu menyerang pasukan oposisi yang bersiaga di pinggiran kota. Pasukan oposisi menyerang balik dengan roket Katyusha, tetapi akhirnya terdesak oleh pasukan loyalis.

Gumpalan asap membubung di Ajdabiya. ”Senjata yang mereka miliki senjata berat. Sedangkan yang kami miliki senjata ringan,” ujar Fawzi Hamid (33), tentara Libya yang membelot dan bergabung dengan oposisi. ”Pasukan Khadafy jauh lebih kuat daripada kami sehingga kami sangat bergantung pada serangan udara (dari pasukan koalisi Barat).”

Serangan udara pasukan koalisi yang dilakukan guna melumpuhkan kekuatan Khadafy masih terbatas. Titik sasaran terpilih adalah target pada pasukan militer Khadafy. Karena itu, saat pasukan loyalis dan milisi pro-Khadafy berbaur dengan penduduk sipil, koalisi tak menyerang.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebutkan, 45 orang tewas di Misrata, Senin dan Selasa. Menurut Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), 335.600 orang melarikan diri ke Tunisia dan Mesir sejak awal krisis. Kondisi di Misrata, Ajdabiya, dan kota-kota lain memprihatinkan.

UNHCR juga menyebutkan, akses warga untuk mendapatkan layanan kesehatan dan bantuan pangan terhambat. Petugas kesulitan mengobati korban perang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s