Presiden AS Barack Obama Kirim Pasukan Ke Libya Tanpa Persetujuan Kongres Amerika


Analis menilai Presiden AS Barack Obama terkesan ”serba salah” terkait Libya. Dia melangkahi konstitusi. Penggunaan militer AS dalam perang harus dengan persetujuan kongres. Itu amanat konstitusi. Pelibatan militer di Libya tanpa persetujuan kongres dan analis menilai tingkah laku Barack Obama yang sempat dibesarkan di Indonesia ini lebih buruk dari pendahulunya George Bush

Amerika Serikat menguras sekitar 300 juta dollar AS atau Rp 2,7 triliun per minggu demi penegakan zona larangan terbang di atas Libya. Biaya sesungguhnya: ”tidak terkira” besarnya. Associated Press, Rabu (23/3), merilis, operasi penegakan zona larangan terbang di Libya bisa menyita 300 juta dollar AS per minggu. Jika nilai tukar satu dollar AS adalah Rp 9.000, biaya yang dikeluarkan AS mencapai Rp 2,7 triliun per minggu. Laporan itu merujuk analisis Pusat Pengkajian Strategis dan Anggaran AS bulan ini.

Hari Selasa di Washington digelar pertemuan untuk membahas biaya operasi di tengah krisis keuangan AS. Pertemuan dihadiri pejabat Departemen Luar Negeri, Pentagon, dan Departemen Keuangan. Mereka mau menekan anggaran Operasi Fajar Odyssey yang juga melibatkan Perancis dan Inggris.

Pada hari yang sama, koalisi telah menembakkan paling sedikit 162 rudal jelajah Tomahawk dari kapal laut AS di Laut Tengah. Harga satu rudal 1 juta dollar AS hingga 1,5 juta dollar AS atau paling kurang Rp 9 miliar dan paling mahal Rp 13,5 miliar.

AS juga mengoperasikan pesawat pengebom B-2, yang terbang bolak-balik dari Missouri untuk menjatuhkan 900 kilogram bom ke Libya. Lama terbang total 25 jam dengan biaya operasi 10.000 dollar AS per jam.

Tentu saja hitungan itu hanya sebagian dari total biaya operasi satu pesawat.

Pesawat pengebom B-2 membutuhkan biaya bahan bakar yang sangat mahal. Apalagi AS juga menggunakan pesawat pengisi bahan bakar di udara. Ketika akan pulang, semua pesawat akan membutuhkan biaya perawatan dan penggantian suku cadang. Pilot juga diberi bonus.

Belum lagi biaya operasi kapal perang yang bersiaga di Laut Tengah. AS mengoperasikan banyak kapal perang dan jet tempur. Kerugian besar masih harus dihitung lagi setelah jatuhnya jet tempur F-15 di Benghazi, Libya timur, hari Selasa.

”Setiap enam jam kita mengalami defisit miliaran dollar,” kata Roscoe Bartlett, anggota DPR untuk Komisi Angkatan Bersenjata dari Partai Republik. Katanya, dengan menghabiskan 1 miliar dollar AS di Libya, berarti mewariskan utang 1 miliar dollar AS juga bagi generasi berikutnya.

Peran NATO

Sementara itu, AS, Inggris, dan Perancis mengatakan bahwa Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) harus ikut berperan dalam struktur komando operasi militer di Libya. Namun, Perancis menentang jika NATO berada pada posisi komando umum.

Para duta besar 28 negara NATO di Brussels, Selasa, memutuskan untuk mengaktifkan rencana bagi pesawat perang dan pesawat sekutu melaksanakan embargo senjata yang telah diputuskan PBB terhadap Libya.

Setelah zona larangan terbang, koalisi mendukung NATO untuk menerapkan embargo senjata kepada Libya. Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen mengatakan, kapal dan pesawat NATO tengah dikumpulkan di Laut Tengah untuk melaksanakan tugas-tugasnya.

”Semua sekutu bertekad memenuhi tanggung jawab mereka sesuai resolusi PBB untuk menghentikan aksi kekerasan yang tidak bisa diterima terhadap warga sipil Libya,” kata Rasmussen.

Penerapan zona larangan terbang, dan kini rencana embargo senjata oleh aliansi multinasional, bertujuan melindungi warga sipil. Kolonel Moammar Khadafy tak gentar juga terhadap rencana itu. Pasukan loyalisnya terus melancarkan serangan darat di kota-kota strategis Libya.

Enam kapal perang NATO yang didukung sebuah pesawat, Rabu (23/3/2011) mulai berpatroli di perairan internasional di lepas pantai Libya untuk melaksanakan embargo senjata PBB terhadap rezim Moammar Khadafy.

“Kapal-kapal perang dan pesawat NATO telah memulai patroli dekat pantai Libya sebagai bagian dari Operation Unified Protector,” kata NATO di laman Internetnya.

Kapal-kapal itu telah di berada perairan di lepas pantai Libya, sementara sebuah pesawat patroli dan jet-jet tempur menuju ke tempat itu.

“Untuk melakukan pengamatan jarak jauh dan mencegat penerbangan-penerbangan yang diduga membawa senjata ke Libya,” kata aliansi tersebut.

“Kapal-kapal itu akan tetap di perairan internasional dan tidak akan masuk ke perairan wilayah Libya,” jelasnya. Jenderal Pierre St-Amand dari Kanada sebelumnya memberitahukan, enam negara NATO telah menjanjikan 16 kapal untuk operasi itu, termasuk tiga kapal selam. Sekutu NATO sepakat untuk melancarkan operasi itu Selasa malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s