Eropa Perlu Ikut Aktif Dalam Mengamankan Selat Malaka


Peranan Eropa terhadap pengelolaan Selat Malaka masih jauh di bawah negara-negara lain seperti Jepang, China, dan Uni Emirat Arab. Padahal, jumlah kapal yang menggunakan Selat Malaka untuk memfasilitasi perdagangan Eropa-Asia sangat signifikan.

Hal itu disampaikan Dubes RI Brussel, Arif Havas Oegroseno dalam paparannya mengenai “Managing Strategic Waters in Southeast Asia Roundtable Discussion” yang diselenggarakan European Institue for Asian Studies (EIAS), lembaga pemikir atau think-tank berbasis di Brussel yang memfokuskan pada isu-isu di Asia.

Sekretaris Tiga KBRI Brusel Royhan N. Wahab dalam keterangan persnya, Sabtu (5/3/2011) menyebutkan, diskusi berlangsung hangat dengan adanya pujian terhadap peran Indonesia dalam mengelola keamanan, keselamatan navigasi, dan perlindungan lingkungan di Selat Malaka dan Selat Singapura.

Dalam paparannya didampingi pejabat Komisi Eropa dari Directorate General for Maritime Affairs and Fisheries, Daniela Chitu, dan pakar Hubungan Internasional dari Universite Catholique de Louvain, Prof. Tanguy Struye, Dubes Arif Havas Oegroseno menyebutkan bahwa jumlah kapal asing memasuki kawasan perairan tersebut dari waktu ke waktu akan semakin meningkat. Menurut Dubes, Eropa perlu menyadari peran strategis Indonesia di perairan Asia, karena sebanyak 71.359 kapal menjadikan Selat Malaka sebagai salah satu jalur navigasi yang sangat strategis bagi jalur perdagangan dunia.

Dikatakannya, pada tahun 2009 tercatat 370 juta ton barang dari Asia Timur dan Tenggara diturunkan di pelabuhan-pelabuhan di Uni Eropa yang mencapai 557 miliar dollar AS. Kapal tersebut menggunakan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan ke Uni Eropa dari dan ke Asia Tenggara dan Timur.

Diperkirakan, kapal yang menggunakan Selat Malaka sebagai salah satu jalur pelayaran yang saat ini dinilai paling efisien tersebut, dan akan meningkat sampai ribuan kapal pada tahun 2015. Kapal-kapal yang melewati perairan tersebut adalah kapal-kapal yang membawa energi dari Afrika dan Timur Tengah ke Asia Timur dan juga yang membawa berbagai produk perdagangan dari Asia ke Eropa dan sebaliknya.

Karena jalur perairan tersebut sangat strategis, maka keselamatan navigasi (safety of navigation) di wilayah perairan tersebut dikelola bersama-sama di antara para negara pengguna dan para pemangku kepentingan lainnya, demikian Dubes RI Brussel. Dikatakannya, pengelolaan keselamatan navigasi yang dilakukan di wilayah perairan tersebut saat ini dikelola secara trilateral antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Dalam perdebatan terlihat adanya apresiasi yang tinggi terhadap peran Indonesia dalam mengelola keamanan, keselamatan navigasi, dan perlindungan lingkungan di Selat Malaka dan Selat Singapura. Pandangan bahwa Eropa perlu meningkatkan peranannya dalam pengelolaan keselamatan navigasi di kawasan tersebut merupakan bentuk positif apresiasi terhadap upaya negara-negara pantai dalam mengelola Selat Malaka dan Selat Singapura.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s