Negara Asia Siap Evakuasi 100.000 Warga Dari Libya Setelah Militer Libya Pecah Hingga Terjadi Perang Saudara


Prajurit militer Libya dan pengunjuk rasa berdiri di atas van militer sambil meneriakkan slogan-slogan antipemimpin Libya Moammar Khadafy dalam aksi unjuk rasa di Tobruk, Libya, Rabu (23/2). Di Tripoli, tembakan senjata dilepaskan militer yang loyal kepada Khadafy untuk membungkam pengunjuk rasa.

Negara-negara Asia mempersiapkan rencana evakuasi besar-besaran bagi 100.000 migran yang terperangkap di Libya. Sebagian besar adalah pekerja kasar di lokasi-lokasi konstruksi.

Pengaturan untuk menggunakan kapal-kapal penumpang, pesawat-pesawat, dan rute-rute darat ke Mesir sedang dipertimbangkan, sementara sejumlah pemerintah berusaha menjamin keselamatan warga mereka kendati ada hambatan komunikasi.

Mayoritas adalah pekerja kontrak, 60.000 warga Bangladesh, 30.000 warga Filipina, 23.000 warga Thailand, dan 18.000 warga India. China menyusun rencana untuk menyelamatkan sekitar 30.000 warganya. Banyak di antara mereka merupakan teknisi di sektor-sektor minyak, kereta api, dan telekomunikasi. Sementara itu, Hanoi memantau kondisi 10.000 warga Vietnam.

“Ini operasi besar-besaran,” kata Menteri Luar Negeri India Nirupama Rao. “Kami tidak hanya melakukan pengaturan bagi pesawat atau kapal-kapal, tetapi juga mengurus izin dari pihak berwenang Libya bagi pesawat kami untuk mendarat di sana.”

Dari 18.000 warga India di Libya, sekitar 3.000 orang dilaporkan tinggal di Kota Benghazi yang bekerja pada perusahaan-perusahaan mobil dan rumah-rumah sakit. Rao mengatakan, sebuah kapal penumpang India dapat mengangkut 1.000 orang dari Laut Merah.

China akan mengirim sebuah pesawat, kapal-kapal kargo, dan kapal-kapal nelayan ke Libya untuk membantu mengevakuasi warganya. Sebuah pesawat Air China akan meninggalkan Beijing menuju Athena, sementara pemerintah menunggu izin untuk mendarat di negara Afrika utara itu.

Kementerian Luar Negeri China “memutuskan untuk segera mengirim pesawat sipil carteran, kapal-kapal kargo di perairan terdekat, dan kapal-kapal nelayan China untuk mengangkut kebutuhan hidup dan pasokan medis.” China juga akan berusaha menyewa kapal-kapal penumpang skala besar dan bus-bus.

Wakil Presiden Filipina Jejomar Binay, yang negaranya banyak menerima kiriman uang dari sembilan juta warganya, akan terbang ke Timur Tengah, Jumat (25/2/2011), untuk meninjau rencana darurat bagi warga Filipina di kawasan itu.

Manila mengatakan, pihaknya akan membeli tiket-tiket pesawat untuk 30.000 warganya di Libya yang ingin pulang. Binay akan mengunjungi Kuwait dan Arab Saudi serta Abu Dhabi dan Dubai di Uni Emirat Arab. Ia diperkirakan akan bertemu para diplomat dan mengatur pemulangan warga Filipina.

Banyak warga Filipina bekerja di Timur Tengah, termasuk sekitar 32.000 orang di Bahrain dan Yaman yang dilanda protes. Bangladesh mengatakan, pihaknya akan menyusun satu rencana evakuasi.

“Evakuasi adalah satu opsi,” kata Menlu Mijarul Quayes kepada wartawan di Dhaka. “Jika mungkin, kami akan memulangkan semua pekerja kami ke Bangladesh.” Thailand memiliki 23.000 pekerja kontrak, sebagian besar di sektor konstruksi, di semua lokasi di Libya.

Sementara itu, Kedutaan Besar Thailand di Tripoli telah menghubungi para pekerja dan menganjurkan mereka agar siap dievakuasi, mungkin dengan kapal-kapal dari negara-negara lain untuk membawa mereka ke Malta. Hal ini disampaikan Kementerian Perburuhan di Bangkok.

Adapun Pemerintah Indonesia mengatakan, sejumlah pekerja sedang ditampung di kedutaannya di Tripoli dan rencana evakuasi sedang diatur bagi sekitar 875 warganya. Malaysia juga melakukan pengaturan yang sama bagi pemulangan 190 warganya

Amerika Serikat dan Uni Eropa mengeroyok Libya yang dipimpin diktator Moammar Khadafy.

Perancis, misalnya, bersumpah, Rabu (23/2/2011), akan menjatuhkan sanksi kepada Libya karena tindakan brutal Khadafy terhadap para demonstran yang disebutnya sebagai kejahatan melawan kemanusiaan.

“Penindasan brutal dan berdarah yang terus berlangsung terhadap warga sipil Libya itu menjijikkan,” kata Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dalam pernyataannya di Paris, Rabu.

“Komunitas internasional tidak bisa hanya sebagai penonton kekerasan masif terhadap hak asasi manusia ini,” katanya.

Sementara itu, di Washington, juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, juga mengutuk serangan di Libya. “Kekerasan ini mengerikan, benar-benar tidak dapat diterima, dan pertumpahan darah harus dihentikan,” katanya.

Ribuan warga Tunisia menyelamatkan diri dari Libya dengan menyeberangi perbatasan ke Tunisia di pos lintas Ras El Jedir, sekitar 600 kilometer selatan Tunis.

Kantor berita resmi Tunisia, TAP, Rabu (23/2/2011), melaporkan, sekitar 2.500 warga menyeberangi perbatasan setiap enam menit, dibantu Bulan Sabit Merah Tunisia.

Sebagian besar para warga itu telah melakukan perjalanan yang jauh untuk mencapai perbatasan itu. Menurut laporan tersebut, regu medis dan paramedis mendirikan rumah sakit militer sementara dan perusahaan bus setempat menyediakan angkutan gratis ke kota tetangga, Ben Guerdane.

Satu rombongan darurat yang membawa obat-obatan dan bahan pangan telah dikirimkan sebagai bantuan untuk warga Libya di Ras El Jedir, Rabu malam.

Selain itu, masih menurut laporan tadi, sejumlah rumah sakit dan tempat penginapan sedang bersiap untuk menampung tambahan jumlah pengungsi Libya yang menyelamatkan diri dari kekerasan di negara mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s