Libya Diambang Perang Saudara Setelah Ribuan Demonstran Anarkis Membakar Gedung Pemerintah


Libya semakin panas, Senin (21/2), setelah massa demonstran merampas stasiun televisi dan radio pemerintah serta membakar beberapa gedung di Tripoli. Peringatan Saif al-Islam, putra Moammar Khadafy, bahwa Libya bisa terlibat perang saudara jika ayahnya tumbang, diremehkan.

Tripoli, ibu kota negara, mencekam dilanda aksi protes massal. Pada Minggu malam, massa antipemerintah merampas dua lembaga penyiaran pemerintah, yakni stasiun televisi Jamahiriya dan radio Al-Shababia. Massa juga membakar beberapa kantor cabang Komite Rakyat yang merupakan lembaga andalan rezim.

Kekerasan massa terjadi tidak lama setelah Saif tampil di televisi dan memperingatkan rakyat Libya. Saif menawarkan dialog menuju reformasi, penyelesaian krisis, dan terciptanya perdamaian di negara itu.

Saif khawatir perang saudara sudah di ambang pintu jika demonstrasi antirezim ayahnya, Khadafy, terus berlangsung. Ia menuduh kubu oposisi mengobarkan kekerasan. Jika aksi protes massal berujung pada kejatuhan ayahnya, Libya bakal berubah menjadi ”banjir darah”.

”Libya kini berada di persimpangan jalan. Jika kita tidak setuju (dialog) bagi reformasi, seluruh Libya akan berubah menjadi sungai-sungai darah,” katanya.

Calon kuat

Saif al-Islam Khadafy (38) tidak memiliki jabatan politik, tetapi pengaruhnya sangat besar di seluruh negeri. Jauh sebelum pecah aksi protes massal menuntut ayahnya lengser—terinspirasi ”Revolusi Melati” Tunisia dan ”Revolusi Nil” Mesir—Saif sudah digosipkan sebagai calon kuat pengganti ayahnya.

Tahun lalu New York Times menjulukinya sebagai ”wajah ramah Barat dari Libya dan simbol harapan untuk reformasi dan keterbukaan”. Pria bergelar PhD dari London School of Economics ini secara luas dianggap pembuka ekonomi Libya.

Saif juga pernah menuding pemerintahan ayahnya itu teledor dalam menangani perpecahan dalam elite penguasa minyak di negaranya. Tuduhan itu diutarakan Saif saat mengunjungi paviliun Libya di World Expo International Exhibition 2010, Shanghai, China.

Sekalipun Saif sudah memberikan peringatan keras, ribuan demonstran antipemerintah terus melanjutkan aksi protes mereka di Tripoli, Senin. Aksi serupa juga terjadi di Benghazi, kota terbesar kedua di Libya. Bentrokan antara kelompok pengunjuk rasa antipemerintah dan aparat keamanan tidak terhindarkan.

Pemerintah Libya mengatakan, sudah 84 orang tewas selama protes dalam sepekan ini. Namun, pihak aktivis HAM menyebutkan, korban tewas sudah mencapai lebih dari 233 orang dan ratusan orang lagi terluka. Gejolak rakyat Libya ini menuntut pergantian rezim Moammar Khadafy yang sudah berkuasa selama lebih dari 41 tahun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s