Polisi Dan Tentara Kepung dan Serbu Perkemahan Pemberontak Pro Reformasi Di Bahrain


Pasukan dan tank tentara Bahrain telah mengepung ibukota Bahrain, Manama, pada Kamis (17/2) setelah polisi anti huru-hara menembakkan gas air mata, menggempur demonstran dalam serangan fajar, yang menewaskan sedikitnya empat orang.

Ibukota Manama secara efektif ditutup pada hari Kamis. Untuk pertama kalinya sejak negeri ini memasuki krisis politik, tank menggelinding ke jalan-jalan dan pos-pos pemeriksaan militer didirikan sebagai patroli tentara .

Kementerian Dalam Negeri memperingatkan warga Bahrain untuk tinggal di rumah dan menjauhi jalanan. Bank dan lembaga-lembaga penting lainnya tutup, dan para pekerja memilih tinggal di rumah, karena takut tak bisa melewati pos pemeriksaan untuksampai ke tempat kerja mereka.

Kawat berduri dan mobil polisi dengan lampu lampu biru mengelilingi bundaran dan Tugu Mutiara tempat unjuk rasa pro-reformasi berlangsung sejak Senin.

Namun kawasan itusudah berubah, tenda-tenda yang sebelumnya didirikan pendemo di sana telah rata dengan tanah, dan barang-barang para demonstran bertebaran di sana.

Demonstran pro reformasi telah berkemah selama berhari-hari di sekitar monumen bundaran yang menampilkan mutiara raksasa, sebagai satu land mark kota – sebagaimana Monas di Jakarta.

Satu jam setelah serangan terhadap utama atas tenda-tenda pendemo di bundaran Tugu Mutiara Manama, militer mengumumkan larangan pertemuan, dan mengatakan pada televisi pemerintah bahwa mereka telah menguasai wilayah itu sebagai “modal penting” di bawah kontrolnya.

Setelah beberapa hari melakukan pembiaran, negeri kerajaan yang berpenduduk mayoritas Islam Syiah yang dikuasai oleh minoritas Islam Sunni ini mengambil tindakan represif atas gerakan anti-pemerintah, guna mencegah pergolakan lebih besar sebagaimana yang telah terjadi di Tunisia dan Mesir.

Khalid Al Khalifa, Menteri Luar Negeri Bahrain, membenarkan tindakan keras yang yang dilakukan aparatnya, karena para demonstran itu mendorong negaranya ke “tepi jurang sektarian”.

Koresponden Al Jazeera di Manama melaporkan, setelah serangan fajar itu, bentrokan tidak lagi terbatas pada satu tempat , melainkan tersebar di berbagai bagian kota. Rumah sakit penuh dengan orang luka-luka setelah penyerbuan polisi semalam terhadap demonstran pro-reformasi tersebut .

“Beberapa dari mereka yang terluka parah dengan tembakan. Ruang pasien dan layanan darurat dikuasai oleh polisi ketika dokter dan petugas medis mencoba mengurus korban yang terluka..” lapor Al Jazeera.

Suara ledakan terdengar dari berbagai kota, menunjukkan bahwa gas air mata digunakan untuk membubarkan pengunjuk rasa di beberapa kawasan.

Dalam serangan mendadak, polisi merobohkan tenda demonstran, membubarkan laki-laki dan perempuan di dalamnya dan menyemburkan tembakan ke udara untuk menakut-nakuti. ”Mereka membuat kami marah,” kata demonstran.

Serangan Subuh itu menandai seberapa dalam pihak kerajaan Sunni itu khawatir pada dampak gelombang protes yang berkepanjangan. Penguasa Bahrain dan sekutu Arab ini menganggap kerusuhan di negerinya, sebagai langkah tetangganya, yang mayoritas Syiah untuk memperluas pengaruh di wilayah ini.

Karenanya, tentara mengambil tindakan tegas untuk menjaga keamanan, demikian pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri Bahrain.

Di sisi lain, Bahrain merupakan kawasan penting bagi militer AS . Negeri superpower itu menempatkan Angkatan Laut dan Armada 5-nya di sana, terutama untuk memantau gerakan Iran.

Meski demikian, serangan Subuh tersebut tidak membuat ciut para demonstran. Sebaliknya mengobarkan tekad mereka untuk berunjuk rasa kembali dan menyerukan demonstrasi lebih besar pada hari Jumat ini.

Para demonstran yang marah meneriakkan “rezim harus pergi,” dan membakar gambar Raja Hamad bin Isa Al Khalifa di luar bangsal darurat di Kompleks Medis Salmaniya, rumah sakit utama di Manama.

“Kami marah sekarang. Mereka pikir mereka dapat melarang kami? Mereka telah membuat kami lebih marah,” teriak Makki Abu Taki, yang anaknya tewas dalam serangan itu, di kamar mayat rumah sakit. ”Kami akan turun ke jalan dalam jumlah yang lebih besar dan kehormatan martir kami waktu untuk Al Khalifa telah berakhir..”

Hillary Clinton, Menteri Luar Negeri AS, menyampaikan keprihatinannya yang mendalam atas krisis itu kepada rekannya, menteri luar negeri Bahrain seraya menyampaikan pesan Washington agar “menahan diri”.

Demikian pula, Human Rights Watch, yang meminta pemerintah Bahrain agar memerintahkan pasukan keamanan untuk menghentikan serangan terhadap pengunjuk rasa damai dan menyelidiki kematian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s